Cast: KyuToria (Kyuhyun SJ-Victoria f(x))

cameo: Xiao

1.113 words
***

‘Chagiya…  jinjja jinjja choaeyo..

Bogoshippoyo

Our heart to heart loving affection bridged by a trip of ethereal touch’

 

Yeoja berponi ini terkikik melihat adegan terakhir namjachingu nya dan ‘istri’ dari namjachingu nya itu.

Memang ia pernah sakit karena tingkah laku suaminya ini, tapi tidak bisa dipungkiri bahwa sekarang, tayangan yang pernah ia anggap laknat ini menjadi hiburan yang cukup ampuh baginya.

Bagaimana ia tidak menganggapnya lucu melihat suaminya –dengan kaku dan anehnya- mencoba berbahasa cina selama dua episode berturut-turut?

Ingat bagaimana kejamnya Kyu  saat ia menjahili istri virtualnya itu dengan menyuruhya menghabiskan mie yang jelas-jelas rasanya tidak karuan seperti itu?

                “Qian, hari ini, aku akan membuatkanmu ramen terbaikku! “ Ujar Kyuhyun menggebu-gebu sambil menggunakan apron merahnya. Tangan kanannya memegang panci, dan tangan kirinya memegang spatula.

                “Kau yakin hasilnya akan layak makan Kyu? Aku belum mau mati!” Ujar Qian sambil duduk di kursi pantry, melihat lekat-lekat mata namjachingunya itu.

                “Aku tidak mau kalah dari ‘Appa-Khun’ mu itu! Dia mungkin bisa membuat pasta yang katanya enak, tapi tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan ramenku.” Ujarnya narsis sambil menyibukkan dirinya.

Qian hanya menatap tingkah laku namjachingu-nya itu dengan hati berdebar –seperti biasa-. Semua lelah yang ia rasakan meluap seketika ketika ia bisa melihat namja ini tersenyum, atau mengeluarkan kata narsisnya.

                “Aku bantu?” Kata Qian menawarkan. Sebenarnya ia agak sedikit khawatir dengan keadaan Kyu yang terus mengumpat saat air mendidih mengenai sedikit tangannya.

Namja itu hanya mengibaskan tangannya dan bilang ‘au’ tanpa suara, lalu berkata dengan nada sok kalemnya “Tidak usah, kau duduk diamlah yang manis, arra?”

                Qian hanya cemberut, lalu memain-mainkan poninya. Sikapnya memang lebih kekanakan dari umurnya. Tapi itulah yang membuat Kyu makin menyayanginya, “Tapi tanganmu?” Qian masih saja khawatir melihat bekas memerah yang membekas ditangan Kyu.

                “Sudahlah, aku tidak apa-apa! Aku pernah mengalami musibah seribu kali lebih menyakitkan dari ini, kau ingat?” Gumamnya sambil menyunggingkan senyuman favoritnya, lalu mencincang daun bawang dengan… berantakan.

                Qian tersenyum dan sedikit mengangguk tanda ia mengerti. Masih segar dalam ingatannya  waktu Kyuhyun terdampar di rumah sakit, koma, dan diam di rumah sakit selama beberapa bulan. Senyuman pucatnya, dan…

Air mata Qian yang nyaris tak pernah berhenti saat itu terjadi.

Saat itu, ia masih baru di Korea, baru sekitar satu tahun setengah ia diam di seoul. Karena itu, ia masih kurang fasih bahasa korea. Tapi, itulah yang paling berkesan. Saat ia mulai merasakan getar itu, dan merasakan perasaan seperti mau mati saat hal buruk terjadi pada Kyu.

Saat itu, saat Kyu masih berkutat pada rumah sakit, yang ada dipikirannya adalah… bagaimana cara untuk menggantikan posisinya. Menggantikan posisi Kyu, biarlah Qian yang merasakan sakitnya.

                “Hei! Mie ramen buatan cho Kyuhyun sudah matang! Ayo makan!” Ujar Namja yang sejak tadi ia pikirkan itu dengan  wajah sumringah. Merupakan suatu kebanggaan baginya bisa bergelut dengan panas kompor dan berakhir dengan jiwa yang selamat.

                Qian menatap mangkok ramen itu lekat-lekat, memastikan bahwa makanan ini memang layak makan. ‘Hm… dari wanginya sudah enak’ Pikirnya.

                “Kau juga makan Kyu!” Qian membawakan satu sumpit lagi untuk Kyu.

Mereka berdua mencoba mie ramen tersebut, lalu cekikikan.

                “Rasanya aneh” Ujar Qian To The Point.

                “Iya, mie-nya terlalu matang, kuahnya terlalu banyak, dan yang jelas rasanya hambar.” Kyuhyun menanggapi sambil mengangguk. Ia sama sekali tidak keberatan dengan ‘pujian’ yang dilontarkan Qian.

                “Kau hanya menghamburkan stok mie ramenku Kyu! Mulai sekarang, kau tidak boleh memasak, hanya aku yang akan memasakan ramen untukmu, arrachi?” Ujar Qian sambil mulai membereskan panci dan membersihkan kompor.

                “Hoaah… baguslah, lagipula aku memang ingin kau yang memasakkannya untukku. Lagipula kau ‘kan calon istriku, sudah sewajarnya jika calon suamimu yang tampan ini merepotkanmu, iya ‘kan?”

Qian hanya menggelengkan kepalanya dan menyimpan apron yang tadi dipakai Kyuhyun kembali ke tempatnya. Lalu ia menatap mangkuk mie ramen –gagal- yang masih penuh itu, dan menatap jahil pada Kyu.

                “Chagiii~” Qian memanggil Kyu manja. Mungkin buat orang lain terdengar manis, tapi untuk Kyu, itu mengerikan!

                “Wae? Astaga! Berhenti memanggilku seperti itu Qian! Kau membuatku takut!”

                “Habiskan Mie ramen ini atau…” Qian mengambil PSP milik Kyu yang terdampar di meja “ aku cuci ini sekalian dengan pancinya, bagaimana?”

                Kyu hanya tersenyum terpaksa, tapi matanya tidak seperti tersenyum, melainkan seperti ingin menangis, “Yang benar? Kau… menyayangiku bukan?” Kyuhyun menelan saliva-nya saat menatap mie ramen yang begitu ‘menggoda’ di hadapannya.

                “Iya, tentu saja aku menyayangimu. Tapi saat ini rasanya lebih sayang jika mie ramen buatanmu itu harus dibuang sia-sia Kyu!”

****

Qian terkikik lagi saat mengingat kenangan konyolnya bersama Kyu. Hubungannya berbeda dengan adegan Kyu dan istri virtualnya itu. Qian tidak pernah dinyanyikan lagu dengan iringan piano, dia juga tidak pernah diajak ke restoran romantic. Bahkan untuk sekedar berbelanja ke luarpun ia tidak pernah.

Tapi entahlah, meskipun ia tidak melakukan hal-hal yang selayaknya sepasang kekasih lakukan, Kyuhyun masih menempati posisi special di hatinya.

“Qianniee~ sedang apa?” Ujar Kyu seraya merangkul bahunya, “He? Kau menonton ini lagi? Kau tidak apa-apa ‘kan?” Kyuhyun menempelkan punggung tangannya pada dahi favoritnya itu.

“Ani… nan Gwenchana… hanya saja, kau terlihat bodoh Kyu! Bukan kah kejadian mie ramen ini pernah kita alami dulu? Hanya saja objek penderitanya kau! Hahaha!”

“Yeah, kau benar. Tapi aku tidak bisa membalas dendam padamu langsung. Jadi, aku mengerjainya. Kau tahu? Selama aku mengikuti realty show itu, yang terbayang olehku hanya kau” Ujar Kyu sambil menyenderkan bahunya ke kursi,” dan, wanita cina yang aku deskripsikan itu jelas-jelas kau.”

“Hm… aku pernah mendengar gossip tentang itu, dan ternyata kau membuat gossip itu benar.”

“Gossip?”

“Iya, fans kita sudah menduganya sejak lama. tapi naasnya itu membuat antisku semakin banyak.” Gumam Qian. Sebenarnya ia ingin merahasiakan soal antisnya pada Kyu, tapi mulutnya ini berbicara diluar kontrolnya.

“Mianhe…” Kyuhyun mengelus kepala Qian lembut sambil melancarkan kecupan lembut di kepalanya. Ia tahu benar bahwa ada sedikit dari fansnya yang menjadi antis Qian. Meskipun ia berusaha tidak memikirkannya, tapi tetap saja sulit!

Rasanya menyakitnya melihatnya di bash, rasanya sama seperti seolah ia yang dibenci. Dan tentu saja itu rasanya menyebalkan.

Karena itulah Kyuhyun menyanyikan lagu ‘please love her’ di radio beberapa waktu yang lalu.

Please love her, because I love her… and you never know how much I love her. It will never end.

                “Kyu!”

“Hm?”

“Kau memberinya tiket pesawat ke Seoul juga, eh?”

“He’em”

“Wae? Kau mau membuatku mati berdiri?” Ujar Qian agak meninggi. Untuk apa Kyu memberi istri virtualnya itu tiket ke Seoul? Hal itu jelas-jelas bisa membuat Qian mati berdiri.

“Untuk membuatnya mengenal istriku yang sebenarnya, bagus ‘kan? Yah… aku inginnya kita menikah sebelum ia dating ke Seoul”

“Mwo?!” Qian syok. Asli!

“Oh, tiket itu berlaku sampai dua minggu lagi, dan kita juga punya waktu kira-kira tiga belas hari untuk mempesiapkan resepsi pernikahan seperti yang kau inginkan.” Ujar Kyuhyun sambil membenarkan posisi duduknya,” Jadi, alangkah lebih baik jika kau menerima lamaranku sekarang.”

“Kau gila!”

“Yang membuatku gila ‘kan kau! ‘dongsaeeeng’!”