Title : My Fake Ordinary Wife (part9)

Author : Lumie

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Aku masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertamaku dan aku sendiri baru belajar nulis ff. Aku mau ucapin makasih buat chingudeul yang udah setia baca ff ini dan komen… aku juga makasih banget atas dukungan chingudeul semuanya.. gak nyangka ff ini banyak peminatnya… *terharu*… ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini Lumie’s World

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

Jongwoon POV

 

“Hoaaamm..” aku menguap lebar karena bosan. Mataku memandang layar televisi di depanku yang sedang menampilkan drama Lee Donghae. Hyeni duduk di sofanya sambil memperhatikan layar televisi. Matanya terbuka lebar mengamati setiap adegan dalam drama dengan penuh rasa penasaran. Bahkan aku bisa melihat bagaimana ia tersenyum ketika layar televisi memamerkan wajah pasaran Lee Donghae. Mengapa gadis ini begitu mengagumi Donghae? Aku merasa status adik-kakak-angkat yang selalu ia katakan hanyalah kedok belaka. Jangan-jangan mereka berdua sebenarnya memiliki hubungan khusus di belakangku?

“Jangan pergi, jaebal,” Donghae mengatakan dialognya dalam drama, “Saranghaeo, aku tidak bisa hidup tanpamu.”

Adegan berlanjut menjadi adegan berpelukan dan berciuman antara Donghae dan yeoja lawan mainnya. Kulirik Hyeni dengan sudut mataku. Ia sedang melotot sambil menggigit ujung selimutnya. Haha, rasakan, kau pasti kesal melihatnya berciuman seperti itu dengan wanita lain.

Ponselku berdering, ada pesan masuk. Tanganku segera meraih ponsel yang kuletakkan di atas nakas. Pesan dati Leetuk hyung.

‘Annyeong, Yesung-ah aku ingin memberitahu, Donghae kecelakaan saat syuting tadi siang. Tidak ada luka serius, hanya saja tangan kirinya terkilir, dia masih ada di rumah sakit saat ini untuk pemeriksaan lebih lanjut.’

Aku sedikit terkejut membaca pesan Leetuk hyung. Donghae kecelakaan saat syuting? Apa aku harus menjenguknya? Anii, tentu saja aku harus menjenguknya, dia adalah dongsaengku. Masalahnya adalah apakah aku harus memberitahu Hyeni?

Tidak, aku tidak akan memberitahunya. Entah mengapa aku tidak ingin Hyeni tahu bahwa Donghae kecelakaan. Dia pasti akan memaksa untuk ikut ke rumah sakit, dan nantinya dia akan lebih dekat dengan Donghae. Tunggu dulu, mengapa aku sebal jika ia dekat dengan Donghae? Memangnya siapa Hyeni untukku?

Sudahlah, lebih baik aku menjenguk Donghae sekarang. Aku segera bangkit dari tempat tidur dan mengambil kunci mobilku dari atas nakas. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku segera keluar dari apartemen dan melajukan mobilku ke supermarket untuk membeli buah, baru kemudian berangkat ke Rumah Sakit Seoul.

***

 

Hyeni POV

 

Dengan cepat aku berlari menyusuri koridor rumah sakit. Baru saja Donghae oppa menghubungiku dan mengatakan bahwa ia mengalami kecelakaan di lokasi syuting dan sekarang sedang dirawat di rumah sakit.

“Donghae oppa,” panggilku ketika membuka pintu kamarnya. Donghae oppa menoleh ke arahku dan malah memamerkan senyumnya yang manis. Ia terlihat baik-baik saja, kecuali tangannya yang terbalut perban.

“Hyeni-ya, kau datang, masuklah,” ujarnya sambil melambaikan tangannya yang tidak diperban ke arahku. Aku menutup pintu kamarnya dan melangkah menghampiri tempat tidurnya.

“Oppa, gwenchanayo? Apa yang luka? Bagaimana kau bisa jatuh?” tanyaku khawatir.

“Gwenchana, gwenchana, aku baik-baik saja Hyeni-ya. Tidak perlu cemas seperti itu. Aku tadi kehilangan keseimbangan waktu adegan berlari menuruni tangga, akhirnya aku jatuh,” jawabnya sambil terkekeh, ia menjulurkan lidahnya.

Aku menghela nafas lega mengetahui keadaannya baik-baik saja. Kulirik nampan berisi makanan di samping tempat tidurnya. Sepertinya belum tersentuh sama sekali.

“Kau tidak makan, oppa?” tanyaku sambil menunjuk nampan di sampingnya.

“Aku tidak suka makanan rumah sakit,” jawab Donghae oppa sambil cemberut.

“Ya, jinjja, kau ini sudah terlalu besar untuk memilih-milih makanan. Makanlah oppa,” suruhku sambil mengambil nampan itu gan membuka plastik penutupnya.

“Shireo,” ujar Donghae oppa, “Kecuali kau menyuapiku.”

“Mwo?” aku ternganga, “Oppa kau ini sungguh seperti anak kecil saja.”

Aku menggerutu, namun tetap menyuapinya. Donghae oppa makan dengan lahap. Dalam sekejap ia sudah menghabiskan setengah porsi makanannya, huh, bukankah ia tadi bilang ia tidak suka makanan rumah sakit?

Kreett.. pintu kamar Donghae oppa di buka. Aku dan Donghae oppa melirik ke arah pintu secara bersamaan. Woonie oppa?

“Yesung hyung, kau datang?” sapa Donghae oppa.

“Dong.. Hyeni?!” Woonie oppa terkejut ketika menyadari aku duduk di samping Donghae oppa.

“Woonie oppa, annyeong,” sapaku polos. Woonie oppa menatapku dengan ekspresi tidak menyenangkan.

“Wae? Mengapa kau di sini Hyeni?” tanya Woonie oppa begitu sampai di depanku. Ia berdiri sangat dekat dengan tubuhku dan melipat kedua tangannya di atas dada.

“Aku?” tanyaku sambil menunjuk batang hidungku dengan jari telunjuk, “Aku menjenguk Donghae oppa.”

Woonie oppa membuka mulutnya, namun kalimatnya tertahan, ia melihat nampan di atas pangkuanku dan sendok di tanganku secara bergantian.

“Kau menyuapinya?” tanya Woonie oppa setengah berteriak.

“Oppa, kecilkan suaramu. Ini rumah sakit, kau lupa?” ujarku mengingatkannya. Aku telah terbiasa dengan nada suaranya yang tinggi dan gaya bicaranya yang suka membentak dan berteriak. Biar bagaimanapun kami sudah tinggal bersama hampir 3 minggu.

“Untuk apa kau menyuapinya? Memangnya dia tidak bisa makan sendiri?” Woonie oppa tetap bertanya dengan suara keras, tidak peduli pada teguranku.

“Hyung, mian, Hyeni hanya..” Donghae oppa berusaha menjelaskan. Namun, Woonie oppa malah menatapnya tajam tanda menyuruhnya diam.

“Memangnya kenapa aku menyuapinya?” aku mulai habis kesabaran dengan tingkah Woonie oppa, “Tangan Donghae oppa sedang sakit, wajar aku menyuapinya.”

Woonie oppa melirik tangan Donghae oppa yang terbalut perban, lalu terkekeh, “Ya, jangan mencari alasan. Tangan kanannya baik-baik saja. Sejak kapan Donghae makan dengan tangan kiri?”

Aku diam. Kehilangan kata-kata, sekaligus berusaha menenangkan emosiku. Mengapa Woonie oppa semakin menjadi-jadi. Apa salahnya aku menyuapi Donghae oppa yang sudah seperti oppaku sendiri. Jelas-jelas ia tahu hubungan kami seperti apa.

“Ayo pulang,” ujar Woonie oppa tiba-tiba.

“Tapi kau baru datang, oppa?” tanyaku tak percaya. Ia bahkan belum lima menit menjenguk Donghae oppa.

“Kau tidak lihat oppa kesayanganmu ini baik-baik saja? Kurasa ia tidak membutuhkanmu lagi jika itu hanya untuk menyuapinya,” tukas Woonie oppa ketus.

“Hyung,” panggil Donghae oppa sambil terkekeh pelan, “Kau cemburu padaku karena istrimu menyuapiku?”

Aku menatap Donghae oppa karena terkejut. Donghae oppa memang tidak tahu kalau pernikahanku dan Woonie oppa hanya pura-pura. Dan ia menganggap Woonie oppa cemburu padanya? Wajar memang ia beranggapan begitu karena sikap Woonie oppa yang berlebihan. Aku melirik ke arah Woonie oppa, menunggu reaksinya, aku bisa merasakan debaran jantungku lebih cepat dari biasanya. Aneh, mengapa aku sangat ingin mendengar jawabannya?

“Aku tidak cemburu,” jawab Woonie oppa ketus, tangannya langsung terulur menarikku. Aku segera mengembalikan nampan ke atas nakas, lalu mengikuti langkah Woonie oppa yang masih menarik tanganku.

“Donghae oppa, annyeong, cepat sembuh, yah,” seruku sebelum menghilang dari balik pintu.

***

 

Jongwoon POV

 

Kesal. Kesal. Kesal. Begitulah perasaanku sekarang. Mengapa aku kesal melihat Hyeni bersama dengan Donghae. Bahkan, apa yang tadi dia lakukan? Menyuapi Donghae? Apa Donghae anak kecil yang tidak bisa menggunakan tangannya sendiri untuk makan?

Aku melangkah cepat sambil terus menarik tangan Hyeni. Tanpa banyak protes gadis itu hanya mengikuti langkahku menyusuri koridor rumah sakit.

Tiba-tiba ponselku berbunyi. Kurogoh saku celanaku dan kulihat nama yang tertera di layar. Eomma?

“Yeoboseyo?” ujarku menjawab panggilan telepon eomma.

“Woon-ah, kau ada di mana sekarang?” tanya eomma dari seberang telepon.

“Aku? Aku ada di rumah sakit sekarang,” jawabku jujur.

“Rumah sakit? Kau bersama dengan Hyeni? Apa yang terjadi padanya?” Eomma meluncurkan banyak pertanyaan sekaligus dengan nada cemas. Apa maksud eomma perhatian seperti itu pada Hyeni?

“Ne, aku ada bersama Hyeni, tapi ia baik-baik saja. Tidak ada yang terjadi padanya, wae?”

Kudengar suara helaan nafas dari seberang telepon, “Untunglah, eomma pikir terjadi sesuatu dengan calon cucu eomma.”

MWO? Calon.. cucu? Lelucon macam apa ini?

“Woon-ah, kau harus jaga istrimu baik-baik yah. Eomma yakin kau bisa jadi suami dan ayah yang baik untuk Hyeni dan anak kalian,” kata eomma sebelum menutup telepon.

Aku kembali memasukkan telepon ke dalam saku celanaku. Kulepas pegangan tanganku dengan Hyeni dan berbalik menatapnya.

“Hyeni-ah,” panggilku datar, Hyeni mengangkat wajahnya menatapku bingung, “Bisa kau jelaskan apa yang terjadi?”

***

 

Hyeni POV

 

Menyedihkan jika aku harus mati muda. Jika aku hanya diberi waktu 21 tahun untuk menikmati dunia ini. Bahkan aku belum pernah pergi meninggalkan Korea untuk sekedar jalan-jalan keliling Eropa ataupun Amerika.

Glek! Aku menelan ludahku. Woonie oppa melajukan mobilnya dengan kecepatan di atas rata-rata. Ke arah rumahnya! Tentu saja untuk mejelaskan pada keluarganya bahwa mereka telah salah paham. Bahwa aku tidak hamil seperti yang bibi Jung katakan.

Aku memegang seatbeltku erat. Memastikannya benar-benar terpasang dengan sempurna dan akan melindungiku jika terjadi hal-hal yang tidak kuinginkan. Glek! Lagi-lagi aku menelan ludahku saat mobil Woonie oppa menukik tajam di tikungan.

Setelah sepuluh menit yang terasa bagai satu jam penuh ketakutan, akhirnya kami tiba di depan rumah Woonie oppa. Ia segera keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan kasar. Aku segera mengikutinya. Aku tidak ingin menambah kemarahannya.

Kami duduk di ruang tamu, berhadapan dengan eommonim dan juga bibi Jung yang berdiri di sampingnya. Aku hanya bisa menunduk dan memperhatikan corak pada karpet ruang tamu. Bahkan aku takut untuk bernafas.

“Eomma, kalian sudah salah paham,” ujar Woonie oppa tegas, “Dia.. maksudku istriku tidak hamil.”

Kata-kata Woonie oppa berhasil membuat jantungku seolah akan melonjak keluar dari dadaku. Aku memejamkan mataku, tak tega melihat reaksi eommonim pada pernyataan Woonie oppa yang terkesan tegas.

Aku yakin, ia pasti kecewa, karena aku tidak hamil. Bahkan ia mungkin tidak akan pernah mendapati diriku mengandung calon cucunya. Nafasku rasanya sesak mengetahui kebenaran bahwa pernikahan pura-pura kami akan membuat orang lain kecewa. Eommonim salah satunya. Padahal ia begitu baik, sejak aku menikah dengan Woonie oppa, eommonim telah berkali-kali mengunjungiku dan mengajakku keluar untuk sekedar berbelanja, katanya ia takut aku bosan karena Woonie oppa sangat sibuk dan tidak bisa menemaniku.

Akhirnya kami pamit pulang. Eommonim mengikuti kami hingga ke depan pintu dan masuk ke dalam mobil Woonie oppa. Aku bisa melihat ekspresi sedih dan kecewa di wajahnya dari kaca spion mobil Woonie oppa ketika kami melaju pergi meninggalkan rumahnya.

***

 

Jongwoon POV

 

“Oppa,” panggil Hyeni lirih dari sofanya. Aku sedang berbaring di atas tempat tidurku sambil membaca naskah dramaku.

“Wae?” jawabku singkat tanpa menoleh.

“Aku merasa bersalah pada eommonim, ia pasti sangat sedih dan kecewa karena aku tidak hamil,” ujarnya pelan. Aku menutup naskah dramaku dan meletakkannya di atas tempat tidur. Kutegakkan posisi badanku menghadap ke arahnya.

“Semua itu salahmu sendiri telah membuat bibi Jung salah paham,” kataku mengingatkannya, siapa tahu ia lupa bahwa semua ini adalah hasil perbuatannya yang tidak segera menjelaskan pada bibi Jung atas kesalahpahaman yang terjadi.

“Arraseo,” jawab Hyeni sambil cemberut, “Tapi tetap saja aku merasa bersalah pada eommonim.”

Aku memandangnya selama beberapa saat. Dan seperti biasa, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menggodanya. Entah sejak kapan, menggoda gadis ini menjadi salah satu hiburanku setiap hari.

“Baiklah, kita buat harapan eomma jadi kenyataan,” ujarku sambil bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arahnya. Hyeni menatapku bingung dan terkejut saat tanganku membopong tubuhnya dari sofa.

“Ya!! Woonie oppa, kau mau apa?” serunya terkejut. Aku tak mengubris pertanyaannya dan terus membopongnya ke tempat tidur. Kuletakkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu ku sentuh pipinya yang lembut. Aku merasa senang melakukan aktivitas ini, menggodanya maksudku, aku tidak pernah menginginkan apapun darinya.

“Kita kabulkan saja keinginan eomma untuk mempunyai cucu,” kataku sambil memamerkan senyuman menggoda, kudekatkan bibirku ke pipinya dan mendaratkan kecupan singkat di sana. Hyeni terkejut dan menendang perutku.

“Aw!!” teriakku kesakitan, “Mengapa kau menendangku?”

“Ya!! Sudah kubilang jangan menggodaku dengan hal murahan seperti ini?!”

“Aku tidak menggodamu, kau yang bilang tidak ingin melihat eomma kecewa, jadi kita turuti saja keinginan eomma,” protesku tidak mau kalah.

“Ya!! Kau pikir aku ini istrimu sungguhan? Kita hanya pura-pura,” katanya setengah berteriak.

Hyeni segera bangkit dari tempat tidur dan berbaring di sofanya. Ia menarik selimut hingga menutupi kepalanya. Sial. Lagi-lagi menggodanya membuatku babak belur, tapi mengapa aku malah senang?

***

 

Hyeni POV

 

Aku membuka mataku lagi pagi ini. Dengan perasaan setengah mengantuk. Semalam aku tidak bisa tidur karena jantungku berdebar tak karuan. Ini semua akibat ulah Woonie oppa yang membuat sistem peredaran darahku kacau hingga aku bisa merasakan aliran darah dalam tiap pembuluh darahku berpacu dengan cepat sehingga membuat badanku panas dan mataku sulit terpejam. Akhirnya aku hanya meringkuk di bawah selimut selama berjam-jam hingga tanpa sadar aku tertidur entah pukul berapa.

Aku menyibakkan selimut dan memandang langit-langit yang sama seperti pagi sebelumnya. Namun kali ini, sudut mataku menangkap sesuatu. Ada benda aneh berada dekat wajahku. Kurilikkan mataku ke arah benda yang mengganjal pemandangan itu. Ttaa… Ttaatkooo!

“Wuaaaaaaa!!” Aku berteriak sambil bergerak refleks menutupi wajahku dan berbalik arah membelakangi makhluk Ttatko itu.

“Hahahahahaaa..” suara tawa yang sangat kukenal bergema di telingaku.

Kubalikkan badanku dan melihat Woonie oppa berdiri sambil memegang Ttatkoma, aku sudah bisa membedakan mereka sekarang. Woonie oppa tertawa terpingkal-pingkal sampai memegangi perutnya yang kesakitan. Ia lagi-lagi mengerjaiku.

“Woonie oppa!” bentakku sambil bangkit dari tempat tidur, “Kau benar-benar.. menyebalkan!”

Woonie oppa tidak menggubrisku sama sekali. Ia masih saja terus tertawa. Tawanya berhenti ketika ponselku berdering. Aku segera mengangkatnya.

“Yeoboseyo? Hongki-ah?” seruku.

“Hyeni-ah, annyeong. Apa kau ada waktu akhir minggu ini?” tanya Hongki di seberang telepon.

“Ne, tentu, wae?”

“Aku ingin mengajakmu ke Pulau Jeju. Appa baru saja meresmikan penginapan barunya di sana,” ujar Hongki dari seberang telepon.

“Pulau Jeju? Jinjja, kau mengajakku?” tanyaku tak percaya.

“Ne, tentu saja aku mengajakmu. Itu pun kalau kau bersedia,” katanya lagi. Aku tersenyum senang. Liburan ke Pulau Jeju, siapa yang akan menolak?

“Tentu saja aku ikut, tidak mungkin aku menolak ajakanmu!” seruku girang.

Sreet! Woonie oppa merebut ponselku.

“Hongki-ah, kau ingin mengajak istriku tanpa ijin dariku?”

“…”

“Mianhae, tapi aku dan Hyeni punya acara akhir minggu ini,” kata Woonie oppa dengan nada sombong. Ia melirikku yang sedang melotot ke arahnya.

“…”

“Kami?” Woonie oppa masih bercakap di telepon, “Kami akan bulan madu ke Jepang.”

“MWO?!”

 

TBC

 

Balik lagiiiii… akhirnya part 9 ini kelar juga… mianhae klo agak aneh part ini.. seminggu ini aku banyak kerjaan ngerombak blog OurFanfictionHouse. Aku baru ajah di terima jadi editor di sana. Dan akhirnya setelah berkutat berhari-hari, hasil editan untuk blog itu selesai semuanya… AMIN. Begitu selesai aku langsung lanjutin ff ini karena udah banyak yang nagih.. mian yah lama.. semoga gak mengecewakan.. J

Sekedar info, aku baru nambah bias lhooo.. suami baruku itu kangin oppa. Tapi aku gak post ceritanya di sini, aku post di OurFanfictionHouse. Chingudeul boleh baca juga kisah kami di sana. J

Btw, komen, kritik, dan sarannya di tunggu yah.. tapi klo komen kurang panjang.. susah juga itu jawabnya, soalnya udah kebiasaan ngetik ff cuma segini.. *plak*

Next part, pas edisi Hyesung Couple bulan madu aku coba panjangin dweh.. :p

Iklan