Yeorobeun, sebelumnya saya, author rahinalollidela, memohon maaf yang sebesar-besarnya pada readers semua. Saya tahu saya telah sangat durhaka pada readers dan author sekalian. Saya jarang sekali nge-post dan postingan saya yang lalu (yang bersifat chapter) tidak ada lanjutannya dan itu semua karena modem saya sering error. Jadi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. Selain itu, saya juga ingin menjawab beberapa pertanyaan readers tentang kenapa postingan saya yang bersifat chapter tidak ada lanjutannya. Sebenarnya saya ingin sekali melanjutkan, tapi apa daya. Folder saya yang isinya fanfiction kehapus, jadi saya harus mengulangi dari awal. Tapi saya sudah memutuskan untuk tidak akan melanjutkan dan mengungkit-ungkit postingan saya yang lama dan saya akan membuat fanfiction baru. Sekali lagi, saya mohon maaf sebesar-besarnya. rahinalollidela

 

Readers: Author kebanyakan ngomong! Buruan ff nya!

Me: Ah, ne… -___-

 

 

 

Author: rahinalollidela

Genre: romance

Rating: G

Casts:

– Kwon Yuri (SNSD’s Yuri)

– Choi Minho (SHINee’s Minho)

– Others

 

Drrt~ Drrt~

Lamunan Yuri berakhir saat ponselnya bergetar. Rupanya Minho, kekasihnya, yang menelpon. Yuri tersenyum sebentar melihat foto yang muncul di layar ponselnya.

“Minho-ah,” sapa Yuri dengan suara lirih.

“Yuri, bisakah kita bertemu sebentar?”

“Eodie?”

“Aku sudah di depan rumahmu. Keluarlah,” pinta Minho. Yuri membuka tirai jendela. Benar. Minho sedang menggigil kedinginan di luar.

“Baiklah. Aku segera ke sana,” Yuri menekan tombol merah, memakai sweater, dan akhirnya pergi menemui Minho.

 

“Di sini dingin, kita masuk saja,” Yuri menggosok-gosokkan tangan Minho di antara kedua tangannya.

“Ani. Aku hanya sebentar. Kita bicara di sini saja,” Minho menahan tangan Yuri.

“Andwe. Kita masuk saja. Wajahmu pucat,” Yuri menarik pelan tangan Minho, tapi…,

“Hmp!” Minho malah menarik balik tangan Yuri dan kini wajah mereka saling berdekatan, mereka pun saling mengunci pandangan. Satu, dua, tiga, empat detik, dan seterusnya. Cukup lama sehingga sepertinya mereka makin terpesona satu sama lain. Yuri menatap wajah Minho. Tanpa disadari wajah Minho mendekat. Semakin mendekat.Kini Yuri sadar bahwa Minho ingin menciumnya.

“Uwah!” BUK!

“Argh!”

 

***

“Ah, sakit. Pelan-pelan,” Minho berusaha sekuat tenaga untuk menahan rasa sakit di sudut bibirnya. Bibirnya terluka saat Yuri memukulnya.

“Pelan-pelan,” keluh Minho.

“Ini semua salahmu,” Yuri menekan-nekan handuk hangat ke luka Minho.

“Bagaimana bisa ini menjadi salahku? Jelas-jelas kau yang memukulku. Memangnya apa yang tadi kau pikirkan?” omel Minho. Yuri menarik tangannya.

“Ah, itu… itu…”

“Aigoo…, betapa kotornya pikiranmu.”

 

“Minumlah. Akan kukupaskan apel,” Yuri meninggalkan Minho di ruang tamu setelah memberinya secangkir teh hijau.

“Gomawoyo,” ucap Minho seraya memegang sudut bibirnya yang masih sakit. Mata tajamnya itu memancarkan aura kebingungan walau Yuri tak merasakannya.

 

Minho sesekali menyeduh tehnya sementara Yuri sedang mengupas apel di depannya. Apel terakhir pun terkupas dengan sempurna. Kini mereka saling kebingungan tentang apa yang harus mereka lakukan. Yuri berpikir sejenak.

“Euh…, jagiya,” panggil Yuri, memecah keheningan di antara mereka berdua. Minho meletakkan cangkir tehnya seraya memasang tatapan ‘kenapa?’

“Tadi…, kau mau bilang apa?” tanya Yuri.

“Ah…, aniyo. Jangan sekarang. Oh, sudah pukul lima sore. Aku ada janji dengan klien. Annyeong,” Minho tiba-tiba pergi meninggalkan rumah Yuri.

“Minho, mau ke mana!” Yuri hanya bisa kebingungan menatap punggung Minho yang mulai menjauh.

 

Drrt~ Drrt~

“Tiffany?” Yuri menanggapi telepon dari Tiffany seraya memakan sepotong apel.

“Yuri-ah, kau sedang apa? Aku membuat pasta, kita makan bersama di rumahmu, ya?”

“Oke. Kebetulan aku lapar. Cepatlah,” Yuri menekan tombol merah seraya melanjutkan makan apelnya.

 

Ting~Tong~

Yuri berjalan menuju pintu seraya merapikan pakaian dan rambutnya. Di hadapan Tiffany, dia harus terlihat sempurna. Itu satu-satunya cara agar Tiffany menyadari bahwa memiliki pacar bisa membuatnya lebih cantik.

“Yuri-ah~” sapa Tiffany dengan eye smile nya. Kali ini dia sangat cantik.

“Ini kau, Fany? Cantik sekali!” puji Yuri.

“Ah, aniyo… Kkaja! Kita makan!”

 

“Sepertinya Minho baru saja pergi,” tebak Tiffany saat melihat meja tamu.

“Yup! Hari ini kami hampir berciuman!” kabar Yuri seraya mengambil pasta dari tangan Tiffany.

“Ne?” Tiffany terbelalak. Yuri tersenyum sedikit malu.

“Aniyo… Aku belum rela kehilangan first kissku!” tanggap Yuri. “Aku siapkan pastanya dulu, ya!” lanjut Yuri seraya berlari kecil ke dapur. Tiffany duduk di kursi tamu Yuri. Ditatapnya secangkir teh yang mungkin tadi dipakai Minho. Diambilnya cangkir itu dan dicicipinya teh yang masih tersisa di dalamnya.

“Teh hijau, eh?” ucapnya sebelum akhirnya menyusul Yuri di dapur.

 

“Apa yang akan kau lakukan bila ciuman pertamamu adalah ciuman terakhirmu dengan Minho?” tanya Tiffany tiba-tiba sambil beranjak duduk di ruang makan. Tepatnya di belakang Yuri.

“Mwo? Ada apa kau menanyakannya?” tanya Yuri seraya berbalik menatap Tiffany sebentar lalu kembali menyiapkan pasta.

“Aniyo… Aku hanya penasaran dengan yang terlintas dipikiranku saja,” ucap Tiffany. Yuri berbalik menatap Tiffany.

“Euh… molla. Lagipula itu tidak akan terjadi. Kami berdo’a kami akan selamanya bersama. Tuhan pasti mengabulkannya,” ucap Yuri sebelum akhirnya meletakkan dua piring pasta di meja makan.

“Wae? Bagaimana kau bisa yakin kalau Tuhan akan mengabulkannya?” tanya Tiffany.

“Molla. Tapi begitulah kata hatiku. Ayo makan!”

 

***

Jam dinding menunjukkan pukul 12.00 malam. Yuri masih belum bisa tidur. Kalau sudah begini, biasanya akan terjadi sesuatu besok.

“Apa-apaan ini?” gumam Yuri.

 

Drrt~ Drrt~

Pagi tiba, ponsel Yuri bergetar. Ada sms.

From: Nae Minho

“Datanglah ke cafe tempat kita berkencan pertama kali.”

 

Yuri meraih sweaternya. Memang, di luar sedang hujan salju. Dengan semangat cinta, Yuri berjalan menyusuri jalan setapak dan sesekali merapikan rambutnya. Hujan salju adalah hal yang palin dibencinya. Berbeda dengan Tiffany, hujan salju adalah hal yang palin menarik hatinya.

 

“Kenapa menyuruhku keluar saat hujan salju begini? Kau kan tahu kalau aku tidak suka hujan salju,” gerutu Yuri seraya duduk di depan Minho. Minho menatap ke luar jendela sebentar.

“Aku suka hujan salju.”

“Mwo? Kau bilang…, kau tidak suka hujan salju,” ucap Yuri dengan agak menyipitkan mata.

“Aniyo. Aku suka. Sangat suka.”

Yuri hanya bisa diam di depan Minho yang juga diam. Bukan diam, tapi mengacuhkannya.

“M… Minho-ah,” panggil Yuri.

“Ne?” tanya Minho.

“Katakan sesuatu…,” pinta Yuri.

“Ah, iya,” Minho terdiam sejenak. “Yuri-ah, apabila aku meninggalkanmu, ani. Apabila aku menikah dengan yeoja lain, kau akan memaafkanku?”

“MWO? Tentu… tidak!”

“Bahkan bila aku tidak mencintainya dan tetap mencintaimu?”

“Hanya aku, yang kau cintai, yang boleh kau nikahi,” tanggap Yuri dengan emosi manisnya. Minho terdiam.

“Mendekatlah,” pinta Minho. Yuri langsung mendekatkan wajahnya.

Chu~

Wajah Yuri memerah, matanya terbelalak. Minho menciumnya dan ini sama-sama ciuman pertama mereka.

“Uwah!” Yuri mendorong kepala Minho. “Minho-ah,” ucap Yuri sambil menutup bibirnya. Minho tersenyum.

“Aku hanya ingin meyakinkanmu bahwa apapun yang terjadi, aku mencintaimu.”

 

***

“Tiffany!!!” entah bagaimana keadaan telinga Tiffany sekarang karena Yuri berteriak melalui telepon.

“Ah, wae?! Telingaku sakit!”

“Oh, mian… Tapi… tapi…, Minho menciumku!!!”

“Jinjayo?! Eotte?!”

“Rasanya… seperti terbang ke langit ke tujuh…”

“Yuri-ah, jangan terbang terlalu tinggi. Itu tidak menutup kemungkinan kau akan jatuh besok!” nasehat Tiffany.

“Ah, wae???”

 

Malam pun datang. Lagi-lagi, Yuri tidak bisa tidur dan hanya bisa menghitung domba-domba yang ada di pikirannya. Domba kali ini adalah yang ke 127. Akan ada sesuatu yang akan terjadi besok. Yuri terus menebak-nebak. Hari ini Minho menciumnya, apa besok dia akan melamarnya?

***

 

May 2 2012

“Hari ini aku akan mengajak Minho ke taman kota. Pasti menyenangkan,” gumam Yuri seraya mengeringkan rambutnya. Angan-angannya melayang bahkan hingga jenjang pernikahan.

“Sudah lama sekali aku tidak memeriksa kotak surat. Adakah surat untukku?” ucapnya. AKhirnya diputuskannya untuk memeriksa kotak surat.

“Eum…, ada!” Yuri tersontak saat tangannya berhasil menemukan sesuatu di kotak surat. Undangan pernikahan.

 

Akan selalu berbahagia dalam lingkar cinta:

Choi Minho

&

Hwang Stephanie

“MWO???!!!”

To be continued…