cast: Kim Heechul SJ

****

Seperti biasa, di awal musim dingin ini, aku duduk café tempat dia bekerja sambil menyesap segelas coklat hangat favoritku. Dia, terlalu menawan untuk sekedar menjadi penyanyi café, menurutku. Auranya terlalu memabukkan, terlalu mengadiksi, sehingga aku kecanduan. Ada sesuatu yang hilang jika aku tidak melihatnya meski itu hanya sehari. Semuanya terasa, ganjil.

Hari ini dia menyanyikan lagu She’s mine, yang dipopulerkan oleh In Ho Jin Sweet Sorrow. Lagu termanis yang pernah aku dengar. Lagu yang sangat-sangat aku rekomendasikan pada semua laki-laki yang ingin melamar wanitanya.

she must have mistaken me for someone else
I’m not the good man that she thinks I am
She’s a very beautiful woman in my eyes
She shouldn’t be with a person like me
But she’s the woman I like so much

My woman,
She loves me so much
My woman,
She says I’m the greatest man she’s ever met

I am weak
and I have lived my life so irresponsibly
I can’t understand why she is so good to me

She smiles brightly whenever she sees me
I should smile back,
but all I can do is stand there and stare blankly

Little by little
She’s slowly becoming more like me
When we’re together
She tries so hard to make us look compatible

My woman,
She loves me so much
My woman,
She says I’m the greatest man she’s ever met

I am weak
and I have lived my life so irresponsibly
I can’t understand why she is so good to me

Sometimes I hate mu unworthy self
When that kind girl cries again because of me,
I’ll cry with her too

When she holds my hand,
I lose my breath and my voice
I want to live like this from now on

I love her so much
I pray for her happiness more than my own
She looks so beautiful in my eyes
I’ll dedicate the rest of my life to love her…
..This I swear

(Sweet Sorrow’s In Ho Ji- She’s Mine, English translation)

Aku menutup mataku, menyandarkan daguku pada tangan, dengan siku sebagai penahannya. Bukannya aku tidak mau melihat ketampanannya yang tak ubahnya seperti sosok patung yunani, hanya saja aku sedang mempertajam indra pendengaranku agar aku bisa mendengar nyanyiannya dengan jelas dan merekam setiap nadanya di otakku. Aku akui, meskipun daya nalarku rendah, tapi akan ku pastikan bahwa setiap hal tentangnya akan terus terukir di hatiku. Dia selalu marah jika aku diam-diam merekam suaranya, karena menurutnya, suara indahnya tidak ramah lingkungan. Makanya, aku harus berkonstrasi tinggi agar alunan itu tidak menghilang dari otakku nantinya. Aku, tidak sanggup membayangkannya.

Alunan itu terhenti, sambutan tepuk tangan mengakhirinya. Aku membuka mataku,menangkap sosoknya yang baru saja turun dari panggung dan mendekat ke arahku. Dia tersenyum manis serperti biasanya,  senyuman yang mengandung virus di dalamnya. Happy virus. Mengapa aku menyebutnya seperti itu? Karena setiap ia tersenyum, kupu-kupu berterbangan diperutku, sensasi geli yang ditimbulkannya membuatku tersenyum. Dan lengkungan yang dibuat sudut-sudut bibirku itu akan terus terukir jika dia berada dihadapanku, seperti sekarang ini.

“Bagaimana?” Ujarnya tenang sambil menatap mataku dalam-dalam.

Awesome, as usual” Kataku tenang, sambil menyeruput coklat panasku yang sudah dingin.

Jantungku tetap berdegup kencang, tidak peduli berapa ratus kali aku melihatnya. Semuanya masih seperti pertama kali aku bertemu dengannya.

“Suaramu makin bagus dari hari ke hari Heechul-ah! Kenapa kau tidak rekaman saja? Sudah berapa puluh agensi yang menawarimu kesuksesan, dan kau tolak dengan mudahnya! Anak aneh!” Kataku menggebu-gebu, berbanding terbalik dengan ketenangan yang barusan aku tunjukkan.

Pria dihadapanku ini hanya terkikik kecil, lalu mengacak-ngacak rambutku.

“Ada sesuatu yang jauh lebih berharga dibanding segudang uang yang mereka janjikan padaku.” Ujarnya sambil menatap lurus ke kaca, mengamati salju yang turun dan orang yang berlalu lalang.

“Apa itu?” tanyaku sambil menyesap coklat panas yang sudah dingin itu. Pria ini, memang selalu mengemukakan hal yang misterius.

“Kau.”

Aku tercekat, mataku membulat, alhasil wajah tampannya tersembur olehku. Tersedak.

“Yak! Kenapa aku malah disembur hah?!”

“Kkau, selama ini …bernyanyi… untukku?” Tanyaku tergagap, menghiraukan omelannya tadi.

Dia terlihat sibuk membersihkan wajahnya dari sisa semburanku tadi, “ Lalu, begini caramu membalas orang yang sudah bernyanyi untukmu?” Gumamnya disertai lirikan mata yang mematikan, matanya memerah tersorot tajam padaku, menyeramkan. Mau tidak mau aku menegak salivaku sendiri, ngeri terhadap tatapan mematikan yang ia lemparkan padaku.

“Maafkan aku!” Kataku seraya menyodorkan selembar tisu lagi padanya, “Lalu, kenapa kau mau susah-susah bernyanyi untukku selama beberapa bulan ini? Seingatku, aku tidak pernah menyuruhmu bernyanyi” Ujarku sekalem mungkin, setenang mungkin. Berusaha menetralisir rasa takut dari tatapannya barusan.

Pria itu mulai tenang, lalu membenarkan posisi duduknya.“ Kau ingat saat kita pergi ke Prancis awal musim gugur kemarin?”

Aku mengangguk mantap. Senghwan mendapatkan dua tiket jalan-jalan ke Prancis gratis dari sebuah undian di suatu jejaring sosial.

“Lalu?”

“Lalu. Apa kau ingat pengamen yang menyanyikan lagu Tears of heaven milik Eric Clapton di jalan dekat menara Eiffel?”

“Musisi jalanan itu? Ya aku ingat. Kenapa? Apa hubungannya dengannya dengan dia?”

Dia menghela nafas kasar, lalu ia duduk dengan sikut yang menopangnya, dan sekarang wajahnya agak sedikit dekat dengan wajahku.

“Aku melihatmu begitu kagum pada suara penga-“

“Bukan pengamen, tapi musisi jalanan, musisi jalanan!” Potongku dengan sedikit penekanan di akhir kalimat.

“Yeah, terserahlah! Yang jelas,Kau terlihat sangat mengaguminya saat ia bernyanyi, dan mulutmu tak berhenti berkoar bercerita tentang dia hingga kita pulang ke Korea.” Ujarnya dengan nada kesal.

“Benarkah? Aku terus membicarakannya hingga kita pulang? Aku menatapnya dengan penuh kagum, eh? Aku tidak ingat!” kataku datar.

PLETAK!

Dan responku yang kelewat jelek mendapatkan hadiah yang sangat ‘bagus’ dari tangannya. Dia menjitak kepalaku dengan sadis!

“Dasar bodoh! Begitu saja kau tidak ingat? Hm… tapi itu bagus. Lupakan dia, yang kau harus ingat hanya aku saja. Kau dengar?”

Aku tersenyum kecil “Kalau itu, tak perlu kau suruhpun aku sudah tahu!” Kataku mantap, dia agak sedikit tercengang pada perkataanku tadi, “Balik lagi ke permasalahan. Jadi? Kenapa kau mau susah-susah menyanyi untukku, Kim Heechul sshi?”

Dia terlepas dari lamunannya, lalu mulut tipisnya mengeluarkan kata-kata yang membuat jantungku mencelos.

“Itu karena aku ingin kau mengingatku. Aku ingin kau mengeluarkan tatapan kagum itu hanya padaku, dan kau terus berbicara tentang betapa mengagumkannya diriku, bukan orang lain.” Gumamnya, lalu iris mata coklat hazelnut-nya menatap mataku dalam-dalam, “Intinya, aku cemburu pada orang yang kau sebut musisi jalanan itu.”

“Jadi, kau menyukaiku?” Tanyaku to the point.

Senyum lembut terpampang di wajahnya, “ Bukankah aku sering mengatakannya secara implisit? Otakmu saja yang bodoh baru memahaminya sekarang!” Dia merebut coklat panasku, lalu menghisapnya.

Lagi,  hatiku mencelos. Kami memang selalu bersama, tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau dia juga menyukaiku. Itu artinya, selama ini aku tidak bertepuk sebelah tangan. Hm, menyenangkan!

“Tapi, ada satu hal yang aku mau tanyakan padamu.” Gumamnya misterius.

“Apa?”

“Jika aku tidak bisa bernyanyi, akankah kau menyukaiku seperti sekarang?”, jarinya bertaut satu sama lain, cemas. Aku rasa, dia khawatir akan jawabanku.

(np: When I can’t sing- se7en)

“Dengar, Kim Heechul. Aku menyukaimu sejak kita masih duduk di bangku SMP. Dan saat itu, aku sama sekali tidak mengetahui bakat bernyanyimu yang menakjubkan. Jadi, bisa atau tidaknya kau bernyanyi tidak akan mempengaruhi perasaanku padamu. Selama kau masih bernafas dengan baik, aku baik-baik saja.” Gumamku, lalu melahap habis cheese cake yang terkapar di hadapanku. Aku masih tidak percaya apa yang barusan ku katakan. Sejak kapan coklat panas mempengaruhi kinerja otak?

“Benarkah? Kalau begitu, aku beruntung memilikimu.” Timpalnya. Lalu merebut garpuku, lalu menghabiskan cheese cake-ku. Aku tahu ia tidak berkekurangan dalam masalah keuangan, hanya saja dia tipe orang yang malas mengeluarkan modal. Pelit.

“Aku juga.” Kataku sambil menatap sosok sempurna dihadapanku ini dengan takjub. Mungkin Tuhan sedang dalam keadaan baik saat menciptakan dia. “ Thanks for being born, Kim Heechul sshi.”

            Thanks for being born, Kim Heechul sshi. Aku tidak menjanjikanmu bahwa aku bisa mencintaimu selamanya. Tapi menurutku, rasa ini tidak bisa menghilang hingga jantung dan paru-paruku berhenti berfungsi.