Author: rahinalollidela

Genre: romance

Rating: G

Casts:

– Kwon Yuri (SNSD’s Yuri)

– Choi Minho (SHINee’s Minho)

– Others

 

Hari ini adalah hari pernikahan Minho dan Tiffany. Sudah Yuri putuskan untuk tetap hadir dan memberikan mereka ucapan selamat walau cuma sekilas dan setelah itu dia akan langsung ke sebuah desa di Busan. Sahabatnya, Siwon, juga akan ikut ke Busan. Mereka akan tinggal di sana untuk beberapa hari bersama orang tua Yuri yang sebenarnya selalu mengharapkan Siwon jadi menantu mereka. Setidaknya sampai Yuri kembali sekuat sebelumnya.

“Kau yakin akan tetap datang?” tanya Siwon entah yang keberapa kalinya saat mereka sudah di dalam mobil.

“Siwon-ah, tinggal tancap gas kita sudah sampai di sana. Ppaliwa!” omel Yuri.

“Sekali lagi, kau yakin?”

“Choi Siwon…”

“Arasseo…,” Siwon langsung tancap gas.

 

***

Yuri hadir di saat yang tepat. Saat acara pernikahan belum mulai. Rencananya, dia akan menemui Tiffany secara pribadi. Bukan untuk tujuan yang negatif. Hanya sekedar memberi selamat dan memberitahukan rencana kepergiannya. Sebenarnya dia juga ingin menemui Minho, tapi Siwon melarang demi kelarasan hatinya.

 

“Siwon-ah, kau tunggu di sini atau kau mau menyampaikan salamku pada Minho? Terserah saja. Aku duluan, ya,” Yuri langsung ke luar dari mobil dan ambil langkah. Dasar wanita munafik, pikir Siwon dengan penuh kekhawatiran di hatinya.

 

Beberapa langkah lagi hingga akhirnya ada belokan yang langsung menuju ruangan Tiffany. Yuri berhenti sejenak dan menghembuskan nafas. Langkah demi langkah diambilnya hingga akhirnya Tiffany sudah ada di depannya.

“Annyeong, Fany!” sapa Yuri. Tiffany hanya tergagap.

“Y… Yuri, kau… datang?” tanya Tiffany dengan rasa bersalahnya.

“Wae? Aku kan sahabatmu. Apa tidak boleh?” Tiffany hanya tersenyum canggung. “Neomu yeppeoda… Tiffany ku sudah dewasa, huh?” puji Yuri.

“Yuri-ah, miane…,” Yuri terdiam sejenak saat mendengar ucapan Tiffany. Dicobanya untuk mengambil tindakan positif.

“Gwenchana… Hidupku sudah digariskan seperti ini. Ngomong-ngomong, chukae,” ujar Yuri sebelum akhirnya menengok ke arah jam tangan mahalnya. “Ah, aku harus segera pergi. Keretaku akan berangkat sebentar lagi,” ucap Yuri.

“Eodie?” tanya Tiffany seraya menahan pergelangan tangan Yuri.

“Busan. Aku dan Siwon akan menginap beberapa hari di rumah eomma-appa. Mereka pasti sudah merindukanku,” ucap Yuri. “Ah, iya. Ini untukmu dan Minho,” Yuri memberikan sebuah kotak. Tiffany membukanya. Kalung pasangan yang dulu Minho dan Yuri gunakan.

 

*Meanwhile…

“Choi Minho,” Minho yang sedang merapikan jas nya di ruangannya sendiri terpaku saat didapatinya Siwon berdiri di belakangnya.

“Hyung,” tanggap Minho seraya berbalik.

“Kau bahagia? Kau puas? Pasti menyenangkan meninggalkan seorang yeoja setelah mencuri ciuman pertamanya,” ucap Siwon.

“Hyung, kau salah paham,” ungkap Minho.

“Sudahlah. Jelas sekali yang akan kau nikahi nanti adalah Tiffany dan bukan Yuriku,” tanggap Siwon. “Aku dan Yuri akan tinggal di Busan untuk beberapa hari. Kau pasti tahu tujuannya, kan? Jadi jangan muncul di hadapannya untuk menghancurkan hatinya, arra?” ucap Siwon dengan nada agak marah. Minho hanya diam. “Ngomong-ngomong, chukae,” Siwon langsung pergi.

 

***

Yuri terus terdiam dan memandang pemandangan di luar kereta dari kaca jendela yang semakin lama tertutup salju. Siwon yang duduk di sampingnya hanya memandangnya prihatin. Sudah lama sekali Siwon tak melihat Yuri patah hati seperti ini. Dikiranya dengan merelakan Yuri pada Minho tak akan membuat Yuri patah hati. Padahal sulit sekali mempercayakan Yuri pada orang lain.

“Jendelanya sudah tertutup salju. Apa lagi yang akan kau lihat?” tanya Siwon.

“Hhh… Aku benci hujan salju,” ucap Yuri seraya bersandar pada kursi dan tak lagi menatap jendela. Dari samping cukup terlihat kalau matanya berkaca-kaca.

“Uljima,” ucap Siwon tiba-tiba. Yuri langsung mengangkat alis dan menatap Siwon.

“Nugu?” tanyanya. Lagi-lagi kepribadian munafiknya muncul.

“Uljima, arra?” ucap Siwon lagi diiringi air mata Yuri yang mulai terjun bebas.

“Siwon-ah, kenapa sakit sekali rasanya?” tanya Yuri dalam isak tangisnya.

“Sst… Aku akan selalu ada, Yuri-ah. Uljima, ne?” Siwon mendekap Yuri dan membiarkannya tertidur di pelukannya.

 

“Uwaaah! Baunya benar-benar Busan!” semangat Siwon tak bisa dielakkan saat delapan jam perjalanan mereka lalui. Yuri hanya tersenyum kecil melihat reaksi kawannya yang merindukan Busan. Matanya masih sangat sembab. “Kita makan dulu atau langsung ke rumah eomma-appa? Makan dulu, ya? Aku rindu belut dari Busan, ne?” pinta Siwon.

“Eomma-appa sudah membuatkan kita makan, Siwon-a. Kita masih harus berjalan ke pasar agar bisa ke desa bersama Kim Ahjussi,” tolak Yuri dengan suara lirih.

“Hais, baiklah… Kkaja,” Siwon hanya bisa mengalah.

 

“Ahjussi!” teriak Siwon saat didapatinya Kim Ahjussi sedang membereskan barang dagangannya.

“Wah, wah, wah… Lihat siapa ini. Siwon dan Yuri kita sudah besar. Hansun-ah, kemari! Lihat siapa yang datang!” Kim Ahjussi memanggil istrinya.

“Aigoo…. Yuri kita sudah datang. Siwon-ah, kau semaki tampan, ya?” puji istri Kim Ahjussi.

“Ah, aniyo… Kalian sudah mau tutup? Aku bantu membereskan, ya?”

 

“A Lion’s roar… A lion’s roar…,” Yuri mendendangkan lagu kesukaannya “A Lion’s Roar” saat dalam perjalanan menuju desa tempat eomma-appa tinggal.

“Yuri-ah, pakai ini,” Siwon menyodorkan sebuah BB Cream yang diyakininya dapat menutupi lingkaran hitam di mata Yuri karena berjam-jam menangis di kereta.

“Gomawoyo,” Yuri langsung menggunakannya. “A lion’s roar…,” lagi-lagi suaranya berdendang.

 

Tok-tok-tok!
“Eomma, appa, aku pulang!” panggil Yuri sambil menahan dinginnya udara di Busan. Saat itu sudah pukul tujuh malam. Srreeet!!! (anggap aja pintu model rumah jepang kebuka)

“Aigoo…, Siwon, Yuri! Kalian sudah pulang!” sambut eomma. “Ayo masuk! Sudah aku buatkan banyak sekali makanan!”

 

***

 

Yuri duduk di depan rumahnya seraya mencuci beberapa lobak. Rencananya ia ingin membuat kimchi. Tentu saja, hal itu dia lakukan dengan bayang-bayang Minho di otaknya. Tanpa disadari air matanya mulai menetes. Tapi kegiatan mencuci lobak tak juga dihentikannya.

“Kalau kau terus begini, eomma-appa akan tahu apa yang terjadi,” suara Siwon membuyarkan Yuri.

“Ah, Siwon,” Yuri menengok sebentar, lalu melanjutkan kegiatannya.

“Kau tidak menyusun rencana ke depan?” pertanyaan yang sudah lama tak Siwon lontarkan itu membuat Yuri terdiam. Lalu dibuangnya air bekas mencuci lobak tadi ke tanaman di halaman rumah.

“Aku harus menyusunnya seperti apa lagi? Sebelumnya semua sudah terlanjur kususun rapi dan semua melibatkan Minho,” ucap Yuri sambil menyandarkan tubuhnya pada dinding.

“Bagaimana dengan hobimu di bidang fashion?”

“Ah, iya. Sudah lama sekali aku melupakannya,” Yuri memejamkan matanya sejenak. “Sepertinya aku harus melaksanakan niatku ke FIT bulan ini juga,” ungkap Yuri tiba-tiba dan itu berhasil membuat Siwon terkejut.

“Kenapa mendadak?” tanya Siwon.

“Apa itu buruk?”

“Tidak. Aku mendukungmu. Tapi bukankah kita bisa menunggu sampai bulan depan?” tahan Siwon.

“Sebenarnya aku sudah mendaftar di FIT dua minggu yang lalu. Aku hanya perlu menerima hasilnya nanti,” Siwon semakin terbelalak. Tak disangkanya Yuri sudah punya firasat tentang apa yang akan terjadi.

“Ini bukan firasat, Siwon-ah,” Siwon semakin terbelalak saat Yuri berhasil membaca pikirannya. “Aku hanya… berpikir kalau saat itu aku tidak bisa bergantung pada Minho,” lanjut Yuri.

“Kau yakin?” tanya Siwon. Yuri mengangguk mantap.

“Karena itu, aku akan membicarakannya pada eomma-appa saat makan  malam nanti. Kau mau membantuku, kan?” pinta Siwon.

“Baiklah.”

 

***

 

Yuri duduk di ruang makan (lesehan karena rumah eomma-appa adalah rumah tradisional) seraya memeriksa e-mail melalui ponselnya. Walau pedesaan, sinyalnya sangat hebat. Matanya terbelalak sebentar, lalu kembali normal.

“Eomma-appa, aku ingin bicara sesuatu pada kalian,” ucap Yuri di sela-sela makannya.

“Katakan saja, Yuri-ah,” appa mempersilakan.

“Kalian… masih ingat dengan mimpiku menjadi designer, kan? Aku… aku… mendaftar di FIT di New York,” eomma-appa menghentikan makan mereka.

“Jinjayo? Kau serius?” tanya eomma. “Itu terlalu jauh. Tidak aman untukmu, Yuri,” nasehat eomma, bukan berarti eomma melarang.

“Aniyo. Aku juga akan tinggal di New York nanti,” Siwon, tanpa Yuri ketahui sebelumnya.

“Mwo? Siwon-ah,” Yuri mencubit tangan Siwon.

“Aku serius. Aku dipindahkan ke perusahaan di New York. Jadi aku bisa menjaga Yuri,” tanggap Siwon.

“Jinja? Kalau begitu tidak masalah. Siwon-ah, kau harus jaga dia,” appa mengizinkan.

“Dan aku sudah mendapat hasilnya,” Yuri. “Aku diterima…”

 

To be continued…