Title : Alive

Author : @violetkecil

Rating : PG 17

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chaptered

Cast : Lee Taemin (SHINee), Kwon Ahra (OC), Park Jungsoo

Note : Sudah pernah dipublish di http://fanfictionschools.wordpress.com

 –oooOooo–

Previous Chapter: Prolog

 –oooOooo–

Chapter 1. Memories

AHRA merapatkan coat tebal yang dia gunakan. Langkahnya menginjak lembar-lembar daun kering yang terus berjatuhan. Angin terus berhembus dengan partikel-partikel dinginnya yang mampu membuat bulu kuduk meremang. Ahra mengusapkan kedua telapak tangannya—menepis rasa dingin yang terus  saja menyergapnya.

Musim gugur. Patah hati.  Keputusan yang dirasa Ahra sangat tepat untuk menghabiskan waktu liburannya di villa. Suasana perbukitan jauh dari hingar bingar kota Seoul yang tidak pernah tidur.  Tangan pucatnya membuka pintu villa dan langsung saja aroma lembab menyapa indera penciumannya pertama kali. Ahra mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan yang tampak bersih.

Hmm… Syukurlah Ahjumma sudah membersihkan villa,” gumamnya.

Lantai dua villa adalah tujuan utamanya. Hanya ada satu kamar besar di sana dengan balkon yang menghadap hutan. Kamar multifungsinya—tempat tidur, rak buku, kursi malas dan sebuah grand piano.

Angin yang berhembus masih sama dinginnya tapi Ahra tetap melangkah menuju balkon. Dia merentangkan tangannya dan merasakan angin yang terus berhembus—menerbangkan aroma tubuhnya. Aroma yang menyesakkan sesorang yang sedari tadi tidak berkedip menatap Ahra dengan tajam.

Mata Ahra bertemu pandang dengan sesorang yang kemudian tersenyum untuknya. Kemudian dengan malas Ahra menutup pintu menuju balkon. Dia masih ingin menikmati dinginnya angin tapi tubuhnnya menolak. Grand piano putih yang bertengger manis di sudut ruangan menariknya, deretan tuts piano yang lama tidak tersentuh masih memperdengarkan suara merdu. Tanpa Ahra tahu mengapa, butiran air mata merembes di kedua sudut matanya.

Memories.

Setiap tuts piano meninggalkan jejak kenangan untuknya. Ada banyak yang terekam di sana dan Ahra tidak kuasa untuk menghapusnya.

My heart, my tears, again the memory of you
Drop by drop they fall onto my chest
I cry and cry, and with these memories that won’t be erased
Today my empty heart is drenched again

Cinta itu melukai Ahra. Sangat dalam. Dan itulah alasan dia berada di sini sekarang. Dia terlalu lemah dan rapuh menghadapi kenyataan bahwa pria yang pernah bersamanya dan sangat dicintainya memilih mengakhiri hubungan mereka. Ahra sudah sangat tersakiti oleh kenyataan itu. Jauh lebih tersakiti lagi ketika menemukan kenyataan bahwa pria itu memilih melewati hidupnya dengan wanita lain. Wanita yang jauh lebih dewasa dari Ahra—seumuran dengan pria itu.

Lagi. Air mata yang sangat dia benci mengalir kian deras tak terhenti. Inilah mengapa pria itu meninggalkannya. Karena dia rapuh. Apakah semua pria sama? Menyukai wanita tegar? Jika iya, maka itu bukan Ahra.

Ahra terus menangis membasahi tuts piano dengan tetesan air matanya. Satu persatu kenangan manis hadir. Kenangan manis yang justru terasa pahit. Park Jungsoo—pria itu yang sudah merangkaikan semua kenangan manis untuk Ahra. Sosok malaikat yang membuatnya menangis, lagi dan lagi.

“Aku ingin melupakanmu tapi mengapa tak sedikit pun aku bisa menghapus kenanganku tentangmu?” gumam Ahra lirih.

Ahra terus menangis hingga dia lelah—tertidur dan tidak menyadari malam mulai merangkak naik. Malam yang menorehkan pergulatan hati—mengaburkan kekejian dalam gelap.

–oooOooo–

Taemin menekan perasaannya. Sebatang pohon hampir hancur karena genggaman tangannya yang sangat kuat. Tidak boleh melakukan hal bodoh, batinnya resah.

Sekali lagi perasaannya seperti diombang-ambing. Bimbang dan entah apa yang harus dia lakukan. Gadis yang dilihatnya sama persis dengan gadis yang pernah dia cintai—dulu sekali sebelum dia berubah. Gadis dengan wajah yang sama dan aroma tubuh yang sama.

“Tidak. Mereka dua sosok yang berbeda. Mina tidak serapuh itu,” gumam Taemin.

Dengan wajah yang kacau Taemin memutuskan kembali ke villanya yang tepat berada di samping villa gadis itu. Kebetulan yang sangat sempurna. Dia baru saja menaiki satu persatu anak tangga ketika dirasakannya gadis itu sedang menatapnya. Dia melemparkan senyum misteriusnya. Bingo. Dan senyum itu sukses membuat Ahra sibuk menenangkan detak jantungnya. Dari sudut matanya, Taemin memperhatikan gadis itu terburu-buru menutup pintu balkon. Taemin tersenyum dalam hati. Gadis yang sangat menarik, batinnya.

Hanya ada dua villa di bukit itu dengan hutan yang mengelilingi. Sangat tepat untuk tempat menyendiri—seperti Taemin. Langit-langit kamarnya yang kosong membuat Taemin ingin memutar kembali semua ingatan yang masih tersisa.

“Tidak! Aku harus menghapus ingatanku,” desisnya dingin.

Argh!” Teriakan perih Taemin menggema.

“Oppa, kamu harus kembali padaku. Aku akan menunggumu. Oppa mau kan?”

 “Tentu saja. Berjanjilah kau akan menungguku. Aku akan menemuimu segera setelah perang usai.”

 “Ne. tentu saja. Aku berjanji. Saranghaeyo Oppa.”

 “Nado saranghae.”

 “Mina,” gumam Taemin lirih. Dia memegang dadanya yang seakan terasa sesak. Setelah sekian lama perasaan itu masih ada. Bahkan jauh setelah dia tidak lagi bisa dianggap sebagai manusia. Seluruh eksistensi hidupnya berubah tapi tidak untuk satu hal itu.

Just you, make me still alive.

Prang!

Sebuah guci tua klasik berhamburan di lantai—tidak berbentuk lagi. Setelah sekian lama cinta itu masih ada dan semakin menyakiti. Taemin perlu sesuatu untuk melampiaskan perasaannya itu. Kerongkongannya terasa semakin membakar. Matanya sudah menjadi sangat merah. Dia marah. Dia haus.

Gelapnya malam tidak menghalangi pandangannya. Angin berpadu dengan kecepatannya. Sedetik kemudian seorang pria tua menjadi korban tak berdosa.

Argh!”

Taemin menatap jijik bayangan dirinya dalam bola mata pria tua itu. Dia merasa sangat menjijikkan. Sudahlah, aku hanya mempercepat proses kematiannnya. Toh, dia akan mati besok, gumamnya. Taemin menyingkirkan sesosok tubuh yang sekarang sudah tidak bernyawa. Menguburkannya dalam gundukan tanah di tengah hutan yang sangat pekat.

Ditatapnya gundukan tanah itu dengan nanar, “Jauh lebih baik menemukan kehidupan yang lain di alam sana. Daripada harus menemukan dirimu menjadi sosok yang jauh berbeda—mengerikan dan tidak seorang pun yang memberitahu kenapa,” gumamnya seakan berbicara pada seseorang yang tidak lagi bernafas itu.

“Mati? Andai hal itu semudah itu berlaku untukku?”  desisnya.

Lagi. Kilasan ingatannya sebagai manusia berkelebat memasuki pikirannya. Ingatan terakhirnya sebagai manusia—seorang wanita yang dia pikir Mina mendekatinya. Menciumnya dan setelahnya dia hanya mendapati seluruh tubuhnya seakan terbakar. Rasa sakit luar biasa yang sangat dia benci. Tapi jauh lebih sakit ketika selanjutnya dia menemukan dirinya sangat berbeda dengan mata merah nyalang dan hasrat membunuh yang begitu kuat. Dia kehausan dan perlu sesuatu untuk menghentikan itu. Terus bertahun-tahun hingga Taemin mampu mengendalikan hasrat membunuh dan memuaskan rasa hausnya.

Keinginannnya untuk menemukan Mina membuatnya mengambil keputusan untuk hidup lebih seperti manusia. Hidup dalam artian tidak sesungguhnya. Menemukan Mina adalah ujung dari seluruh eksistensinya. Pada kenyataannnya Mina tidak pernah dia temui dan hanya gadis yang mirip Mina—Kwon Ahra yang dia temukan hari ini. Setelah beratus tahun berlalu bahkan cinta tidak berubah.

–oooOooo–

Sinar matahari yang redup tertutupi tebalnya awan sangat menguntungkan untuk Taemin. Dia tidak perlu menyembunyikan dirinya. Taemin menatap dari balik tirai balkon kamarnya. Suasana pagi masih sama dengan burung-burung yang berkicau dan dedaunan hutan yang berjatuhan satu-satu. Tatapan Taemin tertumbuk pada sosok gadis yang mencuri perhatiannya sejak kemarin. Arah tatapannya mengikuti setiap langkah kaki gadis itu. Taemin sudah bisa menebak. Pasti dia menuju danau kecil yang ada di dekat hutan, batinnya.

Taemin tidak perlu melangkahkan kaki untuk mengikuti gadis itu. Berpadu dengan angin—lagi, Taemin memandang gadis yang sekarang tampak memandang kosong riak air. Taemin berhati-hati ingin mendekatinya. Dia memastikan indera penciumannya jauh dari aroma tubuh gadis itu. Tenggorokannya memang sudah terbakar sejak tadi, tapi dia menahannya. Gadis itu terlalu rapuh, batinnya lagi.

“Apakah angin yang membawa gadis sepertimu ke tempat sesunyi ini?”

Ahra menoleh dan mendapati seorang pria sedang duduk di sampingnya—menghentikan lamunan dan kegiatannya memandangi riak air danau.

“Dan angin kah yang membuatmu ingin berbicara kepadaku?” tanya Ahra balik. Matanya menatap penuh selidik.

“Ada banyak hal yang di luar kendali. Aku menahan diri untuk tidak berbicara dan mencoba mendekatimu…”

“Lalu apa yang membuatmu bertingkah sebaliknya?” tanya Ahra memotong perkataan Taemin.

“Kau menarikku ke dalam pesona yang tidak kau sadari.”

“Ahra. Kwon Ahra,” ucap Ahra sambil mengulurkan tangannya kepada Taemin.

“Taemin. Lee Taemin,” sahutnya tapi tidak menerima uluran tangan Ahra—mengabaikannya.

Sunyi. Mereka berdua tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tidak ada seorang pun yang memulai pembicaraan.

“Kau—“

“Aku sudah lama berada di villa tepat di samping villamu,” potong Taemin.

“Ken—“

“Mengasingkan diri dari hiruk pikuk kehidupan.”

Mengapa? tanya Ahra dalam hati. Pertanyaan itu hampir saja terlontar dari mulutnya tapi dia menahannya. Sungguh tidak sopan menanyakan hal seperti itu di pertemuan pertama mereka. Ahra memandangi sosok yang duduk di sampingnya. Taemin namanya, batin Ahra. Menarik. Misterius.

Ahra merasa malu sendiri karena diam-diam mengagumi wajah tampan dengan sorot mata tajam. Yang dipandangi tampak tidak peduli dan lebih memilih memandang jauh ke depan. Ahra penasaran apa yang sedang dipikirkan pria itu.

Masih tidak ada pembicaraan di antara mereka. Ahra mulai bosan dan beranjak dari duduknya. Celakanya Ahra tidak memposisikan kakinya dengan benar dan hampir saja terjatuh jika tangan dingin Taemin tidak menahannya.

“Berhati-hatilah. Tanah lembab seperti ini sangat mudah membuatmu terjatuh.”

Ahra membeku—dalam artian yang tidak sesungguhnya. Tangan dingin Taemin masih memegang lengannya. Ahra tidak tahu harus mendefinisikan genggaman itu seperti apa. Genggaman tangan yang sangat berbeda. Kaku, lembut, dingin dan sangat kokoh.

Waeyo? Gwenchanayo?” tanya Taemin lembut ketika melihat pias pucat di wajah Ahra.

Deg. Suara Taemin seakan menghipnotis Ahra. Lidahnya kelu.

Taemin menatap Ahra lembut dan tersenyum.

Naneun gwenchanayo,” jawab Ahra. Tanpa sadar Ahra tertarik dalam magnet pesona yang Taemin ciptakan.

Taemin melepaskan genggaman tangannya dan membantu Ahra berdiri tegap. Sentuhan kulit Taemin di lengan Ahra sekali lagi membuat Ahra beku. Dia berbeda, batin Ahra.

Gamsahamnida,” ucap Ahra. Dia menatap mata Taemin. Di sana dia menemukan satu kenyataan. Taemin benar-benar berbeda, batinnya lagi.

Taemin menatap balik Ahra. Tubuhnya menegang. Tidak, teriaknya dalam hati.

Just like that. Don’t get caught, I’m dangerous.

Just like that. More than a starved beast.

 –to be continued–

NO SILENT READER. NO PLAGIATOR.

FF ini akan diposting setiap hari Selasa. Oiya, jangan lupa mampir ke blog pribadi saya di http://evilkyugirl.wordpress.com  ya… ^^ Gamsahamnida *bow*