Tittle            : Unexpected Thing (Part 3)

Author         : Hanie Hannew

Cast             : 

  • Kim Kibum (Key) SHINee
  • Shin Hae Jin (OCs)

Rating          :  General      

Length         :  Chaptered

Genre           :  Menuju ke romance (halah)

Disclaimer   :  I own the plot and the OCs, but not Kim Kibum😀.

Part 3 datang!!*tereak diatas monas*. Mian ya di part dua gak ada ‘rasa’nya sama sekali dan author harap part ini lebih memberikan  feel buat readersdeul sekalian *ngarep banget ada yang baca part 2 -_-*. Okeh, segitu aja bacotan (ga) penting dari saya, the last I say.. Happy Reading…^^

 

 


“Aku pulang…” seru Haejin tak bersemangat saat masuk kedalam rumah. Ia mengganti sepatu yang dipakainya dengan sendal rumah dan berjalan keruang tengah.

“Kenapa baru datang? Eomma sudah menunggumu sejak dua jam lalu, kau bilang sudah ada di bis untuk pulang.” Nyonya Soon Ae tampak berjalan dari arah dapur menghampiri Haejin.

“Tadi.. aku masih ke perpustakaan umum mengembalikan buku” jawab Haejin berbohong. Sebenarnya dia menghabiskan waktu 2 jamnya dengan duduk di kursi taman kota sambil memakan eskrim banyak-banyak untuk mendinginkan kepalanya yang masih mendidih. Ibunya mengangguk pelan mempercayai jawaban Haejin, kemudian ia teringat sesuatu.

“Emmm, Kau lelah kan? Ayo cepat ke kamarmu dan istirahatkan tubuhmu, ne?” ucap Nyonya Soon Ae sambil mendorong punggung haejin pelan menuju kamarnya. Haejin menautkan alis heran dengan sikap ibunya, kenapa dia menyuruhnya masuk kamar? Bukankah tadi ditelepon ia bilang ingin mengatakn sesuatu padanya? dan apa maksud ibunya tentang kata ‘spesial’ tadi? Cssh.. haejin akhirnya menyerah dengan pikiran-pikirannya sendiri dan berjalan lambat ke  kamarnya. Haejin baru akan menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur saat matanya menemukan sebuah tas berbahan karton di meja, dia meraihnya dan merogoh isinya. Ia mendapati sebuah dress berwarna biru muda terlipat rapi didalamnya. Alis haejin kembali mengkerut,
“Ini…” ucapnya menggantung sambil merentangkan dress itu.
“Haejin-ah, kau sudah melihatnya? Pakai baju itu nanti malam, dia akan datang kemari.” terdengar teriakan ibu haejin dari luar kamar.

“Dia siapa eomma?”  haejin ikut berteriak dan terus menatap dress ditangannya lekat-lekat.
“Kau akan tahu, tunggu saja” balas ibu haejin kembali, suaranya terdengar girang kali ini. Haejin tak memahami perkataan ibunya, dia kemudian memasukkan dress itu lagi ke dalam tas karton dan meletakkan sekenanya. Entah kenapa wajah key tiba-tiba melintas dikepalanya, Haejin dengan cepat menggeleng-gelengkan kepalanya dengan keras. Bukan dia kan? Yakinnya dalam hati.
Aigo, haejin-ah, kau belum siap-siap?” Pekik ibunya saat masuk kekamar haejin dan mendapati haejin masih berselonjor santai ditempat tidur sambil membaca komik, sebelah tangannya mengapit kue beras.
“Memangnya mau kemana eomma?” tanya haejin santai sambil menggigit kue berasnya dan kembali fokus membaca.
“Mau kemana? Kau tidak dengar apa yang eomma bilang tadi?” suara ibunya terdengar mulai emosi, haejin pura-pura tak perduli.
“Yang mana eomma? Membeli sayur di minimarket?”
“AIgoo, kemari kau anak manis” geram ibunya sambil berjalan cepat ke arah kasur, tangannya melipat baju panjangnya sampai ke lengan, wajahnya menakutkan. Haejin yang menyadari akan mendapat musibah sebentar lagi segera bangkit dari tempat tidurnya dan mengindari ibunya.

“Eomma.. A.. Arasseoh.. Arasseoh” ucapnya terbata dengan wajah memelas kemudian bergegas masuk ke kamar mandi.

-_-_-_-_-_-_-

Haejin mematut pantulan dirinya dicermin dengan wajah merengut. Sebuah dress berwarna biru muda kini melekat pas ditubuhnya. Haejin pabo! Awas saja kalau memang benar ‘dia’ yang dimaksud ibunya adalah koki itu. Dia tidak sudi lagi bertemu dengannya setelah sebelumnya dia ditertawai mentah-mentah  oleh namja itu. Cssh, semoga yang datang adalah Yoogeun, anak tetangga sebelah yang masih SD untuk bertanya PR matematika, atau ‘dia’ tidak jadi datang karena tiba-tiba terjebak badai salju ditengah jalan. Baiklah, untuk terkaan pertama, tidak mungkin karena untuk apa dia harus berdandan yang tak biasa seperti ini kalau hanya untuk mengajari Yoogeun mengerjakan PR, terlalu berlebihan (-_-), dan untuk yang kedua semakin tidak mungkin karena sekarang adalah musim gugur, tidak pernah terdengar cerita kalau badai salju datang di musim gugur *tabok haejin bolakbalik*.

“Aigo, kau sudah datang rupanya. Mari silahkan masuk.”

Sayup-sayup Haejin mendengar suara ibunya dari kamar, ia berjalan perlahan ke arah pintu kemudian menempelkan telinganya didaun pintu.
“Kau sangat tampan dengan setelan baju itu, omo sangat pas” suara ibunya kembali terdengar. Pasti ‘dia’ sudah datang. Haejin semakin menajamkan telinganya, menunggu suara ‘dia’ yang ibunya puji beberapa detik lalu. Dia tidak mendengar apa-apa. Selanjutnya dia merasakan engsel pintu yang dipegangnya bergerak turun, kemudian..
“Duakk! Uwaa, appo!” pekik haejin ribut sambil memegangi pelipisnya yang berbenturan cukup keras dengan daun pintu yang didorong dari luar.

“Aigo, haejin ah, kau tidak apa-apa?” tanya nyonya Soon Ae khawatir sambil ikut mengelus-elus pelipis haejin yang memerah dan sepertinya akan muncul benjolan kecil sebentar lagi.

“Eomma. Kenapa pintunya didorong sangat keras!?” jeritnya dengan wajah memerah,pelipisnya benar-benar sakit sampai-sampai kepalanya ikut pening.
“Ya, memang pintu ini dibuka dengan didorong kan,bukan digeser. Salahmu sendiri berdiri didepan pintu, tak ada kerjaan saja” bela Nyonya Soon ae. Haejin tidak menjawab, dia tidak akan mengatakan pada ibunya kalau dia berusaha mencuri dengar tadi. Akhirnya haejin hanya bisa meringis pasrah.
“Kau sudah siap kan? Ayo keluar. Dia sudah datang” ujar ibunya kemudia menarik lengan haejin. Haejin menahan tubuhnya dan berbalik untuk mengambil tasnya.
Jangan dia, jangan dia, jangan dia, haejin merapal dua kata itu dalam hati sambil berjalan menuju ruang tamu. Perasaannya semakin tidak enak saat wajah Key kembali ada dikepalanya. Disana dia mendapati seorang laki-laki dengan kemeja cokelat dan kepala tertunduk sedang memainkan sesuatu ditangannya.

Jangan dia, jangan dia, jangan dia…, hatinya terus berdebar berharap memang bukan koki itu, sedetik kemudian namja tadi mengangkat kepalanya dan detik selanjutnya haejin merasakan jantungnya ngilu,huwaa,ternyata dia.

“Anyeong,..” sapa Key dengan senyum lebar sambil melambaikan benda berbentuk kotak ditangannya. Haejin membalas sapaan yang menurutnya dibuat-buat itu dengan mata ngeri, tak ada senyum diwajahnya.
Ige..” lanjut Key menyurungkan benda itu kedepan Haejin, wajahnya masih dibuat sama, penuh senyum walaupun sebenarnya dia ingin menjitak gadis didepannya ini karena tidak membalas sapaannya.  Setidaknya berpura-pura bisa kan? Agar dia tidak mentah sendiri didepan ibu Haejin. Dan sekarang dia ingn menggigit kepalanya karena haejin tak juga menerima benda itu. “Ya! Ambil bodoh, otot lenganku sudah tegang menjulur seperti ini terus!”. Teriak key dalam hatinya, sementara matanya melebar seakan mengancam akan membunuh haejin setelah ini jika ia tak segera mengambilnya.
Aigo, Haejin-ah. Kau tidak lihat dia memberikan hadiah itu untukmu? Ayo ambil” seru ibunya kemudian mengambil benda itu dari tangan key dan menjejalkanx dengan paksa ke tangan haejin.
” Eomma..” desis haejin, ibunya tersenyum manis dengan mata melotot.

“Nah, kalian akan berangkat sekarang?” tanya Soon Ae  menepukkan kedua tangannya sambil menatap Haejin dan Key bergantian. Key bangkit dari tempat duduknya,
“Ne, eomonim” ucapnya tegas dan membuat telinga haejin panas tiba-tiba.
Eomonim katanya? Grrr.. -__-

-_-_-_-_-_-


“Ya! Apa sangat sulit untuk mengucapkan kata ‘anyeong’ dan menarik bibirmu kesamping membalas sapaan ramahku? Dan apa itu tadi? Tanganmu sangat berat ya sampai-sampai sulit untuk mengangkatnya dan menerima hadiah dariku?” cerocos key saat mobil yang dikendarainya meninggalkan rumah Haejin. Sementara haejin yangg duduk disebalahnya tak bergeming, matanya menatap lurus kedepan tanpa ekspresi. Cssh, benar kan dugaannya kalau ekspresi ramah penuh senyum tadi dibuat-buat, liat saja sekarang sifat aslinya kembali muncul. Dasar palsu, dengus Haejin dalam hati.
“Apa aku berbicara dengan batu? Kenapa kau tidak menjawab, hah?” seru key mulai emosi.
“Benar. Dan aku hanya akan berbicara dengan batu. Bukan itik yang sangat cerewet” balas Haejin datar.

“Mwo? Maksudmu aku Itik? Ya!..” Key belum menyelesaikan kalimatnya  saat ia merasakan ponselnya berdering. Ia merogoh saku depan celananya.
“Yeoboseyo, eomma?”
“….”
“Ne, kami baru saja berangkat. Ne, aku sudah menulis semua tempat-tempatnya dan sekarang menuju ke tempat pertama. Dia? Baiklah” key menurunkan ponsel dari telinganya dan menyerahkan pada Haejin.
“Eomma ingin bicara” kata Key cepat saat melihat kening Haejin yang berkerut.
“Yeoboseyo ahjumma” ujar haejin pelan saat ponsel telah menempel ditelinganya.
“….”
“Ne? Oh, eung.. Eomo..nim” kata Haejin terbata mengikuti perintah orang diseberang untuk memanggilnya eomonim. Key yang mendengarnya hanya berdesis pelan dan terus mengemudi, tidak berminat untuk mencuri dengar apa yang ibunya bicarakan dengan Haejin.
Ige” ujar haejin singkat menyerahkan ponsel milik key, wajahnya masih tanpa ekspresi.
“Eomma bilang apa?” Key bertanya tanpa menoleh, tatapannya lurus ke jalan. Tidak ada jawaban, mulut haejin terkatup rapat. Saat ini dia sangat malas untuk berbicara atau bisa dibilang sangat kesal karena Key benar-benar tidak meminta ibunya membatalkan perjodohan ini. Dia bahkan tidak tahu akan kemana mereka  dan apa maksud dari jalan berdua kali ini dengan dress yang dipakainya sekarang. Shin haejin, mati saja kau!

KEY POV
Aku menghentikan mobilku didepan warung-warung pinggir jalan yang berderet memanjang di sisi jalan.  Aku akan mengenalkan berbagai macam masakan yang disajikan di warung-warung ini padanya sekaligus mengajarinya memasak makanan-makanan itu. Hey, apa belum kuberi tahu tentang gadis yang duduk disampingku ini? namanya Haejin,  dan kami dijodohkan. Aku tahu dia menolaknya setelah tadi siang mendatangiku ke cafe, memintaku untuk menolak perjodohan ini. Tapi aku mengacuhkan permintaannya karena aku merasa dia adalah sebuah takdir dalam hidupku yang harus ku pertahankan. Oke, kalian boleh tertawa dengan alasan anehku ini, tapi setidaknya aku punya alasan untuk itu. Dia takdirku, dan aku percaya itu.

-Flashback-
“Key-ah, kau membuat sup kaldu apa air bekas cucian kaus kaki? Ini sangat encer dan warnanya sangat buruk , tidak kental sedikitpun! Ulangi!” bentak seorang laki-laki tua tepat didepan wajah namja yang dipanggil key yang langsung menunduk dalam.

Apa kaldu buatannya begitu buruk sampai dia menghinanya seperti ini? dia sudah memasaknya sesuai resep dan sangat yakin tidak ada yang terlewati. Dan sekarang dia mengatakan sup kaldu ini seperti air bekas cucian kaus kaki? warna sup kaldu memang seperti ini kan? Pasti memang ada masalah dengan kornea kakeknya sehingga tak bisa membedakan warna kaldu dan air bekas cucian kaus kaki!. Cerca Key dalam hati. Telinganya terasa panas menerima hinaan itu, dan itu keluar dari mulut kakeknya sendiri. Csshh..

Sekarang dia menyuruh untuk membuatnya lagi. Ini sudah ia ulang untuk yang ke 4 kali. Jika yang ke 5 kalinya dia masih mengatai sup kaldunya buruk, ia memastikan akan mundur dari test ini.
Key menatap resep yang tertempel di dinding dapur lamat-lamat, mencoba kembali memahami tiap bahan dan langkah memasaknya. Ini yang terakhir, ia akan melakukannya dengan sangat hati-hati. Jika kembali gagal, maka akan ia terima nasibnya membuang mimpi menjadi koki terkenal.

“Baiklah, Key. Ayo mulai. “ Serunya menyemangati diri sendiri.

“Ehmm, bagaimana?” suara berat seseorang  cukup mengagetkan Key. Kakeknya terlihat sudah berdiri disampingnya.

“Ne, sebentar lagi selesai. kakek mau melihatnya?” tawar Key sambil mengulurkan tangan hendak membuka tutup panci tempat sup kaldu yng masih berada diatas kompor. Kakeknya menolak cepat membuat Key batal membuka panci.

Kenapa tidak? Apa dia sudah menyangka kalau kaldunya kali ini juga akan gagal?
“Diluar ada seorang pengunjung, sajikan sup kaldumu. Aku akan memintanya mencobanya dan mengomentarinya,  Berdoalah karena aku akan mempertimbangkan tentang hasil tes ini setelah mengetahui komentarnya” jelas jelas laki-laki tua itu panjang lebar dan membuat Key gugup kali ini. key mematuhi perintah kakeknya, setelah dirasa cukup ia mematikan kompor dan menuangkan sup kaldu ke dalam Ttukbaegi (mangkuk keramik khusus untuk menjaga kaldu selalu dalam keadaan hangat). Selanjtnya ia menaburkan sedikit bawang goreng diatas sup kaldu itu kemudian menutupnya.
“I..ige halabeoji,..” ucap Key pelan sambil menyurungkan nampan dengan mangkuk tadi diatasnya.
“Kau tunggu disini” kakeknya mengambil nampan itu dan berjalan keluar dapur

Key mengintip dibalik dinding pembatas dapur dan meja pengunjung. Disana ia melihat seorang gadis dengan seragam sekolah tampak mendongakkan kepala melihat kearah kakeknya yang sedang membicarakan sesuatu, setelah itu dia mengangguk riang kemudian membuka tutup mangkuk sup kaldu buatanku dan mulai mencicipi. Dia tampak lahap dan menikmatinya, apa ia berhasil?.
Halabeoji, ottaeyo?” tanya Key langsung sesaat setelah kakeknya masuk kembali ke dapur. Dia meletakkan nampan dengan mangkuk yang sepertinya sudah kosong dimeja dapur kemudian mengeluarkan sebuah kertas dari balik saku bajunya.
“Bacalah” ujar kakeknya pendek sambil menyerahkan kertas itu pada Key. Ia mematuhinya dan membuka lipatan kertas itu, ada beberapa baris kalimat terpampang disana.
Sebelumnya maaf kalau komentarnya tidak bermutu, hehe. Menurutku sup  kaldu ini enak sekali, aku sangat menyukai kaldu yang agak kental seperti ini. Hey, mangkunya juga bagus, anda membelinya dimana? :p “yak!kenapa dia juga mengomentari mangkuknya-_-“ seru Key dalam hati kemudian meneruskan membaca kalimat terakhir di kertas itu,
ini kaldu terenak nomer dua setelah kaldu buatan eomma. Terimakasih.^^“.

Key melipat kertas itu dengan senyum mengembang. Gadis itu menyukai sup kaldunya, apa ini artinya dia akan lulus test ini?

“Ehm, sebenarnya penilaian gadis itu tidak sepenuhnya sebagai penentu kau lulus test ini atau tidak.” suara kakeknya cukup membuat Key terkejut, apa dia bisa membaca isi kepalanya?

“Maksud kakek komentar dikertas ini tidak berarti apa-apa?” tanya Key penasaran, senyumnya memudar perlahan.

“Bukan begitu juga” ujarnya lagi.

Sekarang apa lagi maksudnya? Cshh, Key mengernyit frustasi.

“Lalu, apa keputusan kakek?”

“Ehm…” kakeknya berdeham lagi dengan tangan kanan mengepal didepan mulutnya, kali ini dehamannya seperti gempa yang siap mengantar tsunami ke telinga Key.

“Setelah mengamati sup kaldu terakhirmu dan komentar gadis itu…” kalimatnya menggantung. “Kau dinyatakan lulus tes dasar.” Ujarnya kemudian dengan senyum mengembang dibibirnya.

-_-_-_-_-_-

“Kenapa berhenti?” kulihat dia membelokkan tubuhnya dan melihat keluar jendela. Warung-warung itu tampak ramai oleh pembeli, lampu besar yang tergantung memancar hingga dua meter ke jalan menambah semarak malam dikota Seoul yang memang terkenal tak pernah mati oleh aktivitas-aktivitas manusia-manusianya.

“Memang harus berhenti disini.” Jawabku pelan. Dia membalikkan tubuhnya lagi, kini menatapku horor dengan dahi terlipat.

“Maksudmu makan di pojangmajha (warung pinggir jalan) ini?” nada bertanyanya sedikit meninggi.
“benar”
“YA! Lalu untuk apa aku berpakaian seperti ini, bodoh?!” kulihat Haejin mencak-mencak sendiri disampingku. Memangnya kenapa kalau memakai dress seperti itu?
“Memangnya kenapa? Kau takut pengunjung disana akan memperhatikanmu dan terpesona  karena dress ini? Cih” aku membalas sengit, hatiku tertawa jemawa melihat ekspresinya. Matanya melotot lebar sekali, aku yang memilih dress itu sendiri dan mengirimkan kerumahnya. Apa salah memakai dress seperti itu diwarung pinggir jalan?

” Ayo turun” kataku sambil membuka seatbelt. Aku tak memperdulikan kemarahannya, tak beralasan sama sekali. Dia bergeming tak menyentuh seatbelt yang menahan tubuhnya.
“Ah, iya. Aku lupa, ibumu memberitahu kalau dia dan ayahmu akan berkunjung ke rumah teman mereka dimokpo. Dan mungkin akan pulang besok..” kataku memancing. Ekspresi wajahnya tak berubah,
“dia juga bilang, dirumahmu tidak ada makanan..” kulirik dia, alisx sedikt terangkat. Aku tersenyum menang.
“Jadi, kau mau turun atau tidak?”

Aku memasuki salah satu warung yang berjejer itu, Haejin berjalan selangkah dibelakangku dengan wajah merengut parah. Kuedarkan pandangan kesekeliling, cukup ramai dan ehm, sepertinya aku memang salah memilih baju karena yang kulihat para pengunjung disana berjaket tebal karena memang sekarang adalah musim gugur yang berangin, apalagi dimalam hari. Sekarang aku tahu kenapa gadis itu terlihat murka tadi, pasti ia akan kedinginan sebentar lagi.

Oso Oseyo… apa yang ingin kalian pesan?” kata seorang ahjumma yang sudah berdir didekat kami sesaat setelah aku menemukan sebuah meja kosong dan duduk disana.

Ne, ada apa saja disini ahjumma?” tanyaku mendongakkan kepala.

Ttukbaegi, Doenjangjjigae, Jeongol, Samgyetang….” Ahjumma itu menyebutkan nama-nama makan yang tersedia.

“Ehm, aku pesan semuanya ahjumma” jawabku cepat, haejin terlihat membesarkan mata melihat ke arahku dan aku memasang wajah tak perduli.

“Benarkah? Ah, baiklah silahkan tunggu” ujar ahjumma itu lagi kemudian berlalu,

“kau mau membungkus makan-makanan itu pulang? Kenapa memesan semuanya?!” tanyanya sengit. Lihat, dia mengeluarkan suaranya kembali dan melupakan dress tadi. aku menjawab pertanyaaannya dengan tersenyum penuh misteri.

15 menit kemudian, meja didepanku sudah penuh dengan makanan-makanan yang disajikan oleh ahjumma tadi. Haejin melotot mual melihat makanan sebanyak itu dihadapannya.

“Ehm, haejin-ah. Apa kau tahu kenapa kita bisa berada disini?” tanyaku lembut dengan kedua tangan bersedekap didepan dada.

“Tidak tahu dan aku ingin pulang sekarang!” jawabnya ketus sambil membuang muka. Aku terkekeh pelan sambil menunduk dan kembali mengangkat kepalaku menatapnya.

Eomonim ingin kau belajar memasak, sebelumnya kau harus mengenal macam-macam hidangan makanan. Karena sebentar lagi kau akan menjadi seorang ist..”

“Berhenti mengucapkan kalimat mengerikan itu!, memangnya siapa yang mau menikah, ha?” dia memotong kalimatku cepat dan kembali memasang tatapan singanya. Aku terkikik melihat wajah brutalnya.

Arasseoh, arasseoh, lupakan itu, anggap saja kau hanya belajar macam-macam makanan ini, siapa tahu masuk kedalam soal ujian akhirmu” kataku asal. Dia bersendekap,

Shireo!”

“Ya! Aku sudah terlanjur membeli semua makanan ini, dan semuanya kubayar pakai uang!” balasku. Lama-lama gadis ini bisa membuat saraf gigiku bermasalah karena harus selalu menggertakkan mulut ketika berbicara dengannya.

“Siapa yang menyuruhmu memesan semua ini? kalau kau tidak punya uang bayar saja dengan daun maple yang berceceran diluar sana!” balasnya tak kalah sengit. Ya Tuhan, sepertinya aku harus menarik kata-kataku bahwa dia adalah takdirku. Dia bukan manusia.

“Ya!”

Crassshh! Sebuah suara botol yang pecah karena membentur sesuatu membuat mataku mengerjap. Suara itu sangat nyaring ditelingaku. Sedetik kemudian mataku membesar dua kali lipat melihat pemandangan didepan wajahku. Cairan berwarna merah terlihat mengalir disela rambut haejin hingga kedahinya, kulihat tangannya memegangi kepalanya sambil meringis, matanya perlahan-lahan menutup dan Brukk! Tubuhnya tersungkur kesamping.

“Hae… Haejin-ah!” pekikku langsung menghampiri tubuhnya. Semua mata tertuju ke satu pusat. Seorang laki-laki jangkung berdiri tegang melihat kearah Haejin dengan botol yang tersisa setengah bagian ditangannya. Kakinya gemetar.

“AHJUSSI, APA YANG ANDA LAKUKAN?!”

-_-_-_-_-

Yeoboseo?……… Benar, saya Kim Kibum….. Kantor polisi? Baiklah, saya akn memberitahu oramg tua korban.…… Ne, kamsahamnida”. Key menurunkan ponsel dari telinganya dengan lemas. Saat ini dia sedang berada disalah satu kamar dirumah sakit Kwaghee dimana Haejin sedang terbaring didalam. Dia baru saja dipindahkan dari ruang UGD ke kamar rawat biasa. Menurut dokter yang menanganinya, luka dikepala Haejin cukup parah karena benturan keras dari botol kaca itu. Di kulit kepalanya juga ditemukan serpihan-serpihan halus kaca botol yang menancap, tapi semua sudah ditangani dengan baik oleh tim dokter.

Key melongok kedalam melalui kaca jendela kamar rawat, disana ia melihat ibu Haejin tengah menggenggam tangan anaknya dan mengelus kepalanya dengan lembut. Sementara ayahnya berdiri dibelakang  dengan kedua telapak tangan dibahu ibu Haejin. Key kemudian melangkah masuk kedalam dan menghampiri mereka berdua.

“Baru saja polisi menelpon dan memberi tahu kalau pelaku yang memukul kepala Haejin sedang berada di Kantor polisi sekarang dan meminta keluarga korban untuk kesana memberikan keputusan apakah memaafkannya atau tidak” kelas Key perlahan.

Ibu Haejin mengangkat wajah kemudian memutar kepalanya.

“Aku disini daja menjaga Haejin” ucapnya pelan yang ditujukan pada suaminya. Wajahnya terlihat sendu namun sudah tak menunjukkan kepanikan seperti saat pertama kali diberitahu Key tentang Haejin.

Yeobo, kau saja yang ke kantor polisi” Lanjutnya.

Ayah Haejin membuang nafas berat kemudian menurunkan kedua tapak tangannya dari bahu istrinya.

“Baiklah, aku akan kembali lagi kesini nanti” ujarnya yang disambut anggukan lemah dari istinya.

-_-_-_-_-

Key berjalan selangkah dibelakang Ayah Haejin. Saat ini mereka sudah berada didalam kantor polisi.

“Key-ah, dimana orangnya?” tanya Ayah Haejin dengan suara berat. Key mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan yang terlihat sibuk. Gerak matanya terhenti saat melihat seseorang sedang duduk menunduk dihadapan polisi. Key mengenali baju yang dipakai laki-laki itu.

Kegeo…..sepertinya dia orangnya”ucap Key memusatkan pandangan matanya yang diikuti oleh gerakan mata Ayah haejin. Ayah Haejin kemudian berjalan tergesa menuju laki-laki yang ditunjuk Key dengan tangan mengepal.

“Apa kau gila, hah?” seru Ayah Haejin menarik kerah baju laki-laki itu dengan kasar yang membuat tubuhnya otomatis berputar menghadap Ayah Haejin.

“Abeoji… mohon te..tenaglah…” ucap Key gusar. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini. Ayah Haejin terlihat sangat marah, berbeda sekali dengan saat ia di rumah sakit tadi. Mungkinkah dia menahan rasa marahnya di depan istrinya?

“Kau pikir kepalanya batu, hah?” terial Ayah Haejin lagi dengan tangan mencengkeram kuat kerah laki-laki itu hingga membuat lehernya tercekik. Laki-laki itu tidak menjawab apa-apa kepalanya menunduk dalam dan membiarkan Ayah Haejin berlaku sesuka hati padanya. Sebelah tangan Ayah Haejim mengepal ke udara siap meninju laki-laki didepannya itu namun Key segera menahannya.

“Abeoki, tolong tenanglah…”

“Ahjussi, tolong jangan pukul dia!” ucap dua suara secara bersamaan. Key sedikit terkejut mendengar suara yang lebih terdengar seperti pekikan didekatnya. Ia menegakkan kepalanya dan kedua bola matanya sukses membulat penuh.

Sedetik, dua detik, matanya menatap intens ke wajah wanita yang berdiri didepan laki-laki itu. Kedua tangannya terentang mencoba melindunginya dari Ayah Haejin. Matanya tertutup sangat rapat menunjukkan rasa ngerinya akan tonjokan yang akan berganti melayang ke wajahnya.

“Nu…na?” wanita itu membuka mata perlahan kemudian mengerjap kaget.

“Key-ah…”

TBC…………….