hey, this is andee speaking (?) and this is my first time post karena tugas kuliah yg mahabikinstress akhirnya aku baru bisa posting ini ff jugaa. wish you enjoy with this story yg sebenernya agak-agak cheesy dan terinspirasi dari FTV🙂

The main cast :

Choi Siwon

Han Hyura

and another support casts

Siwon’s

Aku menjejakkan Pierre Cardine limited edition yang baru saja aku dapatkan tiga hari lalu di jalanan setapak tanah ini. agak menyesal kenapa tadi aku tidak menggunakan boot karet milik supir saja. Sejauh mata memandang hanya hutan dan rumah kecil pedesaan. Dan disinilah nantinya aku akan menetap selama seminggu demi kebutuhan syuting drama terbaruku.

“Yaaa, Siwon-ah lepaskan sepatumu itu, gantilah dengan ini.” ujar manajer hyung sambil mengangsurkan sebuah boot karet.

Aku menyipitkan mataku, “shireo. Aku baik-baik saja dengan ini.”

Manajer hyung menghembuskan nafas, “kita ini di desa, bukan di Seoul. Palli.”

Aku menghembuskan nafas kemudian menukar sepatu ratusan dollar-ku ini dengan sendal boot karet yang baru saja ia angsurkan.

Untuk mendapatkan scene dengan atmosphere yang benar-benar pedesaan, maka akhirnya disinilah aku terdampar. Desa ini sangat terpencil, jangan bayangkan ada departement store atau minimal minimarket. No, jangan bayangkan. Disini bahkan tidak ada hotel, jadi semua kru menginap di rumah kepala desa. Baiklah, hanya seminggu Choi Siwon, bertahanlah.

Aku berjalan mengikuti manajer hyung menuju rumah kepala desa, dimana kami akan menginap setidaknya satu minggu disini. Atau aku harap lebih cepat.

“Kyaaaaaaaaaaa…. Choi Siwon-ssi!!” aku bisa mendengar jeritan seorang gadis, mungkin anak kepala desa. Aku tersenyum tipis.

“Min Ahn-ya jaga suaramu. Maafkan anakku Siwon-ssi. Selamat datang.” Ujar kepala desa itu ramah, aku tersenyum.

Min Ahn langsung bergelayut di lenganku, aku hanya bisa tersenyum hambar sambil berusaha melepaskan tangannya dari lenganku dan akhirnya berhasil.

“Siwon-ssi, kau lebih tampan dari di TV ternyata.” Pujinya.

Tentu saja, bathinku. Tapi aku hanya tersenyum.

“Yaaa Min Ahn, Siwon-ssi pasti lelah. Lepaskan dia.” Ujar kepala desa.

“Shireo. Appa, biar aku yang antarkan Siwon-ssi ke kamarnya.” Pinta Min Ahn.

“Andwae, ah tunjukkan saja ruangannya. Aku… aku tidak mau merepotkan.” Ujarku, sudah bisa menangkap gelagat buruk gadis ini akan tidur di dekatku. Tidak, aku ke sini untuk syuting bukan untuk menghamili siapapun. Apalagi Min Ahn. Dia sama sekali bukan tipeku.

“Aniyo, Siwon-ssi aku akan mengantarmu.” Dia bersikeras.

Aku melirik manajer hyung, minta bantuan. Tapi dia hanya tersenyum penuh ejekan.

Aku pasrah.

**

Author’s

Hyura baru saja selesai memeriksa seorang nenek yang katanya mengeluh seluruh tubuhnya pegal-pegal pagi itu dibantu Ahn Young, asistennya yang merupakan warga asli desa itu. sudah hampir satu tahun Hyura bekerja secara sukarela di klinik kecil di desa terpencil ini. niatnya dari awal menjadi seorang dokter adalah menolong siapapun yang membutuhkannya. Untuk itulah ia berada disini. Sebuah desa yang bahkan belum terjamah teknologi. Semua warganya masih begitu kekeluargaan dan saling membantu. Tidak ada pemandangan gedung-gedung pencakar langit seperti di kota kelahirannya, Seoul. Yang ada adalah rimbunan pohon pinus dan riuh bunyi jangkrik ketika malam tiba. Atau ketika musim semi, banyak kunang-kunang di sekitar desa. Hyura adalah satu-satunya tenaga medis di desa ini, rumah sakit begitu jauh dari desa. Setidaknya, warga harus berjalan sekitar 1 jam untuk mencapai rumah sakit terdekat. Desa ini juga belum terjangkau oleh angkutan umum. Kebanyakan warga disini menggunakan sepeda. Hanya beberapa warga saja yang memiliki kendaraan seperti mobil bak terbuka. Dan jumlahnya bisa dihitung dengan jari.

“Jangan lupa diminum obatnya nenek, nenek harus banyak istirahat, arraseo?” ujar Hyura dengan senyum lembut.

“Nee… ah, kau dokter yang cantik dan baik hati. Kamsahamnida.” Ujar si nenek sambil beranjak pergi membawa obatnya.

Hyura tersenyum, “hati-hati nenek.”

Si nenek melambaikan tangan sambil tersenyum.

“Dokter, kau tau artis Choi Siwon ada di desa kita.” Ujar Ahn Young antusias.

“Choi Siwon? oh ya?” jawab Hyura, tidak begitu antusias mendengarnya. Ia bahkan tidak tau siapa artis yang baru saja disebutkan oleh Ahn Young.

“Ne! Kata Min Ahn dia sangat tampan. Dia menginap di rumah kepala desa sekarang. Apa dokter tidak berminat melihatnya?” tanya Ahn Young lagi.

Hyura tersenyum, “aku bahkan tidak tau siapa itu Choi Siwon.”

“Mworago?! Dok.. dokter kan berasal dari Seoul.” Ujar Ahn Young tidak percaya.

Hyura tersenyum lagi, “aku hanya menetap sebentar di Seoul setelah lulus dari Inggris, Ahn Young. Jadi aku tidak begitu paham perkembangan dunia hiburan disana.” Jelasnya.

“Tapi Dokter, ini Choi Siwon. eum, Chakaman. Ayo kita melihat dia.” Ajak Ahn Young antusias dan dijawab dengan senyum oleh Hyura.

“Lalu kalau tiba-tiba ada pasien bagaimana?” tanya Hyura.

Akhirnya Ahn Young mengalah.

“Ahn Youngie, kalau kau mau melihat artis itu kau bisa pergi.” Ujar Hyura.

“Jinjja?” mata Ahn Young sekarang penuh binar.

Hyura mengangguk mantap, “aku bisa berjaga sendiri disini. Asal kau tidak menginap seminggu saja disana.”

Ahn Young menggenggam tangan Hyura, “aaaah jeongmal gomawoyo Dokter. Aku akan segera kembali.”

Sejurus kemudian Ahn Young sudah menghilang, melihat syuting yang dilakukan oleh Siwon di dekat rumah kepala desa. Sedangkan Hyura hanya mampu tersenyum sambil menggelengkan kepala saja.

“Cut! Kita istirahat dulu.” Ujar sutradara.

Siwon langsung beranjak dari tempatnya dan duduk di kursi yang sudah disiapkan. Asistennya langsung menyodorkan sebotol air putih untuk Siwon. lokasi tempat mereka syuting dikelilingi beberapa gadis. Memang hanya beberapa. Karena memang tidak semua warga di desa ini memiliki TV yang artinya, tidak semuanya mengenal Siwon sebagai artis.

“Choi Siwon-ssi, hwaiting!” suara Min Ahn.

Siwon hanya menarik bibirnya, memaksakan diri untuk tersenyum.

Manajer hyung menyodorkan script untuk dipelajari lagi. Baru membaca satu kalimat, suara Min Ahn sudah memecah konsentrasinya.

“Siwon-ssi Hwaiiiiitttiiiiinggggg!!!!!” Teriaknya.

Siwon menghela nafas malas kemudian menarik script itu hingga menutupi wajahnya.

“Yaaa, hyung aku tidak bisa berkonsentrasi mendengar teriakan gadis itu. bawa aku pulang segera.” ujar Siwon

Manajer hyung tertawa kemudian menepuk-nepuk bahu Siwon, “bertahanlah nak.”

Siwon makin mendengus kesal mendengar gurauan manajernya itu.

“Ayo kita mulai lagi.” Ujar Sutradara.

**

Hyura’s

Hampir malam aku baru menutup klinikku dibantu Ahn Young dan Young Jun, kakak Ahn Young. Biasanya aku tutup pukul 5 sore dan bisa dihubungi kapanpun di rumahku, di rumah Ahn Young. Fossil watch kesayanganku sudah menunjukkan pukul 7 malam, dan jarak dari klinik sampai home stay-ku sekitar 15 menit berjalan kaki.

“Dokter, artis Choi Siwon benar-benar tampan.” Ujar Ahn Young, kembali menyinggung soal artis yang katanya baru datang ke desa ini.

“Benarkah? Ah, tentu saja diakan artis.” Jawabku ringan.

Jujur saja, aku tidak tau bagaimana Choi Siwon itu. menurut cerita Ahn Young, dia adalah anggota super junior yang paling tampan. Aku pernah mendengar nama boyband itu debut sebelum aku berangkat ke Inggris untuk mengambil sekolah kedokteran, tapi begitu menyelesaikan studiku aku hanya menetap beberapa minggu di Seoul kemudian pindah ke desa ini. begitu saja.

“Dia ramah dan banyak tersenyum.” Puji Ahn Young lagi

“Yaaa, Youngie tentu saja dia banyak tersenyum, dia tidak mungkin marah-marah, dia harus menjaga imej-nya.” Timpah Young Jung.

Dua kakak beradik ini selalu bertengkar. Tapi aku menyukai keduanya. Youngie baru berusia 17 tahun tapi dia gadis yang cerdas dan cekatan, sedangkan kakaknya Young Jung sebenarnya baik hati dan sangat melindungi. Mereka hanya berbeda satu tahun.

“Ah dokter Han, mampirlah.” Suara seorang kakek.

Aku hanya tersenyum, “lain kali kakek, ini sudah malam.”

“Arraseo. Hati-hati, Young Jung-ya jaga dokter Han dan adikmu.” Pesan si kakek.

“Neee kakek.” Jawab Young Jung sopan.

Rumah kepala desa memang kelihatan ramai. Rumah Ahn Young dan Young Jun tidak jauh dari rumah kepala desa, dan untuk sampai ke rumah tinggalku itu, kami harus melewati rumah kepala desa.

Kami bertiga langsung membungkukkan badan begitu melihat kepala desa.

“Aaaaaah dokter Han, kemari kemari.” Ajak kepala desa.

Kami bertiga saling berpandangan kemudian mendekat ke arah kepala desa.

“Anyeong kepala desa, ada apa?” tanyaku sopan.

Ahn Young menyikutku kemudian menunjuk satu arah. Ke arah pria yang sedang duduk sambil memegangi ponselnya dan mendengarkan musik dari situ. Bibir Youngie mengucap kata ‘Si-won’ aku hanya tersenyum tipis.

“Dokter Han, kenalkan ini tamu-tamu dari Seoul.” Ujar kepala desa.

Aku membungkukkan badanku sedikit.

“Ini dokter Han, satu-satunya tenaga medis disini.” Ujar kepala desa mengenalkanku. Aku tersenyum.

Seseorang menyikut lengan pria bernama Siwon itu, dan Siwon sepertinya merasa terganggu dan tidak suka. Oh yeah, apparently boy with no attitude?

Dia sempat melirikku sekilas sebelum akhirnya kembali memandangku dengan mata sipitnya. Apaa? Apa ada yang salah denganku?

Siwon’s

“Namanya Han Hyura, panggil saja Hyura.” Kepala desa itu mengenalkan gadis di depanku ini. dia memang kelihatan paling menonjol di antara yang lain. Kelihatan eum.. lebih modern dan cantik. Aku memang sempat memandangnya sejenak, terpesona? Mungkin. Anggap saja dia seperti fatamorgana ditengah gurun pasir.

“Siapa dia?” tanyaku enteng, membuat manajer hyung langsung melotot ke arahku.

Aku mengkernyitkan keningku bingung kemudian beralih memandang Hyura. Dia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

“Dia adalah dokter disini Siwon-ssi.” Ujar kepala desa.

“Oh…” responku.

“Kepala desa, aku pamit dulu. Sudah malam.” Pamit gadis itu, sopan. Sangat sopan.

“Dokter Han, apa tidak mau makan malam dulu disini bersama kami?” tanya kepala desa.

Aku masih lekat memandangi wajahnya. Semakin lama memandanginya, aku melihat sesuatu entah apa yang membuatnya begitu menarik malam ini bahkan hanya dengan terpaan lampu temaram. Bukan cantik. Wanita cantik banyak di Seoul, tapi dia punya sesuatu yang berbeda.

“Maaf kepala desa, ini sudah malam. Ahn Young dan Young Jung pasti juga sudah lelah.” Jawabnya masih sangat sopan.

“Aaaah arraseo.”

“Kami permisi. Anyeong.”

Dia sempat tersenyum tipis ke arahku, membuatku terpaku sejenak kemudian dia berlalu.

“Dia dokter muda yang hebat.” Puji kepala desa.

“Waeyo?” tanya manajer hyung.

Diam-diam aku mendengarkan dengan seksama, tapi pura-pura menggunakan earphone-ku. Padahal aku tidak mendengarkan musik apapun. Aku masih tertarik dengan gadis tadi.

“Dia lulusan luar negri, lulus kemudian mengabdikan dirinya di desa ini hampir setahun.” Lanjut kepala desa.

“Dia gadis yang luar biasa.” Puji manajer hyung.

“Dia juga baik dan menolong tanpa kenal waktu.” Jelas kepala desa lagi.

Manajer hyung melirikku, aku mengangkat dua alisku.

“Yaa, Siwon-ah kalau kau mau mendengarkan jangan pura-pura menyumpal telingamu itu. aku tau kau terpesona.” Tegur manajer hyung setengah tertawa membuat aku salah tingkah seketika.

**

Hyura’s

Siang itu ketika aku hendak menyusul Ahn Young makan siang di rumahnya, aku melihat artis itu sedang sibuk menggoyang-goyangkan iPhone-nya di udara. Mau apa dia? Mencari sinyal? Aku hendak melewatinya, jujur saja melihat attitude-nya semalam itu aku enggan bertegur sapa dengannya.

“Yaa, Hyura. Kau Hyura kan?” dia malah memanggilku. Apa? Dia memanggilku apa? Hyura? Dia pikir aku teman dekatnya apa.

Dengan malas aku menoleh ke arahnya, “wae?” jawabku agak galak. Jujur saja aku agak kaget sendiri menyadari responku padanya.

Dia menatapku kaget, “yaaa.. kenapa kau galak sekali.”

Aku menghela nafas, “ne, ada yang bisa aku bantu Siwon-ssi?”

“Aku tidak mendapatkan sinyal dari dua hari lalu. Kau tau dimana tempat mendapatkan sinyal disini?” tanyanya.

Aku menunjuk satu arah di belakangnya, sebuah bukit. Dia menoleh sejenak kemudian kembali menatapku seolah-olah aku habis menunjukkan ada kadal terbang dibelakangnya.

“Kau bercanda?”

Aku menggeleng, “memang disana tempat paling baik mendapatkan sinyal.”

Dia menghembuskan nafas. Wajahnya kelihatan frustasi. Ah, aku jadi ingat pertama kali tinggal disini. Setiap hari aku selalu berwajah putus asa seperti dirinya karena keterbatasan semua ini. aku jadi tidak tega.

“Kalau kau mau, aku bisa mengantarmu. Sebenarnya tempat itu tidak begitu jauh.” Ujarku kemudian.

Dia memandangku sejenak.

“Jadi kau sudah setahun bekerja sebagai dokter disini? Apa tidak bosan?” tanyanya, kami sedang berjalan menuju ‘bukit sinyal’ demi kepentingian socialize-nya.

“Awalnya hampir bunuh diri karena putus asa.” Jawabku asal.

“Benarkah?” matanya membesar.

Aku tertawa, “tentu saja tidak. Aku hanya bercanda. Tapi awalnya memang sulit.”

“Lantas kenapa kau bertahan? Kau jatuh cinta dengan salah satu pria disini?”

Aku hendak mencekiknya. Tapi sepertinya itu bukan tindakan yang sopan. Jadi aku hanya tersenyum saja.

“Karena kewajibaku menolong orang.” Jawabku akhirnya.

Dia kembali menatapku dengan tatapan seperti tadi malam. Membuat aku risih dan perasaan aneh menjalari persendianku. Apa sebenarnya yang sedang ia pikirkan?

“Waeyo?” tanyaku.

Dia menggeleng, “ani.”

Aneh!

Tidak berapa lama kemudian kami akhirnya sampai.

“Nah, disinilah tempatnya. Selamat berkomunikasi.” Ujarku hendak pergi.

Tapi tiba-tiba ia meraih pergelangan tanganku, membuat sensasi aneh menjalari tubuhku.

Dia dan aku saling bertatapan.

“Bagaimana kalau aku hilang?” dia bertanya tanpa melepaskan genggamannya.

“Jangan bercanda Tuan Choi, kau itu sudah dewasa. Lagipula kau tinggal jalan lurus ke depan dan voila, kau sampai. Arraseo?”

“Shireo. Tunggu aku. Aku hanya sebentar.”

Aku menghembuskan nafas, “tapi aku sudah ada janji dengan Ahn Young.”

“Sebentar. Hanya sebentar.”

Siwon’s

Aku baru sadar tidak melepaskan pergelengan tangannya dari aku menahannya tadi hingga aku selesai menghubungi keluargaku di Seoul.

“Bagaimana? Bisa kau lepaskan tanganku sekarang? Aku tidak akan kabur.” Ujarnya.

Dengan cepat aku melepaskan tangannya.

Kami berdua kemudian menuruni bukit ini.

“Mau kemana kau setelah ini?” tanyaku. Kenapa aku jadi ingin tau rencananya?

“Ke rumah Ahn Young.” Dia kemudian melihat jam tangannya, “ah andwae. Ini sudah habis jam makan siang. Sebaiknya aku ke klinik saja.”

Jadi dia mengorbankan jam makan siangnya yang sempit itu demi mengantarku mencari sinyal? Aaaah ada perasaan yang tidak enak menjalariku.

“Biar aku antar.” Ujarku kemudian.

Dia menggeleng pelan, “kau pasti sangat sibuk. Kembalilah ke lokasi syuting-mu.”

“Tidak, tidak. Aku akan mengantarmu.” Aku bersikeras.

Dia hanya tersenyum saja akhirnya, mengalah.

Begitu sampai di klinik yang ternyata sangat kecil ini, seorang gadis langsung menatap khawatir ke arah Hyura.

“Dokter kau kemana? Aku, Eomma dan Jung oppa menunggumu.” Ujar gadis itu.

“Miana Youngie, aku tadi ada urusan sebentar.” Jawab Hyura sambil tersenyum

Dia kemudian melirik ke arahku dan aku langsung bisa menangkap binar kagum disana. Aku tersenyum seadanya saja.

“Dengan Siwon-ssi?” tanyanya, masih dengan binar kekaguman.

Hyura mengangguk, “aku hanya mengantarnya mencari sinyal.”

“Aaaah arraseo.”

“Baiklah, aku permisi dulu kalau begitu.” Pamitku kemudian.

“Ah ne, hati-hati Siwon-ssi.” Ujar gadis itu.

Hyura mengangguk, “kamsahamnida. Apa perlu aku gambarkan peta agar kau tidak tersest?”

Aku menyipitkan mataku, barusan dia bilang apa?

“Maksudmu?” tanyaku agak sebal.

Dia tertawa, “ani.. ani.. hati-hati.”

Aku melambaikan tanganku kemudian keluar dari klinik itu. tawanya… eum… mempesona!

**

Author’s

Hampir tengah malam ketika pintu kamar Hyura diketuk oleh nyonya Kim. Dengan langkah gontai Hyura keluar dari kamarnya.

“Hyura-ssi… Yuri akan melahirkan.” Ujar Ny. Kim terbata.

“Mworago?” mata Hyura langsung membulat.

Di desa ini, tidak ada dokter kandungan. Sekali lagi, Hyura adalah satu-satunya tenaga medis disini. Mau tidak mau ia harus ambil tindakan. Dengan langkah cepat ia keluar dari rumah Ny. Kim dan menuju rumah Yuri, yang merupakan anak kepala desa juga. Begitu menemukan Yuri di kamarnya, ibu muda itu sudah banyak berkeringat. Hyura menelan ludah. Ia dokter umum, bukan spesialis. Apalagi spesialis kandungan.

“Dokter Han, aku mohon tolong anakku.” Ujar kepala desa.

Hyura tersenyum mencoba menenangkan kepala desa. Padahal dirinya sendiri panik luar biasa. Ia tidak mahir urusan melahirkan. Hanya sekali ia pernah melihat Eomma-nya yang memang dokter kandungan menolong ibu hamil di rumahnya.

“Eotokke.” Gumam Hyura pelan.

Tiba-tiba sebuah tangan meremas bahunya lembut sambil mengangguk. Siwon.

Hyura hanya tersenyum saja. Menutupi segala kepanikannya.

Hampir dua jam akhirnya Yuri melahirkan bayi laki-lakinya dengan selamat. Keduanya selamat. Hyura berjalan dengan langkah lemah menuju teras rumah. Beberapa orang yang berpapasan menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih. Hyura sebisa mungkin tersenyum, walau ia merasakan persendiaannya hampir saja luluh karena peristiwa yang baru pertama kali ia hadapi. Dia benar-benar menolong seorang wanita melahirkan, antara hidup dan mati. Hyura terduduk lemas di teras seorang diri. Sementara yang lain sibuk di kamar Yuri, kedengaran sangat bahagia.

“Kau bahkan lupa mengenakan baju hangat.” Siwon muncul dan menyampirkan coat-nya ke bahu Hyura.

Hyura menatap Siwon sejenak kemudian menghela nafas panjang, “rasanya tadi aku tidak sempat bernafas didalam.” Ujar Hyura.

Siwon tertawa, “aku tau. Tapi di dalam tadi kau sangat hebat. Kau seperti suporter bola yang sedang mendukung tim unggulanmu.”

Mau tak mau Hyura tersenyum juga. “Gomawo.”

“Untuk apa?”

“Untuk semangat yang kau berikan tadi, gurauan konyolmu ini dan jaket.” Ujar Hyura sambil tersenyum tulus.

Tiba-tiba Siwon merasakan jantungnya berdegup tidak karuan. Tidak pada speed normal.

“Ah.. ye, ah biasa saja.” Jawab Siwon salah tingkah sambil menggaruk belakang kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.

“Dokter Han.. upss…” Ahn Young langsung mengurungkan niatnya begitu melihat Hyura dan Siwon duduk bersebelahan.

“Yaaa, Youngie, waeyo?” tanya Hyura buru-buru.

“Eum… anii.. Yuri eonnie mau bicara denganmu.” Ujar Ahn Young

“Oh ne. Aku masuk dulu Siwon-ssi.” Pamit Hyura.

Siwon mengangguk.

Samar-sama Siwon bisa mendengar Ahn Young menggoda Hyura yang bersamanya tadi. Membuat segurat senyum pada bibir Siwon.

**

Author’s

Syuting hari berikutnya lebih cepat dari dugaan karena semuanya berjalan lancar sesuai rencana. Menjelang sore, Siwon dan seluruh kru sudah berada di rumah kepala desa untuk beristirahat.

“Kalau besok berjalan seperti ini juga, besok sore kita sudah bisa pulang.” Ujar manajer hyung sambil menyodorkan sebotol air putih kepada Siwon.

“Mwoya? Kenapa cepat sekali?” tanya Siwon sambil menerima botol air itu.

Manajer hyung mengkernyitkan keningnya, “bukannya dari kemarin kau meminta pulang terus? Kenapa sekarang malah kelihatan tidak senang?”

Siwon jadi salah tingkah sendiri, “ah? Ah, shireo.”

Manajer hyung tersenyum usil, “Yaaa Siwon-ah, kau jatuh cinta ya pada dokter itu?”

“Mwoya? Andwae. Aku bahkan baru beberapa kali bertemu dengannya. Bagaimana bisa?” tanya Siwon, masih kikuk salah tingkah.

Manajer hyung tersenyum penuh arti. Dia kenal betul siapa pria di sebelahnya ini. sudah lebih dari 5 tahun ia mengenal Siwon, dan ia tau bagaimana gelagat pria ini kalau sedang jatuh cinta.

“Arra… arra.. tidak perlu salah tingkah seperti itu.” ujar manajer hyung sambil meninggalkan Siwon.

Siwon menghembuskan nafas kesal. Siwon kemudian ikut beranjak pergi. Mencari pemandangan lain di desa ini. salju mulai turun walau tidak begitu deras. Udara dingin membuat Siwon merapatkan armani coat-nya. Ia akhirnya memilih ke bukit sinyal. Sudah sejak dua hari yang lalu sejak ia terakhir kali mengecek ponselnya. Samar-samar dari kejauhan Siwon melihat sosok yang ia kenal sedang berdiri di atas bukit sinyal dengan ponselnya.

“Eomma, seminggu lagi oke? Ah, shireo aku berjanji seminggu lagi.” Ujarnya.

Kemudian dia tertawa, tawa entah sudah beberapa kali mampu menghipnotis Siwon.

“Arraseo, anyeong Eomma saranghe.”

Kemudian gadis itu membalik badannya dan menemukan Siwon tengah memandanginya. Seketika Siwon mengalihkan pandangannya.

“Mencari sinyal juga?” tanya Hyura.

Siwon mengangguk berjalan mendekatinya, “kau juga?” tanya Siwon, basa-basi.

Hyura mengangguk sambil tersenyum, “baiklah aku duluan kalau begitu.”

“Ah Hyura-ssi.” Tiba-tiba Siwon memanggil Hyura.

“Hm?”

“Ah, ani. Hati-hati jalanan licin.” Pesannya.

Hyuran tersenyum kemudian mengangguk dan berjalan. Tapi tiba-tiba..

“Hyaaaaa….” Hyura berteriak, brukk!!

Tubuhnya jatuh di atas hamparan tipis salju. Dengan sigap Siwon lantas menghampiri gadis itu.

“Gwenchana?” tanya Siwon khawatir.

Hyura mengambil posisi duduk, “gwenchanayo.” Jawabnya sambil meringis kesakitan.

“Kau yakin?” tanya Siwon sekali lagi.

Hyura mengangguk hendak berdiri tapi kemudian ia kembali terduduk lagi, pergelangan kakinya terkilir. Siwon yang melihat itu geleng-geleng kepala kemudian meraih tubuh Hyura dan menariknya ke punggungnya.

Siwon’s

Aku tersenyum melihat Hyura yang aku gendong di belakangku dari tadi terus memberontak minta diturunkan. Beberapa warga desa yang melihat kami tersenyum penuh arti, kebanyakan dari mereka menanyakan kenapa Hyura. Aku bersyukur disini tidak ada media. Aku bisa leluasa.

“Yaaa, Siwon-ssi turunkan aku! Aku baik-baik saja.” Protes Hyura sambil memukul pelan bahuku.

“Kau tidak bisa berjalan dokter Han, nanti pergelangan kakimu tambah parah.” Jawabku datar sambil tersenyum.

“Ah shireo, aku baik-baik saja. Aku malu, yaa!” dia kembali protes.

“Kalau kakimu tambah parah, nanti kau tidak bisa mengobati warga disini dokter Han.”

Akhirnya dia diam juga.

Begitu sampai di rumahnya, Ahn Young dan kakak laki-lakinya langsung sibuk mengerubungi kami. Begitu juga dengan Ibu Ahn Young, dia kelihatan sangat khawatir. Sepertinya disini Hyura begitu dicintai. Bukan  hanya di rumah ini, tapi juga di desa ini.

“Ambilkan air hangat, tolong.” Ujarku setelah menaruh Hyura di kamarnya.

Ahn Young mengangguk sigap. Tidak berapa lama ia kembali dengan sebaskom air hangat dan handuk kecil.

“Aku baik-baik saja Siwon-ssi.” Ujarnya mencoba menarik kakinya ketika aku hendak memijat pergelangan kakinya.

“Buka coatmu.” Ujarku kemudian.

“Mwoya? Andwae!” dia bersikeras.

Aku menghembuskan nafas, “jangan berfikir macam-macam. Lenganmu pasti ada yang terluka.”

Dia memandangku sejenak, akhirnya melepas coat-nya juga.

Bukan hanya pergelangan kakinya saja yang terluka, tapi lengan dan telapak tangannya juga. Aku mengusap beberapa luka lecet ditangannya dengan air hangat, dan dia mendesah kesakitan.

“Kau bilang tidak apa-apa?” tanyaku lagi, setengah menggoda.

Ia membuang wajahnya. “Aaaassh… pelan-pelan.”

Aku tersenyum, “dokter juga butuh oranglain bukan?”

“Aku tidak pernah berkata kalau aku tidak butuh orang lain.” Jawabnya cepat.

Aku kemudian meraih pergelangan kakinya, “tahan ini akan sedikit….”

“Kyaaaaaaaaaaa…” dia langsung berteriak ketika aku memutar pergelangan kakinya.

Setelah itu…

“Ah, sudah tidak apa-apa.” Dia tersenyum sambil memutar-mutar pergelangan kakinya.

Aku kembali menarik kakinya kembali dan membungkusnya dengan handuk hangat, “jangan banyak bergerak dulu. Nanti bisa bengkak lagi, aracchi?”

“Emm..” dia mengangguk patuh.

“Gomawo.” Ujarnya kemudian sambil tersenyum.

Hais, senyum itu. aku memandanginya. Mungkin aku mengerti sekarang apa yang berbeda dari gadis ini. dia selalu melakukan apapun dengan tulus, dari hatinya. Itulah kenapa senyumnya terasa begitu menyejukkan. Dan mungkin inilah alasan kenapa dia begitu dicintai disini, karena ketulusannya.

“Wae?” tanyanya kemudian membuatku tersadar.

“Ah, ani.” Jawabku cepat.

“Yaa Siwon-ssi, apa syutingmu sudah selesai?” tanya Hyura

Aku mengangguk, “kalau besok juga berjalan lancar, aku akan kembali ke Seoul besok sore.”

“Jinjja? You must be so happy, right?”

Aku tersenyum, “seharusnya.”

“Seharusnya? Jangan bilang kau juga sudah jatuh cinta dengan desa ini?” tanyanya.

“Mungkin. Mungkin juga padamu.”

Hyura’s

“Mungkin. Mungkin juga padamu.” Jawabnya membuat tenggorokanku tercekat. Aku memandangnya dalam. Kemudian tertawa. Aku anggap itu lelucon dan dia sedang menggodaku.

“Kenapa kau tertawa?” tanyanya.

“Kau lucu.” Jawabku, entah hanya itu yang terlintas di kepalaku. Sebenarnya degup jantungku sedang berdetak tidak beraturan.

“Ah jinjja.” Keluhnya, “baiklah ini sudah malam. Istirahat, jangan melompati pagar.”

“Yaaa, memangnya aku pencuri.” Jawabku kesal.

Dia tersenyum kemudian beranjak berdiri, “anyeong dokter Han.”

“Ne, anyeong Siwon-ssi. Sekali lagi terima kasih.” Jawabku sambil tersenyum.

Dia memandangku sejenak, dengan gerakan cepat dia meraih daguku dan mencium bibirku sekilas, “good night Hyura.”

Dia kemudian berlalu. Meninggalkan aku yang masih membeku. Harusnya aku marah karena dia tidak sopan sudah menciumku seenaknya. Harusnya aku menamparnya atau menghardiknya. Tapi kenyataannya, aku malah mematung. Otak rasionalku mungkin berontak, marah. Tapi hati dan tubuhku, sedang membangkang terhadap kinerja otakku.

*CONTINUE*