[FF] Sebuah Sayatan Luka di Hati

Title : Sebuah Sayatan Luka di Hati

Cast : Kim Sae Rim (OC), Lee Jun Ho 2PM and cameo

Length : One Shot

Genre : Angst, Romance

Rating : General

Author : Ishmah Amatullah Halimatussa’diah Ishmah as Ad. HallyuWave/Ad. Ishmah/Ad. KyuMinSi

Disclaimer : FF ini MURNI hasil IMAJINASI AUTHOR. DON’T BASHING, DON’T COPY PASTE ect MY FF WITHOUT MY PERMISSION and DON’T BE A SILENT READER.

A.N : Sumpah! Author tuh bingung banget nentuin judulnya. Jadi maklum ya kalau judulnya aneh bin gaje gitu. Hihiy :p Oh iya, bagi tulisan yang dicetak miring, tandanya sedang Flashback. POVnya? Reader sendiri yang nentuin ya… hehe *author nyusahin*

 

=====Proud to be Empress=====

 

Cinta itu bagaikan jarum suntik

Dimulai dengan perawalan yang baik

Namun diakhiri dengan rasa sakit yang menggebu

 

Ishmah, di Istana Kecilku, 03 Maret 2012

!!!!!!!

 

Malam kian larut. Namun sama sekali tidak menyurutkan semangat para fans untuk bernyanyi sambil meneriakkan nama idolanya. Heboh bukan main. Aku saja sampai merinding disko dari acara dimulai hingga sekarang.

            Sekalipun teriakan mereka yang lantang berisik di telingaku. Ditambah dentuman musik keras yang membuat tubuh mungilku ini bergetar, tetap saja aku betah berada di sini. Di antara puluhan ribu orang yang memenuhi Olympic Park Gymnastic Stadium.

            Cahaya lampu di atas panggung yang temaram, hanya dipasangi lampu warna-warni yang menyilaukan berubah menjadi lebih terang. Sang penyanyi yang sekarang sedang naik daun, Lee Junho yang memiliki sebutan istimewa dariku; yaitu malaikat imut telah menyelesaikan sebuah lagu andalannya. Dan para penari yang tadi ikut menari bersamanya kembali ke balik layar. Hanya Junho oppa yang berdiri sendiri di sana.

            Setelan jas silver yang menutupi kemeja hitam polos dengan kancing atas dibiarkan terbuka dan lengan tangan kemeja yang ia gulung setengah, kacamata hitam yang aku tahu harganya selangit terpasang di sela hidung mancungnya, rambut blonde potongan cepak dan senyum lebar nan manis semakin memperlihatkan pesona keartisannya. Beruntung aku mendapat tiket VIP. Jadi bisa melihat malaikat imutku dengan jelas dari jarak sedekat ini. Kira-kira hanya berjarak 5 meter dari panggung super megah itu.

            KYAAA~ Oppa, biarkan aku memelukmu >.<

“Ya! Neo!” teriakan Junho oppa yang cukup keras itu berhasil mengontrol para fans yang histeris untuk terdiam. Hebat!

            Aku yang habis melamunkan Junho oppa dibuat bingung setengah mati. Menengok kesana-kemari mencari seseorang yang beruntung itu. Bayangkan! Namja bersuara merdu di depanku memanggil seorang fans meskipun tidak menyebutkan nama. Kejadian ini kan jarang terjadi.

“Kau yang menengok.” lanjut Junho oppa. Kali ini dia menunjuk lurus ke arah “Si beruntung” menggunakan telunjuknya.

            Aku  jadi semakin kalab. Rasa penasaranku terus memuncak hingga ke ubun-ubun. Masalahnya adalah semua orang di sini ikut menengok. Saling mencari orang yang dimaksud malaikat imutku. Kan jadi sulit untuk menentukan siapa orangnya.

“Heuh, kau tidak mengerti juga ya.”

            Ruangan yang tadinya hening berubah gaduh setelah Junho oppa turun dari panggung. Berjalan melewati barisan penonton dengan sedikit berlari. Sosoknya tak luput dari kejaran lampu sorot yang mengikuti langkahnya. Para fans yang jaraknya tidak terlalu jauh dari Junho oppa pun pada berebut ingin menyentuhnya.

            Tiba-tiba saja hatiku berdegup kencang saat langkah Junho oppa mulai mendekat. Keringat dingin membasahi lekuk tubuh yang dibalut dengan baju berlapis-lapis. Sungguh. Ruangan di sini tuh dingin banget. Tapi kenapa aku keringetan ya?

 “Hei!”

            Kakiku lemas, hampir ambruk. Seakan tulang-tulang yang menopangnya sudah berpindah tempat dari posisi semula. Tubuhku jadi mati rasa. Mata tidak berkedip dan mulut ternganga lebar saat Junho oppa berdiri persis di depanku.

“Kau siapa?”

            Di-dia bertanya padaku? Benarkah? Apa aku tidak sedang bermimpi?

“Hello. Kau mendengarku kan?” namja berlesung pipi ini melambaikan tangannya. Berharap agar nyawaku masih ada.

            Tiba-tiba saja badanku sempoyongan akibat tersenggol yeoja tambun di sebelahku yang ingin menggenggam tangan Junho oppa. Buru-buru Junho oppa memapahku agar tidak tergeletak pasrah di kakinya. Mungkin dia takut jika sepatu mengkilapnya tergores olehku.

“Gwenchana?” nampak sekali dia khawatir padaku yang sekarang sudah seperti mayat hidup. Tidak bisa berkutik sedikitpun.

“Kutanya sekali lagi. Kau siapa?”

Dengan wajah pucat aku menjawab “Sae-sae-sae-Rim. Kim-“

“Bukan. Bukan itu maksudku,” Junho oppa membenarkan posisi kacamata hitamnya yang sedikit miring “Kau itu fans siapa?”

            What? Apa yang ada di pikirannya? Jelas-jelas aku ini fansmu. Tidak sadar ya? Aku berdiri di antara pengagummu. Membawa lighstick yang di ujungnya tertera nama dan wajah chibimu. Dan papan banner bertuliskan namamu yang sejak tadi kuangkat-angkat agar kau dapat melihatnya. Benar benar. Ternyata kau meragukanku.

“Ck! Tak usah memasang tampang judes begitu,” Junho oppa memegang bajuku dengan mata menyelidik. “Baju ini. Kenapa di dalam konserku kau malah memakai baju dari idola lain? K-I-M J-U-N-S-U?”

            Reflek aku beralih memeriksa pakaian yang kukenakan. BANG! Wajah Junsu oppa tertempel di atas kaus merah. Namanya terpambang besar, tebal dan ngejreng di bagian bawah kaus.

            Astaga! Rupanya aku belum mengganti kaus abal ini?! OMG! Mati aku! Stupid girl.

“Hahahahaha. Kau itu… buahahahahahaha. Aku tidak tahan melihat wajahmu. Hahahaha. Hek! Hikhikhik. Ohok.”

            Dia tertawa? Benar dia tertawa? Cih! Nggak lihat? Semua fansmu telah bersiap-siap untuk membunuhku. Terutama yeoja di sebelah kanan dan kiriku. Tapi kau malah asyik tertawa? Tidak tahu diri.

Huwaaa~ Eomma, Appa. Help me! Junsu oppa! Kau sangat keterlaluan.

“Haha… maaf ya aku menertawakanmu. Ekhem… ekhem,” Junho oppa merapikan jas hitamnya. Lalu menghapus peluh yang membanjiri kening. “Come out.”

            Tubuhku terseret. Junho oppa menarik lengan tanganku tanpa meminta izin terlebih dahulu. Sorak sorai para fans menggema. Bahkan mungkin ada yang menangis dan mengutukku.

Tuhan, selamatkan aku.

            Akhirnya kami sampai. Sampai di atas panggung yang menyeramkan dengan beribu-ribu mata merah yang menatap kami tanpa ampun. Ruangan tiba-tiba saja menjadi gelap. Hanya cahaya lighstick yang memberikan sinarnya. Itupun tidak cukup untuk membantu mengatasi kegelapan ini.

            Junho oppa melingkarkan tangannya di pinggangku. Desahan napas Junho oppa terdengar sangat jelas sesaat dia mendekatkan tubuhnya. Rambut panjangku dibelainya begitu pelan.

Aku panik. Sangat panik. Bukan karena ketakutan tapi rasa ketidakpercayaan yang menghujamku. Ya, aku memang sering meng-

“Cinta sampai mati….” sebuah kalimat terlontar dari mulut Junho oppa hingga aku jatuh pingsan.

 

*****

 

“Omona. Ini untukku?” aku terperangah setelah Junho oppa menyematkan cincin indah ini di jemari tanganku. Tak ada yang spesial dari cincin ini. Bentuknya tetap bulat dengan lapisan emas putih 24 karat, sepertinya. Keke~

“Ne. Kau suka?”

Aku mengangguk pasti. Bagaimana mungkin aku tidak menyukai cincin ini? Ini kan hadiah pertama yang kau berikan untukku.

“Harganya memang tidak mahal. Penampilannya juga tidak bagus. Kau tahu kan bahwa aku laki-laki. Jadi aku tidak tahu selera perempuan itu seperti apa.”

“Gwenchana. Apapun yang kau berikan padaku, pasti aku terima dengan senang hati kok. Selama itu… nggak bayar. Hehe.”

Lesung pipi yang menjadi bagian faforitku muncul di pipi tembem Junho oppa “Kau ini lucu sekali. Aku suka padamu.”

“Apa? Kau bilang apa?”

“Eh? Tidak. Aku bilang kalau kau itu jelek. Haha.”

“Junho oppa!”

 

*****

 

“Sae Rim~ah, kau tahu tidak mengapa malam ini tidak ada bulan dan bintang di langit?” Junho oppa yang terduduk dengan kaki melonjor di sebelahku menunjuk langit yang terlihat kosong dan gelap.

            Aku terdiam dalam hening. Masih menikmati setiap ekspresi yang tercipta dari namja imutku. Entah kenapa aku suka sekali menatap wajah Junho oppa. Tanpa sedikitpun rasa bosan yang terlintas. Mata bulan sabitnya, hidung yang hampir sama dengan Pinocchio, bibir seksi, alis yang seperti ulat bulu saking tebalnya, pokoknya semua bagian yang ada di wajahnya aku suka.

Kadang aku suka gemas sendiri. Ingin rasanya mencubit pipi gembulnya keras-keras. Lalu ketika dia sudah merasakan sakit, aku akan menciuminya supaya rasa sakitnya menghilang. Wwkwkwk😄

Dia itu mirip sekali dengan Rain oppa. Aktor sekaligus penyanyi yang pernah diajak dinner sama Megan Fox. Artis Hollywood yang seksi itu. Bukan hanya wajahnya saja tapi perangai dan kebiasaanya juga. Unik ya. Seumur-umur aku baru tahu ada orang yang semirip itu. Padahal mereka lahir dari Ibu yang berbeda dan pada tahun yang berbeda pula.

Karena kemiripan identiknya itulah sempat tersiar kabar buruk tentang namjaku. Ada salah satu wartawan yang mengklaim bahwa Junho oppa operasi plastik hanya karena ingin memiliki popularitas tinggi di dunia entertainment. Dia juga pernah dimusuhi oleh teman semanagementnya. Parah!

Saat itu aku benar-benar sedih. Menolak dengan keras atas tuduhan wartaman bodoh itu. Mana mungkin namja berhati malaikat sepertinya melakukan hal yang sangat dibenci oleh Tuhan? Mengubah keadaan aslinya hanya demi terlihat sempurna di hadapan manusia?

Malah hampir saja aku mengutuk sang wartawan. Kalau saja tidak dicegah oleh kedua Eonniku, Sunye dan Suzy yang cuap-cuap panjang lebar. Kupingku sampai panas mendengar lengkingan suara cempreng mereka.

“Ya! Sae Rim.” lambaian tangan Junho oppa membuyarkan lamunan panjangku mengenai dirinya. Raut wajahnya terlihat begitu lelah.

Apakah dia sudah terlalu lama menunggu jawabanku atas pertanyaan anehnya tadi?

“Hmm… kenapa ya? Mungkin mereka sedang bersembunyi. Atau dimakan oleh alien dari planet antah berantah.” jawabku asal tanpa mengalihkan pandangan dari wajah Junho oppa.

“Ish! Jawaban macam apa itu. Tidak masuk akal.” Junho oppa menoleh ke arah lain. Matanya menyipit dan bibirnya sedikit terangkat. Sepertinya dia tidak puas akan jawabanku.

Aku tersenyum geli. Ekspresinya lucu. Oppa, aku ingin menciummu. Hihi~

“Hei yeoja malas! Dari tadi kuperhatikan kau memandangi wajahku terus. Kau terpesona padaku ya? Ayo ngaku.” telunjuknya menunjuk-nunjuk diikuti cengiran menggoda.

            Terpesona? Geurom. Aku terpesona padamu malaikat imut. Tidak dapat kudustai lagi perasaanku yang menggebu-gebu saat benih-benih cintamu tertancap di hatiku. Keke :p

“Tuh kan bener.” Junho oppa melengos lagi. Tampangnya berubah serius saat melihat kolam air mancur di antara berbagai macam bunga yang tertata rapi di atas rumput basah.

Kami ada di Daegu tower. Tempat yang paling kusukai saat berkencan dengan malaikat imutku. Ups! Berkencan? Memangnya kita sudah pacaran?

Alisnya mengerut seperti sedang berpikir dalam-dalam. Aku yang hanya memperhatikannya sejak tadi jadi bingung sendiri. Penasaran dengan sesuatu yang ada di pikirannya itu.

Apakah hal baik atau malah buruk? Atau mungkin dia sedang memikirkanku? Kenapa aku jadi ketar-ketir begini?

“Kau mau tahu jawabannya kenapa malam ini tidak ada bulan dan bintang di langit?”Junho oppa bertanya lagi. Sekilas dia melirikku, ragu.

Ini… membuatku semakin sulit bernapas.

“Karena…,” Bibirnya mengulum sebelum mengatakan sesuatu yang… “Keduanya ada di sini. Kau bintang dan aku bulan. Kau sangat bergantung padaku. Begitupun juga aku. Seandainya salah satu di antara kita tidak ada, maka tidak akan ada malam yang seindah ini.”

            Air mataku menetes. Pilu. Sakit tapi menjadi candu di hati. Ada luapan kebahagiaan yang semakin bertambah sesaat jatuhan air mata.

Namjaku, malaikat imutku….

“Aku tidak tahu apakah ini tangisan bahagia atau kesedihan. Tapi yang jelas aku ingin jujur padamu kali ini. Bahwa aku…,” Junho oppa memejamkan matanya sejenak. Menikmati hembusan angin malam yang menderu lembut. “Bahwa aku sangat mencintaimu.”

 

*****

 

Hari ini hari minggu. Hari dimana semua orang di dunia menghentikan aktifitas kesehariannya yang sangat melelahkan itu. Kecuali… Junho oppa. Dia kan artis super sibuk yang banyak tawaran job dimana-mana. Boro-boro untuk jalan-jalan ke mall atau taman hiburan. Menghubunginya saja sulit sekali. Junho oppa sering mengganti nomor handphone. Katanya sih karena sering ada fans yang menerornya.

Tapi khusus hari ini dia meluangkan waktunya untuk berjalan-jalan ke Teddy Bear Museum yang terletak di daerah Incheon bersamaku. Sebelumnya sih aku yang memaksanya untuk libur. Abisnya selain karena keinginanku untuk bertemu dengannya, aku juga kasihan melihat Junho oppa yang kurang istirahat. Ditambah lagi makannya tidak teratur dengan gizi yang kurang dari kebutuhannya. Kalau begitu terus kan dia bisa sakit. Aku nggak mau semua itu terjadi pada malaikat imutku.

“Mana yang kau suka?”

“Eh? Meoya?”

“Kau melamun lagi ya?”

“Hehe….”

“Sae Rim~ah, ada yang ingin kutanyakan padamu.”

Aku menyeruput segelas cappuccino yang dibelikan Junho oppa tadi saat kita beristirahat “Apa?”

“Apa yang ingin kau lakukan sekarang?”

            Aku ingin selalu berada di dekatmu, Oppa. Sedekat ini. Berjalan bersama menghabiskan hari dengan melakukan segala hal yang menyenangkan setiap harinya.

“Hmmm… mollaseo. Kau?”

Langkah Junho oppa terhenti. Sebuah gambaran istana boneka di balik kaca membuat senyumnya mengembang, “Aku ingin sekali memiliki istana seperti itu. Bahkan yang lebih besar. Dengan aku yang menjadi raja. Dan kau yang menjadi ratu. Kemudian kita akan punya anak yang lucu dan menggemaskan. Yang laki-laki gagah dan tampan sepertiku. Sedangkan yang perempuan cantik sepertimu.”

“Jinjja?”

“Ne. Kau tidak yakin ya?”

“Bu-bukan begitu. Hanya saja… hanya saja… Emmm-“

“Heuh! Kau ini lemot sekali ya rupanya. Kajja. Kita lihat boneka yang lain saja.”

 

!!!!!!!

 

Aku menghapus tetesan air mata yang lagi-lagi membasahi pipi.

Bagai debu yang disapu angin. Begitulah gambaran hatiku saat ini.

Sakit sekali. Sangat sangat sakit. Memori manis yang terbayang dalam benakku pun tak mampu untuk menyembuhkan luka yang baru saja diciptakan oleh namja ini. Ingin rasanya aku mencopot hatiku dan membuangnya jauh-jauh. Tapi aku tidak sanggup untuk melakukan itu. Diriku sudah sangat rapuh atas kenyataan pahit ini.

Aku coba untuk menegakkan kepala kuat-kuat. Menahan kristal-kristal air mata di pelupuk yang terasa perih. Sekali lagi aku ingin meyakinkan bahwa apa yang baru saja kudengar adalah sebuah bualan belaka. “Benarkah apa yang dikatakan Appamu tadi?”

Junho oppa tetap tak bergeming. Dia masih asyik menikmati butiran salju yang turun perlahan dari atas langit. Wajah teduhnya seketika berubah menjadi pucat pasi karena terus terpojokkan oleh pertanyaanku. Berkali-kali ia telan ludahnya bulat-bulat yang mungkin terasa menyakitkan begitu melewati kerongkongannya.

“Junho oppa… kumohon beritahu aku.” ucapku lirih.

Aku tahu.

Aku sangat tahu bahwa Junho oppa, malaikat imutku bukanlah orang jahat. Biarpun Junho oppa sering menggoda dan meledek hingga aku menangis tapi aku sangat yakin bahwa Junho oppa tidak akan melakukan hal sekeji itu. Mendekatiku hanya karena ingin menghancurkan reputasi keartisan Oppaku.

Kim Junsu. Dia adalah Oppaku. Seorang penyanyi, presenter musik, aktor film dan drama serta mendapatkan kesempatan untuk menjadi Duta Kesehatan di Korea.

Mustahil.

Ya, mustahil malaikat imutku melakukannya. Percayalah kalau dia orang yang baik. Kumohon percayalah.

“Junho oppa….” air mataku kembali runtuh.

Berbicaralah Junho oppa. Agar aku tahu kejujuranmu.

Namun percuma. Semua air mata yang menetes tidak sanggup mengubah keadaan Junho oppa yang bertahan dalam diamnya. Ia malah mengalihkan pandangan ke arah kerlap-kerlip lampu yang bertandang di pinggir trotoar. Membuatku semakin gemas dibuatnya.

Apa yang ada di pikiranmu? Apakah sangat sulit untuk mengatakan kebenaran? Aku tidak menyuruhmu untuk menjelaskan semuanya dari awal. Hanya katakan “Iya” atau “Tidak”. Hanya itu, Oppa.

“Kalau kau diam, tandanya itu adalah benar.”

Junho oppa terlihat gugup. Tulang pipinya mengeras seperti menahan tangis.

“Baiklah. Sekarang aku sudah tahu jawabannya apa,” aku melepas cincin yang tersemat di jemari manisku dengan hati yang bergejolak. Kuraih tangan Junho oppa.

“Sae Rim~ah….” mata Junho oppa berkilat. Bibirnya gemetar mengucap namaku.

“Terima kasih atas semua yang pernah kau lakukan padaku. Apapun itu… terima kasih. Kuharap setelah ini kau akan lebih menghargai perasaan orang lain.” dengan sisa kekuatan, aku meletakkan cincin itu di telapak tangan Junho oppa.

Aku mulai melangkahkan kakiku, terseok. Kupaksa kakiku untuk terus berjalan lurus ke depan tanpa menoleh lagi. Tidak perlu. Aku tidak perlu menoleh. Harus berjalan terus hingga dapat menemukan tempat yang lebih terang dan ramai dibandingkan ini.

Perlu! Kau sangat perlu menoleh. Kembalilah padanya. Rengkuh tubuhnya erat-erat. Kau cukup memarahinya tanpa harus memutuskan hubungan seperti ini. Bukankah dia bilang cinta padamu? Cukup kau di hatinya? Lalu apa lagi yang dipermasalahkan?

Sekuat tenaga aku mengepalkan tangan agar tidak menuruti apa kemauan hatiku yang terus mengompori. Aku harus menghancurkan seluruh keraguan yang mulai menyentuh kalbu. Semakin lama aku berdiri di hadapan Junho oppa, maka robekan di hati akan semakin terkoyak.

Aku yakin. Perasaan ini tidak akan berlangsung lama. Bukankah perasaan cinta akan memudar jika telah membenci orang yang kita cintai? Aku akan memulainya dari sekarang. Cukup dengan mengingat kembali kejadian beberapa menit yang lalu. Cukup itu.

Aku memejamkan mata. Meresapi keperihan yang tercipta dari sebuah sayatan luka di sebilah hati yang terus menari-nari. Sedikit demi sedikit aku akan bangkit dari keterpurukan ini. Dan berharap kejadian ini tidak akan terulang untuk kedua kalinya.

Pikiran bahagia.

Aku harus memikirkan segala hal yang bahagia.

Cukup air mata ini saja yang menjadi air mata kesedihan.

Setelah itu, aku akan tertawa terpingkal-pingkal karena kebahagiaan yang menyambutku.

 

!!!!!!!

 

Junho terduduk pasrah di atas tumpukan salju yang dingin. Saat melihat Sae Rim, yeoja yang baru saja memberikan arti cinta padanya menghilang di kelokan jalan. Kali ini dia tidak mampu lagi untuk bertahan. Air mata itu turun deras bak tanggul yang hancur dan menerjang apa saja yang ada di sekitarnya tanpa ampun.

Dia terlihat tidak peduli saat suhu di kota Seoul sudah mencapai batas minimum. Tak peduli. Sampai dia mati di sini pun dia tidak peduli akan hal itu. Terserah bagaimana dengan reputasi keartisannya yang hancur setelah kehebohan berita di media esok hari. Yang ia pikirkan sekarang adalah Sae Rim. Yeoja cantik dengan kehangatan cintanya. Junho butuh Sae Rim. Butuh.

“AARGH!” Junho berteriak. Suaranya memecah keheningan malam. Tangannya terus ia pukul ke bawah jalanan beraspal yang ia pijak hingga berdarah. Hanya dengan cara ini dia melampiaskan kekesalan pada dirinya sendiri. Kekesalan akibat telah memorakporandakan hati Sae Rim.

 

“Hei! Tidak ingatkah kau ini hari apa?!”

            Junho mulai gemas melihat tingkah Sae Rim yang seakan tidak peduli padanya. Sejak datang ke restoran seafood yang mereka tandangi hingga detik ini, perhatian Sae Rim hanya tertuju pada I-Pad yang beberapa hari lalu baru ia berikan.

“Songong sekali anak ini. Kim Sae Rim!”

Sae Rim yang merasa namanya diteriakkan oleh Junho pun menoleh, sinis. “Bisakah kau tidak berteriak ketika memanggilku? Sekalipun kau berbisik, aku pasti mendengarnya.”

“Kau ini?! Aku sudah memanggilmu berulang kali. Mulai dari berbisik hingga berteriak, dari nama panggilan hingga nama di aktemu. Tapi kau tetap saja tidak menoleh.”

“Benarkah? Setahuku kau baru memanggil namaku 2 kali?”

“2 kali? Baru 2 kali kau bilang?!”

Sae Rim mendengus pasrah. Kalau sudah begini dia harus mengalah.  “Ya ya ya ya. Anggap saja kau sudah memanggilku 100 kali. Ah tidak! 1000 kali. Lalu sekarang apa maumu?”

Junho tersenyum riang. Dia merasa puas sekarang karena yeoja di hadapannya akhirnya menyadari kehadiran dirinya. Ia betulkan posisi duduknya. Kedua tangan ia letakkan di atas meja, lalu ia selidiki wajah Sae Rim satu demi satu bagian sambil menengadahkan tangan.

“Sonmul.”

“Mweo? Sonmul? Maksudmu?”

“Kau masih bertanya?! Menurutmu orang yang meminta kado itu dia sedang merayakan apa?”

“Hari ulang tahun.”

“Dan…,” Junho sengaja memutus ucapannya supaya Sae Rim yang melanjutkan. Tapi ternyata Sae Rim malah balik bertanya.

“Dan?”

            BRAK!

            Junho memukul meja makan cukup keras akibat pikiran Sae Rim yang berjalan lambat. Gemas sekali. Dia sudah mencoba untuk memberikan clue pada Sae Rim tapi yeoja yang baginya cantik itu tetap tidak menyadarinya.

            Apa artinya selama ini dia mengagumiku jika hari ini saja dia tidak tahu hari apa? Menyebalkan!

“Ya! Kenapa kau memukul meja dengan keras?! Pelanggan yang lain bisa lari dari sini kalau kau bertingkah seperti itu.”

            Sekarang Junho tidak mau memedulikannya lagi. Ia sudah lelah jika harus menghadapi Sae Rim yang bodohnya sedang kumat. Biarkan saja dia yang memohon pada Junho untuk diberikan penjelasan sampai dia benar-benar memahami apa istimewanya hari ini bagi Junho.

“Junho oppa, kau marah padaku ya?”

            Tetap tidak peduli. Junho tidak akan berbicara sepatah kata apapun pada Sae Rim.

“Kau ini sungguh aneh. Sikapmu itu seperti anak kecil. Tidak-“

“Junho oppa? Benarkah kau Junho oppa?” tanya seorang yeoja berambut pendek yang baru saja datang.

“Ne. Kau siapa?” Junho sangat tidak bersemangat menanggapi yeoja yang baru saja berbicara padanya yang ia tahu itu adalah fansnya. Dia masih kesal dengan Sae Rim.

“Aaah! Omona! Ternyata kau benar Junho oppaku. Tidak bisa dipercaya. Ternyata kau lebih tampan aslinya.”

“Aku tahu.” Junho melirik Sae Rim sekilas. Sedikit menahan tawa saat melihat wajah Sae Rim yang ditekuk berlipat-lipat karena merasa diacuhkan.

“Junho oppa, saengil chukkahamnida.” ucap yeoja itu sambil menyodorkan sekotak makanan pada Junho. Tangannya gemetar hebat.

“Kau ingat hari ulang tahunku?”

“Tentu saja. Mana mungkin aku melupakan hari kelahiran seorang malaikat terbaik yang pernah diciptakan Tuhan untukku? Kuharapa kau menyukainya.”

“Aku sungguh menyukainya. Naega gomapta. Oh iya sebagai balasannya kau mau minta apa padaku? Tanda tangan? Foto? Hmm… atau makan bersamaku?”

“Makan bersama?”

            Junho mengangguk dengan menebar senyum termanisnya. Tujuan utama melakukannya adalah memanas-manasi Sae Rim.

“Mau sekali. Tapi aku tidak bisa karena sebentar lagi aku harus pergi ke tempat les. Sudah gitu ada ujian pula. Ini adalah ujian terakhirku agar aku bisa naik level. Jadi aku tidak mungkin tidak datang.”

“Begitu ya. Sayang sekali.”

“Ne. Tapi maukah lain kali kau makan bersamaku? Aku yang akan menjemputmu dan membayar semua makanannya.”

“Boleh. Aku tunggu ya.”

“Jongmal? Kyaaa! Kamsahamnida Junho oppa. Kamsahamnida. Ya sudah, aku berangkat dulu ya. Anyeong.”

            Lagi. Junho melepaskan senyum terindahnya untuk fans baik itu. Ia tatap kotak makan yang berisi makanan kesukaannya. Sudah kesekian kali ia mendapatkan kado yang begitu istimewa hari ini. Namun tidak sebahagia yang dibayangkan saat tahu orang yang diharapakannya lupa sama sekali dengan hari ulang tahunnya.

“Ternyata hari ini kau ulang tahun. Kenapa kau tidak bilang padaku?”

“Kau sudah sadar? Baguslah.” Junho mulai melahap makanan dari fansnya tadi dan mengabaikan makanan yang ia pesan.

“Maafkan aku. Kau tahu kan kemarin aku sibuk membantu Junsu oppa yang akan pergi ke Amerika untuk mengisi acara musik di sana.”

“Jelas tahu.” jawab Junho ketus.

“Hmm… kau mau kado apa dariku?”

Junho mulai tertarik. Tapi tetap dia tidak mau langsung berbaik hati pada Sae Rim. “Memangnya kau sudah menyiapkan kado untukku?”

Sae Rim menggaruk kepalanya tidak yakin “Belum tapi aku punya sesuatu untukmu. Kau mau lihat? Tunggu sebentar.”

            Sae Rim bangkit dari duduknya, berjalan ke arah Junho dan berhenti ketika berada tepat di belakang namja imutnya. Ia tarik napasnya dalam-dalam, kemudian ia angkat jari-jarinya yang telah ditautkan satu sama lain. Lalu menunjukkannya pada Junho yang terlihat heran akan sikapnya.

“Hati?”

“Cinta lebih tepatnya. Hehehe…,” Sae Rim kembali pada tempatnya. “Kau suka?”

“Suka?” Junho meletakkan sumpit di atas meja. Tangannya mengucek-ucek mata yang terasa gatal. “Jadi itu hadiahmu? Heuh.”

“Jangan meremehkan hadiahku. Asal kau tahu ya. Cinta itu adalah hadiah terbesar, terindah, teristimewa dan tersulit di dunia. Apa kau pernah mendapatkannya dari orang lain?”

“Banyak. Seluruh fans, keluarga, teman, saudara, tukang pos, pelayan restoran, pembantu rumah tangga, cleaning service, pekerja kantoran, anak-anak, orang tua, para remaja tentunya, semuanya memberikan cinta untukku.”

“Tapi pernahkah mereka menunjukkannya seperti yang kulakukan tadi? Mereka memang mencintaimu tapi cinta mereka hanya sebatas makanan, handphone, I-Pad, I-Phone, Laptop, pakaian bermerk dan sebagainya. Lalu apa yang patut dibanggakan dari semua itu?”

Junho berkelit “What? Aku tidak mengerti dengan ucapanmu?”

“Cinta itu bukanlah gambaran dari kekayaan dunia. Tapi cinta itu….” Sae Rim mengaduk secangkir coklat panas miliknya dan ia suguhkan pada Junho. “Perhatian,”

Kemudian Sae Rim memakaikan hoodie birunya asal yang tadi ia letakkan di punggung kursi pada Junho. “Kehangatan,”

“Dan…,”

            CUP!

“Kasih sayang. Hahahahahaha.” Sae Rim tertawa setelah berhasil mencium pipi Junho. Itulah yang ia idam-idamkan selama ini.

“Jadi kau melakukan itu semua karena ingin menciumku?!” Junho mendelik kesal.

“Hahahahhaa. Benar sekali. Bagaimana? Apakah jantungmu berdegup dengan keras sekarang? Wajahmu? Hahahaha. Kenapa memerah seperti itu? Kau menyukaiku ya?”

“Kim Sae Rim!”

“Hhahahahahaha. Kita 1-0 ya. Hihihi.”

 

“Aku memang bodoh. Namja bodoh yang haus akan materi. Sok-sokan mengatakan kesungguhan cinta padahal aku sendiri tidak mengerti soal cinta. Aku tahu apa?  Apa? Apa Lee Junho?!”

 

“Kau yakin akan melakukannya, Junho-ssi? Apakah ini tidak terlalu berlebihan?Karirnya sudah kau lumpuhkan lalu apa lagi yang kau inginkan?” seorang laki-laki paruh baya dengan rokok yang menyulut di tangannya terlihat ragu dengan keputusan yang baru saja ia dengar dari namja di sampingnya.

“Aku belum cukup puas. Sebelum dia benar-benar mati di tanganku.” tangan Junho mengepal keras.

 “Ini bukanlah hal yang mudah. Kerusakan karier Kim Junsu akan berdampak besar juga padamu.”

“Itu tidak akan terjadi selama kau bekerja dengan baik.”

Lelaki itu sangat menikmati hisapan rokoknya yang kesekian kali. Sorot matanya jauh memandangi bola-bola salju yang berguguran di atas bunga-bunga putih.

“Kim Sae Rim. Yeoja cantik berumur 19 tahun. Menduduki bangku kuliah di Kyung Hee University berkat beasiswa. Sangat menyukai salju, bunga dan apel. Takut gelap, sendiri dan serangga. Serta fans terberatmu yang tidak pernah malu untuk menunjukkan kekagumannya padamu.”

Junho menoleh cepat. Ia tidak mengerti akan ucapan Appanya, “Apa maksudmu? Kenapa membicarakan yeoja itu?”

“Kau tahu kan bahwa dia adalah adik kandung dari Kim Junsu?”

“Lalu?”

“Kau menyukainya bukan?” kerlingan mata lelaki tambun di samping Junho menyeruduk tajam.

Hati Junho tersentak. Beribu-ribu batu menghujam batinnya. Ada sedikit kekalutan di sana. Menyukai? Kim Sae Rim? Adik dari musuh bebuyutannya?

Junho mengalihkan pandangan, berjalan sedikit ke meja kerja Appanya untuk mengambil beberapa proposal bisnis yang akan ia tanda tangani. “Omong kosong. Kau pikir aku bersungguh-sungguh melakukannya?”

Lelaki itu mendekati Junho. Memperhatikan ekspresi wajah anaknya yang terlihat berbeda, “Benarkah?”

“Bulan depan aku akan bertunangan dengan Krystal. Jadi mana mungkin aku menyukai yeoja lain? Kau ini ada-ada saja,” Junho bergegas memasukkan seluruh proposal di tangannya ke dalam tas jinjing hitam.

“Sudah ya, aku pulang. Oh iya, aku ingin kau dapat menyelesaikan misi ini dengan cepat dan rapi. Jika tidak  jangan harap kau hidup bahagia di dunia.”

“Kau mengancamku? Hahaha. Semoga kau baik-baik saja nantinya.” ucap lelaki itu sebelum Junho sempat membuka pintu ruang kerjanya.

“Pasti. Kau tidak perlu khawatir.”

 

Tangisan Junho semakin memberontak. Dadanya sesak akibat tindihan beban berat penyesalan yang bertubi-tubi. Ia sudah tidak bisa lagi menyatukan keping-keping puzzle harapan yang ia impikan bersama Sae Rim nanti. Lenyap. Lenyap sudah.

 

“Fly to Seoul nawa let’s dance dance (wanna get). Boom Boom Boom hamkke jeulgyeo sinnage bamsaedorok. Fly to Seoul nawa let’s dance dance (wanna get). Boom Boom Boom hamkke jeulgyeo sinnage bamsaedorok. Dugeun dugeun dugeun dugeun dugeun daeneun nat. Panjjak panjjak panjjak panjjak panjjak ineun bam. Neoman neoman neoman neoman neoman julge nal. Welcome to Seoul again & again. Huuu! Kim Sae Rim, ayo terus menari. Seperti ini.” Junho mengoyang-goyangkan pinggulnya ke kiri dan kanan.

            Gelak suara Sae Rim terpecah. Perutnya terus ia pegangi karena tidak tahan melihat malaikat imutnya berlaku seperti itu. Sangat gila. Padahal di panggung Junho selalu menjaga imagenya.

“Junho oppa, hentikan. Perutku sakit tahu. Hahahahaha.”

“Biarkan saja perutmu sakit. Supaya nanti aku yang akan mengobatimu.”

“Haha… Tidak mau. Dokternya aneh.” Sae Rim berlari menjauh dari Junho. Memeletkan lidahnya, meledek Junho.

“Ya! Jangan kabur kau. Sini aku obati. Kim Sae Rim yang jelek.”

“Aaaah! Shireo!”

Junho tertawa dalam tangis saat tebersit sebuah kenangan yang belum lama terjadi. Kenangan dimana dia dan Sae Rim tengah bernyanyi bersama di sebuah tempat karokean untuk merayakan kemenangan Junho. Ya, sebuah kemenangan karena Junho berhasil mendapatkan Daesang Award.

Tawa bahagia, suara yang amburadul, senyum sumringah dan tarian sesuka hati menghiasi malam itu. Hanya dia dan Sae Rim di sana. Tidak memikirkan seberapa lelahnya mereka. Tidak memedulikan waktu yang terus bergulir hingga pagi.

“Fly to Seoul… Hiks. Nawa-let’s dance dance. Wanna-get. Boom-boom… Boom hamkke jeulgyeo sinnage-bamsaedorok. Fly to Seoul nawa… Heuheuheuheu. Aku tak bisa. Hiks… hiks… hiks… Aku tak bisa. Tidak bisa Kim Sae Rim.” Junho tertunduk pilu.

 

!!!!!!!

 

Inilah luka. Luka yang  Junho buat sendiri. Luka yang menjadikan dirinya sebagai orang terjahat dalam sebuah pementasan drama kehidupan.

Cincin. Cinta. Sae Rim. Sekarang hanya bisa Junho nikmati dalam bayangan kepalsuan. Sejauh apapun dia menyelami penyesalannya, tetap tidak akan merubah keadaan. Waktu tidak akan berputar ulang kembali. Dan kejadian buruk yang terjadi pada detik ini tidak akan tergantikan oleh keindahan di masa lalu.

 

 

 

 

 

 

The End

 

 

 

P.s : Yang mau cuap-cuap panjang lebar soal FFku ini, langsung comment aja ya. Terserah deh mau asin, pedas, manis, pahit bahkan asem pun aku terima. Yang penting DON’T BASHING. Kamsahamnida yeorobun ^^