Title : My Fake Ordinary Wife (part8)

Author : Lumie

Main Cast : Kim Jongwoon/Yesung(Super Junior), Shin Hyeni (OC), Park Yunhee(OC), Lee Hongki(FT Island)

Support Cast : Lee Hyukjae, Lee Eunri, Lee Donghae, Shim Changmin, Kim Yoojin/Uee

Rating : G

Genre : romance, comedy, drama

Ps : Aku masih baru di bidang per ff-an. Ini adalah ff pertamaku dan aku sendiri baru belajar nulis ff. Aku mau ucapin makasih buat chingudeul yang udah setia baca ff ini dan komen… aku juga makasih banget atas dukungan chingudeul semuanya.. gak nyangka ff ini banyak peminatnya… *terharu* ff ini udah author publish di blog author yang baru ajah di buat belum lama ini Lumie’s World

Disclaim : ff ini murni buatan dan hasil pikiran author sendiri yang dibuat dengan susah payah, tolong dihargai dengan tidak memplagiatnya yah… ^^

 

admin note ::

Sebelumnya maaf untuk author dan juga readers sekalian, karena kesalahan saya yang kurang teliti jadi part 9nya aku post minggu kemarin..
jadi sebagai permintaan maaf saya, saya post part 8nya minggu ini. S
ekali lagi, untuk Author dan readers sekalian saya mohon maaf…^^

-sakina-

Jongwoon POV

 

Aku mengendarai mobilku pulang ke apartemenku. Apa yang tadi terjadi di pesta pernikahan Leetuk hyung sungguh di luar dugaanku dan membuatku sangat terkejut. Hampir saja pernikahan pura-pura kami terbongkar andai saja Hyeni tidak segera mengerti situasi dan bersikap tanggap.

 

Sebelum meninggalkan ruangan pesta, aku meminta maaf pada Leetuk hyung karena telah membuat kekacauan di pesta pernikahannya. Ia memang sangat baik, ia malah tertawa dan berkata bahwa bahwa aku justru telah membuat pesta pernikahannya jadi menarik. Bahkan ia sempat berpesan agar aku menjaga istriku dengan baik, karena aku dan Hyeni juga adalah pasangan pengantin baru.

 

Mobilku tiba di apartemen, aku segera memarkirkannya, mematikan mesin mobil dan bergegas turun. Aku membukakan pintu mobil untuk Hyeni. Entah mengapa aku ingin melakukannya kali ini, padahal sebelumnya aku tidak pernah melakukannya sekalipun pada gadis manapun, termasuk Yunhee. Aku memang bukan tipe pria yang menganggap penting hal semacam ini.

 

Hyeni tidak segera turun, ia malah menatapku bingung.

 

“Kau tidak turun?” tanyaku sambil membalas tatapannya.

 

“Wae? Mengapa kau tiba-tiba membukakan pintu untukku?” tanya Hyeni dengan ekspresi bingung, matanya membulat tak berkedip.

 

Aku kehilangan kata-kata. Jantungku tiba-tiba berdebar lebih cepat, aku gugup. Bagaimana aku harus menjawab pertanyaannya?

 

“Yasudah kalau kau tidak mau turun,” ujarku akhirnya sambil menutup kembali pintu mobilku. Hyeni masih duduk di dalam mobil. Aku berbalik dan melangkah pergi, namun aku dapat mendengar suara pintu mobil di buka lalu di tutup kembali. Hyeni berlari kecil menyusul langkahku.

 

“Aiisshh, mengapa kau begitu sensitif, Woonie oppa? Aku hanya bertanya,” cibir Hyeni sambil memanjukan bibirnya. Aku merasa pipiku memanas menatap wajahnya. Ada apa sebenarnya dengan diriku.

 

“Moodku sedang buruk,” jawabku asal, aku malu jika Hyeni mengetahui bahwa saat ini aku merasa gugup berjalan di dekatnya, “Kau tahu kan kejadian di pesta tadi telah membuatku kesal.”

 

Hyeni menghentikan langkahnya. Ia menghembuskan nafas panjang. Menyadari ia tertinggal di belakangku, aku segera menghentikan langkahku dan berbalik memandangnya.

 

“Ikut aku,” ujarnya sambil menarik tanganku. Aku sedikit terkejut, namun segera mengikuti langkahnya ke arah ia menarikku.

 

***

 

Hyeni POV

 

Aku membawa Woonie oppa ke taman bermain kecil dekat apartemen. Jika siang hari, taman ini akan dipenuhi anak-anak yang tertawa riang sambil berlari ke sana kemari. Aku sering melewati taman ini di siang hari, aku akan berhenti sejenak untuk sekedar memandang tawa polos bocah-bocah kecil yang bermain bersama orang tua mereka, dan mengingat bagaimana dulu orang tuaku sering mengajakku ke taman semacam ini untuk bermain. Biasanya eomma akan mendorong ayunanku, sedangkan appa akan selalu menungguku di bawah perosotan ketika aku akan meluncur agar aku tidak tergelincir.

 

Aku melepaskan tangan Woonie oppa ketika kami tiba di depan ayunan. Ada tiga buah ayunan di taman ini. Aku duduk di salah satu ayunan yang berada paling kanan. Woonie oppa mengikutiku duduk di ayunan yang beada di tengah.

 

Aku mulai berayun pelan. Merasakan hembusan angin yang sejuk di pipiku. Aku memejamkan mataku sambil berayun. Menikmati udara malam yang sedikit basah dan dingin.

 

“Mengapa kau membawaku ke sini?” suara Woonie oppa menyadarkanku. Aku berhenti berayun, lalu menatap wajahnya.

 

“Bukankah moodmu sedang buruk?” tanyaku sambil sedikit memiringkan kepalaku, Woonie oppa tak bergeming, “Ayo kita bermain supaya moodmu tidak lagi buruk hari ini. Kau akan sulit tidur jika pulang dengan keadaan seperti ini.”

 

Aku kembali berayun. Woonie oppa bangkit dari ayunannya, lalu melangkah di belakang ayunanku, ia mulai mendorong ayunanku.

 

“Woo… Woonie oppa?” aku terkejut karena tiba-tiba ia mendorong ayunanku.

 

“Aku terlalu dewasa untuk bermain ayunan seperti ini. Biar aku mendorongmu dan menemanimu bermain,” katanya sambil terus mendorong ayunanku. Aku hanya tersenyum melihat kelakuannya. Mengapa hari ini Woonie oppa terlihat berbeda?

 

“Gomawo, Hyeni~ya,” ujar Woonie oppa singkat, aku mendongakkan kepalaku, Woonie oppa menangkap tali ayunanku dan menahannya agar berhenti berayun, “Gomawo tadi sudah menolongku dari para wartawan.”

 

“Ne, sudah seharusnya begitu. Bagaimanapun juga pernikahan pura-pura ini juga menjadi tanggung jawabku.”

 

Woonie oppa melepaskan tangannya dari tali ayunanku, ia melangkah pergi dan kembali duduk di ayunan yang berada tepat di sebelahku.

 

“Apakah memang aku sudah melakukan kesalahan dengan memaksa untuk melakukan pernikahan pura-pura ini?” guman Woonie oppa.

 

Aku memandang wajahnya yang terlihat sedikit murung. Apakah mood buruknya telah membuatnya sekarang bisa berpikiran waras? Bukankah selama ini ia selalu memaksaku agar setuju menikah dengannya? Mengapa baru sekarang ia menyadari bahwa semua ini adalah sebuah kesalahan?

 

“Woonie oppa,” panggilku lirih, namun ia tetap menunduk dan memandangi ujung sepatunya, “Yaa, kau tidak seperti dirimu oppa, jangan memasang wajah seperti itu.”

 

Woonie oppa menoleh ke arahku, menatap mataku dengan sendu, “Aku baru berpikir, bagaimana bisa kita menjalani satu tahun ke depan?”

 

“Sudahlah,” ujarku sambil menepuk bahu Woonie oppa pelan, “Semua telah terlanjur terjadi, kita tidak bisa kembali lagi ke masa lalu dan mengubah semuanya. Sekarang yang penting jalani saja hidup kita ke depannya dan berhati-hati agar tidak terbongkar seperti kata manager Yoo.”

 

Woonie oppa mengangguk lalu tersenyum kecil, aku ikut tersenyum melihatnya.

 

“Ayo bermain!” serunya tiba-tiba.

 

“Mwo?” aku terkejut ketika Woonie oppa berdiri dan tiba-tiba menarik tanganku hingga aku juga ikut berdiri di hadapannya.

 

“Temani aku bermain, bukankah tadi kau yang duluan mengajakku bermain?” katanya sambil menarikku ke tengah taman.

 

“Kenapa moodmu cepat sekali berubah Woonie oppa?” tanyaku sambil tertawa melihat perubahan ekspresi wajahnya, kini tampak lebih cerah di bawah sinar bulan.

 

“Waktu kecil aku sering bermain seperti ini,” ujar Woonie oppa sambil mengaitkan tangannya di tanganku secara menyilang. Tangan kanannya menggenggam tangan kananku erat, begitu pula dengan tangan kirinya, “Sekarang kau ikuti aku berputar.”

 

Woonie oppa mulai berputar, tubuhku refleks mengikutinya berputar. Kurasakan tiupan angin dingin di sekujur tubuhku, namun terasa hangat dari dalam tubuhku yang terus berputar bersama Woonie oppa.

 

Irama putaran kami semakin cepat, kami saling memandang satu sama lain. Saling tertawa riang, seperti kembali ke masa kanak-kanak kami. Aku memandang wajah Woonie oppa yang penuh tawa di hadapanku. Rambutnya bergerak tertiup angin ke arah kanan, berlawanan dengan arah putaran kami.

 

1 detik.. 2 detik….. 5 detik… memandang wajahnya. Melihat matanya yang menyipit karena tersenyum. Entah mengapa aku merasa pernah mengalami hal yang sama seperti apa yang saat ini sedang kami lakukan. Berputar dengan poros tangan kami yang saling terkait, saling memandang satu sama lain, dan bertukar tawa. Dejavu?

 

Sebuah bayangan musin gugur terlintas di otakku. Suara tawa anak kecil tergiang di telingaku.

 

“AAAA.. !!” teriakku ketika merasa tubuhku terlempar, pegangan tanganku terlepas dan aku terjatuh ke tanah.

 

“Hyeni~ya!” seru Woonie oppa sambil menghampiriku, “Gwenchana?”

 

Bayangan yang tadi sempat terlintas sejenak di otakku telah berhasil membuatku kehilangan konsentrasi dan irama putaranku. Aku merasa sakit di lututku. Kutarik kaki kiriku mendekat, lututku berdarah.

 

“Lututmu terluka,” kata Woonie oppa cemas, “Mianhae.”

 

“Anii, gwenchana, oppa. Aku yang salah karena melamun tadi,” ujarku cepat sambil terus memegangi lututku yang terasa berdenyut-denyut.

 

“Kajja, kita pulang saja sekarang, lukamu harus diobati,” kata Woonie oppa sambil berbalik dan mengarahkan punggungnya kepadaku, “Naiklah.”

 

“Ti.. tidak perlu, oppa. Aku bisa berjalan sendiri,” tolakku sambil menggerakkan tanganku.

 

“Sudahlah,” balas Woonie oppa, “Cepat naik. Jarak dari sini ke apartemen cukup jauh. Kalau kau tidak mau kugendong, aku tidak akan mau menunggumu jika kau berjalan lebih lelet dari Ttatkomaeng.”

 

Aku menatap punggung Woonie oppa ragu-ragu, namun kemudian menuruti kata-katanya. Aku naik ke atas punggungnya. Woonie oppa meletakkan tangannya di bawah lututku dan bangkit berdiri. Ia menggendongku keluar taman, menyusuri jalan pulang ke apartemen.

 

Dalam diam aku menatap punggungnya, aneh, mengapa jantungku terasa berdebar lebih cepat? Darahku terasa mengalir dengan cepat melewati setiap pembuluh darah dalam tubuhku. Dan sepertinya hal itulah yang telah membuat tubuhku terasa hangat sekalipun udara malam hari disekitarku terasa dingin di kulitku.

 

Aku memundurkan tubuhku sedikit, menahan tubuhku dengan kedua lenganku yang kuletakkan di punggung Woonie oppa. Aku takut jika tubuh kami terlalu dekat, ia akan merasakan detak jantungku yang sedang tidak normal saat ini.

 

***

 

Hongki POV

 

Lee Eunri..

 

Malam ini lagi-lagi aku memimpikannya. Setelah tiga tahun ia menghilang dari hidupku, membawa separuh hatiku bersamanya, mengapa sekarang ia kembali dan datang di saat aku sudah mencintai gadis lain, Shin Hyeni?

 

Sampai saat sebelum aku bertemu dengan Hyeni, Eunri adalah satu-satunya gadis yang kubiarkan mengisi ruang kosong dalam hatiku. Sekalipun bayangannya membuat sekujur tubuhku terasa nyeri dan jantungku seperti di tikam belati, namun aku tetap mencintainya.

 

Tapi sekarang, apakah aku bisa berkata aku masih mencintainya?

 

“Kau tahu bahwa perasaanku tidak pernah berubah padamu?”

 

Kata-kata Eunri hari itu terngiang-ngiang di telingaku. Terasa seperti tusukan jarum yang kecil namun tetap akan membuatmu meringis. Ia masih memiliki perasaan itu, namun bagaimana dengan diriku? Aku memang telah memaafkannya dan melupakan perbuatannya tiga tahun lalu, namun aku tidak lagi memiliki perasaan yang sama dengannya seperti dulu. Hatiku sekarang telah menjadi milik Hyeni. Ya, hanya gadis itu yang sekarang berdiam dalam ruang hatiku.

 

***

 

Yunhee POV

 

“Daddy, i have something for u…”

 

KLIK

 

“Next we have…”

 

KLIK

 

“Hi, Jeane!! Do you know…”

 

KLIK! Aku mematikan televisi. Menatap kosong pada layar yang sekarang telah berwarna hitam. Tidak ada acara televisi yang menarik malam ini. Atau mungkin hanya aku saja yang tidak tertarik bahkan dengan ratusan acara sekalipun karena pikiranku hanya tertuju pada seorang namja yang saat ini berada di Korea, namja yang kucintai, Kim Jongwoon.

 

Jongwoon pasti masih marah padaku. Ketika terakhir kali aku menelponnya beberapa hari lalu, sikapnya masih saja dingin. Baru kali ini ia marah padaku hingga waktu yang cukup lama. Biasanya sekalipun aku mengecewakannya berulang kali, ia akan memaafkanku dan kembali menjadi Kim Jongwoon yang kucintai. Kim Jongwoon yang akan tersenyum sambil menatap mataku penuh ketulusan dan mengatakan, “Gwenchana, aku memaafkanmu, Yunhee~ya.”

 

Tapi kali ini berbeda, aku tahu ia sangat marah karena aku menolak lamarannya. Di tambah lagi aku langsung pergi ke Amerika begitu saja untuk mengikuti camp dan penelitian science di sini. Mungkin Jongwoon butuh waktu lebih lama untuk memaafkanku kali ini. Aku sadar telah berulang kali mengecewakannya, dan kali ini aku tidak berharap banyak dia akan cepat memaafkanku.

 

Aku bangun dari sofa dan berjalan ke arah tempat tidur. Jam baru menunjukkan pukul delapan malam, namun kepalaku sedikit pening sehingga mungkin lebih baik aku tidur lebih awal malam ini. Kurebahkan diri di atas tempat tidur sambil menatap langit-langit bercat putih, tak lama aku memejamkan mataku. Bermenit-menit diliputi kegelapan, namun akhirnya aku menyerah dan membuka mataku kembali. Aku tidak bisa tidur.

 

Sudah beberapa hari ini aku tidak bisa tidur. Seolah ada sesuatu yang tak bisa diungkapkan yang membuatku sulit untuk terpejam dan masuk ke dalam alam bawah sadarku. Sesuatu yang memaksaku tetap terjaga dalam realita dan memikirkan seorang namja yang kucintai.

 

Pikiranku terus dipenuhi oleh bayangan Jongwoon. Mungkin rasa bersalahku padanya yang telah membuatku memikirkannya lebih sering daripada yang biasa kulakukan. Bahkan beberapa kali bayangannya berhasil memecah konsentrasiku saat mengikuti kelas dalam camp science. Namun jauh di dalam lubuk hatiku, aku merasa ada sesuatu yang mengganjal. Sesuatu yang mungkin telah membuat Jongwoon terlambat memaafkanku dan aku takut firasatku tepat. Berulang kali aku mengusir firasat buruk beserta segala pikiran negatif yang terlintas begitu saja di kepalaku.

 

Tok.. tok.. tok..

 

Pintu kamarku di ketuk. Dengan enggan aku bangun dari tempat tidur dan berjalan perlahan ke arah pintu kamarku. Kuraih knob pintu dan kubuka perlahan.

 

“Changmin~ah?” Seorang namja berdiri di depan pintu kamarku, senyum menghiasi wajahnya, aku mendongak untuk menatapnya karena tubuhnya jauh lebih tinggi dariku.

 

“Yunhee noona, annyeong,” sapanya sambil memamerkan deretan giginya yang tersusun rapih di balik senyumnya yang manis. Changmin adalah juniorku di universitas. Ia juga mengikuti camp dan penelitian di Amerika bersamaku dan beberapa mahasiswa lain.

 

“Wae? Ada apa kau kemari malam-malam begini?” tanyaku tanpa mempersilahkan dia masuk. Selama camp kami diberi kamar pribadi di sebuah rumah yang cukup besar dengan tiga tingkat lantai. Para peserta wanita tinggal di lantai dua, sedangkan para peserta pria di lantai tiga.

 

“Aku ingin mengajakmu makan, ayolah temani aku noona, aku lapar,” ujar Changmin merengek. Aku menggeleng, tanda tidak menyetujui permintaannya. Dari semua juniorku, Changmin adalah yang terdekat sekaligus yang paling ingin aku hindari.

 

“Wae, noona?” tanya Changmin sambil meletakkan telapak tangannya di pintu, mungkin ia takut aku akan menutup pintu dan meninggalkannya di luar seperti yang kulakukan beberapa waktu lalu.

 

“Aku sedang sedikit pusing,” jawabku dengan nada lemah, “Kurasa aku ingin tidur lebih awal hari ini.”

 

“Noona sakit?” tanya Changmin cemas, “Apa kau perlu obat? Biar aku carikan obat untukmu.”

 

“Anii, tidak perlu, aku baik-baik saja,” potongku cepat, “Aku hanya perlu istirahat. Mian Changmin~ah, bisakah kau pergi meninggalkanku agar aku bisa istirahat?”

 

Changmin terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk pelan, “Ne, istirahatlah, Yunhee noona.”

 

Aku menutup pintu kamarku dan bersandar di balik pintu. Kuhembuskan nafas dari mulutku. Setidaknya malam ini Changmin tidak akan menggangguku dengan sikap manja dan rayuannya. Aku tahu ia menyukaiku sejak setengah tahun lalu, ketika kami tak sengaja bertemu dalam satu tim penelitian di universitas, aku sebagai asisten dokter, sedangkan ia sebagai mahasiswa. Namun, aku tidak pernah menyukainya, bahkan mungkin tidak akan pernah. Hatiku sepenuhnya telah menjadi milik Jongwoon.

 

Jongwoon~ah, apa yang sedang kau lakukan saat ini? Kapan kau akan memaafkanku?

 

***

 

Hyeni POV

 

Pemandangan yang sama, langit-langit kamar yang berwarna biru muda. Tempat tidur yang sama, sofa yang empuk dan nyaman. Namun pagi ini rasanya sedikit berbeda, sofa ini terasa lebih nyaman, lebih empuk… dan juga lebih luas. Heh? Mana mungkin sofa ini membesar?

 

Aku memandang sekelilingku, mengerjapkan mata berkali-kali. Aku tidak tidur di sofa, tapi.. ini adalah tempat tidur Woonie oppa? Bagaimana mungkin? Seingatku tadi malam aku tidur di sofaku.

 

Aku segera bangun dari tempat tidur. Memandang tak percaya tempat di mana aku berbaring barusan. Namun, karena tiba-tiba berdiri, aku merasa pusing. Kududukkan kembali diriku di pinggir tempat tidur Woonie oppa. Kutunggu beberapa saat, namun kepalaku masih juga berkunang-kunang, bahkan sekarang aku mulai merasa mual.

 

Sepertinya aku sakit. Kuletakkan tanganku di dahi, mencoba mengukur suhu tubuhku yang ternyata sedikit panas. Mungkin karena semalam aku bermain di taman, ditambah udara dingin dan angin yang cukup kencang, sehingga membuatku sakit saat ini.

 

Rasa mual itu kembali, tampaknya aku ingin muntah. Dengan segera aku bangun dan berjalan cepat sambil menahan sedikit rasa perih di lututku yang terluka karena terjatuh semalam. Woonie oppa telah mengobati dan menempelkan plester di lututku sehingga sakitnya mulai berkurang.

 

Aku mendorong pintu kamar mandi dengan cepat, berjalan menuju kloset, dan..

 

“Hooeekkk… hooeeekk…” Aku muntah, namun tidak ada apa-apa yang keluar, hanya cairan bening seperti air, maklum aku baru saja bangun dan belum makan apa-apa pagi ini.

 

“Nona?” panggil bibi Jung, aku menoleh dan mendapati wanita separuh baya berdiri di depan pintu kamar mandi dengan tatapan cemas.

 

Kuseka mulutku dengan telapak tanganku, kutekan tombol flush untuk membuang muntahanku, kemudian berjalan menuju wastafel dekat pintu masuk.

 

“Ada apa nona Hyeni?” tanya bibi Jung cemas.

 

“Gwenchana, bibi Jung. Aku hanya mual ketika bangun tidur tadi,” jawabku sambil membersihkan mulutku dan mencuci tanganku.

 

“Mual?” tanya bibi Jung mengulangi kata-kataku, aku mengangguk pelan, “Nona!”

 

Aku terkejut melihat bibi Jung tiba-tiba melonjak kegirangan. Mengapa ia terlihat begitu senang aku sakit?

 

“Nona, ini berita bagus,” ujarnya dengan wajah penuh tawa, “Nona pasti sedang hamil.”

 

“M… mwo?” aku terkejut mendengar kata-kata bibi Jung. Hamil?

 

“Ne, nona pasti sedang hamil. Wanita hamil biasa memang sering mual-mual di pagi hari,” kata bibi Jung kemudian.

 

“Chaa.. Chakamman..” seruku panik, “Aku tidak mungkin hamil, bibi Jung.”

 

“Apa yang tidak mungkin, nona? Kau dan tuan muda sudah menikah, tentu saja wajar jika kau hamil,” ujar bibi Jung membantahku.

 

“A..aku…” jawabku tergagap, aku bingung apa yang harus aku katakan, bagaimana mungkin aku bisa bilang bahwa aku dan Woonie oppa hanya menikah pura-pura dan kami tidak pernah melakukan apapun sebelumnya, bahkan kami tidur terpisah, “Aku tidak mungkin hamil bibi Jung karena aku dan Woonie oppa baru saja menikah dua minggu lalu.”

 

Bibi Jung menyipitkan matanya, menatapku lekat-lekat. Aku gugup sekali ia menatapku dengan pandangan aneh seperti ini, kualihkan mataku memandang ke arah lain untuk menyembunyikan kegugupanku. Namun, bibi Jung malah terkekeh, “Kau tidak perlu berbohong padaku, nona Hyeni.”

 

Mwo? Bohong? Apalagi maksud bibi Jung, apa dia tahu bahwa aku dan Woonie oppa telah membohonginya? Bahwa kami hanya menikah pura-pura saja?

 

“Kalian memang baru menikah dua minggu lalu,” ujar bibi Jung lagi sambil terus mendekatkan wajahnya ke arahku, lalu dengan setengah berbisik di telingaku ia berkata, “Tapi aku yakin kalian sudah melakukannya sebelum kalian menikah.”

 

“M.. mwo? Melakukan? Melakukan apa?” tanyaku terkejut mendengar perkataan bibi Jung, apa maksudnya adalah melakukan hubungan suami-istri?

 

Bibi Jung tertawa sambil menutup mulut dengan telapak tangannya, tak lama ia mengibaskan telapak tangannya di depanku, “Biarpun umur bibi sudah lebih dari setengah abad, tapi bibi mengerti perasaan kalian anak muda yang dimabuk asmara. Sudah bibi duga, mengapa tuan muda tiba-tiba ingin menikah, pasti karena nona Hyeni sudah mengandung anak tuan muda, benar bukan?”

 

Mulutku ternganga, mataku melotot, dan jantungku berdebar kencang. Apa yang dikatakan bibi Jung sama sekali tidak benar, namun berhasil membuatku terkejut dan merasa malu.

 

“Anii, tidak seperti itu bibi Jung,” kataku mencoba menjelaskan, namun bibi Jung malah beranjak pergi sambil tertawa-tawa. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali ke kamar. Kau berhasil membuat kepalaku semakin pusing bibi Jung. Semoga ia tidak menceritakan hal ini kepada siapa pun. Semua pikirannya tidak benar dan hanya pendapatnya semata. Woonie oppa bisa membunuhku jika ia tahu bibi Jung telah salah sangka.

 

TBC