Title                       : Perfect Chemistry Chapter 1 (An Adaption)
Author                  :  Applersoti
Length                  : Continue
Genre                   :  Romance, Action
Rating                   : PG (sedikit dewasa but its okay I’ll cut it off )
Main cast             : Kwon Jiyong – Gdragon (Bigbang) and Sandara Park – Dara (2NE1)
Support Cast      :  Park Yerin ; OC Cast
Choi Seunghyun , Lee Seungri ; BIGBANG
                                Park Bom , Lee Chaerin (CL) ; 2NE1
                                Jang Wooyoung ;  2PM
                                Jessica Jung ; SNSD
                                And many more….
DisclaimerTHIS STORY AND CASTS ARE NOT MINE. ALL CREDIT BELONGS TO àSIMON ELKELES ß AS THE AUTHOR OF THE STORY.
 
 
 
(Dara’s POV)
Semua orang tahu aku sempurna. Hidupku sempurna. Pakaianku sempurna. Bahkan keluargaku pun sempurna. Meski itu suatu kebohongan luar biasa, aku bekerja keras untuk mempertahankannya. Karena kebenaran, jika terungkap, akan menghancurkan seluruh citra kehidupan sempurnaku.
Sambil berdiri di depan cermin kamar mandiku sementara music dari speak menggelegar, untuk ketiga kalinya aku menghapus eyeliner yang melenceng. Tanganku gemetar, sialan. Memulai tahun senior SMU dan bertemu pacar setelah berpisah selama liburan musim panas, seharusnya tidak membuatku gugup, tapi aku mengalami awal yang buruk. Pertama, alat penggulung rambutku mendadak berasap lalu mati. Kemudian kancing di baju favoritku copot. Sekarang eyeliner-ku memutuskan untuk memiliki pikiran sendiri. Jika bisa memilih, aku lebih suka berada di tempat tidurku yang nyaman sambil menguddapchocolate chip cookies  hangat seharian.
“Dara, ayo turun,” sayup-sayup kudengar ibuku berteriak memanggil dari lobi.
Insting pertamaku adalah mengabaikannya, tapi itu takkan menghasilkan apa-apa selain pertengkaran, sakit kepala, dan lebih banyak lagi teriakan.
“Sebentar lagi,” balasku, berharap eyeline-ku kali ini lurus dan rapi.
Ketika akhirnya berhasil, aku melempar tube eyeliner ke atas konser, memeriksa penampilanku lagi dan sekali lagi di cermin, mematikan stereo, lalu bergegas menyusuri koridor.
Ibuku berdiri di bawah tangga kamu yang besar, memeriksa pakaianku. Aku merapikan diri. Aku tahu. Aku tahu. Aku sudah delapan belas tahun dan seharusnya tidak lagi memedulikan perndapat ibuku. Tapi kau tidak tinggal di kediaman Park. Ibuku memiliki gangguan emosi, dia mudah gelisah. Bukan jenis orang yang mudah dikendalikan dengna pil-pil biru kecil. Dan setiap kali ibuku tertekan, semua orang yang tinggal bersamanya ikut menderita. Kurasa itu sebabnya ayaku pergi ke kantor sebelum ibuku bangun, jadi dia tidak perlu berurusan dengan, well… Eomma.
“Tidak suka celana itu, suka sekali ikat pinggangnya,” kata Eomma, menudingkan jari ke benda-benda yang disebutkannya. “Dan suara berisik yang kau sebut music itu membuatku sakit kepala. Untung sudah dimatikan.”
“Morning too, Mom,” ucapku sebelum menuruni tangga dan mencium pipinya. Semakin dekat, aroma tajam parfum ibuku terasa menyengat hidungku. Dia tampak sangat rapi dengan gaun tenis Ralph Lauren Blue Label-nya. Sudah pasti tak seorang pun bisa menudingkan jari dan mengkritik penampilannya.
“Aku membeli muffin kesukaanmu untuk hari pertama sekolah,” kata Eomma, memamerkan sebuah kantong kertas dari balik punggungnya.
“Ani eomma… gomawoyo,”jawabku, mengedarkan pandangan mencari kakakku. “Dimana Yerin unnie?”
“Di dapur.”
“Pengasuhnya sudah datang?”
“Namanya Soo-Ah, dan belum. Dia datang satu jam lagi.”
“Apakah kau sudah memberitahunya kalau wol membuat kulit Yerin unnie iritasi? Dan dia suka menjambak rambut?”
Yerin unnie selalu memberi isyarat non-verbal kalau dia merasa tidak nyaman dengan kain wol di kulitny. Menarik rambut merupakan kebiasaan baru, dan telah menyebabkan beberapa bencana. Di rumahku, bencana sama bagusnya dengan mobil rongsokan, jadi sangat penting menghindarinya.
“Sudah. Dan sudah. Aku memarahi kakakmu pagi ini, Dara. Kalau dia terus bertingkah, bisa-bisa kita kehabisan stok pengasuh untuknya.”
Aku melangkah ke dapur, enggan mendengar ocehan Eomma mengenai teorinya tentang kenapa kakakku suka mengamuk. Saat ini Yerin duduk di kursi roda di balik meha, sibuk menyantap makanan yang diblender khusus untuknya, sebab meskipun telah berusia dua puluh tahun, kakakku tidak memiliki kemampuan untuk mengunyah dan menelan seperti layaknya orang tanpa keterbatasan fisik. Seperti biasa, makanan belepotan di dahu, bibir, dan pipinya.
“Annyeong, Yerin-ah,” sapaku, membungkuk ke arahnya dan menyeka wajahnya dengan serbet. “Ini hari pertamaku sekolah. Doakan aku, ya.”
Yerin mengulurkan kedua tangan kurusnya dan memberiku senyum separuh. Aku suka senyum itu.
“Kau ingin memberiku pelukan?” tanyaku padanya, thau bahwa dia menginginkannya. Dokter memberitahu bahwa semakin sering kami berinteraksi dengan Yerin, semakin baik baginya.
Yerin mengangguk. Aku masuk dalam pelukannya, mewaspadai tangannya agar jauh-jauh dari rambutku. Ketika aku menegakkan badan, ibuku terkesiap. Bagiku suaranya seperti peluit wasit, menghentikan gerakanku. “Dara, kau tidak bisa ke sekolah seperti itu.”
“Like what?”
Dia menggeleng, menarik napas frustasi. “Look. Bajumu…”
Menunduk, aku melihat bercak basah besar di bagian depan kemeja putih Calvin Klein-ku. Oops. Liur Yerin. Satu lirikan singkat kea rah wajah murung kakakku memberitahuku apa yang tidak bisa dia ucapkan. Yerin menyesal. Yerin tidak sengaja mengotori bajuku.
“Not a big problem,” kataku, walau di benakku aku tahu hal itu mengacaukan penampilanku yang ‘sempurna’.
Sambil mengernyit, ibuku membasahi serbet kertas di bak cuci dan menepuk-nepukkannya di bagian yang kotor. Membuatku merasa seperti anak umur dua tahun.
“Go upstairs and change your clothes.”
“Eomma… ini kan cuma noda peach,” kataku hati-hati agar peristiwa ini tidak berubah menhadi adu-teriak. Hal terakhir yang kuinginkan adalah membuat kakakku merasa bersalah.
“Noda peach bisa berbekas. Kau kan tidak mau orang menganggap bahwa kau tidak peduli pada penampilan.”
“Geurae… Geurae..”
Aku harap hari ini merupakan hari baik ibuku, hari ketika dia tidak mencerewetiku dengan hal-hal seperti ini.
Aku mencium puncak kepala kakakku, memastikan agar dia tidak menganggap liurnya membuatku terganggu. “Sampai ketemu nanti sepulang sekolah, ya,” kataku berusaha membuat suasana pagi tetap ceria. “Untuk menyelesaikan pertandingan checkers kita.”
Aku berlari menaiki anak tangga, dua anak tangga sekaligus. Ketika sampai di kamar, aku menatap jam tanganku. Oh, ANDWAE! Jam tujuh lewat sepuluh. Sahabatku, Bommie bakal panik jika aku terlambat menjemputnya. Menyambar sehelai scarf  biru muda dari dalam lemari, aku berdoa semoga trikku berhasil. Mungkin tidak ada yang akan menyadari bercak liur di bajuku jika aku mengikat scarf ini sedemikian rupa.
Ketika aku menuruni tangga lagi, ibuku sudah berdiri di lobi, mengamati penampilanku lagi. “Sangat suka scarf-nya.”
Fiuh~
Ketika melewatinya, dia menyodorkan muffin ke tanganku. “Makanlah sambil jalan.”
Aku ambil muffin itu. Saat melangkah menuju mobil tanpa sadar aku menggigitnya. Sayangnya ini bukan muffin blueberry kesukaanku, tapi muffin  pisang-kacang dan pisangnya terlalu masak. Mengingatkanku akan diriku-yang tampak sempurna di luar, padahal rapuh di dalam.
(Jiyong’s POV)
“Bangun, GD.”
Aku merengut pada adikku lalu membenamkan kepala di balik bantal. Karena berbagai kamar dengan dua adikku yang berusia sebelas dan lima belas tahun, tidak mungkin menghindar dari mereka kecuali dengan sedikit privasi yang bisa kudapat di balik sebuah bantal.
“Jangan ganggu aku, Sanghyun,” kataku serak dari balik bantal. “Jangan cari masalah denganku.”
“Aku tidak cari masalah denganmu. Eomma menyuruhku membangunkanmu supaya tidka terlambat ke sekolah.”
Tahun senior. Seharusnya aku bangga menjadi orang pertama di keluarga Fuentes yang lulus SMU. Tapi setelah lulus, kehidupan nyata akan dimulai. Kuliah hanyalah impian. Tahun senior bagiku ibarat pesta menjelang pension bagi pegawai berusia 65 tahun. Kau tahu dirimu masih sanggup bekerja, tapi semua orang mengharapakanmu berhenti.
“Bajuku semuanya baru, “ kata Sanghyun dengan bangga meskipun teredam oleh bantalku. “Para wanita tidak akan menolak lelaki keren sepertiku.”
“Baguslah,” gumamku.
“Eomma bilang aku harus menyirammu dengna air teko ini jika kau tidak mau bangun.”
Memangnya menginginkan privasi itu terlalu berlebihan? Aku memegang bantal dan melemparnya melintasi ruangan. Tepat sasaran. Air memerciki seluruh tubuhnya.
“Fcuk!!” makinya padaku. “Baju baruku cuma ini!!”
Gelak tawa terdengar dari pintu kamar. Youngbae, adikku yang lebih tua, terbahak-bahak seperti hyena. Yah, sampai Sanghyun menerjangnya. Aku menyaksikan perkelahian menjadi lepas kendali saat kedua adikku saling meninju dan menendang.
Mereka petarung yang hebat, pikirku bangga sambil menonton. Tapi sebagai laki-laki tertua di rumah, sudah tugasku untuk melerai. Aku menarik kerah baju Youngbae, tetapi malah tersandung kaki Sanghyun dan terjerembap di lantai bersama mereka.
Sebelum bisa mengembalikan keseimbangan, air sedingin es membasahi punggungku. Aku berbalik dengan cepat dan melihat Eomma mengguyur kami semua, ember ditangannya berada di atas kami, dan dia sudah memakai seragam kerja. Ibuku bekerja sebagai kasir di pasar swalayan local yang lokasinya beberapa blok dari rumah kami. Pekerjaan itu tidak memberinya gaji besar, tetapi kami tidak membutuhkan banyak uang.
“Bangun,” perintahnya, kemarahan ibuku dikerahkan dengan kekuatan penuh.
“Shit,” kata Youngbae, berdiri.
Eomma mengambil air yang tersisa di ember, mencelupkan jatinya ke dalam air dingin, dan mencipratkan cairan itu ke wajah Youngbae.
Sanghyun terbahak dan sebelum dia menyadari, dia juga terkena cipratan air. Apa mereka tak pernah belajar?
“Mau macam-macam lagi, Sanghyun?” tanyanya.
“Ani, eomma,” jawab Sanghyun, berdiri setegap prajurit.
“Ada lagi kata jorok yang akan keluar dari mulutmu, Youngbae?” Eomma mencelupkan tangan ke air, mengancam.
“Ani, eomma,” tiru prajurit nomor dua.
“Dan bagaimana denganmu, Kwon Jiyong?” Matanya menyipit hingga menjadi celah ketika perhatiannya terpusat padaku.
“Apa? Aku berusaha melerai mereka,” kataku tak berdosa, memberinya senyum kau-takkan-bisa-menolakku.
Dia mencipratkan air ke wajahku. “Itu karena tidak melerai mereka sejak awal. Sekarang berpakaian, kalian semua, dan sarapan dulu sebelum berangkat sekolah.”
Rupanya hanya sampai segitu saja senyuman kau-takkan-bisa-menolakku. “Kau tahu kau mencintai kami.” Seruku saat eomma meninggalkan kamar kami.
Setelah mandi kilat, aku kembali ke kamar dengan handuk melilit di pinggang. Aku memergoki Sanghyun mengenakan salah satu bandanaku dan perutku pun langsung menegang. Aku menarik lepas benda itu darinya. “Jangan pernah menyentuh yang satu ini, Sanghyun.”
“Kenapa tidak boleh?” tanyanya, mata cokelat gelapnya tampak polos.
Bagi Sanghyun, itu hanya sehelai bandana. Bagiku, itu symbol dari apa yang tak bisa dan takkan pernah kuraih. Bagaimana aku bisa menjelaskannya pada anak berusia sebelas tahun? Dia tahu siapa aku ini. Bukan rahasia lagi bahwa bandana itu memiliki warna Seoulness Blood. Utang budi dan pembalasan dendam membuatku bergabung denganKorean Blood dan tidak ada jalan untuk keluar. Tetapi aku lebih baik mati daripada membiarkan salah satu adikku terlibat.
Aku menjelaskan bandana itu dalam genggaman. “Sanghyun, jangan menyentuk milikku. Terutama barang-barang Blood-ku.”
“Aku suka warna merah dan hitam.”
Itu hal terakhir yang ingin kudengar. “Kalau aku memergokimu memakainya lagi, kau akan dihiasi warna hitam dan biru,”ancamku. “Arraseo, adik kecilku?”
Dia mengedikkan bahu. “Ne. Arraseo.”
Saat Sanghyun keluar kamar sambil melonjak-lonjak, aku bertanya-tanya apakah dia memang mengerti. Aku mencegah diriku terlalu memikirkan itu sambil mengambil kaus hitam dari lemari dan mengenakan celana jins usang dan robek-robek. Ketika mengikatkan bandana di kepala , suara Eomma terdengar dari dapur.
“Jiyong, ayo makan sebelum makanannya dingin. Cepat keluar!”
“Aku datang,” jawabku. Aku tidak pernah mengerti kenapa makanan begitu penting dalam hidupnya.
Adik-adikku sedang sibuk mengunyah sarapan saat aku memasuki dapur. Aku membuka kulkas dan mengamati isinya.
“Duduk.”
“Eomma, aku hanya mau ambil-“
“Kau tidak boleh mengambil apapun, Jiyong. Duduk. Kita ini keluarga dan kita makan seperti suatu keluarga.”
Aku mendesah, menutup pintu kulkas, lalu duduk di sebelah Youngbae. Kadang-kadang menjadi bagian dari keluarga yang begitu dekat ada ruginya juga. Eomma meletakkan piring berisi setumpuk telur dan nasi di hadapanku.
“Kenapa sih kau tidak memanggilku GD?” tanyaku dengan kepala menunduk memandangi makanan yang ada di depanku.
“Kalau aku ingin memanggilmu GD, buat apa aku menamaimu Kwon Jiyong. Apa kau tidak suka namamu?”
Otot-ototku menegang. Aku dinamai sama dengan ayahku yang telah tiada, meninggalkanku memikul kewajiban sebagai orang yang bertanggung jawab di rumah ini. Jiyong, Kwon Jiyong…, semua itu sama bagiku.
“Memang ada bedanya?” gumamku sambil meraih mangkuk nasi. Aku mengangkat kepala, mengira-ngira reaksinya.
Eomma membelakangiku saat mencuci piring di bak cuci. “Tidak.”
“GD ingin berlagak jadi orang jepang,” Youngbae menimpali. “Kau boleh ganti nama, Hyung, tapi tidak ada yang menganggapmu bukan Korean.”
“Youngbae, tutup mulutmu,” aku memperingatkan. Aku tidak ingin jadi orang Jepang. Aku hanya tidak mau disangkutpautkan dengan ayahku.
“Jaebal, kalian berdua,” ibuku memohon. “Sudah cukup berkelahinya hari ini.”
“Imigran,” ledek Youngbae, memancingku dengan menyebutku sebagai imigran legal Jepang di Korea.
Aku sudah muak dengan mulut Youngbae, dia sudah keterlaluan. Aku berdiri, kursiku menggesek lantai. Youngbae mengikuti dan melangkah ke depanku, menutup jarak di antara kami. Dia tahu aku bisa menghajarnya. Egonya  yang berlebihan itu akan membuatnya terlibat masalah dengan orang yang salah dalam waktu dekat.
“Youngbae, duduk,” perintah Eomma.
“Dasar imigran illegal,” ucap Youngbae dengan aksen berat dibuat-buat. “Bukan cuma itu. Dia juga anak geng.”
“Youngbae!!” tegur Eomma tajam sambil mendekat, tapi aku melangkah diantara mereka dan mencengkeram kerah baju adikku.
“Yah.. memang itu yang dipikirkan semua orang tentangku,” kataku. “Tapi kalau ka uterus bicara seperti sampah, mereka juga akan menganggapmu seperti itu.”
“Hyung, mereka pasti akan menganggapku begitu. Tak peduli aku mau atau tidak.”
Aku melepasnya. “Kau salah, Youngbae. Kau bisa berbuat lebih baik… menjadi lebih baik.”
“Lebih baik darimu?”
“Ne, lebih baik dariku dan kau tahu itu,” jawabku. “Sekarang minta maaflah pada Eomma karena berbicara lancang di depannya.”
Satu kali tatapan ke mataku membuat Youngbae sadar aku tidak main-main. “Mianhae, Eomma,” katanya, lalu duduk kembali. Tapi aku tidak melewatkan tatapan marahnya, karena egonya terempas berkeping-keping.
Eomma berbalik dan membuka kulkas, berusaha menyembunyikan ait mata. Sial, dia mencemaskan Youngbae yang sekarang ini murid SMA dan dua tahun mendatang akan menentukan apakah dia sukses atau malah menghancurkannya.
Aku meraih jaket kulit hitamku, tidak sabar ingin keluar dari sini. Aku menicum pipi Eomma dan meminta maaf karena telah merusak suasana sarapan, lalu melangkah keluar sambil bertanya-tanya bagaimana cara menjaga Youngbae dan Sanghyun agar menjauh dari jalanku sekaligus membimbing mereka kejalan yang lebih baik. Oh, sungguh ironis.
Di jalanan, beberapa pemuda memakai bandana berwarna sama memberi sapaan khasKorean Blood; tangan kanan menepuk lengan kiri dua kali dengan jari manis dibengkokkan. Darahku bergejolak saat membalas isyarat itu sebelum menaiki motor. Mereka menginginkan anggota geng setangguh baja, dan mereka mendapatkannya. Aku sudah bersusah payah menampakkan kesan kuat itu; hingga kadang-kadang aku sendiri pun kaget.
“GD, tunggu,” suara cewek yang familiar terdengar memanggil.
Jessica Jung, tetangga sekaligus mantan pacarku, menghampiri.
“Hai, Jes,” gumamku.
“Mau memberiku tumpangan ke sekolah?”
Rok mini hitamnya memamerkan kaki yang mengagumkan, dan kemejanya begitu ketat, menegaskan bentuk dadanya yang kecil tapi membusung. Dulu aku rela melakukan apa saja untuknya, tetapi itu sebelum aku memergokinya berada di tempat tidur laki-laki lain di musim panas lalu. Ayau mobil laki-laki lain, sebenarnya.
“Ayolah, GD. Aku janji takkan menggigit…kecuali kau menginginkannya.”
Jessica juga anggota Korean Blood. Tidak peduli kami sedang pacaran atau tidak, kami tetap saling melindungi. Itu aturan mainnya. “Naiklah, kataku.
Jessica melompat ke motorku dan dengan sengaja meletakkan tangan di pahaku sementara tubuhnya menekan punggungku. Hal itu tidak menimbulkan efek seperti yang dia harapkan. Memangnya dia mengira aku sudah melupakan apa yang terjadi? Mana mungkin. Masa laluku mendefinisikan jati diriku saat ini.
Aku mencoba untuk berkonsentrasi memulai tahun seniorku di Busan, di sini, dan sekarang juga. Itu hal yang sangat sulit karena, sayangnya setelah kelulusan, masa depanku hampir dipastikan akan sama kacaunya dengan masa laluku.
(Dara’s POV)
“Rambutku bakal kusut berantakan di mobil ini, Bom. Setiap kali atapnya kuturunkan, rambutku tampak seperti aku baru saja diterjang tornado,” aku mengeluh pada sahabatku saat mengemudikan mobil konvertibel perakku yang baru menuju sekolah kami, Busan High.
“Penampilan lahiriah adalah segala-galanya.” Semboyan yang mengatur hidupku itu diajarkan oleh orang tuaku. Itulah satu-satunya alasan hingga aku tidak berkomentar apa-apa tentang BMW mewah ini ketika dua minggu lalu ayahku memberikannya sebagai hadiah ulang tahunku.
“Kita tinggal setengah jam dari Kota Angin,” ujar Bom, menjulurkan tangannya menyongsong embusan sementara kami berkendara. “Daerah ini kan tidak dikenal karena cuacanya yang tenang. Selain itu kau terlihat seperti dewi Yunani dengan rambut berantakan, Dee. Kau Cuma gugup karena akan bertemu Donghae lagi.”
Tatapanku tertuju pada foto berbentuk hati bergambar diriku dan Donghae yang menempel di dashboard. “Perpisahan selama musim panas bisa mengubah seseorang.”
“Jauhnya jarak membuat hati merindu,” balas Bom. “Kau kapten tim pemandu sorak dan dia kapten tim football senior. Kalian berdua harus pacaran kalau tidak ingin tata surya melenceng dari porosnya.”
Donghae menelpon beberapa kali selama musim panas dari kabin milik keluarganya, tempat dia berlibur bersama teman-temannya, tapi aku tidak tahu status hubungan kami saat ini. Dia baru saja pulang semalam.
“Aku suka sekali celana jins itu,” kata Bom menatap celana jins Brazilian-ku yang pudar. “Aku akan meminjamnya sebelum kau sadar.”
“Ibuku membencinya,” aku memberitahu, merapikan rambut saat berhenti di lampu merah, berusaha menaikkan rambut cokelatku yang kusut. “Dia bilang celana ini seperti kudapat dari toko pakaian bekas.”
“Apakah kau mengatakan kepadanya kalau vintage sedang tren?”
“Yeah, memangnya dia mau dengar. Dia nyaris tidak memperhatikan waktu aku menanyakan tentang pengasuh baru.”
Tak seorang pun mengerti seperti apa keadaan di rumahku. Untung saja aku punya Bom. Dia mungkin tak mengerti, tapi dia cukup paham untuk mau mendengar dan mejaga rahasia kehidupan di rumahku. Selain Donghae, hanya Bom yang pernah bertemu dengan kakakku.
Bom membuka tutup kotak CD-ku. “Apa yang terjadi pada pengasuh terakhir?”
“Yerin mencabut segumpal rambutnya.”
“Ouch!”
Aku menyetir ke lapangan parkir sekolah dengan pikiran yang tertuju pada kakakku alih-alih ke jalan. Ban mobilku berdecit gara-gara berhenti mendadak ketika aku nyaris menabarak sepasang cowok dan cewek di atas motor. Aku menyangka tempat parkir itu kosong.
“Matamu ke mana, B*tch?” maki Jessica Jung, cewek yang berada di belakang motor sambil mengacungkan jari tengahnya ke arahku.
Kelihatannya dia tidak ikut pelajaran Perilaku Berkendara yang Baik di Kursus Mengemudi.
“Mianhae,” kataku nyaring agar bisa terdengar di tengah raungan mesin motor. “Tadi sepertinya tidak ada orang di tempat ini.”
Lalu aku menyadari motor siapa yang nyaris aku tabrak. Pengendaranya berbalik. Mata gelapnya berang. Bandana merah dan hitam. Aku merosot di kursi pengemudi serendah mungkin.
“Oh, shit! Itu Kwon GD,” kataku, menyipitkan mata.
“OMG, Dee,” ucap Bom, suaranya pelan. “Aku ingin hidup sampai upacara kelulusan. Ayo, cepat perdi dari sini sebelum dia memutuskan untuk membunuh kita berdua.”
GD menatapku dengan mata jahat seraya menurunkan sandaran motor. Apakah dia akan memarahiku?
Aku berusaha memasukkan gigi mundur, dengan panic menggerak-gerakkan tongkat persneling ke depan dan ke belakang. Tentu saja bukan kejutan bahwa ayahku membelikan mobil manual tanpa menyisihkan waktu untuk mengajari cara mengemudikannya.
GD maju selangkah menuju mobilku. Instingku menyuruh agar aku keluar dari mobil dan kabur, seolah aku sedang terjebak di rel sementara kereta api melaju tepat ke arahku. Aku melirik Bom yang dengan putus asa mencari-cari sesuatu di dalam tasnya. Sedang apa sih, dia?
“Aku tidak memundukan mobil ini. Aku butuh bantuan. Kau cari apa sih?” tanyaku.
“Yah… nggak cari apa-apa. Aku berusaha tidak melakukan kontak mata dengan anak-anak Korean Blood. Ppalihae~” jawab Bom sambil mengertakkan giginya. “Lagipulan aku cuma bisa menyetir mobil otomatis.”
Akhirnya setelah memasukkan gigi mundur dengan paksa, ban mobilku berdecit kerasa dan nyaring selagi aku bermanuver ke belakang dan mencari tempat parkir lain.
Aku memarkir mobil di lapangan sebelah barat, jauh dari anggota geng tertentu yang reputasinya bisa membuat gentar para pemain football Busan High yang paling tangguh sekali pun, lalu melangkah bersama Bom menuju tangga masuk Busan High. Sayangnya, Kwon GD dan teman se-gengnya sedang bergerombol di dekat pintu masuk.
“Langsung lewat di antara mereka,” gumam Bom. “Apapun yang kaulakukan, jangan tatap mata mereka.”
Hal yang sulit dilakukan jika Kwon GD melangkah tepat di depanku dan mengalangi jalanku.
Doa apa yang ahrus dipanjatkan sesaat sebelum kau tahu kau akan mati?
“Kau sopir yang payah,” tukas GD dengan sedkit aksen Jepang dan lagak Oh-Super-Cool dengan kekuatan penuh.
Cowok ini boleh saja mirip aktor Joo Ji Hoon yang bertubuh atletis dan wajah tanpa cela, tapi paling-paling dia hanya berpose untuk foto-identitas-narapidana.
Para remaja dari wilayah utara tidak bergaul dengan remaja dari wilayah selatan. Bukannya kami merasa lebih baik dari mereka, kami hanya berbeda. Kami tumbuh besar di kota yang sama, tapi di sisi yang berlawanan. Kami tinggal di rumah-rumah besar di tepian pantai Haeundae sementara mereka hidup di pinggir rel kereta. Penampilan, cara bicara, tingkah laku, dan cara berpakaian kami berbeda. Aku tidak bilang itu bagus atau jelek; tapi seperti itulah di Busan High. Dan jujur saja, sebagian cewek selatan-kota memperlakukanku sama seperti yang dilakukan Jessica Jung… mereka membenciku karena siapa diriku.
Atau lebih tepatnya, siapa diriku menurut anggapan mereka.
Mata GD menatap tubuhku perlahan, menyapu dari atas sampai bawah sebelum bergerak mundur. Ini bukan pertama kalinya seorang cowok mengamatiku, hanya saja belum pernah ada cowok seperti GD yang melakukannya terang-terangan…dan dari jarak begitu dekat. Aku bisa merasakan wajahku memanas.
“Lain kali, lihat-lihat dulu sekelilingmu,” lanjutnya, suaranya dingin dan terkendali.
Dia berusaha menindasku. Dia mahir melakukannya. Aku takkan biarkan dia memengaruhiku dan memenangkan permainan intimidasi ini, meskipun perutku terasa seperti sedang jungkir balik seratus kali berturut-turut. Aku menegakkan baju dan mencibir ke arahnya, cibiran yang biasa kugunakan untuk membuat orang menjauh. “Terima kasih untuk petunjukmu.”
“Kalau kau butuh laki-laki sejati untuk mengajarimu menyetir, aku bersedia melakukannya.”
Sorakan dan siulan dari teman-temannya membuat darahku mendidih.
“Kalau kau memang lelaki sejati, kau akan membukakan pintu untukku, bukannya mencegat,” balasku, mengagumi ucapanku sendiri meski lututku nyaris tidak kuat lagi menahan tubuhku.
GD melangkah mundur, membukakan pintu, dan membungkuk seakan-akan menjadi pelayanku. Dia benar-benar mengejekku, dia dan aku tahu itu. Semua orang mengetahuinya. Sekilas aku melirik Bom, yang masih mati-matian berlagak mencari sesuatu dalam tasnya. Dia sama sekali tidak sadar apa yang terjadi.
“Carilah kegiatan lain bagi hidupmu,” kataku padanya.
“Seperti hidupmu? Cewek sialan, kuberitahu ya,” kata GD kasar. “Hidupmu bukanlah kenyataan, semua itu palsu. Sama seperti kau.”
“Itu lebih baik daripada menjalani hidup sebagai pecundang,” sergahku berang, berharap kata-kataku sama menyakitkan seperti ucapannya. “Like you.”
Aku mencengkeram lengan bom, menariknya melewati pintu yang terbuka. Sorakan dan celotehan mengikutiku saat kami memasuki sekolah.
Akhirnya aku mengembuskan napas yang rupanya dari tadi tertahan, lalu berpaling pada Bom.
Sahabatku itu menatapku, matanya terbelalak. “Ya!!! Dara!!! Memangnya kau mau mati atau apa?”
“Apa yang membuat Kwon GD berhak menindas semua orang yang berpapasan dengannya?”
“Hmm, mungkin senjata yang disembunyikan di celana atau bandana geng yang dipakainya,” jawab Bom, sarkasme terdengar di setiap kata yang diucapkannya.
“Dia tidak sebodoh itu dengan membawa senjata ke sekolah,” sanggahku. “Dan aku tak sudi ditindas olehnya atau siapa pun.”
Di sekolah ini, setidaknya. Sekolah adalah satu-satunya tempat dimana aku bisa mempertahankan citraku yang “sempurna”;semua orang di sekolah percaya itu. Tiba-tiba bersemangat untuk memulai tahun terakhir di Busan High, aku mengguncang bahu Bom.
“Kita murid senior sekarang,” ucapk dengan antusiasme serupa dengan yang kurasakan saat melakukan koreografi pemandi sorak di pertandingan football.
“So?”
“So, mulai saat ini semuanya akan s-e-m-p-u-r-n-a.”
Bel berbunyi, sebenarnya itu bukan bel karena persatuan pelajar tahun lalu mengadakan pemungutan suara untuk mengganti bel dengan music untuk menandai pergantian kelas. Saat ini sedang diputar lagu “Sunset Glow” dari BIGBANG. Bom mulai menyusuri koridor.
“Aku akan memastikan kau mendapatkan pemakaman s-e-m-p-u-r-n-a. Lengkap dengan bunga dan semuanya.”
“Siapa yang meninggal?” Ada yang bertanya di belakangku.
Aku berbalik. Ternyata Nickkhun, rambutnya yang di cat kepirangan kian terang karena matahari musim panas dan cengirannya begitu lebar hingga nyaris menyita seluruh wajahnya. Seandainya aku punya cermin untuk memeriksa apakah make-up­ku berantakan. Tapi biar pun begitu Nickkhun pasti masih mau berpacaran denganku, kan? Jadi aku berlari dan memberinya pelukan paling hangat.
Khunnie memelukku erat, dan mencium ringan bibirku lalu menarik diri. “Siapa yang meninggal?” tanyanya lagi.
“Nothing, babe,” jawabku. “Lupakan saja. Lupakan semuanya kecuali kebersamaan kita.”
“Itu sih gampang, karena kau cantik sekali, babe.” Khun menciumku lagi. “Maaf aku tidak menelpon. Sibuk sekali membongkar barang-barang dan semuanya.”
Aku tersenyum padanya, lega karena libur musim panas yang terpisah tidak mengubah hubungan kami. Tata surya masih ama, setidaknya saat ini.
Khun merangkul bahuku ketika pintu masuk terbuka. GD dan teman-temannya menghambur masuk seperti hendak membajak sekolah.
“Buat apa sih mereka repot-repot masuk sekolah?” gumam Khun pelan hingga hanya aku yang mendengarnya. “Separuh dari mereka mungkin akan dikeluarkan sebelum tahun ini berakhir.”
Sesaat tatapanku berada dengan GD dan getaran menjalar di tulang punggungku.
“Aku hampir menabrak motor Kwon GD tadi,” aku memberitahu Khun begitu GD berada di luar jangkauan pendengaran.
“Seharusnya kau menabraknya.”
“Khunnie,” omelku.
“Setidaknya akan membuat hari pertama menjadi menarik. Sekolah ini membosankan sekali.”
Membosankan? Aku nyaris mengalami kecelakaan, diacungi jari tengah oleh cewek selatan-kota, dan dilecehkan anggota geng berbahaya di luar pintu masuk sekolah. Jika itu menjadi indikasi apa yang akan terjadi di tahun senior, sekolah pasti akan jauh dari membosankan.
A/N:
Annyeong!! Aku kembali dengan cerita baru ^^ ini sebenernya aku ambil dari sebuah Novel berjudul sama dari pengarang bernama Simone Elkeles. Aku pas baca ini jadi kepengen bikin versi daragon hehehehe. So… how was the first part?? DROPPED YOUR COMMENT PLEASE ^^
Thanks everyone^^
APPLERS ALWAYS KEEP THE FAITH!!!
DARAGON FTW!!!
Lotsa love, Applersoti❤