What Is Love

Tittle                : What Is Love

Author             : Nh.dini F.I

Length             : oneshoot (6.886 words)

Genre              : romance, friendship, AU

Rating              : Teenager

Cast                 :

–          Oh Sehun a.k.a Sehun EXO

–          Kim Younghwa (OC)

–          Other minor cast

 

 

~ I can tell, this is love I will make you smile often like a child
I will make you feel the most comfortable, like a friend~

EXO-What Is Love

 

            Ini adalah sebuah cerita di mana aku, kau dan cinta dipertemukan oleh Tuhan dalam suatu peristiwa yang kusebut takdir. Kalian percaya takdir? Tentu, takdir bukanlah suatu hal yang tabu bukan sesuatu yang harus ditunggu karena takdir adalah sesuatu yang harus kita temukan. Ketika kau harus memilih, kau harus bertindak, maka itulah saat di mana kau menjemput takdirmu. Dan satu hal yang kau harus tahu, aku memilihmu sebagai takdirku.

***

            Oh Sehun, terserah bagaimana cara kalian memanggilku, tapi itulah namaku. Nama, bukan aku yang memintanya, tapi dengan baik hati orang tuaku memberikan nama itu untukku. Mau tidak mau, kalian harus memanggilku Sehun.

Lebih jauh, aku adalah seorang siswa dari sebuah SMA prestisius di Seoul. Kalian akan tahu, seiring dengan lajunya cerita ini. Dan di sinilah cerita ini berawal, di sekolahku.

derap langkah, pekikan kecil, panggilan, tawa, atau apapun itu yang bisa menimbulkan suara membaur di setiap pagi. Tentu hal yang lumrah karena sekolahku bukanlah tempat berkumpulnya para tuna rungu yang tidak bisa bicara. Sekolahku berisi remaja-remaja yang beberapa tahun lagi mungkin akan menjadi dewasa yang tertarik dalam berbagai hal, membicarakannya satu sama lain tanpa lelah, dan tanpa ingat waktu. Bisa kutebak, waktu belajar mereka mungkin lebih sedikit dari waktu berbicara mereka. Aku hanya melangkah dalam diam.

“Sehun-ah!” Kai datang dan langsung merangkul pundakku. Beginilah ucapan ‘selamat pagi’ yang selalu ia berikan padaku.

“Kai, hentikan kebiasaanmu itu!” aku melepaskan rangkulan Kai, yang membuatku tidak nyaman.

“wae? Bukankah kau menyukainya?” kai kembali merangkul pundakku, menghimpit leherku dengan lengannya dan menyeretku menuju ruang kelas. Sungguh, ini menyiksaku. Dan dia hanya tertawa

“aishhh, kau mau membunuhku?” kai mengeryitkan dahinya, pura-pura bodoh huh? Atau dia memang bodoh?

“kau baru akan samapi di kelas 1 abad lagi, kalau aku tidak memperlakukanmu seperti ini! Palliwa!!” Kai masih tetap pada pendiriannya, menyeretku dengan posisi yang tidak berubah.

“setidaknya perlakukan aku dengan cara yang lebih baik dari ini!” protesku.

“beri aku contoh! Menarikmu dengan pose bergandengan tangan, begitu? Oh Sehun, aku bukan lelaki penyuka adegan yaoi” Kai mulai mengoceh, satu tangannya masih menghimpit leherku dan tangan yang satunya meliuk-liuk entah kemana, memperjelas apa yang ia katakan.

“kita sampai!!” setibanya di depan kelas, Kai melepaskan himpitannya. Aku bernafas lega sekarang.

“Kai-ssi, terimakasih atas perlakuan baikmu padaku hari ini” aku memberi penekana pada kata ‘perlakuan baik’ lebih tinggi dari kata yang lain. Tapi, bohong jika aku tidak terbantu dengan ‘perlakuan baik’nya pagi ini, buktinya setiap hari aku bisa lebih cepat tiba di kelas jika bertemu dengan Kai, entah bagaimanapun caranya ‘perlakuan baik’ yang ia lalukan cukup mempercepat laju langkahku.

Ku langkahkan kakiku menuju bangku kebesaranku selama ini, ku letakkan tas yang memberatkan punggungku dan duduk di atasnya, mencoba rileks sebentar. Keadaan kelas yang mungkin bisa membuatmu stress seketika, malah membuatku terhibur. Bauran suara yang diproduksi teman-temanku menghasilkan warna suara yang khas, yang membuatku betah berdiam diri hanya untuk mendengarkan suara aneh yang mereka timbulkan.

SRETT..

Suara decitan timbul ketika seseorang membalikkan bangku di depan mejaku mungkin agar bisa leluasa duduk di sebelahku. ketika aku menoleh, kudapati Luhan sudah duduk manis di sana. Aku tebak, dia pasti akan mengajakku bicara.

“kau percaya pada pepatah ‘diam itu emas’?” tanya Luhan serius.

“hanya orang bodoh yang mempercayainya.” Aku tak acuh, aku tidak senang ketika seseorang menanyaiku dengan hal-hal yang tidak penting.

“lalu kenapa kau masih bertahan dengan penyakit diam mu itu? Apa kau pikir kau akan dapat emas dengan diam?” Luhan menatapku intens, dengan sedikit aksen mengejek aku melayangkan senyum tipis ke arahnya.

“hanya orang bodoh yang menyimpulkan sesuatu mustahil seperti itu” aku mempertegas semua kata-kata dalam kalimat yang aku ucapkan. Sedikit berniat untuk mengejeknya, lalu tertawa.

“yak! Lalu maksudmu, aku bodoh, begitu?!” Luhan melotot kearahku. Dia tersinggung dengan apa yang aku katakan rupanya.

“aku tidak mengatakan kau bodoh, kau yang menyebut dirimu bodoh tadi. Haha” aku sedikit tertawa, ah tidak sekarang aku sudah tertawa terbahak-bahak meliahat ‘reaksi’ atau lebih tapatnya luapan emosi Luhan. Matanya menyipit, dahinya sedikit berkerut dan tangannya mengepal, satu hal lagi yang ia butuhkan, tanduk merah menyala di kepalanya, maka ia akan terlihat sama seperti setan. Wahahaha

“Kai-ah, temanmu masih bisa tertawa rupanya. Aku kira ia tidak bisa tertawa.” Jung menatapku aneh, Kai yang di ajak bicara pun ikut menatapku setelah melepaskan headset yang tadi bersarang di kedua telinganya. Mereka berdua sama-sama heran melihatku, lalu menggeleng-gelengkan kepala mereka secara bersamaan.

“Yak! Jung Hyera!! kau pikir aku bukan manusia ?!” Jung yang merasa terancam oleh teriakanku melenggos pergi, satu tangannya terangkat ke atas, dua jarinya membentuk huruf ‘V’. hampir saja buku yang ada di mejaku ini melayang kalau Jung tak segera pergi. Sementara Kai mengintrogasi Luhan.

“kau membuat Sehun, sang manusia es, tertawa? Bagaimana caranya?” antusiasme Kai memang sangat berlebihan.

otakku mendadak penuh dengan berbagai pertanyaan. Setelah Jung berkata ‘Kai-ah, temanmu masih bisa tertawa rupanya. Aku kira ia tidak bisa tertawa’ apa aku terlalu dingin selama ini, sehingga saat aku tertawa tadi Jung dan Kai sangat heran melihatku? Bukankah Jung bukan teman satu kelasku, seharusnya ia biasa saja saat melihatku tertawa kecuali kalau ia memang tahu kalau aku jarang bahkan sangat jarang tertawa. Tapi Kai? Dia teman satu kelasku, wajar kalau ia tahu aku jarang tertawa dan kaget melihatku tertawa.

Satu lagi yang menjadi pertanyaanku, bagaimana Jung bisa ada di kelasku? Apa dia mempunyai pacar di sini, lalu pagi ini dia menghampiri kekasihnya? Bisa jadi. aku juga tidak melihat Younghwa, harusnya Younghwa ada di setiap Jung pergi.

“Kai, apa Jung mempunyai namjachingu di kelas ini?” kai menolehke arahku dan mengerutkan dahinya. Dan tanpa kami –aku dan Kai- sadari, Tao menguping pembicaraan kami.

“maksudmu?” tanya Kai. Kai adalah teman dekat Jung di kelasku, mereka ada di sekolah yang sama saat SMP.

“kenapa ia bisa di kelas kita? Mungkinkah ia mempunyai namjachingu di sini?” Kai mengangkat sedikit bahunya, mengisyaratkan kalau ia tidak tahu menahu tentang hal ini.

“kenapa? Kau menyukai Jung Hyera? kau bertingkah seperti detektif sekarang!” aku menbelalakan mataku. Ingin rasanya tertawa terbahak-bahak lagi, namun aku tidak mau Kai menjadi aneh lagi saat melihatku tertawa.

“Tao, kau mau kemana? Sebentar lagi pelajaran di mulai!” Tao berjalan melewatiku. Aneh, sikapnya berbeda saat aku bertanya padanya.

“aku em..hanya membuang sampah” sampah? Aku tidak melihat ia membawa segenggam sampah apapun di tangannya. Ia benar-benar aneh, bahkan saat ia menjawab pertanyaanku ia tidak menoleh ke arahku sedikitpun, nada bicaranya juga sedikit gugup.

“Sehun-ah, kau menyukai Jung, benar kan?” mimik wajah Kai berubah serius. Jangan-jangan Kai menyukai Jung, sehingga ia cemburu saat aku menanyainya mengapa Jung ada di kelas ini.

“kau bercanda? Aku tidak menyukai Jung. Atau jangan-jangan kau yang menyukai Jung? Kenapa ekspresimu sangat serius begitu?” aku meledek Kai. Kai kontan mengubah ekspresi wajahnya.

“tidak! Bukan itu, aku hanya takut kalau kau menyukai Jung dan Jung tidak menyukaimu, lalu kau patah hati dan bunuh diri. Yang aku tahu, kau bukan tipe laki-laki yang ia suka.” Kai menerawang, mungkin sekarang ia sedang membayangkan aku sedang berdiri di atas atap sekolah dan bersiap-siap untuk bunuh diri. Kai ini, tipe orang yang akan memikirkan sesuatu dengan sedetail-detailnya. Tak heran dia menjadi tipe orang yang perfeksionis.

“yak! Sudah ku bilang aku tidak menyukai Jung! Hentikan khayalanmu itu, aku tidak akan mati karena seorang gadis.” tepat setelah aku selesai bicara, Tao kembali, ia kembali dengan wajah yang cerah. Ia sedikit tersenyum. Aneh.

Tepat setelah Tao kembali, bel berbunyi. Sebentar lagi seonsaengnim akan masuk. Aku merapikan posisi dudukku, sementara Kai sudah duduk manis di bangkunya, cepat sekali.

Alasan mengapa Jung bisa ada di kelasku tadi masih berputar-putar di otakku. Sebenarnya bukan hal yang penting untuk aku pikirkan, namun hal ini menjadi penting karena Jung adalah sahabat dari Younghwa. Yang menjadi dasar mengapa aku memikirkan Jung adalah, kenapa Younghwa tidak ada di kelasku saat Jung datang. Padahal aku sangat ingin melihat Younghwa. Entah mengapa gadis itu selalu datang di pikiranku, bahkan ia seolah menjadi candu di hidupku, aku selalu ingin melihat wajahnya.

***

AUTHOR POV

“kau darimana?” setelah melihat Jung masuk, Younghwa kontan menanyai Jung. Younghwa sempat kebingungan mencari Jung, mereka berangkat bersama maka sewajarnya mereka sampai di kelas bersamaan. Namun, saat Younghwa berpapasan dengan Sulli dan mengobrol sebentar, ia sudah tidak menemukan Jung di sekitarnya. Awalnya ia pikir Jung sudah ada di kelas terlebih dahulu, namun tadi Jung belum ada di kelas.

“oh, mianhae Young-ah. Aku tidak memberitahumu kalau aku pergi ke kelas lain untuk meminjam beberapa partitur lagu. Hehe” Jung melambai-lambaikan beberapa partitur lagu ditangannya, bermaksud menunjukkannya pada Younghwa. Lalu ia duduk di samping Younghwa.

“untuk apa partitur itu? Kita tidak di beri tugas untuk mengaransemen lagu bukan?” Younghwa heran. Seingatnya tidak ada guru yang memberi tugas yang berkaitan dengan partitur lagu. Ia juga heran, Jung yang tidak biasanya meminjam benda-benda yang seperti ini sebelumnya.

“ini? Oh, hanya ingin meng-improve kemampuan memainkan bass gitar ku.” Jawab Jung santai. Younghwa membelalakkan matanya, kaget mendengar jawaban Jung.

“Jung-ah, kau bisa bermain bass gitar?” 2 tahun Younghwa dan Jung tinggal di apartemen yang sama, namun ia tak pernah tahu kalau Jung bisa bermain bass gitar. Jangankan tahu, melihat Jung bermain alat musik selain keyboard di apartemennya saja ia tidak pernah.

“tentu, kau tidak percaya? Dulu aku bassist saat SMP.” Jung tertawa kecil ke arah Younghwa. Jung sibuk memperhatikan partitur yang ada di tangannya, sesekali ia menerawang dan memainkan jarinya seolah sedang bermain bass gitar.

Younghwa hanya diam melihat tingkah temannya ini, ada perasaan tidak percaya kalau Jung bisa bermain bass gitar. Ia juga heran, mengapa Jung mendadak ingin meng-improve kemampuan bass-nya. Jung bukanlah tipe orang seperti ini, atau mungkin inilah Jung Hyera yang sebenarnya.

 

***

 

“Hyera!” seseorang memanggil Jung. Jung dan Younghwa sontak menoleh ke arah datangnya suara.

“Kim Jong In! Jangan panggil aku Hyera!” Jung menggembungkan pipinya, lalu menipitkan matanya.

“panggil aku Kai! Jung Hyera!” kai menyilangkan kedua tangannya di dadanya. Lalu Jung dan Kai saling berpandangan. Younghwa tertawa melihat dua teman lama yang sedang ribut ini.

“kau dulu yang memanggilku Hyera! aku tidak suka!” Jung memalingkan mukanya. Ia tidak suka seseorang memanggilnya Hyera, ia ingin dipanggil Jung. Ia hanya merasa bosan di panggil ‘Hyera’. Jung akan marah jika seseorang memanggilnya Hyera, kecuali ada marga ’Jung’ di depannya, ia tidak akan marah.

“aish, dulu kau juga dipanggil Hyera.” kai berkilah.

“aku bosan dipanggil Hyera. Kai-ah, katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku” Jung mulai melunak pada Kai.

“kau tadi ke kelasku bukan? Ada urusan apa kau kesana?” Younghwa melongo. Kai menemui Jung hanya untuk menanyakan hal sepele seperti ini? Kurang kerjaan batinnya.

“mwo? Kau bertemu Jung hanya untuk bertanya seperti ini? Kenapa harus ada perang mulut dulu?” Younghwa menatap dua manusia di depannya ini dengan tatapan aneh.

“aku ke kelasmu untuk meminjam partitur dari beberapa lagu. Kenapa?” Jung bertanya balik, Kai membulatkan bibirnya, membentuk huruf ‘o’.

“tidak apa-apa, hanya penasaran mengapa kau bisa sampai di kelasku tadi pagi dan melapor padaku bahwa Sehun bisa tertawa terbahak-bahak.” Younghwa yang mendengar nama Sehun disebut langsung menegang. Sehun adalah orang yang Younghwa sukai.

“oh, ya sudah. Kalau begitu aku dan Younghwa pulang dulu Kai. Annyeong!” Jung menarik younghwa untuk pergi. Younghwa membungkukkan badannya ke arah Kai. Kai juga melakukan hal yang sama.

“kau tadi ke kelas Kai?” Younghwa membuka suara setelah mereka naik ke taksi. Jung sontak melepas satu earphone yang melekat di telinga kirinya.

“ne.” Jung menjawab pertanyaan Younghwa singkat.

“kau mendengar Sehun tertawa?” tanya Younghwa lagi, Jung sedikit tersentak. Tidak biasanya Younghwa bertanya hal-hal sepele seperti ini.

“iya! Tenyata ia tidak sedingin yang aku kira. Tadi ia tertawa terbahak-bahak saat bicara dengan Luhan. Kai bahkan sangat terkejut mendengar Sehun tertawa.” Jung menerawang, mengingat kembali kejadian tadi pagi. Ia tertawa saat membuat Sehun hampir saja melemparkan buku ke arahnya.

“kau beruntung sekali.” Gumam Younghwa, tapi masih dapat terdengar jelas oleh telinga Jung. Jung menatap sahabatnya ini penuh arti, seolah ia tahu apa yang ada di pikiran sahabatnya itu.

 

***

 

Sehun POV

Aku tertawa kecil saat berjalan menuju tempat parkir. Yang ada dipikiranku adalah, bagaimana Kai bisa menanyakan hal yang sangat sepele pada Jung? Aku merasa sedikit bersalah pada Kai, ia jadi terbebani dengan pertanyaan-pertanyaanku tadi pagi. Andai ia tahu kalau sebenarnya yang ada dipikiranku adalah Younghwa bukan Jung, pasti ia sudah mem-bully ku habis-habisan. Ia pasti akan berkata ‘untuk apa aku bertanya pada Jung kalau yang ingin kau tahu adalah di mana Younghwa berada tadi pagi?’.

Aku tidak sadar, bahwa sekarang aku sudah berada di dekat motorku. Saat aku akan menaiki motor ini, tiba-tiba..

“Tuan muda Oh Sehun, maaf ini motorku.” Tiba-tiba Tao sudah ada di hadapanku. Aku kaget dengan apa yang ia katakan, motornya? Aku sontak memeriksa motor yang ada di hadapanku. Warna, dan mereknya memang cocok dengan motor milikku, tapi aku sadar ketika melihat plat nomor motor ini, ini bukan motorku. Tao mengangkat satu alisnya dan tersenyum.

“ah, mianhae Tao! Motormu sama denganku.” Aku menggaruk kulit kepalaku yang sebenarnya sama sekali tidak terasa gatal. Lalu turun dari motor Tao.

“gwenchanna, motor sport milikmu ada di sebelah sana.” Tao menujuk ke salah satu motor hitam yang sama persis dengan apa yang ia naiki sekarang, dan itulah motorku.

***

Aroma sedap menyeruak ketika aku sampai di rumah. Seperti biasa, eomma pasti sudah menyiapakan makan siang untukku, tapi sepertinya hari ini eomma memasak sesuatu yang spesial.

“uri Sehun sudah pulang.” Suara appa. Appa sudah pulang? Pantas lah kalau eomma memasak sesuatu yang berbeda dari menu biasanya.

“ganti bajumu lalu makan!” eomma berteriak dari dapur. Aku menurut.

Dengan tergesa-gesa aku mengganti bajuku. perutku sudah sangat lapar, terlebih menu makanan hari ini yang menggugah selera membuatku ingin segera makan siang.

Sebuah kotak tergeletak di meja belajar ku, aku mengeryitkan dahiku. Dengan cepat ku ambil kotak itu dan membukanya. iPod? Aku segera keluar dari kamar dan menemui ayahku.

“kenapa appa membelikanku iPod? Aku bisa membelinya di Korea.” Ayahku menutup majalah yang sedang dibacanya, lalu menatapku.

“Kau tidak suka?” tanyanya.

“aku suka, hanya saja aku ingin sesuatu yang khas dari Inggris. Appa bisa membelikanku iPod di Korea tanpa harus membelinya di Inggris.” Protesku. Aku juga sebenarnya tidak terlalu butuh iPod ini karena iPod lamaku juga masih baik-baik saja. Tapi bohong jika aku tidak menyukainya, iPod ini versi terbaru. Hanya saja, ayah terlalu berlebihan jika membeli iPod ini di Inggris.

“coba kau lihat iPod itu baik-baik, kau akan tahu mengapa appa membelikanmu iPod itu.” Appa kembali fokus membaca.

Sekilas memang tidak ada perbedaan antara iPod ini dengan yang biasa, namun setelah aku lihat bagian belakang dan bagian sampingnya, ternyata iPod ini bisa disatukan dengan satu iPod lagi. Dan setelah aku teliti, ternyata ada 2 iPod dalam satu kotak. Aku berfikir, apa satu iPod ini untukku dan satunya untuk appa? Itu sungguh tidak lucu.

“lalu, satu lagi iPod ini untuk siapa?” aku meletakkan kotak berisi iPod itu ke kursi di sampingku agar iPod itu tidak terkena makanan. Aku mulai makan setelah sempat tertunda gara-gara memikirkan iPod itu.

“apa kau tidak punya kekasih?” eomma bertanya dengan nada seolah aku ini anak yang bodoh.

“maksud eomma?” jujur, aku tidak mengerti dengan apa yang eomma katakan tadi.

“kau ini, tentu saja appa membelikan iPod itu untukmu dan kekasihmu.” Jawab eomma sedikit jengkel.

Uhukk! Aku tersedak. Kekasih? Aku bahkan tidak pernah bilang pada mereka bahwa aku sedang berpacaran dengan seseorang, mengapa tiba-tiba mereka bersikap seperti ini?

Eomma memberiku segelas air putih. Aku meneguknya hingga habis.

“aku tidak punya yeojachingu.” Kataku dengan suara berat.

“sungguh? Appa rasa kau tampan, mengapa kau belum punya yeojachingu?” appa menghentikan makannya sejenak, eomma menatapku.

“molla” jawabku lemas. Dalam hati, aku memikirkan perkataan appa. Ku rasa wajahku tidak terlalu buruk, bahkan mungkin bisa dibilang tampan. Apa aku terlalu bersikap dingin selama ini? Atau karena aku yang selalu hanya bisa melihat Younghwa? Molla, aku bahkan tidak yakin apa definisi cinta yang sebenarnya.

 

***

 

Next day : afternoon

 

Seoul bernuansa orange, bukan karena banyak jeruk di seoul tapi karena hari sudah sore sehingga matahari memancarkan cahaya berwarna orange itu ke langit. Kupikir sekolah sudah sepi karena hari sudah sore, ternyata masih belum dua langkah aku keluar dari ruang musik aku sudah melihat orang lain. Sepertinya aku mengenali gadis ini. Ternyata Jung Hyera.

Penasaran dengan apa yang dilakukannya, aku mendekat. Jung masih terpaku melihat sesuatu, sesekali matanya berkedip, dan senyum tersungging di bibirnya. Sekarang aku sudah ada di sampingnya, aku ikut melihat ke arah kemana mata Jung terarah.

“Kau sedang mengamati Tao?” aku membuka suara, Jung tersentak. Aku tahu ia gugup karena aku mengetahui apa yang ia lihat.

“aku menyukai martial art.” Jawabnya, Jung sangat pintar mengatasi kegugupan.

“kau yakin? Aku rasa kau menyukai orang yang sedang berlatih martial art itu.” Aku menunjuk Tao.

“kau ini, sok tahu” Jung mengalihkan pandangannya.

“terserah lah, tapi aku berani bertaruh, kau pasti sering mengunjungi tempat ini, kan?” Jung menatapku, matanya menyipit. Mungkin ia sedikit kaget dengan apa yang aku katakan barusan.

“bagaimana kau bisa tau?” ia menghadapkan badannya ke arahku.

Aku mengangkat bahuku. “insting” jawabku.

“kau tidak pulang? Apa orang tuamu tidak mencarimu?” tanyaku penasaran, Jung tertawa kecil lalu menerawang.

“aku tinggal terpisah dengan orang tuaku. Aku tinggal bersama Young di apartemen.”

“Young?” aku meminta penjelasan, mungkinkah Kim Younghwa?

“Young, Kim Younghwa” jawabnya mantap. Aku tersentak, mungkin Jung tahu banyak tentang Younghwa.

“kau dan Younghwa bersaudara? Kenapa kalian bisa tinggal bersama?”aku sangat penasaran dengan kehidupan Younghwa. Ku harap Jung bisa menceritakan kehidupannya dan Younghwa.

“ani. Appa-ku dan appa Young adalah rekan bisnis, mereka bersahabat sejak kecil. Waktu itu appa kami berencana untuk membuat proyek baru di beberapa negara, kami diajak untuk ikut bersama mereka tapi kami menolak.” Jelasnya. Aku tidak menyangka bahwa Jung Hyera dan Kim Younghwa hidup jauh dari orang tuanya. Yang membuatku salut adalah, mereka perempuan.

“kalian tidak takut tinggal sendiri?” aku semakin penasaran.

“kami tinggal di apartemen, ada banyak security di sana. Ngomong-ngomong, kemana Sehun sang manusia es?” aku tahu, Jung sengaja menyindirku, ia bahkan mengedarkan pandangannya ke segala penjuru, seolah mencari seseorang.

“kau meledekku? Aku tidak sedingin itu.” Ku arahkan pandanganku ke arah lapangan. Tao sudah tidak ada?

“hahhh.. seseorang di sana selalu menganggapmu sebagai orang yang dingin. Tapi kau tak perlu tahu siapa orangnya.” Jung menghela nafas.

“Tao sudah tidak ada, pulanglah!” aku mengusirnya. Sejak aku tahu kalau Jung Hyera tinggal bersama Younghwa, aku jadi khawatir apakah Younghwa tidak kesepian di apartemen saat Jung pergi. Makanya aku menyuruhnya untuk segera pulang, lagipula objek yang tadi ia amati juga sudah tidak ada.

“sepertinya kau juga harus pulang Sehun-ah. Annyeong!” Jung memakai tasnya lalu pergi. Ia juga melambaikan tangannya ke arahku sambil berjalan mundur, aku hanya tersenyum membalas lambaian tangannya.

***

 

AUTHOR POV

 

Jung melangkah perlahan di tangga. Ia sedikit kesal karena Sehun menangkap basah dirinya saat memandangi Tao. Sehun bahkan mengajaknya bicara banyak setelah ia memberi tahu sehun bahwa Jung tinggal bersama Younghwa. Jung tau benar bahwa yang ada di pikiran Sehun tadi adalah Young, tapi sehun menggunakan modus bertanya tentang kehidupannya agar bisa tahu juga tentang Younghwa.

Saat Jung menapaki anak tangga terakhir, ekor matanya menangkap bayangan Tao yang sedang berjalan ke arah yang sama dengan dirinya. Tao ada di sisi samping kanan tangga. Mungkin Tao sedang menuju ke tempat parkir. Dan saat mereka bertemu, Jung mendadak gugup, di benaknya terbesit kata-kata Sehun. Jung tersenyum ke arah Tao untuk menghilangkan rasa gugupnya, sementara Tao hanya menampakkan ekspresi datarnya. Laki-laki ini bahkan lebih dingin dari Sehun, batin Jung. Merasa tidak diperhatikan, Jung meneruskan langkahnya dengan menunduk. Sehun yang melihat kejadia itu dari atas hanya bisa tertawa.

 

***

 

“aku pulang” salam wajib yang harus mereka ucapkan ketika salah satu dari mereka pulang lebih sore.

“kau pulang sangat sore, Jungie.. tidak biasanya.” Young menghampiri Jung yang kelelahan di sofa.

“aku ngobrol sebentar dengan seseorang. Seoul juga macet. Young-ah, aku lapar!” Jung melepas kaos kaki, serta dasi yang melekat di tubuhnya. Jung merasa lebih baik saat kaos kaki dan dasinya terlepas, sedikit panas yang menjalari tubuhnya perlahan hilang.

“aku baru saja membeli jjangmyeon. Bersihkan badanmu lalu kita makan malam.” Younghwa membantu jung meletakkan tasnya ke dalam kamar. Jung segera mengambil handuk dan mandi.

Setelah selesai mandi, Jung menghampiri Younghwa di dapur. Di meja makan sudah terhidang jjangmyeon dan air putih. Jung duduk manis di kursi sebelah timur, younghwa di kursi sebelah barat. Sebelum makan mereka berdoa terlebih dahulu.

“Youngie, besok kau pulang jam berapa?” tanya Jung setelah mereka selesai makan.

“mungkin aku pulang sore, wae?” jawab Younghwa sambil meletakkan piring dan gelas kotor ke wastafel, Jung mengikuti dari belakang.

“Aku ingin pulang bersamamu, tunggu aku di dekat ruang musik ya?” Jung mulai mencuci piring, ini adalah bagian tugasnya.

“ne.” Jawab Younghwa dari kamar.

 

***

Dari jauh Younghwa melihat Jung sedang bercakap-cakap dengan Sehun. Ia bertanya dalam hati, sejak kapan Jung akrab dengan Sehun? ia iri dengan Jung, Jung adalah gadis ramah yang mudah berteman dengan siapa saja tak seperti dirinya. Younghwa hanya bisa mengamati Jung dan Sehun dari jauh, matanya tak lepas mengamati dua orang tersebut. Ingin rasanya Younghwa mengganti posisi Jung dengan dirinya hanya untuk bisa mengobrol dengan Sehun.

Kalau saja yang membeli minuman itu Younghwa, pastilah yang ada di posisi Jung sekarang adalah Younghwa. Younghwa sedikit menyesal menolak ajakan Jung untuk membeli minum, ia malah duduk di sini menunggu Jung, bahkan melihat Jung berbicara dengan Sehun. Ada sedikit rasa mengganjal di hatinya, apa ini yang dinamakan cemburu?

“Igo!” Jung menyodorkan segelas jus untuk Younghwa, Younghwa menerimanya lalu tersenum. Jung duduk di sebelah Younghwa, lalu meminum jusnya sendiri. Jung sedikit merasa lelah setelah tadi ia berlari ke arah Younghwa yang telah lama menunggunya.

“gomawo” jawab Younghwa singkat, ia hanya memandangi yang ada di tangannya.

“kenapa tidak diminum? Kau tidak suka jus ini? Aku salah memesan?” Jung menatap heran ke sahabat di sebelahnya ini. Ia tahu pasti jus kesukaan Younghwa, dan ia benar memesan jus alpukat, lalu mengapa Younghwa tidak segera meminum jusnya? Jung bertanya-tanya dalam hati.

“ani, hanya saja…” kata-kata younghwa terpotong, ia ragu untuk menjawab. Younghwa masih belum yakin untuk bercerita pada sahabatnya ini.

“hanya saja?” lanjut Jung.

“aku iri padamu.” Lanjut Younghwa.

“iri?” Jung mengerutkan dahinya, tak mengeri dengan apa yang sedang Younghwa bicarakan.

“kau gadis yang ramah, siapapun bisa bertaman denganmu.” Jawab Younghwa jujur.

“ahahaha.. aigoo Youngie. Aku tahu apa yang kau maksud, ini masalah Sehun?” Jung tertawa, Younghwa terssentak dengan apa yang barusan dikatakan Jung. Bagaimana Jung bisa tahu tentang ini?

“ah.. a.ani” jawab Younghwa gugup.

“aku tahu kau sedang berbohong. Semua tampak di matamu Young-ah. 2 tahun aku tinggal bersamamu.” Jung memelankan tempo suaranya, menatap sahabat di depannya yang sedang menunduk itu. Ia mulai serius sekarang. Younghwa menyedot jus alpukatnya.

“nan molla..” younghwa berkata dengan lirih.

Jung menepuk pundak sahabatnya itu, lalu mengambil tasnya hendak pergi.

“aku harus ke ruang musik, mungkin Sehun sudah menungguku. Aku dan Sehun hanya ingin menyelesaikan beberapa lagu. Satu lagi, aku tidak akan beritahu apapun tentang perasaanmu ke Sehun. Annyeong Young-ah!”

Sekali lagi Younghwa harus iri pada Jung, pasalnya Jung bisa bersama dengan Sehun di ruang musik. Ia merutuki dirinya yang tak terlalu tertarik dengan partitur-partitur, notasi, dan segalanya tentang mencipta atau mengaransemen musik. Kalau saja ia punya minat di bidang itu, ia mungkin bisa akrab dengan Sehun. Sehun, Sehun dan Sehun, Younghwa tak habis pikir kenapa Sehun selalu bisa membuatnya berpikir terlalu dalam.

***

 

“maaf membuatmu menunggu lama, Sehun-ah” Jung baru saja masuk ke ruang musik, di dapatinya Sehun sedang memainkan gitar dan menulis rangkaian nada baru di partitur milik Sehun. Sehun hanya menoleh, lalu melanjutkan kegiatannya yang sempat tertunda tadi.

“apa lagumu sudah jadi?” Sehun menghentikan aktifitasnya, Jung yang sedang mengambil sesuatu dalam tasnya sontak menoleh.

“belum, aku hanya mengubah beberapa bagian intro dan interlude lagu ini, bagaimana menurutmu?” Jung menyodorkan partitur yang baru terisi sebagian pada Sehun. Sehun menerimanya, lalu dahinya nampak berkerut, ia melagukan beberapa nada dengan suara lirih, lalu tersenyum.

“great! Kau sudah seperti musisi yang hebat.” Sehun menunjukan dua ibu jadi untuk Jung, lalu Sehun melepas selempang gitarnya dan berpindah alat musik ke keyboard.

“ini benar-benar lagu yang kau ciptakan sendiri, Sehun-ah?” Jung merasa ada sesuatu yang salah pada lagu Sehun.

“tentu, kenapa?” jawab Sehun santai sambil masih memainkan lagu ciptaan Jung.

“kau sedang jatuh cinta? Kenapa kau memakai banyak akord minor disini? Ini lagu romantis?” tanya Jung penuh selidik. Sehun sontak menghentikan permainan keyboardnya.

“jatuh cinta?” Sehun mendekat ke Jung.

“pantas sikapmu akhir-akhir ini berubah” Jung jadi sok tahu, tapi sebenarnya ia memang tahu kalau Sehun sedang jatuh cinta pada Younghwa.

“kau ini terlalu pemikir, semua orang boleh menciptakan lagu dengan bebas. Lalu lagu milikmu ini, kenapa bertempo dan bernuansa semangat? Ini karena martial art? Karena Tao?” Jung tercengang. Ia tak menyangka kalau Sehun akan membalik keadaan, sekarang Jung yang terpojok.

“tentu saja tidak!” jawab Jung ketus.

“aku punya lagu bagus untuk di aransemen, kau mau coba?” Sehun mengalihkan pembicaraan. Jung mengangguk, selera musik keduanya selalu sama jadi Jung pasti langsung setuju kalau Sehun mengajaknya mengaransemen lagu.

 

A hour ago-

 

“jakkaman!” permainan musik Sehun terhenti. Jung mengalihkan fokusnya ke Sehun.

“nde?” tanya Jung heran.

“istirahat sebentar, Jung Hyera kau bawa minum?” Sehun memengangi tenggorokkannya, ia benar-benar haus dan lelah setelah mencoba berbagai alat musik. Jung juga merasa begitu, tangannya sudah pegal bahkan beberapa jarinya mulai berair dan itu sangat sakit.

“aku tidak bawa minum, kau sangat haus? Biar aku belikan, aku keluar dulu. Tunggu sebentar.” Jung menatap iba ke arah Sehun. perempuan memang sangat perhatian terhadap orang lain, terbukti dengan sikap yang ditunjukan olah Jung pada Sehun. tapi sebenarnya Jung juga ingin keluar karena ingin melihat Tao.

Jung mengambil beberapa dua lembar uang sepuluh ribu won, lalu bergegas pergi. Saat ia melewati koridor sekolah dan hendak turun ke bawah, Jung mengedarkan pandangannya ke sekitar, memastikan apakah Younghwa sudah menunggunya. Tapi nihil, mungkin Younghwa masih sibuk dengan dunia dance.

Melihat Tao yang sedang berlatih martial art, terbesit suatu hal dalam benaknya, Tao pasti juga lelah, aku juga harus membelikannya minum, pikir Jung. Sejenak ia terpaku menatap permainan Tao, kalau saja ia tidak ingat Sehun sudah menunggunya, ia pasti akan lebih lama berdiri di situ.

***

Sehun menunggu Jung cukup lama. Ia jenuh berada di ruangan ini, terlebih rasa hausnya sudah sangat memuncak. Sehun akhirnya memutuskan untuk menyusul Jung, ia berfirasat bahwa Jung bukannya membelikan minuman untuknya, tapi malah asik mengamati Tao.

Saat Sehun keluar dari ruang musik, ia menangkap sesosok gadis yang sedang meilhat ke bawah dan tempat gadis itu berdiri adalah tempat di mana kemarin Jung mengamati Tao. Itu Jung Hyera, pikir Sehun.

“Jung!” panggil Sehun. gadis itu menoleh, tapi dugaannya salah. Gadis itu bukan Jung! Dan alangkah terkejutnya Sehun, saat tahu gadis itu adalah Younghwa. Perlahan Sehun mendekati Younghwa yang juga sama-sama terkejut seperti Sehun.

“Sehun-ssi, aku bukan Jung Hyera.” Younghwa kembali menatap Tao yang sedang berlatih, ia sedikit kecewa karena Sehun sedang mencari Jung, bukan dirinya. Tanpa ia sadari, kini Sehun sudah berdiri tepat di sampingnya.

Sehun menata perasaan, detak jantung dan rasa gugupnya.

“ah, mianhae. Kau melihat Jung? Dia pergi lama sekali. Aku tadi menyuruhnya membeli minum.” Sehun ikut menatap ke arah Tao. Ternyata Tao sangat lincah saat melakukan martial art, pikir sehun.

“Jung Hyera? saat aku kemari aku tidak melihatnya.” Hanya kalimat itu yang mampu ia katakan pada Sehun. Younghwa masih sangat gugup.

“kau kemari menunggu Jung?” tanya Sehun. Sehun dan Younghwa betemu pandang.

“ne.” Jawab Younghwa singkat.

Hening…

“kau orang yang sangat dingin, aku harap aku bisa menghangatkanmu.” Kata younghwa lirih, setengah hatinya berharap agar Sehun tidak mendengarnya tapi setengahnya lagi berharap Sehun mendengar apa yang tadi ia katakan.

“nde?” Sehun pura-pura tak mengerti.

“syukurlah kau tak mendengarnya.” Setengah hati Younghwa kecewa. Sehun tersenyum, sebenarnya ia mendengar dengan jelas apa yang baru saja Younghwa katakan.

***

“Huang Zi Tao!!!” akhirnya Jung memanggil Tao,setelah awalnya ia merasa agak gugup dan ragu-ragu. Kini ia bisa mengendalikan emosinya.

Tao yang merasa dipanggil kontan menghentikan latihannya, ia menoleh ke sumber suara. Didapatinya Jung Hyera sudah berada di dekatnya.

Akhirnya sebotol air mineral itu terulur untuk Tao. Tao yang merasa bingung, hanya bisa menerima pemberian Jung itu. Sebelum memutuskan untuk kembali ke ruang musik, Jung tersenyum ke arah Tao yang sedang memandangi sebotol air mineral darinya.

“Hyera” untuk pertama kalinya sejak Jung bosan di panggil Hyera, Jung merasa sangat bahagia bisa dipanggil Hyera oleh Tao. Ia tidak akan marah jika Tao memanggilnya Hyera, ia bahkan sangat suka jika Tao memanggilnya Hyera, bukan Jung.

“nde?” Jung agak gugup, belum pernah ia segugup ini.

“gomawo” Tao tersenyum, untuk pertamakalinya Tao tersenyum untuk Jung. Jung merasa sangat senang. Ketika ia membalikan badannya lagi ke arah ruang musik, wajahnya sudah seperti kepiting rebus.

 

***

 

Apa yang ada di hadapan Jung saat ini membuat Jung sangat kaget sekaligus senang. Akhirnya ia bisa melihat Younghwa dan Sehun mengobrol bersama. tapi ia juga merasa canggung ketika Jung menyadari bahwa Sehun dan Younghwa sedang melihat ke arah Tao yang sedang berlatih. Jung malu kalau-kalau Sehun dan Younghwa melihatnya saat sedang memberikan air mineral untuk Tao. Tapi ia tepis pikiran itu jauh-jauh.

“Sehun-ah, maaf membuatmu menunggu lama” Jung menyodorkan air mineral yang baru saja ia beli itu pada Sehun.

“ini sangat lama” jawab Sehun ketus lalu mengambil air mineralnya dari tangan Jung. Ia segera masuk ke ruang musik.

“Youngie.. kau sudah selesai? Baiklah, aku akan segera pulang, kau tunggu di sini, arra?” Jung meninggalkan Younghwa sendiri lagi.

Jung menyusul Sehun ke arah ruang musik. Ia tak mau membuat Younghwa menunggu lebih lama, ia hanya perlu minta izin pada Sehun untuk pulang terlebih dahulu.

“Sehun-ah! Aku akan pulang dulu, Younghwa pasti sudah munggu sejak lama. Gwenchanna?” tanya Jung sambil membereskan gitar, gitar bass dan tasnya. Lalu pergi setelah mendapat anggukan dari Sehun.

“kajja kita pulang” Jung merangkul pundak Younghwa.

“makan malam kita nanti apa?” Younghwa bertanya pada Jung saat mereka menuruni anak tangga.

“eumm.. kimchi? Eotte? Kita makan di luar ya?” Jung menggelayut manja di lengan Younghwa, younghwa tertawa melihat tingkah sahabatnya ini lalu mengangguk.

 

***

 

Jam sudah menunjukkan pukul 7 malam waktu korea. Jung dan Younghwa baru saja pulang dari sebuah restaurant. Perut mereka sudah terisi penuh dengan berbagai macam makanan. Jung yang sudah sangat kenyang terlebih tangannya masih terasa sakit dan berair langsung merebahkan tubuhnya ke kasur begitu sampai di apartemen mereka.

“yak, berapa jenis makanan yang kau makan tadi? Sampai-sampai kau kekenyangan begini. Aigoo..” Young menepuk-nepuk pundak Jung yang sedang berbaring membelakangi posisinya duduk kini. Jung hanya meringkuk memegangi perutnya pura-pura sudah tidur.

“baiklah, kalau kau sudah tidur” Younghwa berjalan menuju kasurnya, tentu saja mereka tidak tidur dalam ranjang yang sama. Mereka berdua sama-sama aktif saat tidur, jadi mereka tak mau ambil resiko pagi-pagi bangun dengan badan yang pegal-pegal.

“jaljayo Jungie..” Younghwa menarik selimutnya. Mencoba tidur walaupun malam belum terlalu larut.

Jung bangun sesudah ia memastikan bahwa Younghwa benar-benar tidur. Jung hanya ingin menyelesaikan lagu yang belum selesai ia buat. Tiba-tiba Jung mendapat ide saat kekenyangan tadi.

Seluruh isi tasnya sudah ia periksa, bahkan Jung juga sudah mencari pertitur lagunya di sofa, dapur, kasur, ruang tengah dan di meja belajar, tapi hasilnya nihil. Jung mengacak-acak rambutnya kesal lalu terduduk. Mengapa di saat aku punya ide, partiturku malah menghilang? Pikirnya.

 

Drrrtt~

 

One message from Sehun Oh.

‘partitur lagumu tertinggal di ruang musik, sekarang partitur itu ada padaku.’

 

Pantaslah Jung tidak bisa menemukan partitur lagunya di manapun. Hilanglah semangatnya untuk meneruskan lagu itu. Sekarang, ia putuskan untuk tidur saja, lagipula malam juga sudah larut. Jung berjalan menuju ke kasurnya, lalu berbaring dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai batas pundak.

“jaljayo nae Youngie..” satu kalimat sebelum ia memejamkan mata.

 

***

 

“Jung Hyera, ireona..” younghwa mengoncang-gancangkan badan Jung yang masih saja meringkuk di bawah lapisan selimut tebalnya.

“Jung Hyera.. kita bisa terlambat.” Younghwa tidak tahu mengapa Jung bisa susah bangun seperti ini. Apa Jung sedang sakit? pikir younghwa.

“Hyeraa.. kau sakit?” setelah younghwa mengatakan hal ini, Jung baru membuka selimutnya dan duduk dengan wajah pucat dan rambut acak-acakan.

“kau tidak panas, tapi wajahmu sangat pucat. Kau sakit? beri tahu aku mana yang sakit?” younghwa menatap sahabat di depannya ini khawatir. Ia merapikan rambut Jung yang acak-acakan.

“kau berangkat saja Young-ah. Aku tidak berangkat hari ini.” Suara Jung terdengar sangat parau.

“aku suapi makan dulu ya?” tawar Younghwa. Jung menggeleng.

“kau berangkat saja, aku bisa makan sendiri.” jung menyuruh younghwa pergi dengan isyarat tangannya. Younghwa merasa berat untuk meninggalkan Jung sendirian di apartemen dalam keadaan sakit seperti ini, tapi itulah Jung. Jung tak suka kalau keinginannya di tentang saat sedang sakit.

“youngie..” younghwa yang mendengar suara parau Jung langsung menoleh.

“kalau kau tidak keberatan, mintakan partitur laguku pada Sehun.” lanjut Jung. Younghwa tampak sedikit berfikir, tapi younghwa tak tega dengan sahabatnya ini. Ia mengangguk setuju.

“aku berangkat Hye.. jaga dirimu.” Pintu kamar mereka tertutup. Younghwa sudah pergi.

 

***

 

Sesampainya di sekolah, Younghwa melangkah dengan malas menuju ruang kelasnya. Ia tidak ingat dengan pesan Jung untuk mengambilkan partitur lagu yang masih tertinggal pada Sehun. yang younghwa lakukan saat ini hanyalah memperhatikan langkahnya agar tidak menabrak seseorang dan dengan cepat tiba di kelas.

Kini seseorang sedang menghalangi jalannya, younghwa yang sedari tadi berjalan sambil memperhatikan kakinya sontak mendongak secara perlahan. Younghwa berharap orang yang sedang menghalangi jalannya ini adalah Sehun, tapi saat younghwa sudah bisa melihat wajah orang yang menghalangi jalannya ini sontak pikirannya jadi buruk. Luhan lah yang menghalangi jalannya.

Younghwa melagkah ke kanan, Luhan juga ke kanan.

Younghwa melangkah ke kiri, Luhan juga demikian, jika younghwa melangkah ke depan pastilah Luhan juga melangkah ke depan, dan itu artinya mereka akan bertabrakan. Younghwa mendorong badan Luhan ke samping kanan, lalu ia lewat.

“minggir kau ikan!” younghwa dikuasai oleh emosi. Luhan menatap gadis itu geram, tak terima dirinya dipanggil ikan.

“Young-ah, di mana Hyera? eh, Jung hyera?” kai berteriak dari bangku taman di sisi sebelah kanan koridor sekolah ini.

“Hyera sakit” jawab younghwa ketus, lalu berlalu menuju ke kelasnya.

Kai yang melihat ekspesi tak biasa Younghwa hanya bisa geleng-geleng. Di ujung koridor lain, Kai juga melihat Luhan yang sedang bergumam dan mengumpat pada seseorang, untuk kedua kalinya ia menggeleng-gelengkan kepalanya.

Younghwa sudah duduk di bangku kelasnya, ia menatap bangku Jung yang kosong. Apa yang bisa ia lakukan kalau tidak ada Jung? Teman satu kelas yang paling akrab dengannya adalah Jung, yang lain hanya sekedar akrab biasa saja.

“Young-ah, kemana Jung Hyera?” teman satu kelas Younghwa bertanya, mereka hafal benar jika kemanapun Jung pergi pasti ada Younghwa, begitu pula sebaliknya.

“Jung sakit, sepertinya ia ada masalah dengan perutnya.” Younghwa berfikir, kalau saja younghwa yang sakit apakah teman-temannya juga akan menanyakan keadaannya sama seperti teman-teman menanyakan kenapa Jung tidak masuk sekolah. Apa Sehun juga akan menanyakan keadaannya? Terlalu jauh untuk berfikir seperti itu, pikir Younghwa.

 

***

 

“Younghwa, pulanglah denganku!” tawar Sulli pada Younghwa, tapi Younghwa menolak, ia harus mengambil partitur Jung yang ada pada Sehun.

“kau duluan saja, ada sesuatu yang harus aku urus. Gomawo tawaranmu Sulli-ah” Younghwa tersenyum ke arah Sulli setelah selesai memasukkan seluruh peralatan lukisnya ke dalam tas. Sulli mengangguk, lalu pergi.

“Huhhh” Younghwa menghela nafasnya dengan berat. Ia sedang memikirkan apa kata yang cocok untuk mengambil partitur Jung yang ada pada Sehun. ia gugup, bagaimana kalau younghwa malah jadi salah tingkah saat ingin mengambil partitur itu di hadapan Sehun? seluruh pikiran Younghwa kini dipenuhi dengan bayangan-banyangan kelam.

Tiba saatnya Younghwa untuk mengambil partitur Jung. Ia menaiki tangga untuk bisa ke ruang musik. Entah mengapa perjalanan dari kelasnya ke ruang musik kali ini terasa amat singkat baginya. Sampai di depan pintu ruang musik, younghwa ragu-ragu untuk membukanya. Jantungnya bekerja lebih cepat dari biasanya. Saat ia sudah memegang knop pintu, ia menarik tangannya lagi cepat-cepat.

“kau mau masuk?” seseorang di belakangnya membukakan pintu ruang musik.

Younghwa kaget, ternyata saat ia menoleh ke belakang Sehun berdiri tepat di hadapannya.

“a..ah ne” younghwa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, lalu masuk.

“Sehun-ssi, aku ke mari hanya ingin mengambil partitur Jung Hyera yang masih tertinggal padamu.” Younghwa hanya berdiri di dekat pintu masuk, dan melihat seisi ruang musik.

“oh iya..” Sehun mengeluarkan sebuah kotak dan partitur milik Jung dari dalam tasnya.

“ini milik Jung, dan ini milikmu” Sehun menyodorkan kotak kecil itu dan partitur Jung pada Younghwa. Younghwa bingung, seingatnya ia tak pernah punya kotak yang tadi Sehun berikan untuknya.

“milikku?”

“ne, milikmu.. ah, itu untukmu!” Sehun memperjelas kata-katanya.

“jeongmal? Gamsahamnida Sehun-ssi. Kalau begitu aku pulang dulu.” Younghwa tersenyum senang mendapat hadiah dari Sehun, ia merasa seperti mimpinya menjadi kenyataaan.

“jakkaman!” saat Younghwa hendak pergi, Sehun mencegahnya.

“duduk dulu di sini, ada yang ingin aku bicarakan denganmu.” Lanjut Sehun, ia menyusun 2 kursi agar berhadapan. Satu kursi ia duduki.

“oh, ne” pasti Sehun akan membicarakan Jung dengannya, pikir Younghwa.

Sehun terdiam untuk sejenak masih memikirkan sesuatu, Younghwa hanya bisa menundukkan kepalanya gugup berhadapan langsung dengan Sehun.

“Kim Younghwa, bolehkah aku bertanya padamu sesuatu?” Sehun membuka suara, ia menatap kedua bola mata younghwa lekat-lekat.

“tentu saja.” Younghwa mengangguk mantap.

“kau pernah merasa gugup saat bertemu seseorang?” sehun mulai bertanya pada Younghwa.

“tentu.” Younghwa menjawab singkat.

“apakah jantungmu pernah berdebar lebih cepat dari biasanya saat bertemu seseorang? Kau pernah lupa cara bernafas saat kau bertemu orang itu?” pertanyaan Sehun membuat Younghwa bingung.

“tentu” jawabannya masih sama

“kau pernah selalu memikirkan seseorang? Kau selalu ingin melihat dan bertemu orang itu?” tanya Sehun lagi.

“ne, karena aku \merasakan apa yang tadi kau katakan.” apa yang sehun tanyakan pada Younghwa sama seperti apa yang sedang Younghwa rasakan saat dengan Sehun.

“aku..”

“aku merasakan hal itu saat bersamamu Kim Younghwa” lanjut Sehun. Younghwa tercengang.

“ini bukan saat yang tepat untuk bercanda Sehun-ssi” Younghwa sebenarnya hanya ingin memastikan apakah Sehun hanya bercanda atau dia benar-benar serius.

“aku serius Kim Younghwa. Aku tak tahu mengapa perasaan ini dan semua yang aku rasakan terhadapmu begitu besar. Aku tidak tahu apa sebenarnya perasaan dan luapan emosi ini. Kim Younghwa, beritahu aku..”

“apakah ini cinta?” lanjut Sehun. younghwa hanya bisa tertunduk, dalam hatinya berkecamuk berbagai perasaan. Ia takut kalau ternyata itu bukan cinta.

“sepertinya aku harus pulang Sehun-ssi. Hyera pasti sudah menungguku. Annyeong” Younghwa belalu dari hadapan Sehun,Sehun menunduk lalu mengacak-acak rambutnya.

“kau belum menjawab pertanyaanku Kim Younghwa. Beritahu aku apakah perasaan ini bernama cinta” Sehun menatap punggung Younghwa, Younghwa menghentikan langkahnya tanpa menoleh ke belakang untuk sejenak. Setelah Sehun menyelesaikan ucapannya, Younghwa langsung berlari keluar.

 

***

“kau sedang mendengarkan apa?” Jung merebut satu headset milik Younghwa, lalu memasang headset itu ke telinga Jung sendiri.

“wow, laki-laki itu pasti menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelesaikan ini!” Jung takjub dengan lagu yang sedang Younghwa putar dari iPod yang tadi Sehun berikan.

“maksudmu?” Younghwa tak mengerti.

“Sehun menciptakan lagu ini untukmu. Setahuku, kemarin sore lagu ini baru tercipta separuhnya. Ia pasti menghabiskan seluruh malamnya untuk menyelesaikan lagu ini. Ini lagu yang sangat spesial, dan hanya ia buat untukmu.” Jung iri dengan Younghwa.

“mana mungkin ia menciptakan lagu ini untukku Hye..” Younghwa menunduk, kalimat demi kalimat yang tadi terucap olah Sehun terbesit dan terngiang-ngiang di telinganya.

“aku bisa merasakan perasaannya yang meluap-luap untukmu Youngie.. Sehun mencintaimu. Itu semua terlukis dari rangkaian nada lagu ini, meskipun ini hanyalah melodi tanpa lirik” Jung mencoba meyakinkan sahabatnya.

“kau yakin ini cinta?” tanya Younghwa pada Jung. Jung mengangguk mantap. Setidaknya, Jung pernah jatuh cinta dulu.

 

***

 

one moment in next day..

 

perlahan Younghwa mendekati Sehun yang tengah asik memainkan gitarnya di dekat lapangan Sekolah. Hanya ada beberapa siswa yang belum pulang karena hari sudah sore.

“Oh Sehun..” panggil Younghwa, ia memposisikan dirinya duduk di samping Sehun. sebelum ia melanjutkan kata-kata yang akan keluar dari bibirnya, Younghwa menghela nafas.

“aku tak yakin tapi..” Younghwa memotong kalimatnya

“aku butuh keyakinan” sambung Sehun.

“baiklah.. jujur aku tak tahu dengan apa definisi cinta yang sesungguhnya..”

“tapi, jika kau menyebut perasaan yang sedang kita rasakan ini cinta, maka aku juga akan meyakini kalau perasaan ini adalah cinta. Kau yakin kalau ini cinta?” tanya Younghwa pada Sehun, kini mereka berdua saling bertatapan.

“aku mencintaimu Kim Younghwa” jawab Sehun mantap, Younghwa tersenyum penuh arti. Mereka saling berpandangan lalu tertawa bahagia. Semuanya sudah jelas sekarang, apa yang Younghwa dan Sehun harapkan juga sudah seperti yang mereka harapkan.

***

            Cinta, jangan tanyakan padaku apa itu cinta. Akupun tak tahu jawabannya karena bagiku, cinta adalah sesuatu yang terlalu sulit untuk digambarkan. Tapi, jika kau menyebut perasaan yang kita alami sekarang adalah cinta, maka aku juga akan menganggap ini cinta. Karena sesungguhnya, cinta adalah bagaimana kau meyakininya. Dan aku yakin, cintaku adalah kau..

Dan akhir dari cerita ini adalah, di mana kau dan aku memutuskan untuk saling mencintai, karena kita meyakini adanya cinta di antara kita.

***

 

-I don’t know why, this unconditional emotion
Did I ever imagine?
Next to me, your shine more brightly as I become a better guy

Tell me if this is love..-

EXO-What Is Love

 

END

Annyeonghaseyo yeorobeundeul!!

Saya datang dengan FF nista yang ber-cast-kan pacar baru saya member EXO dan teman saya, Kim Younghwa. mianhae kalo gak romance, dan kurang memuaskan hati anda saudaraku setanah air *author mewek*. Maaf juga kalo bahasanya bertele-tele dan terlalu longshoot, abis ide selalu mengelir begitu saja ketika saya ngetik. Makasih juga buat Admin yang udah bersedia nge-post FF saya ini, jeongmal gomawoyo J)

Readers yang baik tolong klik ‘like’ sama commentnya yaa~ yang komen bisa nonton konser BIAS!!! Semoga yang komen + like bisa berjodoh sama bias kecuali kalo bisanya HyukJae ato Tao  *aminnnn*

Follow twitter saya @nhdni atau tumblr *cieee eksis tumblr* NHjung . oiya, FF ini pernah saya publish di wp pribadi saya di sini . visit ya ^^