Author: rahinalollidela

Genre: Romance, Friendship

Length: Continue

Casts:

– Jessica Jung          – Lee Donghae

– Park Sandara        – Choi Siwon

– Kim Heechul

– Others

Notes:

Don’t be silent readers! ^_^ No plagiarism!

 

Jessica’s POV

Sore menjelang petang. Dua jam setelah jam kerja normalku berakhir. Hanya ada aku dan President Lee di ruang kerja tim perencanaan. Entah sampai jam berapa aku akan di sini. Tapi dilihat dari tugasku yang masih menumpuk, sepertinya aku harus lembur sampai tengah malam lagi. Ini semua gara-gara President Lee yang jelek itu! Sejak dia memecat Dara dan dua orang lainnya, tugas semua dilimpahkan padaku! Dia pikir dia siapa?! Memangnya dia mau memberiku gaji tambahan?!

 

“Jessica-ssi,” mau apa dia? Jelas sekali dia akan memberiku pekerjaan tambahan. “Ne, Sajang-nim?” tanggapku dengan senyum terpaksa. Apa adanya dan sebisanya. “Kau lelah, ya?” jelas sekali lelah? Kau pikir aku senang bekerja setengah hari penuh seperti ini?! “Ah, aniyo. Na gwenchanayo…” “Kau yakin? Euh… jelas sekali kau lelah. Bagaimana kalau kita minum kopi? Ibuku membawakan dua gelas kopi sore ini. Aku tidak mungkin menghabiskannya. Eotte?” wah, baik juga dia. Tak seperti malam sebelumnya. “Aniyo, Sajang-nim. Kansahamnida. Aku harus segera menyelesaikan tugasku,” ah, bodoh! Kenapa kutolak?! Jelas-jelas aku mengantuk. Bodoh! “Jinjayo? Ah… benar juga. Baiklah kalau begitu.”

 

Sekitar satu menit lagi jarum panjang menunjuk angka dua belas dan hari resmi berganti. Tapi bagaimana pun juga aku masih terpenjara di ruangan Tim Perencanaan, di depan komputer canggih yang radiasinya semakin membuat mata ingin dimanjakan. Masih ada sekitar lima dokumen lagi yang harus kuperiksa kebenarannya atau proyek besar yang akan dilaksanakan perusahaan ini tidak sesuai dengan kehendak tim kami. Tapi kenapa aku yang harus mengerjakannya? Tapi kenapa President Lee tidak pulang juga? Dari tadi kulihat di ruangannya dia masih sibuk membolak-balik dokumen-dokumen yang entah apa isinya. Tapi pasti penting. Sudahlah. Malah untung, kan? Aku tidak harus menikmati suasana horror sendirian. Tapi kira-kira aku kurang ajar atau tidak ya bila tidak menawarkan kopi untuknya? Well, mungkin memberinya segelas kopi bisa menambah persen gajiku.

 

Tok-tok-tok!

“Masuk!” perlahan-lahan langsung kubuka pintu ruangan pribadi President Lee. “Oh, Jessica-ssi. Duduklah,” suruh President Lee. Aku langsung masuk, tapi tidak duduk. Kau mau memperpanjang waktuku di sini, Sajang-nim?! “Aniyo. Aku hanya ingin menawarkan kopi kepadamu,” kuletakkan segelas kopi di mejanya. “Oh, gomawoyo. Tapi… kau tidak takut di luar sendirian? Bawa saja dokumenmu itu ke sini. Mungkin aku bisa bantu.” “Ah, aniyo. Sajang-nim kan ada tugas juga,” tolakku. “Ani. Aku hanya membaca kopian novel saja,” MWO? Aku kira bekerja. “Bawa saja dokumenmu itu. Ini perintah,” apa boleh buat?

 

Author’s POV

Jam menunjukkan pukul setengah tiga pagi. Dibantu Donghae, Jessica berhasil menyelesaikan tiga dokumen. Dua dokumen lagi dan mereka bisa pulang dan istirahat sementara yang lain akan bekerja sampai sore. Selama bekerja Donghae aktif memberi Jessica tips-tips dalam bekerja. Kadang mereka juga saling bercanda tawa dan mengobrol di sela-sela pekerjaan yang melelahkan.

 

Jam lima pagi. Semua dokumen sudah selesai. Jessica dan Donghae sedang bersantai di sofa di ruangan pribadi Donghae. Dua sampai empat jam lagi yang lainnya akan datang. “Semua sudah selesai. Dan aku sendiri sudah menerimanya. Kita bisa pulang sekarang. Lebih baik kau kuantar. Kkaja!” Donghae menenteng jasnya di pundak. “Ah, aniyo, Sajang-nim. Aku tidak mau merepotkanmu,” tolak Jessica. “Aniyo. Kau tidak boleh menolakku, Jessica-ssi. Ini perintah,” tegas Donghae. Jessica tersenyum ramah dan berdiri. “Kalau President Lee memaksa…, baiklah.”

 

Perjalanan pulang terasa sangat lama dengan rasa kantuk yang menyebabkan Donghae harus memperlambat jalan mobilnya ditambah langit yang masih gelap. Jessica menatapkan matanya pada sebuah foto berbingkai yang ada di depannya. Tak berani menyentuhnya karena mungkin akan dianggap tidak sopan. Cantik. Cantik sekali. Wanita yang tersenyum di foto itu sangat cantik. Bahkan melebihi kecantikannya sendiri. Di sampingnya ada seorang anak laki-laki duduk dengan pakaian formal dan memegang buket bunga. Itu pasti President Lee, batin Jessica. “Kau tinggal di mana Jessica-ssi?” tanya Donghae tiba-tiba. “Oh, belok kanan. Di gedung apartment yang ada di kanan jalan,” Donghae tampak membesarkan matanya, tapi lalu bibirnya mengulas senyum. “Baiklah, kalau begitu.”

 

“Kita sudah sampai,” Donghae menghentikan mobilnya tepat di area parkir. “Kamsahamnida, President Lee,” ucap Jessica sebelum akhirnya keluar dari mobil. “Kita naik bersama?” tawar Donghae tiba-tiba. Jessica langsung menyadari kalau Donghae juga turun dari mobil. Jessica sedikit bingung akan apa yang dilakukan Donghae. “President Lee, bukankah lebih baik kau segera pulang dan beristirahat?” tanya Jessica dengan agak canggung. Donghae tersenyum sejenak. “Memang. Aku memang akan istirahat,” tanggap Donghae dengan senyum khasnya. “Di… di apartmentku? Tapi tetangga akan mengira kita yang bukan-bukan.” “Apartmentmu? Aniyo… Aku juga tinggal di sini. Aku di lantai sepuluh. Kau, Jessica-ssi?” tampaknya Dongha menahan tawanya karena melihat pipi Jessica yang bersemu merah. Jelas sekali Jessica malu. “Ah, aku… aku di lantai sembilan…”

 

***

Pukul sepuluh pagi. Jessica sudah bangun dan mandi setengah jam yang lalu dan kini dia sedang menonton drama pagi yang langka sekali bisa dilihatnya karena bekerja. Perutnya lapar tapi terlalu malas untuk bangun dan masak. Hari langka ini tidak boleh disia-siakan. Ting-tong~ Mata malas itu melirik ke arah lorong kecil menuju pintu masuk apartmentnya. “Hah…,” dengan sangat malas-kedua kaki rampingnya diarahkan ke pintu.

 

Ceklek!

“Wah, hari libur mendadak kau terlihat sangat santai, yah!”

“OMONA!” mata malasnya terbelalak lebar saat sosok itu dilihatnya. President Lee tersenyum lebar di depannya membawa kantong plastik yang entah apa isinya.

 

Jessica’s POV

Ya, Tuhan! President Lee! Bodoh! Bodoh! Bodoh! Hot pants polos, T-shirt polos, rambut acak-acakan, dan wajah yang entah seperti apa. Dia pasti sudah berpikir kalau aku ini gadis yang berantakan! Ya, Tuhan, kutuk saja aku! Aku harus bagaimana? Bukannya aku ingin mengambil hatinya, tapi bukankah pekerja yang baik adalah yang selalu rapi dan bersih? Apalagi yang bekerja di perusahaan kecantikan sepertiku! Rasanya seperti aku siap mati!!!

 

Donghae’s POV

Ya, Tuhan, dia cantik sekali! Jauh lebih cantik daripada ber-make up. Apa ini mimpi? Benar-benar bidadari!

 

Author’s POV

Mereka tak saling berbicara untuk beberapa saat. Donghae terus memandang Jessica, sementara yang dipandang terus panik dengan penampilannya. “President Lee, maaf, aku mungkin berantakan sekali,” ucap Jessica seraya mengikat rambutnya. Tapi Donghae hanya diam memandanginya. “President Lee?” Jessica melambaikan tangannya di depan wajah Donghae. Donghae tersadar. “Ah, aniyo. Aku… um…, tada!” Donghae mengangkat barang bawaannya. “Pasta. Boleh aku masuk?” ucapnya. Surga dibalik kegelisahan, itulah yang dirasakan Jessica dan perutnya yang lapar saat ini. “Oh, ne.”

 

“Aigoo… Rumahmu rapi sekali,” puji Donghae. Jessica tersenyum ramah-seperti biasa. “President Lee-” “Ssst!” Jessica menghentikan ucapannya. “Ini bukan jam kerja. Panggil aku Donghae saja. Lee Donghae-setidaknya,” pinta Donghae. Jessica kebingungan. Tapi ya, sudahlah, daripada gajinya dipotong tanpa alasan jelas. “Lee Donghae-ssi, letakkan seje pastanya di dapur. Aku… akan ganti baju sebentar,” Jessica bergegas ke kamarnya.

 

*Skip

“Wah, kenyang sekali,” Donghae menyandarkan tubuhnya santai di sofa Jessica, sementara pemiliknya malah duduk tegak secara formal. “Kamsahamnida, Lee Donghae-ssi,” ucap Jessica. Donghae tersenyum. “Hah… rasanya sayang sekali kalau harus melewatkan libur sehari di rumah saja. Bagaimana kalau kita pergi ke suatu tempat? Mungkin taman wisata?” Jessica membelalakkan matanya. Taman wisata? Bukankah hanya remaja yang berpacaran saja yang biasa ke sana? Selain itu pasti anak-anak atau keluarga kecil. Dan sekarang Jessica harus ke sana dengan boss nya sendiri? “Lee… Lee Donghae-ssi, pasta sudah cukup. Lebih baik kau pulang dan istirahat,” tolak Jessica. Lee Donghae cemberut. “Lagipula, besok kita ada meeting,” tambah Jessica-memperkuat alasan penolakkan. “Ah…, iya juga. Ya, sudahlah. Kau lelah, ya? Miane. Kalau begitu, aku pergi dulu,” Donghae langsung pergi. Jessica hanya diam. Lima langkah Donghae jauh darinya…, “Lee Donghae-ssi!” langkahnya terhenti. “Aku tidak mengusirmu, kau juga tak menggangguku. Kau bisa datang lagi, asalkan kau mengirim pesan dulu padaku,” Jessica mengklarifikasi. Donghae tersenyum. “Jinjayo? Oke,” pria tampan itu pergi.

 

Jessica menghembuskan nafas panjangnya. Lega. Tangannya langsung reflek membereskan piring-piring yang tadi dipakainya untuk makan pasta. Semua sudah bersih, kaki rampingnya langsung dilangkahkan ke kamarnya. Senyumnya terkembang saat foto itu ditatapnya. Seseorang yang sedang ditunggunya. Hingga sekarang, sejak tiga tahun yang lampau. Pikirannya melayang ke mana-mana. Sedang apa dia, di mana sekarang, bagaimana kehidupannya, tapi satu yang benar-benar diinginkan Jessica untuk dijawab: masihkah dia mencintai Jessica? “Hah…, kapan kau akan kembali?” tanya Jessica pada wajah bisu tak bergerak yang terbingkai rapi. “Kau menyuruhku menunggu, kan? Maka aku menunggu. Aku tak yakin apa waktu itu kau menyuruhku menunggu atau tidak, kau tahu sendiri waktu itu aku menangis keras tak bisa membiarkanmu pergi,” Jessica tersenyum sebentar. “Hei, cepatlah pulang. Menunggumu itu membuatku lelah, KIM HEECHUL.”

 

To be continued…

 

———–

 

Gimana? Seru nggak? Agak mbosenin ya? Tapi bagaimanapun juga, RCL!