LOVES ME, NOONA part 3

Title:  LOVES ME, NOONA

Author: Song Miin Ah

Main Cast : Kim Jonghyun, Park Hyunra

Support Cast : SHINee

Length : sequel

Genre : Romance

Rating : General

 

~~~~~

Hyunra POV

 

Sejak itu Jonghyun tidak pernah mengunjungiku. Sudah 2 minggu kurasa dia bahkan tidak mau bertatapan mata denganku. Sudah 2 minggu pula, ada Kibum yang menggantikan sosok Jonghyun dihari-hariku.

From: Miinah-ya

            Eonni! Aku ditelfon Kibum-oppa pagi ini. Katanya ia pergi dan tidak bisa jemput kau. Kau sudah dengarkan? Eonni, kau mau kujemput? Atau kuberitahu Taeya-eonni? Biar Taeya-eonni memaksa Jjong-oppa menjemputmu?

 

To: Miinah-ya

            Andwae! Hari eonni akan naik bus saja. Gwenchana. Jangan beritahu Taeya, arra?

 

From: Miinah-ya

            ANDWAE! ANDWAE! Kau kujemput saja, ok?

 

To: Miinah-ya

            Jangan bawa mobil. Kau masih dibawah umur. Tenang saja, hari ini Jinki yang jemput aku. Cepat siap-siap. Jam 11 harus sudah sampai di KBS ya? Arraso? Jangan telat!

 

Aku menuruni tangga apartemenku sambil berusaha memosisikan headphoneku sebenar mungkin. Tapi kenyataannya headphone ini tidak bisa benar posisinya. Aku sudah terlalu kaget untuk melanjutkan pekerjaanku tadi.

“Selamat pagi, eonni.”

Aku masih terdiam melihat gadis dengan kaki dan tubuh semampai berdiri bersandar di mobil ferari merah miliknya. “Mau ke KBS? Ayo kita bareng. Eonni tidak jemput siapa-siapa kan?”katanya sambil membukakan pintu mobilnya.

“Aku… mianhae Sekyung. Aku dijemput Kibum nanti.” Balasku.

“Wah, kau belum tau? Key kan sedang ada urusan. Jonghyun yang bilang padaku tadi. Kau tidak diberitahu Jonghyun, eonni?” tanyanya dengan wajah tanpa bersalah. Apa maksudmu? Bukankah kau tau aku dan Jonghyun sedang bertengkar? Apa kau berusaha memanas-manasiku?

“Tidak. Kurasa tidak. Kau tenang saja, Sekyung. Jinki sudah menawarkan diri mengantarku tadi.” Balasku ketus.

“Aaah… jadi bukan hanya Key ya? bahkan Onew pun juga. kurasa eonni pandai menarik hati namja.”

“Kurasa memang bakatku. Sudah jam segini Sekyung-ah. sebaiknya kau tidak terlambat. Kau tau? Jonghyun tidak suka yeoja yang tidak tepat waktu.” Sindirku sambil terus menatapnya kosong. Dia tertawa pelan. Suara tertawa yang paling menjijikkan yang pernah aku dengar seumur hidupku.

“Gwenchana. Kalau kau tidak ingin ikut dengan mobilku yasudah. Aku hanya ingin memberikan ini.” Dia menyerahkan sebuah undangan berwarna perak. Apa ini? Aku menatapnya curiga.

“Jangan melihatku begitu. Ini bukan undangan pertunanganku dengan Jonghyun. Ini hanya undangan birthday party ku. Eonni harus datang ya?” dia berlalu sambil menaiki mobilnya.

“Kalau undangan pertunangan, warnanya pasti pink-kan?” katanya sambil memacu mobilnya kencang meninggalkanku. Aku langsung melempar undangan itu ketanah. “YAAA!!! KENAPA MENYEBALKAN SEKALI?” teriakku.

Aku berjongkok ditanah sambil memungut undangan itu. Paboya! Memangnya kenapa kalau Jonghyun dan Sekyung tunangan? Harusnya aku senangkan? Haaaah…. pabo.

Aku mengambil handphoneku,

“Miinah? Ucapan eonni tadi, eonni tarik lagi. Kau boleh jemput eonni. Eonni sudah hilang selera untuk naik bus dan Jinki tak akan datang.”

 

~~~~

Aku terus saja memutar-mutar undangan itu. Aku harus bagaimana? Apa harus aku tolak? Kalauku tolak… berarti aku pengecut. Kalau aku datang… YA! aku harus datang dengan siapa? Jonghyun? Tidak mungkin.

“Noona?” aku sontak menoleh kearah pintu. “Kibum-ah, kau sudah kembali?” tanyaku. Dia berjalan menghampiriku, “Ya. maaf aku tidak bisa jemput kau pagi ini. Aku baru bisa dapat pesawat jam 9 pagi tadi. Jeongmal mianhae…”

“Gwenchanayo. Aku diantar Miinah tadi. Aku mengerti.” Ujarku sambil menaruh undangan itu di meja rias. “Ah! Noona dapat undangan dari Sekyung rupanya?” tanyanya.

“Ne. Tapi aku tak tau akan datang atau tidak. Aku bukan aktris. Aku tak mau jadi anak hilang disana.” Anggukku.

“Ya! noona… aku kan juga temanmu…” Kibum meraih kedua tanganku. Sekejap wajahku memanas. “Jonghyun juga.” lanjutnya.

“Gomawo Kibum-ah. tapi kurasa Jonghyun tak akan sudi menganggapku ‘teman’ atau ‘noona’ nya lagi.”

Dia menatapu tajam dengan mata rubahnya itu, “Hmm.. kalau begitu aku juga tidak akan menganggapmu noonaku atau temanku.”

“MWO?” kagetku. Aku tak percaya kibum juga kesal padaku. Apa yang kuperbuat sebenarnya akhir-akhir ini?

“Aku akan menganggapmu sebagai yeoja yang kusukai. Yeoja yang paling cantik didunia.”Sedetik kemudian bibirnya sudah mendarat dipipiku. Rasanya aku seperti sedang mabuk. Wajahku panas dan memerah. Debaranku bahkan lebih cepat dari kereta. Tapi apa? Fikiranku penuh dengan wajah Jonghyun. Wajah Jonghyun kecil yang dulu selalu mencium pipi Hyunra kecil dengan tulus.

Rasanya mataku panas dan sedikit berair.

 

~~~

Jonghyun POV

 

Aku tak percaya dengan apa yang aku lihat. Mataku serasa ingin jatuh kelantai dan rasanya ingin kuinjak sampai hancur. Jantungku sakit. Bukan jantung, tepatnya hatiku sakit dan terasa sangat nyeri. Aku bermaksud minta maaf padanya hari ini. Tapi setelah melihat ini, aku yakin tak akan mampu melakukannya.

Mataku pedih ketika melihat bibir Key mendarat dipipinya. Semakin sakit ketika Hyunra-noona tidak menolak sedikitpun. Dia bahkan tidak bergerak seinchi pun.

Rasanya lututku lemas. Bahkan aku yang berototpun bisa lemas sampai tak kuat berdiri seperti ini. Ya… otot bukanlah ukuran seberapa namjakah dirimu. Aku belajar dari semua ini. Aku terduduk dipintu. Kupastikan mereka tidak dapat melihatku. Kupastikan juga mereka tidak bisa melihat air mataku yang mengalir ini.

“Jeongmal saranghaeyo, Park Hyunra…”

Walau Key berbisik, aku bisa mendengarnya. Saat ini aku hanya berharap aku adalah orang tuli. “Aku….” kali ini suara Hyunra lah yang terdengar jelas memasuki rongga telingaku. Aku bangkit dan menjauh secepat mungkin. Kalau tidak, koran besok pagi pasti akan sangat heboh. Ya, headline-nya akan tertulis,

‘ Jonghyun SHINee tewas bunuh diri melompat dari lantai teratas gedung KBS’

~~~~

Hyunra POV

 

Tidak kusangka aku akan berani datang kepesta ini. Dresscode kali ini warna putih, aku sudah mengenakan dress warna putih terbaikku. Aku juga sudah menata rambutku sebaik mungkin. Entah kenapa, aku ingin Jonghyun melihatku dengan tampilan seperti ini.

Aku melangkahkan kakiku keluar mobil. “eonni… hwaiting!” bisik Taeya. Aku harus berterimakasih pada kelima anak didikku karena telah mengubah penampilanku menjadi sangat bagus. Setidaknya itu menurutku.

Aku terus mengatur nafasku sepanjang perjalananku masuk ketengah tengah pesta. Ah, aku grogi sekali. Tapi tunggu… kenapa semua memakai pakaian hitam? Dresscodenya kan putih?

“hey… apa-apaan gadis itu? Padahalkan dresscode kali ini hitam? Kenapa dia pakai dress satin berwarna putih seperti itu?” bisik seseorang yang tak jauh dariku.Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Malu rasanya menjadi pusat pandangan semua mata. Aku seperti… orang bodoh. Bagaimana ini? Kalau kabur dari sini kan tidak lucu?

“Hyunra-noona!” panggil seorang namja dengan jas hitamnya.

Aku mendongakkan kepalaku, “Ah… kibum..”

“Noona neommu yeoppo.” Katanya sambil memperhatikanku dari kaki sampai rambut. Kurasa dia juga merasa aku aneh karena hanya aku yang memakai baju putih.

“Ah, kurasa aku salah kostum ya?” tawaku lirih. Sudah cukup aku malu dikalangan artis berkilau seperti ini.

“Memang. Ah maaf eonni… aku tidak sengaja memberimu undangan yang salah cetak padamu. Undanganmu tertukar. Maaf. Karena aku, kau harus menanggung malu seperti ini…”

Ya, suara sok seksi yang menggelikan ini mengiang ditelingaku. Aku yakin kau sengaja, Sekyung. AH! kenapa yeoja ini menjijikkan sekali? Tapi aku tak bisa menyumpahinya disini. Aku bisa semakin malu.

“Tidak apa-apa. Park Hyunra adalah yeoja yang cantik dengan pakaian apapun. Tidak masalah kalau ia berbeda disini. Bukankah dengan itu… tandanya dialah yang paling special disini?” Kibum yang kurasa menyadari perasaanku  langsung berdiri dihadapanku. Menghalangi padangan Sekyung padaku.

“Tapi apa asyiknya jadi yang spesial kalau dia tidak bangga dengan itu? Kurasa dia terlihat malu, Key-sshi. Lihatlah, bukankah harusnya dia menghormati peraturan tentang dresscode? Setidaknya hormatilah dan hargailah pesta kecil-kecilan ini, Hyunra-eonni…” kata Sekyung sambil melirikku sadis.

“Kau tidak beritahu dia tentang kejelasan masalah dresscode.” Kibum terus menutupiku dibalik punggungnya.

“Aku sudah beritahu Jonghyun…. ah… aku lupa kalau dia dan Jonghyun sedang bertengkar. Mianhae. Jonghyun tak akan mau menghubunginya, bukan? Lagipula kau juga tidak beritahu dia, Key-sshi.”

Yeoja ini benar-benar….

“Hentikan Sekyung.”

Aku menoleh. Jonghyun-ah?

 

~~~~

Jonghyun POV

Dia terlihat jelas dikerumunan. Tentu saja karena ia satu-satunya yang memakai baju putih. Didepannya ada Key. Dia juga sibuk menggenggam erat jas Key dari belakang. Aku cemburu, tapi tunggu. Ada yang tak beres. Ada Sekyung disana dan Key tampak marah dengan Sekyung.

“Aku sudah beritahu Jonghyun…. ah… aku lupa kalau dia dan Jonghyun sedang bertengkar. Mianhae. Jonghyun tak akan mau menghubunginya, bukan? Lagipula kau juga tidak beritahu dia, Key-sshi.”

Benar dugaanku. Nenek sihir ini pasti berulah. Aku langsung menghampirinya. “Hentikan Sekyung.” Perintahku. Sekyung hanya menatapku sinis lalu sedetik kemudian berubah lagi mejadi senyum culas seperti biasanya.

“Hhm.. bagaimana? Apa kau mau ganti dengan pakaianku, eonni?” tawarnya. Apa lagi rencananya. Aku menatap Hyunra-noona, tapi dia masih bengong memperhatikanku. Ah, aku ingat. Sudah 2 minggu lebih aku dan dia tidak saling menatap. Pantas saja dari tadi hatiku berdebar senang dan sakit ketika mataku bertemu dengan matanya.

“Tidak perlu. Aku yang akan tanggung jawab.” Ujar Key. Di melepas jas hitam yang ia kenakan. Sekarang ia hanya memakai kemeja putih dan dasi hitam. Ia mengenakan jasnya di tubuh Hyunra-noona.

“Sekarang yang spesial bukan hanya dia. Tapi aku juga. kami hitam-putih sekarang. Kau tak usah khawatir, Sekyung. Hyunra sudah punya pasangan sekarang.” Ujar Key sambil menarik tangan Hyunra-noona menjauh dari kami berdua. Pasangan?

 

~~~~

 

Aku minum alkohol. Hanya setengah gelas. Tapi kepalaku sudah pusing. Aku tidak mabuk. Aku yakin ini bukan mabuk. Hanya pusing. Aku memaki diriku sendiri. Kenapa tadi kau tidak berfikir untuk bersifat gentle dan memberikan jasmu pada Hyunra? Ahh!! Pabo.

Dia duduk disana. Ditepi pesta yang tidak ramai. Aku tahu dia benci ramai. Dia terlihat sangat bercahaya dengan dress putih seperti itu. Baru kali ini dia berdandan seperti itu. Aku baru sadar kalau dia cukup seksi untuk…. Arrgh!!! Lupakan. Apa yang ada difikiranmu, Kim Jonghyun!

Entah ada setan apa aku berjalan menghampirinya. Dia hanya menatapku bengong dan bingung. Aku menarik tanganya dan membawanya ketempat yang lebih sepi.

“Jonghyun? Ada apa?” dia terus bertanya ketika aku menarik tangannya.

Aku tidak menjawab dan langsung memeluknya, “neommu sexy…”

“YAAA!!! Apa yang kau lakukan!!” dia menjerit kaget sambil meronta. Dia terus memukuli punggungku. Beginikah? Aku hanya memelukmu. Bukankah kita sering melakukan itu? Kau bahkan tidak bergerak ketika Key mencium pipimu. Apa aku semenjijikkan itu, hingga kau terus menolakku?

“Jonhyun-ah… kau mabuk? Kumohon. Lepaskan aku!” dorongnya ketakutan. Aku terus membenamkan kepalaku di tengkuknya. Kalian tahu aku namja yang mudah menangis kan? Ya… aku menangis sekarang. Aku melepaskan pelukanku dan memegangi pundaknya kencang, “Tatap aku.”

“Appoooo…” tangisnya. Kenapa kau menangis? akulah yang paling terluka saat ini.

“Kenapa kau terus menolakku? Kenapa kau selalu menerima Key? KATAKAN KENAPA, PARK HYUNRA? AKU MENYUKAIMU. AKU MENCINTAIMU!!” bentakku tepat didepannya. Dia hanya menangis dan menatapku ketakutan. Jangan tatap aku seperti itu.

Aku mendorongnya ketembok, dan aku mencuri ciuman pertamanya.

 

~~~~

Hyunra POV

Aku menamparnya keras hingga memerah. Dia menciumku. Mencuri ciuman pertamaku hanya untuk nafsunya. Hanya untuk melampiaskan kekesalanya padaku. Dasar namja brengsek.

“Beginikah kau menganggapku, Jonghyun? Masih bisakah kau memintaku menerimamu setelah ini? Bagaimana aku bisa menerimamu. Menerima orang yang bahkan tidak bisa menghargaiku? Inikah yang kau sebut dengan bersikap seperti namja? Kalau begitu, kau namja brengsek, Jonghyun….” tangisku.

~~~~

Key POV

Aku mencarinya. Tapi dia tidak ada dimana pun. Hingga aku sadari sesosok yeoja dengan baju putih berlari kearah kolam luar di taman belakang.

“HYUNRA-NOONA!” aku berteriak memanggilnya. Tapi dia tidak dengar. Tunggu… kenapa ia berlari-larian? Dan… kenapa wajahnya basah? Tanpa fikir panjang aku langsung mengejarnya.

~~~~

Jonghyun POV

 

Dia menamparku sangat keras hingga aku terjatuh. Kurasa ia mengerahkan semua tenaganya untuk menjauhkanku darinya. Dari sini aku bisa melihat wajahnya yang gemetar dan air matanya yang mengalir membasahi pipinya.

“Beginikah kau menganggapku, Jonghyun? Masih bisakah kau memintaku menerimamu setelah ini? Bagaimana aku bisa menerimamu. Menerima orang yang bahkan tidak bisa menghargaiku?Inikah yang kau sebut dengan bersikap seperti namja? Kalau begitu, kau namja brengsek, Jonghyun….”

Dia mengatakan itu sambil menatapku jijik. Tetapi dia tetap tidak bisa menutupi tatapan kecewa dan ketakutannya padaku. Apa yang telah kulakukan? Dia melepas sepatunya dan melemparnya kearahku. Sepatu ini… pemberianku saat ulangtahunnya tahun lalu.

Sepatu ini terasa sakit ketika mengenai tubuhku. Tapi hatiku jauh lebih sakit ketika aku melihat dia membuang sepatu pemberianku. Dia mengangkat dressnya dan berlari meninggalkanku.

~~~~

Hyunra POV

 

Aku tak tau apa yang telah membuatnya sampai seperti ini. Aku tak tau apa yang membuat Jonghyun berani berbuat seperti itu padaku. Dia bukan Jonghyun. Jonghyun tidak akan bersikap seperti itu padaku. Menjijikkan. Kenapa dia merenggut impianku? Impianku, impian bahwa suatu saat dia akan menciumku. Tapi dengan cinta. Bukan untuk nafsunya.

Aku lelah. Aku berjongkok didepan kolam renang yang gelap. Aku takut dengan air sebanyak ini. Rasanya gelap dan akan menelanku. Tapi entah kenapa, kali ini aku ingin air ini menelanku. Menghilangkan aku dari dunia ini.

Tunggu. Aku merasa punggungku didorong dengan kencang. Bunyi air kolam langsung bergemeriak begitu tubuhku masuk kedalam kolam. Aku tidak sempat melihat siapa yang mendorongku. Tapi aku sempat mendengar seorang gadis bicara,

“Gadis tidak tau malu. Anak kampung mati saja. Siapa dia berani dekat-dekat dengan Key? Hhh.. akhirnya misi selesai. Sekyung pasti senang.”

Aku terus merota didalam air. Tak sedetikpun kepalaku bisa muncul ke permukaan air. Tuhan tolong. Kutarik kembali kata-kataku. Aku tak mau ditelan oleh air. Aku tidak mau mati konyol seperti ini. Aku tak mau mati dalam keadaan bertengkar seperti ini.

Aku merasa sebuah tangan menarik pinggangku. Terimakasih

~~~~

Key POV

 

2 orang gadis mendorongnya ke kolam 3 meter. “HENTIKAAAN!” teriakku. Mereka menoleh lalu langsung berlari. Aku langsung melepas sepatu dan dasiku. Aku langsung melompat kedalam air. Tuhan, tubuhnya sudah tidak bergerak. Selamatkan dia kali ini saja. Begitu kami berdekatan, aku langsung menarik pinggangnya dan berenang keluar kolam.

~~~~

Jonghyun POV

 

Semua orang berlari kearah kolam. Ada apa ini?

“ADA GADIS YANG  TENGGELAM!” teriak seorang pria paruh baya sambil berlari tergesa-gesa. Tenggelam? Kolam? Aku langsung punya firasat buruk. Hyunra tidak pernah bisa berenang. Aku langsung berlari kekolam dan menerobos kerumunan. Sesosok gadis sudah tergeletak pingsan dibibir kolam.

“HYUNRA!” aku hendak mendekatinya. Tapi terlambat, Key mendahuluiku.

~~~~

Key POV

 

Dia berhasil kukeluarkan dari kolam. Tapi dia tidak bernafas. Aku ketakutan bukan main. Tangannya dingin. Apa yang harus aku lakukan? Aku memompa jantungnya, tapi dia tetap tidak merespon. “Hyunra… ayo bernafas…” pintaku. Sekyung.. akan kubunuh dia kalau sampai sesuatu yang buruk terjadi pada Hyunra.

“HYUNRA!” kulihat Jonghyun berusaha menerobos kerumunan.

Aku tidak punya pilihan lain. Ini satu-satunya cara menyelamatkannya. Aku tidak mau ada yang melakukan ini padanya selain aku. Aku mendekatkan wajahku kewajahnya dan kuberikan nafasku untuknya.

~~~~

Hyunra POV

 

Aku merasa ada yang mengalir ditubuhku. Rasanya hangat dan membuat tubuhku panas. Aku membuka kedua mataku dan mendapati aku dan Kibum sedekat ini. Ia melepaskan bibirnya dari bibirku ketika ia sadar aku mulai membuka mataku. Rupanya ia memberikan aku kesempatan untuk bernafas. Aku langsung memuntahkan semua air kolam yang ada ditubuhku.

“Syukurlah…..”

Kibum langsung memelukku ketika aku mulai duduk. Air mukanya begitu khawatir. Bajunya basah. Pasti dialah yang menyelamatkanku tadi. Fikiranku langsung melayang ke 5 menit yang lalu… aku refleks memeluk Kibum seerat mungkin. Orang ini… kalau saja dia tak ada. Kalau saja dia terlambat. Aku pasti tidak akan pernah merasakan kehangatan seperti ini. Aku pasti sudah mati.

“Aku hampir mati. Hampir mati…” tangisku. Tubuhku kembali bergetar hebat membayangkan kolam yang begitu gelap dan dalam.

“Tenang saja. Aku akan melindungimu,” Kibum mengangkat tubuhku. Aku meletakkan kepalaku dibahunya, “Terimakasih.”

Samar-samar diantara kerumunan, Jonghyun berdiri menatapku begitu nanar. Kenapa kau hanya menatapku? Kenapa bukan kau yang menyelamatkanku? Kenapa kau diam saja ketika kibum menyentuh bibirku?

~~~~

Jonghyun POV

Key menggendongnya menjauhi kerumunan. Dia hanya menatapku lemas dari balik bahu Key. Aku sudah tak tahu harus berbuat apa? Bagaimana kalau tadi dia mati? Bagaimana kalau aku tak akan bisa melihat dia lagi?

Aku lemas. Rasanya semua syarafku berhenti berfungsi. Aku sudah tak tau harus apa lagi. Aku tak tau harus merasa apa. Aku melihatnya dicium oleh Key. Berbagi nafas dengan Key. Kurasa akulah yang sebenarnya mati.

Aku menyeka air diujung mataku dan membuka jasku. “Taemin, bisakah kau berikan ini kepada Hyunra-noona?” aku memberikan jasku pada Taemin. Taemin mengangguk dan langsung memakaikannya pada Hyunra.

Aku berbalik masuk kedalam gedung. Ada yang harus kubicarakan dengan Sekyung.

tbc~