Title     : Whisper Of The Wind

 

Author : Cutemoo

 

Cast     : Yong Couple ( Kwon Jiyong aka G-Dragon Bigbang & Han Yong Woo [oc] )

 

Length  : One Shot

 

Genre   : Angst, Sad Romance

 

 

Annyeng yeorobun…… Author gaje kembali membawa fanfic untuk kaliaann.. Semoga kali ini fanfic nya ga gaje lagi ya ^^ Oh ya, jika kalian pernah membaca ff ini di blog tetangga coba diliat lagi author nya sama ngga, klo sama berarti itu emank ff saia, klo ngga berarti dia PLAGIAT! First publish on my fb, n sepertinya pernah saia kirim ke beberapa ‘tempat’ tapi dengan cast berbeda. Wkwkwk Yesung-dahlah curcolannya….

Enjoy! Happy Reading!! ^^

 

)***(

 

Perasaan senang sekaligus sedih yang timbul bersamaan ternyata seperti ini?! Membuatku sedikit mual! Entah sejak kapan aku memutuskan melakukan hal gila yang telah lama bersarang di otakku. Namun bukan dengan tanpa alasan aku melakukannya. Karena dialah aku, hati dan otakku, mulai berpikir jernih bahwa yang kulakukan adalah hal yang tepat. Walaupun tidak berarti benar.

 

“Yong Woo-ya, bagaimana?? Apakah baju ini terlihat bagus denganku??”

 

“Ne, anda terlihat tampan memakai baju itu, tuan muda” jawabku tersenyum sambil mengangguk.

 

“Aigoo, Yong Woo-ya. Aku sudah pernah bilang padamu sebelumnya, jika hanya ada kita berdua kau bisa memanggilku oppa. Atau kau ingin memanggilku chagya?”

 

Ia terlihat sedikit menggodaku dengan senyum manis yang sangat kusukai darinya. Benar! Pria ini adalah seseorang yang telah membuatku merasakan senang dan sedih diwaktu bersamaan.

 

“Nee…”

 

“Nee??” wajahnya tersirat bahwa ia sedang menungguku untuk mengatakan kalimat menggantung yang tadi belum selesai kukatakan.

 

“Ne… Op..pa” akhirnya aku bisa menyelesaikannya walaupun dengan sedikit terbata. Aku tertunduk menutupi wajahku yang sepertinya memerah akibat satu kata yang hampir gagal kukatakan.

 

Sebelum sempat aku mendongakkan kepala, ia mulai berjalan kearahku. “Yong Woo-ah, jebaalll… Bersikaplah biasa saja terhadapku jika tidak ada orang lain selain kau dan aku. Aku sudah cukup tersiksa dengan keadaan kita yang canggung satu sama lain bila ada appa dan eomma ataupun pelayan lain disekitar kita”

 

Aku hanya terdiam mendengar ucapan yang ia katakan. Tidakkah ia mengerti bahwa aku sama tertekannya dengannya?! Seharusnya ia juga mengetahui perasaanku jika benar ia mencintaiku seperti apa yang pernah dikatakannya dulu.

 

– 1st flashback –

 

“Nyonya, aku sudah membawakan seorang pelayan seperti yang anda minta. Mungkin kali ini akan cocok dengan selera tuan muda”

 

“Ne, kau boleh pergi” pelayan itu pun membungkuk sebentar sebelum akhirnya menghilang di balik pintu.

 

Kemudian si pemilik rumah yang tadi dipanggil Nyonya memandangku, “Siapa namamu?”

 

“Han Yong Woo imnida” jawabku sedikit tersenyum sambil membungkuk. Ia mengangguk lalu dengan sekali tatapan aku mengerti bahwa aku harus mengikuti langkahnya.

 

…..

 

“Jiyong-ah, eomma telah mencarikan pelayan khusus untukmu. Kali ini kau tidak boleh menolak lagi. Eomma sudah cukup repot mendengar laporan dari para pelayan tentang ulahmu yang selalu berbuat macam-macam!”

 

Aku mendengar suara wanita paruh baya tadi sedikit meninggi. Mungkin ia memang repot sekali menghadapi ulah anak tunggalnya itu. Menurut obrolan para pelayan yang aku dengar di dapur, tuan muda mereka memang sangat menyebalkan. Tapi entah kenapa aku tidak merasa seperti itu. Tentu saja, karena aku kan tidak mengenalnya. Tidak?? Aku belum menyadarinya hingga suara seseorang membuyarkan lamunanku.

 

“Pelayan Han, kau boleh masuk” ucap Nyonya pemilik rumah ini dari dalam ruangan.

 

Tanpa menjawab, aku melangkahkan kakiku memasuki ruangan yang cukup besar. Aku tidak tahu bahwa ini adalah sebuah kamar tidur jika saja ekor mataku yang dengan tidak sengaja menangkap sebentuk tempat tidur. Lima orang kurasa cukup muat untuk bisa menidurinya.

 

Dengan sikap hormat aku membungkuk pada orang yang para pelayan panggil dengan sebutan Tuan Muda. “Han Yong Woo imnida” aku memperkenalkan diri walaupun tanpa diminta.

 

“Pelayan Han, mulai hari ini kau bekerja mengurusi segala sesuatu tentang Tuan Muda Kwon Jiyong” aku mengangguk mendengar perintahnya.

 

“Eomma, aku ini sudah besar, apa perlu kau memanggil seorang pelayan untuk menyiapkan keperluanku sedangkan hal itu sudah bisa kukerjakan sendiri!” pria itu berkata tanpa melihat kearahku, karena posisinya sedang membelakangiku.

 

“Kwon Jiyong-sii!! Eomma tidak akan menerima alasan lagi darimu! Mulai besok aku tidak ingin mendengar laporan dari para pelayan tentangmu, apapun itu!”

 

Aku hanya bisa menundukkan kepalaku mendengar perdebatan sengit seorang anak melawan eomma-nya yang mempunyai kekuasaan dirumah bak istana ini. Apakah aku akan betah bekerja ditempat dengan suasana seperti ini? Aku berharap ini tidak akan berlangsung lama.

 

“Ne, eomma” jawabnya pelan, wanita itu pun keluar meninggalkan ruangan. Entah aku yang berlebihan atau tidak, sepertinya begitu Nyonya itu keluar aura ruangan ini tidak sedingin seperti waktu ia berada disini.

 

“Haaah, menyebalkan! Apa aku segitu merepotkan sampai-sampai eomma harus menyiapkan pelayan khusus untukku?!” ia membanting tubuhnya dikasur.

 

“Ya! Kau pelayan baru! Apa kau sudah tahu apa tugasmu disini?” tanyanya tanpa melihat kearahku, lagi.

 

“Mianhae, jika aku tidak salah tugasku adalah menyiapkan segala keperluan anda, Tuan Muda”

 

“Tidak salah??! Tentu saja itu salah! Tugasmu adalah diam dipojok ruangan ini tanpa harus berbuat apa-apa. Aku bisa mengerjakan semuanya sendiri. Araseo!!?”

 

“Ne” mau tidak mau aku mengiyakan perkataanya, walaupun nanti aku tetap melakukan tugasku seperti yang diperintahkan Nyonya Besar.

 

“Kau bilang siapa namamu tadi?”

“Han Yong Woo imnida”

 

“Han Yong Woo? Sepertinya aku pernah mendengar nama itu. Han Yong Woo, Han Yong Woo” aku mendengarnya seperti terkesiap. Lalu ia terbangun, kemudian berjalan menghampiriku.

 

“Benarkah…kau..Han Yong Woo??” aku mengangguk mendengar pertanyaannya. Aneh?! Kenapa sikapnya seperti dia mengenalku, seperti seseorang yang sudah lama tidak bertemu?!

 

“Yong Woo-ya, ini aku! Apa kau sudah tidak mengenaliku?” aku tidak bertanya ‘apa maksudmu’ karena sepertinya raut wajahku sudah mengambil alih ucapanku.

 

“Ini aku! Choi Soo Byung! Kau ingat!? Kita pernah bertemu empat belas tahun yang lalu, apa kau ingat??” tanyanya antusias.

 

“Choi Soo Byung??” ia mengangguk cepat. “Sepertinya aku pernah mendengar nama itu, tapi aku lupa dimana” wajahnya menampakkan penuh harap agar aku cepat mengingat apa yang dimaksud olehnya. Tidak sampai lima detik, aku tersentak kaget.

 

– 2nd flashback –

 

“Huhuhu…mengapa eomma dan appa meninggalkanku sendirian? Apa kalian sudah tidak mencintaiku lagi? Huhu…”

 

“Appa, eomma…kembalilah. Aku merindukan kalian, cepatlah kembali. Huhuhu…”

 

Hari ini adalah hari yang paling kelam, aku terduduk sambil menangis di sebuah taman. Untuk hari ini dan selamanya aku tidak lagi bisa melihat appa dan eomma. Yang kudengar dari orang-orang bahwa mereka sudah tidak lagi tinggal di bumi, melainkan di tempat yang indah. Aku yang baru berumur enam tahun tak mengerti dengan maksud orang-orang itu. Namun yang menjadi pertanyaanku adalah, jika mereka pergi ke tempat yang indah mengapa mereka tidak membawaku juga? Mereka kan tahu bahwa kami tidak mempunyai sanak saudara. Dengan tidak adanya mereka, kini aku hidup sebatang kara. Namun pikiran itu segera terhapus begitu aku merasakan ada tangan yang memelukku.

 

“Jangan takut, jangan bersedih, juga jangan menangis. Tenanglah, aku akan menjagamu”

 

“Nuguseyo?” tanyaku disela isak tangisku.

 

“Aku adalah malaikat yang diciptakan Tuhan untuk menjagamu” ucapnya seraya tersenyum. Entah kenapa setelah mendengar ucapannya itu, perasaanku menjadi hangat. Padahal kami baru pernah bertemu. Bagiku ia bagaikan oase di tengah padang pasir.

 

Tak terasa sudah seharian ia menemaniku mulai dari bermain hingga bertukar cerita layaknya orang dewasa. Dan saat yang paling tidak kuinginkan pun tiba. Kulihat seseorang mendekatinya kemudian mengajaknya pergi. Ia sedikit meronta yang akhirnya bisa melepaskan diri dari genggaman ahjumma tersebut. Sambil tersengal ia menghampiriku.

 

“Mianhae, aku harus pergi. Oh ya, siapa namamu?” katanya sambil terus menggenggam tanganku. Aku mulai menangis.

 

“Han Yong Woo imnida. Tapi oppa, bukankah kau bilang kau berjanji akan menjagaku? Mengapa sekarang kau meninggalkanku? Hiks..” aku mendengar ahjumma tadi memanggilnya.

Ia menengok kearah ahjumma itu sekilas, kemudian kembali berkata padaku. “Mianhae, jika nanti kita bertemu lagi aku akan menepati janjiku. Jeongmal mianhae, Yong Woo-ya” sesaat ia mengecup tanganku sebelum akhirnya melepasnya dan beranjak pergi.

 

“Namaku Choi Soo Byung. Ingatlah itu jika nanti kita bertemu lagi” ia berteriak padaku, kemudian mobil berwarna hitam itu pun benar-benar membawanya pergi. Meninggalkanku sendirian dengan tatapan hampa dan air mata yang meleleh tanpa henti.

 

– 2nd flashback end –

 

“Choi Soo Byung?!!”

 

“Ne! Apa kau mengingatnya?? Kau sudah mengingatku??” tanyanya dengan tawa lebar. Sepertinya ia kelihatan senang sekali.

 

“Hmmm” aku mengangguk. “Kalau kau Choi Soo Byung, mengapa eomma-mu memanggilmu Kwon Jiyong??” tanyaku heran. Omo! Seharusnya aku tidak bertanya seperti itu.

 

Ia tidak langsung menjawab pertanyaanku, tapi malah memelukku erat sekali. Seperti tidak mau melepasku. Jantungku berdebar merasakan lagi hangatnya pelukan pria yang dulu sempat menghilang dariku. Tahukah kau bahwa selama ini aku juga telah mencarimu kemana-mana, Choi Soo Byung?? Hingga akhirnya aku putus asa karena tak pernah menemukanmu.

 

Tak berapa lama kemudian, ia pun melepaskan pelukannya itu.

“Mianhae, Tuan Muda. Tak seharusnya aku bersikap tidak sopan padamu” kataku setelah sadar bahwa aku hanyalah seorang pelayan di rumah ini.

 

Ia menggeleng cepat, senyum manis masih menghiasi wajahnya. “Sebenarnya namaku memang Kwon Jiyong. Aku memakai nama Choi Soo Byung karena aku menyukainya”. Kemudian ia menggenggam tanganku, “Bogoshippo, Yong Woo-ya. Jeongmal bogoshippoyo”

 

“Sekali lagi, mianhae, Tuan Muda. Anda tak seharusnya bersikap seperti ini, aku hanyalah seorang pelayan” aku membungkuk sambil mundur satu langkah. Mianhae, Soo Byung-ah, sebenarnya aku pun merindukanmu. Sangat sangat merindukanmu. Tapi aku sadar siapa aku sekarang. Aku hanya seorang pelayanmu!, batinku.

 

“Yong Woo-ya, jebal. Bukankah kita sudah lama saling mengenal?! Mengapa sikapmu berlebihan seperti ini? Aku tetaplah Choi Soo Byung yang dulu, yang sangat menyayangimu”

 

“Satu hal kuminta padamu, panggil aku oppa jika hanya ada kita berdua. Bila ada orang lain disekitar kita, barulah kau boleh memanggilku Tuan Muda. Ara??!”

 

Aku mengangguk, menyerah akan keputusan sepihaknya. Walaupun sebenarnya aku sangat senang dengan ucapannya itu. Ternyata Choi Soo Byung-ku, anio, Kwon Jiyong-ku masih tetap seperti dulu. Tidak berubah sama sekali. Ia masih tetap menyayangiku. Walaupun aku tidak tahu mengapa ia bisa menyukaiku dulu, entah kenapa aku tidak ingin mengetahuinya. Kurasa dengan rasa sayang yang ia berikan padaku sudah cukup bisa menutupi pertanyaan yang selama ini menggantung di otakku itu.

 

Lalu, bagaimana dengan janjinya dulu?? Bukankah ia bilang ia adalah malaikat yang Tuhan berikan untukku?? Bagaimana dengan keputusannya –yang menurutku hanya sebuah lelucon belaka- bahwa ia akan selalu menyayangiku, menjagaku selamanya setelah mengetahui bahwa sekarang aku hanyalah seorang pelayan? Masihkah ia seperti dulu?

 

“Yong Woo-ya, aku rasa Tuhan sangat menyayangiku karena telah mempertemukanku denganmu lagi. Sepertinya Ia ingin mengujiku, agar aku tidak lupa bahwa dulu aku sempat berjanji padamu akan selalu menjagamu. Kau ingat bukan kalau aku adalah malaikatmu?”

 

Seakan tahu isi pikiranku, ia kembali mengingatkanku tentang janjinya itu.

 

“Dulu aku pernah berjanji padamu akan selalu menjagamu. Dan mulai saat ini, aku akan menepatinya. Karena aku mencintaimu, sejak dulu hingga sekarang. Takkan pernah berubah.”

 

Kali ini aku tidak membantahnya. Yang kutahu hanya perasaan yakin bahwa apa yang diucapkannya itu adalah benar. Tanpa kusadari sebulir air mata jatuh di sudut mataku. Ia tersenyum lalu memelukku. Soo Byung-ah, Jiyong-ah, siapapun namamu… Jebal, tetaplah berada disisiku selamanya.

 

– 1st flashback end –

 

“Ne, oppa. Kau sangat tampan memakai baju itu” kali ini aku mengatakannya dengan mantap.

Ia tersenyum puas mendengar ucapanku. Aku menghampirinya, sekedar berbasa-basi merapikan baju yang sedang ia kenakan. Bukankah memang itu tugasku sebagai pelayan?!

 

Namun lain hal dengan Jiyong, ia malah menatapku sangat dalam. Entah apa yang merasuki pikirannya hingga ia berani mendekatkan wajahnya kearahku. Aku tidak berani menatapnya langsung, karena aku tahu apa yang akan ia lakukan.

 

“Yong Woo-ya…” bisiknya, mau tak mau aku menatapnya. Jiyong-ah, jebal jangan menatapku seperti itu jika kau masih ingin agar aku tetap hidup..!

 

Sedetik kemudian bibirnya sudah menempel dibibirku. Aku rasa aku akan dihukum pancung jika Nyonya rumah ini tahu bahwa ada seorang pelayan dengan berani menerima ciuman dari putra tunggalnya. Tapi, jika aku boleh berkata… ‘Mianhae, nyonya, sepertinya aku terbuai dengan ciuman yang anakmu berikan ini’.

 

Setelah –kurasa- agak lama, Jiyong menyudahinya. Sambil terus menatapku, ia memasang senyum manisnya. Aku balas menatapnya, tanpa henti kugigiti bibir bawahku. Dengan begitu aku bisa tahu bahwa aku masih hidup!  Namun aksi tatap menatap kami tak berlangsung lama, karena pelayan Nyonya besar datang.

 

“Permisi, mianhae Tuan Muda. Anda dipanggil oleh Nyonya besar ke ruang kerjanya”

 

“Bilang padanya aku akan segera kesana”

 

“Ne” pelayan itu membungkuk kemudian berlalu.

 

“Kau tunggu disini. Setelah kembali dari sana, ada yang ingin kuberikan padamu”

Aku mengangguk padanya, kemudian ia melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan. Setitik perasaan tidak enak hinggap dihatiku.

 

…..

 

“Hei, tahu tidak?Katanya keluarga ini sedang mengalami kebangkrutan. Yang kudengar mereka akan segera pindah dari sini. Tapi aku tidak tahu kemana mereka akan pindah”

 

“Aku dengar juga begitu. Katanya lagi ini adalah hari terakhir kita bekerja disini. Mereka akan pindah dari sini tanpa membawa barang-barang mereka. Sepertinya harta mereka telah disita”

 

Aku mendengar suara salah seorang pelayan yang satu kamar denganku. Sepertinya ia sedang berbicara dengan seorang pelayan lainnya. Changkaman!! Mereka…akan..pindah?? Apa mereka yang dimaksud adalah keluarga ini?? Apa itu berarti Kwon Jiyong-ku juga ikut pindah???

 

ANDWE!! Ini tidak boleh terjadi!! Aku baru saja merasakan kebahagiaan dihidupku sesaat setelah bertemu kembali dengannya. Namun sekarang aku harus berpisah lagi dengan pria yang sangat kucintai, dengan Kwon Jiyong! Kurasa takdir sedang mempermainkanku!!

 

Setelah mendengar ucapan para pelayan tadi, aku segera berlari menuju ruang kerja Nyonya Besar. Tapi tidak ada tanda-tanda ada orang disini. Tanpa pikir panjang aku terus mencari ke sekililing rumah seluas istana ini, aku tidak peduli dengan tataapan aneh pelayan senior yang kulalui sepanjang pencarianku menemukan Jiyong. Aku hanya peduli bahwa sekarang aku harus bertemu dengannya dan bertanya apakah semua ini benar!

 

…..

 

“Tuan Muda” dengan napas tersengal aku memanggilnya. Ternyata ia ada di kebun belakang rumah.

 

“Jiyong oppa” panggilku sekali lagi setelah tahu bahwa tidak ada orang disekitar kami. Kali ini ia menoleh.

 

“Itu tidak benar kan?? Itu semua bohong kan, oppa?? Dan..kau..kau juga tidak akan meninggalkanku kan?? Ya kan?? Jawab aku, oppaa….” emosiku meningkat, tanpa sadar suaraku meninggi dan aku mulai menangis.

 

“Mianhae…jeongmal mianhae… Yong Woo-ya. Aku…” aku melihatnya menangis.

 

“Kajjima!! JEBAL KAJJIMA!” teriakku. “Oppa, bukankah kau sudah berjanji untuk menjagaku? Pertama kau berjanji padaku, kau mengingkarinya. Setelah berjanji kedua kali apa kau juga akan mengingkarinya??”

 

“Apa kau pikir aku ingin pergi lalu meninggalkanmu sendiri disini?! Tidak, Yong Woo-ya…”

 

“Bukankah memang begitu! Jika tidak, mengapa kau setuju untuk ikut bersama appa dan eomma-mu!? Baik, jika memang kau tidak bisa memenuhi janjimu. Pergilah! Anggap saja kita tidak pernah bertemu. Baik dulu ataupun sekarang. Anggap aku tidak pernah berada disisimu!!”

 

Dengan berat hati aku meninggalkan Jiyong. Sebenarnya dalam hatiku, aku tidak ingin pergi darinya. Tapi entah kenapa kakiku tidak mau berhenti berlari.

 

…..

 

“Yong Woo?? Ah, ternyata itu benar kau. Mungkin kau tidak begitu mengenalku, aku adalah salah seorang pelayan di rumah keluarga Kwon waktu itu”

 

“Ne..”

 

“Aku hanya ingin menyampaikan sesuatu” gadis itu berkata sambil menyerahkan sesuatu berbentuk kotak padaku.

 

“Ige mwoeyo?” tanyaku bingung.

 

“Itu adalah titipan Tuan Muda Kwon Jiyong. Ia bilang bahwa aku harus menyerahkannya padamu. Mianhae, aku sudah mencarimu kemana-mana tapi tidak juga menemukanmu. Tapi untunglah aku membawanya hari ini. Tanpa diduga aku bertemu denganmu”

 

“Ah, ne. Gomawoyo”

 

“Hmmm, baiklah, aku harus pergi. Annyeong” aku mengangguk padanya sebelum ia meninggalkanku.

 

Terbesit rasa penasaran dihatiku melihat kotak terbungkus rapi ditanganku. Apakah benda ini yang ingin Jiyong berikan padaku waktu itu??, tanyaku dalam hati

 

Dengan ragu-ragu aku membuka kotak itu, ternyata ada dua macam benda didalamnya. Yang satunya kotak berwarna ungu tua berlapis beludru, begitu kulihat isinya adalah sebuah cincin bermata satu ditengah inisial huruf Y. Mengapa cincin ini berinisial huruf Y?? Ah, aku mengerti maksudnya mungkin ada satu diantara nama kami yang sama, yaitu Yong. Aku tersenyum melihat cincin itu kemudian memakainya dijari manis kiriku. Pas sekali.

 

Aku melihat satu kotak lainnya, sesaat aku masih belum mengerti melihat benda ini. Tapi aku paham begitu melihat salah satu sisinya ada tulisan play. MP3. Apa Jiyong merekam suaranya yang sedang bernyanyi untukku?? Mengapa dulu waktu aku masih bersamanya, aku tidak pernah mendengarnya bernyanyi??! Lalu aku menekan tombol play tersebut. Terdengar intro sebuah lagu yang kukenal. [bagi yang ga tau, ini adalah lagu Broken Vow versi Lara Fabian]

 

Tell me her name
I want to know
The way she looks
And where you go
I need to see her face
I need to understand
Why you and I came to an end


Tell me again
I want to hear
Who broke my faith in all these years
Who lays with you at night
When I’m here all alone
Remembering when I was your own

I’ll let you go
I’ll let you fly
Why do I keep asking why
I’ll let you go
Now that I found
A way to keep somehow
More than a broken vow


Tell me the words I never said
Show me the tears you never shed
Give me the touch
That one you promised to be mine
Or has it vanished for all time

I close my eyes
And dream of you and I
And then I realize
There’s more to life than only bitterness and lies
I close my eyes
I’d give away my soul
To hold you once again
And never let this promise end

 

Tak terasa setetes kristal bening cair jatuh dipipiku yang disusul oleh teman-temannya.

 

“Jiyong-ah, Soo Byung-ah….hiks….”

 

Sambil terus menatap cincin yang Jiyong berikan untukku, aku mengingat kenangan manis yang telah kami lewati bersama. Aku sudah cukup puas dengan apa yang sudah kami lalui, walaupun akhirnya ia bukan untukku.

 

“Yong Woo-ya….” aku tersentak kaget mendengar suara seseorang memanggil namaku. Suara itu mirip… Jiyong! Apakah ia sudah kembali kesini??

 

Aku mencari-cari asal suara itu, tapi aku tidak menemukannya. Bagaimana bisa aku mencari satu suara ditengah keramaian taman kota ini?? Aku sadar bahwa yang kudengar tadi adalah bisikan angin yang hanya ingin menghibur diriku. Kupandangi lagi cincin yang bertengger cantik dijari manisku. Kwon Jiyong atau Choi Soo Byung. Kau memang tidak ada disini, namun kau akan tetap berada dihatiku.

 

 

===FIN===

 

Gimanaaaa???? Mianhae klo ga dapet feel nya… But RCL please ^^

 

Gomawo udah mau baca ^^ *tebarkoin