My Heart Just For You

 Author: Chenhye

Cast: Jung Yong Hwa, Park Shin Hye

Genre: Romance, Sad

Rating: G

Length: Oneshoot

Annyeong.. ini ff pertama saya untuk Yongshin couple kkkkk~~ mianhae kalau kurang bagus dan gaje. Dapat idenya aja pas lagi UTS #plak muehehe

Aku suka YongShin couple pertama gara-gara Zen eonnie ku tersayang :* dan juga gara-gara He’s Beautiful dan Heartstrings. #curcol

oke, langsung baca aja deh. Please give your comment, your comment is like oxygen for me 😉

Happy reading ^^

 

Shinhye POV

Sinar matahari pagi yang cerah mulai menembus celah jendela kamar ku. Segera ku buka tirai yang menutupi jendela, sinar matahari pun kini leluasa mengisi setiap ruang yang ada di kamar ku.

Aku tersenyum. Terima kasih, Tuhan karena kau telah membangunkan ku dari tidur ku pagi ini.

Aku lalu membuka jendela kamar ku, udara pagi pun mulai menerpa wajah ku hingga membuat poni ku sedikit terangkat. Aku kembali tersenyum. Sesaat kemudian aku melirik jam dinding di kamar ku.

“ Ah, sebentar lagi dia lewat. “ gumam ku, lalu segera berjalan menuju kamar mandi yang ada di kamar ku. Bersiap-siap untuk mandi.

~

Setelah selesai mandi dan berpakaian, aku kembali berdiri didekat jendela kamar ku. Sebelumnya, ku raih biola yang ada disudut kamar.

Setiap pagi, aku memang selalu memainkan biola didekat jendela ini. Alat music inilah satu-satunya teman yang ku miliki. Beberapa saat kemudian aku menggesek senar-senar biola itu.

Ku pejamkan mata ku agar aku bisa menikmati setiap melodi yang ku mainkan.

Kring.. kring..

Aku segera membuka mata ku, ketika suara itu terdengar ditelinga ku. “ Dia lewat. “ batin ku senang sembari memandangi seorang lelaki yang mengenakan sepeda itu.

Ya, inilah kegiatan ku selain bermain biola, menuggu lelaki itu lewat dijalan depan rumah ku. Hari ini aku kembali melihatnya. Dialah lelaki yang sudah sejak lama ku sukai.

Setiap pagi, aku selalu melihatnya menaiki sepeda melewati jalan didepan rumah ku. Itulah yang membuat ku lama kelamaan menyukainya. Tetapi aku tidak ingat kapan pertama kalinya aku menyukainya.

Rasa itu muncul sendiri, tanpa aku sadari sebelumnya. “ Annyeong haramonie.. harabojie.. “ sapa lelaki tampan itu ramah pada haramonie dan harabojie yang tinggal didepa rumah ku.

 Aku suka setiap kali dia menyapa orang. Saat itulah aku bisa melihat senyumnya yang menawan. Walau aku tidak mengenalinya, entah kenapa aku bisa menebak sifatnya saat dia sedang tersenyum.

“ Shinhye sshi.. “

Aku segera mengalihkan pandangan ku yang sejak tadi memandangi lelaki bersepada itu dan mencari asal suara yang memanggil ku. “ Oh, haramonie.. “ sapa ku ramah. Ternyata suara itu berasal dari haramonie yang tinggal didepan rumah ku.

“ Shinhye sedang bermain biola? “ tanya haramonie sembari memandangi diri ku yang agak terhalang oleh jendela kamar ku. “ Ne.. “ jawab ku sembari tersenyum. “ Bisakah mainkan sebuah lagu untuk kami? “ pinta haramonie.

“ Tentu saja, haramonie. “ jawab ku senang. Aku lalu memikirkan lagu apa yang pantas untu ku mainkan dipagi hari yang cerah ini. Setelah agak lama berpikir, aku mulai menggesek biola ku dan memainkan sebuah lagu, BoA – Every Heart.

~

“ Shinhye.. “ panggil eomma ku dari dapur. “ Ne, aku di kamar eomma. “ ucap ku sembari terus menulis sesuatu di buku lagu ku. Ya, aku sedang membuat sebuah lagu.

“ Shinhye, tolong antarkan bekal ini ke rumah teman eomma, eomma sedang sibuk. Kau bisakan? “ ucap eomma ketika memasuki kamar ku. “ Ne, baiklah. “ jawab ku sembari meraih kotak bekal dari tangan eomma.

“ Gomawo, sayang. Kau sudah minum obat? “ tanya eomma. “ Hmm.. ne, eomma. “ ucap ku berbohong. Eomma pasti marah kalau mengetahui aku belum minum obat. Ah, ini gara-gara aku terlalu asyik membuat lagu.

Aku pun segera berjalan menuju rumah teman eomma untuk mengantarkan kotak bekal ini. Kepala ku mulai sedikit pusing. Pasti karena aku terlambat minum obat. Namun, aku terus berjalan. Aku pasti kuat, lagipula rumah teman eomma tidak terlalu jauh.

Pulang ke rumah nanti, aku harus minum obat. Tetapi, lama-kelamaan kepalaku semakin terasa berat. Aku juga merasakan keringat begitu banyak keluar dari tubuh ku. Padahal ini masih pagi dan matahari tidak terlalu terik.

“ Shinhye, kau pasti kuat. “ Aku mencoba untuk menyemangati diri ku sendiri yang semakin melemah.

“ Ahgasshi? Gwanchana? “ tiba-tiba seseorang menahan tubuh ku yang hampir saja terhuyung ke tanah. Aku tidak bisa melihat dengan jelas wajah orang yang menahan tubuh ku ini, karena mata ku terasa sangat berat dan pandangan ku mulai sayup-sayup.

Tapi, dari suaranya aku dapat mengenali dia seorang laki-laki. “ Nan gwanchana. “ ucap ku dengan suara serak. Rasa pusing dikepala ku semakin menjadi-jadi. “ Dimana rumah mu? Biar aku antar pulang. “ Setelah mendengar suara itu aku tidak tahu apa-apa lagi. Yang ku rasakan hanya sakit yang luar biasa.

 

Yonghwa POV

Aku segera menghentikan sepeda yang ku kayuh ketika dari jauh aku melihat seorang gadis berjalan dengan terhuyung-huyung. Awalnya aku kira dia sengaja berjalan seperti itu, tetapi lama-kelamaan tubuhnya seperti ingin ambruk ke tanah.

Ketika melihat itu aku segera menepikan sepeda ku dan berlari menghampiri gadis itu. Saat itulah tubuhnya ambruk dan aku segera menahannya. “ Ahgasshi? Gwaenchana? “ tanya ku khawatir.

Wajah gadis itu sangat pucat dan begitu banyak peluh yang mengalir disisi wajahnya. Namun, gadis itu menjawab dia baik-baik saja. “ Dimana rumah mu? Biar aku antar pulang. “ tawar ku sembari memandangi wajahnya.

Matanya terlihat sayup-sayup, aku prihatin melihatnya. Sepertinya gadis ini merasa sangat kesakitan. “ Ahgasshi! Ahgasshi! “ tiba-tiba mata gadis itu tidak terbuka lagi. “ Pingsan.. “ batin ku masih memandangi wajah gadis itu. Dia terlihat sangat cantik walau wajah dan bibirnya terlihat sangat pucat.

Aku pun meraih tisu yang ada disaku kemeja ku, lalu segera ku seka peluh yang ada diwajahnya. Sungguh, aku tidak tega melihat gadis ini. “ Ah, bagaimana aku membawanya pulang? “ tanya ku pada diri sendiri. Aku pun terdiam sejenak untuk berpikir.

Ku putuskan untuk membawanya ke rumah ku, tidak ada tempat lain. Aku tidak tahu sama sekali rumah gadis ini. Segera ku gendong gadis itu dipunggung ku dan segera berjalan menuju rumah ku. Ya, untung saja rumah ku tidak jauh lagi dari sini.

 

Shinhye POV

Perlahan-lahan aku mencoba membuka mata ku yang entah sejak kapan terpejam. Walau kepala ku masih terasa sakit, tetapi aku mencoba untuk melawannya.

“ Ah! “ rintih ku ketika kepala ku terasa berdenyut keras. Efek karena aku memaksakannya. Sesaat kemudian aku mengedarkan pandangan ku. Aku ada disebuah kamar. Tetapi, kamar ini bukan kamar ku.

 Aku semakin terkejut ketika mata ku melihat ada seorang lelaki disamping ku. Kepalanya dibenamkannya dikedua tangannya yang berada disisi tempat tidur. “ Aku.. dimana? “ gumam ku bertanya pada diri ku sendiri.

Tiba-tiba lelaki disamping ku itu mengangkat kepalanya. “ Oh, kau sudah sadar? “ ucapnya sembari mengucek-ucek matanya pelan. Seketika aku terkejut ketika wajah lelaki itu.

Dia.. lelaki bersepeda yang sangat aku sukai itu. “ Ahgasshi, apa kau sudah baikan? “ tanya lelaki itu sembari memandang wajah ku. Aku segera menghentikan tatapan ku yang sejak tadi memandangi wajahnya.

“ Aku harus pulang. “ ucap ku sembari segera beranjak bangun. “ Kau yakin sudah merasa baikan? “ tanyanya lagi sembari menahan tubuh ku yang ingin beranjak dari tempat tidurnya.

 Aku tidak mempedulikan pertanyaannya lalu segera beranjak turun dari tempat tidur. “ Ahgasshi, chamkanam! Biar aku antar. “ teriak lelaki itu. Aku segera berlari keluar dari kamarnya. Aku tahu ini tidak sopan. Apalagi dia telah menyelamatkan ku. Tetapi aku tidak mau. Aku tidak bisa. Aku tidak siap.

~

Setelah berlari cukup jauh dari rumah lelaki itu, aku segera menghentikan lari ku. Kemudian menyandarkan tubuh ku dibalik pohon. Nafas ku benar-benar tersenggal.

 “ Hhh~ Hhh~ “ aku dapat mendengar suara nafas ku yang memburu. “ Kenapa aku bisa di rumahnya? “ batin ku dalam hati. Aku lalu mengingat apa yang terjadi saat aku mengantarkan kotak bekal yang disuruh eomma. Saat kepala ku tiba-tiba pusing dan nyaris hampir ambruk ke tanah.

Tiba-tiba datang seorang lelaki menahan tubuh ku. “ Apa.. lelaki itu yang membawa ku ke rumahnya? “ gumam ku lagi. Aku masih terkejut menyadari ini semua. Aku bertemu dengan orang yang sudah sejak lama aku sukai. Hari ini pertama kalinya aku bertatapan wajah dengannya, berbicara dalam jarak yang sedekat dan waktu yang sesingkat itu.

Dalam hati tentu saja aku senang, bahagia. Tetapi, ada sesuatu yang lain tersenggal dalam hati ku.

~

Tell me babe, how many do I shed my tears? 
Every Heart Every Heart is not a gentle yet 

Shall I do? I can never say my loneliness 
Every Heart doesn’t know so what to say oh what to do 
 (BoA – Every Heart)
Aku terus memejamkan mata ku sembari menggesek biola ku, memainkan sebuah lagu yang sangat ku sukai. Angin yang cukup kencang di taman ini terasa begitu sejuk menerpa wajah ku. Rasanya benar-benar begitu tenang dan damai.

Plok Plok

Aku segera membuka mata ku ketika mendengar seseorang bertepuk tangan. Seketika aku terkejut, ketika melihat seorang lelaki berdiri di pagar yang mengelilingi taman ini. Lelaki itu.. dia orang yang menyelamatkan ku kemaren. Ya, dia lelaki yang aku sukai itu.

 “ Mianhae, aku tak sengaja lewat disini dan mendengarmu bermain biola. “ ucapnya dengan wajah ketakutan. Aku hanya bisa terdiam memandanginya. Aku tidak bisa menjelaskan apa yang ku rasakan sekarang. Antara senang dan terkejut.

“ Permainan biolamu sangat bagus. Aku benar-benar kagum hingga reflek bertepuk tangan. “ katanya lagi sembari memandangi ku dengan tatapan kagum.

 Saat itu ku rasakan hati ku berdetak cepat, mendengar orang yang sudah sejak lama ku sukai memuji ku. Aku benar-benar bahagia dan senang. Seulas senyum kemudian terukir dibibir ku.

“ Apa aku boleh duduk disini? “ tanya lelaki itu lagi. Aku sontak terkejut ketika menyadari dia telah berdiri disamping ku. Kapan dia berjalan kesini? Aku benar-benar tidak melihatnya. Ini pasti karena aku terlalu senang.

Namun, sebelum aku berhasil menjawabnya, lelaki itu sudah duduk terlebih dahulu disebelah ku. “ Ku anggap kau tidak keberatan. “ ucapnya sembari tersenyum pada ku. Ini pertama kalinya aku melihatnya tersenyum pada ku. Sungguh, menurut ku dia terlihat lebih tampan dari biasanya aku melihatnya tersenyum pada orang lain.

“ Apa kau sudah baikan? Aku khawatir kemaren kau tidak mau diantar pulang. “ katanya lagi. “ Ne, aku tidak apa-apa. Gomawo dan mianhae karena pergi begitu saja. “ ucap ku dengan nada canggung. “ Syukurlah, soal itu tidak masalah. Aku mengerti, kau pasti terkejut.. ahgasshi. “ kataya dengan jeda pada kata terakhir.

“ Kalau aku boleh tahu, siapa nama mu? Biar aku mudah memanggil mu. “ sambungnya lagi sembari menundukan kepalanya kea rah ku. Sejak tadi, aku memang menundukan kepala ku.

Aku terlalu gugup dan tidak berani menatap wajahnya yang amat tampan itu. “ Park Shin Hye imnida. Shinhye. “ jawab ku sembari mendongakkan kepala ku untuk menatap wajahnya. “ Ah, Shinhye. Nan Jung Yong Hwa imnida. Yonghwa. “ kata lelaki bernama Yonghwa itu, memperkenalkan namanya. Ternyata namanya Yonghwa.

Akhirnya aku tahu siapa nama lelaki yang selama ini aku sukai. “ Hah~ ternyata disini sangat indah ya.. aku baru sadar. “ kata Yonghwa sembari taman disekitar ini. “ Kau sering ke sini, Shinhye? “ tanyanya pada ku. “ Ne.. “ jawab ku pelan.

 “ Aku terlalu sibuk dengan band ku sampai tidak menyadari di sekitar distrik ini ada taman seindah ini. “ gumam Yonghwa, sibuk memandangi taman. “ Dia.. anak band? Apa Yonghwa pintar bermain music juga? “ batin ku penasaran. Namun, aku masih tidak berani bertanya padanya.

 “ Apa besok kau ke sini lagi? “ tanya Yonghwa. Aku menganggukan kepala ku. “ Ah! Bagaimana kalau kita besok bermain music bersama? Aku akan menunjukan keahlian ku bermain gitar. “ kata Yonghwa dengan semangat. Aku tersenyum mendengar ajakannya, tentu saja aku mau.

“ Tidak masalah. “ jawab ku ramah. “ Jinjjayo? Arraseo. Besok kita bertemu disini lagi ya. “ kata Yonghwa sembari menatap ku dengan tatapan senang. Aku mengangguk senang. “ Arra, tapi aku harus pulang sekarang. Apa kau mau sekalian ku antar pulang? “ tawarnya.

“ Ani, gomawo. Rumah ku dekat dengan taman ini. “ tolak ku sopan. “ Baiklah, lain kali aku akan singgah ke rumah mu. Aku pulang duluan, Shinhye. “ Yonghwa lalu keluar dari taman dan berjalan menghampiri sepedanya.

Sesaat setelah dia tersenyum pada ku, lelaki itu kemudian mengendarai sepedanya pergi meninggalkan taman. Aku masih tersenyum, hari ini aku benar-benar senang. Sangat senang.

Untuk pertama kalinya aku bisa menatap wajah lelaki yang selama ini ku sukai, melihat wajahnya dari dekat, bertatapan, dan berbicara. Mungkin ini hanya hal biasa bagi orang lain, tetapi ini sangat luar biasa untu ku. Yonghwa, aku tahu nama lelaki yang selama ini kau sukai.

Rasanya aku ingin berteriak, aku ingin berteriak pada dunia bahwa hari ini hari bahagia yang pernah aku rasakan. Aku berharap, rasa bahagia di hari ini akan selalu bisa ku rasakan.

 

Yonghwa POV

Aku tidak tahu apa yang menyebabkan jantung ku berdetak saat aku menatap wajahnya. Aku tidak tahu kapan rasa itu muncul saat aku melihat senyumnya, mata teduhnya, dan semua yang ada pada dirinya. Aku benar-benar tidak tahu.

Saat pertama kali menolongnya yang hampir pingsan, entah kenapa hati ku tertarik untuk mengenal gadis itu lebih jauh. Walau aku tidak tahu gadis itu sebenarnya. Tetapi hati ku selalu menyakinkan bahwa aku akan bertemu gadis itu lagi. Dan itu benar, saat aku melewati taman dan tak sengaja mendengar seseorang bermain biola.

Aku menemukan gadis itu lagi. Saat itulah aku mulai mengenali sosok gadis itu, Shinhye. Gadis yang entah kenapa selalu membuat ku nyaman ada didekatnya. Sudah beranjak 1 minggu, semenjak aku bermain musik bersamanya di taman. Aku selalu menghabisakan waktu ku dengan Shinhye.

Kadang, aku juga mengajaknya ke tempat latihan band ku. Semua teman-teman ku kagum melihatnya bermain biola. Aku selalu suka saat melihatnya seperti itu, sosok Shinhye dapat ku lihat dari sana.

Saat matanya terpejam, menikmati melodi dari gesekan biola. Dia terlihat seperti gadis yang penuh kehangatan. Sama seperti kenyataanya. Sekarang aku sedang berada di studio band ku bersama Shinhye dan teman-teman ku. Shinhye sedang menunjukan keahliannya bermain biola.

“ Woaaa.. Shinhye noona! Aku punya 1 sepatah kata untukmu. Wonderfull! “ seru Minhyuk ketika Shinhye selesai bermain biola. “ Gomawo, Minhyuk sshi. “ tanggap Shinhye tersenyum senang.

“ Noonaaa.. ajari aku bermain biola dong! “ rengek Jungshin sembari menunjukan puppy eyesnya. “ Tidak masalah. “ ucap Shinhye senang. “ Aku juga noona!!! “ timpal Jonghyun.

 “ Ya! Ya! hentikan! Kalian ini membuat Shinhye bingung. “ sela ku ketika mereka mulai ribut mengerumbuni Shinhye. “ Ani, aku tidak apa-apa. “ ucap Shinhye sembari tersenyum. “ Kalian harus mengantri, karena aku lebih dahulu mendaftarkan diri pada Shinhye. “ tambah ku dengan bangga.

“ Ya, hyung! Kau curang! “ cerca Minhyuk kesal. “ Ne! hyung pasti sengaja supaya hanya hyung yang bisa dekat-dekat dengan Shinhye noona. “ tambah Jungshin lagi sembari memandangi aku dan Shinhye.

 “ Ya! aku tidak bilang begitu. “ aku segera mengelak kata-kata Jungshin. Sebenarnya perkataanya benar. Tetapi, aku malu karena ada Shinhye didepan ku. Aku segera menutup mulut Jungshin yang ingin bicara lagi. Shinhye hanya tersenyum sembari melihat tingkah ku, begitu juga Minhyuk dan Jonghyun.

 

Shinhye POV

Semenjak hari itu aku merasa dunia ini hanya ada aku dan dia. Hari saat kami bermain musik bersama di taman, semenjak itu lah aku merasakan betapa indahnya dunia ini. Belum pernah aku merasakan hari-hari seindah ini. Aku sangat bahagia, sudah sekian lama aku menyukainya dan kini akhirnya aku bisa dekat dengannya.

“ Shinhye.. “ aku menolehkan kepala ku ke samping. Kea rah Yonghwa yang berjalan beriringan dengan ku, panggilannya berhasil membuat lamunan ku terhenti. “ Ne? “ tanya ku padanya.

“ Kau senang hari ini? “ tanya Yonghwa. “ Ne, sangat senang. Gomawo, Yonghwa sshi. “ tanggap ku senang.

 “ Shinhye, awas! “ tiba-tiba Yonghwa menarik tangan ku hingga hampir membuat tubuh ku kehilangan keseimbangan. Dan tubuh ku terjatuh dipelukan Yonghwa. Saat itulah, ku rasaakan tubuh ku membatu seketika. Jantung ku tiba-tiba berdetak dengan sangat cepat. Bahkan aku bisa mendengar suara detak jantung ku.

“ Mianhae, eonni!! “ ucap seorang bocah laki-laki yang sedang bersepeda melewati aku dan Yonghwa dengan kecepatan tinggi. “ Ya! hari-hati, kau bisa mencelakakan orang dan dirimu sendiri! “ nasehat Yonghwa pada bocah lelaki itu.

Bocah itu tak mempedulikan ucapan Yonghwa, dia terus saja mengayuh sepedanya. Ku dengar Yonghwa hanya menghela mafas panjang. “ Shinhye, gwanchana? “ tanya Yonghwa pada ku.

Aku hanya mengangguk. Sungguh, rasanya mulut ku tidak bisa terbuka. Entah kenapa, Yonghwa tidak mendorong tubuh ku menjauh dari dadanya. Dia tetap membiarkan kepala ku terbenam didadanya.

Saat itu lah, suasana terasa sangat tenang dan damai. Rasanya aku ingin waktu berhenti sekarang juga. Aku ingin merasakan kehangatan ini sebentar lagi.

Namun, tiba-tiba telinga ku mendengar suara aneh. Jantung Yonghwa berdetak cepat sama seperti ku. Mungkinkah dia juga memiliki perasaan yang sama dengan ku?

Tiba-tiba aku merasa sesuatu mengalir dari hidung ku. Aku segera menyentuh hidung ku, ku rasakan ada sesuatu yang basah dan agak kental. Saat ku lihat ke telapak tangan ku, ternyata darah.

 Aku segera menghapus sisa darah yang keluar dari hidung ku dan menjauh dari tubuh Yonghwa.

“ Ada apa Shinhye? “ tanya Yonghwa tersentak dan bingung melihat tingkah ku. “ Ani, aku harus pulang. Gomawo, untuk hari ini. “ ucap ku pada Yonghwa dengan kepala tertunduk.

“ Kau yakin tidak apa-apa? kalau begitu, biar aku antarkan pulang. “ tawar Yonghwa dengan nada khawatir. “ Tidak usah. Mianhae, Yong. “ Aku segera berbalik dan berlari meninggalkan Yonghwa.

Aku tahu Yonghwa pasti bingung, marah, dan mungkin kesal melihat sikap ku seperti ini. Tiba-tiba pergi dan meninggalkannya begitu saja. Tetapi, aku tak mau dan tak ingin Yonghwa melihat keadaan ku yang seperti ini. Aku tidak mau.

 

Yonghwa POV

Sudah 1 minggu berlalu. Semenjak kejadiaan itu, aku tidak pernah melihat Shinhye lagi. Aku tidak tahu dimana gdis itu, bagaimana keadaanya. Aku sudah mencarinya ke tempat-tempat yang aku tahu.

Tempat-tempat yang juga pernah aku kunjungi dengannya. Namun Shinhye tidak pernah ada disana. Sebenarnya aku ingin, sangat ingin pergi ke rumahnya. Tetapi, bahkan aku sendiri tidak tahu dimana rumahnya. Ini benar-benar membuat ku gila.

Hari ku terasa sangat hampa tanpa Shinhye ada disisi ku. Aku tidak tahu mengapa, tetapi yang ku tahu aku selalu rindu akan sosok dirinya. Aku rindu akan semua yang ada pada diri Shinhye.

“ Shinhye, neol eodiyo? “ batin ku gelisah. Aku lalu merebahkan tubuh ku diatas rerumputan yang ada di taman ini. Perlahan-lahan aku mengingat saat terakhir aku bertemu dengannya, tepat di taman ini.

Waktu itu secara tidak langsung aku memeluknya. Saat itulah ku rasakan desiran aneh dihati ku. Jantung ku berdetak dengan sangat cepat. Saat itu aku berharap, sangat berharap waktu berhenti.

Tetapi, beberapa saat kemudian harapan itu musnah. Karena Shinhye tiba-tiba menjauh dari tubuh ku. Aku tidak tahu, apa yang membuatnya seperti itu. Dia pergi begitu saja dan hanya mengucapkan kata secukupnya yang bahkan masih tidak dapat ku mengerti.

Semenjak itu lah, aku tidak pernah lagi melihatnya. Mendengar gesekan indah dari biola yang dimainkannya. “ Shinhye, nan bogoshiposeo. “ ucap ku dengan suara lirih. Rasa rindu itu terus menyesak dalam dada ku.

Mungkinkah aku menyukainya?

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang bermain biola. Suara itu memang terdengar samar-samar, tetapi telinga ku masih bisa mendengarnya. Aku segera beranjak dan mencari asal suara itu.

Aku yakin, itu pasti suara biola yang dimainkan Shinhye. Setelah beberapa saat memutari taman ini, akhirnya aku berhasil menemukan asal dari suara biola itu.

Yang ku lihat pertama kali adalah seorang gadis dengan mantel tebal sedang duduk di bangku panjang sembari memainkan biola. Sebagian sisi wajahnya tertutup syal, sehingga aku tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas.

Namun, entah kenapa aku yakin bahwa gadis itu adalah Park Shin Hye. Dengan ragu, aku mendekati gadis itu. “ Shinhye.. “ panggil ku pelan.

Gadis itu perlahan-lahan membuka matanya dan raut wajahnya berubah terkejut. Ya, gadis itu benar-benar Park Shin Hye.

“ Yonghwa? “ gumamnya masih dengan wajah terkejut.

“ Selama ini kau kemana? Apa kau baik-baik saja? “ aku bertanya dengan nada memburu. Namun, Shinye hanya diam.

Dia hanya menatap ku dengan tatapan yang tidak dapat ku mengerti. Seperti sorot kesedihan dan kerinduan. Entahlah, aku tidak bisa mendefinisikannya.

“ Shinhye, jawab petanyaan ku. “ tegas ku lagi. “ Mianhae. “ ucapnya pelan dari balik syal yang menutupi mulutnya. “ Kau tahu, selama 1 minggu ini aku selalu memikirkan mu. Aku khawatir, kau tiba-tiba menghilang begitu saja bahkan dengan pertemuan terakhir yang tak dapat ku mengerti. “ cerca ku sembari berjalan lebih dekat lagi kea rah Shinhye.

Shinhye hanya diam lalu menundukan kepalanya. Aku menekukan kedua lutut ku tepat didepan Shinhye. Ku angkat kedua tangan ku dan segera ku tengadahkan wajah Shinhye agar sejajar dengan wajah ku. Kini kami berdua saling bertatapan.

Ku lihat buliran air mata jatuh dari mata teduhnya. Entah kenapa hati ku teriris, walau aku tidak tahu apa yang membuatnya menangis. Tetapi, hati ku tidak rela melihat air mata itu jatuh dipipinya.

Segera ku hapus air mata yang membasahi pipinya dengan jari ku. “ Uljima, Shinhye.. “ kata ku padanya.

” Kau sakit? “ sambung ku ketika telapak tangan ku terasa sangat dingin saat menyentuh pipinya. Padahal, ini sedang musim panas. Aku juga baru menyadari wajah Shinhye terlihat sangat pucat.

“ Aku.. tidak apa-apa. “ jawab Shinhye sembari menatap mata ku dalam. Sesaat kemudian aku menarik tubuh Shinhye ke pelukan ku. Aku tidak bisa lagi menahan diri ku untuk tidak memeluknya.

“ Jeongmal bogoshiposoe.. “ bisik ke ditelinga Shinhye. Aku akui, aku benar-benar sangat merindukanya. Aku tidak bisa membohongi perasaan ku sendiri.

 

Shinhye POV

Nado bogoshiposeo. Aku sangat ingin mengucapkan kalimat itu pada Yonghwa. Sangat. Tetapi mulut ku tidak bisa bicara. Kelu. Itu yang ku rasakan. Sakit, perasaan itu yang kini menyayat hati ku. Kenyataan hidup yang akan segera membangunkan ku dari mimpi indah ini.

 Andai.. andaikan waktu bisa berhenti sekarang juga. Aku mohon, tolong hentikan. Untuk beberapa detik saja, jangan bangunkan aku didalam mimpi indah ini. Aku masih ingin merasakannya. Sekali lagi saja, aku mohon.

“ Saranghae. Saranghae, Shinye sshi.. “

Tiba-tiba Yonghwa membisikan kalimat itu pada ku. Seketika itu juga, ku rasakan hati ku benar-benar sakit. Bahkan lebih sakit, dari sakit yang ku derita selama ini.

Aku tahu, mungkin dari kalian sangat bahagia mendengar kalimat itu keluar dari orang yang kau sukai. Tetapi untuk ku ini bagai sebuah pedang yang menusuk dalam hati ku. Rasanya begitu sakit.

Aku segera menarik tubuh ku menjauh dari Yonghwa. Yang ku lihat pertama kali adalah wajah Yonghwa yang terkejut melihat reaksi ku. Aku segera beranjak berdiri dari bangku yang ku duduki sejak tadi.

“ Shinhye, kau mau kemana? “ tanya Yonghwa kebingungan. Aku mencoba untuk mengalihkan pandangan ku dari Yonghwa, karena itu membuat ku semakin merasa sakit dan menyesal.

 “ Apa.. aku mengatakan sesuatu yang salah? “ tanya Yonghwa dengan hati-hati. Tidak, Yong. Kau benar. Rasanya aku ingin mengucapkan jawaban itu padanya. Tetapi, jika aku mengatakannya. Itu hanya akan membuat rasa cinta ku semakin mendalam.

Aku segera berbalik dan berjalan meninggalkan Yonghwa. “ Shinhye! “ Yonghwa mencengkram tangan ku kuat. Membuat ku tidak bisa berkutik lagi.

“ Waegereo? Bicaralah! Jangan membuat ku bingung, Shinhye. “ kata Yonghwa dengan nada meninggi. Aku tahu dia pasti bingung, kesal, dan kecewa melihat sikap ku yang seperti ini.

“ Jangan cintai aku! Jangan suka pada ku! “ ucap ku, berusaha tegas. Dalam hati, aku mencoba menahan tangis ku. “ Wae? “ tanya Yonghwa dengan suara pelan. Suara lelaki itu mulai kembali melunak.

“ Jangan cintai aku. Aku mohon, jangan suka pada ku! “ tegas ku lagi. “ Wae?! Ini perasaan ku. Mana mungkin bisa aku mengelaknya. “ ucap Yonghwa lagi dengan nada yang kembali meninggi.

“ Jangan! Ku bilang jangan! “ balas ku dengan nada meninggi. Mencoba untuk melawan rasa sakit dihati ku. Ku mohon Yong, mengertilah. Tanpa ku duga, Yonghwa membalikan tubuh ku yang sejak tadi membelakanginya. Kini aku dan Yonghwa saling berhadapan.

 Tidak, Yonghwa tidak boleh melihat air mata ku. “ Katakan pada ku, kenapa? “ tanya Yonghwa sembari menatap lurus mata ku. Aku segera menunduk. Aku tidak mampu lagi menahan air mata ku.

Aku tidak mampu untuk mengatakan ini semua. Terlalu menyakitkan, bahkan untuk jujur sekalipun. “ Karena, aku tidak mencintaimu! “ ucap ku dengan suara tegas.

Tetapi air mata, kesedihan semuanya membuat ku tak mampu untuk berbicara setegas itu. Aku tidak bisa membohongi diri ku. “ Bohong! Katakan kau tidak mencintai ku sekali lagi. “ teriak Yonghwa sembari mengguncang-guncang tubuh ku.

 “ Tatap aku! Katakan kau tidak mencintai ku. Cepat katakan, Shinhye! “ paksa Yonghwa lagi dengan suara tertahan. “ Katakan pada ku! “

“ Kenapa kau begitu yakin aku mencintai mu juga hah? Atas dasar apa? “ teriak ku sembari mencoba menatap wajah Yonghwa. Dapat ku lihat, buliran air mata juga membasahi pipinya.

“ Karena kau tidak bisa membohongi diri mu didepan orang yang kau sukai. “ tanggap Yonghwa dengan cepat. Aku tertegun ketika mendengar perkataan Yonghwa. Kenapa dia bisa menebak isi hati ku?

Mendengar perkataanya tadi, benar-benar membuat ku semakin sakit menyadari kenyataan hidup ku yang tinggal dihitung hari. Air mata ku kini semakin deras mengalir dipipi ku. Aku tidak kuat lagi. Aku tak bisa menyembunyikan ini lagi. Aku tidak bisa.

“ Ne! kau benar! Aku memang menyukai mu, mencintai mu! Sangat! Bahkan sejak lama Yonghwa sshi! “ ucap ku terang-terangan. Yonghwa terkejut ketika mendengar ucapan ku. Dia terdiam.

“ Tetapi, waktu ku tidak banyak untuk mu, Yong. Waktu ku tidak banyak untuk menikmati itu semua.. “ucap ku dengan suara tertahan. Yonghwa kembali menatap ku dengan tatapan bingung. “ Aku tidak akan lama lagi. Aku tidak bisa hidup lebih lama lagi. “.

“ Aku mengidap penyakit kanker sejak lama. Awalnya dokter bilang, aku hanya mampu bertahan sampai 6 bulan. Tetapi kenyataanya, aku masih bertahan hingga 1 tahun. Kau ingin tahu kenapa aku menghilang dalam 1 minggu ini? Kau ingin tahu? “ ucap ku dengan terbata-bata, berusaha berbicara ditengah isak tangis ku.

“ Hidung ku tiba-tiba berdarah. Sudah lama semenjak 6 bulan yang lalu, hidung ku tidak pernah berdarah lagi. Dan saat di taman itu, hidung ku kembali mengeluarkan darah. Aku pergi ke dokter. Ternyata kanker ku sudah mencapai stadium akhir dan waktu ku hanya tersisa 3 hari lagi. “ tangis ku pecah saat menjelaskan itu semua.

Rahasia yang selama ini aku pendam dan hanya aku, eomma, dan Tuhan yang tahu kini sudah ku bongkar didepan orang yang ku cintai. Aku benar-benar tidak kuat lagi untuk menyembunyikannya.

Saat itu tiba-tiba ku rasakan sebuah kehangatan, Yonghwa memeluk ku. Tangisan ku semakin tak bisa ke bendung lagi. Ini semua melegakan, tetapi juga menyakitkan. Aku membenamkan wajah ku didada Yonghwa. Aku mohon, izinkan aku menagis didadamu. Sekali ini saja.

“ Aku mengerti, Shinhye. Aku mengerti bagaimana perasaan mu. “ Yonghwa mengelus puncak kepala ku dengan lembut. Aku dapat merasakan bulir air mata menetes dari wajah Yonghwa dan jatuh ke kepala ku. Aku pasti akan merindukan pemilik tubuh yang penuh kehangatan ini.

“ Kau tidak perlu khawatir. Aku akan selalu ada disisimu. Aku tidak peduli, apa pun yang terjadi bahkan jika kau mati sekarang juga. Hati ku akan tetap sama, tidak akan pernah berubah. Hanya untukmu, Shinhye. “ kata Yonghwa dengan suara lembut. Aku kembali menangis mendengar kata-kata Yonghwa.

“ Kau boleh menangis kalau itu membuat mu lega, Shinhye. Aku tidak masalah. “ sambungnya lagi.

 

Yonghwa POV

Aku memandang kemeja putih polos yang tergantung di lemari ku, ada bercak darah dibagian dada. Aku baru menyadari perkataan Shinhye, saat dia memelukku dan darah tiba-tiba keluar dari hidungnya.

Ternyata darah itu mengenai kemeja ku. Kau ingin tahu apa yang ku rasakan saat mendengar Shinhye mengidap penyakit kanker? Sakit, itu yang ku rasakan. Sakit melihat orang yang ku cintai menanggung penyakit tanpa ada yang memberikanya semangat, menyimpan kesakitan sendiri.

Selama ini aku tidak pernah tahu dan kenapa Shinhye selalu menghindar ketika wajahnya tiba-tiba memucat dan peluh membasahi seluruh tubuhnya. Andai saat itu aku tahu, aku pasti sudah membawa Shinhye ke rumah sakit. mencari perawatan terbaik untuknya.

Tetapi, mungkin semua belum terlambat. Namun, aku tahu Shinhye tidak akan mau melakukan itu. Ya, yang bisa ku lakukan untuknya hanya mengiburnya, menyemangatinya, dan berdoa untuknya. Memohon pada Tuhan, untuk tidak membawa Shinhye pergi.

Aku tahu, ini tidak mungkin. Tetapi kita tidak akan pernah tahu apa rahasia Tuhan. Hari ini aku mengajak Shinhye jalan-jalan bersepeda, menggoncengnya dan membawanya memutari kota Seoul.

Aku ingin memberikan waktu lebih banyak untuknya. Mungkin dari luar aku terlihat baik-baik saja menghadapi ini semua. Tetapi, seseungguhnya jiwa ku rapuh. Rapuh memikirkan ini semua.

Sungguh, aku tidak bisa dan tidak akan pernah bisa hidup tanpa Shinhye. Ini sudah menginjak hari ke-3 dari waktu yang diperkirakan dokter, tapi kenyataannya Shinhye masih bisa bertahan.

“ Yong.. “ Shinhye memanggilku dengan suara pelan.

“ Ne? “ sahut ku.

“ Apa aku boleh bersandar dipunggung mu? “ tanya Shinhye pada ku. “ Tanpa kau mengatakan pun, aku mengizinkanya, Shinhye. “ jawab ku lembut. Aku tahu Shinhye pasti tersenyum mendengar jawaban ku.

Perlahan-lahan aku mulai merasakan kepala Shinhye terbenam dipunggungku. “ Apa yang kau rasakan? “ tanya ku pelan. “ Nan molla. Aku tidak merasakan apa-apa. “ jawabnya pelan. Aku terus mengayuh sepeda ku. “ Yong, aku boleh meminta 1 permintaan pada mu? “ pinta Shinhye.

Aku mengangguk pelan. “ Tetaplah bahagia apa pun yang akan terjadi pada ku. Apa kau bisa? “ Hati ku terasa menyesak ketika Shinhye mengucapkan kalimat itu. “ Ne, yakso. “ jawab ku pelan.

Ku rasakan punggung ku mulai basah, Shinhye pasti menangis. “ Aku baru saja menyelesaikan lagu baru ku. Aku ingin kau orang pertama yang mendengarkan lagu itu. “ ucap Shinhye.

“ Jinjja? Arraseo. Besok mainkan untuk ku ya. “ tanggap ku berusaha dengan suara senang untuk menahan tangis ku yang hampir keluar. Andwae, aku tidak boleh menangis. “ Aku ingin memainkanya sekarang. Tidak akan ada lagi hari esok, Yong. “ ucap Shinhye dengan nada tertahan.

“ Tapi aku hanya ingin bersama mu hari ini. Jangan khawatir, akan ada hari esok Shinhye. “ ucap ku lembut namun suara ku terdengar lirih. Air mata sudah mengalir membasahi pipi ku tanpa ku sadari sebelumnya.

“ Kalau begitu, nyanyikan lagunya untuk ku. Besok baru aku dengar permainan biola mu. “ sambung ku. Ku dengar suara sesenggukan dari tangisan Shinhye. Gadis itu pasti merasa kesakitan, bukan hanya dalam segi fisik tapi hatinya juga. “ Arraseo, dengarkan baik-baik ya. “

Perlahan-lahan Shinhye mulai bernyanyi. Walau lagu itu berbahasa Jepang, tetapi aku mengerti arti dari lagu itu. Lagu itu benar-benar menggambarkan suasana hatinya bahkan keadaanya sekarang. Air mata tak mampu ku bendung lagi. Aku terus mengayuh sepeda ku dengan wajah penuh air mata.

 

So I’m going to go see you right now, that’s what I’ve decided
I want to have you listen to this song, that I have in my pocket

Quietly, I turned up the volume, to make sure that it was there

Oh good-bye days, right now I’ve got the feeling that things are going to change; so long to everything up until yesterday
An uncool kindness is at my side
La la la la la With you~

I pass one ear phone over to you
And this moment slowly streams over to you
Can you really love me? Even though I sometimes lose my way

Oh good-bye days, right now things inside my heart have begun to change, alright
An uncool kindness is at my side
La la la la la With you~

If possible, I’d like to not have sad feelings
But they’ll come to me, won’t they? 
In those times, it would be good, if only I could say
“Yeah, hello! My friend”, with a smile

When we both are humming the same song, I wish for you to be by my side
I’m glad that we were able to meet each other, with such an uncool kindness

La la la la la Good-bye days

(Yui – Goodbye Days)

 

Perlahan-lahan lagu itu mulai terdengar sayup-sayup dari mulut Shinhye. Suara itu makin lama semakin samar hingga aku tak mendengar suara Shinhye lagi.

Dan kedua tanganya yang sejak tadi memeluk pinggang ku kini tiba-tiba terlepas. Saat itu lah hati ku rasanya teriris, sakit, sedih, tak rela, semuanya tercampur di dada ku. Begitu sesak, sangat menyakitkan.

Bersama dengan itu air mata ku tak kunjung berhenti jatuh dari mata ku. Aku terus mengayuh sepeda ku semakin cepat. Ku tahan tubuh Shinhye yang masih tersandar dipunggung ku dengan sebelah tangan ku.

Angin kencang segera menerpa wajah ku. Sungguh, angin itu bahkan tidak mampu mengeringkan air mata dipipiku. Aku mohon, izinkan aku seperti ini hari ini saja. Biarkan aku mendekap Shinhye seperti ini untuk terakhir kalinya.

 

Epilog

Aku melangkahkan kaki ku memasuki sebuah kamar. Aroma khas Shinhye langsung menyerbu hidung ku. Aroma yang sangat ku rindukan. Hari ini adalah upacara pemakaman Shinhye.

Baru kali ini aku mengetahui tempat tinggal Shinhye sejak beberapa lama dekat dengannya. Sekarang aku sedang berada di kamar Shinhye. Eommanya lah yang meminta ku untuk pergi melihat kamar Shinhye. Kamarnya cukup luas, tidak terlalu banyak hiasan-hiasan yang mencolok.

Tetapi begitu banyak benda-benda yang menyerupai biola. Hati ku kembali sesak. Aku mulai merindukan sosok Shinhye. Bahkan ini baru 1 hari, tetapi hati ku sudah mulai merindukanya.

Lagi dan lagi, air mata kembali membasahi pipi ku. Aku terus berjalan menuju tempat tidur Shinhye. Ku sentuh ranjang tempat Shinhye selalu tidur. Sungguh, aku benar-benar merindukannya.

Aku benar-benar ingin melihat Shinhye sekarang juga walau hanya untuk beberapa detik saja. Disamping tempat tidurnya ada sebuah meja kecil. Diatas meja itu, aku melihat ada sebuah kertas dan sepucuk surat berwarna biru.

Segera ku raih surat berwarna itu. Keluarlah selipat kertas. Aku segera membukanya dan membaca surat itu.

 

For Jung Yong Hwa

 

Saat kau membaca surat ini mungkin aku telah tiada. Aku harap kau tidak sedang menangis saat membaca surat ini, karena aku sangat tidak suka melihat air mata jatuh dari mata orang yang ku cintai.

Aku ingat saat aku mulai merasa menyukai mu, ketika melihat kau bersepeda melewati jalan di depan rumah ku. Kau tersenyum pada harabojie dan haramonie yang tinggal didepan rumah ku.

 Aku rasa saat itu aku terpesona dengan mu hingga lama kelamaan aku mulai menyukai mu, bahkan mencintai mu. Rasa itu amat terasa indah walau aku tak mengenal mu. Aku tidak ingat sudah berapa lama itu berlangsung. 1 minggu, 1 bulan, atau bahkan 1 tahun? Aku tidak ingat.

Yang ku tahu aku bahagia merasakan itu semua.

Yong, aku minta maaf karena aku kadang tiba-tiba menghindar ketika kita sedang bersama. Tiba-tiba pergi tanpa alasan yang jelas. Bahkan menghilang untu beberapa saat. Mianhae..

Aku seperti itu karena aku tidak mau kau mengetahui bahwa aku selama ini mengidap penyakit. Penyakit yang membuat ku harus sadar akan mimpi indah yang hanya akan ku nikmati sekejap mata. Penyakit yang selalu membuat ku ketakutan dan menyadari bahwa aku tidak akan lama lagi menikmati keindahan cinta dan dunia.

Sungguh, aku tidak bermaksud membohongi mu. Tetapi aku tidak mampu untuk mengatakan itu didepan orang yang aku cintai, karena aku tahu penyakit ini lama kelamaan akan membuat ku menghilang dari bumi ini. Aku tidak mau membuat orang yang ku cintai bersedih karena ini. Bahkan ikut menderita seperti ku. Jeongmal mianhae..

Aku harap kau mengerti..

 

Nado saranghae..

 

From Park Shin Hye

 

Air mata ku benar-benar nyaris pecah setelah membaca surat dari Shinhye. Ternyata Shinhye lebih dahulu meyukai ku. Aku benar-benar tidak tahu, bahkan menyadarinya.

Dada ku benar-benar sesak bahkan lebih sesak dari sebelumnya. Mengapa saat aku menyukainya Shinhye malah pergi dari dunia ini? Jika aku diberikan waktu untuk beberapa detik saja untuk bertemu Shinhye yang ingin ku katakan hanya ’Saranghae, forover and always. Shinhye.’

Perlahan-lahan aku mulai menghapus air mata ku. Aku tidak boleh terus menerus menangis, Shinhye pasti akan sedih melihat diriku seperti ini. Aku lalu beralih memandang kertas yang sebelumnya berada dibawah surat tadi.

Ku raih kertas itu perlahan, sebuah kertas yang berisi not-not balok. Diatasnya tertulis, Goodbye Days song by Park Shin Hye. Aku lalu teringat ucapan Shinhye kemaren. Dia ingin memainkan lagu barunya didepan ku.

Tetapi aku memintanya untuk melakukannya esok. Ya, itu hari ini. Sesaat aku melihat sebuah biola disamping meja kecil itu. Segera ku raih biola itu. Perlahan aku mulai memainkan lagu Goodbye Days yang diciptakan Shinhye.

“ Biarkanlah aku memainkanya untuk mu, Shinhye. Gomawo telah mengajari ku bermain biola. Hiduplah bahagia dan tenang dialam sana. Suatu hari aku akan segera menyusul mu. Perlu kau tahu, hati ku selamanya hanya untuk mu. Tidak akan dan tidak akan pernah berubah bagaimana pun keadaanya. For you, Shinhye.. Saranghae.. “

 

Hold on my heart, i have to keep it everyday. Like that, even if it’s really difficult. You’re  just my only one, Jung Yong Hwa..

(Jisun – Crazy In Love)

The End