Penulis

Author : Kezia

Rating : PG 13

Cast :

Beast’s Yoseob – as Yo-hee

MissA’s Minyoung – as Min-hyuk

Beast’s Gikwang – as Gi-kwang

Secret’s Hyosung – as Hyo-sung

 

My Heart is Beating

Aku mengintip sedikit lewat bahu kananku. Aman! Tampaknya beberapa orang berbadan besar itu kehilangan jejakku. Bermain kejar-kejaran di siang hari yang terik memang bukan ide yang baik. Meskipun ini di Seoul, bukan di Jakarta. Tetap saja. Kakiku rasanya kaku karena terlalu banyak berlari dan sekarang aku lapar. Tak jauh dariku, terjadi sebuah percakapan lewat telepon genggam yang kutebak seorang kantoran. Tak sengaja aku mencuri dengar, mendadak rasa laparku hilang. Lalu sambil tersenyum senang aku berjalan ke toko terdekat untuk meminjam gunting lalu membeli sesuatu.

*****

Langkahku terhenti memandangi besarnya gedung itu. Mataku menelusuri seluk-beluk gedung itu, lalu menangkap tulisan yang tertera di dinding sebelah pintu. G.syx Entertainment. Seorang gadis berpakaian norak keluar dari sana sambil terisak. Audisi ? aku terkekeh setelah membayangkan rencanaku yang sangat sempurna. Aku berlari mencari beberapa hal yang akan diperlukan dengan sisa uangku. Untung saja aku salah bawa koper!

*****

“Luruskan tangan ke kanan dengan sedikit hentakkan, ya begitu. Oke, ulangi dari awal. Satu, dua, tiga, empat. Nah, sudah lebih baik, uhm, siapa namamu ?”

“Min Yeo.. ehm, maksudku Min Hyuk, Lee Min Hyuk.” Jawabku untuk yang kedua kali. Hampir saja.

“Oh ya, Min Hyuk-ssi*1. Lakukan kembali yang tadi saya ajarkan hingga lancar, besok kita ketemu lagi,”

“Iya, makasih pak, ati-ati di jalan,” jawabku sambil mengiringi guru danceku dengan pandangan kasihan. Ia pasti sangat tertekan mengajariku.

Sekitar 2 jam setelah aku meliuk-liukkan tubuhku mengikuti yang tadi di ajarkan, kini aku akan mencabik pita suaraku selama 3 jam dengan seorang guru vokal yang tak kenal ampun. Meski kadang kejam, sebenarnya ia baik. Ia bahkan pernah memujiku memiliki suara yang bagus dan tersenyum. Ia tampak cantik saat tersenyum. Tapi sangat disayangkan. Ia hanya tersenyum sekali seminggu.

Ini tidak menyenangkan seperti yang selama ini aku bayangkan. Mungkin salah satunya karena aku belum punya kawan disini. Kata hyeong*2,manager grup yang akan dibentuk, ia akan membawa teman untukku malam ini. Untuk sambutan hangat, aku memotong semangka dingin. Anggota barunya, kejutan. Dia cewek. Dan sama sekali tidak menyentuh semangka. Membungkuk padaku lalu pergi ke kamarnya. Malam itu aku makan 7 potong semangka dingin sendirian. Sangat dingin.

“Gerakkannya lebih di gemulaikan lalu di hentak, bukan begitu, nah. Ulangi lagi ya,” guruku memberi aba-aba. Bersamaan dengan itu, untuk yang ketiga kalinya mata gadis itu berputar. Ini ketiga kalinya aku mengulang gerakan yang sama, namun masih saja jelek. Sementara gadis itu, ia hanya perlu sekali melihat contoh, lalu berhasil menirukannya dengan sempurna. Wajar saja ia jengkel latihan denganku.

“Hei,” panggilku.

*****

Apa-apaan sih pria itu! Udah dancenya jelek banget, suaranya macem tikus kejepit pula. Dia perlu training minimal 20 taon! umpatku dalam hati. 3 jam menarikan gerakan yang sama bukan hal yang tidak membosankan, tapi sangat membosankan. Aku tidak peduli apa ia anggota segrupku sedang memanggilku dari bawah. Ia payah banget!

Sebuah harum masakan tercium yang di iringi kerincingan perutku. Mencari sumber bau, tergeletak manis sepiring makanan yang tak kukenal. Tanpa sadar ku ambil satu dan langsung mengunyahnya. Enak!

“Itu namanya tempe,” aku menoleh, pria itu.

“Apa ?”

“Tempe. Enak kan ?” ulangnya.

“Biasa aja,” jawabku setelah menelan yang kedua. Sekarang aku sedang mengunyah yang ketiga.

Tak lama, ia menghidangkan dua paha ayam serta banyak kentang goreng. Sepertinya ia tahu aku sangat lapar.

Noona*3 kelas berapa ?”

Bukannya menjawab, aku malah balik bertanya. “Berapa umurmu ?”

“5 Januari, noo…”

“Tahun ?” potongku.

“1990,” dia lebih muda dariku.

“3 SMA. Ga sekolah ?”

“Udah lulus,” jawabnya kalem. Lulus ?

“Dari kapan ?”

“Tahun lalu,”

“Kok bisa ?”

Dia terkekeh. “Gw pindah sekolah ketika kelas 1 SMP. Lalu di tempat yang baru gw ngaku kelas 3 SMP. Mereka percaya dan gw masuk kelas 3 SMP. Jadi lebih cepat setahun dari umur aslinya,” ceritanya. Aku ternganga. Dia pasti sangat pintar.

“Panggil gw Yo-hee saja, kita kan teman,” ups. Langsung saja muka bocah itu sumringah.

“Ehh, maksud gw..” Dia mengurungkan senyumnya. Aku jadi merasa bersalah.

“Biar gw angkat piring kotornya.” katanya sambil mengambil piring yang sudah kosong dan membawanya ke dapur. Aku berlari mengejarnya.

“Gw bantu! “ seruku.

“Sarung tangannya cuma ada satu,” kamipun berperang memperebutkan sarung tangan untuk mencuci piring. Sebagai pemenang, aku mencuci 2 piring kotor itu. Aku merasa tidak enak karena sebagian besar isi piring itu aku yang makan, sementara, siapa namanya ? ah, Min-hyuk sendiri hanya mencomot beberapa kentang. Ia memang payah dalam urusan menari dan menyanyi. Tapi siapa peduli ? dia menyelamatkan hidupku dari ancaman kematian akibat kelaparan.

“Suka es krim,ga ?” tanyaku sambil mengeluarkan sekotak eskrim.

Bersamaan dengan itu, Min-hyuk berkata pula. “Tadi pagi gw baru beli DVD film. Nonton yuk ?” Kami terdiam dan saling menatap. Aku menyeringai dan ia tertawa.

“Let’s go!” aku mengeluarkan sekotak es krim dan Min-hyuk menyiapkan filmnya. Sambil tertawa bersama kami menghabiskan baskom besar berisi eskrim itu. Tanpa terasa, hari sudah malam.

“Mantap banget,” kata Min-hyuk.

Aku terpaku menatap baskom kosong itu dengan nanar. Tadi eskrim yang menjunjung tinggi itu habis..

“Min-hyukkie, kita dalam masalah..” ujarku sok misterius.

“Hm ? Kenapa ?”

“Eskrim penuh itu habis.. Kita tidak boleh langsung tidur atau besok lemak-lemak akan muncul bergelambir.. Hii..”

“Uh ? Eottokhae*4 ? keluhnya.

“Hanya ada satu cara,” ku sipitkan mataku.

“Huh..huh..huh…huh.. Aaaaaa Yo-hee! Gw ga kuat lagi!” Ujar Min-hyuk tersengal

“Ga bisa! Sedikit lagi! Terus! Terus! Oh Yeah! 2 menit lagi, Hyukkie!”

Dua menit kemudian, Min-hyuk melemparkan tubuhnya ke lantai gym.

“Gw hampir aja mati,” erangnya.

“Percayalah ama gw, kalo ga begini, dijamin besok lu ga bakal bisa nari,”

“Iya gw percaya kok,” ia mengedipkan sebelah matanya.

“Phuahahahahahaha!” Ia terjatuh tidak melihat tali yang melintang. Ia berdiri dan mengejarku sampai depan pintu kamar.

“Dah,” pamitnya. Aku tersenyum. Kuhempaskan tubuhku ke kasur. Ia tidak seburuk yang kukira. Dia.. manis juga.

*****

Matahari menerobos masuk lewat jendela dan membangunkan aku. Tidak biasanya aku bangun sesiang ini. Aku masih mengantuk tapi kupaksakan mencuci muka dan bersiap untuk masak sarapanku dan Yo-hee.

“Sarapan siapp! Yo-hee! Ayo bangun! Nanti kau terlambat! Ini sudah jam.. YA AMPUN! SETENGAH SEMBILAN, YO-HEE!” teriakku panik di depan pintu kamarnya.

“Ah.. Jam berapa? Hoahm..” Yo-hee menggeliat di kasurnya. Tiga hitungan kemudian, ia terlonjak kaget. “ SETENGAH SEMBILAN ?!!” ia mencuci muka dan menyikat gigi, lalu berhenti melakukannya dan terlihat berpikir.

“Paling gw dateng udah kaga dikasih masuk. Udah ah, makan aja,” ujarnya melengos ke dapur.

“Wih, apa nih ?” tanyanya penuh semangat.

“Nasi uduk, makan gih mumpung masih anget,” ujarku sambil memberinya piring.

“Emh, ehak! Hu hago mahak ha ?” ucapnya dengan mulut penuh.

“Lu ngomong apaan sih, ga ngerti gw,” Dia menelan makanannya.

“Ajarin gw masak dong!”

Jadilah siang itu dihabiskan Yo-hee dengan belajar masak bersamaku di dapur dan bukan di sekolah. Hari berlalu dan hubungan kami semakin baik. Pernah sekali waktu aku memergokinya menguntitku tengah malam saat aku akan menuju suatu tempat dan ia terlihat sangat malu ketika ku buatkan dia cokelat panas sebagai tanda aku tahu kehadirannya. Setelah itu ia tidak berani menguntitku lagi. Hampir saja. Setelah itu, kami berteman baik. Yo-hee cukup menyenangkan dan hangat. Ia bahkan mau mengajariku menari dan menyanyi dengan baik. Kupikir dia berbeda dengan Yo-hee yang pertama kutemui yang dingin dan sombong. Lalu hal yang mengerikan terjadi. Aku menyukainya.

*****

Hari ini genap aku dan Min-hyuk 3 tahun menjadi training. Sementara dua lainnya, Lee Gi-kwang dan Jeon Hyo-sung 1 tahun. Menurut manager kami, dalam waktu dekat kami akan debut. Tapi bukan itu yang sekarang mengganggu pikiranku. Bersamaan dengan hari ini, berarti sudah 3 hari Min-hyuk menjadi topik terhangat dalam berita otakku. Begini masalahnya, 4 hari yang lalu Di rumah ada Gi-kwang, Hyo-sung, dan manager. Min-hyuk pergi ke suatu tempat. Ia pergi seharian. Seharian pula aku tidak melakukan apa-apa. 3 hari ini kami tidak terlalu banyak berkomunikasi. Aku terlalu sibuk dengan pikiranku. Aku mencoba berpikir rasional dan tidak emosional. Nyatanya aku tidak bisa hidup tanpanya. Ini gawat.

Aku tahu, tak ada batasan untuk cinta. Dia itu pria, dan aku.. wanita ? Itulah masalahnya, aku tidak bisa melanjutkan ini. Kami sejenis. Kantukku hilang, dan aku memutuskan untuk minum cokelat panas. Bahkan cokelat panas ini memiliki cerita tentang aku dan dia. 3 tahun bersama, hidup kami terlalu bersatu. Karena dia pula, aku jadi lebih sering bernyanyi ketimbang menari. Kata guru vokalku, suaraku memiliki power yang kuat. Dan sekarang aku baru sadar bahwa setiap kali bernyanyi tanpa sadar aku memikirkan dia. Mungkin aku terlalu bergantung padanya. Ah, andai saja aku benar-benar seorang wanita.. Mungkin semuanya tidak akan serumit ini.

GEDEBUG! “Aish!” aku menoleh. Suara itu berasal dari.. ruang latihan! Mengendap-endap perlahan aku membuka pintunya sedikit dan mengintip. Jantungku berdebar keras. Mungkin saja dia maling, aku harus waspada.

Bayangan gelap itu kemudian menggerak-gerakkan anggota tubuhnya tanpa bisa kumengerti maksudnya. Kemudian dia menghadapkan tubuhnya ke arah pintu dan kembali menggerak-gerakkan badannya. Apa dia sedang.. menari ? Aku segera sadar itu adalah gerakkan latihanku. Gerakan yang hanya kuajarkan kepada… Min-hyuk! Ia berlatih tengah malam ? Selama bertahun-tahun ? Maksudku, aku tahu selama ini ia keluar tengah malam tanpa ku tahu yang ia lakukan. Sekali waktu aku penasaran, aku tertangkap. Dan aku benar-benar malu sampai ingin bersumpah tidak akan menguntitnya lagi.

Kembali kepada Min-hyuk lagi. Kuakui, ia sudah sangat sangat jauh lebih baik daripada yang pertama ia lakukan di depanku. Benar-benar jelek. Dan sekarang, ia mendapat julukan dance machine. Ia benar-benar hebat. Tapi, tunggu. Apa itu ? Sesuatu yang ganjil membuatku menyipitkan mata. Sesuatu yang bukan milik Min-hyuk. Ku pastikan kembali wajahnya, ia memang Min-hyuk, dengan sesuatu yang membuatku ternganga. Kututup mulutku dan segera beranjak dari situ.

*****

Aku tahu kalau ada yang sedang menatapku. Tapi aku tidak yakin. Disini sangat gelap dan tidak banyak yang dapat kulihat. Kuteruskan tarianku, lagi dan lagi. Gemulai dan hentakkan, lenturkan dan dorong. Itu yang kulatih setiap malam selama 3 tahun disini. Hasilnya tidak terlalu buruk. Aku suka menari. Mungkin karena Yo-hee. Ah, andai saja aku benar-benar pria..

Lalu terdengar suara langkah kaki yang pelan. Aku dapat mendengarnya. Aku berhenti menari dan mengikuti pemilik suara langkah kaki tadi. Aku sangat berharap dia bukan perampok. Dia berjalan menuju.. ruang rekaman ? Dia tidak menutup pintu dengan rapat, sehingga aku dapat mendengar dengan jelas, dia menyanyi. Yo-hee..

Untuk pertama kalinya aku mendengarnya bernyanyi. Ya, kami berlatih vokal sendiri-sendiri, jadi aku tidak pernah mendengarnya bernyanyi secara langsung. Dan suaranya.. rendah ? Ini suara pria! Aku menutup mulut, menahan tangis. Dia memang Yo-hee, menyanyikan lagu K.Will, My Heart is Beating dengan suara yang luar biasa indah.

“neoreul saranghae.. saranghae.. saranghanda.. “*5

Mungkin ia ingin menghayati setiap kata dalam lagu ini, ia menyanyi sambil menutup mata. Ku gunakan kesempatan itu masuk ke ruang rekaman dan melihatnya bernyanyi secara langsung yang hanya dibatasi oleh kaca itu. Dua buah benjolan yang ku tebak adalah kapas melorot ke perutnya. Air mataku tergenang. Tak lama ia membuka matanya dan menyadari aku disana. Ia tampak terkejut, namun ia tetap melanjutkan nyanyiannya sambil sesekali menatap mataku. Beberapa tetes airmataku jatuh sekuat apapun aku menahannya. Setelah lagu selesai, ku tunjuk perutnya. Lalu aku pun terpingkal. Dia hanya tersenyum malu lalu menggerakan tangannya mengajakku ke tempatnya. Kami bernyanyi bersama. Aku sangat, sangat, sangat bahagia.

“Jadi lu pura-pura jadi cewek gara-gara lu kira ini audisi khusus cewek ? Trus pas liat gw cowok kenapa gak lu ganti haluan ?” tanyaku.

“Abis gw pikir tanggung ah. Lagian seru juga, cari pengalaman.” Jawabku santai.

“Sarap,” Dia terkekeh.

“Kalo lo gimana ceritanya ?”

“Gw kabur dari rumah. Gw capek. Gw anak tunggal, dan bokap gw bilang, satu-satunya yang bikin gw ga bisa lanjutin kariernya adalah karena gw cewek. Dari kecil dia selalu bilang sayang banget gw anak cewek,” aku menghela nafas.”Di akhir keputus-asaannya, dia bilang dia mau jadiin gw cowok,”

“Operasi ?”

“Gitu deh,” Ia bergidik.

“Tapi kok lu malah jadi cowok ?”

“Karena dia bakal nyari gw sebagai cewek. Akhirnya gw nyamar dan ikut audisi disini karena ga tau mau tidur dimana. Tapi keliatannya bokap gw uda nyerah tuh. Perusahaannya sekarang di kelola adiknya, ” Aku mengakhiri ceritaku. Yo-hee tersenyum mendengar cerita ku berakhir bahagia.

“Besok kita harus pindah dari sini. Dengan masih jadi Yo-hee dan Min-hyuk,”

“Iya, jangan sampe manager tau, bisa pingsan dia,” kami terkikik.

Yo-hee mengulurkan tangan. Aku menyambutnya. “Mulai sekarang, nama gw Yo-seob. Yang Yo-seob,” katanya.

“Dan gw, Min-young. Lee Min-young.” Aku tertawa.

Saranghae,”*6

“Na ddo saranghae,”*7

Hidupku 3 tahun di G.syx Entertainment sangat menyenangkan, tapi kami terpaksa bubar. Tanpa disangka, ternyata masing-masing memang merencanakan untuk pindah. Hyo-sung pergi ke LOENT, Gi-kwang dan Yo-seob ke Cube Entertainment dan aku sendiri ke AQ Entertainment. Kami kadang berjumpa. Tapi masa itu telah berakhir. Meski cintaku tidak.

****

Mohon maaf kalo ceritanya aneh.author baru debut nulis fanfic tanpa training selain di sekolahan.hehehe.sekadar info, ini cerita pernah dikirimkan ke lomba yang diadain oleh Orizukka eonnie.tapi dengan senang hati cerita ini gagal hahaha.jadi saya coba2 kirimkan ke sini. Komentar, kritik, saran diterima dengan jingkrak-jingkrak. Terima Kasih. Gamsahamnida. Thank You. Kamsya. J