Title: LOVING YOU

Auhtor: ryrin

Lenght : ONESHOOT

Genre: romance

Main casts : SJ Sungmin, SNSD Sunny

Note: FF ini sebelumnya udah pernah dipost di http://shinningstar13ff.wordpress.com/2012/01/02/sunsuncouple-loving-you/#more-1121 dan http://smtownfanfiction.wordpress.com/2012/02/02/loving-you-oneshoot/   , ditulis dengan kerinduan yang amat sangat kepada couple yang satu ini 🙂


Aku berdiri di sisi panggung, mengawasi sekelompok gadis yang tengah beraksi di atas sana, tubuh mereka bergerak seirama dengan musik yang mengalun. Mataku tertuju kepada satu dari mereka, seseorang yang bertubuh paling mungil. Ups, aku tersenyum geli melihat ia melakukan sedikit kesalahan pada koreografinya

“Hyung!” ada yang menepuk pundakku menghapus senyuman di wajahku, seorang lelaki berambut karamel yang sedikit lebih pendek dariku. “Aku mencarimu kemana-mana, ternyata kau disini,” sungutnya sambil menyerahkan microphone, yah setelah ini memang giliran grupku untuk tampil.

Aku tersenyum tipis padanya sambil kembali memusatkan perhatian ke panggung. Melihatku terdiam, ia mengikuti arah pandanganku. Seketika ia menghela napas dan mengucapkan pertanyaan yang aku sendiri tak tau apa jawabannya.

“Sampai kapan Hyung mau begini? Sampai kapan Hyung mau menyimpan semua rasa itu sendiri?”

Y

Udara malam musim panas di Paris membelai tubuhku yang hanya berlapis kaus tipis dan celana piyama. Aku tidak bisa tidur. Tubuhku letih sehabis konser hari kedua tadi, mataku sudah ingin mengatup, tapi otakku sama sekali tidak bisa diajak tidur. Mungkin sedikit jalan-jalan ditengah malam dapat membuatku mengantuk. Sendirian, karna Shindong yang sekamar denganku sudah pulas sejak tubuhnya menyentuh kasur.

Aku menuju balkon di lantai kami menginap. seluruh lantai ini sudah disewa oleh manajemen, jadi aku tak perlu khawatir akan bertemu orang asing. Lagipula fans Eropa sangat  menghargai privasi, berbeda dengan fans di Asia. Tepat di ambang pintu yang membuka ke balkon, aku tertegun. Ada seorang gadis disana. Siluet tubuhnya sangat familiar, tak sadar jantungku mulai berdetak melebihi kecepatan normalnya. Sedikit bimbang, aku berjalan mendekatinya. Tinggal beberapa langkah sebelum aku mencapainya, ia berbalik.

“Sungmin Oppa?”

Aku sedikit kaget, namun senyumku refleks terkembang melihat matanya yang berbinar. ”Sunny, sedang apa disini?”

“Aku gak bisa tidur. Oppa?”

“Aku juga gak bisa tidur,” jawabku sambil mengambil tempat di sisinya. Ia mengangguk dan kembali memusatkan perhatian ke pemandangan Paris di malam hari.

Aku ikut terdiam, sedikit bingung akan berkata apa mengingat hubungan kami sekarang yang jauh berbeda dibandingkan waktu lalu.  Aku sangat merindukan situasi beberapa tahun lalu, terutama ketika kami bersama dalam suatu program radio. Itu adalah salah satu masa paling menyenangkan dalam hidupku. Kami tertawa bersama, saling mengisengi, berbagi cerita, dan sebagainya. Namun sekarang, jangankan untuk bermain gitar atau bertanding game bersama,  saat bertemu di kantor manajemen pun kami hanya saling bertukar salam sopan. Sudah lama aku ingin memperbaiki situasi ini, tapi keinginan itu kalah oleh ketidakberanianku memulainya.

“Sampai kapan Hyung mau begini..?”

Tiba-tiba ucapan Ryeowook tadi terngiang di telingaku. Sebenarnya tak satu pun orang yang mengetahui perasaanku ini, termasuk para member. Wookie adalah pengecualian. Ia tengah menginap di rumahku dan menemukan hoodie putih yang sepasang dengan hoodie pink Sunny  terlipat rapi di dalam sebuah box di lemariku, lengkap dengan berbagai pernak-pernik dan foto kami berdua. Awalnya aku berkilah tapi akhirnya pengakuan itu keluar setelah ia mengancam akan memberitahu member SuJu dan SNSD mengenai hal ini. Ia selalu mendorongku untuk mendekati Sunny dan menyatakan perasaan padanya, tapi aku tidak punya keberanian untuk melakukannya.

Entah mendapat keberanian darimana, aku mulai membuka obrolan dengannya. “Bagaimana Jepang?” tanyaku pelan. Kebetulan grupnya baru saja melakukan debut resmi di negara itu.

Ia sedikit terkejut dengan pertanyaanku. Bukan, ia terkejut karena aku memulai pembicaraan seperti ini. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kalinya kami mengobrol santai.  Tersenyum simpul, ia mulai menceritakan. Negara baru, budaya baru, jadwal gila-gilaan, tekanan pekerjaan, kekhawatiran akan reaksi fans dan sebagainya. Selagi ia bercerita, mataku menyusuri wajahnya.

“Capek kah? Kau terlihat pucat..” ucapku prihatin. Beberapa waktu lalu kudengar ia sempat pingsan di tengah konser, membuatku cemas setengah mati.

“Capek, Oppa. tapi menyenangkan,” jawabnya dengan mata berbinar. “Oppa sendiri, bagaimana Taiwan?”

Aku tertawa kecil mengingat pengalaman selama di Taiwan. Bagaimana ramahnya fans disana, suasana yang menyenangkan, bahasa Mandarin yang sedikit sulit dipelajari, makanannya yang lezat, segala kesibukan-konser, fanmeeting, fansigning, variety show-. Ia tertawa saat aku bercerita sempat mencicipi sup kura-kura disana.

“Oppa udah tau dong gimana rasanya Ddangkoma?” ia menyebutkan nama kura-kura peliharaan Yesung Hyung. Aku bergidik mengingatnya, kalau saja mereka tidak bilang itu baik untuk pria, aku takkan mau menyentuhnya!

Kami tertawa bersama. Terpesona, aku menatap eyesmile-nya. Ia masih tetap menggemaskan seperti dulu, membuatku tidak dapat menahan diri untuk tidak mencubit pipinya.

“OPPA!” jeritnya manja sambil melepaskan diri dari seranganku. Aku tertawa puas, ia misuh-misuh kecil dan memasang wajah cemberut. Aku berhenti tertawa. “Sunny-ya, mianhe. Salahmu  sendiri, kau terlalu menggemaskan!”  ucapku dengan manis. Bisa gawat kalau dia sampai ngambek padaku.

Ia menoleh menatapku. Tiba-tiba saja tangannya menyerang pipiku, sakit sekali. Ia cekikikan puas melihatku kesakitan. “SATU SAMA, OPPA!”

Aku menghela napas, gadis ini….

Setelah itu obrolan kami berjalan lancar. Kami saling bertukar gosip mengenai grup masing-masing, bercanda dan tertawa. Kalau saja aku tau akan semudah ini memulai obrolan dengannya, sudah sejak dulu ku lakukan. Tak terasa, kantukku mulai datang, namun kucoba untuk bertahan. Kalau untuk dapat bersamanya aku harus merelakan istirahatku malam ini, aku bersedia. Wahai gadis, taukah kau seberapa besar rinduku padamu?

Aku tengah melirik ketika ia menguap. Ia tertawa ketika sadar aku melihat.

“Ngantuk?” bisikku. Ia mengangguk malu.

“Ayo, aku antar ke kamar.” Aku menariknya masuk. Kami berjalan menuju kamarnya dalam diam. Ia terkikik ketika melihatku menguap kecil.

“Oppa juga ngantuk,” ujarnya ketika kami sampai di depan kamarnya, aku meringis malu.

“Sana masuk! Cuci muka, terus tidur,” perintahku sok tegas.

Ia mengangguk. “Iya, Oppa juga.”

Pintu telah terbuka, tapi ia masih berdiri di sisiku. Aku memandangnya heran. “Ming Oppa, terima kasih udah menemaniku. Aku senang, sudah lama sekali kita gak ngobrol kaya tadi,” ujarnya sambil sedikit membungkuk.

Aku tersenyum dan mengangguk. Hatiku terasa hangat, sepertinya ia juga merindukan saat-saat itu. Kuacak sedikit rambutnya sebelum ia melangkah masuk.

Tepat sebelum ia menutup pintu, tanganku terjulur menahan, “Besok mau jalan-jalan sama aku?”

Y

Aku berlari kencang menuju taman kecil di belakang kantor manajemen. Tampak seorang gadis berkaus kuning tengah duduk sendirian di salah satu kursi. “Sunny!” teriakku sambil mempercepat lari.

Ia menoleh tepat saat aku menjatuhkan tubuh di sisinya, tersengal-sengal kehabisan napas. “Ka..hh..mu u..hah..dhah huh la..maa?”

Ia tertawa kecil dan menyodorkan gelas minuman yang sedari tadi dipegangnya, ”Ini, Oppa minum dulu.” Ia menepuk kecil pundakku, menenangkan. “Aku baru lima menit kok.”

Aku menyesap ice greentea-nya hingga tetes terakhir, tenggorokanku benar-benar kering setelah latihan vokal ditambah berlari dari lantai empat  kesini. Aku mengatur napas sambil mengelap peluh di wajah dengan tisu yang ia sodorkan.

“Jadi, kita mau ngapain hari ini?” Aku menoleh ke arahnya.

Ia mengeluarkan PSPnya, “Level kita sekarang sudah sama Oppa, ayo kita tanding!”

Aku mengangguk setuju dan mengeluarkan PSPku. Tak lama kemudian kami sudah tenggelam dalam dunia kami sendiri. Jemari bergerak lincah di tuts PSP, mulut tak henti mengeluarkan pekik dan jerit kecil, sesekali kami melirik layar yang lain dan tertawa. Begitu asyiknya, sampai tidak menyadari hari sudah mulai gelap dan lampu taman mulai dinyalakan.

Ini sudah beberapa bulan sejak malam hari di Paris itu. kami sedang memperbaiki hubungan yang sempat renggang. Setiap ada kesempatan kami meluangkan waktu untuk bertemu, entah sekedar mengobrol, bermain musik atau bertanding game. Tentu saja hanya di seputaran kantor manajemen. aku tak berani mengambil resiko ketahuan oleh pers dan nantinya harus berakhir seperti beberapa tahun lalu-mendapat ultimatum dari manajemen untuk menjaga jarak-. Apalagi minggu lalu, netizen menyadari keberadaan gelang yang sama di tangan kami dan mulai berspekulasi tentang hubungan kami. Gelang tersebut kami beli saat berjalan-jalan di Paris waktu itu. Untung saja aku sempat membeli satu lagi dan memberikannya kepada Ryeowook. Setelah berita itu muncul, aku mengajak Wookie pergi keluar dengan memakai gelang tersebut. Besoknya sebuah foto candid aku dan Wookie dari fans yang melihat kami di Insa-dong beredar di internet dan berita mengenai aku dan Sunny perlahan mereda. Yah, seperti keledai, aku tak mau jatuh kedua kalinya di lubang yang sama..

Y

“Sunny Sunny Sunny, I love you, I want you…” senandungku pelan sambil berjalan riang. Itu lagu dari subgrupku, entah mengapa liriknya bisa begitu pas dengan hatiku. Hari ini kami ada di Incheon, tampil di Korean Music Wave 2011. Grupku baru saja turun panggung, para member sedang berbasa-basi dengan beberapa sunbae dan hoobae yang ditemui dan sebagian lagi tepar di ruang ganti, tapi aku bergegas menuju ruang ganti SNSD. tentu saja untuk menemui Sunny, kali ini saja, aku ingin mengajaknya keluar bersama. aku tau tempat yang bagus dan yang paling penting ada privasi untuk kami.

Pintu ruangan itu sedikit terbuka ketika aku tiba di depannya, Ruangan tersebut tampak sepi. Hanya ada Seohyun yang tengah berbagi earphone dengan Yonghwa, dan Hyoyeon yang sedang mengompres kakinya yang cedera saat perform tadi. Aku sudah akan berbalik saat terdengar suara tawa yang sangat familiar. Aku mengintip dari celah pintu, tampak Sunny duduk di sisi yang berlawanan dengan Hyoyeon bersama dengan seorang lelaki yang memegang gitar. Ia kelihatan akrab sekali dengan lelaki itu. sayang aku tak bisa mengenali wajahnya dari celah sempit ini, tapi harus kuakui lelaki itu bermain gitar dengan baik.

“Ck, sejak kapan Sunny dekat dengan Jonghyun CN Blue? Apa tidak ada yang sadar kalau Sunny ditakdirkan untukku? Aku dan dia sama-sama maniak game dan ada kata KYU pada nama kami berdua. Dua hal itu bukan kebetulan!”

Aku menoleh saat seseorang menggumam tepat di belakangku. Ah, Kyuhyun, maknae satu ini benar-benar jelmaan setan! Sejak kapan dia ada di sini? Tapi, apa maksud kata-katanya tadi? Jangan katakan ia juga menaruh hati pada Sunny..

“Kau setuju kan kalau Sunny itu ditakdirkan untukku?” ia mengedikkan mata padaku. Aku hanya diam dan berlalu. Tiba-tiba saja aku jadi benci hari ini.

Aku berjalan menuju tempat parkir setelah minta izin pada Manager Hyung untuk pulang duluan. Kukatakan aku sedang kurang enak badan. Karna tadinya berniat untuk pergi dengan Sunny, aku membawa mobil sendiri hari ini. Untunglah, jadi aku bisa pulang secepatnya. Ponsel yang ku kantongi bergetar sesaat setelah aku menghempaskan diri di belakang setir. Sedikit malas, kuraih benda itu dan membuka pesan yang baru masuk.

From: evilkyu

Sungmin-ah, maaf, aku hanya bercanda tadi. Kau tau kan, hanya Starcraft di hatiku? ;p Tapi, kapan kau mau mengakui perasaanmu itu? Jangan tanya aku tau darimana, semua tercetak jelas di matamu! Apalagi yang kau tunggu, kau mau melihatnya direbut lelaki lain? Cepat nyatakan padanya ! 

Aku terhenyak.

Y

Hari sudah beranjak sore, aku sedang menyepi sendiri di rooftop gedung manajemen. Latihan koreo hari ini sudah selesai 2 jam yang lalu, para member segera berlalu ke Coffee Shop milik Yesung Hyung. Aku menolak ikut dengan alasan ada janji dengan Sungjin, tapi nyatanya sejak tadi aku duduk disini bersama gitar kesayanganku. Jemariku memetik senar secara asal

You are my sunshine, my only sunshine

You make me happy, when skies are grey

You never know dear, how much I love you

….

Aku bernyanyi pelan mengikuti irama gitar. Haha, kenapa harus lagu ini yang keluar dari mulutku? Kata Kibum lagu ini tentang kasih sayang orang tua kepada anaknya, tapi buatku lagu ini adalah cermin perasaanku kepada Sunny. She’s the sun of my life J

‘Kau mau melihatnya direbut lelaki lain?’

Sebaris kalimat pesan dari Kyu semalam terlintas di benakku. Ku coba membayangkan bagaimana kalau misalnya Sunny benar-benar ‘berlalu’ dengan pria lain. Aku tau, ada banyak pria yang menyukainya. Beberapa dari mereka bahkan jauh lebih baik dibanding diriku. Song Joong Ki, Boom Hyung, bahkan Son Hoyoung Sunbaenim! Aku membayangkan bila salah satu dari mereka bersama dengan Sunny. Hanya sekedar bayangan, bukan kenyataan, aku sudah merasakan sakit di sudut hatiku. Tapi untuk mengakui rasa ini kepadanya, aku belum punya keberanian. Ketakutanku akan penolakannya terlalu besar. Secuil  bagian hatiku merasa ia juga memiliki rasa untukku, walau hanya sedikit kuyakin ada aku di hatinya. Namun keyakinan itu tak cukup untuk menimbulkan keberanianku.

Aku juga tak dapat membayangkan bila suatu saat nanti ia tak ada lagi di hidupku. Seperti bumi yang membutuhkan mentari, Lee Sungmin membutuhkan Lee Soonkyu untuk menyinari hidupnya. Seperti matahari yang setia menghangatkan bumi dengan sinarnya, keberadaan Sunny selalu dapat membuatku senang, bahkan walau hanya menatapnya dari kejauhan. Bagaimana mungkin aku dapat hidup tanpa matahariku?

“’YAK, MING OPPA!” teriakan itu mengembalikan kesadaranku. Aku berbalik gusar dan menemukan seraut wajah dengan eyesmile yang sangat kusuka. Aku tersenyum, lihatlah betapa lemahnya diriku bila dia di hadapanku.

“Wah, Oppa bawa gitar! Ayo ajari aku lagu baru!” soraknya sambil duduk di hadapanku.

Senyumanku memudar ketika kejadian kemarin melintas di benakku. Tawa bahagianya saat mendengar permainan gitar Jonghyun terngiang di telingaku, membuatku gusar.

“Mengapa tidak minta Jonghyun yang mengajarimu?” cetusku sedikit sinis.

Senyum memudar dari wajahnya. “Jjongie kan sedang di Jepang..”

Aku mendengus pelan. Jjongie? Bahkan ia memanggil lelaki itu dengan panggilan akrab. Tapi, astagaa! Sepertinya ia salah paham dan mengira aku membicarakan Jonghyun SHINee!

“Maksudku Jonghyun CNBlue, kemarin kau akrab sekali dengannya..”

Ia tampak bingung dengan arah pembicaraanku. “Kemarin?”

“Iya, kemarin aku datang ke ruang tunggu kalian untuk menemuimu. Tapi kulihat kau sedang asik dengannya,” ujarku kesal, sulit untuk menutupi kecemburuanku ini.

“Oppa, aku Cuma menemaninya kemarin. Kasihan dia sendirian menunggui Yonghwa yang asik bersama Seohyun,” ia menjelaskan dengan ekspresi bingung masih tercetak jelas di wajahnya.

“Tapi kau akrab sekali dengannya!”

Tiba-tiba ia menghentakkan kakinya. “Oppa ini kenapa? Apa salahnya kalau aku ngobrol dengannya?”

Kesal, kuletakkan gitarku. “Aku gak suka kau dekat dengannya.”

“Huh, kenapa? Aku tidak pernah protes melihat Oppa dekat dengan Sooyoungie!”

“Kami hanya berteman!” teriakku, kesabaranku mulai habis.

“Aku juga! Asal Oppa tau, karena hubungan Seohyun dan Yonghwa, SNSD dan CNBlue sangat akrab sekarang.”

“Tapi aku tak suka  kau dekat, tertawa dan bermain gitar bersamanya!” ketusku sambil melompat  berdiri di hadapannya.

“Kenapa? Aku tidak pernah marah kalau Oppa bermain gitar dengan Sooyoungie, tapi kenapa aku tidak boleh bermain gitar dengan Jonghyun?!” ia ikut berdiri dan sedikit mendongak menghadapiku.

“Aku sudah bilang, aku tak suka kau dekat dengannya!”

“Lalu kenapa? Oppa tidak punya hak untuk marah atau melarangku!”

Aku terdiam. Aku tau, sebenarnya tak ada alasan untukku marah padanya hanya karena masalah kecil ini. Dan ia benar, apa hakku melarangnya akrab dengan pria lain? Tapi aku benar-benar tak senang melihatnya dekat dengan pria lain. Please Sunshine, biarkan hanya aku satu-satunya lelaki yang dekat dan menikmati tawamu..

Tiba-tiba ia tertawa sinis, pelan namun masih dapat ku dengar.

“Kenapa?”

“Aku tau kenapa Oppa marah-marah begini. Oppa cemburu?”

“Aku? Cem..cemburu?” tanyaku tergagap. apa itu tercetak jelas di wajahku?

“Iya, karna aku dekat dengan cowok selain Oppa.”

“Aku gak cemburu, aku Cuma gak suka!”

“Aargh! Apa susahnya sih mengaku?”

“Sunny-ya, aku tak punya alasan untuk cemburu padamu!” elakku kasar.

Ia tertawa pelan. “Oppa masih tidak mau mengaku? Apa harus aku yang mengatakannya?”

“Mengatakan apa?” tantangku.

“Aku… aku… Oppa.. aku…” ia tergagap.

“Saranghae..” tiba-tiba saja kalimat itu meluncur dari bibirku. Sangat jelas, ia pasti bisa mendengarnya.

Keterkejutan terpeta jelas di wajahnya. Rasanya aku ingin menggigit lidahku sampai putus, bagaimana mungkin kata-kata itu terlontar tanpa kusadari? Otakku berpikir keras untuk meralatnya, namun semua buram, tak ada kata-kata yang terpikirkan untuk meralat pernyataan itu. Aku menahan napas menanti reaksinya, pasrah, mungkin memang sudah saatnya ku katakan.

Ia melangkah pelan menghampiriku dengan sorot aneh di matanya, sama sekali belum merespon pernyataanku.

“Bodoh! Kau butuh berapa lama untuk menyadari itu?” ia memukul dadaku pelan, dari jarak sedekat ini aku bisa melihat matanya berkaca-kaca. Aku terdiam, kaget dan bingung dengan reaksinya. Dia mengataiku bodoh, memukulku, bahkan tidak memanggilku Oppa!

“Kau mau aku menunggu berapa lama untuk mendengar kata-kata itu dari mulutmu?” ia memelukku dan mulai menangis di hadapanku.

Aku masih tidak bergerak atau membalas pelukannya, otakku berusaha mencerna maksud perkataannya itu. Bagian depan kausku mulai basah oleh air matanya yang terasa hangat di kulit dadaku.

“Aku mencintaimu, Lee Sungmin! Dari dulu selalu hanya kau, apa kau benar-benar tidak merasakannya?” jeritnya di tengah isakan karena aku hanya terdiam.

Aku tersentak. Apa katanya tadi? Dia mencintaiku? Tiba-tiba aku teringat perkataan Ryeowook saat ia mengetahui perasaanku, ‘Kenapa Hyung tidak coba mengatakan kepadanya? Sepertinya dia juga punya perasaan yang sama. Aku bisa melihatnya, masa Hyung tidak?’.

Yah, jelas saja ia mengataiku bodoh. Aku benar-benar buta. Selama ini aku hanya memikirkan perasaanku, kesedihanku karna hubungan kami yang merenggang, ketakutanku apabila dia tidak memiliki perasaan yang sama, dan sebagainya, namun aku sama sekali tidak memikirkan perasaannya. Padahal selama ini sebenarnya ia sama saja denganku, menyimpan rasa itu sendiri. Dia benar, aku memang bodoh. Selama ini aku bukan hanya menyakiti perasaanku sendiri dengan berdiam diri, tapi juga menyakitinya.

Tanganku terjulur untuk balas memeluknya. Kurengkuh kepalanya dan mendekap erat di dadaku. “Ya, aku memang bodoh. Maafkan aku..” bisikku pelan. Ia masih terisak, membuat hatiku serasa diremas. Aku tidak suka melihat wanita menangis, apalagi itu gadis yang kusayangi dan ia menangis karna kesalahanku.

Ku tengadahkan wajahnya memandangku. Pipinya basah dan matanya merah. Kuhapus air mata yang masih menggenang di pelupuknya. “Aku memang bodoh, orang bodoh yang sangat mencintaimu. Orang bodoh yang sangat takut kehilanganmu sampai  bertindak bodoh seperti ini..”

ia menatapku sendu. Sesenggukan, dilabuhkannya wajahnya kembali ke dadaku. Tanganku mengelus lembut rambutnya, menenangkan.

“Kau mau berpacaran dengan orang bodoh ini?” tanyaku sambil mencium puncak kepalanya. Sebenarnya itu tak perlu lagi ditanyakan, bukannya ia sudah mengatakan cintanya padaku? Tapi aku merasa perlu menanyakannya, sekedar untuk memastikan posisiku, menenangkan gejolak hatiku dan untuk sedikit mencandainya agar berhenti menangis.

Ia tak menjawab namun semakin mengeratkan pelukannya di tubuhku.

“Kuanggap itu sebagai jawaban, YA.”

Andai waktu berhenti saat ini juga, aku takkan menyesalinya. Aku tak ingin melepaskan lagi gadis dalam pelukanku ini…

END


Hehe.. ancur? Mengecewakan? Miaann~~~ *bow bareng Kyu* FF perdana nih hihii J

Silahkan jadi Silent Reader ! Tapi semoga pada terketuk pintu hatinya untuk ninggalin jejak (kritik/saran/komen) 😛 kalo banyak yang suka, mungkin bakal bikin sequelnya nih hehe.. thankKyu