[CHAPTER 7] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • Song Seung Hoon as Jun So Min
  • Park Yoojin as herself

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

Keesokan harinya,

“Aku pulang ” Kulepas sepatu kets ku. Hari yang sangat melelahkah, setelah kelas terakhir berakhir kuputuskan untuk cepat-cepat pulang beristirahat.

Tidak seperti biasanya karena terlihat sepi. Kumasukkan sepatuku ke rak, dan berjingkat pelan menuju ruangan dengan satu set tv plasma yang lumayan besar. kosong, tak ada siapapun. Namun kegelisahanku terjawab dikala ada suara beberapa orang  mengobrol di dapur. Sepertinya suara Yoojin, tapi dengan siapa?

Kulanjutkan ke arah dapur dengan sedikit tergesa, karena ingin segera bertemu Yoojin. Kulihat Yoojin bersama dengan seseorang yang sangat kurindukan akhir-akhir ini , yaitu Junso yang tengah asik memasak bersama, terlihat sangat gembira dan menyenangkan. Dari aromanya, sepertinya mereka sedang membuat pancake.

Sesekali Yoojin tertawa karena Junso menggodanya dengan menyentuh pipi Yoojin menggunakan adonan kue. Mereka terlihat sangat akrab sampai membuat suasana hatiku jadi lebih buruk. Aku memilih untuk lari ke kamar.

Kulemparkan tubuhku di ranjang. Masih memikirkan keakraban mereka berdua. Tak terasa air mataku menetes. Apa yang kau tangiskan Chiyonn-ah? Mereka terlihat menikmatinya! Suara khas Junso malah terngiang-ngiang di telingaku,

‘Jangan menangis Chiyoon-ah, ada Oppa di sampingmu’

TOK TOK !!

“Chiyoon-ah? Apa kau sudah pulang ?” Teriak Yoojin mengetuk pintu kamarku. Aku terlonjak dan cepat-cepat menghapus air mataku. Terdengar pintu kamarku dibuka dan Yoojin berjalan ke arahku .

“Kau tidak apa-apa?” Ucapnya seraya menyentuh kepalaku.

Aku menggeleng, namun masih dengan posisi tertelungkup

“Hanya tidak enak badan. Bisa kau tinggalkan aku?” Ucapku lirih , mati-matian aku menahan air mataku agar tidak tumpah lagi. Melihat kebaikan Yoojin padaku selama ini, memang tak seharusnya aku membencinya.

“Begitu? Padahal tadi Junso kemari” Ucap Yoojin dengan nada terdengar menyesal

“Kalau begitu suruh saja ia pulang” Nadaku terlihat sedikit merajuk. Ada rasa sesak yang menjalar di kerongkonganku, sehingga ucapaanku sedikit terbata.

“Apa? Ehm.. baiklah, tapi apakah kau tak ingin mencoba pancake buatan Junso? Kurasa ia akan sedih begitu tahu kau tidak memakannya barang sedikitpun”

“Pancake? Untukku?” Aku menoleh sedikit, karena sebelumnya Junso memang pernah menjanjikan untuk membuatkan pancake untukku.

“Yaa. Ia selalu menghubungiku untuk mengajarinya membuat pancake. Apa kau tak ingin turun ke bawah?” DEG! Serasa ada hantaman pada kepalaku.

Jadi selama ini Junso menanyakan dan menemui Yoojin adalah agar mengajarinya membuat pancake untukku? Bodoh sekali aku malah berburuk sangaka padanya.

Kuangkat wajahku, Yoojin terkejut dengan wajah sembabku.

“Chiyoon-ah, lihat dirimu! Kau menangis?” Ia menyentuh pipiku, aku menggeleng sambil tersenyum. Serasa ada bunga bermekaran di dadaku. Apa Yoojin serius?

“Dimana Oppa?”

“Ia ada di teras. Kau cuci lah muka mu dulu!”

Aku cepat cepat membasuh mukaku dan berlari menuju teras .Kulihat Junso dari belakang, ia sedang sibuk menata tatanan pancake yang ada di piring. Sesekali tatanan yang sudah ia susun ia bongkar lagi karena mungkin tidak sesuai. Ia masih mengenakan celemeknya yang malah terlihat sangat lucu.

Walaupun begitu, malah semakin menambah kesan maskulin dan terlihat dua kali lebih tampan. Aku tersenyum dalam hati. Sepertinya ia serius dalam hal ini.

“Oppa, maaf membuatmu menunggu” Ucapku dengan wajah dan nada sangat menyesal. Aku menggigit bibir bawahku. Ia berbalik , kemudian menatapku dengan pandangan berbinar.

“Chiyoon-ah !”

Entah ini persaanku saja atau bukan, tapi tatapan Junso terlihat seperti tatapan seseorang yang sedang merindu. Ia menarik kepalaku dan disandarkannya pada bahunya. Oh Tuhan… Dadaku berdetak tak karuan. Diangkatnya wajahku, dan ia mengacak rambutku lembut. Aku hanya tersenyum senang.

“Apa kau bahagia bertemu denganku? Kau tahu, aku sangat rindu padamu” Tepat sekali apa yang kuduga, bahkan Junso tak malu mengakui bahwa ia rindu padaku. Oh andaikan ia tahu bahwa aku seribu kali lebih rindu padanya.

“Sangat-sangat bahagia, oppa” Ia menyuruhku untuk duduk di sampingnya.

“Ini pancake, seperti apa yang sudah kujanjikan. Apa kau masih ingat?”

“Bagaimana aku bisa lupa?” Kami tertawa. Ia mengambilkanku sepotong dan menuangkan sedikit sirup maple di atasnya dan segera memberikannya padaku.

“Thanks” Ucapku sambil menerimanya. Kupotong sedikit kuenya dan kurasakan. Rasanya lumayan, setidaknya tidak gosong seperti saat aku yang membuatnya.

“Bagaimana?”

“Tidak buruk! Boleh aku minta satu lagi?” Ucapku semangat karena ini sangat enak, kebetulan juga aku belum makan siang.

“Oppa, sepertinya baju masak itu cocok juga untukmu” Ucaku sambil memandang celemek yang menempel di tubuh Junso. Ia menyadarinya, segera melepaskannya dan melipatnya dengan rapih.

“Semua ini berkat Yoojin. Ia yang mau kuganggu demi mengajariku membuat pancake untuk adiknya iniii ” Junso meraih bahuku dan memencet hidungku dengan gemas.

“Ah, oppa sakit !” Ucapku dan segera membalas perbuatannya. Sedangkan ia malah tertawa terbahak sambil menghindari serangan dariku.

“Aku ingin meminta sesuatu darimu”

Aku mengerutkan keningku, “Apa?”

“Maukah kau…” Ucapannya terpotong

“….?”

“Menjadi adikku” Aku tersenyum sekilas. Mencoba mencerna kata-kata Junso barusan. Menjadi adiknya? Apa ini terlihat sangat konyol? Bukannya selama ini memang ia menganggapku adik ? Sedangkan aku lah yang memiliki perasaan yang lebih untukknya.  Tunggu dulu…

“Menjadi adikku, iparku” Ulangnya sekali lagi. DEG !! DEG !!

“Oppa, apa maksudmu?” Ucapku tak melepas sedikit pun pandanganku terhadapnya. Tanpa kuketahui, Junso dan Yoojin bergandengan tangan di depanku.

“Bukankah kau senang? Adikku?” Tanya Junso untuk yang kedua kalinya. Ia tersenyum sambil memandang wajah Yoojin. Senyumku memudar perlahan, menjadi hambar, sangat hambar. Apa maksudnya?

Kurasa tulang keringku melemas namun juga sangat kaku. Aku benar-benar tak paham dengan semua ini. Senyuman itu, setiap harinya yang kurasa hanya untukku, Mengapa kini justru terasa lebih manis saat ia berikan pada Yoojin. Apa ini mimpi? Kaki ku serasa lemas.

“Apa kalian…” Ucapanku terpotong, saat kulihat Yoojin mencium pipi Junso di depan mataku. Apa maksudnya ini ?? Jadi selama ini…

“Oppa, selamat!” Kupandangi wajah Junso yang saat itu terlihat sangat gembira. Semenit yang lalu aku masih menganggapnya orang yang menyayangiku, semenit yang lalu aku masih mengira ia akan jatuh cinta padaku, bahkan semenit yang yang lalu aku masih berharap ia mengatakan ingin menjadi kekasihku. Tapi apa yang terjadi? Benarkah ia mencintai Yoojin?. Tanpa seizinku, air mataku menetes deras dan aku mulai sesenggukan. Melihat keadaaku, mereka berdua kebingungan.

Tuhan, Mengapa akhir-akhir ini air mataku gampang sekali keluar ?

“Chiyoon-ah? Ada apa denganmu?”

Aku menggeleng cepat, Kupaksakan wajahku untuk tertawa di depan mereka. Chiyoon, tunjukkan bahagiamu di depan mereka.

“Kurasa, aku terlalu bahagia sampai sampai air mataku keluar” Cepat-cepat kuhapus bulir air mataku dengan tetap menunjukkan wajah berbahagia.

“Oh ya, aku masuk dulu. Aku lupa mengerjakan laporanku” kemudian aku pergi meninggalkan mereka berdua.

Apa aku pantas bahagia ? Demi Tuhan, ini menyakitkan.

‘Jangan menangis Chiyoon-ah, ada Oppa di sampingmu’

Itulah kata-kata terindah Junso yang selalu kuingat karena semenjak itu lah kurasa aku mulai menyukainya. Junso adalah seseorang yang sangat baik dan selalu memebelaku , bahkan ia pernah berjanji untuk selalu menjagaku. Ia lah orang terakhir yang siap berada di pihakku. Dan ia juga cinta pertamaku.

Seharian kuhabiskan waktuku di kamar. Jika saat makan tiba, aku lebih memilih pelayan rumah untuk mengantarkannya ke kamarku meski ibu terus saja membujukku untuk makan bersama.

“Aku kelelahan , bu” Ucapku saat ibu masuk kamarku dan hanya melihatku berbaring di atas ranjang dengan wajah pucat seperti mayat hidup.

“Kau yakin , sayang?” Ucap ibu menyentuh keningku. Aku mengangguk lemah.

Tinggalkan aku bu, aku ingin sendirian. Cukup banyak masalah yang datang akhir-akhir ini sehingga membuatku kelelahan. Lelah hati dan fikiran tentunya.

“Mau Ibu buatkan susu?” Aku mengangguk

“Baiklah, istirahatlah yang cukup. Ibu tak ingin kau tambah sakit saat besok pertemuan dengan keluarga Lee” Setelah berpesan padaku, ibu langsung menutup kamarku. Untuk kesekian kalinya tangisanku pecah.

Tiba-tiba, ucapan Donghae kemarin terngiang-ngiang kembali ke ingatanku, tidak hanya ucapannya yang membuatku terperangah ,namun ekspresinya juga mebuatku bertanya-tanya.

Ia datang dengan wajah pucatnya dan berkata dengan sedikit serius.

Seperti yang sudah kuutarakan. Jika kau tak nyaman berada di dekatku, kau boleh menjauhiku”

“Namun sepertinya sekarang ini bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal itu”

“Kumohon terimalah perjodohan ini, aku akan melakukan apapun agar kau menerimanya”

“Ada apa denganmu Lee Donghae-ssi? Kau tak memikirkan perasaanku?”

“Aku tidak akan mengambil apapun darimu. Ini semata-mata hanya sebuah ikatan. Ibu ku, ia jatuh sakit saat kemarin aku menolak kesepakatan ini. Situasiku amat mendesak”

“Lee Donghae-ssi! Mengapa pria selalu berfikiran sempit?”

“Jika Junso adalah alasanmu, aku akan bilang bahwa ia tidak menyukaimu”

“Kau… kau mengancamku?”

“Ia mencintai gadis lain. Aku sudah mengetahui hal ini sejak lama”

“Kau licik. Apa kau ingin memanfaatkan situasi ini? Hah??”

Flashback end_

Kulempar bantal ku dengan kesal. Bayangan akan Junso selalu mengusik fikiranku.

Sebab setelah hujan selalu ada seseorang yang datang sebagai pelangi, dan memelukmu. Apa kau mengijinkan oppa mu ini memelukmu selamanya?

Tentu saja, oppa. Junso-oppa aku ingin selamanya dipeluk olehmu  

Selepas pulang sekolah aku tidak langsung pulang. Kuputuskan untuk menyendiri di taman dekat kompleks rumahku. Entah apa yang harus kuperbuat setelah kejadian ‘kemarin’ rasanya aku sudah tak memiliki masa depan, mengingat aku juga sudah dijodohkan dengan seseorang yang tidak kucintai.

Mataku memandang ke segala penujuru, Nampak ramai namun tak sanggup mengobati rasa kesendirianku.

BRUKK!!!

Aku terjatuh tepat di sebuah lubang air. Mungkin saking tak fokusnya aku berjalan, jadi aku tak tahu terdapat sebuah lubang di tanah. Aku meringis tertahan. Sangat sakit, namun tak kuhiraukan karena kini hatikulah yang lebih perih. Kuteruskan berjalan, dengan sedikit pincang. Pikiranku kembali melayang.

Pernah aku berfikir dengan adanya Junso di sisiku, mungkin saja aku memiliki alasan yang kuat untuk menolak perjodohan ini karena aku sudah menemukan orang yang kusayangi untuk kehidupan masa depanku. Namun sejak, ‘pengakuan’ mereka kemarin ditambah dengan pernyataan Donghae sepertinya aku tidak ada daya untuk menolak bahkan menentang ini semua.

Di tengah lamunanku, tiba-tiba ponselku berbunyi nyaring. Kupandangi layar yang tertera ternyata sambungan dari ponsel Yoojin. Aku belum siap dengan semua ini. Kubiarkan ponselku terus bernyanyi. 10 menit, 15 menit, 30 menit, 45 menit, hingga tak terasa terdapat 25 panggilan tak terjawab yang semuanya dari Yoojin. Perlahan kubalikkan ponselku dan kucopot baterainya. Aku kembali terdiam dengan lamunanku. Pikiranku melayang.

Saat ini sungguh aku tak ingin diganggu oleh siapapun. Sungguh.

Mataku menerawang, ingatanku kembali pada kejadian saat Junso tersenyum mesra pada Yoojin, Yoojin yang mencium pipi Junso, dan sederet kata-kata ‘pengakuan’ dari mereka. Aku tersenyum kecut. Kemudian teringat akan pengakuan Donghae yang rela mengorbankan perasaannya demi gadis yang ia cintai. Rela bertunangan dengan seseorang yang ia benci demi menemani gadis itu. Sungguh kisah di luar dugaanku.

Mengapa sangat sakit berada di tengah-tengah orang yang saling mencinta ?

Hatiku berkata lain, tentunya dengan penuh pertimbangan. Kuhapus air mata yang mengering di pelupuk mataku. Donghae bilang, ini hanyalah sementara , hanya sebuah ikatan yang tak berarti apapun dan jika telah tiba waktunya maka kami bisa berpisah. Selain itu aku juga dapat meneyelamatkan perusahaan agar tidak jatuh ke tangan paman Kim. Dan mungkin juga bisa menguntungkan bagiku karena setidaknya aku bisa melupakan Junso. Tiba-tiba ada sebuah perintah untuk menghidupkan ponselku. Saat ponsel kuhidupkan, secara otomatis telepon Yoojin tersambung padaku.

“Chiyoon-ah , sekarang kau dimana?” Nadanya terdengar sangat panik. Yoojin, apa ia mengkhawatirkanku. Ah, ia memang kakak yang sangat baik. Aku tersenyum tipis, berharap ia bisa merasakan senyumanku.

“Sebentar lagi aku pulang, onni”

“Chiyoon-ah, kau tidak berusaha kabur kan?” Aku tersenyum getir.

“Jadi apa keputusanmu?” Aku masih terdiam.

“Baiklah, 3 jam lagi keluarga Lee akan sampai kemari” Aku mengangguk

“Chiyoon-ah?”

“Ya?”

“Kuharap ini keputusan yang benar”

Aku mematung sebentar, lalu menutup flip ponsel ku dan beranjak pergi dari tempat ini.

Sebentar lagi, mungkin saja perasaanku akan berubah.

Begitu memasuki kamarku, aku dikejutkan oleh beberapa kotak besar yang dibungkus pita cantik berwarna ungu muda.

“Apa ini ?” Aku menyentuh satu persatu dan mencoba membukanya perlahan.

“Chiyoon-ah, ibu telah mempersiapkan ini sejak lama. Bukalah!” Ucap Yoojin yang mengekor di belakangku. Kubuka dan kudapatkan sepasang gaun kuning berpayet yang telah lama kuinginkan. Bagaimana ibu tahu aku menginginkan gaun yang ini ? Mataku beralih ke Yoojin yang sedang membantuku membuka bungkusannya.

“Lihatlah, ini terlihat cocok untukmu. Chiyoon-ah, segeralah bersiap. Kutunggu kau di bawah ya?” Aku mengangguk lemah. Entah aku bimbang. Aku hanya memandangi gaun pendek indah yang telah lama kuidamkan ini. Pandanganku beralih ke kotak berikutnya. Aku terkejut memandangi sederetan berlian yang dikemas dalam satu paket. Kupikir ini terlalu berlebihan.

Bukankah pertemuan nanti hanyalah jamuan makan malam saja?

Setelah semuanya siap, kupandangi diriku di depan cermin. Wajahku masih sulit untuk tersenyum, apalagi tertawa.

Chiyoon-ah, lupakan semuanya. Lupakan. Ini salah satu cara untuk melupakan cinta pertamamu. This is a new day. Fighting!

Aku tersenyum perlahan, dipaksakan.

Terdengar suara deru mobil yang berhenti di pelataran rumah. Jantungku berdetak kencang. Aku menuju jendela kamar, dan menyilakan sedikit gorden untuk mengintip sedikit. Itu keluarga Donghae.

 

My adorable fiancée,

To be continued

*

Annyonghaseyooo?? O genki desu ka ? lols

Udah siap-siap tisu belum bebs karena sedih ? ato malah ga sedih sama sekali? TT_TT. Sebenernya sedih juga nyeritain kisah ini lagi, karena salah satu scene nya merupakan kisah pribadi Madhit TT_TT. Mau nebak ? Tebak deh😛

Yah, emang terkadang sangat sakit yah bebs nerima kenyataan pait. Orang yang merupakan cinta pertama kita, ternyata suka dengan orang terdekat kita. Rasanya tuh kaya ditusuk-tusuk jarum gitu deh bebs TT_TT *nah lo curhat!!*

Okeh chingudeul, tadi Madhit uda mau berbagi sama readers semua. Sekarang gentian kalian yang nanggapin yah bebs. Nyumbang apaaa gitu? Nyumbang tisu juga gapapa.😀