The Main Cast :

Choi Siwon

Han Hyura

and another support casts

Author’s

Seperti dugaan sebelumnya, hari itu syuting berjalan sangat lancar. Tengah hari semua kru sudah membereskan berbagai peralatan syuting dan sore ini mereka berniat kembali ke Seoul. Siwon langsung beranjak dari lokasi menuju klinik Hyura. Dari teras klinik itu, ia bisa melihat Hyura sedang memeriksa seorang kakek dan bibir itu tidak pernah melepaskan senyuman tulus dan menenangkan. Begitu selesai memeriksa sang kakek, Hyura membalik badannya dan sepasang mata itu berpandangan dengan sepasang mata milik Siwon. bukannya tersenyum, Hyura malah melengos membuat Siwon bingung. Ia kemudian masuk ke dalam klinik itu setelah sang kakek keluar.

“Bagaimana keadaan kakimu?” tanya Siwon.

Hyura melirik Siwon sejenak, “baik.”

Siwon mengkernyitkan keningnya, “kau kenapa? Habis menelan es batu?”

“Maksudmu?” tanya Hyura, tanpa memandang Siwon. matanya berkutat memandangi laporan kesehatan.

“Kenapa dingin sekali padaku?” tanya Siwon.

Ahn Young yang melihat dua orang itu langsung beringsut keluar. Ia tau dan melihat dengan jelas apa yang terjadi. Dan ia tau, dokter yang sudah ia anggap seperti kakaknya itu sedang marah dengan Siwon.

Hyura menghela nafas, “hanya perasaanmu saja.”

“Yaa, kau bahkan bisa tersenyum kepada kakek tadi, kenapa sekarang giliran aku kau jadi sinis seperti ini?”

“Aku sedang sibuk. Kalau kau tidak punya keluhan, lebih baik kau pergi.”

“Mwo?”

Kini mata Hyura memandang Siwon, “kau mau apa sebenarnya?”

“Aku…..”

“Siwon-ssi, aku bukan gadis yang bisa kau perlakukan seenak hatimu.”

Siwon terdiam memandang Hyura. Baru kali ini ia melihat wajah itu kelihatan begitu dingin.

“Apa maksudmu ciuman semalam?” tanya Siwon yang akhirnya mengerti maksud pembicaraan Hyura baru saja.

Hyura menghela nafas, “kau lakukan saja pada gadis yang tergila-gila padamu. Tapi itu jelas bukan aku. Harusnya semalam aku menamparmu.”

Siwon kemudian mendekatkan pipinya ke wajah Hyura, “lakukan sekarang.”

“Mwo?”

Siwon menolehkan wajahnya kemudian memandang Hyura, “tampar aku sekarang kalau itu bisa membuatmu memaafkan aku.”

Hyura membuang wajahnya. Siwon menghela nafas kemudian duduk di depan Hyura. Menangkupkan kedua tangannya dan menaruh dagunya di atas tangkupan tangannya, kemudian memandangi Hyura. Membuat Hyura salah tingkah.

Dont look at me with that way.” Ujar Hyura sambil melirik ke arah Siwon.

“Hyura-ssi, sore ini aku akan kembali ke Seoul.”

“…”

“Seoul itu jaraknya sangat jauh dari sini.” Lanjutnya

“Lantas?”

“Apalagi disini susah sekali mendapatkan sinyal.”

Hyura kemudian memandang Siwon, mencoba mencari inti pembicaraan ini.

“Dan maksudmu adalah?” tanya Hyura

“Kita sepertinya akan menjalani pacaran jarak jauh.”

Kalimat Siwon itu langsung membuat Hyura kaget luar biasa. Matanya langsung melotot dan bibirnya terbuka sedikit.

Siwon’s

Aku bisa melihat kekagetan terpampang jelas di wajahnya. Aku kemudian tersenyum. Semenjak kejadian semalam, aku tidak bisa melupakannya. Seharian ini, satu-satunya orang yang membuat aku ingin menyelesaikan syuting segera adalah dia. Manajer hyung benar, aku jatuh cinta pada Hyura. Ketulusan gadis ini membuatku luluh hanya dalam jangka waktu kurang dari seminggu.

“Maaf Choi Siwon-ssi, tapi aku bukan anggota girl band manapun.”

Aku mengkernyitkan keningku, bingung dengan jawabannya, “dan maksudmu?”

Dia menghembuskan nafas, “aku hanya gadis biasa, kau seharusnya tidak punya alasan untuk jatuh cinta denganku. Atau mungkin kau hanya penasaran?”

Aku terdiam sejenak, seperti baru disadarkan. Lalu kenapa aku sekarang jadi ragu?

Dia kemudian tersenyum, entah bagaimana dia bisa tersenyum padahal baru saja dia begitu sinis padaku.

“Bagaimana? Apa aku benar? Kau mungkin hanya penasaran saja. Sebatas itu.”

Aku menelan ludah, “bagaimana kau bisa berfikir seperti itu?”

“Oh ayolah Siwon-ssi, kau bisa menemukan gadis seperti aku ratusan jumlahnya di Seoul. Bahkan lebih dari aku, jauh lebih cantik, jauh lebih menarik.”

“Tapi tidak dengan ketulusan hatimu.” Dan kalimat itu mengalir begitu saja, yang kemudian kembali membuatku yakin kalau perasaan ini bukan sebatas penasaran tapi ini benar-benar yang sesungguhnya.

Aku bisa melihat binar terkejut diwajahnya, membuatku tersenyum kemenangan.

“Kau tidak punya alasan menolakku lagi Dokter Han.” Jawabku penuh kemenangan.

Dia menggigit bibir bawahnya, sepertinya benar-benar sudah kehilangan alasan menolakku.

Aku kemudian meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Hendak memasukan nomer ponselku,

“Bagaimana kalau alasannya aku belum yakin padamu?” tanyanya, menginterupsi pekerjaanku. Membuatku seketika memandangnya.

Aku terdiam sejenak, “apa yang membuatmu tidak yakin padaku? Apa aku kurang tampan? Atau aku kelihatan tidak setia?”

“Yang terakhir. Kesetiaanmu meragukan.” Dan kini aku bisa melihat segurat senyum penuh ejekan ke arahku. Aku menatap tajam ke arahnya. Dia meremehkan kesetiaanku?

“Bagaimana kau tau aku tidak setia kalau kita tidak mencobanya dulu?” kini aku balas menantangnya.

Dia tampak berfikir, mencerna kalimatku. Apa dia kalah lagi? Sepertinya. Kini dia menghela nafas, terlihat pasrah.

“Baiklah.” Jawabnya akhirnya.

“Baiklah apa?” tanyaku, mencari kejelasan.

“Baiklah, kita coba.”

“Coba apa?” kini aku mulai menggodanya.

“Coba menjadi majikan dan pembantu!” wajahnya terlihat memerah, kesal campur marah.

Aku tertawa melihatnya, wajahnya terlihat lucu. Aku bahkan belum pernah melihat wajahnya yang seperti itu selama berada disini.

Seoul, 1 Tahun kemudian

Author’s

Hyura berjalan sambil menenteng travel bagnya keluar dari gedung stasiun menuju parkiran. Akhirnya, setelah hampir enam bulan lalu terakhir dia pulang ke Seoul. Melewati pintu keluar, tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik seseorang yang menggunakan scarf hingga menutupi mulutnya dan menggunakan kacamata coklat. Pria itu lantas menarik Hyura ke mobilnya dengan langkah cepat membuat Hyura setengah berlari terseok-seok.

“Yaa, kau siapa?!” Hyura berusaha bertanya ditengah kesulitannya menyamai langkah si pria.

Pria itu tidak menjawab, ia malah semakin cepat berjalan dan akhirnya berhenti di sebuah mobil berwarna hitam. Hyura didorong pelan masuk ke dalam kemudian pria itu yang masuk ke kursi kemudi.

“Welcome to Seoul, dear.” Pria itu menurunkan scarfnya dan melepas kacamatanya, setelah itu tersenyum lembut pada Hyura.

Hyura menghembuskan nafas lega melihat Siwon. dia pikir dia akan menjadi korban penculikan di kota kelahirannya sendiri.

“Kau benar-benar mengagetkan!” rutuk Hyura kesal.

Senyum lembut Siwon masih terkembang kemudian dia mulai menjalankan mobilnya.

“Mau kemana kita? Ini bukan jalan ke rumahku.” Ujar Hyura.

“Bridal house.”

“MWO?!”

Siwon menoleh sejenak ke arah Hyura, “kau harus fitting gaunmu nyonya Han.”

“Berhenti bercanda Choi Siwon.”

“Aku tidak bercanda. Kau sudah menerima cincin kirimanku minggu lalu kan?”

“Tapi itu—”

“Itu adalah tanda lamaranku. Dan kau menerimanya, berarti kau setuju.”

“Tapi itu—” Hyura masih mencoba protes

“Itu adalah bukti kesungguhanku. Aku ingin kesana langsung dan bertemu denganmu, tapi aku tidak punya cukup waktu luang. Kalau aku mengulur waktu, aku tidak punya jaminan kau akan dimiliki salah seorang pria disana.” Siwon masih menjelaskan sambil menyetir.

Kini Hyura memandang Siwon dengan tatapan bingung bercampur kaget. Mendengar penjelasan yang disampaikan Siwon dengan begitu datar, tapi artinya begitu dalam untuknya.

Mobil itu berhenti ketika lampu lalu lintas menyala merah.

Siwon menoleh ke arah Hyura, “Hyura, aku mencintaimu. Menikahlah denganku.”

Bukannya menjawab, Hyura justru tertawa.

“Hyura aku melamarmu secara langsung sekarang, bukan membuat lelucon.”

“Kau melamarku ketika lampu lalu lintas berwarna merah. Kau benar-benar sibuk Choi Siwon.” jawab Hyura

“Itu artinya aku pandai memanfaatkan kesempatan. Jadi apa aku menerimaku?”

Hyura terdiam, satu tahun menjalani hubungan dengan Siwon memang bukan hal yang mudah tapi dia percaya pada pria itu. dia percaya pria itu bisa membuatnya lebih baik, jika berdua dengannya.

“I do.” Jawab Hyura, membuat senyum lebar di bibir Siwon terkembang.

Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke Hyura, hendak menciumnya. Tapi Hyura menempelkan telunjuknya ke bibir Siwon.

“Sepertinya sekarang kita sudah harus jalan.”

Siwon melirik ke depan, lampu lalu lintas sudah menyala hijau. Ia tersenyum sebentar, menurukan telunjuk Hyura kemudian mencium bibir gadis itu sekilas.

TIIIIIIIIINNNNNNNNN~

Suara mobil di belakang mereka.

*END*

anyeeeong~ i wanna say sorry before karena baru bisa posting sekarang :’) wish you all enjoy with this scene :))