Tittle        :  Love Game  (Part 1)

Author     :  Adiez-chan (@adiezrindra)

Length     : Twoshots

Genre       : Comedy, romance

Cast(s)     :  Kwon Ji Yong (G-Dragon), Lee Chae Rin (CL), Ji Ho (Zico Block B)

Author’s note :

Annyeooongg~!! it’s my OTP couple! Skydragon couple! Cuma two-shots, dan ini part pertamanya.🙂

Disclaimer :

Plot and image is belong to me, while characters is not mine. Skydragon is always real. Choi Seung Hyun is my surreal husband. ^^
Please comments and like.
Don’t steal and re-posting without confirm & hotlink. Plagiarize is BIG NO NO~!😀

Happy enjoying~!

__________________________________________________

.

Lorong kampus yang semulanya lenggang terpenuhi dengan hiruk pikuk ketika satu ruangan di beberapa sisi lorong membubarkan kelasnya. Salah seorang diantara mereka melenggang malas, seraya salah satu lengannya membetulkan letak ranselnya. Sudut matanya melirik ke balik jendela, saat angin berhembus dan mengajak dedaunan sewarna emas untuk ikut bersamanya. Langkahnya terhenti di depan loker, diikuti dengan hembusan nafas setengah hati dari bibirnya.

Haruskah aku membukanya? Oke, Ji Yong, ini bukan yang pertama kalinya. Hana… dul… set…

Perlahan jemarinya memutar kunci loker dan…“OMOO!!”

Ji Yong hampir terjengkang seketika, ketika puluhan surat yang memenuhi lokernya berhamburan keluar dan menampar keras wajahnya dengan cepat. Beberapa diantaranya berjatuhan di ujung sepatunya. Dia melirik segala kertas itu dengan malas. Betapa tidak, semua surat yang menumpuk di lokernya itu adalah rutinitas yang tak pernah terlewat dari harinya.

Tangannya masih mengambil surat-surat yang tersisa dalam lokernya ketika seseorang tiba-tiba berdiri di sebelahnya dan bersandar di loker sampingnya. “Surat cinta lagi?”

Ji Yong memutar bola matanya, menatap sahabatnya yang mengulum senyum, “Apalagi?”

Young Bae memunguti surat yang berserakan di lantai dan mengaturnya seperti kipas dan mengibas-ngibaskannya, “Haha… ternyata hal-hal seperti ini masih ada ya? Lagipula, bukankah seharusnya kamu sudah terbiasa, Ji?”

“Tetap saja.” Ji Yong menutup pintu lokernya dan kembali menatap Young Bae sebal, “Kenapa mereka begitu resisten sih dengan penolakanku?”

“Mau bagaimana lagi, kalian ini kan elite kampus,” sebuah suara melodik menimpali dengan santai, sebelum kemudian Young Bae merangkulnya masuk dalam pelukannya dan mengecup puncak kepalanya. “Hey, Bae. Berapa surat yang kamu terima hari ini?”

“Humm… molla.” Young Bae berbisik pelan, “Aku tidak pernah menghitungnya setelah ada kamu, Dara.”

“Tidak percaya.”

“Jinja? Perlu aku buktikan?”

Ji Yong menjentikkan jarinya sebal, dan menatap mereka malas, “Oh noo, guys. Kita masih di kampus and puhreaasee… do your ‘business’ at home.”

Galur merah seketika menjalari pipi Dara diikuti dengan gelak tawa dari kekasihnya. “Wae? Iri?”

Ani.”

“Haha… bilang saja, Ji. Aku tahu kamu iri padaku,” sindir Young Bae seraya mengecup pipi merona gadisnya.

“Ji, kenapa tidak kamu terima saja salah satu dari mereka?” tanya Dara seraya membaca sekilas surat-surat yang dia ambil dari tangan Young Bae.

“Tidak berminat.”

“Huuu… hidupmu terlalu datar, Ji…”

“Yeah, Ji. Wanita yang kamu temui di klub tidak akan memuaskan hatimu.”

“Terserah.” Ji Yong masih saja menimpali dengan setengah hati ketika sesosok gadis dengan surai coklat keemasan melintas di sampingnya tanpa menghiraukannya. Bola matanya dengan cepat berputar hingga gadis itu menghilang dari pandangannya.

Oh yeah, she is.

You need the one, Ji…”

Yes, you can’t happy completely without love.”

Dia mengalihkan pandangannya sekilas pada Dara dan Young Bae yang masih saja mengomelinya tanpa jeda, “Arasseo, Dara, Young Bae. Mencari pacar, kan? Sekarang, aku pergi dulu. Bye~” ucapnya menutup mulut mereka sebelum akhirnya dia berbalik meninggalkan loker dan mengejar gadis itu.

.

***

 .

Helaian coklat keemasan itu masih saja menari ketika sang pemilik memilih untuk berhenti melangkah. Dia menengadahkan wajahnya dan merasakan angin musim gugur melewati sekujur porinya. Mata kucingnya menutup sejenak sebelum kemudian dia merapatkan coat coklatnya dengan capuchon dari wol. Angin musim gugur tak pernah besahabat dengan tubuh ramping berbalut kemeja asimetris dan celana ketat dari kulit itu.

Gadis itu menarik nafas panjang dengan gusar. Hari ini bukan hari yang baik untuknya. Bangun terlambat, tidak diizinkan masuk dalam kelas pertama, dan profesornya membuang tugas akhirnya tepat di depan matanya. Bahkan ketika dia keluar kelas terakhirnya hari itu, dia terpaksa harus menyabarkan telinganya untuk menikmati suara lengkingan histeris dari mahasiswi ketika The Most Wanted Man lewat di lorong yang sama dengannya. Kenapa mereka harus repot-repot berteriak untuk seseorang yang bahkan tak sudi mengenal mereka.

Iiissh… Apalagi yang bisa lebih buruk dari ini?

“Lee Chae Rin!”

Gadis itu berbalik, mencari sumber suara yang menyebut namanya. Seakan bernyawa, suraian rambut lurusnya meliuk mengikuti gerakannya. Seseorang berlari mendekatinya. Nafasnya tersengal ketika orang tersebut sudah ada di hadapannya. “Lee Chae Rin.”

Combo! Baru saja dia mengumpat kekesalannya pada angin, dan orang yang dikutuknya sudah berdiri di hadapannya. The Most Wanted Man.

“Huh?”

Lelaki itu hanya menggunakan kaus dan jeans rebel di balik coat-nya. Rambut hitamnya di-gel berantakan. Lee Chae Rin dapat mengatakan dengan pasti, lelaki itu jauh lebih fashionable dibanding apa yang dilihat. Siapa mengira bahwa coat coklatnya adalah keluaran terbaru Balmain.

“Joenneun Kwon Ji Yong imnida,” ucap lelaki itu seraya menawarkan tangannya.

Hellooo~! Tidak ada seorang pun yang tidak tahu namamu, Kwon Ji Yong-ssi! Bahkan aku pun mau taka mau mengenalmu gara-gara fangirl yang mengikutimu laiknya kumbang! Cih!

Chae Rin menegakkan kepalanya lebih tinggi, menatap Ji Yong dengan remeh. Tangannya melipat di dada dan berkata dengan nada malas, “Aku tahu. Apa maumu hingga mencariku, Kwon Ji Yong-ssi?”

Ji Yong mengamati Chae Rin dari ujung ke ujung, sebelum kemudian dia menampilkan ekspresi puas dalam seringai khasnya, “Kamu orang yang aku cari.”

“Huh? Untuk apa?”

“Game.”

.

Oh great. It is the worst day.

.

***

 .

One day later…

.

Chae Rin mengemasi barangnya seraya mengamati kelasnya yang mulai kosong. Dia menghela nafas sejenak, dengan setumpuk pikiran yang memenuhi otaknya. Setelah ini, dia seakan tahu apa yang terjadi. Ah, lebih dari itu, dia sudah terlampau tahu.

Be ready, Chae Rin. It’s showtime.

Gadis itu berjalan ke arah pintu hanya untuk menemukan seseorang dengan rambut berantakan yang sama, dan seringai anak kecilnya, menatapnya lekat. Tatapan yang tak bisa diartikannya. Lelaki itu membenahi jaket merahnya dengan logo North Face di dadanya.

“Chae… Sudah selesai kelasmu? Mau kemana?” tanyanya beruntun ketika Chae Rin sudah di sampingnya. Chaerin hanya menatapnya remeh sebelum kemudian berjalan meninggalkannya. Ji Yong berjalan menjajarinya dan melanjutkan, “Kamu mau pulang? Kantin? Atau ada kelas lagi?”

“Bukan urusanmu, Kwon Ji Yong-ssi.”

“Chae~~” Ji Yong menepuk pundak Chae Rin dari belakang. Refleks, Chae Rin dengan cepat melirik tajam seraya kedua tangannya menarik tangan Ji Yong dengan keras hingga seluruh tubuhnya terangkat dan terpelanting tepat di depan Chae Rin. Salah satu sudut bibirnya terangkat membentuk senyum sinis ketika melihat Ji Yong yang kesakitan di hadapannya.

“Don’t dare you touch me!”

“Euurrggh… mian, Chae…”

.

Chae Rin meletakkan kamera Canon 500 D miliknya seraya mengambil duduk di depan Bommie. Kemudian dia melepas blazer hitamnya miliknya, memperlihatkan lengan rampingnya yang tak terbalut kaus sepinggangnya. “Aaa… sooooo… tired, really!”

“Chae!”

Gadis itu berbalik, dan voila~! Lelaki dan seringai khasnya itu muncul lagi di hadapannya. Hari yang benar-benar buruk. Dia benar-benar ingin bermain game dengannya, huh?

Wae?!”

“Kenapa kamu copot blazer-mu?!”

“Memangnya kenapa?”

“Kamu tidak boleh memperlihatkan tubuhmu terlalu banyak. Nanti banyak yang menyadari keindahan tubuhmu! Tubuhmu itu hanya boleh jadi milikku!!”

What?! Miliknya? Milik anak bodoh yang sedari tadi mengejarnya itu? Sejak kapan tubuhnya mempunyai pemilik, huh?! Tubuhnya adalah miliknya sendiri. Mau dibuka sebanyak apapun itu terserah dia, bahkan jika dia memang berniat untuk bertelanjang bulat di kantin ini sekarang. Jika dia memang sudah gila, tentunya.

Tapi tetap saja, seenaknya saja orang ini mengklaim dirinya, huh!

“Seingatku, kamu bukan siapa-siapa, Ji Yong-ssi. Ini tubuhku, ini urusanku.”

Ji Yong kini menatapnya dengan ekspresi terluka yang dibuat-buat, satu tangannya meremas dada kirinya, “Astaga, Chae~! Kamu tega sekaliii… aku ini kan…” dia memotong perkataannya, dan merentangkan tangannya dan melanjutkan dengan suara lantang, “KWON JI YONG, CALON PACARMU~~!”

Bibir Chaerin tak ayal menganga lebar, terperangah sejadi-jadinya. Oh My God, kill me now.

“Omooo, Baby Riiinn! Kamu dan dia ada hubungan apaaa?! Kenapa kamu tidak cerita padaku?!” Bom kini ikut campur dalam keributan tidak penting.

“Ani, Bom!”

“Tapi tadi—“

“Bom, please.”Chaerin menatapnya tajam, “Anggap dia tidak ada.”

Oh Tuhan, bunuh Ji Yong sekarang… Musnahkan dia. musnahkan, Tuhan…

Bagaimana caranya memusnahkan orang satu ini?

.

Chae Rin menyeret Ji Yong ke halaman kampus, dimana ada roket bersumbu menunggunya.

“Chae, apa yang kamu lakukan?!”

“Membuangmu,” jawabnya dingin sambil mengikat Ji Yong di badan pesawat. Kini lelaki itu hanya bisa menatapnya tak percaya, dan memelas.

“Nooo…!! Chae, kamu tega~!”

“Oh, tentu saja!”

Chae Rin kemudian mengambil obor dan mulai membakar sumbu roket yang terletak di bagian bawah. Perlahan sumbu terbakar ke atas dan mendekati roket, seraya Ji Yong menatapnya memelas, “Chae, jangaaaann~~!”

Terlambat.

Sumbu sudah mencapai roket. Secepat kekuatan cahaya, roket itu melesat cepat meninggalkan tanah, menyisakan kilauan bintang dan akhirnya menghilang entah kemana.

Chaerin? Dia tertawa terbahak-bahak, puas. “Good bye, Ji Yong-ssi.”

.

Chae Rin tiba-tiba tersadar dari fantasi anehnya. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya cepat. Itu tidak mungkin aku lakukan. Aneh sekali.

Gadis itu baru saja berpikir bahwa lelaki itu sudah menghilang dari harinya akhirnya, ketika Ji Yong kembali dari entah dimana, menghampirinya. Tangannya menyodorkan piring kecil padanya, “Chae, aku tahu kamu suka strawberry. Ini aku belikan cake strawberry.”

Chae Rin memutar kepalanya kesal, sebelum akhirnya memandang Ji Yong dengan senyum lebar yang dibuat-buat. “Joseonghamnida, Ji Yong-ssi, aku sudah makan. Kamu makan saja sendiri.” Dia mengambil coat dan menyelempangkan tasnya. Kemudian berajak dari kursinya dan melambaikan tangan kecil pada Bommie.

“Yaa! Chaeee…!”

Lagi-lagi, Chae Rin melihat Ji Yong kesal, “Apalagi, Kwon Ji Yong-ssi?!”

“Kamu belum makan kue nya…”

Chae Rin menghela nafas lelah dan berpikir sejenak. Sebuah senyum kemudian muncul di salah satu sudut bibirnya. Dia mengambil piring berisi sepotong tart strawberry itu, dan menatap Ji Yong dengan senyum manis, “Kenapa tidak kamu makan saja sendiri, Ji Yong-ssi?”

PLAAKK!!

Kue manis itu mendarat tepat di wajah Ji Yong.

Chae Rin tersenyum puas dan berbalik meninggalkan Ji Yong yang hanya menatapnya terpana.

.

***

 .

Pengejaran Ji Yong masih berlanjut. Berita fantastis bombastis dan mengejutkan ini sudah menyebar dengan cepat ke seisi kampus. The Most Wanted Man mencari perhatian seorang gadis? Mau diletakkan di mana cinta berlebih dari fans wanita yang berjubel berebut senyuman khasnya?

Gadis-gadis patah hati. Beberapa di antara mereka memilih untuk berhenti mengirim surat. Beberapa yang lainnya, makin seduktif menggodanya.

Para lelaki dengan gegap gempita mensyukuri ‘sang Pangeran’ menemukan pujaan hati. Kenapa? Karena artinya, kesempatan mereka mendapatkan gadis yang mereka inginkan terbuka lebar. Setidaknya Ji Yong sudah menetapkan satu orang sebagai targetnya, dan itu bukan target mereka.

How life…

Chae Rin menutup lokernya dan menemukan Ji Yong menyeringai nakal di samping lokernya. Chaerin menatapnya bosan, dan mendesah pelan. Bagaimana tidak, hampir tiap kesempatan dia harus berhadapan dengan orang yang sama, dengan tindakan yang memalukan, dengan segala ide-ide tidak masuk akal.

Oh God, what’s next?

“Chae Rin! Kelasmu sudah selesai kan? Kamu mau pulang? Ayo aku antar,” ajaknya seraya mengacungkan kunci mobilnya. Chae Rin hanya menatap sekilas kunci tersebut tanpa minat. Bentley.

Chae Rin melipat lengannya dan mengumpat kesal, “Kwon Ji Yong-ssi! Kamu ini apa sih? Stalker?! Seriously, kamu benar-benar berurusan dengan orang yang salah.”

“Tentu saja bukan! Aku hanya ingin perhatian padamu, Chae…”

“Aku tidak butuh.”

“Berhenti membuang waktuku!”

“Aku tidak—“

“Oh yeaaahh?! Kamu sudah mengganggu hidupku selama seminggu ini, dan kamu masih bisa bilang tidak?!”

“Hunchae, aku hanya mencin—“

“Stop talking, Ji Yong-ssi.”

“Tapi— aaakk!!!” Chae Rin dengan sengaja menginjak sneaker Ji Yong dengan pump shoes miliknya sebelum melangkah cepat menjauh. Ji Yong meringis kesakitan dan mengusap sepatunya. Dengan terpincang kemudian dia mengejar Chae Rin, “Chaeee… Chakkammaann~!”

Sementara Ji Yong masih berusaha keras mengejar, seorang gadis menepuk pundaknya, “Ji Yong-aah… siapa sih gadis aneh itu? Lebih baik kamu bersamaku saja…”

Ji Yong menatap mereka malas. Ya, mereka. Gadis-gadis itu bergerombol seakan menuntutnya. “Shut up your mouth, ladies. Namanya Lee Chae Rin, dan dia gadis tercantik yang pernah aku temui.” Dia berniat untuk kembali mencari Chae Rin, ketika akhirnya dia berbalik lagi dan berkata, “Ah iya, lebih baik kalian tidak perlu mengharapkanku. Karena apa? Karena aku sangat mencintai Lee Chaerin.”

Gerombolan itu hanya terperangah. Dan patah hati.

Ji Yong menampilkan seringainya dan kembali berlari mengejar Chae Rin seraya merentangkan tangannya, “Hunchaeeeee…… Chakkamanyooooo……~~ Neomu neomu saranghaeeee…~”

Chae Rin yang masih berjalan di sisi lain gedung menuju klub fotografinya, hanya bisa menutup wajahnya lelah.

Oh God, masih adakah hari yang lebih buruk dari ini?!

.

***

.

Chae Rin baru saja keluar dari ruangan klub seraya membenahi kamera Canon kesayangannya. Seorang lelaki kemudian berlari di hadapannya dan berjalan mundur sesuai dengan jalan Chae Rin ke depan, “Hey, aku dengar Ji Yong sedang gigih mengejarmu.”

Ckrekk!

Lelaki tersebut memutar-mutar lensanya dan membekukan Chae Rin dalam kameranya.

“Humm… say it yes. Aku tidak ingin membahasnya, Ji Ho.”

Ji Ho berbalik dan berjalan di sampingnya, “Dia cute, tapi… manly. Humm… Perfect creature, right?”

“Lalu?”

“Kamu suka tipe sepertinya, kan?”

“Jadi?”

“Dia tipemu.”

“Berhentilah mengingatkanku, Ji. Aku tahu.”

“Jadi, apa masalahnya?”

“Ji Ho—“

“Chae!!” seseorang memotong percakapan mereka sebelum Chae Rin sempat menjawab pertanyaan Ji Ho. Mereka memutar bola mata mereka dan menemukan Ji Yong berdiri di depan gedung kampus, dan mengangkat sebuah papan tinggi-tinggi.

LEE CHAE RIIIINN!! SARANGHAEEEEEE……~~~

 .

Oh my God! What’s again?!!

“Wooww~!! Dia berani sekali, Chae!” Ji Ho menepukkan tangannya pelan, memberi applause.

Untuk apa pula dia harus bertepuk tangan untuk hal memalukan seperti ini? Chae Rin hanya mampu menutup wajahnya, menyembunyikan dirinya sekecil mungkin, setransparan mungkin.“Shut up! Ji Ho, bisa kita pergi dari sini?”

“Wae? Bukannya ini… sweet?”

Chae Rin bukannya membenci semua perlakuan memalukan dari Ji Yong. Dia hanya membenci setiap ketidakmaluannya. Dan tentu saja, karena dia tahu, semua perlakuannya, tidak karena lelaki itu mencintainya.

“Ayo pergi lewat jalan lain. Kajja.”

Ji Ho mendorong Chae Rin menuju Ji Yong dari belakang dan tersenyum nakal, “Tapi itu tidak sopan, Chae. Dia menunggumu…”

Shit! Shit!

Chae Rin menatap tajam sahabatnya. Kenapa seluruh dunia bersekongkol untuk membuat harinya tidak tenang?!

Gadis itu mendesah panjang, sebelum akhirnya memutuskan untuk menuruti Ji Ho. Kini dia melangkah menuju Ji Yong yang masih dengan ceria mengangkat tinggi papannya.

“Apa yang kamu lakukan, babo!”

Ji Yong memamerkan gigi putihnya, dan tersenyum lebar. “Aku ini sombong, Hunchae. Makanya aku ingin pamer ke seluruh dunia, kalau aku sayang kamu.”

 .

God, please take me out!

 .

***

 .

Chae Rin POV

“Aigooo… tenagaku rasanya benar-benar terkuras, Bommieee…”

Aku menangkupkan dua telapak tangannya menutupi wajahnya, seraya sikuku menumpu di meja. Kelas baru saja selesai, namun aku maupun Bommie masih saja belum keluar dari ruangan. Atau lebih tepatnya, tidak ingin keluar dari ruangan. Kenapa? Mungkin pertanyaanmu akan terjawab setelah ini.

Wae?”

Kini tanganku berpindah, menyusuri surai rambut lurusku. Alih-alih menjadikannya berantakan, rambutku malah kembali ke tatanannya semula. Aku menatap Bom dengan mimik frustasi, “WAE?? Omooo bommiee… Bagaimana hidupku bisa tenang kalau aku selalu dihantui oleh makhluk bernama Kwon Ji Yong??! Kamu tahu, rasanya semakin lama aku ini semakin cepat lelah.Jangan-jangan sari hidupku diambil diam-diam, kemudian nanti aku jatuh sakit, lalu sekarat. Omoo! Bisa-bisa aku mati cantik gara-gara dia! Oh nooo!”

Hell yeah, bagaimana bisa Bom masih berani bertanya tentang hal standar seperti itu? Bukankah dia sendiri tahu bagaimana lelaki bodoh itu mengikutiku setiap saat? Sebentar, sudah berapa lama Ji mengekor kemanapun aku pergi? Seminggu? Dua minggu? Oh terlalu singkat. Dia sudah menjadi bayanganku selama SATU BULAN. Oh God! Satu bulan!

Dia mengikutiku mulai dari aku keluar kelas, ke kantin, bahkan kadang hingga aku keluar dari kampus. Humm… untungnya dia tidak sampai mengikutiku hingga pagar rumah. Tapi tetap saja, rasanya tiada hari tanpa aku harus melihat wajahnya yang menyebalkan! Dasar pervie! Ah, tidak sepenuhnya, setidaknya makhluk itu cukup normal untuk tidak ikut masuk ke dalam toilet wanita. Heh! Aku harus menarik pernyataanku ketika tahu Ji Yong masih saja menunggu di depan pintu toilet.

Ah, betapa aku merindukan kebebasan tanpa Ji Yong yang menghantuiku.

“Bayangkan Bommie, kemarin dia mengikuti hingga toi—“ Ucapanku terputus dan tak ayal kedua mataku melebar ketika menyadari Bom lebih asyik menikmati pop corn-nya dibandingkan mendengarkanku.

Astaga Bommiee!! Sahabat macam apa kamuuu?!

Aku menggbrak mejaku, mengagetkannya, “Bommieee… dengarkan akuuu!!”

“Nee nee, aku dengaarr…” Bom menutup bungkus pop corn-nya dan menatapku lekat, “Chae, bagaimana kamu tidak cepat lelah kalau jantungmu itu berdebar-debar terus di dekatnya? Kamu suka Ji— bbb—”

Aku dengan cepat membungkam bibir Bom sebelum mulut embernya itu berbicara lebih banyak. Astaga, aku tak bisa menyembunyikan mimik terkejutnya ketika Bom mulai membuka rahasianya. Jantungku berdebar kencang, beharap tak ada siapapun yang mendengar ocehan bodohnya. Oh tidak, yang paling parah adalah, ocehannya itu BENAR.

Kenapa dia bisa tahu?! Aku tidak pernah memberitahukannya, tapi… iisshh!!!

“Bsstt!! Shut up Bom!”

Aku mengedarkan pandanganku ke segala penjuru ruangan dengan waswas. Astaga, semoga tidak ada yang mendengar!

“Omo~! Kenapa kamu bisa tahu?”

“Haha…  jangan ragukan kemampuan mata seorang Park Bom.” Gadis itu tertawa puas melihat kepanikanku, dan menjentikkan matanya. Yeah, bodoh sekali menyembunyikan sesuatu dari seorang Bom.Kemudian, dia kembali ke topik sebelumnya, seraya menumpukan salah satu tangannya di meja dan kembali menatapku heran, “Lagipula, kenapa kamu tidak menerima dia saja sih?”

“Tidak semudah itu…”

Wae? Kamu suka dia, dia suka kamu, lalu apalagi yang kamu tunggu?”

Oh great, kini dia seakan ingin mengumumkannya pada dunia. Aku berusaha menutupinya dan kini kamu menanyakannya dengan lantang. Park Bom, naiklah ke atas gedung dan tanyakan hal itu keras-keras. Lalu lima menit kemudian, aku bersumpah kamu akan menjadi abu seketika, Park Bom. –-‘

“Diamlah, Bom,” ucapku kemudian dengan malas.  Aku menghela nafas panjang.Seandainya Bommie tahu… dia tidak pernah menyukaiku…

Ya, Kwon Ji Yong tidak pernah menyukai Lee Chae Rin.

.

“Hey, ladies…~ Membicarakanku?” suara yang familiar selama satu bulan ini tiba-tiba terdengar tepat di belakang kepalaku. Spontan aku berbalik dan menatapnya. Orang gila ini kini menampilkan tawa seringainya yang khas. Oke, ini gawat. SOS please… Chae Rin, jangan biarkan jantungmu keluar dari rongganya. Dan jangan lupa bernafas, Chae…

Nee. Chae sejak tadi menu— aaakk!!” Aku menginjak kaki Bom, membuatnya memutus perkataannya dengan teriakan keras, beberapa anak yang berada dalam ruangan itu seketika memandangnya dengan heran. “Yaaa!! Appoo…!”

You deserve it, girl.

Aku mengambil tasku, tak acuh dengan Bom yang masih saja mengeluh kesakitan. Dasar berlebihan, aku kan tidak menginjaknya sekeras itu. “Bommie, aku pulang.”

“Yaa! Aku masih kesakitan!”

“Oh, kasihan,” balasku dengan nada datar. “Kamu ke ruang kesehatan saja. Bye~”

Langkahku berbalik, meninggalkan ruangan. Oh my, aku masih bisa mendengar Bom yang mengomel.

“Chaeee~”

Oh Tuhan, aku lupa bila ada orang yang mengikutiku. Aku berjalan lebih cepat, tak mempedulikannya. Setidaknya, berusaha untuk tidak peduli. Semoga pipiku tidak memerah karena suara melodiknya.

Ji Yong menepuk pundakku dan meletakkan tangannya di pundakku, berjalan bersamaku, “Kamu menungguku?”

Aku membuang muka dan mengibaskan tangannya menjauh dari pundakku. Dengan nada paling dingin yang aku bisa, “You wish.”

“Jinja? Oke, aku anggap kamu menungguku tadi.” ucapnya kemudian dengan ceria. Orang ini bodoh atau apa sih? Noo! Aku malah ingin menghindari, babo! Dia melanjutkan dengan pertanyaan bodoh disertai dengan senyum di salah satu sisi wajahnya, “Aku merindukanmu sepanjang hari, apa kamu juga merindukanku?”

Mataku menatapnya tak percaya dan menjawabnya dengan setengah berteriak, “Berharaplah sampai mati!”

Kupercepat langkahku meninggalkannya. Uuukkhh! Aku benar-benar tidak tahan bersamanya!

“Chaeriin…” panggil Ji Yong dengan nada yang sama, nada yang… selalu berhasil membuatku berdebar. Dia berlari mengejarku seraya mendeklarasikan kata-kata yang kupastikan membuat pipiku memerah jengah.

“Chaerinnieee… Neomu neomu bogoshippeooo…”

Oh God! Tolong sembunyikan wajahku!

.

“Chae!”

Jalanku terhenti ketika lelaki dengan rambut cepak kecoklatan mendekatiku dari arah yang berbeda. Tentu saja, diikuti Ji Yong yang ikut berhenti di sampingku, “Hey, Ji Ho …”

Ji Ho berhenti di depanku, salah satu lengannya menenteng kamera Canon 500D EOS kesayangannya. “Jangan lupa untuk hunting foto akhir minggu ini.”

Nee. Tenang saja, aku pasti datang. Apa aku perlu bawa lensa mikro?”

“Bawalah juga. Siapa tahu kita membutuhkannya. Nanti aku akan membawa tripod yang ada di klub.”

Arasseo,” aku menganggukkan kepalaku mengerti. Sudut mataku melirik sejenak ke arah Ji Yong yang tampak terganggu.

Cemburu? Haha! Impossible, dia hanya kesal karena proses merayunya itu terganggu. Berpikir apa kamu ini, Chae Rin?

Ji Ho kemudian mengusap kepalaku laiknya anak kecil, “Baguslah kalau begitu.”

“Yaaa!!”

“Haha… habisnya kepalamu gampang dipegang, Chae…” dia tertawa lepas.

Bibirku mengerucut kesal. Dia selalu menganggapku anak kecil! ><

Ji Ho kemudian menyentuh ujung-ujung bibirku dan menariknya ke atas, membuat satu senyuman yang dia paksa, “Jangan cemberut, Chae… Naahh, senyum seperti ini kan cantik.” Dia membenahi tasnya menepuk pundakku dan berjalan meninggalkanku, “Sampai jumpa nanti, Chae.”

.

Nugu?”Ji Yong langsung menyerbuku dengan pertanyaan ketika Ji Ho sudah menghilang.

“Ji Ho, partnerku di klub.”

“Akrab sekali kelihatannya,” dia memandang lorong yang ditinggalkan Ji Ho dengan sebal. Aku tidak ingin membahasnya dengan Ji Yong. Kakiku kemudian mulai melangkah dengan cepat meninggalkannya yang masih merutuki lorong. Dia memutar bola matanya dan menemukanku sudah menjauh, “Yaaa~!! Chaerinnieee… Tunggu akuuu!”

.

“Wae? You love him, he likes you, and what are you waiting for?”

How I wish it will that simple.

.

***

.

Ji Yong POV

Everybody in the hooouuseee~~~!!!”

Suara musik yang rantak seketika berdentum hingga seluruh sudut ruangan. Lantai dansa itu terpenuhi oleh tubuh-tubuh yang haus akan kebebasan. Membiarkan tubuhnya lepas kendali hingga pagi menjelang. Sesekali aku melakukan beat box, mengiringi hentakan musik dari disc yang kumainkan.

Setelah beberapa lagu kuhabiskan di hadapan mesin DJ, beberapa kali rapping, aku menyelesaikan penampilan singkatku dan turun dari panggung kecilku, dan membaur bersama lautan manusia yang sibuk meliuk dan melupakan masalah-masalah mereka.

Seorang wanita berjalan mendekat, manik matanya melihatku dengan pandangan seduktif. Wanita itu mendekatkan tubuhnya padaku, seraya aku merangkul pinggulnya. Tangannya kini melingkar di leherku, memberi ruang lebih untukku untuk menyentuh leher jenjangnya dengan bibirku, menyesapnya hingga memberikan sisa kemerahan di tiap titiknya. Dia melenguh pelan, dan berbisik mendesah tepat di samping telingaku “I love you…”

Aku tahu dia mencintaiku. Mencintai G-Dragon. Mencintai reputasi dan ketenaranku. Mencintai kehebatanku dalam memberikannya kepuasan.

Bukan mencintai Kwon Ji Yong.

Rutinitas ini selalu sama, wanita datang silih berganti setiap aku memasuki kerumunan, bercumbu dalam balutan dansa, hingga akhirnya berakhir di ranjang. Kemudian, aku akan meninggalkannya dengan beberapa lembar won sebelum mereka sadar esok harinya, dan kembali menjadi Kwon Ji Yong, a good boy.

Tidak ada yang berubah.

Aku mencium tulang selangkanya dan membalasnya, “Thanks.”

.

Hey, why it is not fun? Why?!  Biasanya aku cukup menikmati foreplay kecil di tengah kerumunan. Namun kali ini tidak. Apa yang salah? Tipikal wajah Rusia-amerika itu menggoda, tubuhnya pun aku yakin mampu membuat semua lelaki bertekuk lutut. Tapi apa yang salah?!

Ternyata ada yang berubah.

Aku mengecup lehernya sekali lagi dan mendorongnya menjauh. Satu sudut bibirku terangkat, membentuk seringai kecil, “Sorry, you can’t make me turn on, babe.”

Dia menatapku tak percaya. Aku berbalik meninggalkannya, ketika aku mendengar suara desahan yang masih terasa dibuat-buat itu memanggilku, “Wait!”

“Martini,” ucapku datar, menyuruh pelayan bar di hadapanku untuk meraciknya. Aku sendiri mengambil duduk di salah satu kursi di meja bar seraya mengeluarkan ponselku dan mengetik pesan singkat.

.

To: Chae Rin
Kamu di mana, Chae? Apartemen?

. 

Eh? Kenapa aku harus mengiriminya pesan? Cancel cancel!! Astaga, sudah terkirim! Shit shit shit!!

Tenang Ji, ini hanya kebiasaan. Karena setiap malam aku menyempatkan diri untuk menghubunginya. Bahkan ketika aku tidak bernafsu untuk melakukan apapun seperti sekarang. Untuk apa menghubunginya? Humm… it’s secret.

Ponselku bergetar sejenak, pesan masuk.

.

From: Chae Rin
No, Ji. Aku masih di rumah Ji Ho.

. 

Astaga?! Masih di rumah Ji Ho?! Apa yang dia lakukan?!

.

To : Chae Rin
Mwoa?!
Masih di tempat lelaki selarut ini?! What the hell are you doing?! Don’t say it’s abt sex!

. 

From: Chae Rin
What?! NOO! I am not you, Ji! Aku masih mencetak foto. Aku tidak punya ruang hitam di apartemen.

 .

Haha! Mencetak foto?! Kenapa juga tidak menunggu besok di kampus?! Kenapa harus sekarang?! Bagaimana kalau Ji Ho berbuat macam-macam padamu, Chae?!

.

To: Chae Rin
Cepat pulang.

 .

From: Chae Rin
No.

. 

To: Chae Rin
I said, go home. Now.

 .

From: Chae Rin
No, Ji. I said no.

. 

To: Chae Rin
Chae Rin! Pulang sekarang juga!

Sending failed.

SHIT!!

Pasti dia mematikan ponselnya sekarang. Otokheee?! Bagaimana kalau terjadi sesuatu?! Bagaimana kalau ternyata Ji Ho memanfaatkan momen seperti ini untuk melakukan ‘sesuatu’?! Oh Chae, please don’t be too innocent.

Hey, G-Dragon, kenapa kamu harus memikirkan gadis bodoh itu, hah?! It’s not your business. Cih.

“Ji, kamu benar-benar menyukainya?”

Aku berhenti menenggak minumannya, membiarkannya terhenti di udara. Bola matanya berputar dan menemukan Young Bae telah duduk di sampingnya. Dahinya mengernyit bingung, “Huh?”

“Aku tidak pernah melihatmu sekesal ini. Kamu menyukainya?”

Lelaki itu mendengus. “Ani. Aku tidak kesal, Bae.”

“Aku tidak tahu apa masalahmu dengan Chae Rin, tapi ini pertama kalinya kamu tidak berminat dengan wanita. Kamu menyukainya?”

Aku memang tidak pernah memberitahukan pada siapapun tentang Chae Rin pada Young Bae. Tapi menyukai Chae Rin?! Bleh! Mimpi saja sampai Pluto menabrak Bumi!

“Ani, Young Bae. Untuk apa aku menyukai wanita yang membiarkan wajahnya disentuh sembarang lelaki, yang masih di tempat lelaki hingga larut seperti ini?! Mencuci film, hah! Nonsense!” jawabku menggebu seraya menyesap habis Martini yang kupesan, dan menyuruh bartender menuangkan cairan yang sama di gelas cocktailku.

“Gurrae?” salah satu alisnya terangkat, meragukanku.

“Nee!”

“Memangnya apa salahnya jika ada yang menyentuh wajahnya? Lagipula dia di tempat lelaki pun untuk alasan yang jelas. Toh selama ini kamu juga menyentuh sembarang wanita, bermain sepanjang malam hanya untuk kamu biarkan dia sendiri di ranjang ketika pagi datang. Sekarang kenapa kamu marah-marah?”

Aku menatapnya tajam, tanpa bisa menjawabnya. Entah, aku hanya merasa… berbeda. Dia tidak sama dengan wanita-wanita murahan yang menemaniku setiap malam. Dia seharusnya untouchable. Aku pernah melihatnya menghajar lelaki yang menggodanya, bahkan aku pun pernah dibantingnya ketika aku hanya menepuk pundaknya. Tapi kenapa dia membiarkan Ji Ho menyentuhnya?! Hey, hanya aku yang boleh menyentuhnya. Hanya aku!

“G-Dragon, kamu terlihat… cemburu,” ucapnya dengan satu sudut bibir yang terangkat, membentuk seringai kecil menyebalkan. Dia bahkan menyebut stage name ku sebagai DJ, dan hal itu menyentil harga diri seorang G-Dragon yang bahkan melebihi langit ketujuh.

“Aku tidak cemburu, Taeyang,” balasku menyebut nama panggungnya.

Sandara yang sejak tadi diam dan menyandarkan kepalanya di bahu Young Bae hanya tertawa kecil dan menimpali, “GD, cemburu pun tak masalah. Namanya juga cinta.”

Kedua mataku terbelalak. Cemburu! Oh no! imposible, guys! Seorang Kwon Ji Yong, cemburu pada seorang Ji Ho? BIG NO NO!! Tidak ada kata cemburu pada kamus seorang Kwon Ji Yong. Tidak pernah dan tidak akan pernah!

Apalagi jika hanya untuk seorang Lee Chae Rin!

“Dara, aku tidak—“

“Tidak cemburu?” wanita bertubuh mungil itu memotong perkataanku, dan melanjutkan, “Arasseo… tapi kamu tidak perlu membanting gelasmu, Captain. Euuhh…”

“Hahaha…” Young Bae menutup ucapan Dara dengan tawa puas. Iissh!

Aku menatap gelasku yang –baru aku sadari— baru saja berbenturan dengan meja bar dengan keras. Beberapa percikannya membasahi tanganku. Mataku menatap mereka tajam, “Iisshh… kalian ini!”

Tanganku menyelipkan beberapa won di atas meja dan dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Bagus, mereka benar-benar menghancurkan mood-ku hari ini.

Cih!

. 

GD, cemburu pun tak masalah. Namanya juga cinta.

Cinta? It’s not exist, guys.

.

***

.

Chae Rin POV

From : Babo😡
I said, go home. Now.

. 

To : Babo😡
No, Ji. I said no.

Beepp!

Aku mematikan ponselku cepat sebelum ada pesan lain yang masuk dan membuangnya di sofa merah di ruang tengah Ji Ho. Ponsel itu melayang cepat, jatuh di bantalan sofa dan terlempar dari sofa. Aku hanya memandangnya malas.

Apa-apaan dia menyuruhku pulang?! Memangnya siapa dia?! Pacar saja bukan! Babo! Kita tidak sedang di kampus dan dia tidak perlu berakting seolah dia menyukaiku!!

Babo! Babo!!

“Nugu, Chae?” Ji Ho keluar dari kamar mandi seraya mengeringkan rambutnya yang masih basah. Lelaki itu hanya mengenakan kaus longgar tanpa lengan dan celana selutut, mendekatiku dengan ingin tahu.

“Babo chorom,” jawabku, membuang muka.

“Huh?”

Aku menatap Ji Ho yang kini berdiri di hadapanku dengan malas, “Tidak perlu dibahas, Ji.”

“Biar aku tebak, Kwon Ji Yong-ssi?”

DEG!

Okee. Apakah wajahku memang mudah sekali terbaca, ataukah Ji Ho yang memang terlalu mengenalku? Aigoo… aku harus belajar menyembunyikan ekspresiku dari Ji Ho.

Aku beranjak dari sofa dan berjalan melewatinya. Akan lebih berbahaya jika aku terus menatapnya. Bagaimana bila rahasiaku terbongkar? Itu bahaya. “Humm, Ji? Apakah fotoku sudah selesai?”

Dia turut berbalik, menatap punggungku dengan pandangan menusuk. Entah bagaimana, aku tahu dia memandangku penuh selidik. “Apakah dia memang menyukaimu, Chae?”

Pertanyaan itu lagi! Mana aku tahu, Ji! Sudah pasti orang bodoh itu tidak akan menyukaiku. Dia pasti lebih suka wanita-wanita tanpa isi seperti yang selalu dimunculkan di televisi. Mana mungkin aku ‘menemukan’ diriku di hatinya.

Tidak mungkin.

Dengan cepat aku masuk ke dalam ruang hitam dan mengamati kertas-kertas foto yang kuhasilkan dari kamera manualku. Ya, selain berkutat dengan kamera digital SLR, aku masih mencintai kamera film. Kamera yang hampir tertelan jaman ini mempunyai nilai artistik tersendri menurutku, walau aku harus ke tempat Ji Ho hanya untuk mencetaknya. Kenapa? Tentu saja, aku tidak punya ruang hitam untuk mencetaknya. Dan asal tahu sendiri, peralatan mengcetaknya cukup banyak dan membutuhkan biaya lebih untuk membelinya.

Kertas foto yang kugantung sudah mulai menampakkan gambarnya. Aku mengambil beberapa lembar yang telah sempurna. “Wah, fotoku sudah selesai…”

Astagaa… Ji Ho masih di belakangku dan mengawasiku. Bekerja di bawah mata Ji Ho benar-benar tidak menyenangkan. Dengan cepat aku mengambil foto-fotoku dan keluar dari ruangan dengan cepat. Ji Ho masih mengikuti langkahku, menuntutku, “Chae, jawab aku.”

Kakiku beranjak menuju sofa dan memasukkan foto-fotoku ke dalam tasku. “Molla, Ji Ho.” Tanganku menyelempangkan tas dan mengambil ponselku yang aku lempar sembarangan di atas sofa. Kemudian aku berbalik dan menemukan Ji Ho sudah berdiri sangat dekat denganku. Matanya yang hanya berjarak beberapa senti dengan mataku mentapku tajam, “I know you, Chae. Kamu menyembunyikan sesuatu. Tell me.”

Mataku terbelalak sejenak. Gawat gawat! Aku tidak bisa melawan nada tajam Ji Ho, dan aku tidak yakin aku bisa menyembunyikan rahasia ketika berada dalam tekanan darinya. Aku mengalihkan pandanganku darinya, “Aku tidak—“

Ji Ho melangkah semakin mendekat, diikuti dengan langkah mundur dariku, hingga akhirnya langkahku terkunci oleh sofa di belakangku, dan jatuh terduduk. Oh God!

Masih belum cukup dengan jarak ini, Ji Ho masih mendekatkan wajahnya hingga keningnya hampir menyentuh keningku. Omo omooo!!

“Cerita atau aku akan menciummu.”

.

How come there are two trouble Ji’s in my life? Oh life…

.

1st written : May 12, 2012
1st published : May 17, 2012 

________________________________________________

.

 Humm… masih banyak pertanyaan yaa…

Kok Jiyong dan G-Dragon sifatnya beda banget? Apa maksudnya nggak suka Chae, padahal ngejar-ngejar?
Sebenernya ada game apa sih?

Itu Ji Ho benean mau main cium?

Hayoo lhooo…

.

Ehem… readers, mohon sabar yaa dengan update-ku yang lama nya minta diketjup tabi. Aku nya sih selalu usaha buat nulis tiap hari. Tapi apa daya, aku lagi penuh dengan kuliah dan skripsi. huhuhuhu… T____T

ya sudahlah, pokoknya saya minta komen aja. hehe…

gomawooooooooooooooo….. (_ _)