Title : Han Sarang (one love)

Author : Milla Anggraiani/Myshfly3424

Genre : Romantic (you can conclude)

Length : oneshoot

Rating : All Age

Casts :

-Lee Donghae

-Han Sarang (oc)/You

-Choi Siwon

-Lee Hara (oc)/Siwon’s wife

Disclaimer : I made it by myself. Please don’t copy it without my permission. Cast yang ada di sini adalah milik mereka sendiri dan milik Tuhan ^^ Udah pernah di publish d blog pribadiku yorajung.wordpress.com J

Recomendation song:

*Han Sarang – Davichi

Happy Reading all!!

 

Seorang gadis duduk di atas kursi rodanya. Tatapannya kosong memandang taman di depannya. Sudah dua bulan ia di rawat di sini. Namun selama dua bulan penuh tidak-ada perubahan yang dari kondisinya.

“Sarang ssi! Ayo kita kembali ke kamarmu!” seorang perawat menghampiri gadis itu lalu mendorong kursi rodanya memasuki kamar nomor 416. Perawat itu memanggil salah satu temannya. Seorang pria berseragam dokter dengan stetoskop yang menggantung di lehernya  masuk ke dalam kamar gadis bernama Sarang.

“Ia tak bereaksi apapun! Aku benar-benar heran.” Perawat wanita itu melaporkan kondisi pasiennya.

“Kita bicarakan di luar saja. Meski ia dalam keadaan seperti ini, ia bisa mendengar kita.” Setelah selesai memeriksa keadaan Sarang mereka keluar.

**

“Sepertinya kecelakaan itu benar-benar membuatnya shock!”

“ Selain itu ia juga melihat kekasihnya meninggal di tempat. Aku rasa itu salah satu penyebab ia menjadi seperti ini!” jawab perawat itu.

“Hara-ya! Bagaimana kalau kita merawat dan membawanya pulang?”

“Mwo? Kau serius?”

“Ne. Aku rasa suasana rumah sakit justru akan memperparah keadaannya.”

“Terserah kau saja oppa. Kapan kau berencana membawanya?”

“Entahlah. Bagaimana kalau besok?”

“Baiklah. Aku pulang dulu saja. Akan ku siapkan kamar untuknya.”

“Ne. Terima kasih Hara-ah!”

“Ne!”

**

Keesokan paginya seorang pria muda bernama Choi Siwon memasuki kamar pasien bernama Han Sarang. Kali ini ia melepas pakaian dokternya dan datang sebagai salah satu teman Sarang.

“Sarang-ah, apa kau senang? Hari ini kau akan pulang!”

Gadis yang ia ajak bicara hanya diam tidak menjawab. Tatapannya masih sama seperti beberapa hari yang lalu. Tatapan mata kosong. Siwon lalu membenahi pakaian Sarang. Setelah selesai, ia lalu membopong Sarang ke atas kursi rodanya. Mereka lalu meninggalkan kamar rumah sakit.

**

Sudah satu minggu Sarang di rawat di rumah Siwon. Setiap hari Siwon dan Hara saling bergantian menjaga Sarang.

Suatu pagi . . .

“Sarang ssi, apa yang sedang kau pikirkan?” Hara bertanya pada Sarang yang sedang menatap laut.

Sarang sama sekali tidak menjawap pertanyaan Hara. Pikirannya menerawang dan melayang pada saat detik-detik menjelang kecelakaan yang merenggut nyawa kekasihnya.

Flash back

Sebuah mobil melintasi jalanan kota Seoul dengan kecepatan tinggi.

“Oppa! Jangan terlalu cepat menegemudikannya!”

“Tenang saja Sarang-ah!” Lee Donghae, namja yang ada di samping gadis bernama Sarang ini adalah seorang pembalap. Ia merasa sudah merajai jalanan, karena selama ia balapan belum ada seorangpun yang bisa mengalahkannya.

“Kau tahu Sarang, aku ini seorang raja balap mobil!”

“Ne oppa! Itu kalau kau di sirkuit! Ini di jalan oppa! Ppali! Turunkan kecepatan mobilnya!” perintah Sarang.

Donghae yang menyadari ketakutan di wajah gadisnya itu lalu menurunkan kecepatan mobilnya. Namun saat ia mencoba mengerem ternyata remnya tidak berfungsi dengan baik. Rem nya blong! Ia terkejut dan shock. Ia lalu menatap Sarang.

“Waeyo oppa?” Sarang tersenyum. Donghae menggelengkan kepalanya.

“Aniyo.” Ia lalu mengecek kursi penumpang di belakang. Ada sebuah helm yang selalu ia gunakan saat balap mobil.

“Sarang-ah, kau mencintaiku bukan?”

Sarang yang merasa aneh dengan sikap Donghae lalu tertawa.

“Tentu saja oppa! Aku mencintaimu! Kemarin, hari ini, dan seterusnya!” jawabnya sambil tersenyum. Donghae menatap mata Sarang penuh cinta.

“Kalau begitu, kau bisa ambilkan helm yang ada di kursi belakang?” tanya Donghae lagi.

“Ne! Tapi buat apa oppa?”

“Sudah, ambil saja!” Donghae masih berusaha mencoba mengerem mobilnya. Ternyata memang remnya blong.

“Ini oppa!” Sarang mengulurkan helm milik Donghae.

“Pakailah!” perintah Donghae.

“Ne?” Sarang bingung dengan permintaan Donghae.

“Kalau kau memang mencintaiku, aku minta kau untuk memakainya!”

“Kau ini aneh-aneh saja oppa! Kau pikir kita sedang balap mobil huh?” Sarang memakai helm milik Donghae di kepalanya.

“Sarang-ah! Aku ingin mengatakan sesuatu padamu.”

“Ne oppa?”

“Aku mencintaimu sejak pertama aku melihatmu. Rasa cintaku sampai saat ini masih tetap sama dan tidak berkurang! Meski aku mencintai balap mobil, tetapi aku lebih mencintaimu. Aku bersedi meninggalkan balap mobil hanya untukmu. Untuk melihatmu tetap hidup dan bahagia!”

Donghae lalu terdiam.

“Apa kau mau berjanji padaku?” tanyanya pada Sarang yang masih menatapnya.

“Berjanji tentang apa?”

“Kau akan hidup bahagia selamanya meski tanpa aku! Kau akan terus tersenyum meski tanpa aku di sampingmu. Kau janji?”

“Kau ini bicara apa si oppa?”

“Berjanjilah padaku!”

“Ne. Aku berjanji oppa. Aku berjanji akan tetap bahagia meski tanpamu disisiku. Akan terus tersenyum meski tanpamu. Dan aku juga berjanji akan terus mencintaimu selamanya!”

“Anak pintar. Aku harus memberitahumu satu hal lagi.”

“Apa?”

“Rem mobil ini blong. Aku tidak bisa menurunkan kecepatannya! Aku akan mencoba menggunakan hand rem. Semoga saja usahaku berhasil!” Donghae menjelaskan situasi yang terjadi kepada Sarang.

“Mwoya?”

“Sarang-ah! Saranghaeyo!” Donghae lalu menarik hand rem yang ada di sebelah kanannya. Mobil yang sedang melaju kencang itu langsung mengeluarkan suara decitan yang sangat memekakkan telinga. Mobil itu berputar dengan cepat lalu berguling ke samping kiri sebanyak dua kali. Setelah tiga menit berputar dan menabrak sebuah pohon akhirnya mobil itu berhenti dengan keadaan terbalik.

Orang-orang di sekitar langsung mendekati mobil dan berusaha menyelamatkan penumpangnya.

“Hei! Ayo cepat sedikit! Ada seorang pria dan wanita di dalamnya!” seorang pria mngomando teman-temannya untuk segera mengeluarkan keduanya.

Sarang yang masih sadar berusaha menggapai lengan Dongahe yang sudah tidak bergerak.

“Ddoongh.. hae-ah! Ireona!” Sarang mengeluarkan suaranya. Namun orang yang ia ajak bicara tak menjawab. Kedua matanya terpejam. Cairan kental berwarna merah mengalir dengan cepat dari kepalanya. Sarang hanya bisa menangis.

Tiba-tiba ada yang mengetuk kaca mobilnya.

“Agasshi! Gwenchanayo?” Sarang mengangguk dan menunjuk Donghae. Ia lalu memejamkan matanya.

Flashback END

Kejadian pada malam itu terus saja berputar bagaikan film di memori Sarang. Ia tidak bisa dengan mudahnya melupakan kejadian itu. Donghae meninggal di tempat saat itu juga. Pendarahan pada kepalanya. Sarang sadar dan paham betul kalau ia bisa selamat saat ini juga karena Donghae. Donghae yang memintanya untuk memakai helm miliknya. Karena ia tahu akan seperti ini. Donghae berusaha menyelamatkan nyawa Sarang, orang yang di cintainya dengan mengorbankan nyawanya sendiri.

Sarang yang mengingat kejadian itu mengeluarkan air matanya. Ia menangis tanpa suara. Hal ini membuat Hara bingung. Ia lalu mengambil ponselnya dan menelepon Siwon.

“Oppa, bisakah kau kemari? Sarang mulai bereaksi. Ia menangis oppa!”

“Ne. Tunggu aku!”

**

“Aku yakin dia tadi mengingat kejadian pada malam itu!”

“Apakah tidak berbahaya baginya oppa?”

“Tidak. Itu justru menandakan kalau otaknya sudah mulai bereaksi. Aku harap dia akan pulih secepatnya.”

“ne oppa. Aku juga berharap seperti itu.”

“Aku percayakan dia padamu Hara!” ucapnya sambil mencium kening istrinya.

**

“Eonni!” Hara menoleh dan mendapati seorang gadis berusia 20an di hadapannya.

“Sarang-ah! Kau cantik sekali! Mau kemana?”

Sarang tersenyum. “aku ingin jalan-jalan sebentar eonni. Sudah lama aku tidak keluar.”

“Perlu ku temani?”

“Tidak usah. Eonni di rumah saja.”

“Baiklah! Pulanglah sebelum makan malam ne?”

“Ne eonni! Eonni…” perkataannya terhenti.

“Waeyo?”

“Terima kasih! Aku berterima kasih karena eonni dan Siwon oppa sudah mau merawat dan menjagaku seperti adik kalian sendiri.” Sarang tersenyum.

“Ne! Sama-sama. Aku senang mempunyai seorang adik sepertimu!”

**

Sudah 1 tahun semenjak kejadian itu berlalu. Siwon dan Hara merawat Sarang dengan sangat baik. Hingga akhirnya Sarang menunjukkan perubahannya. Ia kini sudah sembuh meski terkadang masih senang menyendiri. Namun bagi Siwon dan Hara itu adalah sebuah keajaiban.

Sarang berjalan menuju taman. Dilihatnya sekumpulan anak SD sedang bermain balon di temani gurunya. Ia tersenyum dan mendekati soerang anak yang memisahkan diri dari yang lain.

“Hei dongsaeng-ah! Mengapa kau menyendiri?” Anak itu tidak menjawab. Sarang melihat anak itu memegang balon yang belum di tiup.

“Ah, bagaimana kalau aku membantumu meniupkan balon itu? Kau mau?” Anak itu menatap Sarang lalu mengangguk. Sarang tersenyum dan mengambil balon itu dari tangan anak kecil tadi. Ia mulai meniup balon itu. Setelah cukup besar ia mengikat balon dan menyerahkannya pada anak kecil tadi.

“Ini balonmu! Aku pergi dulu ya!” ia mengusap kepala anak tadi lalu melanjutkan langakahnya.

“Gomawo!”

Sarang terus berjalan mengikuti langkah kakinya. Ia tiba di sebuah kompleks pemakaman. Ia bertanya dalam hati, apa yang membuatnya kemari? Namun kakinya terus melangkah dan melangkah. Melewati satu persatu makam yang ada di sana. Hingga pada akhirnya kakinya berhenti di depan sebuah makam. Sarang meneteskan airmatanya saat melihat nama pada makam itu.

R.I.P.

Lee Donghae

15-10-1986/29-3-2011

 

“Aku tahu, kau yang menuntunku kemari Lee Donghae! Kau tahu, aku masih sangat mencintaimu. Apa kau ingat janjiku padamu? Aku akan terus mencintaimu selamanya!” Sarang menangis di hadapan makam itu.

“Kau juga berjanji akan hidup bahagia walau tanpaku. Kau berjanji kalau kau akan terus tersenyum walau tanpaku di sisimu bukan?” sebuah suara entah dari mana terdengar di telinga Sarang. Sarang menangis.

“Ne.”

“Penuhilah janjimu padaku. Karena hanya dengan kau memenuhi janjimu aku bisa tenang di sana.”

“Aku akan berusaha memenuhi janjiku padamu. Tapi itu semua butuh waktu. Kau, berbahagialah di sana Lee Donghae!”

“Aku pasti bahagia kalau kau juga bahagia. Sarang-ah, carilah penggantiku. Aku yakin kau bisa mendapatkan yang terbaik.”

“Ne.”

“Apa aku bisa pergi sekarang? Apakah aku bisa melepasmu sekarang Sarang-ya!”

“Pergilah Lee Donghae. Ku doakan kau bahagia. Aku akan memenuhi janjiku padamu!”

“Gomawo Sarang-ah! Aku akan menunggumu di sana! Saranghae!” ucap suara itu lagi.

“Nado saranghae Lee Donghae!” setelah itu Sarang tidak mendengar suara itu lagi. Sebagai gantinya angin bertiup sangat kencang mengitari tubuh Sarang. Ia bisa merasakan angin yang mengitarinya terasa hangat. Sama ketika Donghae memeluknya. Ya, Dongahe memeluknya dengan wujud lain.

Setelah selesai berdoa, Sarang pergi meninggalkan pemakaman itu.

**

50 tahun kemudian

Seorang wanita tua memasuki sebuah area pemakaman dengan membawa sebuah tongkat di sebelah tangannya. Wanita tua itu berhenti di sebuah makam. Wanita itu tak lain adalah Han Sarang. Seorang wanita yang kehilangan kekasihnya 50 tahun yang lalu.

“Dongahe-ya! Aku kembali lagi. Mianhae, karena aku tidak bisa menepati janjiku. Karena sepertinya hanya kau pria di dunia ini yang ku cintai. Donghae-ya! jangan paksa aku lagi, ku mohon. Aku hanya punya satu buah cinta. Dan itu adalah milikmu! Aku tidak bisa mencintai pria lain. Sampai sekarangpun aku masih mencintaimu!” Sarang menangis di hadapan makam Donghae. Tak lama kemudian wanita itu menutup kedua matanya.

**

Akhirnya ini FF kelar juga ^^ hhe..

Ini bikinya 3 jam lho J

Silahkan berikan kritik dan saran anda ^^

Thanks for reading ^^

 

Oh iya, ini ff udah pernah d publish d wp aku yorajung.wordpress.com ^^