Author : mirrellia

Cast : Cho Kyuhyun, Shin Mirrelle, others

Genre : Romance

Rating : General

Length : Ficlet

Diclaimer : All characters belongs to themselves

Author Note : Baru muncul kembali setelah sekian lama menghilang. Happy reading! Dan salam kenal untuk author baru di FFL *plak

Aku menatap lurus satu sosok pria yang tengah duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara Incheon. Mata indahnya sejak tadi tak lepas dari ipod putih yang digenggamnya. Seolah mencari lagu yang tepat dengan suasana hatinya. Meskipun aku yakin sekali suasana hatinya sangat baik hari ini. Terlebih lagi gadis itu selalu berada di sampingnya, membuat segaris senyuman yang terukir indah di wajahnya. Seorang gadis yang mampu menopangnya dan membuatnya bangkit kembali. Tidak seperti diriku yang hanya bisa membuat masalah untuk dirinya, tidak seperti diriku yang hanya memikirkan kebahagiaanku sendiri, tidak seperti aku yang sekalipun tak pernah mau mendengarkan apa yang hendak dikatakannya.

Rasanya ada sesuatu yang ingin ku teriakkan kepada mereka berdua. Aku ingin mengatakan bahwa aku tak suka jika gadis itu yang membuatnya tersenyum. Aku ingin mengatakan bahwa tak seharusnya jari jemari mereka yang sekarang bertautan. Ataupun sekedar saling melemparkan senyum penuh arti satu sama lain. Aku ingin gadis itu menyadari bahwa itu semua adalah milikku. Aku ingin gadis itu ingat bahwa akulah yang sebelumnya berada di posisinya sekarang. Dan aku hanya ingin gadis itu ingat, dialah yang membuat jarak di antara aku dan pria itu.

            Tapi aku tak pernah berani melakukan itu semua. Aku terlalu takut jika faktanya aku akan menyakiti pria itu jika aku menyakiti gadisnya. Aku terlalu takut jika tembok penghalang antara aku dan dirinya semakin besar. Tembok penghalang yang sebenarnya ku bangun sendiri bahkan sebelum hubungan kami benar-benar berakhir. Aku terlalu sombong hanya untuk sekedar meminta bantuannya. Aku terlalu naïf dengan mengatakan aku tak membutuhkannya. Dan bahkan sekarang aku terlalu egois karena ingin ia kembali untuk diriku.

            “Berhenti menatapnya seperti itu!”

            Aku tersentak ketika sebuah lengan menarik siku kananku ke balik dinding ruang tunggu. Sebuah lengan yang selama ini selalu berusaha untuk menopangku, seseorang yang entah untuk kesekian kalinya menyelamatkan aku dalam posisi menyakitkan itu.

            “Menyakiti diri sendiri dengan melihat mereka tidak akan membuatmu merasa lebih baik! Kau sadar akan hal itu,” nasehatnya dengan gusar. Tangannya masih tak mau melepaskan siku kananku.

            “Arraseo,” jawabku pelan. Hanya itu yang bisa ku katakan padanya setiap kali ia menasehatiku. Aku mengerti dengan apa yang dia katakan, tapi yang tak bisa aku mengerti mengapa aku selalu melakukan kebodohan yang sama.

            “Apa kau sadar jika kau itu terlalu bodoh dengan melakukan itu semua!”

            Aku mengangguk. Pria ini benar. Aku memang terlalu bodoh. Tak seharusnya aku bersembunyi sambil menatap mereka berdua. Menyembunyikan rasa sakit karena aku bukan lagi miliknya.

            “Mianhae Kyuhyun-a…,” aku menjatuhkan kepalaku di dadanya yang bidang. Untuk kesekian kalinya pula aku menyerahkan diriku kepada Kyuhyun. Satu sosok pria yang sebenarnya selalu melihatku dan berniat untuk melindungiku. Tapi mengapa aku tak bisa jatuh cinta padanya? Mengapa aku tak bisa melihat semua yang telah ia lakukan padaku?

            Kyuhyun meraih tubuhku semakin dekat ke arahnya. Aku tahu bahwa pria ini juga tersakiti. Aku sadar bahwa aku menyakiti hati orang lain hanya untuk bertahan dengan keegoisanku. Namun melupakan kenangan yang telah terbentuk selama tiga tahun bukanlah perkara mudah. Ketika aku berusaha untuk mengingat senyum Kyuhyun, tapi hal yang terjadi malah senyum pria itu yang melintas di kepalaku.

            “Berhentilah menangis,” bisik Kyuhyun. Ruang tunggu mulai penuh dengan member yang lain, membuatku menegakkan tubuhku kembali dan menghapus sisa-sisa air mataku.

            “Aku tak tahu sampai kapan kau akan terus seperti ini. Sadarilah sesuatu, sadarlah bahwa kau masih pantas bahagia sekalipun tanpa pria itu, Kyoungie-ah.”

            Kyuhyun menepuk kepalaku dengan lembut, lalu berlalu ke arah Leeteuk dan Sungmin yang baru saja masuk ke ruang tunggu. Aku menghela nafas lalu menyenderkan tubuhku ke dinding. Mengatur nafasku yang entah untuk alasan apa tiba-tiba semakin terasa sesak. Seolah-olah ruangan ini tak cukup luas untuk sekedar aku menarik satu helaan nafas.

            “Hhh, kau pasti melakukan hal yang sama lagi.”

            Aku menoleh dengan cepat ketika mendengar suara Ji Yoon yang kali ini ikut bersender di dinding bersamaku.

            “Kau tahu, Kyuhyun sudah cukup bersabar menghadapi keegoisanmu. Seharusnya kau mampu melihat pria mana yang ingin membahagiakanmu,” kata Ji Yoon lagi, dengan suara datar yang malah menurutku membuatku semakin terhempas.

            “Tapi kau juga tahu bahwa tak semudah itu melupakan perasaanku pada Changmin.”

            “Aku tak pernah mengatakan itu hal yang mudah. Aku hanya ingin kau melihat, mana pria yang lebih pantas untukmu.  Shim Changmin yang meninggalkanmu karena gadis lain, atau Cho Kyuhyun yang senantiasa—atau lebih tepat dengan bodohnya—mau melindungi seorang gadis yang sama sekali tak memikirkan perasaannya.”

            “It’s too much, Jung Ji Yoon,” balasku dingin. Merasa tidak suka dengan perumpamaan yang ia katakan.

            “Wae? Karena aku benar dan kau tahu itu. Tapi sayangnya kau tak mau memahami. Kebahagiaan muncul tidak hanya karena kau menginginkannya Shin Ha Kyo.”

            “Lalu apa? Menurutmu apa definisi kebahagiaan itu?” tantangku tak puas.

            Ji Yoon tertawa dan malah berlalu dari hadapanku. Aku tak pernah mengerti dengan jalan pikiran gadis yang seharusnya ku panggil dengan onnie itu.        Ia juga berteman dekat dengan Kyuhyun dan entah mengapa aku terkadang merasa jengah dengan kedekatan mereka berdua. Hei, untuk apa aku jengah jika faktanya aku tak mencintai seorang Kyuhyun? Mungkinkah…

            “Mirrelle-ah.”

            Aku menoleh ke arah samping dan mendapati Yunho sunbae membawa dua cup coffee di tangannya. Aku mengernyit bingung. Setelah hancurnya hubunganku dengan Changmin, aku sudah jarang mengobrol dengannya. Yah, meskipun ku akui aku tak pernah benar-benar dekat dengannya dan hanya sesekali mengobrol ringan ketika aku berkunjung ke dorm mereka.

            “Kau terlihat kedinginan,” katanya sambil menyodorkan salah satu cup coffee yang di bawanya.

            “Terima kasih,” kataku dan menerima kopi pemberiannya. Musim dingin kali ini memang nyaris membuatku membeku.

            “Kau baik-baik saja?” tanyanya dan aku tersenyum kecil.

            “Apa wajahku benar-benar memprihatinkan sekarang? Kyuhyun dan Ji Yoon juga menyadarinya tadi, dan sekarang oppa juga begitu.”

            Atau kali ini kau juga ingin menasehatiku sama seperti mereka berdua? batinku.

            “Changmin tak ingin kau terlihat menyedihkan seperti itu,” kata Yunho dan seketika aku tersentak.

            “Maksudmu?”

            “Dia hanya tak bisa mengatakan langsung padamu Mirrelle-ah. Ia hanya tak ingin melihatmu menangis dan pada akhirnya meraihmu kembali kedalam pelukannya. Ia hanya tak ingin kau tersakiti lagi nantinya.”

            “Wae?” tanyaku dengan suara bergetar. Mengapa Changmin tak ingin meraihku kembali jika memang ia menginginkannya?

            “Kau berhak bahagia dengan orang lain. Ia ingin kau tertawa karena orang lain. Bukan karena perasaannya padamu benar-benar menghilang. Tapi ia tak ingin kau tersakiti lagi. Ia tak ingin membuatmu berubah menjadi apa yang ia inginkan. Changmin hanya ingin kau menjadi dirimu, dan kau harus bahagia dengan pria yang menerima dirimu apa adanya.”

            “Jadi…,” aku menarik nafas sebisa mungkin. “Dia melepasku karena takut tak bisa menerima diriku yang seperti ini?”

            Yunho mengangguk.

            Aku tersenyum miris. Pria yang selama ini kucintai ternyata hanyalah pria pengecut dan malah memilih untuk menyampaikan isi hatinya lewat orang lain. Ia melepasku karena tak mampu menerima diriku. Benar-benar konyol.

            “Katakan padanya, aku ingin mendengar darinya langsung,” kataku dingin.

            “Dia pasti akan mengatakannya langsung padamu. Ketika ia benar-benar siap. Dan ia siap, ketika kau bisa tersenyum tulus seperti biasanya.”

            Setetes air mata kembali turun dari pelupuk mataku. Aku buru-buru menghapusnya, tak ingin terlihat lemah di hadapan Yunho. Lagipula seperti yang diinginkan Changmin, aku harus bahagia.

            Aku baru saja ingin menyeruput gelas kopiku ketika menyadari bahwa cup tersebut bukan terisi dengan kopi. Cairan berwarna hijau pekat dengan wangi chamomile yang sangat ku suka mengisi penuh gelas kertas yang ku pegang. Aku menoleh ke arah Yunho, dan tanpa aku bertanya dia mengerti apa yang hendak kutanyakan.

            “Itu bukan dari Changmin. Kyuhyun yang menitipkannya padaku. Ku rasa, kau harus membuka hatimu untuk pria satu itu. Aku sangat menyarankan itu,” jelas Yunho dan aku hanya bisa terdiam.

            “Sebentar lagi pesawat akan berangkat. Bersiaplah. Annyeong,Shin Ha Kyo.”

            Yunho berlalu dariku yang masih membeku ditempat. Aku tak pernah mengatakan pada Kyuhyun bahwa aku sangat menyukai teh hijau dengan wangi chamomile. Sama sekali tidak. Dan aku tak perlu pusing memikirkan darimana pria itu bisa mengetahuinya.

            Mataku mencari-cari sosok pria satu itu dan mendapatinya hendak keluar dari ruang tunggu bersama member Super Junior yang lain. Aku mengambil langkah panjang tanpa peduli panggilan dari member Sorciere yang lain. Karena yang harus kulakukan sekarang hanyalah satu hal. Satu hal yang ku harap bukanlah sebagai kebodohan.

            “Cho Kyuhyun,” panggilku sambil menepuk pundak pria itu. Kyuhyun menoleh, mengernyit sebentar ketika melihat wajahku yang terlihat begitu antusias terhadapnya.

            “Kyoungie?”

            “Kyuhyun-ssi, apakah kau sudah menyerah untuk mengejarku?” tanyaku langsung tanpa basa-basi. Bahkan aku sempat melihat raut wajah kaget Sungmin dan Leeteuk yang kebetulan berada dekat dengan kami.

            Kyuhyun tertegun sebentar, namun sedetik kemudian pria yang dijuluki evil itu memamerkan senyum andalannya.

            “Tentu saja tidak nona Shin. Sampai kapanku tidak akan pernah,” jawabnya pasti dan seulas senyum tulus menghias wajahku.

            “Akan selalu ku tunggu kejutan darimu.”