Author             :  Choi Reri

Judul               :  What Should I do ? chapter 1

Main cast        : Choi Siwon

Im Yoona

*dirahasiakan*

Lee Donghae

Tiffany Hwang

Kim Jongwoon aka Yesung

Kim Kibum

Genre              : Romance, Sad, Friendship

Rate                : G

Length             : Two Shoot

Disclaimer       :

semua cast dalam cerita ini merupakan tokoh real dan alur ceritanya MURNI dan ASLI  hasil imajinasiku.

DON’T BE A PLAGIATOR !!!

Cuap-Cuap Author :

Anyyeong chingu…

Choi Reri here..

Reri baru dibidang per-ff.an

Mian karena ceritanya gaje

Gomawo buat author SJFF yang publish ff gajenya Reri J

FF ini pernah di publish di wp pribadi Reri http://choireri.wordpress.com

Warning !!!

Typo bertebaran

Hehehe

Happy Reading  chingudeul

Aku menghembuskan napas lega dan mulai memasukkan semua alat tulis kedalam tas setelah dosen terkiller di jurusan ini mengakhiri penjelasannya. Dua jam yang sangat membosankan. Bagaimana tidak, dari awal sampai akhir Yesung Sosaengnim hanya membahas business managemen. Aku tidak membenci mata kuliah ini, aku bahkan sangat menyukainya karena aku memang ingin menjadi business woman agar bisa meneruskan perusahaan appa. Sebagai putri tunggal, aku tidak ingin mengecewakan appa yang telah bersusah payah membangun perusahaan konveksinya dari nol. Oleh karena itu, aku memutuskan untuk masuk ke Kyunghee University dan memilih College of Business Administration.

“Yoong, temani aku ke kantin. Aku sangat lapar. Mendengar cerita dongeng dari Yesung sosaengnim, membuatku sangat KE-LA-PA-RAN. Yayaya?” rengek Tiffany sambil memberiku eyelashes dengan matanya yang lentik. Tiffany adalah sahabatku sejak tingkat pertama dan dia memang lebih suka memanggilku dengan Yoong daripada Yoona. Katanya, biar lebih mudah disebutkan dan tidak membuang tenaga. Alasan yang aneh, tapi aku tidak pernah mempermasalahkannya.

“Berhentilah memberiku eyelashes Tiff, aku bukan Donghae oppa yang bisa kau luluhkan dengan itu”

“Aiis, kau memang sahabatku yang sangat menyebalkan” katanya sambil mengerucutkan bibir.

“Hahahaa… aku hanya bercanda barbieku sayang. Kajja”

“Kajja” ia tersenyum lebar dan menarik lenganku kuat.

@canteen

Ternyata sudah ada Donghae oppa yang menunggu kami di kantin. Aiisss… kalau sudah ada pacar tercintanya ini, kenapa Tiffany masih memintaku untuk menemaninya. Umpatku dalam hati. Benar-benar sahabat yang tidak punya perasaan. Bisa-bisa aku menjadi kambing congek melihat kemesraan mereka berdua.

“Tiffany sayang, kenapa kau lama sekali chagi?” sambut Donghae oppa sambil mencubit pipi Tiffany dengan gemas. Benar saja, belum apa-apa mereka sudah mengumbar kemesraan. Tunggu saja Tiffany SAYANG, aku akan membuat perhitungan denganmu. Batinku.

“Mianhae yeobo, kami baru selesai dari kelas Yesung sosaengnim. Oppa sudah makan?” balas Tiffany sambil menatap manja kearah Donghae oppa.

Hello, disini masih ada yeoja manis yang dari tadi kalian berdua acuhkan. Aku mengerucutkan bibir menahan kesal dan sepertinya Tiffany menyadarinya.

“Aiigoo Yoong, mianhae aku lupa kalau kau ada disini” cengirnya dan langsung kuberi ia tatapan mematikan

“hahahaha…. kalian berdua sangat lucu” kata donghae oppa. Lucu??? Kami sedang perang dingin oppa. Apanya yang lucu.

“Kau memang selalu melupakanku kalau sudah ada Donghae oppa” kataku sambil mendengus sebal.

“Aniyo Yoong, kau kan orang yang paling kusayang setelah Donghae oppa”  Ia mengedipkan matanya padaku.

“ne.. ne.. ne… aku mengerti. KEDUA”

“Yoong, kau mau memesan apa?” tanya Donghae oppa padaku mengalihkan pembicaraan karena kurasa ia takut kalau akan terjadi perdebatan panjang diantara aku dan pacar TERSAYANGnya ini.

“Cappuchino saja oppa, aku masih kenyang tapi dipaksa ke kantin oleh orang yang menyayangiku nomor dua ini” aku dan Donghae oppa tertawa melihat reaksi Tiffany yang langsung mengerucutkan bibirnya.

“Kau tidak menanyakan pesananku oppa? Aku cemburu ah” rajuk Tiffany

“Tanpa perlu kutanyakan, aku sudah tahu chagi apa yang kau inginkan. Apa kau lupa, aku bahkan lebih mengenalmu daripada dirimu sendiri” dapat kupastikan wajah Tiffany langsung merona mendengar ucapan Donghae oppa.

Donghae oppa beranjak untuk memesan makanan kami dan tak butuh waktu lama, dua cappuchino, jus melon,  dua sandwich dan french fries sudah ada diatas meja kami. Tiffany mulai melahap pesanannya seolah dia tak makan selama seminggu. Aku hanya tersenyum melihat kelakuan sahabatku ini. Sepertinya dia melupakan program diet ketatnya.

“ah, aku hampir lupa. Ada titipan salam dari Siwon untukmu Yoong” kata Donghae oppa disela-sela ia menyeruput cappuchinonya.

“Siwon? Wah ternyata Siwon oppa belum menyerah juga untuk menarik perhatianmu Yoong. Coba kalau dia menyukaiku pasti sudah kuterima dari awal. Dia sangat sempurna. Tipe ideal semua yeoja” kata Tiffany untuk menggoda Donghae oppa.

“yak, apa yang kau bicarakan chagi? Aku ini pacarmu. Teganya kau memuji namja lain dihadapanku”

“itukan fakta… ahh coba saja Siwon oppa melirikku” Tiffany semakin menggoda Donghae oppa

“Kau… apa kau benar-benar sangat menyukainya chagi?” tanya Donghae oppa dengan gusar

“tentu aku menyukainya oppa. Dia sangat sempurna”

“oooo….” hanya tu yang keluar dari mulut Donghae oppa tapi tampak jelas raut kecewa dari wajahnya.

“tenang saja oppa, aku menyukainya tapi aku hanya mencintaimu yeobo. Hatiku hanya untuk ikan mokpo Lee Donghae”

“Jinjja??? Hatiku juga hanya untukmu chagi. Hanya untuk barbieku Tiffany Hwang”

Aku hanya menggeleng melihat kelakuan aneh dari kedua orang yang ada dihadapanku ini. Jika ada penganugerahan untuk Weird Couple. Aku yakin, mereka akan memenangkannya. Aku cengar-cengir membayangkannya.

“heyy… Yoong kenapa kau cengar cengir seperti itu? Apa kau memikirkan Siwon oppa” tanya Tiffany antusias yang membuat Donghae oppa langsung menatapku penasaran.

“andwae… Aku tak memikirkannya”

“Sudahlah Yoong mengaku saja”

“Apa yang harus kuakui, aku memang tak memikirkannya Tiffany sayang… Arraseo?”

“arra.. tapi aku masih tak habis pikir, kenapa kau selalu mengabaikan namja seperti Siwon oppa. Apa yang kurang darinya?”

“Molla…”

“Jangan katakan kalau kau masih memikirkan ….?” Tiffany menggantung pertanyaannya.

“Sudahlah chagi, jangan mendesak Yoona. Mungkin memang belum saatnya” Sela Donghae oppa.

Kulirik Tiffany yang mendengus sebal. Aku tahu dia tidak suka Donghae oppa menyela pembicaraan kami saat dia masih sangat penasaran dengan jawabanku. Aku menatap Donghae oppa dengan penuh terimakasih karena telah menyelamatkanku dari pertanyaan itu. Pertanyaan yang selalu kuhindari. Bukan karena aku tak mau menjawabnya, tapi aku terlalu takut untuk menjawabnya. Aku takut dengan kenyataan yang ada karena aku ingin tenggelam dalam duniaku sendiri, dimana masih ada aku dan dia. Hanya kami berdua.

Setelah selesai makan, aku berpisah dengan Tiffany dan Donghae oppa. Mereka langsung menuju parkiran mobil, sedangkan aku berjalan kearah perpustakaan. Hemm… Perpustakaan. Sudah sangat lama aku tak ke tempat itu. Tempat yang penuh dengan kenangan. Disanalah aku pertama kali bertemu dengannya.

Tak butuh waktu lama, aku telah sampai di depan gedung perpustakaan yang sangat dibanggakan oleh mahasiswa dan mahasiswi Kyunghee University. Bukan hanya karena koleksi bukunya yang lengkap tapi fasilitasnya juga dapat diacungi jempol. Selain itu, bangunannya bisa disebut megah dan bahkan terkesan mewah. Didesain ala bangunan-bangunan europa.

Kusapukan pandangan ke seluruh ruangan ketika kakiku telah masuk ke perpustakaan. Tak banyak yang berubah, masih sama seperti setahun yang lalu. Buku-buku tersusun dengan rapi sesuai dengan kategorinya. Aku menuju rak buku yang ada dipojok kanan, bertuliskan Novel dan Sastra. Kuambil satu novel, covernya  yang berwarna biru langit menarik perhatianku. Aku semakin tertarik ketika membaca judulnya, Love in Blue Sky. Blue.. warna favoritnya. Lagi-lagi aku teringat padanya. Kutekan dada kiriku dan menghembuskan nafas pelan lewat mulutku untuk menghalau rasa sesak yang selalu kurasakan ketika mengingat dirinya.

Kulangkahkan lagi kakiku menuju sofa yang tak begitu jauh dari tempatku tadi. Satu lagi alasan yang membuat perpustakaan ini menjadi idola yaitu sofa yang disusun secara terpisah. Menciptakan suasana yang nyaman dan private sehingga tak perlu khawatir apa yang kita baca dilihat oleh orang lain.

Aku meletakkan tasku di atas meja dan duduk diatas sofa. Kubuka perlahan covernya dan mulai membaca halaman pertama. Alur cerita dan gaya bahasa yang digunakan membuatku semakin tenggelam. Seolah-olah akulah yang menjadi peran utama dalam cerita ini.

Aku menitikkan air mata dan langsung kuhapus dengan jari telunjukku. Kisah yang mengharukan, tapi aku tak sanggup untuk membacanya sampai akhir. Aku terlalu takut mengetahui akhir cerita ini. Aku takut, jika kisahnya juga berakhir dengan tragis sama seperti kisahku dengannya. Kututup novel yang ada ditanganku dan kukembalikan lagi ke rak buku tempatku mengambilnya tadi.

Kulirik jam tanganku. Sudah pukul 3 sore. Aku tersentak ketika mengingat bahwa aku ada janji menemani eomma ke salon langganannya. Aku berjalan keluar menuju parkiran mobil dengan tergesa-gesa, tapi tiba-tiba ada yang menghalangi jalanku.

“Annyeong princess, kenapa tergesa-gesa seperti ini? Bagaimana kalau kau terjatuh?” Aku mendongak dan tatapan kami bertemu.

“Aku sedang tergesa-gesa Siwon-ssi. Kalau tidak keberatan, bisakah kau menyingkir?” kataku dingin

“Aku tak akan menyingkir princess sebelum kau setuju pulang denganku”

“Kamsahamnida.. tapi tak perlu repot-repot Siwon-ssi, aku membawa mobil sendiri”

“Sampai kapan kau akan memanggilku dengan embel-embel ‘ssi’ seperti itu, tak bisakah kau memanggilku oppa seperti kau memanggil Donghae?” ucapnya lirih

“Mianhae, tapi aku tak bisa” jawabku ketus dan ia hanya memandangku dengan tatapan yang sulit dijelaskan.

“Kalau sudah tak ada yang ingin dibicarakan, tolong menyingkir. Aku sedang tergesa-gesa” ia menyingkir kesamping  dan aku langsung berjalan kembali menuju mobilku. Kubuka pintu mobil dan setelah menghidupkan mesin mobil, aku langsung menekan gas dan melesat pergi. Ia masih berdiri disana. Mianhae Siwon sunbae atas kata-kata dan sikap kasarku, aku tak bisa memberimu harapan yang tak bisa kuberikan.

——–

Hoam… Aku menguap untuk kesekian kalinya. Ternyata, kemarin eomma tidak hanya memintaku untuk menemaninya ke salon tapi juga menemani hobi utamanya. Apalagi kalau bukan shopping. 4 jam keluar masuk butik cukup membuat sekujur badanku remuk. Untung eomma juga membelikanku beberapa baju, tas dan sepatu baru yang menjadi obat ampuh penghilang rasa lelah.

Kuambil hp yang kuletakkan di atas nakas yang ada disamping tempat tidurku. Pantas tak ada bunyi sama sekali. Aku lupa menghidupkannya setelah kumatikan semalam. Kutekan tombol switch off untuk menghidupkannya. Tak selang berapa lama, berkali-kali hpku bergetar. Satu, dua, tiga …. ada 16 sms masuk. Kubuka inboxku. Ada sms dari Tiffany yang mengabarkan bahwa hari ini kami masuk kuliah pukul 9, lebih awal dari biasanya. Selain itu, hanya ada satu nama yang memenuhi inboxku. Siwon sunbae. Mulai dari menanyakan apakah aku sudah sampai rumah, sudah makan atau belum, ucapan selamat tidur dan masih banyak hal-hal lainnya. Kuletakkan kembali hpku diatas kasur dan aku beranjak ke kamar mandi untuk bersiap-siap kuliah hari ini.

Aku kembali bercermin memastikan tak ada yang aneh dari penampilanku hari ini, setelah itu aku langsung turun kebawah untuk sarapan. Eomma tersenyum melihatku.

“Anak eomma semakin cantik” puji eomma

“gomawo eomma, eomma juga selalu cantik seperti biasanya”

“Sarapan dulu, eomma sudah menyiapkan roti bakar kesukaanmu”

“ne… gomawo eomma”

Kucium pipi eomma sebelum aku melangkahkan kaki keluar menuju mobil kesayanganku. Aku berhenti ketika bibi eunso menyerahkan sebuket mawar merah untukku. Tak perlu kulihat siapa pengirimnya, karena aku sudah bisa menebak dari siapa bunga ini. Setiap pagi Siwon sunbae selalu mengirimkan sebuket mawar merah sebagai ucapan selamat pagi. Kuakui, ia namja yang romantis dan sangat perhatian. Tapi sayang, hatiku telah tertutup rapat. Kuletakkan bunga itu diatas meja ruang tamu dan aku kembali melangkah keluar rumah.

——–

Hanya ada satu mata kuliah hari ini, jadi setelah menyelesaikan pelajaran dari Kibum sosaengnim tadi aku langsung berpisah dengan Tiffany. Memikirkan kasurku yang empuk membuatku berniat cepat-cepat pulang. Harus kulampiaskan rasa kantuk ini. Sayangnya, rencana tinggal rencana. tak semulus yang kubayangkan. Aiiss.. apa-apaan ini. Kenapa mobilku tak mau hidup. Sudah berapa kali kucoba menghidupkannya tapi tetap tak bisa.

 

tok tok tok

Ada yang mengetuk kaca mobilku. Aku menoleh untuk melihatnya. Aku mengerutkan kening ketika ia memintaku keluar dengan kode tangannya. Kubuka pintu mobil dan melangkah keluar.

“Ada yang salah dengan mobilmu?”

“Aku juga tak tahu.. sudah kucoba beberapa kali tapi tetap tidak bisa dihidupkan”

“Kau semakin lucu ketika cemberut seperti itu.. hahaha..”

“Sudahlah, menyesal aku berbicara dengamu Siwon-ssi”

“hahaha.. kau cepat sekali ngambek princess.. Aku kan hanya bercanda.. Hari ini aku yang akan mengantarkanmu pulang”

“Shirreo.. Aku akan menelpon Kim ahjusiee untuk menjemputku”

“Lebih baik pulang denganku. Anggap saja sebagai permintaan maafku karena telah membuatmu cemberut tadi” pintanya tulus

“emmmm…”

“Tak perlu banyak berpikir.. kajja” ia mengambil kunci mobilku dan menguncinya kembali. Setelah itu, ia menarik tanganku dan membukakan pintu mobilnya untukku.

Kami terdiam cukup lama sampai dia memulai pembicaraan.

“mau mendengar lagu apa princess?”

“emm… apa saja”

“bagaimana kalau just the way you are???”

“ne.. aku suka lagu itu” timpalku

Suasana kembali hening diantara kami berdua ketika alunan musik mulai terdengar. Tapi tak cukup lama, karena sayup-sayup kudengar ia mulai ikut bernyanyi. Suaranya bagus, tak kalah merdu dengan penyanyi aslinya. Kutepiskan pikiran anehku. Pabo… kenapa aku menuruti ajakannya tadi. Paboya…

Ia menghentikan mobilnya tepat dihadapan rumahku. Aku mengucapkan terima kasih dan beranjak keluar tapi tiba-tiba ia menahan tangan kananku.

“Tunggu sebentar” katanya padaku dan aku hanya terpaku. Hari ini sudah dua kali ia memegang pergelangan tanganku. Lagi-lagi aku tak sempat berontak. Ia beranjak keluar, mengitari depan mobilnya dan perlahan membukakan pintu mobil untukku. Aku sedikit kikuk dengan semua perlakuannya. Dari dulu, aku memang menyukai namja yang membukakan pintu mobil untuk seorang yeoja. Terkesan klasik tapi bagiku itu hal penting. Menunjukkan kalau namja itu benar-benar menghargai yeoja itu. Hal yang terkadang diangggap remeh oleh kaum namja tapi sangat berarti bagi kaum yeoja. Kuyakinkan hatiku bahwa aku hanya kagum dengan sikap gentlenya, tidak lebih. Ya, aku sangat yakin dan aku kembali mengucapkan terimakasih dengan wajah dingin sebelum masuk ke dalam rumahku.

 

~TBC~

Gimana chingu?

Gajekah?

Mianhae mianhae..

Reri akan berusaha lebih keras untuk bisa lebih baik lagi. *bungkuk 90derajat*

Keep read n comment ya chingu

Baik kritik atau saran reri terima semuanya

Itu merupakan semangat dan motivasi buat reri kedepannya *apaan sih bahasanya*

^^

Kalau suka jangan lupa Like ya chingu

Hee..

Gomawo :*

Oya, ada yang bisa nebak tokoh yang dirahasiakan ?

Ada petunjuk yang reri kasih lho

😀