Title: A Unique Love Story

Cast: Park Hyunmi (OC), 2PM’s Jang Wooyoung, SHINee’s Kim Jonghyun dllll

Rating: PG

Genre : Romance, School life, Action (maybe)

Author : rri_ho (@rri_ho)

Length : One Shoot

Declaimer : FF abal dengan ide buntu dan alur yang maksa. Typo bertebaran di mana- mana, meski begitu tolong dihargai ya…

 

Kyoto, Japan

Malam itu sedang berlangsung pesta di kediaman Tsunagawa Abe. Pesta itu diadakan untuk merayakan ulang tahunnya ke 51 yang bersamaan dengan hari jadi pernikahannya yang ke 25 dengan istrinya yang keturunan Korea, Hyunwoon Abe. Tsunagawa Abe sendiri adalah seorang pengusaha tempat hiburan terbesar di Jepang juga di Asia. Sekitar lima ratus undangan menghadiri pesta itu. Kebanyakan dari mereka adalah pengusaha- pengusaha, baik pengusaha barang halal ataupun pengusaha barang haram.

Karena banyaknya undangan yang hadir, tak khayal bahwa penjagaan di kediaman pengusaha besar yang terletk di pedesaan Kyoto  diakukan sangat ketat. Puluhan pengawal pribadi keluarga Abe yang bersenjatakan senapan laras panjang  dan juga pengawal pribadi para undangan bertebaran di sekitar lokasi. Di pintu depan, para undangan diseleksi dengan ketat. Hanya orang yang membawa undangan dan lolos tes pemindaian saja yaang boleh masuk ke istana Abe-begitu orang menyebutnya.

Disela- sela penjagaan yang ekstra ketat itu, sesosok tubuh keturunan Asia- Eropa nampak mengendap- endap di sela- sela padang rumput tempat keluarga Abe berlatih berkuda yang terletak persis di belakang tembok besar kediaman keluarga itu. Sekitar lima puluh meter dari tembok, sosok itu berhenti sejenak. Hanya ada seorang penjaga, itupun terleak jauh di ujung tembok. Dalam hati ia mengutuk betapa bodohnya para pengwal keluarga ini.

Suasana yang benar- benar gelap memungkinkan sosok itu masuk ke dalam tanpa ketahuan penjaga. Tetapi, masalahnya bagaimana caranya menembus tembok setinggi lebih dari lima meter yang diatasnya terdapat kawat yang dialiri listrik sebesar 200.000 volt? Bisa bisa ia akan jadi daging panggang dalam sedetik. Sosok itu diam tepat di samping tembok. Tangannya sibuk mengutak- atik sesuatu di tangannya yang rupanya dalah alat pemindai arus listrik.

Tepat satu meter di sebelahku, ada sekitar tiga puluh sentimeter kawat yang tidak dialiri listrik.

Dengan cekatan sosok kembali  mundur sekitar lima meter, lalu membuka ransel kecil yang dibawanya dan mengambil seutas tali yang lebih mirip senar dengan kait di ujungnya. Tali itu terbuat dari isolator terbaik, sehingga tidak akan jadi masalah jika diikatkan pada kawat yang berarus listrik sebesar apapun. Dalam sekali lempar, kait itu langsung  mengenai kawat tepat di atas tembok. Perlahan ia maju menuju ke tembok. Dengan cepat ia memasang  ujung  tali ke rol yang telah terpasang di tangannya. Sekali tarik, sosok itu sudah berapa tepat di atas tembok.

Huh, Beres.

Dengan gerakan akrobat yang luar biasa, sosok itu bersalto melompati kawat dan turun ke bawah dengan tali tadi sebagi acuannnya. Kini ia berada di kebun belakang, menurut peta rumah keluarga Abe yang telah ia pelajari sebelumnya, pesta diangsungkan di hall utama hanya tinggal berjalan mengikuti koridor ke utara.

Tepat satu setengah jam kemudian, Tsunagawa Abe ditemukan tewas dengan sebilah katana yang tepat menusuk  jantungnya.

 

Seoul, South Korea

Sesosok gadis berbadan tinggi semampai nampak bersenandung di sepanjang  koridor sekolah menuju ke kelasnya. Tangannya sibuk mengutak- atik ponsel miliknya, saking asyiknya sampai- sampai…

Bugh!!!

Prang!!!

Ia menabrak sesosok laki- laki yang menyebabkan ponsel yang digenggamnya sampai jatuh ke lantai.

“Hyunmi-ah, mianhae…. tadi aku idak sengaja” ucap laki- laki itu dengan nada khawatir. Dengan cepat ia mengambil ponsel gadis itu di yang terjatuh. “Hyunmi-a, ini ponselmu. Mianhae, akan kuperbaiki kalau rusak,” ucap laki- laki itu sambil menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya, tetapi sang pemilik ponsel itu hanya terpaku di tempat tanpa menunjukkan reaksi apapun.

Laki- laki itu mulai khawatir sekarang. Dikibas- kibaskannya tangannya ke depan wajah gadis yang bernama Hyunmi itu. “Ah, ne gwenchana,” gadis itu tiba- tiba tersadar dan langsung mengambil ponselnya kasar dan langsung pergi meninggalkan laki- laki itu begitu saja.

“Aku baru menyadari kalau ternyata ia benar- benar cantik,” gumam laki- lak itu pelan.

Aku berlari menuju kelasku yang terletak di ujung koridor lantai tiga. Oh Tuhan, mimpi apa aku semalam? Bisa- bisanya untuk pertama kali dalam setengah tahun Jang Wooyoung berbicara padaku. Ternyata dia orangnya peduli pada orang lain. Aku senang, meskipun aku yakin ponselku rusak,yang penting Wooyoung berbicara padaku…

Biar kujelaskan, Jang Wooyoung adalah teman sekelasku sekarang. Dia benar laki- laki yang sempurna, hanya saja mungkin orang- orang menganggapnya sombong karena dia  memang jarang berbicara. Aku sudah menyukainya sejak pertama kali menginjakkan kaki di sekolah ini. Jangan tanya kenapa, karena aku tidak akan memberitahu kalian. Woohooooo.

“Hyunmi-ah boleh  aku duduk di sini?”

DEG! Oh Tuhan, apakah engkau benar- benar meminjamkan Dewi Fortuna untukku? Kau tahu apa yang terjadi? Seorang Jang Wooyoung meminta, sekali lagi MEMINTA duduk di sebelahku. Ayolah, aku bingung harus menjawaab apa. Kalau aku jawab tidak, aku takut ia benci padaku, tetapi kalau jawab ya, aku takut terkena serangan jantung karena terus- terusan jantungku berdegup kencang di atas batas normal.

Tetapi rupanya tubuhku berkata lain. Tanpa diperintah kepalaku mengangguk. Sial, siap- siap serangan jantung mendadak.

“Hyunmi-ah, apakah ponselmu baik- baik saja?”

Lagi- lagi aku hanya terpaku. Pertanyaan itu bergulir begitu saja dari mulutnya.Oh tidakkkkk… kenapa suaranya terdengar begitu merdu? Siapapun kali ini tolong akuuuuu…. Aku tak mau terus- terusan berada di situasi seperti ini.

Tanpa babibu ia mengambi ponsel yang ada di tanganku. Oh Tuhan, pakah ia benar- benar peduli padaku, eh ralat pada ponselku?

“Ah, jeongmal mianhae Hyunmi-ah. Gara- gara aku ponselmu rusak,” ia memerhatikan ponselku yang ternyata screen-nya nyaris retak.

“Ani, gwencha..na…yo…”

“Ani. Bagaimanpun itu semua. Nanti pulang sekolah kita beli ponsel baru untukmu, oke,” tawarnya sambil tersenyum. Aigooo…manis sekali….

Bel akhir baru saja berbunyi. Tentu saja aku melewatkan pelajaran hari ini tanpa konsentrasi sama sekali. Bagaimana mau konsentrasi, kalau kau duduk bersama orang yang kau sukai. Satu lagi fakta yang aku ketahui tentang Wooyoung, dia bukan hanya pintar dan peduli, tetapi juga baik hati. Ia bahkan rela menyuruhku menyalin jawabannya saat Kim songsaengnim, guru yang paling kubenci mengadakan ulangan fisika dadakan.

“kajja, ayo kita beli ponsel baru untukmu,” suara merdu itu membuat aktivitas menata bukuku terhenti. Lagi- lagi aku hanya diam. Tak bereaksi sedikitpun, dan lagi- lagi perang batin kembali terjadi.

Tanpa kuduga Wooyoung justru memasukkan bukuku yang masih berada di atas meja dengan cepat lalu menggendong atasku di salah satu pundaknya.

“Ayolah, Kajja….” Kali ini ia menarikku dan terus menggenggam tanganku hingga sampai ke tempat parkir. Oh, Tuhan….aku mimisan!!!!!

Aku mengajaknya ke mal untuk membeli ponsel baru untuknya. Awalnya ia memang menolak, tapi toh akhirnya ia menurut juga. Gadis ini benar- benar lucu Ia selalu terdiam begitu aku mengajaknya bicara. Ekspresi wajahnya pun berubah menjadi….entah ekspresi macam apa itu, tetapi tetap saja aku suka.

Jujur saja, sebenarnya aku sudah menyukainya sejak dulu. Aku suka sifat pendiamnya, aku suka tatapan matanya, aku suka wajahnya, aku suka segala tentangnya yang terkesan misterius itu. Ia lah yang membuat aku menolak wanita- wanita yang mendekatiku, bahkan berkali- kali aku menyuruh mereka untuk berhenti mengejarku. Jangan tanya kenapa selama ini aku tak pernah mengajaknya bicara. Karena sebenarnya aku takut. Entah kenapa mulutku terkunci begitu melihat wajahnya, hanya bisa mengaguminya dalam diam, hingga pagi tadi sebuah peristiwa yang bisa dibilang ‘kebetulan’ yang baik.

Kini kami berdua berada di restoran Cina di kantai dasar mal yang kami kunjungi.  Aku sedikit memaksanya untuk makan terlebih dahulu, walaupun sebenarnya makan hanya sebagai alasan untuk mengenalnya lebih jauh sih… hehehe…

Aku hanya memandanginya yang sedang makan. Makanan yang sudah kupesan hanya kudiamkan begitu saja. Memandangi wajahnya jauh lebih mengenyangkan daripada makan menurutku. Entah aku yag selama ini buta atau apa, tetapi aku baru menyadari kalau wajah Hyunmi berbeda dengan orang Korea kebanyakan. Wajahnya seperti orang Cina, tetapi matanya berwarna hijau zambrud seperti orang Eropa.

“Ehm. Sepertinya kamu bukan keturunan Korea, apa aku benar?” tiba- tiba saja pertanyaan itu keluar dari mulutku. Lagi- lagi ia hanya memandangku dengan ekspresi yang sulit  kutebak. Ia hanya diam, lalu tersenyum sebentar. “Ayahku keturunan Inggris dan ibuku orang Cina.”

Benar kan, dugaanku. “Lalu, kenapa kau tinggal di Korea?” tanyaku lagi. Aish, apa yang terjadi dengan mulutku?

Kulihat Hyunmi hanya membuang nafas berat. Air mukanya berubah mejadi pilu dan seakan merindukan sesuatu. “Maaf, aku belum bisa menceritakannya padamu.”

Oke, jadi kesimppulannya ia tidak suka kalau kehidupan pribadinya diganggu.Tak bisa dipungkiri memang, sejak kejadian ponsel itu aku menjadi lebih dekat dengan Wooyoung. Sebenarnya ia anaknya banyak omong, berbeda dengan sikap pendiam nya yang ditunjukkan pada orang- orang, Dia bercerita banyak hal padaku, dari masalah sepele seperti ia sering terlambat karena harus mengantar dongsaeng nya ke sekoah sampai fakta bahwa ayahnya sudah meninggal dan kini ia harus bekerja keras mengelola perusahaan milik keluarganya, semuanya ia ceritakan padaku.

Kini aku berada di tempat favoritku, taman belakang sekolah seorang diri. Sejak aku masuk SMA ini, Wooyoung adalah temanku yang pertama. Sebelumnya aku tidak pernah punya teman. Mungkin orang- orang tidak suka dengan sifat tertutupku sehingga mereka lebih memilih menjauhiku. Aku memasang headset dan menghubungkannya ke iPod touch putihku. Kuputar piano composition favoritku. Kupejamkan mataku untuk lebih menikmati alunan paiano yang dimainkan oleh sang maestro, Chopin.

Tiba- tiba bahuku terasa berat. DEG! Mendadak jantungku berdetak dua kali lebih keras begitu mngetahui bahwa Wooyoung tengah duduk di sampingku dan menyandarkan kepalanya di bahuku.  Matanya terpejam, dan membuat wajahnya terlihat BENAR- BENAR tampan! Oh Tuhan, tolong akuuuuu….

“Wooyoung-ah…”

“Kumohon Hyunmi, biarkan seperti ini sebentar saja,” ucapnya dengan mata terpejam. “Aku lelah.”

Lagi- lagi aku benar- benar kesal pada tangan kiriku. Tanpa perintah tangan kiriku langsung merangkul Wooyoung. “Tak apa- apa Woo-ah, masih ada aku di sini. Percayalah, aku akan selalu ada untukmu.”  Ya Tuhan, apa yang sudah aku katakan??? Kau benar- benar gila Hyunmi pabo!

Wooyoung mengangkat kepalanya dari bahuku dan menatapku dalam. Andwaeeee…….. aku tidak kuat berada di siniiiiiiii….. Wooyoung-a berhenti menatapkuuuuuuu….

“Gomawo Hyunmi-ah, kau benar- benar yang terbaik yang pernah kumiliki.” Tanpa babibu ia menarikku ke dalam pelukannya. Tuhan tolong normalkan detak jantungku…

Gadis itu sedang menalankan aktivitas kesukaannya membaca novel- novel klasik sebelum bunyi tone khusus dari PDA nya yang menandakan ada sebuah pesan yang masuk. Dengan cepat ia membuka PDA nya sambil memakai earset yang tergeletak di sebelahnya.

“Sky, ada tugas baru untukmu.”

“Tugas apa, sudah kubilang aku ingin berhenti kan?”

“Iya, iya aku tahu. Tapi tugas kali ini harganya tidak main- main. Dan kurasa ini akan menjadi tugas paling menarik untukmu.”

“Aku tidak peduli dengan harga. Sudah kukatakan beribu- ribu kali Eagle.”

“Iya aku tahu, tetapi hanya kau yang bisa menyelesaikan tugas ini. Kaulah yang terbaik yang kami punya. Bisa kujamin ini jadi tugas terakhirmu, dan setelah itu kau bisa bebas.”

“Sudah, tidak usah banyak bicara. Siapa kali ini?”

“Data nya akan ku upload ke account-mu. Seperti biasa batasnya seminggu setelah ini, jika tidak kau tahu konsekuensinya kan?”

Mendadak sambungan diputus sepihak. Gadis itu menutup PDA nya dan melepas earset yang tadi digunakannya. Sepertinya tangannya harus melakukan perbuatan kotor itu lagi.

Matanya terbelalak lebar begitu membuka account khusus miliknya. Sontak tubuh gadis itu bergetar hebat. Hatinya benar- benar bimbang antara melakukan perintah atau membangkang, dengan konsekuensi hidupnya tidak akan lebih lama dari seminggu.

“Kenapa harus dia?”

Hyunmi terlihat pucat hari ini. Apa sebenarnya yang terjadi dengan gadis itu. Saat kutanya kenapa, ia hanya tersenyum dan mengatakan semuanya baik- baik saja. Padahal dari sorot matanya aku yakin telah terjadi sesuatu yang buruk padanya.

“Hyunmi-ah, kajja.” Aku menarik tangannya ke kebun belakang sekolah yang kini menjadi tempat favorit kami berdua. Aku mendudukkannya di sampingku, membiarkan ia diam dan mencerna pikirannya. Aku tahu ada sesuatu yang mengacaukan pikirannya saat ini.

“Wooyoung-ah, aku lelah melakukannya.” Tanpa kusangka- sangka ia menandarkan kepalanya di di pundakku. Sontak itu membuatku kaget. Ia tak pernah seperti ini sebelumnya.

“Hyunmi-ah, gwenchana?” Aish, Wooyoung pabo, apa yang telah kau katakan? Kau tahu kan kalau ia benar- benar sedang tidak baik- baik saja?

Hyunmi tak menjawab pertanyaanku barusan. Ia hanya diam seperti biasa.

“Hiks…hiks..” air matanya mulai berjatuhan dan aku benar- benar bingung sekarang ini. Kutarik ia ke pelukanku. “Hyunmi-ah aku tahu kau sedang ada masalah. Maukah kamu membaginya denganku? Aku akan jadi pendengar yang baik untukmu.” Bisa kurasakan kepalanya menggeleng di dadaku. Gadis ini memang sangat tertutup.

“Baiklah, tak masalah bila kamu tidak mau menceritakannya padaku, tetapi kapanpun kau butuh pendengar aku siap menjadi pendengar untukmu.” Aku merasakan kepalanya mengangguk.

“Satu lagi Hyunmi-ah, aku yakin segalanya akan baik- baik saja. Percayalah, aku akan selalu melindungimu.”

Aku akan selalu melindungi orang yang aku cintai sampai kapanpun, ucapku dalam hati.

Kau tahu, jika bebarapa hari yang lalu aku khawatir pada Hyunmi, sekarang aku beribu- ribu kali lebih khawatir. Kenapa? Sudah empat hari ini ia tidak menampakkan dirinya di sekolah. Segala kontak diantara kami berdua juga terputus. Nomornya tidak aktif setiap kali aku menelfonnya. Apartemennya juga kosong. Menurut resepsionis gedung aparemennya, ia belum terlihat selama empat hari ini. Hyunmi-ah, kau di mana?

Tanpa dikomando kakiku langsung bangkit dan berlari menuju kebun belakang sekolah, tempat dimana aku dan Hyunmi biasa menghabiskan waktu. Namun sekarang hanya ada aku dan bayangan Hyunmi yang mengiang- ngiang di pikiranku.

Aku menyandarkan tubuhku ke pohon meaple yang daunnya mulai berguguran. Tak kusangka waktu berjalan begitu cepat. Musim gugur yang menjadi musim kesukaan Hyunmi sudah hampir tiba. Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil berbalutkan kain beludru biru dari saku celanaku. Aku buka kotak itu, di dalamnya ada sebuah kalung berbandul huruf W dan H yang saling terkait.

“Hyunmi-ah, kau dimana? Aku benar- benar gila kau tahu?”

Liverpool, Inggris.

Seorang wanita muda nampak memasuki areal pemakaman umum terbesar di kota Liverpool itu. Ia tersenyum kepada laki- laki tua penjaga makam yang sudah ia kenal sejak dulu.

“Akhirnya anda datang lagi Nona Barnet. Terakhir anda kemari sudah…”

“Dua tahun kakek. Maaf, belakangan ini aku agak sibuk sekolah jadi tak sempat kemari. Kau memang yang terbaik kek, makam mom dan dad bahkan sangat terawat.”

“Itu sudah menjadi kewajiban saya Nona, apalagi Tuan dan Nyonya Barnet telah banyak membantu saya. Sayang sekali mereka harus meninggal secara—,maaf nona saya tidak bermaksud,” nada bicara laki- laki itu berubah khawatir.

“Tak apa- apa kek, ini semua sudah takdir,” ucap wanita muda itu seraya meninggalkan kakek itu dan menuju pusara yang ditujunya.

“Mom, dad Alice datang lagi. Maaf ya Alice baru bisa datang lagi sekarang. Sekolah banyak menyita waktu Alice. Mom, dad, maafkan Alice ya karena tidak bisa memenuhi keinginan kalian untuk jadi anak yang baik. Maafkan Alice karena telah memilih jalan hidup yang kotor ini, yang bertentangan dengan norma juga agama, tetapi Alice tidak punya pilihan lain mom. Jangan salahkan guru Meng, karena ia memang benar- benar tidak bersalah. Ia hanya menunjukkan jalan, sedangkan ini semua benar- benar keinginan Alice sendiri. Alice ingin menemukan orang yang membunuh kalian sekaligus ingin membuat perhitungan dengannya.”

“Mom, dad, bagaimana rasanya jatuh cinta? Apakah menyakitkan? Orang seperti aku boleh jatuh cinta kan? Mom, dad, aku jatuh cinta pada temanku. Ia bahkan satu- satunya orang yang peduli pada Alice. Ia selalu mengkhawatirkan Alice dan juga peduli pada Alice.” Tiba- tiba saja air mata wanita muda itu mulai menetes.

“Mom, dad, apakah dulu kalian pernah merasakan hidup itu tidak adil? Aku sekarang merasakannya. Di saat Alice mulai mencintai seseorang, Alice harus dihadapkan pada kenyataan pekerjaan Alice. Alice tak sanggup melakukannya mom, Alice tak mau menyakiti orang yang Alice cintai, tetapi di sisi lain Alice juga belum mau mati sebelum membalas dendam pada orang yang telah membuat mom dan dad mati sia- sia.”

“Nona, maaf ada yang mencari anda,” suara sang penjaga makam membuat Alice sejenak menghentikan tangisannya.

“Maaf, tetapi siapa?”

“Maaf nona, tetapi saya juga tidak tahu. Ia memakai jas hitam dan kacamata hitam juga memakai topi.”

Jas hitam, topi? Wanita itu berpikir sejenak. Oh, mereka lagi. “Baiklah, bilang pada mereka aku akan ke sana sekarang juga.”

Wanita muda itu berdiri, dan dengan gerakan yang amat cepat ia menotok si penjaga makam tepat di ulu hati, yang menyebabkan penjaga makam itu roboh seketika. “Maaf kek, aku tak bermaksud apa- apa, ini untuk kebaikanmu juga.” Ia membarinkan tubuh si penjaga makam di tanah. Lalu ia berlari menuju tembok belakang makam, dan dengan gerakan akrobat yang luar biasa ia melompati pagar yang tingginya sekitar dua meter itu dengan sekali lompatan.

Kau tahu apa yang paling membahagiakan di dunia ini? Melihat Hyunmi masuk sekolah setelah izin selama enam hari benar- benar membuatku bahagia. Tapi kenapa matanya terlihat seperti panda?

“Hyunmi-ah kau baik- baik saja kan? Kenapa sampai enam hari tidak masuk sekolah?” Hey Wooyoung kenapa kau malah bertanya seperti itu?

“Ne, aku baik- baik saja kok. Kemarin aku hanya mengunjungi saudaraku di Cina,” ucapnya sambil tersenyum, tetapi aku tahu ada yang ia sembunyikan dibalik senyumnya itu. Jujur saja, hari ini ia juga agak aneh. Biasanya jika ku tanyai ia akan diam, tetapi sekarang kenapa ia menjawab begitu saja. Ah, sudahlah, bukankah itu perkembangan yang baik?

“Hyunmi-ah, nanti sepulang sekolah temani aku main ya?”

Uh, sepertinya Hyunmi yang dulu telah kembali. Dia hanya diam.

“Bagaimana? Mau tidak?” aku bertanya  lagi, untuk memastikan.

Lagi- lagi hening. Kulihat dahinya berkerut, mungkin sedang mempertimbangkan tawaranku. Lama, sampai akhirnya ia tersenyum dan mengangguk.

“Gomawo Hyunmi-aaaaahhh…..” saking senangnya aku sampai refleks memeluknya.

“Wooyoung-ah, sesak….”

Buru- buru aku melepaskan belukanku padanya yang sejujurnya tak ingin kulepaskan. “Oh, mianhae Hyunmi-ah. Aku terlalu senang.”

Dan lagi- lagi ia hanya menanggapi permintaan maafku dengan senyumnya yang membuatku ingin melayang.

Seorang gadis yang bisa diperkirakan berumur sekitar delapan belas tahun nampak berjalan di kawasan International Shopping Center. Mantel cokelat almond yang membalut tubuhnya sangat pas dipadukan dengan skiny jeans hitam dan sepatu kets yang berwarna senada. Ia mengamati dengan cermat setiap papan nama toko di sepanjang kompleks pertokoan itu. Sekian lama berjalan akhirnya ia berhenti di depan sebuah minimarket yang terlihat cukup sepi. Senyum tipis mengembang di bibir mungilnya.

“Taemin, dimana Jonghyun?” tanya gadis itu kepada kasir minimarket yang bernama Taemin itu.

“Di tempat biasa, dia sudah menunggumu dari tadi.”

“Oh maaf jujur saja aku bingung. Ada banyak toko di sini. Baiklah, aku duluan Taemin-ah. Semoga harimu menyenangkan,” ujar wanita itu seraya meninggalkan Taemin menuju pintu bercat kuning yang terletak di pojok minimarket.

Minimarket itu hanya terlihat seperti minimarket biasa dengan pintu depan terbuat dari kaca, rak- rak yang tersusun rapi dan sebuah pintu yang mengarah ke tempat yang biasa disebut gudang. Namun, jika seseorang lebih berani masuk ke ruangan tersebut, ia akan tahu bahwa ruangan yang ada di balik pintu itu bukanlah gudang, melainkan ruang tempat transaksi senjata dilaksanakan.

“Annyeong Jonghyun-oppa. Maaf sudah membuatmu lama menunggu,” ujar gadis itu ramah.

“Aku sudah tahu kau akan terlambat. Duduklah,” ucap laki- laki itu. Laki- laki yang bernama Jonghyun itu berperawakan sedang, dan bertubuh lumayan kekar. Wajahnya tampan dan senyumnya memikat. Mungkin umurnya sekitar awal dua puluhan. Sekilas, t-shirt press body dan celana jeans yang digunakannya membuatnya terlihat seperti anak muda biasa, tetapi kenyataannya ia bukanlah anak muda biasa.

“Tak usah Jonghyun-oppa. Aku sedang terburu- buru,” tolak gadis itu halus.

Laki-laki itu berdiri, “Apa yang kau butuhkan Lin? Atau, aku harus memanggilmu___”

“Tak usah, panggil aku dengan nama kecilku ku saja. Oppa, kau ada katana yang berukuran kurang dari enam puluh sentimeter, tipis dan berbahan ringan?”

Jonghyun berjalan ke depan sebuah lemari berukuran sedang. Ia menekan kode akses lemari tersebut. Seketika pintu lemari terbuka. Di dalamnya terdapat berpuluh- puluh katana dengan berbagai jenis dan ukuran. Ia mengambil satu dengan ukuran terkecil.

“Ukurannya empat puluh delapan sentimeter, tipis, namun paling tajam diantara semuanya. Terbuat dari campuran titanium dan baja pesawat. Kau mau?” Jonghyun menyerahkan katana tersebut pada gadis  yang memanggilnya ‘oppa’ itu.

Gadis itu mengambilnya dan mengayun- ayunkannya sebentar. “Hmmm, bagus.”

Jonghyun tersenyum, “Sudah kuduga kau akan menyukainya. Kau yang pertama menyentuhnya selain aku. Bahkan, EAGLE pun belum kuberitahu tentang katana itu. Kau kemari hanya butuh itu?”

Gadis itu tampak berpikir sejenak. “Oppa, kau punya senapan otomatis yang lebih baik dari Revolver 6mm milik Pith?”

“Senapan otomatis yang lebih baik dari milik Pith? Ada memang. Aku memilikinya, tetapi untuk apa Lin?” Jonghyun bertanya dengan nada menyelidik.

“Nanti oppa juga akan tahu. Yang penting ada atau tidak?”

Jonghyun tak menjawab. Ia hanya berjalan menuju lemari lain dan kembali menekan nomor kombinasi yang berbeda. Di dalam lemari itu terdapat berbagai senapan dengan berbagai jenis dan kaliber. Ia mengambil satu diantaranya.

“Ini Revolver tipe 6A, berkaliber lebih kecil dan dengan peredam suara. Peluru yang digunakan juga peluru khusus. Senapan ini yang terbaik yang kumiliki,” jelas Jonghyun.

“Boleh aku memilikinya Oppa?”

“Boleh, asal kau memberitahuku kau akan menggunakan itu untuk apa,” ucap Jonghyun pebuh selidik. Mungkin orang yang tidak terbiasa bersamanya akan takut dengan tatapan matanya, namun tidak dengan gadis itu yang sudah mengenal Jonghyun sejak kecil.

“Baiklah kalau oppa memaksa. Itu akan kugunakan untuk tugas terakhirku,” ucap gadis itu sambil tersenyum.

“Tugas terakhir? Kau mau berhenti, Lin?” Jonghyun tak percaya dengan ucapan gadis di depannya itu.

“Ya oppa, aku akan berhenti.”

“Tapi, bagaimana bisa…..” Jonghyun belum selesai berbicara, namun gadis itu menginterupsinya.

“Tentu saja aku sudah punya rencana sendiri oppa. Oppa, ini resmi jadi milikku kan?” Ia mengambil senapan yang berada di tangan Jonghyun dan mencari peluru yang sesuai di laci lemari, membiarkan Jonghyun yang masih belum mempercayai rencananya ke depan.

“Oppa, aku duluan ya. Terima kasih untuk semua ini. Biayanya akan aku transfer ke rekeningmu paling lambat nanti sore. Annyeong,” gadis itu hendak meninggalkan Jonghyun sebelum Jonghyun mencekal tangannya.

“Tunggu Lin!” Tiba- tiba Jonghyun menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Ia memeluk gadis itu cukup lama.

“Lin, aku tak tahu apa rencanamu, tetapi kau harus berjanji kau akan baik- baik saja oke!”

“Baik oppa, aku berjanji.” Jawab gadis itu sambil tersenyum.

“Kau juga harus berjanji akan menemuiku lagi setelah tugasmu selesai. Akan kutraktir menonton konser piano di Paris. Dan satu lagi, bila ada kesulitan apapun hubungi aku. Aku pasti akan membantumu.”

“Paris? Aku mau ke Paris oppa. Baiklah, aku akan menghubungimu kapanpun aku mebutuhkanmu. Kau kan oppa ku hehehe….”

Kulirik arlojiku untuk kesekian kalinya. Masih pukul 20.05, tandanya ia baru terlambat lima menit. Ayolah, Wooyoung kau itu datang terlalu cepat. Aku berujar pada diriku sendiri. Namun, sejujurnya aku juga tidak yakin kalau Hyunmi akan datang. Hey, Jang Wooyoung laki- laki macam apa dirimu? Tidak bisa mempercayai seorang gadis.

Suara gemercik air mancur di taman ini mulai meredup, digantikan oleh musik mulai bergulir. Dentingan piano seolah ingin mencemoohku, seorang laki- laki tak sabaran yang tengah menunggu kedatangan gadis yang dicintainya.

“Kau sudah lama menunggu?” Suara lembut itu mengalihkanku dari minor211 composition yang tengah dimainkan oleh sang pianis. Kutatap sang pemilik suara indah itu dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan kesimpulanku hanya satu: Dia benar- benar sempurna! Ia mengenakan dress putih selutut dan blazzer berwarna almond yang dipadukan dengan sepatu kets yang berwarna putih pucat. Rambutnya dibiarkan tergerai dengan bandana yang dipakainya semakin membuatnya terlihat cantik. Elegan dan casual di saat yang sama.

“Wooyoung-ah?’ Sontak kesadaranku puling seketika begitu ia mengibaskan tangannya di depan mukaku. Astaga, apakah aku benar- benar menggilainya?

“Hyunmi, duduklah,” aku menyuruhnya untuk duduk di sebelahku. Ia pun menurut.

“Wooyoung-ah, sebenarnya kenapa kau mengajakku kemari?” Hyunmi bertanya tanpa basa- basi. Aish, aku harus mulai dari mana untuk mengatakannya?

Kuraih tangan Hyunmi dan menggenggamnya. Kutarik nafas berat sebelum aku mengucapkannya. “Hyunmi-ah, saranghae.”

Kulihat Hyunmi hanya tersipu. Semburat merah mulai nampak di pipinya. “Ne, nado.”

Aku hanya tersenyum mendengarnya. Ternyata perasaan kami sama. Tanpa komando, kepala kami saling mendekat…mendekat…dan mendadak semua berubah menjadi gelap.

“Maaf merusak kencanmu, Sky,” kalimat itulah yang kudengar pertama kali saat aku tersadar.

“Brengsek kau Eagle!!!” Umpatku pada laki- laki paruh baya yang tengah memandangku dengan tatapan meremehkan.

“Maaf nona manis, aku terpaksa melakukannya. Sebenarnya aku sudah tahu sejak awal kau mencintai laki- laki lemah itu. Dan kau tahu? Tugas yang kuberikan itu hanyalah jebakan untuk memancingmu kemari. Yah, walaupun sebenarnya ia ditawarkan dengan harga mahal. Kau juga tahu kan hukum pembunuh bayaran kan? Ia tak akan berhenti sebelum mati…”

“Cepat katakan apa maumu!” ucapku sengit.

“Hahahahahahahaha……” tawanya menggema di ruangan ini. “Mauku? Aku ingin kau dan bocah itu mati,” ia menodongkan pistolnya ke arahku dan Wooyoung yang belum sadarkan diri.

“Membunuhku? Tapi kenapa?”

“Hey Sky, aku tahu seluruh rencanamu. Kau akan melaporkan organisasi ini pada FBI dan kepolisian internasional kan? Jangan kira kau bisa lakukan itu, SKY!!!”

“Hyunmi-ah sebenarnya apa yang terjadi?” Wooyoung yang sudah sadar dan mulai menyadari situasi bertanya dengan nada menginterupsi padaku.

“Wooyoung-ah…”

“Heh bocah lemah. Apakah kau tidak tahu siapa sebenarnya kekasihmu itu? Dia adalah PEMBUNUH BAYARAN! Kau tahu DIA PEMBUNUH BAYARAN !!!”

Bisa kutebak Wooyoung pasti terbelalak. “BOHONG!!!! Hyunmi bukanlah pembunuh bayaran! Keparat kau pak tua!!!” Wooyoung hendak berdiri, namun tak bisa karena tangan kam sama- sama diborgol ke tiang.

“Kau tak percaya bocah??? Kau boleh tanya kepada nya langsung. Ya kan Nona Alicia Barnet, Oh Meng Lin, Sky, oh atau mungkin kau mengenalnya dengan nama Park Hyunmi?”

Keparat kau Eagle!!! Umpatku dalam hati.

“Hyunmi-ah, dia berbohong kan?” Wooyoung menatapku intens.

“Tidak Wooyoung-ah, dia benar. Aku seorang pembunuh…” ucapku lirih.

“Kau bohong Hyunmi-ah!!! Katakanlah kau bohong!!!!” suaranya mulai terdengar parau. Mianhae Wooyoung-ah.

“Dia jujur bocah! Dan kau tahu, kau seharusnya berterima kasih kepada kekasihmu itu. Karena sebenarnya ia kusuruh untuk membunuhmu, namun ia menolaknya dan memilih untuk melindungimu. Meskipun sekarang ia harus menerima resikonya.”

Wooyoung menatapku tak percaya. “Kenapa tidak kau lakukan tugasmu, Hyunmi?”

“Aku tak mungkin membunuh orang yang aku cintai,” ucapku sambil tersenyum padanya.

“Oke, berhenti berpacaran! Saatnya kalian mati!!!” Eagle mengayunkan katananya pada ku, namun langsung kutangkis dengan katana yang terselip di bali jaketku.

Pertarungan antara dua pembunuh bayaran berlangsung seimbang. Sky dan Eagle. Sama- sama memiliki kecepatan, kemampuan dan insting yang sama- sama kuat. Meskipun usia Eagle jauh lebih tua, jangan kira staminanya lemah. Justru ia benar- benar kuat. Dilain sisi Hyunmi lah yang mulai menurun akurasi serangannya. Bayak tendangan, pukulan dan ayunan katanya yang meleset.

“Ayo Nona manis, mana kekuatanmu?” Eagle mendekati hyunmi yang tersungkur di lantai. Luka sayatan ataupun tendangan sudah memenuhi sekujur tubuhnya. Ia merasa tulang- tulangnya sudah hampir remuk, namun semangatnya lah yang membuatnya bertahan.

“Hyunmi-ah…,” rintih Wooyoung. Ia sebenarnya tidak rela melihat kekasihnya sendiri mempertaruhkan nyawanya demi dirinya.

Entah kekuatan apa yang merasuki tubuh Hyunmi, perlahan ia mulai bangkit. Ia mulai berdiri dengan katana yang terhunus.

Dengan cepat Eagle maju menyerang Hyunmi, tetapi Hyunmi hanya diam tak bergerak sama sekali.

“Hyunmi-ah, ayo menghindarrr!!!!” Teriak Wooyoung.

Tanpa Eagle sangka, ketika katana nya terayun untuk menebas tubuh Hyunmi, Hyunmi justru berkelit ke samping dan menggunakan celah si bagian tubuh sebelah kiri Eagle yang kosong.

“ARGHHHH!!!!!!” Jerit Eagle begitu perutnya tersabet katana Hyunmi.

Tak hanya sampai disitu. Hyunmi melepaskan tendangannya tepat di arah tengkuk yang menyebabkan Eagle ambruk seketika.

Ia menjatuhkan katananya, berjalan dengan terpincang- pincang ke arah Wooyoung sebelum akhirnya ia roboh tepat di pangkuan Wooyoung.

“Hyunmi-ah, bangun. Kumohon,bangunlah…” Ia hanya dapat meratapi orang yang baru menjadi kekasihnya harus meregang nyawa karena dirinya.

Tanpa mereka berdua sadari, Eagle yang sudah sekarat perlahan tangannya mengambil pistol yang terselip di balik bajunya. Dan sedetik setelah itu suara retetan tiga tembakan terdengar.

 

~FIN~