Tittle : Marriage is troublesome

Author : Winda Hardiyanti Putri

Length: continue

Genre : Romance, Marriage life

Main Cast : Park Jiyeon T-ARA, Lee Taemin Shinee

Supporting cast : Lee Jaejin FT Island

Rate : PG – 13

 

Annyeong J. Untuk pertama kalinya nih aku kirim FF ke sini.

FF ini juga udah aku kirim ke PJYFF ( parkjiyeonfanfiction.wordpress.com).

Nggak usah terlalu berbasa – basi ya. langsung aja.

Happy Reading J

Jiyeon P.O.V

“Cukkae Jiyeon-ah” Aku membalikkan badanku berhadapan dengan pemilik suara itu. Lee Jaejin Sunbae rupanya.

“Gomawo”

“Selamat menempuh hidup baru” Sunbae-nim itu mengatakannya sambil tangannya mengacak – acak rambutku yang masih tertata rapi ini. Aku kira Jaejin sunbae itu tak mau datang.

+++

Ini untuk kesekian kalinya aku menginjak rumah ini. Tapi mulai saat ini aku akan tinggal di rumah ini. Aku membuka pintu kamar tidur Lee Taemin yang sebentar lagi juga menjadi kamar tidurku. Omo…. Berantakan sekali.

“ YAAAAAAAAAA!!!!! LEE TAAAAEEEEEEEMIIIIIIIIIN!!!”

“ Hah? Ada apa?”

“ Sampai kapan kau biarkan rumah ini berantakan, huh?” Padahal tadinya aku kira seisi rumah ini sudah rapi karena ini hari pertamaku tinggal di sini. Sudah sejak SMA kami saling mengenal. Apa dia masih belum tahu kalau aku tak suka melihat apapun yang berantakan?

“ Memangnya kenapa? Bukannya membersihkan rumah itu menjadi tanggung jawab istri?”

“ APA? Kau tega sekali. Bahkan ini hari pertama aku tinggal di sini… Kau jahat Lee Taemin!”

 

Taemin P.O.V

“ YAAAAAAAAAA!!!!! LEE TAAAAEEEEEEEMIIIIIIIIIN!!!”

Jiyeon. Apa yang terjadi dengannya? Apa ada sesuatu? Dengan panik, aku menghampirinya. Tapi, kulihat dia baik – baik saja.

“ Hah? Ada apa?”

“ Sampai kapan kau biarkan rumah ini berantakan, huh?” Dia melotot  layaknya sundel bolong yang punggungnya sudah di tambal.

Hanya karena berantakan sedikit, dia berteriak – teriak seperti itu. Padahal aku hanya berjarak satu meter darinya. Dia sama sekali tidak kasihan dengan telingaku.

“ Memangnya kenapa? Bukannya membersihkan rumah itu menjadi tanggung jawab istri?” Jawabku dengan sedikit membela diri.

“ APA? Kau tega sekali. Bahkan ini hari pertama aku tinggal di sini… Kau jahat Lee Taemin!” Dia berjalan meninggalkanku. Bibirnya cemberut, tapi dia imut. Tak lama kemudian, aku mendengar langkah kakinya yang datang menghampiriku.

“ Igo” Dia memberiku sebuah kemoceng dan kulihat tangannya sedang menggenggam sebatang sapu ijuk.

“ Mwoya?” Tanyaku tak mengerti.

“ Kita membersihkan sekarang.” Jawabnya ketus.

“ Kau yakin sekarang?” Astaga. Padahal dibadannya masih melekat gaun putih yang berat itu. Sedangkan aku, aku juga masih memakai jas putih ini. Bahkan dasipun masih tergantung di kerah bajuku. Jangankan dasi, dia saja masih memakai kaos tangan putihnya.

“ Iya. Sekarang.”

“ Setidaknya kita ganti baju dulu.”

“ Lee Taemin! Kau ini cerewet sekali! Gaunku dua kali lebih berat dari jasmu. Tenagaku hanya setengah dari tenagamu. Seharusnya aku lebih kesusahan darimu.”

“ Kalau begitu ganti baju saja. Kalau rusak bagaimana? Kau tahu kan harga gaunmu itu setengah harga mobilku.” Jawabku sedikit memelas. Lagi pula, membersihkan? Aku sedang malas.

“ Jadi kau lebih sayang uangmu dari aku? PALLIWA!”

“ Iya. Tak usah berteriak dan melotot seperti itu. Kau tidak kasihan dengan matamu yang cantik itu, hah?”

“ PALLI!” Dia malah tambah mengencangkan suaranya.

Dengan malas, aku ikut membersihkan. Dengan jas di badanku dan gaun pengantin di badannya. Aish, Jiyeon ini. Dia tidak berubah sama sekali. Melihat yang berantakan sedikit saja sudah seperti melihat kapal titanic pecah tertabrak gunung es.

+++

“ Taemin-ah. Bantu aku.” Jiyeon mendekatiku. Kulihat jempol dan telunjuknya sudah semerah ceri karena gaun ini. Aku membantunya melepaskan kancing yang tersembunyi di belakang gaunnya. Yah, mudah sekali. Tapi kenapa tangannya sampai semerah itu? Aish, yeoja ini. Dia selalu tidak punya tenaga yang cukup, kecuali untuk memarahiku. Kalau marah, tenaganya dua kali lipat dariku.

“ Sudah.”

Dia pergi meninggalkanku tanpa berterimakasih sedikitpun. Pelit sekali.

+++

Malam ini, aku kira akan banyak makanan yang enak dia masak untukku. Tapi kenyataannya, meja makan kosong. Ku lihat Jiyeon sudah merebahkan dirinya di atas tempat tidurku. Eh, maksudku tempat tidur kami.

“ Chagi-ah, aku lapar.” Aku sedikit memelas dan memasang wajahku dengan ekspresi se-kasihan mungkin

“ Aku lelah, Chagi. Kau masak sendiri saja yah!” Dia lalu membalik badannya membelakangiku.

Deg. Masak sendiri? Aish, Jiyeon ini.. Sebenarnya dia siap menikah atau tidak?

 

Jiyeon P.O.V

“ Chagi-ah, aku lapar.”

“ Aku lelah, Chagi. Kau masak sendiri saja yah!”

“ Yah. Kau jahat sekali. Kau tidak kasihan dengan badan suamimu yang kurus kering ini?”

Ku dengar Taemin memelas. Sebenarnya aku kasihan juga. Aku bangun dari baringku dan menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki. Benar – benar kurus.

“ Ya sudah. Mau makan apa?”

“ Apa saja. Asal jangan yang instan. Roti tawar juga jangan.”

Aku melangkah kedapur. Untuk pertama kalinya aku berurusan dengan masak – memasak. Sebelumnya aku tak pernah. Aduh, bagaimana ini?

Ah, aku pernah melihat Umma-ku membuat nasi goreng. kelihatannya tidak terlalu sulit, meskipun aku belum pernah mencobanya. Semoga saja berhasil.

“Ya, masukkan ini. Campurkan ini. Jangan lupa yang ini. Eh, tambah yang ini sepertinya enak.”

“ Chagi-ah, makanannya siap.”

 

Taemin P.O.V

“ Chagi-ah, makanannya siap.”

Aku langsung berjalan menuju dapur untuk mengusir cacing – cacing kelaparan dalam perutku yang sudah banyak protes dan tidak bisa kompromi sejak tadi.

“ Gomawo, Chagi.”

Aku memasukkan nasi goreng ini ke dalam rongga mulutku.

UHUK….UHUK… UHUK…

Aku meneguk segelas air untuk menetralkan rasa nasi goreng ini yang rasanya seperti air laut.

“ Chagi-ah.. Terlalu asin.”

“ Pokoknya harus habis!” Jawabnya ketus.

“ Kau tega melihatku mati karena tekanan darah tinggi? Lagi pula kenapa garamnya banyak sekali? Kau kira suamimu ini penderita gondok?”

“ Harus habis! Siapa suruh membangunkanku dan menyuruhku masak. Itu salahmu sendiri.” Jiyeon mengambil piring dan sendokku ke depannya. Ah, biar dia coba sendiri bagaimana asinnya.

“ Buka mulut!”

“ Hei.. Kau sendiri belum mencobanya.”

“ Buka mulut!” Dia mendekatkan sendok itu ke depan wajahku.

“…”

“ Palliwa!”

“ Arasseo.”

Malang benar nasibku menjadi suami Jiyeon.

+++

Aku memasuki kamar dan sepertinya Jiyeon mengekor di belakangku. Aku merebahkan diriku di atas tempat tidur.

“ Chagi-ah, Mianhae.”

“ Untuk apa?”

“ Waktuku tak lama lagi.”

“ Apa maksudmu Lee Taemin?” Dari suaranya, sepertinya dia khawatir.

“ Sebentar lagi aku akan mati. Mati mengenaskan. Aku harap kau tak membiarkan wartawan melihatku saat aku mati. Itu terlalu sadis.”

“ Memangnya kau sakit apa? Kenapa tak pernah cerita?” Jiyeon melotot dan menggenggam lenganku dengan kedua tangannya.

“ Keracunan.”

“…”

“ Dan yang parahnya lagi, yang meracuni itu istriku sendiri. Aku keracunan garam karena makan nasi goreng.”

“ Mati saja kau Mr. Lee! Aku akan menandatangani sertifikat kematianmu.”

Dan sejuta cubitan dari tangannya mendarat di perutku

“Chagia! Chagia!… Ampun… Ampun…”

Jiyeon P.O.V

Setega apa sih, aku di matanya? Bisa – bisanya aku meracuninya. Itu tak sengaja. Aku benar – benar tidak bisa masak.

“ Mati saja kau Mr. Lee! Aku akan menandatangani sertifikat kematianmu.” Ah, menyebalkan sekali. Aku menyerangnya dengan cubitan yang membabi buta di perutnya. Siapa suruh menyindirku seperti itu.

“Chagia! Chagia!… Ampun… Ampun…”

Aku menghentikan aksiku kemudian membuang tubuhku di atas ranjang yang besar ini. Untung saja ranjangnya empuk. Kalau tidak, dia benar – benar sudah mati saat ini. Seperti kebiasaanku, tidur dengan lampu yang padam. Bagaimana dengannya? Aku menyiapkan telingaku untuk mendengar protesnya.

Lama

Lama

Syukurlah, dia tidak protes. Semoga Lee Taemin sama sepertiku. Tidak bisa tidur kalau ruangannya terang.

“ Chagi-ah.”

Aduh, Lee Taemin itu. Baru saja aku kira dia tidak memprotes apa – apa. Tapi sekarang, apalagi kalau bukan protes?

“ Mwoya?”

“ Mau mulai sekarang sayang, Hum?”

Aku bergidik mendengarnya berbicara tepat di telingaku.

“ Besok saja. Aku lelah!” Aku tidak bohong. Aku betul – betul lelah. Pulang dari gedung, langsung membersihkan sampai sore. Malamnya di suruh masak. Belum lagi Taemin itu membuatku menguras tenaga sebanyak mungkin karena tak bosan – bosannya membuatku marah.

“ Ck. Ya sudah. Selamat tidur Chagi..”

Dia lalu mencium pipiku. Tak lama kemudian aku tak merasakan apa – apa lagi, aku mulai terlelap.

“ Chagi-ah..”

“ Apa lagi Lee Taemin?”

“ Kenapa kau tidurnya jauh – jauh dariku? Memangnya di tembok itu ada bayangan sunbae mantanmu itu, huh?”

Sudah kuduga. Aku pasti tak bisa tidur nyenyak malam ini. Kebiasaanku merapatkan diri ke tembok dan memeluk dua bantal guling sekaligus. Tapi aku sedang tak mood untuk berdebat dengannya. Aku menjauhi tembok itu dan mendekat ke dirinya.

“ Park Jiyeon! Kau itu niat menikah denganku atau tidak, huh?”

“ Ada apa lagi?”

“ Memangnya guling itu lebih ganteng dari aku, ya? Kenapa kau peluk guling itu? Bukan aku?”

Astaga. Hanya karena ini dia membangunkanku? Tega sekali. Aku menyerah. Aku melepas gulingku dan memeluknya sebagai pengganti bantal guling. Aish, rasanya seperti memeluk tulang – tulang.

Tiga hari kemudian

-TBC-

Bagaimana? Jelek ya? GeJe ya? Hksss… Hksss (nangis di pojokan) mianhae readers. Aku akan berusaha semaksimal mungkin J

Ada yang mau kasi kritik, saran, atau ada yg mau memuji (memangnya ni ff patut di puji yah? T__T)

silahkan kalo ada.