Title : Love is Near You PART 1

Author : Viseychan

Length : Continue~

Genre : Romance, Friendship (mungkin…)

Rating : General

Cast :

Kim Myungsoo (L)

Lee Sungyeol

Shin Min Rin

Hana Park

Kang Min Hyo

Kim Soo Ah

Disclaimer :

Cerit fiktif ini adalah ciptaan dan milik saya tapi cast cerita ini adalah ciptaan Tuhan dam milik bersama(?)… Ini FF comebackku setelah lama hiatus dari dunia fanfiction, tapi ini FF pertama yang di post di FFL. So, thanks so much for FFL^^

Don’t be plagiators!

Let’s reading, readers! Wait for your coment *\(^_^)/*

 

__________

Cerahnya matahari pagi di pertengahan musim dingin menembus jendela sebuah kamar. Myungsoo menarik selimutnya malas dan kembali tidur padahal waktu sudah menunjukkan pukul 6 tepat namun ia masih tak bergeming.

“Myungsoo-ya! Palli, cepat bangun!” teriak namja yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. Myungsoo tetap tak bergeming, ia malah menutup kepalanya dengan bantal.

“Ya! Hari ini kita mulai sekolah di Star High School jadi cepat bangun jika kau tak mau terlambat!” teriak namja itu lagi lalu menarik selimut Myungsoo.

Myungsoo pun akhirnya bangun, “Ne. Lagi pula mengapa kita harus masuk sekolah itu?”

“Pabo. Kalau kau masih mau jadi penyanyi ikuti saja perintah CEO itu, sekolah itu akan membantu kita agar bisa debut dengan cepat,” jelas namja itu sambil memukul kepala Myungsoo. Myungsoo pun mengangguk dan langsung berlari menuju kamar mandi.

“Aku tak pernah menyangka bisa bersahabat dengan orang seperti dia,” gumam namja itu sambil tersenyum.

Namja tinggi itu, Lee Sungyeol. Ia bersahabat dengan Myungsoo. Mereka adalah trainee di WL entertainment dan karena kemampuan mereka belum dikembangkan, CEO menyuruh mereka untuk pindah ke sekolah yang memiliki fasilitas pengembangan bakat yang lengkap seperti Star High School. Sekolah ini memiliki program khusus, ia memiliki dua kelas khusus yang hanya ada pada angkatan ketiga/terakhir dengan sistem partner. Setiap siswa/siswi akan dipasangkan dengan siswa/siswi lainnya untuk menjalani berbagai tugas yang akan diberikan sebagai ganti program ujian kelulusan pada sekolah lain. Sungyeol tahu pasti inilah yang menjadi masalah Myungsoo, partner.

            “Hana-ssi!”

Seorang yeoja bermata dan berambut coklat sebahu menaruh helmnya di motor lalu menoleh dan berbalik. Ia segera berlari ke arah yeoja yang memanggilnya.

“Annyeonghaseyo, Hana?”

Hana mengulas senyumnya, “Annyeonghaseyo! Jeongmal bogoshipoyo, Min Rin-ah!”

“Nado. Aku juga baru datang, kajja kita cari kelas kita,” sahut Min Rin lalu menarik Hana pergi dari tempat parkir.

“Ya, tampaknya kau senang sekali hari ini? Biasanya kau sering diam dan melamunkan khayalan tak jelas,” gumam Hana menahan tawanya.

Min Rin memukul kepala Hana yang langsung disambut pekikan Hana, “Rasakan itu, jangan macam-macam denganku.”

“Ya, aku hanya bercanda! Hm, sebenarnya kelas kita ada dimana?” tanya Hana lelah setelah mengitari gedung dan banyak koridor.

“Kau sudah lelah? Ini baru lantai 3!”

“Memangnya di sekolah elite seperti ini tak ada lift atau eskalator?”

Min Rin pun berbalik lagi dan kembali memukul kepala Hana, “Kau pikir sekolah ini mall?”

Hana hanya tertawa dan mengikuti Min Rin masuk ke salah satu kelas yang di depan pintunya bertuliskan Special-A.

“Min Rin-ah, nanti akan ada sistem partner ya?”

“Ne. Wae?”

“Apa kau tidak merasa risih dengan sistem itu? Bagaimana kalau partner kita nanti sombong dan tak mau berteman dengan kita?” tanya Hana mulai gugup.

“Kita lihat saja nanti, bisa masuk sekolah ini saja kita sudah beruntung,” jawab Min Rin mencob santai walaupun sebenarnya ia juga merasa tegang.

Hana benar. Masalah pertama di sekolah ini adalah partner,” batin Min Rin.

            Sungyeol dan Myungsoo keluar dari sebuah mobil van hitam. Myungsoo menutup pintu dan berhenti berjalan saat melihat Sungyeol tetap berdiri ditempatnya dengan wajah terpolosnya.

“Waeyo?”

Sungyeol tersenyum, “Gwaenchana. Aku hanya berpikir kita akan terkenal sebelum debut.”

Myungsoo yang semakin bingung pun melihat ke sekeliling mereka. “Ah, yeoja-yeoja itu calon fans kita? Mungkin kau benar setidaknya di sekolah ini. Beritanya sudah menyebarkan?” Myungsoo ikut tersenyum.

“Ne, dua traineer WLent akan bersekolah disini,” jawab Sungyeol lalu mulai berjalan lagi.

Jjang!~ Aku rasa sekolah ini akan terasa menyenangkan,’ batin Sungyeol penasaran.

Myungsoo menatap papan di depan kelas yang bertuliskan Special-A. Sungyeol membuka pintu ruangan itu dan segera masuk diikuti Myungsoo. Seperti yang sudah diperkirakan semua orang sudah menatap mereka dengan tatapan yang berbeda-beda kecuali dua yeoja yang sibuk dengan urusannya sendiri. Sungyeol melangkah ke arah  kedua yeoja itu.

Sungyeol segera mengambil novel yang dibaca salah satu yeoja itu. “Annyeonghaseyo?” tanyanya lalu mengulas senyumnya yang sontak membuat yeoja-yeoja di kelas itu histeris.

“A…annyeong!” balas kedua yeoja itu bersamaan.

Myungsoo menghampirinya dan menyeretnya ke tempat duduk, “Apa yang kau lakukan, pabo?”

Sungyeol tertawa dan bergumam, “Tes popularitas?”

Menarik. Ada dua yeoja yang tak memperdulikanku?

Sungyeol meletakkan tasnya dan kembali ke meja dua yeoja itu. “Apa kau ingat aku?” tanyanya kepada yeoja yang sedang sibuk dengan handphonenya.

Yeoja itu segera menegakkan kepalanya dan tiba-tiba terdiam saat menatap namja dihadapannya, “Su… Sungyeol Oppa?”

Ah, ralat. Aku rasa keduanya akan memperdulikanku,’ batin Sungyeol asal.

“Ne. Kau masih mengingatku, Min Rin?” tanya Sungyeol yang dibalas anggukan Min Rin.

“OPPA!!!”

Seisi kelas yang sedang fokus dengan obrolan Min Rin dan Sungyeol pun langsung menoleh ke depan pintu.

Yeoja yang berteriak itu langsung berlari menuju Myungsoo. “Myungsoo Oppa! Jeongmal bogoshipoyo!” pekiknya seakan hanya ada dia dan Myungsoo di dunia ini.

“Aku kira Oppa tidak jadi masuk ke sekolah ini ternyata jadi, naega neomu haengbokhae,” ujarnya tanpa memperdulikan semua mata yang melihat dirinya dan Myungsoo.

“Ne, jangan berlebihan. Kita baru bertemu di WLent kemarin, Min Hyo-ssi” ujarnya datar tanpa melihat gadis bernama Min Hyo itu tapi malah melihat ekspresi mengenaskan Min Rin kepadanya.

Wae? Kenapa yeoja itu menatapku seperti itu?

“Kembalilah ke kelasmu,” gumam Myungsoo tetap datar, Min Hyo pun akhirnya pergi. Myungsoo pun melihat tatapan teman-teman sekelasnya yang seolah-olah menyiratkan ‘Jadi dia sudah punya pacar? Mengecewakan.’ Ya kira-kira ekspresi mereka mengatakan hal itu, kecuali yeoja bernama Min Rin yang dihampiri Seongyeol. Yeoja itu aneh, yakin Myungsoo tak memperdulikannya lagi.

 

Seluruh kelas berubah menjadi hening saat Mr. Han melangkahkan kakinya ke dalam kelas Special-A.

“Good morning, students?” tanya Mr. Han yang ternyata keturunan barat dengan ramah.

“Good morning!”

“Okay, aku disini ingin memberitahu kepada kalian bahwa list partner sudah selesai dan sudah ada di school television di koridor-koridor sekolah. Partner di list teratas akan dijadikan ketua dan wakil kelas Special-A. So, let’s enjoy this school!” jelasnya panjang lebar lalu melangkah keluar dan pergi.

 

“Hah, sudah kuduga firasatku buruk dari tadi,” gumam Min Rin memecah keheningan yang segera menyadarkan teman-temannya untuk melihat list itu. Semua siswa dan siswi pun langsung mencari school television di koridor terdekat. Min Rin segera menarik Hana yang tetap sibuk dengan novelnya.

“Kajja, nanti terlalu ramai lebih baik sekarang!”

Hana pun berjalan lemas, ‘firasatku juga buruk…

Tepat saat Min Rin dan Hana berada di depan school television list partner itu muncul yang segera disambut pekikkan dari beberapa siswi di belakang mereka.

Min Rin mengerjapkan matanya, “Hana, aku salah lihatkan? Partnerku bukan dia kan?”

Hana mengangkat bahunya, “Untuk kali ini aku akan katakan matamu sehat, jadi itu benar.”

Min Rin langsung menunduk dan menyeret Hana pergi lagi, ‘Mengapa dua orang itu bisa muncul disini? Apa masih belum cukup mereka mengahancurkan hidupku dulu?

“Ya! Ne, kau Shin Min Rin,” teriak Min Hyo mendekati Min Rin dan Hana.

“Chukkae, kau bisa separtner dengan Oppaku. Tapi asal kau tahu, kau tidak akan pernah bisa balas dendam karena Myungsoo Oppa saja tidak mengingatmu lagi,” ujarnya tetap tak perduli dengan keadaan di sekelilingnya.

Min Rin tersenyum sinis, “Chukkae? Cih, tenanglah aku tidak akan balas dendam dan aku juga sudah melupakan masalah itu.” Min Rin melanjutkan jalannya namun tangan Min Hyo menariknya kuat.

“Kalau begitu jangan berani-beraninya kau mendekatinya, maksudku jangan jadi wanita murahan dihadapannya karena itu tak akan berguna,” ujar Min Hyo kasar.

Min Rin mengepalkan tangannya, “Sekarang siapa yang wanita murahan? Bukankah kau yang terlihat seperti wanita murahan sejak tadi pagi?”

Tangan Min Hyo melayang ingin menampar Min Rin namun ada yang menahannya, “O…Oppa?”

Myungsoo menatap Min Hyo tajam, “Apa yang kalian bicarakan? Ini bukan masalah penting, ini peraturan sekolah. Jadi ikuti saja dengan benar, Min Hyo-ssi!”

Myungsoo mengalihkan tatapannya kepada Min Rind an berkata datar, “ Mianhae.”

Min Rin melangkah cuek, “Hah, lebih baik kau urus yeoja yang mulai gila karenamu itu, dia sangat mengganggu!”

Benar. dia tidak mengingatku. Mungkin lebih baik dia tidak mengingat apa-apa,

“Min Rin-ah, gwaenchanayo?” tanya Hana yang sedari tadi hanya menonton adegan menarik itu.

“Hm…”

“Jadi mereka orangnya?”

Min Rin mengacak-acak rambutnya kesal, “Sudahlah tak usah dibahas lagi!”

Tiba-tiba ada yang mengulurkan softdrink kepada Min Rin, “Tenangkanlah dirimu!”

Hana pun gelagapan, “Uangku di tas, kau duluan saja ke school café.”

“Kajja, ikut aku!” seru Sungyeol langsung menarik tangan Min Rin ke atap sekolah.

Sungyeol duduk di tepi atap gedung dan menoleh kepada Min Rin sudah duduk disampingnya, “Gwaenchanayo?”

Min Rin mengerutkan dahinya dan mengangguk, “Nan gwaenchana. Namja itu tak tahu apa-apa.”

“Jadi kau tidak akan memberitahunya?”

Min Rin menggeleng, “Aku rasa itu tak terlalu penting baginya, kalaupun ia tahu ia tidak mungkin mengerti perasaanku dan mungkin sudah takdir ia lebih beruntung dariku.”

“Baiklah. Jika itu maumu, aku akan membantu agar kau bisa melupakannya masalah itu,” gumam Sungyeol sambil mengulas senyumnya. Ne, apapun yang terjadi Sungyeol akan tetap tersenyum.

“Ghamsahamnida, Oppa. Kau selalu ada untukku selama ini,” ujar Min Rin.

“Hm, aku rasa tidak selalu. Saat kau pergi siapa yang menggantikanku?”

“Hana, dia teman sekolahku di High School dulu.”

“Jjinjayo? Jadi yeoja itu bisa menggantikanku? Padahal ia terlihat seperti orang yang cuek, kau lihat tadi dia sibuk dengan novelnya saat aku datang,” ujar Sungyeol.

Min Rin memukul kepala Sungyeol. “Pabo Oppa! Dia tidak mengenalmu, dia jauh lebih hebat darimu, kau bisa bicara dan mendapatkan solusi masalah apapun dengannya.”

Sungyeol tersenyum, “Hm, walaupun begitu aku yakin dia juga sering dipukul olehmu, kau selalu menggunakan kekerasan.”

“Mwo?”

Min Rin menghela napasnya dan melihat rambut Sungyeol yang panjang, “Hana suka dengan rambutmu, katanya seperti anime. Mengapa rambutmu jadi seperti ini?”

Sungyeol tertawa lagi, “Dari dulu aku suka seperti ini tapi tidak boleh sekarang baru boleh. Aku mirip anime ya? Mirip anime pangeran atau ksatria?”

“Tanya Hana saja, menurutku kau tidak mirip siapa-siapa.”

Sungyeol menggembungkan pipinya kesal, “Kau menyebalkan. Baiklah, nanti aku akan menanyakannya kepada Hana.”

Min Rin kembali memukul kepala Sungyeol, “Pabo! Pabo Oppa!”

            Min Rin menyeret koper dan beberapa tasnya menuju kamar 002 di Star Hostel. Star Hostel adalah asrama yang disediakan untuk kelas Special-A dan Special-B. Partner Min Rin sendiri, Myungsoo ada di kamar 001. Kamar setiap partner biasanya memiliki satu beranda khusus. Jadi dari kedua kamar ada satu beranda yang dapat menghubungkan mereka dan antar beranda di batasi kaca yang sebenarnya tak tembus pandang. Dan inilah masalah kedua Min Rin, di rumah tempat terbaiknya adalah beranda, tapi sekarang ia akan berbagi beranda dengan namja yang bernama Kim Myungsoo itu, tak akan ada lagi kebebasan seperti dulu.

Ia melangkan kakinya ke kamar yang lumayan mewah untuk disebut kamar asrama. Min Rin meletakkan koper dan tasnya. Samar-samar ia mendengar suara orang bernyanyi dan gitar akustik. Min Rin terdiam sesaat, ‘Lagu ini tak asing, dimana aku pernah mendengarnya?

Min Rin melangkahkan kakinya menuju beranda dan melihat namja itu, ‘Lagu ini, wae? Mengapa ia selalu saja menyanyikannya?’ Tanpa terasa air mata Min Rin mulai mengalir di pipinya, ia berhenti di depan pintu beranda dan terus mendengarkan suara namja itu tanpa memperdulikan tangisnya.

 

…Apeuji nan ni? Mani geokjeongdwae
Haengbokha getjiman neoreul wihae gidohalkke
Gieokhae dareun salam mannado
Naega neoui gyeote jamsisalat daneun geol

Uteul suisseoseo neol bogo iseulttaen
Jogeuman ansikcheoga doeeo jueotji
Meoleo jigi jeonen

Geugeotman gieokhaejul suitgetni
Naega neoui gyeote jamsisalat daneun geol
Gakkeum neol geolie seobolkkabwa
Cholahan nal geoulebichwo danjangha gonhae

Apeuji nan ni? Mani geokjeongdwae
Haengbokha getjiman neoreul wihae gidohalkke
Gieokhae dareun salam mannado
Naega neoui gyeote jamsisalat daneun geol…

(I’ve live beside you for a while)

 

Myungsoo menghentikan nyanyiannya dan menoleh mencari suara isakan tangis. “Min… Min Rin-ssi?” Myungsoo berjalan ke arah Min Rin.

“Mianhae. Apa suaraku mengganggumu?”

Min Rin tetap menunduk dalam diam, Myungsoo mencoba melihat wajahnya. “Min Rin-ssi kau menangis? Gwaenchanayo?”

Min Rin menunduk lagi. “Aniyo. Suaramu bagus, lagunya juga, kau akan jadi penyanyi yang hebat,” Min Rin berbalik masuk ke kamarnya.

Myungsoo hanya menatapnya nanar dan berpikir, ‘Yeoja ini, dia ini…’ Myungsoo berjalan menuju gitar akustiknya dan masuk ke kamarnya.

Tak ada gunanya jika hal yang aku lakukan selalu merusak, mengganggu, dan menghancurkan orang lain…

Min Rin kembali ke pintu beranda dan menatap pintu beranda kamar Myungsoo, ‘Mianhae. Nan mollae, aku tak tahu mau menyalahkan siapa lagi?

 

To be continued… (TBC)

Let’s RCL, readers^^

 

 

 

 

 

 

 

 

Title : Love is Near You PART 2

Author : Viseychan

Length : Continue~

Genre : Romance, Friendship (mungkin…)

Rating : General

Cast :

Kim Myungsoo (L)

Lee Sungyeol

Shin Min Rin

Hana Park

Kang Min Hyo

Kim Soo Ah

Disclaimer :

Seperti sebelumnya cerita fiktif ini tetap ciptaan dan milik saya tapi cast cerita ini adalah ciptaan Tuhan dam milik bersama(?)… Mianhae, kalau masih ada yang belum mengerti jalan ceritanya, kalau mau ngerti readers lanjut terus bacanya ya J Don’t be plagiators!

Let’s reading, readers! Wait for your coment *\(^_^)/*

 

__________

 

Hana merapatkan mantelnya sambil terus melangkahkan kakinya menuju taman Star Hostel. Ia merasa bosan sekarang dan ia benar-benar berharap melihat bintang bisa menghiburnya seperti biasa.

Hana duduk di salah satu bangku taman yang menghadap ke lapangan basket. “Dimana yeoja itu? Mengapa ia tak keluar dari kamarnya dan membiarkanku sendirian?” gumamnya kesal.

Hana menghela putus asa,“Masalah demi masalah pasti akan muncul padanya, mungkin aku akan mulai terlibat…”

Hana pikir masuk ke sekolah ini akan membuat ia dan Min Rin lebih cepat sukses apalagi dengan sistem beasiswa yang mereka dapatkan, tapi kalau Min Rin bertemu dengan mereka, ia yakin hal itu tak akan berdampak baik untuk masa depan mereka.

Hana mengambil mp3 merah dari sakunya dan mulai memilih lagu dan mendengarnya. Angin malam ini terasa sangat dingin karena baru pertengahan musim dingin namun Hana tetap terdiam sambil menatap bintang dan bulan yang mulai bersinar.

Lee Sungyeol itu teman Min Rin? Wae Min Rin tak pernah menceritakannya? Pabo, untuk apa mengurusi hal itu, hak Min Rin untuk berceritakan? Aku tidak boleh memperumit masalah dan mempersulit hidup sahabatku sendiri karena masalah tak penting…

Mata Hana tak sengaja melihat bayangan seseorang, orang itu berjalan ke arahnya.

Orang ini akan panjang umur,’ batinnya asal.

“Annyeonghaseyo?” sapa Sungyeol ramah.

“Bolehkah aku duduk disebelahmu?” tanyanya lagi sambil menunjuk bangku panjang yang diduduki Hana, Hana hanya mengangguk. Ia meletakkan mp3nya dan segera bergeser.

Sungyeol menatapnya heran, “Min Rin bilang kau orang yang bisa membantu dan memberikannya solusi saat aku tak bersamanya, tapi mengapa setiap aku bertanya kau hanya mengatakan satu kata atau mengangguk dan tersenyum? Bagaimana bisa kau melakukannya jika kau hanya melakukan itu?”

Hana menatap Sungyeol tak percaya, ‘Apa saja yang dikatakan Hana?

Hana kembali melihat bintang, “Aku hanya bisa banyak bicara dan memberi solusi orang-orang yang sudah dekat denganku.”

“Baiklah. Sahabat Min Rin seharusnya sahabatku juga, jadi kita mulai dari awal. Lee Sungyeol imnida, aku harap kita bisa bersahabat,” ujar Sungyeol polos sambil tersenyum lalu mengulurkan tangannya kepada Hana.

Hana yang bingung hanya bisa membalas jabatan Sungyeol, “Hana Park imnida, bangapta Sungyeol-ssi.”

“Mengapa kau memanggilku dengan sebutan Sungyeol-ssi, kau bisa memanggilku Oppa kan?”

Namja ini sok tahu, sikapnya benar-benar seperti anak SD, menyebalkan…

“Aku ini lebih tua darimu seharusnya kau yang memanggilku noona,” gumam Hana pelan.

“Berapa umurmu?”

“19tahun.”

“Itu hanya setahun, itu tak terlalu pentingkan?”

“Menurutku itu penting. Kita harus menggunakan tata bicara yang baik dan sesuai, apalagi dengan orang yang lebih tua. Min Rin bisa memanggilku dengan sebutan Hana juga atas izinku,” jelas Hana kesal dan mulai melangkah pergi. Ia selalu tidak senang jika membahas umur, di Korea umur selalu saja dipermasalahkan walaupun hanya setahun sangat berbeda dengan Amerika yang tidak memandang dan mementingkan umur.

“Hana-ya! Aku akan tetap memanggilmu Hana!” teriak Sungyeol.

Hana pun berbalik. “Kau belum mendapatkan izin dariku lagipula mengapa kau ingin memanggilku dengan sebutan itu, agar sama seperti Min Rin juga? Terserah padamu, aku tak peduli,” sahut Hana nyaring.

“Pabo namja! Hari ini benar-benar hari terburuk!” gerutu Min Rin menuju Star Hostel.

“Apa salahnya memanggil nama? Apa ia suka terlihat lebih tua? Aku pikir Min Rin itu yeoja paling aneh ternyata ini lebih aneh lagi, mereka cocok…” gumam Sungyeol bingung.

            “Soo Ah! Apa kau melihat mp3ku?” teriak Hana panik.

“Mwo? Nan mollae, kau kemana saja kemarin?” sahut Soo Ah sambil mengeringkan rambutnya setelah mandi.

“Aku… ke taman. Ne, taman!” gumam Hana menyandang tas dan langsung berlari keluar kamarnya.

Hana mencari mp3nya dengan teliti di sekeliling taman namun mp3 itu tak ada. Ia melangkah menuju bangku taman. “Sayang sekali, padahal itu mp3 kesayanganku,” gumamnya pasrah.

“Hana-ssi!”

Hana langsung menoleh dan mengangkat tangannya lalu tersenyum, “Min Rin-ah, annyeonghaseyo?”

“Annyeonghaseyo! Mengapa kau ada disini? Ayo berangkat!”

Hana hanya bisa mengangguk.

Apa aku suruh Min Rin bertanya kepada Sungyeol? Ah aniyo, Min Rin pasti bertanya macam-macam,’ batin Hana masih pasrah.

“Min Rin-ah! Hana-ya!” Sungyeol berlari menghampiri mereka sementara Myungsoo tetap berjalan dengan santai.

Hana-ya? Bagaimana bisa Oppa memanggil Hana seperti itu?’ batin Min Rin sambil menatap Hana tak percaya.

“Annyeonghaseyo? Kajja kita berangkat bersama!”  ajak Sungyeol sambil menunjuk mobil van hitam di parkiran Star Hostel.

“Gwaenchana?”

“Hm, silahkan naik,” gumam Sungyeol sambil mengangguk. Min Rin masuk ke mobil diikuti Myungsoo.

“Paboya namja! Jangan memanggilku seperti itu,” gumam Hana langsung masuk ke mobil yang hanya dibalas senyuman Sungyeol seperti biasa.

Namja ini yang akan membuatku terlibat masalah Min Rin…

            ∞

            Min Rin meletakkan tas Reeboknya sambil menghela napas. Sekolah di gedung bertingkat benar-benar melelahkan.

Myungsoo yang telah duduk disebelahnya bergumam datar, “Min Rin-ssi, jeongmal mianhae tentang masalah kemarin.”

“Gwaenchana, kemarin aku hanya terbawa suasana,” jawab Min Rin mulai teringat masalah itu lagi, bukan kemarin, tapi tiga tahun lalu.

Melukai orang yang dicintai itu sakit, tapi dilukai oleh orang yang tidak dicintai itu lebih perih…’

Myungsoo menoleh kepada Min Rin, “Min Rin bisakah kita bicara sebentar sepulang sekolah di ruang dance? Jangan khawatir, aku akan mengantarmu pulang.”

“Ada apa?”

“Bolehkah aku meminta bantuanmu?” tanyanya pelan.

Haruskah aku membantunya? Apakah Tuhan memberikanku takdir bertemu dengannya lagi agar bisa melupakan masalah itu?

Min Rin mengangguk, “Baiklah, terserah kau saja.”

‘Berikan aku waktu meskipun hanya sesaat…’ batin salah satu dari mereka

            “Myungsoo, aku bukan playboykan? Bukan kan? Aku hanya berpacaran sekali, kau tahu itu kan?” gerutu Sungyeol sambil mengacak rambutnya asal.

“Aku tahu. Memangnya sekarang kau menyukai berapa gadis, hah?” tanya Myungsoo tak perduli malah sibuk dengan pikirannya sendiri.

Ah, ini ide bodoh, tapi apa salahnya dicoba?

Sungyeol menoleh ke kiri dan ke kanan, “Apa kau melihat Hana?”

“Wae? Kau menyukainya?” tanya Myungsoo tetap asal yang dibalas pukulan Sungyeol.

“Aniyo. Hana konsultan hebat segala masalah, lebih baik aku bertanya padanya dari pada bertanya dengan namja galauan(?) sepertimu!” ujar Sungyeol lalu berlari menghindari pukulan Myungsoo.

“Pabo namja, tadi di taman!” teriak Myungsoo lalu tertawa.

Sahabat sejati akan menerima dan menemanimu dalam keadaan apapun! Mana mungkin Hana menggantikan posisiku?’ batin Myungsoo geli.

“Myungsoo Oppa!!!” teriak seseorang yang membuat Myungsoo lari kedalam ke kelas dan mengunci pintunya tanpa memperhatikan tatapan teman-temannya.

            Hana menatap siswa dan siswi yang berlalu lalang dihadapannya. Ia tidak hanya menyukai bintang, tapi juga taman.

Aku seorang penulis novel romantis, hal itu mempengaruhiku sehingga aku menyukai bintang dan taman yang biasa ada dalam cerita romantis…’ Itulah alasan Hana saat Min Rin menanyakan alasannya menyukai bintang dan taman.

Tiba-tiba saja pandangannya gelap, “Ya! Lepaskan, palli!”

Seseorang tertawa dibelakangnya. ‘Namja ini benar-benar asdfghjkl…’ gerutu Hana tak jelas tentunya dalam hati.

“Apa yang kau lakukan?”

Hana menghela napasnya, “Seharusnya aku yang bertanya seperti itu!”

Sungyeol tersenyum dan duduk disamping Hana, “Aku ingin konsultasi denganmu.”

“Konsultasi? Kau pikir aku konsultanmu?” seru Hana kesal.

Sabar Hana, kau akan lebih cepat tua jika meladeninya…

Sungyeol malah menarik buku yang digenggam Hana, “Kau menulis, kau ingin jadi penulis?”

Hana menggeleng dan berkata yakin, “Aku sudah jadi penulis, aku mau jadi sutradara.”

Sungyeol bertepuk tangan, “Aku akan memainkan film atau drama buatanmu dan menyanyikn soundtracknya bersama Myungsoo.”

“Paboya, jangan mengkhayal!” sahut Hana asal sambil memukul kepala Sungyeol.

“Ya! Wae semua orang hobby memukulku dan memanggilku pabo? Kau, Min Rin, dan Myungsoo selalu saja memukulku dan berkata pabo padaku,” ujar Sungyeol dengan suara lemah.

“Sikapmu seperti anak SD.”

Sungyeol mengangkat wajahnya, “Baiklah aku akan merubahnya, tapi kau harus berjanji tak akan memukulku dan memanggilku pabo lagi!”

“Aniyo. Jadilah dirimu sendiri, jadilah manusia yang apa adanya, karena kau selalu bersikap seperti anak SD, kami jadi terbawa suasana dan bercanda denganmu… hanya bercanda” ralat Hana, tanpa sadar kata-kata itu muncul dari otaknya.

“Baiklah. Aku hanya akan memperbaikinya, setidaknya aku akan bersikap sesuai dengan keadaan.”

Hana tersenyum dan melangkah pergi, “Joheun wangjanim!”

“Hana-ya, ini bukumu!” teriak Sungyeol.

Omona, gara-gara namja ini aku jadi pelupa! Wae aku tersenyum padanya tadi, menyebalkan…

Sungyeol mengenggam erat buku itu, “Aku ingin bertanya satu hal lagi.”

“Mwo?”

Sungyeol menatap Hana dalam, “Kalau kau sedang menyukai seseorang, tapi kau penasaran dengan orang lain. Berarti kau harus memilih yang mana?”

“Waktu. Waktu akan membantumu dan takdir akan memilihkan yang terbaik untukmu. Jadi jalani saja apa yang ada, kau akan mengetahuinya nandi, di akhir.” ujar Hana yang sebenarnya lebih kepada diri sendiri.

Sungyeol tersenyum dan memberikan buku Hana.

“Annyeong!” seru Hana lalu pergi.

Wajangnim? Kalau aku wajangnim, siapa yang akan menjadi Gongjunim? Bukankah dalam cerita dan sejarah setiap ada Pangeran pasti ada Putrinya?’ batin Sungyeol penasaran.

            Pintu besi itu berdecit ketika Min Rin membukanya, ruangan itu sepi hanya ada satu namja yang sedang duduk di matras sambil mendengarkan lagu, tatapannya kosong.

“Kau sudah lama?” tanya Min Rin sambil melangkah masuk.

“Aniyo. Duduklah,” gumam Myungsoo pelan.

Min Rin meletakkan tasnya dan duduk dihadapan Myungsoo, “Jadi apa yang bisa kubantu?”

“Kau bisa menolak untuk membantuku jika kau mau.”

Min Rin berkata, “Tadi aku sudah bilang mau, aku bukan orang yang plin-plan.”

“Baiklah. Kau hanya bisa menolaknya sekarang, kalau kau menolak kau bilang saja,” ujar Myungsoo lagi, namja itu terlihat ragu.

“Hm, terserah.”

“Aku sama sekali tak menyukai Min Hyo. Aku tidak berpacaran tapi dia terus mendekatiku,” ujar Myungsoo datar.

Min Rin mengerutkan dahinya, bingung. “Lalu?”

“Bisakah kau membantuku?”

“Hah, palli! Langsung saja!” gerutu Min Rin mulai kesal.

Ia pun bertanya, “Tapi bagaimana caranya?”

“Hanya satu cara agar aku bisa menjauhinya, maukah kau… jadi pacarku?”

 

To be continued (TBC) again…

Let’s RCL, readers^^

 

 

Iklan