[CHAPTER 8] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • Song Seung Hoon as Jun So Min
  • Park Yoojin as herself

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

“Ke taman saja. Kurasa tak ada siapapun yang akan menguntit kita sampai taman” Ajak Donghae. Hari ini ia memakai kaos yang dilapisi oleh Tux warna coklat pekat dan sepatu kets warna senada.

 

Semenit yang lalu kami sekeluarga masih berkumpul di dalam, membicarakan segalanya. Membicarakan tanggal pertunangan, membicarakan masa depan, serta membicarakan hal-hal lain. Ibu dan bibi tentu saja sangat antusias.

“Ah, malam yang indah” Ucapnya sembari merentangkan kedua tangannya dan memejamkan matanya sesaat. Aku menoleh ke arahnya. Ia terlihat sangat rileks. Aku berhenti sejenak dan melepas sepatu higheels milik Yoojin yang sangat menyiksa kakiku.

Handphoneku berbunyi,

Sandy Calling !

Yoboseyo?”

“Chiyoon-ah?!!!” Terdengar music keras ala diskotek yang mengiringi suara Sandy. Pasti ia dan Naomy sedang bersenang-senang sekarang!

“Iya? Apa yang terjadi? Dimana kau?”

“Hahaha. Chiyoon-ah kau tahu Naomy dan Hanseo ? Yaaa!!! Mereka resmi berpacaran!” Aku menjauhkan ponselku dari telingaku.

Tidak kusangka, Naomy mampu menaklukkan Hanseo yang pendiam.

Kulihat Donghae melirikku sedikit bertanya-tanya. Aku mengalihkan pandanganku kembali.

“Husst! Kau tahu, suara mu itu sangat keras!! Wah chukaeyo untuk Naomy aku ikut senang. Kalian harus mentraktirku di lain waktu. Mengerti ?”

“Kau kemana saja ? Yaa! Kami merindukanmu? Mengapa Setiap pulang sekolah kau selalu pulang duluan Chiyoon-ah?” Terdengar nada merajuk dari arah seberang telepon.

Sandy, ternyata ia menyadari bahwa akhir-akhir ini aku sering menghindarinya. Ah, andai kau tahu masalahku

“Aku… aku eehh”

“Chiyoon-ah, hari sabtu di akhir pekan, kami akan mendaki gunung. Pokoknya, KAU HARUS IKUT! Mengerti??”

“Apa?? Mendaki gunung?”

Yang benar saja?

“Iya! Daripada bermalas-malsan di rumah. Pasti sangat mengasikkan. Nanti, aku bersama Tae soo, Naomy dan Hanseo, Kau dan Donghae. Baiklah Chiyoon-ah. Kami pulang dulu. Sebentar lagi mungkin saja polisi akan datang. Chiyoon-ah Anyyong!!”

“ee??” Apa ? Polisi? Apa mereka sedang berpesta alcohol? Ah dasar!!

BIP!!

Dasar sahabat macam apa mereka? Bersenang-senang tanpa mengajakku? Dan sekarang mengajakku saat mendaki gunung??? Dengan makhluk ini??

“Sandy?” Tanya Donghae, aku mengangguk.

“Ia selalu nampak heboh. Apa dia mengatakan sesuatu? Dia mengetahui perjodohan kita?”

Aku menggeleng, kemudian melanjutkan jalanku. Donghae menjajari langkahku.

“Aku senang. Ternyata bibi dan ibu membiarkan kita kuliah dulu sebelum menikah” Aku berbalik dan menangkap ekspresinya.

Mengapa yang tertangkap justru ekspresi lega darinya? Apa ia senang? Benar-benar senang karena kami akan menikah atau senang karena ia dan Jessica akan disekolahkan oleh bibi ke luar negeri ?

“Menikah adalah suatu kata yang sangat kutakuti akhir-akhir ini” Tukasku.

“Lee Donghae-ssi. Selamat kepadamu. Aku turut senang mendengarnya” Ucapku berusaha terlihat professional.

“Maksudmu, Jessica?”

“Siapa lagi? Aku tak menyangka bibi mu sangat menyayanginya. Bukankah ini hal yang menyenangkan bisa kuliah di tempat yang sama dengan kekasihmu?”

Pikiranku melayang,

Flashback_

“Baiklah, ajaklah Jessica bersamamu. Biar ibu yang membiyayai kuliahnya. Melihat latar belakang keluarganya membuat hati ibu miris. Kau , Donghae jangan macam-macam padanya. Mengerti?” Ucap Bibi Lee

“Siapa Jessica? Teman baikmu?” Tanya ibu

“Iya bi. Ia temanku. Sudah sejak lama kami berteman”

“Oh begitu ya? Dan dimana kalian akan melanjutkan study?”

“Donghae berkeinginan untuk study di Prancis, Jung-ah”

“Wah, Padahal Chiyoon ingin ke jepang”

“Walaupun awalnya berpisah, tak bisa dipungkiri kalau mereka itu jodoh. Haha. Jung-ah, setelah mereka lulus kita harus cepat-cepat menikahkan mereka”

“Ibuuuu” Ucap Donghae

“Secepat itu ? em maksudku. Langsung menikah?” Tanyaku sedikit shock

“Ya! Kalian sudah dewasa saat lulus kuliah. Lagipula masih 4 tahun kan ?” Aku menghela nafas berat.

Flashback end_

Aku melangkahkan kedua kakiku perlahan. Semua ini seperti mimpi. Sebuah rencana yang awalnya kukira hanya lelucon, pada akhirnya akan benar-benar terjadi.

“Kupikir 4 tahun itu adalah waktu yang sangat singkat”

“…” Aku tak menjawab apa-apa. Bagiku sama saja, cepat atau lambat aku tetap akan dinikahkan denganmu.

“Aku akan mengambil sekolah bisnis. Sedangkan Jessica, mungkin ia akan mengambil di bidang seni”

“Sepertinya kau sangat hafal dengan kegemaran kekasihmu” Langkah Donghae terhenti.

“Seperti katamu, karena ia KEKASIHKU, makanya aku mengenali KEKASIHKU” Aku tahu , ia berusaha menunjukkan kata “kekasih” dengan menekankan kata tersebut agar aku selalu mengingat bahwa Jessica itu kekasihnya.

“Ya, aku tahu bahwa Jessica itu KEKASIHMU!”

Dasar sok pamer !

“Ada apa dengan kakimu?” Ucapnya.

Donghae bertanya setelah melihat jalanku sedikit pincang. Pikiranku melayang saat tadi siang secara tak sengaja terjatuh di sebuah lubang genangan air.

“Tidak ada apa-apa” Kuperbaiki cara berjalanku, namun tetap tidak bisa sebaik biasanya. “Tadi siang aku terjatuh. Tapi tidak parah” Kulihat Donghae membuang mukanya, kemudian menatapku garang.

“Mengapa kau selalu ceroboh ? Dimana otakmu hah?!!” Suaranya agak meninggi. Nafasnya naik turun. Apa dia marah padaku ?

“Kau tak perlu mengkawatirkanku”

“Aku tak pernah mengkawatirkanmu, Chiyoon-ssi. Teruslah menjadi orang yang paling ceroboh. Aku tak akan mencampuri urusanmu lagi” Donghae mendahuluiku. Terlihat jelas bahwa ia kesal.

Terdengar irama langkah sepatunya yang agak keras. Ia terduduk di sebuah bangku di depanku. Rahangnya terkatup rapat. Sepertinya ia selalu paham bahwa aku adalah gadis yang ceroboh. Aku sering terjatuh, sering terkena pukulan, dan sering terluka. Apalah itu, ia tetap tak boleh membentakku seenaknya kan?

Mengapa kau sangat menyebalkan? Membentak orang seenaknya?

Mataku memanas. Kemudian kaki ku melangkah, mendekatinya. Namun langkahku terhenti. Memandangi sosoknya dari belakang. Ia tumbuh sangat cepat. Terakhir berada di dekatnya adalah saat kami masih kecil. Badan kami masih sama-sama kecil. Sama-sama lugu. Ia kini menjelma menjadi sosok yang hampir dewasa. Kau, Donghae-ssi!

Kuamati punggungnya. Rambut pendeknya. Aku mengitari bangku dan mengambil tempat duduk tepat di sebelahnya. Badannya membungkuk, wajahnya menerwang jauh, ia menempelkan kedua sikunya di lututnya dan mengepalkan kedua tangannya. Kami diam, sama-sama terdiam.

“Donghae-ssi. Maafkan aku ” Ucapku lirih. Aku sadar, Donghae masih menyimpan benci padaku. Entah benci karena apa karena aku sama sekali tidak menahu. Ia mendongak, tanpa memandangku. Diam-diam aku meneteskan air mataku. Dadaku sampai terasa sesak menahan tangisku.

Sebenarnya apa dosaku , Donghae-ssi ? Katakanlah sekarang, jangan biarkan aku selalu bertanya-tanya.

Bahuku bergetar. Kutangkup wajahku dengan kedua telapak tanganku, tak ingin ia mengetahui tangisan bodohku ini. Tiba-tiba kurasakan badanku mulai hangat.

Aku tercekat. Sebuah lengan seseorang merangkul bahuku. Tanpa berkata apapun.

Apa aku bermimpi? Benar Donghae yang merangkulku? Bukan karena salah orang ? Bukan karena dikiranya aku Jessica?

Aku mendongak menatap wajahnya. Benar, ternyata orang itulah lah yang merangkulku. Ah, apa maunya ??

Air mataku masih saja meleleh, dan cepat-cepat kuusap dengan telapak tanganku.

“Mengapa kau sangat menyebalkan Donghae-ssi ?” Ucapku lirih. Aku menghela nafas dalam. Sangat dalam agar suaraku kembali normal. Aku melepas rangkulannya pelan.

“Kaulah yang memulai semua ini, Chiyoon-ah” Nafasnya terdengar berat. Ia menatap kedua mataku.

“Apa?” Kedua alisku berkerut.

“Apa kau tak mengingatnya?” Aku menggeleng dan meminta penjelasan lebih darinya.

“Ayahku, ia meninggal dunia karenamu” Desisnya pelan, lebih mirip sebuah bisikan. Wajahnya terluka dan amat sedih.

PLAKK!!!!

Kutampar wajah Donghae keras.

Apa aku salah dengar? Ia salah bicara? Ya Tuhan, Mengapa terdengar sangat menyakitkan??

“Donghae-ssi !!! Teganya kau,” Aku terduduk lemas. Jantungku berdebar keras, dan mataku memanas tiba-tiba. Badanku bergetar hebat.

Bayangan saat Donghae menciumku 2 hari yang lalu ketika aku menanyakan alasan mengapa ia membenciku. Ia hanya menunjukkan analogi yang ia rasakan saat ini. Ia berkata , bahwa apa yang kurasakan sekarang sama dengan apa yang ia rasakan selama ini. Kini aku tahu maksud nya.

Apa yang kurasakan ? Ya! Aku memang membencinya saat ia melakukan hal itu. Tapi, aku tidak pernah benar-benar bisa membencinya. Apa ini yang selama ini ia rasakan?

“Chiyoon-ah maafkan aku. Baru sekarang aku menyadari bahwa kau tak bersalah”

Ucapanmu justru membuatku berfikir bahwa aku lah yang salah. Kau pasti sangat membenciku, Donghae-ssi

Tangisanku semakin keras, Ya Tuhan, Cobaan apa lagi ini ??

Pikiranku lagi-lagi melayang ke kejadian 5 tahun yang lalu.

Flashback_

Saat itu, aku dan Donghae bermain ke taman hiburan bersama ayahnya. Tawa dan canda selalu mengiringi tiap langkah kami. Saat hendak menyebrang jalan, tiba-tiba sebuah truk besar dengan kecepatan yang sangat tinggi meng-klakson ke arah kami. Kami bertiga berteriak, dan kejadian diakhiri oleh sebuah cahaya terang lampu rumah sakit. Aku tak sadarkan diri hampir seminggu lamanya. Sedangkan ayah Donghae kuketahui meninggal dunia akibat kejadian ini.

End Flashback_

Apa aku penyebab paman Lee meninggal dunia? Paman Lee! Seseorang yang memiliki ketulusan hati, seseorang yang sangat penyayang, sekarang meninggal dan akulah penyebabnya??

“Aku menyesal 5 tahun membencimu sebagai penyebab ayahku meninggal dunia”

Jadi, selama ini. Inikah penyebabnya?

“Jadi,..” Aku masih tak sanggup merangkai kalimat. Lebih ,memilih mendengar Donghae yang berbicara.

Donghae-ah, kau hebat. Kau begitu kuat menyimpan kesedihanmu sendirian.

“Hampir setiap hari aku bermimpi tentang hal yang sama. Tentang ayah dan juga tentang kau. Namun sepertinya ayah tak terima jika aku memperlakukanmu buruk”

Baiklah, jika bukan aku penyebab ayahmu meninggal, lantas siapa?

“Ayah memiliki mata atau tidak, nyawanya tetap tak bisa tertolong” DEG!!

Apa maksudmu Donghae-ssi?

“Apa maksudmu?” Tanyaku lirih

“Chiyoon-ah, kornea matamu itu….” Donghae menitikkan air matanya, kemudian ia menyunggingkan senyum getir padaku, sangat perlahan tapi mampu membuat dadaku bergemuruh. Apa ia tersenyum sungguhan? Atau hanya …

Paman lee, Apakah mata ini…

Khamsaheyo..

Khamsaheyo Paman Lee…

Tiba-tiba kurasakan sekelilingku menjadi gelap. Kakiku melemah, tak mampu menopang tubuhku sendiri.

Keesokan harinya,

Author PoV

“Ada apa denganmu Naomi-ya?” Seluruh isi kelas dibuat heboh oleh kedatangan Naomy yang mengundang tanda Tanya besar. Semua menatap ke arah Hanseo, sedangkan Hanseo malah justru melengos kea rah jendela.

Naomy meluruskan rambut ikalnya, memakai sepatu hak tinggi, dan tas warna merah jambu. Sungguh perubahan yang luar biasa mengingat bahwa sebelumnya Naomy lebih mirip seperti seorang pria.

“Suitt suiittt!! Naomy-ya, kau kemasukan hantu apa? Penampilanmu sungguh aneh” Teriak Do Joon, si pria paling sok cool satu kelas.

Naomy melotot menatap ke arah Do Joon.

“Heh!! Apa ini masalah bagimu ?? Lihat saja kau, akan kukutuk jatuh cinta padaku!!”

Sandy mengambil insiatif untuk berbicara di depan kelas. Ia menggabungkan seluruh meja di kelas dan menaikinya agar posisinya dapat disimak oleh siapapun.

“Temaaannn temaannn !!! Baiklah, hari ini adalah hari yang sangat bersejarah bagi Naomy dan Hanseo. Untuk itu, aku minta kepada kalian semua untuk memberikan ucapan selamat pada mereka, karena mereka kini adalah sepasang kekasih !!”

Terdengar tawa riuh sekelas. Ada yang tidak menyangka bahwa si Tomboy Naomy dapat memenangkan hati Hanseo yang super kalem di kelas. Ada juga yang secara terang-terangan menentang hubungan mereka.

“Eh? Dimana Chiyoon? Apa ia tak masuk hari ini?” Teriak Naomy pada Sandy. Naomy duduk disebelah Hanseo dan mulai berbincang dengannya.

Donghae menghela nafasnya berkali-kali. Ia teringat dengan kejadian kemarin. Hatinya sangat sakit mengingat betapa teganya ia menuduh Chiyoon sebagai penyebab ayahnya meninggal. Ia menundukkan kepalanya dalam.

Apa gadis itu jatuh sakit ?

“Oppa, kau tidak apa-apa? Kau sering melamun belakangan ini” Jessica menatapnya khawatir. “Kau, memikirkan apa oppa?”

Donghae menoleh, kemudian ia hanya tersenyum tanpa menjawabnya.

“Memikirkanmu” Kemudian Jessica mendekatkan kepalanya pada pundak Donghae.

“Sandy-aa!!! Ponsel Chiyoon tidak aktif!! Ah bagaimana ini??” Teriak Naomy menganggu seisi kelas dengan suaranya yang cempreng.

“Ah benarkah??? Kalau begitu, sepulang sekolah kita ke rumahnya saja!!” Balas Sandy dengan suara yang tak kalah keras.

“Ah, mengapa semua orang khawatir akan Chiyoon? Bukankah baru kali ini ia tidak masuk ?” Jessica menggumam dekat Donghae karena melihat tingkah Sandy dan Naomy yang cenderung berlebihan dalam mengkhawatirkan ketidakhadiran Chiyoon hari ini.

“Sica?” Bisik Donghae. Jessica menatapnya.

“Bagaimana keadaan ayahmu? Apakah, sidangnya berjalan lancar?” Donghae membuka buku bahasa Prancisnya. Jessica merubah ekspresinya, senyumnya kini lenyap berganti dengan wajahnya yang murung.

“Aku tak tahu. Ayah masih harus menjalankan beberapa sidang lanjutan lagi. Kurasa kasusnya sangat rumit, oppa. Bahkan kini aku mulai pesimis” Jessica menunduk, kedua alisnya mengkerut.

“Dengar. Yang kau lakukan hanya mempercayai ayahmu sepenuhnya . Kau harus selalu memberinya semangat. Biarkan pengacara ayahmu yang menyelesaikan semuanya”

“Nde” Jessica lagi-lagi menunduk dalam.

“Apa yang kau khawatirkan? Apakah ada sesuatu yang mengusik pikiranmu?”

Jessica menatap Donghae dengan senyumnya yang menawan. Ia menatapnya dalam, hingga Donghae merasa sedikit salah tingkah.

“Terimakasih,Oppa. Terimakasih atas kebaikanmu selama ini. Hanya kau yang kumiliki saat ini. Terimakasih kau masih tetap di sampingku. Di situasi dimana aku terpuruk, aku sendiri. Gomawoyo oppa” Jessica menahan tangisnya hingga bahunya bergetar. Donghae tertawa kecil mendengarnya.

“Tidak usah berfikir macam-macam. Kau mau kuberitahu kabar menyenangkan?” Donghae menyentuh kepala Jessica lembut. Jessica mengusap pipinya, kemudian mendongak menatap Donghae. Ia tersenyum tipis.

“Kau akan ikut aku kuliah di Prancis. Kau senang?” Jessica membulatkan matanya. Donghae tersenyum.

“Oppa, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu? Dengan senang hati Oppa!” Jessica memeluk lengan Donghae.

“Untuk inikah kau selalu rajin mengikuti kelas bahasa Prancis? Dimana aku selallu saja membencinya!” Ujar Jessica

Donghae kembali teringat pada Chiyoon yang juga sangat menyukai bahasa Prancis. Bahkan nilai ujian gadis itu selalu jauh di atas Donghae.

Ah, gadis itu! Apakah ia baik-baik saja?

Donghae mengepalkan jemarinya dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tiba-tiba ingatan Donghae terbang ke kejadian kemarin.

My Adorable Fiancee,

To Be Continued

*

Annyong ??? sahabat Madhit bagaimana kabar? Alhamdulillah Madhit lagi libur abis UAS nih. Madhit pengen cepet-cepet kelarin tiap-tiap chapter nya nih. Biar mua reader gak penasaran lagi. Hhhaa😀

Untuk itu, Madhit kepengen liat komennya duyu dong :p Madhit lagi dilanda stuck nih. Bingung lanjud nya kea gimana. Jadi kalo komennya dikit mungkin aja Madhit bisa nyerah T_T