Author    :        Yesunggyu – Amalia Laili

Length    :        Continue

Genre      :        Comedy

Cast        :        Lee Sungyeol, Lee Sunggyu, Lee Sungjong, Soyu (Sistar), Lee Howon (Hoya), Lee Hyerin (Girl’s Day)

Ini cerita Part saya yang pertama. Mau coba-coba sih. Soalnya ada teman yang protes ceritanya tentang cinta melulu, maunya bikin cerita sahabat begitu. Yah, terpaksa saya buat. Tapi kan gak seru kalau Sungyeol gak punya kisah cinta? Jadi Sungyeol dan Sunggyu bakalan dapat kok.

…..

Sungyeol POV

“aku pergi, hyung” teriak Sungjong padaku.

“ne, pergilah” jawabku tanpa mengalihkan pikiranku pada buku yang kubaca. Ah, akhir-akhir ini dia sering sekali pergi ke rumah Bomi. Dia benar-benar melupakan perasaannya pada Changmi? Baguslah. Hem…

“Sungyeol-ah, kesini dulu” kali ini ibu ku yang berteriak dari dapur.

“ne, sebentar” jawabku, segera berdiri dan pergi menuju dapur. Kulihat ibuku sedang sibuk memotong sayuran.

“ada apa ini? Banyak sekali yang ibu masak? Ada tamu?” tanyaku.

“tolong bersihkan ruang tamu dan kamar tamu ya. Ada seseorang datang ke rumah hari ini” ibu memerintahkanku.

“siapa?”

“bersihkan saja sana, nanti juga tahu. Suruh Sungjong cepat pulang, ya”

“ne…” ujarku segera menuju ruang tamu dan bersih-bersih.

…..

Begitu selesai mandi, aku segera ke ruang tamu. Melihat seseorang yang dibawa ayah. Dia seorang laki-laki, mungkin lebih tua 3 atau 2 tahun dariku, berarti dia sudah kuliah, dong? Matanya sipit sekali, berkulit putih, wajahnya kecil, dan dia lebih pendek dari aku. Tidak terlalu pendek, mungkin 178 cm. Ya, itu tidak pendek. Hahaha, babo.

“Cepat kesini, kenapa kau melamun disana?” ibuku menegurku, aku segera berlari dan duduk disamping Sunjong yang berhadapan dengan lelaki itu.

“nugu?” tanyaku pada Sungjong, Sungjong menoleh padaku dan menggelengkan kepalanya, berarti dia tidak tahu.

“perkenalkan, namanya Lee Sunggyu umurnya 20 tahun. Dia adalah anak dari sepupu ayah. Jadi dia adalah sepupu kalian, dia akan tinggal disini” ujar ayahku, Sunggyu hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kecil. Aku dan Sungjong ikut menganggukkan kepala.

“kenapa dia tinggal disini?” tanyaku, tidak sopan ya?

“memang tidak boleh?” Tanya Sunggyu Hyung, mukanya seperti orang yang tidak diinginkan kehadirannya. Aku menjadi merasa tidak enak.

“tidak apa-apa kok, hyung hanya heran saja” jawab Sungjong sambil menendang kakiku.

“aw… iya, hanya heran” ujarku sambil meringis kesakitan.

“antar dia kekamarnya, setelah itu kita makan malam” ujar ibuku, dia segera beranjak ke dapur, ayah menuju kamarnya. Aku dan Sungjong segera membawa Sunggyu ke kamarnya.

“bagus tidak kamarnya, aku yang baru saja membersihkannya…” aku memberitahukan semuanya, betapa capeknya aku membersihkan kamarnya.

“ya, pergilah…” jawab Sunggyu tanpa memperhatikan perkataanku. Aku hampir saja memarahinya, namun Sungjong segera menarikku keluar.

“kenapa dia sombong sekali?” Tanyaku geram.

“siapa yang sombong?” Tanya Sungjong.

“Sunggyu hyung itu” ujarku sambil melipat tangan ku didepan dada.

“hanya perasaanmu saja, aku merasa kasihan pada Sunggyu hyung..” ujar Sungjong

“kenapa?”

“tidak tahu, aku kasihan saja. Coba hyung lihat ekspresi wajahnya baik-baik. Kasihan sekali ya?” jawab Sungjong. Aku jadi bingung, ada-ada saja anak ini.

“masa’? entahlah. Ah, aku lupa ada PR. Aku mau mengerjakan dulu” aku segera berlari kekamar meninggalkan Sungjong didepan pintu kamar Sunggyu.

….

Siang ini aku sedang tidak ada kerjaan, jadi aku hanya membantu ibuku saja. Memotong sayuran untuk makan malam nanti

“bi, aku akan pergi ke pasar” teriak Sunggyu hyung.

“ne” ujar ibuku. Beberapa menit kemudian, setelah aku berpikir dengan serius.

“omma” ujarku sambil menghentikan acara potong-potong.

“ne?”

“Sunggyu tau tidak dimana pasar itu?” tanyaku

“oh, iya! Omma lupa! Cepat kejar Sunggyu dan ajak dia ke pasar yang benar!” jawab ibuku terburu-buru.

“ne… ya, Sunggyu hyung!!!” aku berlari dan berteriak keluar. Mana sepatuku? Oh, ini. Ah, Sunggyu hyung, tunggu…!!! Huaaahh.. untung dia baru sampai didepan gerbang. Aku segera menarik tangannya “ah, hyung. Hosh hosh..” napasku tersengal-sengal habis panic.

“ada apa?” tanyanya

“hyung tau dimana pasar itu?” tanyaku

“tau kok, memangnya aku anak kecil. Aku tau daerah ini. Meskipun aku orang baru” jawab hyung memarahiku

“benarkah? Ya sudah.” jawab ku segera berbalik kembali kerumah. Namun langkahku terhenti dan berbalik menghadap Sunggyu hyung “Hyung.!!!” Teriakku.

“apa lagi?”

“aku ikut!” jawabku lalu segera berjalan mendahuluinya

“heh? Terserah kau saja” Sunggyu hyung hanya menggelengkan kepala.

Didalam perjalanan, aku dan hyung tidak berbicara sedikit pun. Memangnya kami harus bicara apa? Kan kami tidak mungkin cerita tentang naiknya harga sayuran? Memangnya aku ibu? Eh, itu Sungjong, dia baru saja dari rumah Bomi. Dia menyadari aku melihatnya, dan segera berbalik badan. Anak ini!

“Ya! Sungjong-ah. Kesini dulu” teriakku, Sungjong kembali membalikkan badan dan menujuku.

“apa?” tanyanya “ah, Annyeong haseyo, hyung!” ujar Sungjong pada Sunggyu hyung, Sunggyu hyung hanya mengangguk saja.

“temani aku menemani Sunggyu hyung!” ujarku. Sungjong mengeryitkan keningnya, Sunggyu hyung menatapku bingung.

“apa kau mengerti apa yang kau katakan, hyung?” Tanya Sungjong heran

“tentu saja aku tau. Aku..”

“aku tidak perlu kau menemaniku” ujar Sunggyu hyung dan segera pergi. Aku segera mengejarnya dan menarik tangan Sungjong.

“begini Sunggyu, aku tidak ada kerjaan dirumah. Makanya aku ikut denganmu! Jangan pikir yang lain-lain” jawabku membela diri, pandanganku lalu beralih dari hyung ke dongsaengku “dan Sungjong, kau tau kan kalau aku tak punya topic pembicaraan dengan Sunggyu hyung? Makanya aku membawamu,mengerti?”

“hmmm… baiklah….” Jawab Sungjong terpaksa. Aku tersenyum bangga atas prestasiku itu. Kami pun pergi menuju pasar.

….

AUTHOR POV

“nah, sampai disini, pergilah” ujar Sunggyu saat di persimpangan.

“hah? Memangnya….”

“kalau mengikutiku lebih dari ini, kalian tidak selamat” Sunggyu memotong ucapan Sungyeol dan langsung dibalas dengan wajah pucat oleh Sungjong dan Sungyeol.

“ehm.. baiklah hyung.. ayo..” Sungjong menarik Sungyeol dan segera pergi dari tempat itu. Sunggyu kembali melanjutkan perjalanannya.

“oke, ini benar-benar aneh. Benar yang kau katakan waktu itu Sungjong” ujar Sungyeol sambil mengangguk kepala mantap.

“ne? Hyung memang mengerti yang hyung katakan?” Tanya Sungjong heran pada perkataan Sungyeol yang berbelit-belit.

“tentu saja!” Sungyeol memukul bahu Sungjong, yang dipukul hanya meringis kesakitan “ah, aku penasaran padanya. Kenapa dia pergi kepasar? Dia kan tidak perlu pergi beli ikan?”

“hyung, kurasa dia tidak pergi ke pasar. Dia berbelok kearah yang salah, lihat” ujar Sungjong sambil menunjuk jalan yang dilewati Sunggyu.

“aigoo, sudah kuduga dia tidak tahu jalan menuju pasar” Sungyeol menepuk dahinya.

“tapi hyung, bagaimana kalau dia bukan mau ke pasar, tapi kesuatu tempat lain begitu?” Tanya Sungjong.

“ne, kau benar… mungkin saja. Ayo, kita ikuti” Sungyeol segera menuju jalan yang dilewati Sunggyu.

“tapi Sunggyu hyung bilang…”

“ikuti saja, atau kau mau tinggal?” Tanya Sungyeol menghentikan langkahnya.

“aku tinggal saja, aku mau pulang” jawab Sungjong. Sungyeol menatapnya bosan.

“terserah! Aku akan pergi!” Sungyeol segera berlari meninggalkan Sungjong, dia takut kehilangan jejak Sunggyu.

“ya sudah, kalau tidak selamat, aku akan ambil semua makanan hyung!!” Sungjong berteriak pada Sungyeol dan segera berlari pulang.

….

Sungyeol menemukan Sunggyu berada di suatu rumah yang sangat luas dan habis terbakar. Sungyeol berada diluar rumah, sedang Sunggyu berada di dalam rumah. Sungyeol mengikutinya. Sambil mengendap-endap, Sungyeol merasa heran. “rumah siapa ini?” Tanya Sungyeol. Dia melihat Sunggyu menaiki tangga menuju lantai 2.

BRAKK…

Tumpukan kayu itu jatuh, Sunggyu menoleh dan melihat Sungyeol tertimpa kayu. Dia segera berlari dan menyelamatkan sepupunya itu. Untung saja Sungyeol baik-baik saja meskipun ada goresan di tangan dan wajahnya.

“akh… sakit sekali..!!” ujar Sungyeol sambil memegang kepala dan punggungnya.

PLAKK…

“huaaaaaa… sakit, punggungku sakit, hyung!” teriak Sungyeol pada Sunggyu yang baru saja memukul punggungnya.

“sudah kukatakan kalau ikut aku, kau tidak akan selamat! Kau ini sangat…. Kekanak-kanakan sekali!” ujar Sunggyu.

“kupikir kau yang akan membuatku tidak selamat. Makanya aku mengikutimu, dan aku yakin kau tidak akan begitu!” jawab Sungyeol

“memang tidak! Aigoo, memang apa urusanmu?” Tanya Sunggyu.

“aku penasaran. Soalnya kau aneh sekali” jawab Sungyeol.

“kau ini masih remaja ya, eh bukan, masih anak-anak ya? Rasa penasaranmu lebih besar dari Sungjong. Hahaha…” Sunggyu tertawa melihat ulah Sungyeol. Muka Sungyeol berubah cemberut tapi setelah melihat Sunggyu tertawa dia ikut tersenyum.

“hyung bisa tertawa juga rupanya” ujarnya yang dibalas satu pukulan dipunggung oleh Sunggyu.

“kau pikir aku robot?”

“karena, hyung…”

“ikuti aku…” Sunggyu memotong ucapan Sungyeol dan membawanya kelantai 2. “kau bisa jalan?” tanyanya.

“nde, tapi aku pasti selamat ‘kan?” Tanya Sungyeol sambil was-was melihat keatap rumah itu.

“hahaha… mana ku tahu! Ikuti aku” jawab Sunggyu, Sungyeol segera mengikutinya sambil memegangi kepalanya.

….

Sungyeol mengikuti Sunggyu hingga kekamar paling atas. Dikamar tersebut tampak terbakar, membuat Sungyeol takut.

“bagian ini tidak terlalu parah, kan?” Tanya Sunggyu.

“mananya yang tidak terlalu parah? Aku sudah membayangkan kita jatuh dari tempat ini..” ujar Sungyeol.

“hem… iya” Sunggyu tersenyum sambil duduk di lemari kecil yang sedikit terbakar dekat jendela. “dulu ini rumahku”

“benarkah? Itu makanya kau pindah kerumahku, karena rumahmu terbakar?” Tanya Sungyeol kaget.

“ne…. ibu dan ayahku meninggal karena kejadian ini. 3 hari yang lalu” jawab Sunggyu.

“jongmal? Kok aku tidak tahu berita itu ya? Jadi, kau sendiri? Tidak ada adik atau kakakmu?” Tanya Sungyeol.

“tidak ada. Aku anak tunggal”

“mianhae…” ujar Sungyeol.

“gwenchana… ah, aku sangat merindukan tempat ini”

“Kupikir kau orang yang menyebalkan… ternyata kau diam karena sedih? Ah, apa yang dikatakan Sungjong benar” ujar Sungyeol.

“hahaha… kau pikir begitu? Mungkin”

“jadi kau seorang diri?”

“tentu saja, kan?”

“baiklah, kalau begitu, kau akan menjadi saudaraku. Hyung akan menjadi kakakku dan kita akan bersahabat bersama Sungjong juga. Anggap saja kita ini bersaudara, yah setidaknya bersepupu” ujar Sungyeol bersemangat. “aku akan menjadi sahabat yang baik”

“hahaha… kita kan memang sepupu. Ya, tidak masalah…” jawab Sunggyu.

Mereka berdua tampak asyik bercerita sampai seorang perempuan yang melihat mereka dari jendela berteriak.

“Sunggyu oppa? Benarkah itu Sunggyu Oppa?”

….

“Sunggyu oppa? Beneran itu Sunggyu Oppa?” suara perempuan itu membuat Sunggyu dan Sungyeol menoleh kepadanya. Perempuan itu segera masuk ke ‘mantan’ rumah Sunggyu. Sunggyu segera berdiri. Sungyeol menatapi mereka dengan heran.

“lama tidak berjumpa, Soyu” ujar Sunggyu.

“hem.. iya…” jawab Soyu sambil tersenyum.

“kau baik-baik saja di Incheon?”

“nde.. aku sudah mendengar tentang rumahmu… kau baik-baik saja?” tanya Soyu.

“hem..” Sunggyu mengangguk. Terdengar suara diam diantara mereka. Sungyeol hanya tersenyum melihat mereka dan berusaha mati-matian menahan tawanya. Lalu berdiri menghampiri Sunggyu dan menepuk bahunya pelan.

“siapa, hyung? Yeppo…” bisiknya pada Sunggyu, Sunggyu menyikutnya.

“ah, ye… ehmm.. Soyu, perkenalkan, ini Lee Sungyeol. Aku tinggal dengannya selama ini, kau bisa lihat sendiri rumah ini, kan?” ujar Sunggyu memperkenalkan Sungyeol pada Soyu. Sungyeol mengulurkan tangan, dan berjabat tangan dengan Soyu. Soyu tersenyum.

“ehmm.. hyung, kita pulang yuk.. sudah malam.. Soyu, dimana rumahmu?” tanya Sungyeol.

“tepat disebelah kanan rumah ini.” Jawabnya ”rumahmu?” tanya Soyu.

“Ah, tidak terlalu jauh.. itu..”

“ayo pulang.. Soyu, aku pulang dulu, aku akan sering-sering ke rumahmu, dan menemuimu” Sunggyu segera mengamankan Sungyeol dan menariknya keluar diikuti Soyu. Saat sudah lumayan jauh dari rumah Sunggyu, Sunggyu melepas tangan Sungyeol yang dari tadi dipegangnya dan berhenti. Berbalik dan melihat Soyu sampai Soyu masuk ke dalam rumah. Sungyeol yang keheranan, melihat Sunggyu dan rumah Soyu terus.

“Hyung menyukainya?” tanya Sungyeol.

“eh..?? tidak. Ayo pulang!” Sunggyu yang kaget segera berbalik badan.

“benarkah? Kalau begitu aku boleh dong menyukainya…??” tanya Sungyeol jail. Sunggyu berbalik badan dan melihatnya.

“kau berani??” tanya Sunggyu lagi.

“berarti hyung menyukai Soyu” ujar Sungyeol.

“eh? Tidak.. itu…”

“hahaha… hyung menyukai Soyu… Soyu… Soyu…”

“ya ya ya… kau gila, jangan berteriak”

…………………

KRINGGGG…

Aku segera mengangkat telepon.

“yoboseyo?”

“keluarga Lee?”

“nde, waeyo?”

“ehm, kami dari pihak kepolisian, ingin berbicara dengan Lee Sunggyu”

“oh, nde. Sunggyu Hyung… ada…”

“yoboseyo?” tiba-tiba Sunggyu hyung merampas telepon dari tanganku dari mendorongku menjauh.

“ah? Jongmal? Nde, aku akan segera pergi kesana. Nde, gomapsumnida!” Sunggyu segera tersenyum dan segera berlari, menuju keluar rumah.

“ah, chakamaneyo hyung..” teriakku.

“waeyo?!”

“aku ikut…” ujarku. Sunggyu hyung menghela napas.

“huft.. keure. Ikutlah… cepat!” teriak Sunggyu hyung, aku segera lari menuju kamar mengambil hapeku dan pergi keluar.

……………………….

“tapi, kami tidak bisa memastikan dengan jelas siapa yang sudah membakar rumah anda, jadi mohon tetap bersabar, tapi ini adalah kronologis kejadiannya. Silahkan…” polisi itu memberikan sebuah berkas untuk Sunggyu hyung. Aku melihat dengan bingung.

………………………

Sunggyu hyung menjelaskan padaku kronologis tentang kebakaran dirumahnya yang sudah dibacanya dari berkas yang diberikan polisi itu.

“jadi, dengan sengaja begitu hyung?”

“nde.. siapa kira-kira musuh orang tuaku ya?”

“jahat juga ya? Saat itu hyung ada dimana?”

“aku, berada di kampus saat itu… aku tidak tahu samasekali…”

“arayo, aku tidak mengira hyung tersangkanya kok”

“heh? Siapa juga yang mengira kau mengira aku tersangkanya…”

“hahaha… kali ini apa hyung mengerti apa yang hyung katakan?”

“hahaha… tidak sama sekali…”

“…..”

Kami tertawa cukup lama sampai aku melihat Soyu lewat.

“Soyu noona!” teriakku nekat dari jendela mobil. Mobil hyung sedang diparkir.

“ah, nde… annyeong haseyo!” Soyu noona melihat kami dan menundukkan badan.

“annyeong haseyo…!” aku menganggukan kepala “kesini dulu! Ada hyung disini!” teriakku sambil menunjuk Hyung yang menghadapku aku dan membelakangi Soyu, malu mungkin.

“ah, annyeong haseyo, Soyu ah” akhirnya Sunggyu hyung berbicara juga.

“annyeong haseyo…”

Kami memberitahukan Soyu tentang hal itu.

“omo! Siapa yang melakukan hal itu kira-kira ya?”

“itu yang kami cari…”

………………………….

AUTHOR POV

“semua akan terbalaskan omma…”

“….”

“omma diam dengan tenang disini saja…”

“…..”

“keluarga Lee tidak akan menganggu omma lagi, termasuk Sunggyu”

“…..”

Suara perempuan itu terdengar dari sela-sela ruangan rumah yang sederhana, dia berbicara dengan sang ibu yang tak menjawab.

…………………………….

SUNGYEOL POV

Sunggyu hyung berkata akan pergi menuju rumah lamanya, aku ikut lagi. Ah, aku seperti pengganggu saja. Aku kan ikut bukan karena aku terkena Adopt-brother complex, tapi karena aku penasaran.

Sunggyu baru saja mau menyebrang, tiba-tiba ada mobil yang melaju dengan kencang dan menabrak Sunggyu hyung.

KIIITT….BRAKKK…

“Hyungg…”aku segera berlari. Aigoo, hyung terlempar cukup jauh. Aku melihat darah banyak.

“ya! Tanggung jawab!!!” teriakku, orang itu malah tidak keluar sama sekali, dia malah pergi melesat. Ishhh…..

………………………..

Aku sudah menelpon orang tuaku. Mereka segera datang bersama Sungjong. Aku sekarang berada dikamar Sunggyu, dia belum sadar dari tadi.

TRRTTTT…. TRRRTTT….

Hape Hyung bergetar. Aku segera mengambilnya.

From : nomor tidak dapat dikenali

Kau akan membayar semua penderitaan kami, Lee Sunggyu

Bertemulah dengan orang tuamu, sekarang

Siapa ini? Apa dia yang sudah menabrak Sunggyu hyung? Ketelaluan. Dendam apa pada hyung? Ishh…

Aku memukul-mukul hape hyung, membuat suara tidak enak. Membangunkan hyung.

“eh, hyung… gwenchana?” tanyaku

“apanya yang baik?” tanya Sungjong padaku “hyung, ada dirumah sakit, baru tertabrak….”

“hmm…? Aigoo, kakiku..” Sunggyu hyung menyentuh kakinya yang digips.

“ah, hyung.. jangan bergerak dulu..” ujar Sungjong.

“paman akan pergi menuju bagian administrasi, kau ikut?” ujar ayahku bertanya pada Sunggyu hyung lalu pada ibuku.

“nde, sekalian beli makanan. Jaga hyungmu ya..”

“nde…”jawab kami berdua dan mereka pun pergi.

“….”

“hyung…”

“apa?” tanya hyung padaku.

“aku sepertinya tau siapa yang membakar rumah hyung” ujarku, Sunggyu lalu menoleh kepadaku dan membelalakkan matanya. Sungjong pun.

“nuguya?”

“ehm, tadi ada sms, katanya.. itu.. dia…eh” tiba-tiba hyung merampas hapenya dari tanganku dan membaca dengan seksama sms orang tidak dikenal itu.

“ishh… jongmal. Siapa dia? Dendam apa pada orang tuaku?” gumam hyung.

“coba lihat nomornya hyung? Ditelpon lagi” usul Sungjong. Aku menggelengkan kepala.

“tidak bisa, nomornya sudah terprogram untuk tidak dikenali. Jadi tidak bisa dilacak” jawabku, Sungjong menundukkan kepalanya.

“huft.. ottohke?” desah Sungjong

“….”

“….”

“hyung punya kenalan begitu? Siapa tahu dia tahu masalah orang tua hyung!” usulku, mereka semua menatapku dengan bingung. Baru saja Sungjong mau menjawab perkataanku.

“ah, hyung memangnya..”

“aku tau apa yang kukatakan, Sungjongi!”

“arata… tapi maksudku, memangnya hyung pikir ada orang yang dendam ngasih tau orang gitu?”

“bukan itu maksudnya Sungjong. Mungkin aja ada orang yang dirugikan oleh orang tuaku” jawab Sunggyu hyung.

“nde, seperti itu…” anggukku. Padahal aku sama sekali tidak kepikiran seperti apa yang dikatakan hyung.

“ehm, siapa orang yang bisa kupercaya?”

“…..”

TOK TOK..

“Masuk!” ujarku pada seseorang yang mengetuk pintu kamar.

“oppa, gwenchana?” tanya Soyu, dia datang membawa makanan

“nde, sepertinya..” jawab Sunggyu sambil tersenyum “darimana kau tau aku ada dirumah sakit?”

“ehmm… aku, aku mendengar dari orang-orang” jawab Soyu dengan sedikit gugup sambil menaruh kotak makanan di meja.

“hem? Gwenchana. Jangan gugup begitu” ujar Sunggyu, aku dan Sungjong tukar pandang.

……………………..

AUTHOR POV

Sungyeol menceritakan kejadian Sunggyu kepada Soyu. Soyu hanya terdiam.

“siapa yah, kira-kira?” tanyanya

“kalau kami tau, kami tidak akan kebingungan..” jawab Sungjong.

“ah, apa mungkin Hoya oppa?” tanya Soyu seketika.

“hah? Mungkin..” jawab Sunggyu dengan terkejut “aw, aduh.. kakiku, ehm, ambilkan hape ku!” perintah Sunggyu pada Sungyeol. Sungyeol segera mengambil hape Sunggyu yang berada di meja di sampingnya.

“ini…”

“Hoo.. yaaa…” ujar Sunggyu mencari nama Hoya di kontaknya “ah, Hoya!”

Dia segera menghubungkan ke Hoya, yang lain hanya hhc (harap harap cakep).

“ah, yoboseyo Hoya!”

“ehm, yoboseyo, waeyo?” ini suara Hoya.

“ada yang ingin kutanyakan”

“mwo?”

“apa kau mempunyai dendam pada orang tuaku?”

“heh? Mwo? aniya…”

“bohong?”

“aigoo, aku mengatakan hal yang sebenarnya…”

“tapi, bukankah ayahku sudah membuat perusahaan ayahmu bangkrut?”

“ya!!!! Kau jangan mengungkit masa lalu! Bisa-bisa aku jadi balas dendam!” teriak Hoya, membuat Sunggyu menjauhkan sedikit hapenya dari telinganya

“nde, nde, jangan marah begitu, aku kan han…”

“siapa yang tidak marah? Sekarang ibuku sakit setelah ditinggal ayahku yang bunuh diri. Entah kemana sudah perginya adikku itu! Kau malah.. aigoo..”

“ah, nde, mianhae… maksudmu, Lee Hyeri?” tanya Sunggyu

“menurutmu siapa lagi adikku? Sudah ya, aku ada pertandingan hari ini”

“battle dance”

“nde… annyeong” Hoya segera menutup pembicaraan.

“mungkin, Hyeri!” ujar Sungjong.

“tapi, masa perempuan sih yang nabrak hyung, trus pake balas dendam bakar rumah segala” sergah Sungyeol

“mungkin saja!” Soyu berkata dengan semangat “aku melihat maksud dari smsmu. Kemungkinan besar memang perempuan, dan siapa lagi coba?”

“aigoo. Aku tidak tahu…!!” Sunggyu menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“…..”

……………..

— TBC —-

Gitu aja dulu ya, hahaha. Maunya mengakhiri sekarang, tapi kan gak seru. Jadi,….

(Justsharestory.wordpress.com)