Title                             : The Unseen End
Author                         : Aydan Ahn
Length                         : One Shot
Genre                          : Sad. Angst. Friendship
Cast                             : EXO-K KAI, EXO-K, EXO-M TAO

-A/N                             :           © Copyright; 2012, AYDANAHN All Rights Reserved. No printing or redistribution allowed. Do not post anywhere else. Do not plagiarize. 

 

 

THE UNSEEN END

 

Selamat siang, saya Huang Zi Tao dari Asosiasi Pengutusan Dewa Kematian divisi Pengumpulan. menyampaikan bahwa, anda, atas nama Kim JongIn kelahiran 14 Januari 1994 memiliki sisa waktu 48jam masa kepemilikan tubuh dan ruh di dunia, dihitung mundur dari sekarang, mohon maaf dan terimakasih.”

*

Lelaki berumur 17 tahun itu mundur dua langkah dari tempatnya berdiri, tak mengerti dengan ucapan lawan bicaranya.  Keringat mulai menetes dari dahinya, ia merasakan hawa dingin aneh yang sangat mengganggu, menelusup diantara sela-sela bajunya hingga menimbulkan perasaan tidak nyaman.

“A-a-aku tak mengerti, apa maksudnya ini?” tanya Kai dengan gugup sekaligus bingung.

Huang Zi Tao bungkam. Tak ada kontak mata diantara mereka, ia hanya menunduk dengan raut muka sendu yang aneh. Alih-alih memberi penjelasan, Tao justru menyodorkan sebuah amplop berwarna hitam dengan cap berbentuk logo aneh berwarna merah darah, lantas membuat Kai semakin kebingungan.

“Apa ini?” tanya Kai. Percuma saja menghujani lawan bicaranya itu dengan berjuta pertanyaan, ia tak akan menjawab. Penasaran, Kai membuka amplop itu dengan jantung berdebar.

Merasa urusannya sudah selesai, Huang Zi Tao undur diri. Ia mengangguk kecil –tanda hormat dengan penuh keengganan-, kemudian berjalan menyelinap diantara keramaian dan lenyap saat tiba di ujung lorong, meninggalkan kai yang dirundung kebingungan.

*

Kai menatap lekat-lekat secarik kertas yang ada di tangan kanannya, membaca setiap huruf yang tertera disitu dengan seksama agar tidak terjadi kesalahan baca. Jantungnya masih berdebar kencang sejak ia bertemu Huang Zi Tao tadi dan debaran itu membuatnya gelisah. Setelah matanya berada pada aksara terakhir di kertas itu, barulah ia mengerti. Benar-benar mengerti akan maksud surat itu. Angka-angka itu adalah kalkulasi masa hidupnya di dunia, tahun, bulan, tanggal- semuanya begitu terlihat nyata dan membuat Kai merinding luar biasa.

“Aku? Mati?”

Kai menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menepis ketakutan terbesarnya yang menjadi kenyataan. Ia tidak bisa mati sekarang, semua usahanya akan terhitung sia-sia dan tak berguna. Mimpi yang susah payah ia bangun bertahun-tahun tidak boleh lenyap begitu saja. Berkali-kali ia jatuh dan membangun semuanya dari awal, hingga sekarang puncak telah menunggunya. Tentu saja kau tidak boleh mati, bodoh.

“Ya! JongIn-a, semuanya sudah masuk van, ayo pergi,” ujar sang Leader sambil menepuk bahu Kai dengan ramah.  Kai tersentak, buru-buru ia remas lembar kertas itu dan memasukannya ke dalam saku celana kemudian bergegas menuju van.

“Baik hyung,” Kai mengangguk lemah, lalu  berjalan menyusul member lainnya yang sudah menunggu mereka. Pikirannya berkecamuk, antara berita kematian, Showcase, Perform, dan yang lain-lainnya. Tidak ada yang bisa dilakukannya selain menerima ‘kematian’ tersebut, itupun kalau memang nyata adanya.

48 jam. Berarti hanya dua hari. Itu terlalu singkat.

“Hyung, kau baik saja?” tanya Sehun begitu melihat Kai duduk di salah satu jok van. Penasaran, semua member serta merta memperhatikan sang main dancer, Kai.  Sementara yang diperhatikan hanya bisa mengangguk lemah sebagai isyarat ‘aku baik saja’.

“Kau yakin? Mukamu pucat sekali,” ujar ChanYeol cemas, lantas menempelkan punggung tangannya pada dahi Kai, guna mengukur suhu tubuh. “Tapi tidak panas,” lanjutnya.

“Aku tak apa, hanya mengantuk sedikit,” tepis Kai.

“Baiklah kalau begitu, katakan kalau kau merasa tidak sehat.”

Kai hanya mengangguk, lalu menyandarkan punggungnya yang berat untuk berpura-pura tidur. Ia sedang tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Dengan perasaan kacau balau, ia memejamkan matanya dan memikirkan semua yang telah terjadi belakangan.  Masih terpatri jelas bagaimana dia pertama kali diterima oleh SM entertainment, bagaimana ia mati-matian berlatih banyak macam jenis dance, bagaimana ia sudah mengorbankan segalanya. Tentu saja ia tidak ingin semuanya mengalir menjadi hal yang paling sia-sia dalam hidupnya.

Ini bohong kan?

            Ucapnya pada diri sendiri.

*

            Lagi-lagi hanya suara mesin yang terdengar dari seberang sana, sudah nyaris sepuluh kali Kai berkutat dengan panggilan-panggilan yang tak ada jawaban. Ia menghela nafasnya, nyaris putus asa namun akhirnya terus mencoba lagi.

Sambil tetap berusaha menelefon, Kai mengapit telefon genggamnya dengan bahu dan pipi sementara tangannya sibuk merogoh-rogoh saku untuk mencari ‘kertas’ yang ia terima tadi pagi. Setelah mendapatkannya dengan sedikit tergesa-gesa, Kai kemudian membuka kertas itu dan membaca keterangan yang tertera.

Laki-laki 17 tahun itu nyaris menjatuhkan ponselnya ketika ia menyadari keanehan yang ia temukan pada si kertas. Begitu aneh hingga kakinya bergetar dan keringat lagi-lagi mulai melintas di dahinya.

Time remaining : 43 hours 49 minutes

Kai merasa ngeri luar biasa, jelas-jelas tadi pagi angka yang tertera masih 48 jam, ia tidak pelupa dan tidak mengalami gangguan kesehatan mata. Bagaimana mungkin bisa berkurang dengan sendirinya? kertas misterius ini menyimpan kenyataan yang menakutkan.

mengerikan, sangat mengerikan.

Hyung, ayo latihan~ “ ujar SeHun mengagetkan Kai yang masih terkungkung dalam kengerian luar biasa. Ia lalu buru-buru menyimpan telefon genggamnya dan memasukkan kembali kertas itu ke saku celananya.  Tidak ada yang boleh tau hal ini.

“A-ayo,” ucapnya terbata sambil berjalan kikuk, bergabung dengan member lain yang sudah berada di posisi masing-masing. Suara tawa dan canda bergema di studio dance mereka, membuat mood Kai makin hancur dan tidak nyaman.

“BaekHyun, kemari kau, jangan kabur!” perintah ChanYeol yang berusaha menarik kerah baju BaekHyun.  Sementara yang ditarik malah bermain-main dengan sembunyi dibalik punggung SuHo.

“Kalian ini benar-benar,” ujar sang leader penuh sabar.

“Baik, ayo posisi! BaekHyun, cepat!” perintah manager hyung seraya memberikan aba-aba. Setelah berada pada posisi masing-masing, BaekHyun lalu memperhatikan ChanYeol yang berlutut disebelah kanannya. Merasa diperhatikan, ChanYeol kemudian menoleh kekiri dan melihat BaekHyun yang berbisik dengan mata melotot yang dibuat-buat.

B-a-b-o,”

            Merasa diolok-olok, ChanYeol nyaris saja berdiri dan memberikan BaekHyun pelajaran, sayangnya manager Hyung sudah menghitung mundur dan musik sudah menggema di ruang itu.

Careless.. careless..

            Shoot anonymous.. anonymous..

 

            Para member sudah berkonsentrasi dengan gerakannya masing-masing ketika Kai kesulitan mengikuti dan menyamakan gerakannya dengan musik. Pikirannya terbagi-bagi, dan ia tidak bisa berkonsentrasi. Yang paling ia pikirkan adalah, benarkah dia akan mati? Bagaimana dia mati?

Heartless.. Mindless..

            No one who care about me..

 

Menangkap kesalahan gerakan Kai, SeHun merasa khawatir dan cemas akan hyungnya itu. Sejak kemarin ia mendapati Kai sulit berkonsentrasi. Mungkin ia sedang tak enak badan, pikir SeHun.

Sementara Kai masih saja kebingungan dan tidak sadar ia telah menginjak tali sepatunya sendiri. Membuat badannya terjerembap dan membentur lantai dengan keras. Kaget dengan suara benturan yang membahana, member lainnya sontak menoleh dan menghentikan tarian untuk melihat apa yang terjadi.

Kai berdesis menahan rasa sakitnya yang menjalar sampai ke otak, pelan-pelan ia sentuh pergelangan kakinya yang nyeri luar biasa. Ia gigit bibirnya agar tidak berteriak ataupun mengaduh.

“Kim JongIn, apa yang terjadi??” tanya Manager Hyung sambil meraba pergelangan kaki Kai. Di ikuti member lainnya yang mengerumuni mereka.

“Maaf aku menginjak tali sepatuku Hyung, ayo lanjutkan lagi,” ujar Kai seolah tidak terjadi apa-apa. Ia lantas berniat untuk berdiri namun gagal karena rasa sakit yang sangat menyiksa, dan baru ia sadari ternyata punggungnya juga terasa nyeri. Untuk berdiri dan menopang tubuhnya saja ia tak sanggup, apalagi untuk melanjutkan latihan.

“ya! Kim JongIn-a, kau mau apa?? kau itu cidera! Lihat kakimu yang membiru itu!” sahut Manager Hyung yang melihat tingkah Kai. “Ayo kita menepi, jangan paksakan dirimu seperti itu, ChanYeol bantu aku,” sambungnya seraya memerintahkan ChanYeol.  Yang diperintahkan buru-buru menuruti dan mengaitkan tangan kanan Kai pada bahunya guna memapah kai.

“SuHo, panggil petugas medis, ini cidera serius,” perintah Manager tanpa basi-basi.

“Baik Hyung,”

SuHo lantas berlari pergi meninggalkan studio untuk mencari petugas medis. Meninggalkan member lainnya, sang manager, dan Kai yang telah terbaring lemah di sofa.

*

            “Jadi beritanya sudah menyebar secepat itu?,” tanya D.O yang baru saja bergabung dengan percakapan. Manager hanya bisa mengangguk.

“Kau tau kan Netizen itu sangat mengerikan, mereka bilang pihak SM terlalu memforsir latihan ataupun kegiatan-kegiatan lain hingga ia mengalami cidera seperti ini,” Jelas sang manager. Tidak ada respon dari para member, mereka takut berbicara macam-macam.

“Kasihan Hyung, belakangan dia jadi lebih kikuk, sepertinya ada hal yang mengganggu konsentrasinya,” ujar SeHun menetralisir percakapan, seraya memijat tangan kanan Kai, yang dipijat masih terlelap akibat pain killer yang diminumnya tiga jam lalu.

“Atau bisa jadi dia kelelahan,” tambah SuHo.

Terjadi hening yang sangat panjang setelah itu, mereka iba melihat kaki Kai yang sudah membengkak dan membiru. Rasanya pasti sakit sekali, karena benturan yang dialaminya tidak main-main.

“Aku harus menghubungi Greg, kita perlu merubah koreografi sedikit untuk menyeimbangkan gerakan kalian dan Kai hingga ia pulih,” ujar Manager sambil mengeluarkan ponselnya, ia merasa cemas karena seharusnya lusa mereka akan perform di salah satu stasiun televisi.

*

            Kai merasa kepalanya sangat berat, ia kesulitan bangun dari tidurnya. Barulah Kai ingat bahwa ia telah mengalami cidera, saat pergelangan kakinya terasa nyeri dan sulit digerakkan. Dilihat sekelilingnya, ia tidak lagi berada di studio, melainkan di dorm. Di kamarnya sendiri.

Teringat sesuatu, Kai buru-buru merogoh sakunya dan mengambil kertas itu lagi.

Time Remaining :    37 Hours 33 Minutes

SIAL!

Kai mengumpat pada dirinya sendiri, merasa bodoh karena tidur terlalu lama dan membuang-buang sisa waktunya. Tidak berguna, benar-benar tidak berguna. Ingin rasanya ia sobek-sobek kertas itu dan membakarnya hingga tak bersisa, hingga tak meninggalkan bekas apapun.

“Oh, kau sudah bangun! Bagaimana kakimu?” tanya D.O yang baru saja masuk ke dalam kamar dan menyadari Kai yang sedang terduduk di ranjang.

Kai melirik kakinya, kemudian menutupinya dengan selimut.

“Ini sudah tidak apa-apa,” ucap Kai bohong.

“Bagus kalau begitu, pergilah makan, member yang lain juga sedang makan, ah, apa kau bisa berjalan?” D.O secara tidak langsung menawarkan bantuan dengan menyodorkan telapak tangannya.

“Bisa hyung, tenang saja,” singkat Kai dan bergegas menuju ruang makan, ia berusaha untuk tidak mengaduh sedikitpun, walau sakitnya masih jelas terasa. Dengan sedikit terseok, akhirnya ia tiba di ruang makan dan langsung menarik perhatian.

“Kau bangun? Kau tidak apa-apa??” member lain terus menghujaninya dengan sejuta pertanyaan dan membantunya duduk. Kai lagi-lagi berbohong dengan mengatakan,

“Aku tidak apa-apa, sudah jauh lebih baik dan tidak sakit.”

Kata-kata yang dilontarkannya barusan tentu saja membuat mereka bernafas lega.

“Dokter menyuruhmu untuk meminum pain killernya lagi nanti sesudah makan, dan kita ada perubahan koreografi sedikit guna menyeimbangkan gerakan,” jelas SuHo sambil menyendokkan makanan kedalam mulutnya.

Babo, itu punyaku! Babo,babo,babo!” pekik BaekHyun melihat Chanyeol yang merebut soda miliknya.  ChanYeol yang badannya notabene tinggi, mengangkat soda di atas kepalanya hingga BaekHyun kesulitan meraih soda tersebut.

“Kalian berdua tolong tenang,” pinta SuHo dengan suara kalem yang mengerikan. ChanYeol lantas menyerahkan botol soda milik BaekHyun dengan terpaksa, merasa puas sodanya telah kembali, BaekHyun kembali mengolok ChanYeol dengan berbisik ‘b-a-b-o’ kearahnya.

‘k-a-u  m-a-t-i’ balas ChanYeol sambil kembali duduk di kursinya.

“SeHun, kau bisa ajarkan koreografi baru pada Kai? Aku harus menemui manager hyung setelah ini,” pinta SuHo.

“Baik Hyung,” ujar SeHun menurut sambil tersenyum tulus.

*

            Sudah 3 Jam mereka berdua berlatih koreografi baru, membuat cidera Kai semakin parah. Kai terus saja memaksakan dirinya sendiri. Member yang lain sudah terlelap, dan SuHo belum pulang sejak kepergiannyan tadi.

“Hyung, kau tidak apa-apa? ayo istirahat,” usul SeHun yang mendengar Kai tersengal.

“Kau tidurlah, aku sebentar lagi,” ujar Kai.

“Tapi Hyung..”

“Tidurlah, SeHun-a,” potong Kai.

Mendengar Hyungnya berkata seperti itu, SeHun lantas mengangguk dan pergi masuk kekamarnya. Kai melirik ke arah jam dinding yang menempel, sudah pukul 00.30. Ia tidak ingin tidur, tidak ada waktu untuk tidur. Waktunya terlalu singkat untuk beristirahat sekarang.

Rasa nyeri di kakinya terus saja menyiksa dan menjalar ke seluruh tubuhn. Kai menggigiti bibirnya untuk mengalihkan rasa sakit itu, tapi yang dia dapat justru darah yang menetes dari bibirnya. Ia tidak mau minum pain killer, pil sial dengan dosis obat tidur yang tinggi.  Biarlah ia merasa sakit daripada harus tidur.

*

            Perasaan SuHo sudah tidak enak sejak semalam Manager Hyung menyuruh bertemu dengannya. Mereka berdua berbicara mengenai berita cidera Kai yang sudah menyebar luas di Internet dan mendapat respon negatif dari Netizen. Pihak kepemimpinan SM sudah mendengar tentang adanya rumor ‘diforsir latihan, Kai mengalami cidera’. Mereka ingin rumor itu dibenarkan, karena mereka menerima ancaman dari para fans yang melempari kantor dengan batu ataupun mengirimkan teror.

SuHo tidak tahu harus bagaimana, karena jika ia melakukan langkah yang salah –maka pihak kepemimpinan SM pasti akan menegurnya. Ia juga tidak tau bagaimana bisa berita itu menyebar dengan sangat cepat seperti virus.

“Kai, bisa kau letakkan ponselmu dulu? Kita harus rehearsal sekarang,” pinta SuHo.

“B-baik, Hyung,” jawab Kai seadanya.

Ia menyimpan ponsel di sakunya, sudah beberapa kali ia menelefon nomor yang sama namun tetap tidak ada jawaban dari kemarin. Rasanya ia ingin berteriak kencang-kencang pada speaker ponselnya, ‘Angkat telefonnya, bodoh!’.Tentu saja percuma, ujar Kai dalam hati.

“ChanYeol, urus si Bacon itu,” perintah SuHo, daritadi yang keluar dari mulutnya adalah kata-kata bernada menjengkelkan dan semua member menyadarinya. Mungkin efek kelelahan karena pulang terlalu malam dan harus mengurusi semuanya, pikir mereka. Tapi tentu saja tidak selelah Kai, yang lelah fisik dan batin.

“Ya! BaekHyun-a! Kau mau kemana? Lewat sini!” pekik ChanYeol memanggil-manggil BaekHyun yang salah jalan, yang dipanggil kemudian berbalik dengan wajah polos seolah tidak melakukan kesalahan. “si bodoh itu,” lanjut ChanYeol terkikik sendiri.

Rehearsal sudah berlangsung nyaris empat jam, karena diperlukan waktu yang cukup lama untuk menunggu antrian. Kai lagi-lagi berdesis, sakit pada pergelangan kaki dan punggungnya semakin terasa daripada hari kemarin. Ia tak sanggup berdiri atau bergerak-gerak terlalu lama.

“JongIn, kau tak apa?” tanya D.O yang dari tadi memperhatikan Kai. Yang ditanya kemudian langsung mengangguk-angguk, sebagai isyarat dia baik saja.

“Disini panas sekali, Hyung,” ujar Kai penuh kebohongan.

“Kau mau istirahat?” tambah D.O, tidak mengindahkan perkataan Kai, seolah tau bahwa Kai berbohong.

“Tidak, aku tidak butuh istirahat,” ucap Kai singkat. Dengan nada yang tajam dan membuat D.O tersentak. Baru pertama kali ia mendengar Kai berkata dengan nada seperti itu.

“B-baiklah, jangan paksakan dirimu, oke?”

Kai, untuk yang ke-ribuan kalinya, hanya menjawab dengan anggukan cepat yang tipis.

*

            Time Remaining :    8 hours 23 minutes

Waktu terus terhitung mundur, semakin dekat akhir dan Kai semakin merasa lemah. Ia benar-benar butuh tidur, tapi takut akan kemungkinan dia tidak akan terbangun lagi dari tidurnya. Tidak ada jalan lain selain menerima kematian itu sendiri.

Apa yang harus kulakukan?

*

            Tiba hari dimana EXO-K akan menampilkan lagu debut mereka di salah satu stasiun televisi. Para Kru sibuk menyiapkan semua keperluan, begitu juga dengan EXO-K yang tengah mempersiapkan diri mereka. Hair Style, Make Up, Costume, Accesorries, dan yang lain-lain, mereka lakukan secara bergantian.

“Kai, simpan ponselmu,” perintah SuHo yang masih berada dalam mood yang buruk.  Merasa ditegur, Kai lalu menoleh dan segera menjawab perintah si Leader.

“Tapi, sebentar saja Hyung aku mohon,” ucap Kai sambil memohon dengan mengatupkan kedua telapak tangannya. SuHo lalu terbelalak, tidak percaya member yang satu itu bisa menolak perintahnya.

“Sekarang,” ujar SuHo dengan nada tenang yang justru terdengar seperti sebuah ancaman.

“Hyung, aku mohon dengarkan aku, ini..” belum selesai Kai berbicara, SuHo sudah memotong ucapannya dengan nada tinggi yang menyebalkan.

“TIDAK ADA ALASAN, EXO Kai, berhentilah bersifat seperti ini, kau itu Idol dan profesional adalah nama tengah kita, kau harus bertanggung jawab atas pekerjaan yang telah kau pilih sendiri ini,”

“Hyung..”

“Berhenti merengek dan lakukan apa yang seharusnya kau lakukan, ya! BaekHyun! Kau mau kemana! Ajarkan D.O part yang ia tidak bisa tadi! ChanYeol kejar dia! aigo, anak- ini benar-benar…aku tak tau..”

“Baik Hyung, aku mengerti.. “ ujar Kai lemah, hatinya merasa sakit atas perlakuan yang ia terima dari sang leader. Lengkaplah sudah, batin, fisik, dan hatinya sudah habis termakan sakit.

Merasa pikirannya kosong, Kai lalu melangkahkan kakinya menuju ke kamar mandi, tempat dimana ia bisa menyentuh ponselnya dengan aman. Kembali diraihnya ponsel itu dan kertas yang ia bawa kemana-mana di atas keramik wastafel. Kai mencoba peruntungannya sekali lagi, dengan memencet kontak yang sama dan menelefon nomor itu.

Nihil. Tidak ada jawaban. Hanya suara mesin yang menggema.

Tinggalkan pesan setelah bunyi beep”

Kai menarik nafasnya dalam-dalam, mencoba menyusun kata-kata yang akan ia sampaikan pada si mesin. Dengan suara paling tegar yang ia punya, Kai berkata,

Yoeboseyo eomma, ini putramu… Kim JongIn, eomma ingat aku kan? Bagaimana kabarmu? Aku baik saja disini, ya.. walaupun agak sedikit buruk karena aku mengalami cidera beberapa waktu lalu, rasanya sakit sekali eomma. Ah sudahlah, Aku tau eomma tidak peduli jika aku mengalami cidera atau luka apapun, iya kan? Aku hanya ingin memberi tahu, jika kau mendengar tentang EXO, ataupun KAI, itu aku.. aku sudah jadi artis sekarang, hebatkan aku? Ha ha ha akhirnya usahaku bertahun-tahun membuahkan hasil ya eomma? Maafkan aku tidak bisa menemuimu secara langsung dan aku sudah memaafkan eomma yang tidak mau menemuiku, ataupun menjawab semua panggilanku.. aku tau eomma sibuk, ha ha. Oh iya, mungkin.. setelah menerima pesan ini, eomma tidak akan bisa lagi melihatku, tidak lagi di Seoul, di Korea, ataupun dimana-mana. Jangan khawatir, aku tetap menyayangimu, aku selalu menyayangimu.. eomma, terimakasih sudah melahirkanku dan merawatku.., terima kasih..aku harus pergi sekarang, doakan pertunjukan EXO hari ini ya.. sampaikan salamku pada ayah baruku, aku sayang padamu eomma..selamat tinggal..”

            Kai lalu menutup telefonnya, dengan tangan yang lemah dan  sisa-sisa air mata yang menggenang di pipinya. Hatinya nyeri luar biasa dan terasa sakit sekali, membuat bulir-bulir kesedihan itu mengalir diiringi dengan sesengguk yang terdengar sangat pilu dan menyedihkan.

Kau payah, Kim JongIn.

            Ujar Kai pada bayangnya yang terpantul di cermin.

*

            “EXO-K, masuk!!” perintah salah satu kru. Lantas member EXO-K memasuki panggung dan bersiap di posisi mereka masing-masing. Semuanya begitu tegang dan takut, kalau-kalau mereka membuat kesalahan.

Careless.. careless..

            Shoot anonymous.. anonymous..

Musik mulai membahana, penonton mulai histeris dan menjeritkan nama-nama bias mereka. Kai terus saja memaksakan diri meski semua sakit yang ia derita sudah habis menggerogotinya. Ia tidak peduli, Ia suka menari, apapun yang terjadi ia harus tetap menari.

Aku mencintaimu, melihatmu tersiksa,terluka,menderita.. aku tak akan bisa.. Mari akhiri semua penderitaan ini, kau dan aku, adalah cinta yang nyata.. Kim JongIn, aku mencintaimu.. biar dunia tau, kita diciptakan untuk bersama.. cinta, kita.

           

            Suara letusan senjata api menggema dan meninggalkan jejak ketakutan yang mengerikan di studio. Para penonton berjerit melihat darah yang menetes di panggung, tepat mengenai dada Kai –butir peluru yang memaksa masuk kedalam tubuhnya dan membuat Kai terjerembap. Tangisan dan Teriakan kepanikan bercampur menjadi satu, sangat kacau dan menegangkan.

Sekali lagi, terdengar suara letusan senjata api dari kursi penonton. Perempuan berambut panjang, mati tergeletak dengan pistol di tangan kanannya dan peluru panas yang bersarang di otaknya.

“PANGGIL PETUGAS MEDIS! POLISI!! KEMANA MEREKA?? CEPAT!!”

“KIM JONGIN BERTAHANLAH, AKU MOHON!!”

“DIA FANS GILA!”

Suara-suara bertebaran di udara, bercampur menjadi satu dan menyiptakan atmosfer paling menakutkan dalam sejarah dunia entertainment. Orang-orang berjerit dan sibuk meneriakkan segala macam kata, menangis, meraung, pingsan, dan terburu-buru.

Kai lagi-lagi merasakan hawa dingin yang membuatnya sangat tidak nyaman, ia bisa melihat wajah Huang Zi Tao dibalik orang-orang yang mengerumuninya. Menggunakan jas hitam yang sama, tetap dengan raut muka sendu-aneh yang misterius. Baru Kai sadari bahwa Tao memiliki bola mata berwarna merah darah, dengan pupil seperti pupil kucing.

Untuk yang terakhir kalinya, Tao mengangguk kecil –tanda hormat yang penuh keengganan, sebagai salam perpisahan.

Time Remaining :    0 hours 0 minutes

[COMPLETED/HZTAO]

Kemudian hitam———-

*

            “Hyung, Ireonaa~ kita harus pergi,” ujar SeHun sambil menepuk-nepuk pipi Kai dengan lembut.

Tersadar, Kai lantas merasa kaget dengan suara SeHun yang tiba-tiba membangunkan tidurnya. tidur? Tanya Kai pada dirinya sendiri. Nafasnya masing terengah, dan jantungnya berdebar kencang.

“Kau mimpi buruk Hyung? Aigoo~ kau pasti kelelahan,” tebak SeHun sambil mengacak rambut Kai yang sudah berantakan karena posisi tidurnya. “Ayo, sebelum yang lain meninggalkan kita,” tambah SeHun dan bergegas pergi.

Bukannya mengikuti SeHun, Kai justru sibuk merogoh-rogoh saku celananya –kosong. Ia tak mendapatkan apapun. Kai merasa lega karena tidak menemukan apapun, walaupun ia tidak mengerti kenapa. Ia seperti melupakan suatu hal yang penting, tapi dia tak bisa mengingat hal apa itu. Sekeras apapun ia berusaha memaksa otaknya bekerja untuk memutar ingatan, tapi percuma.

Merasa sia-sia, Kai lalu berdiri dan mengikuti member lainnya yang sudah berlenggang menuju van.

“BaekHyun! Lewat sini! Kau ini bodoh atau bagaimana sih!” pekik ChanYeol sambil tertawa keras setelah melihat BaekHyun yang pergi ke ujung lorong lain dan meninggalkan mereka. Merasa keki, BaekHyun lantas berbalik dan mengomel kecil, “Kau yang bodoh, gorila bodoh, babo, babo” umpatnya dengan mata sinis yang menggemaskan.

“Ya! Kau bilang apa??!” ancam ChanYeol.

“ChanYeol, sudahlah, biarkan saja” ujar SuHo memberikan ketenangan diantara mereka berdua.

Melewati beberapa ruangan dan lorong, Kai bersiul sambil menikmati tingkah laku member EXO yang menggelitik. Ia juga menjumpai banyak orang, sampai akhirnya, bola mata Kai tertuju pada laki-laki aneh disudut lorong. Ber-jas dan membawa sebuah amplop berwarna hitam, menunggu Kai melintas didepannya.

Hawa dingin aneh kemudian menyisip dibelakang leher Kai dan membuatnya teringat sesuatu, sesuatu…  sesuatu yang tidak bisa ia ingat seutuhnya. Laki-laki itu lantas maju dari tempatnya, dan menghampiri Kai..

Selamat siang, saya Huang Zi Tao dari Asosiasi Pengutusan…”

 

FIN

Iklan