Main Cast :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun


That’s why books have covers : To judge them!

Author’s

Hyeorin berjalan dengan langkah penuh percaya diri menyusuri koridor kantornya. Atau mungkin lebih tepat disebut angkuh? Angkuh adalah efek yang wajar dari kesempurnaan yang ia miliki. Kita tidak perlu membahas bagaimana cantiknya gadis ini, karena cantik adalah ukuran sebuah kerelatifan, dan Hyeorin di luar dari kata cantik relatif, karena semua sepakat kalau gadis usia 24 Tahun ini memang cantik tanpa ada embel-embel relatif. Jadi kewajaran pertama kalau dia berjalan dengan langkah tegap, dagu sedikit dinaikkan dan mata memandang lurus ke depan dengan tatapan dingin. Dia begitu sadar akan apa yang dia punya. Kewajaran kedua kenapa dia angkuh adalah kariernya. Di usianya 24 Tahun, dengan kategori most wanted single-ladies in this town, ia sudah memegang jabatan creative program director di sebuah stasiun TV terbesar di Seoul, dengan kata lain dia bukan hanya cantik tapi juga cerdas. Kewajaran ketiga keangakuhan itu adalah dia tidak mungkin ditolak oleh pria manapun dan dimanapun. Tapi sayangnya, she prefer play with em than have a serious relationship for her future. Baginya, kehidupan pernikahan bukan prioritasnya saat ini. punya bayi di usia muda, bagi Hyeorin sama saja menghancurkan apa saja miliknya saat ini. tubuhnya akan mengembang seperti spoon cake, kariernya akan terhambat karena tangisan bayi dan hidupnya akan penuh dengan popok, susu bayi dan tangisa keras. No! Dia belum siap melepaskan hidupnya yang sempurna.

Begitu duduk di ruangannya, setumpuk berkas sudah tertumpuk rapi di mejanya membuatnya menghela nafas.

“Aku bahkan baru meninggalkan ruangan ini kurang dari 8 jam.” Desahnya kemudian menarik salah satu map dan mulai menekuninya. Dan dengan kesadaran penuh ia tau kalau sebuah kesempurnaan itu harus dibayar dengan kerja keras.

Brak!

Pintu ruangannya terbuka, Gae In sahabatnya masuk.

Hyeorin menghembuskan nafas, “can you knock the door first?” tanyanya tanpa mengalihkan tatapan dari map pekerjaannya. Ia tau, hanya Gae In yang berani masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.

Gae In kemudian duduk di kursi depan Hyeorin, “jangan lupa nanti malam.”

“Jadi kau ke sini hanya untuk mengingatkan acara hura-hura malam nanti? Oh Gae In-ssi jangan bilang kau tidak pernah berkenalan dengan teknologi bernama ponsel.”

Gae In menghela nafas, sudah terlalu biasa mendengar kalimat sinis dan dingin dari sahabatnya ini. terhitung sejak SMA, Hyeorin sudah punya kepribadian sekacau ini. mungkin karena dari lahir dia memang sudah sadar kesempurnaan yang ia miliki.

“Aku sedang malas di ruanganku. Begitu banyak pekerjaan.”

“That’s why you paid.”

“Nanti malam presedir Lee akan hadir.”

Kalimat itu langsung membuat Hyeorin mengalihkan pandangannya pada Gae In walau sejenak, kemudian kembali menekuni berkasnya.

“Really? Then?”

Gae In tersenyum puas, “tidakkah kau merindukan sentuhannya?”

“Gae In-ssi, sebelum ada benda apapun yang mendarat di keningmu, lebih baik kau keluar.”

Gae In tergelak kemudian mengalah, keluar dari ruangan kerja mewah milik Hyeorin masih dengan tawa terkembang.

Presedir Lee, atau lebih banyak yang memanggilnya secara tidak formal Donghae adalah presedir sebuah perusahaan waralaba besar dan pemilik hotel bintang lima yang cabangnya bahkan sudah sampai ke NYC sekaligus mantan pacar Hyeorin, kekasih paling lama yang Hyeorin punya. Hampir satu tahun mereka menjalin hubungan dan berakhir karena akhirnya keduanya menyadari kalau baik Donghae maupun Hyeorin bukanlah tipe manusia yang bisa hidup hanya dengan seorang pendamping. Tapi baru kali itu gengsi Hyeorin seperti terpatahkan karena mendapati Donghae yang berselingkuh lebih dulu di depan mata Hyeorin, dan dengan santainya pria itu mengatakan kalau dia hanya bercanda. Jadi, atas nama harga diri Hyeorin memilih memutuskan hubungan mereka. Apapun yang pernah terjadi antara keduanya, bagi Hyeorin hanya kenangan saja what happened on Yesterday, stayed on Yesterday.

***

Hyeorin’s

Atas nama memperluas pergaulan dan eksistensi-lah aku mendarat di tempat ini meski badanku terasa luar biasa lelah. Di tempat inilah, dimana hingar bingar musik memekakkan telinga kami para kaum jetset kota metropolitan menghabiskan malam-malam panjang melepas penat pekerjaan meski efekny sangat sesaat. Karena besok pagi toh kami harus tetap berjibaku dengan semua yang berbau under-pressure dan konsekuensi jabatan. Aku sudah lelah menggerakkan tubuhku di lantai dansa dengan gerakan gila, sudah tidak berminat mengobrol tidak tentu arah dengan beberapa pria di tempat ini yang keliatan sekali mengagumiku dan sudah setengah mabuk juga. aku menghempaskan tubuhku di sofa dan menyandarkan kepalaku disana. Kepalaku agak berdenyut mungkin karena kelelahan.

“Hei young lady.”

Aku langsung mengangkat kepalaku begitu mendengar suara yang sudah sangat aku hapal. Suara yang aku puja setengah mati hampir satu tahun lalu.

“Hei the most wanted bachelor in this town.” Jawabku, terkesan sinis.

Dia menyeringai, senyum andalan yang selalu mampu menarik perhatian wanita manapun.

“Terdengar sangat sinis nona Han. Then, how’s life?” tanyanya.

“Sempurna, as you can see and… like before.”

Sekali lagi dia tersenyum, “kau tidak berubah.”

“Tidak perlu ada yang dirubah dari sebuah kesempurnaan.” Jawabku sinis.

Donghae meraih ujung rambutku dan memainkannya, “kau benar. Kau selalu sempurna.”

Aku mendengus kesal kemudian beranjak pergi. Keluar dari klab ini dan pulang sebelum semuanya menjadi sangat rumit. Aku tidak mau terperangkap dalam pelukan pria brengsek itu lagi.

***

That’s why books have covers, to safe the contents

Author’s

Eunmi mematung di belakang mesin kasir ketika selesai mengetik pesanan customer di layar sentuh. Sepertinya baru kali ini ia melihat sosok lelaki setengah malaikat dengan mata bening dan senyum tipis yang begitu mempesona. Eunmi sampai lupa bernafas sangking terpesonanya. Ia kembali tersadar ke alam nyatanya ketika si pria mengangsurkan kartu kreditnya sambil menggerak-gerakkan tangannya.

“Ah, jwesongmnida.” Ujarnya sambil meraih kartu kredit dan merutuki kebodohannya dalam hati. Bahkan matanya kembali tidak bisa lepas dari sosok pria itu ketika pria itu sudah duduk nyaman di sofa pojok coffee shop dan berkutat dengan iPad-nya.

“Jangan terlalu lama memandanginya atau kau akan patah hati Eunmi.”

Suara Haneul, menyadarkan Eunmi dan kemudian membuat gadis itu merona. Haneul tersenyum maklum, ia tau siapa pria yang ditatap Eunmi dengan tatapan penuh puja itu. CEO sebuah coorporation besar di Seoul, Lee Donghae. Siapapun, wanita manapun akan dengan sangat mudah jatuh cinta dengan Tuan Lee. Matanya, tatapan mata pria itulah yang begitu menghipnotis. Terkesan tenang, dalam tapi penuh kelembutan. Wajahnya juga tampan, nilai plus lagi hidupnya serba sangat mapan.

“Apa dia manusia?” tanya Eunmi polos.

Haneul tertawa, “pertama kali melihatnya juga aku pikir dia malaikat.”

Eunmi tersenyum masam, ia kembali ke alam sadar sesadar-sadarnya. Ia tidak boleh terlalu lama memuja pria itu atau ia akan jatuh cinta. Ia cukup sadar posisi mereka. Hanya melihat penampilan pria itu saja, ia tau kalau Eunmi bukan level Donghae. Eunmi hanya seorang gadis sangat sederhana yang harus bekerja demi nafasnya sendiri karena ia hidup sebatang kara. Ayah dan ibunya sudah lama meninggal, ia tidak punya kakak atau adik. Ia dulu tinggal di panti asuhan, sampai usianya 17 tahun ia lebih memilih hidup mandiri. Berjuang demi hidupnya sendiri daripada diasuh oleh orangtua angkat.

“Dia sering sekali datang ke sini.” Haneul melanjutkan penjelasannya, “dan menurut gosip yang beredar, dia itu playboy.”

Eunmi tersenyum, “wajar saja. Dia terlalu tampan untuk menjadi pria baik-baik.”

“Mwo?!”

Eunmi tertawa renyah, “aku hanya bercanda. Tapi itu benar, tidak mungkin ia akan menyia-nyiakan ketampanannya hanya untuk satu wanita.”

Haneul mengangguk, “kau benar. Ah sudahlah, sebaiknya kembali bekerja.”

Eunmi kembali memandang sejenak tubuh itu, yang sedang sibuk dengan iPadnya. Tidak berapa lama, ada seorang wanita yang datang, mencium mesra pipi pria itu kemudian duduk di sebelahnya. Eunmi tersenyum kecut, ia sadar benar sekarang.

***

Eunmi’s

Aku tersenyum lebar mendapati Kyuhyun berdiri bersandar di skutter-ku. Begitu melihatku, dia juga langsung memberenggut, aku tau dia sudah lama menunggu disana. Ah Kyuhyun adalah anak orang kaya-raya paling bodoh yang aku kenal, dia bisa saja bercerita dengan wanita manapun, dan aku yakin wanita manapun akan mau mendengarkan ceritanya tapi dia malah menunggu di parkiran karyawan, menungguku selesai bekerja.

“Aku hampir membeku disini Mi-chan.” Ujarnya kesal.

“Pabo, kenapa kau tidak menunggu di dalam mobil?” tanyaku.

“Aku sudah menunggu di mobil, tapi kau tidak datang juga.” sungutnya kesal.

Dia kemudian meraih tanganku, “kajja.”

“Bagaimana dengan skutterku?”

“Itulah kenapa aku membawa supir, untuk menghandle skuttermu.”

Aku dan Kyuhyun sudah duduk berhadap-hadapan di sebuah cafe di daerah Gangnam, mendengarkan ceritanya. Ia sedang menyukai seorang gadis sombong di kantornya. Love at first sight yang begitu terdengar klise ditelingaku. Aku dan Kyuhyun sudah mengenal sejak lama, saat masa kuliah. Kuliahnya, bukan aku. Karena aku tidak berkuliah. Dulu aku adalah seorang pengantar pizza dan dia sering sekali memesan pizza, kami sesekali mengobrol, kemudian jadi banyak mengobrol dan akhirnya dekat. Begitu saja, begitu sederhana. Kami bersahabat murni tanpa ada embel-embel bernama cinta atau sejenisnya walau banyak yang meragukan persahabatan antara lawan jenis pasti berakhir dengan perasaan cinta. Tapi memang begitulah kenyataannya, aku dan dia sama-sama tidak memiliki perasaan apapun. Aku menyukainya sebagai pribadi seperti bunglon yang penuh kejutan dan menyenangkan. Kadang dia begitu hangat, kadang begitu moody, emosional, pokoknya dia sering sekali berubah-ubah. Kadang aku merasa tidak pantas bersanding di sebelahnya, aku dan dirinya begitu berbeda. Dia terlahir sebagai orang yang memang terlanjur kaya-raya, punya prestige tinggi dan selalu dekat dengan apapun hal yang berbau ‘eksklusif. Sedangkan aku? Aku selalu dekat dengan kata sederhana dan perjuangan.

“Berarti menurutmu aku harus berusaha lebih?” tanyanya.

Aku mengangguk, “memang harus seperti itu. apalagi targetmu ini bukan wanita biasa.”

Dia menghela nafas, “kenapa aku harus jatuh cinta dengannya? Ini akan sangat sulit.”

Aku tersenyum, salah satu dari sekian banyak hal yang aku sukai dari dia adalah dia pria yang sangat setia. “Kau yakin kau mencintainya Kyu?”

“Entahlah, tapi rasanya kalau dekat dengannya aku merasa ingin selalu tersenyum.”

“Kau itu jatuh cinta pada manusia atau badut.”

“Yaa, Mi-Chan!” dia memberenggut kesal.

Aku tertawa, “arraa.. arraa.. lagipula aku baru mendengar ada wanita yang tidak bisa bertahan dengan satu pria. Itu benar-benar……”

“Sounds like slut?”

Sebenarnya yeah! “tidak juga. mungkin dia punya trauma masa lalu atau sejenisnya.”

Kyuhyun mengangguk, “mungkin. Ah entahlah. Bagaimana hari pertamamu bekerja?”

“So far….. so good.” Jawabku sambil menyesap frappuchino hangatku.

“Yaa pabo Mi-Chan akan lebih baik kalau kau bekerja di kantorku. Kau tidak perlu kerja begitu keras dan gajinya banyak.”

Aku menggeleng pelan, “dan pekerjaanku adalah mendengar ceritamu? Lebih baik kau pekerjakan aku sebagai asisten pribadimu. Spesialisasi pemberi saran.”

Dia tertawa, “tidak masalah, jika kau mau.”

“Berapa gajiku?”

Kyu tampak berfikir, “dua juta won.”

“Absurd. Sudahlah ayo kita pulang, ini hampir tengah malam.”

“Pulang? Yaa Mi-Chan, kau saja baru pulang pukul 10 tadi, masa sekarang kita sudah harus pulang? Aku belum puas berceritaa…” dia mulai merajuk.

“Oh ayolah tuan Cho, besok aku harus bangun pagi.”

Dia bersungut kesal kemudian mengalah.

Soal pekerjaan, aku tidak pernah mau menerima bentuk pekerjaan apapun dari Kyuhyun maupun keluarga Cho. Aku sudah banyak sekali berhutang budi pada keluarga itu. kalau aku sakit, atau sedang kesusahan, dulu Kyuhyun dan keluarganya sering sekali membantuku tanpa pamrih. Aku tidak mau lebih banyak berhutang pada keluarga itu, apapun bentuknya. Aku tidak tau dengan apa nantinya aku akan membalas. Walau berkali-kali Kyuhyun menawari berbagai pekerjaan untukku, tapi aku menolak. Biarlah aku hidup lebih sederhana tanpa berhutang dengan siapapun.

***

Perfection is a responsibility

Author’s

Hyeorin menyesap rokoknya sekali lagi kemudian jarinya kembali menari di atas keyboard Mac-nya. Sementara sesekali alisnya yang tercukur rapi bertaut memikirkan kalimat selanjutnya yang harus ia tulis. Besok adalah deadline presentasi program baru dan sudah merupakan kewajibannya sebagai creative program director untuk merancang konsep acara yang baru. Di kepalanya sebenarnya sudah ada beberapa ide dan sudah ia seleksi dari kapan-kapan, tapi baru ia kerjakan sekarang dengan sistem kebut semalam karena hari sebelumnya ia lebih sibuk berpesta-pora menghabiskan bergelas-gelas wine sambil menggila di lantai dansa.

Ponselnya berdering, memecah keheningan sekaligus konsentrasinya.

Gae In

Hyeorin menghembuskan nafas kemudian mengangkat telfonnya.

“I have no time to socialize now, i have to work.” Jawabnya cepat.

Di seberang sana Gae In tertawa, “seriously? Ayolah, hanya sebentar.”

“Im on deadline, stop distrub me.”

Klik.

Hyeorin mematikan ponselnya. Ia kemudian kembali berkutat dengan pekerjaannya. Jam di apartemennya hampir menunjukkan pukul 11 malam dan rancangannya masih 40%. Kalau sampai besok ia tidak bisa menyelesaikan rancangan program baru dan mempresentasikannya dengan baik, riwayatnya akan tamat. Hyeorin adalah tipe wanita perfeksionis. Semuanya harus sempurna sampai detail terkecil. Kegagalan kecil bukan berarti masalah kecil, kegagalan kecil bisa jadi pintu awal membuka gerbang neraka dihari esoknya.

“Ouh im going crazy now!!” kini Hyeorin mulai frustasi.

Ia menyesap dalam rokoknya kemudian mengepulkan asap nikotin itu ke udara.

Tingtong.

“Damn!!” sekali lagi ia mengumpat kemudian berjalan menuju pintu apartemennya. Tanpa melihat layar interkom, ia membuka pintu dan mendapati Donghae sudah berdiri disana dengan sekotak donat favoritnya dan dua cup besar kopi.

“Need a help?” tanyanya.

Hyeorin menghembuskan nafas, “no at all, thank you.”

Gadis itu hendak menutup pintunya, tapi dengan cepat tangan kanan Donghae menahannya. Akhirnya, Hyeorin tidak punya pilihan lain.

Malam itu dilewati keduanya di depan Mac milik Hyeorin. Donghae membantu Hyeorin merancang program acara baru dari kacamata seorang penonton. Kalau Hyeorin mau mengalahkan gengsinya yang setinggi gunung Alphen, ia sangat berterima kasih karena ide segar Donghae sangat membantunya. Lewat jam 2 pagi keduanya menyelesaikkan pekerjaan Hyeorin. Keduanya kemudian duduk di sofa depan tv.

“Jadi, apa ada tanda terima kasih?” tanya Donghae sambil melirik Hyeorin.

“Jangan mulai, belajarlah membantu oranglain tanpa pamrih.” Jawab Hyeorin sinis.

Donghae tersenyum.

“Kenapa kau kemari?” tanya Hyeorin kemudian.

“Aku sedang bosan di rumah. Lagipula tidak ada salahnya membantu mantan pacar.”

Hyeorin melirik Donghae dengan satu alis terangkat. Sejujurnya, pesona Donghae tidak pernah bisa ia tolak. Terlalu menghipnotisnya. Itulah kenapa detik berikutnya Hyeorin membiarkan Donghae menyentuh bibirnya, begitu dalam. Dia bisa saja memutuskan hubungannya dengan Donghae, tapi bukan berarti dia bisa melepaskan diri dari jeratan pria itu.

***

Eunmi’s

Aku kembali melihat pria dengan wajah malaikat itu, kali ini dengan wanita yang berbeda dari kemarin saat aku pertama kali bertemu dengannya. Aku seperti menelan kata-kataku sendiri, membenarkannya, sekaligus merasa kalau aku menggelikan. Dia yang setampan itu tidak mungkin menyia-nyiakan ketampanannya yang ada di level expert itu hanya untuk ber-single ria dan menunggu seorang wanita. Itu klise dan hanya ada di novel atau opera sabun.

“Ada yang bisa kami bantu?” dia kembali menghampiri meja kasir.

Dia tersenyum, meluluhkan persendian bahkan organ terkecil ditubuhku : sel! Kenapa efeknya bisa seperti ini, dia hanya akan memesan makanan mungkin untuk teman wanitanya, bukan memintaku menjadi pasangan hidupnya.

“Blueberry cheese cake dan Ice Moccachino.” Jawabnya.

Aku kemudian menekan layar sentuh di depanku, kemudian mengambilkan pesanannya. Dan dia membayar. Begitu saja. Tentu saja, hubunganku dan dia hanya sebatas kasir dan customer.

“Matamu indah.” Ujarnya sebelum pergi.

Membuatku tertegun. Dia kembali berhasil membuat jantungku berdetak, berpacu mengalahkan cepatnya hitungan detik. Apa barusan? Kind of flirting? Lalu kenapa dia malah menggoda seorang kasir? Kacau. Otakku seperti membeku.

“Eunmi-ya, gwenchana?” suara Haneul menyadarkanku.

Dengan cepat aku mengangguk. Lupakan apapun yang baru saja ia katakan Eunmi. Seindah apapun mata yang kau miliki, bukan berarti dia lantas mencintaimu. Kau hanya kasir dan dia klan jetset. Eunmi, sadar!

“Itu tuan Lee, ah pantas saja kau seperti ini.” ujar Haneul lagi.

Aku beringsut kesal karena ketahuan, “seperti ini apa maksudmu?”

“Ayolah Eunmi, kau tidak bisa berbohong dengan matamu itu.”

Aku jadi tertarik membahas mataku, “kenapa dengan mataku.”

“Tidak, matamu itu selalu berkata jujur.”

“Haneul-ya, apa mataku indah?” tanyaku dengan dua alis terangkat.

Haneul memandangku sejenak kemudian mengangguk, “jernih.”

Aku tersenyum lebar. Tuan Lee mungkin benar, mataku indah. Ah tapi kenapa pujiannya seolah berbeda di telingaku.

***

Author’s

Kyuhyun memandang jauh ke depannya, ke lantai dansa ke tempat banyak sekali manusia tengah berdansa dengan gaya macam-macam disana melepas penat, stress, jenuh atau sekedar melepaskan hasrat menari mereka. Tapi lebih dari itu, ada satu atau mungkin sepasang object yang yang tengah ia perhatikan. Sepasang wanita dan pria yang tengah menari berdua, membuat Kyuhyun menahan nafas dan memicingkan matanya.

“Minum Kyuhyun-ssi?” Gae In mengangsurkan segelas wine padanya.

Kyuhyun tersenyum sambil menerimanya, “terima kasih.”

Gae In tersenyum lebar.

Tidak berapa lama, dua object yang tadi diperhatikan Kyuhyun mendekat.

“Jadi, apa ada yang sudah kembali menjalin hubungan disini?” sindir Gae In.

Baik Hyeorin maupun Donghae tidak memberi jawaban apapun, keduanya hanya tersenyum.

“Kyuhyun-ssi, apa kau tidak ingin berdansa?” tanya Gae In

Kyuhyun menggeleng sambil tersenyum, “aku sedang tidak mood Gae In-ssi.”

Gae In balas tersenyum, tidak ingin memaksa karena Kyuhyun adalah atasannya. Kyuhyun adalah pemilik stasiun TV tempat dirinya dan Hyeorin bekerja. Ini kali pertama mereka jalan bersama. Satu alasan Kyuhyun mau bergabung dengan Gae In dan Hyeorin yang menurut gosip gila klabbing adalah karena ia menyukai Hyeorin. Tapi begitu sampai disini, ia justru seperti patah hati mendapati Donghae dan Hyeorin terlihat begitu mesra, meski menurut Gae In keduanya sudah lama putus.

“Kyuhyun-ssi, apa kau suka ke tempat-tempat semacam ini?” tanya Hyeorin kemudian.

“Sedikit. Hanya saja jarang, kau tau bagaimana pekerjaan kita.” Jawab Kyuhyun.

“Kau harus lebih sering ke sini, itu akan membantumu melepaskan stress.” Lanjut Hyeorin

Kyuhyun hanya mengangguk sambil tersenyum. Sejujurnya moodnya sudah tidak bagus sekarang, ia ingin pulang atau kalau bisa bertemu dengan Eunmi. Tapi ini masih terlalu sore untuk pulang dan kedua bawahannya ini pasti akan menahannya.

“Aku duluan kalau begitu.” Tiba-tiba Donghae pamit.

“Kau mau kemana?” justru Gae In yang bertanya.

“Ada janji. Aku duluan. Kyuhyun-ssi, aku duluan.” Dia melambaikan tangan ke arah Kyuhyun, mencium pipi Hyeorin mesra kemudian berlalu.

“Kau sudah kembali dengannya?” tanya Gae In.

“Ani.”

“Slut.” Umpat Gae In sambil tertawa, Hyeorin hanya tertawa. Sementara Kyuhyun sendiri malah bingung, ia harus senang atau tetap menikmati moodnya yang buruk ini.

Eunmi menjalankan skutternya dengan kecepatan sedang menembus jalanan Seoul yang sudah mulai sepi karena jam sudah menunjukkan hampir tengah malam ketika tiba-tiba ia mengerem skutternya mendadak. Matanya terpaku pada kejadian di depannya. Sebuah mobil mengerem berdecit menghindari kendaraan lain tapi justru menabrak pohon yang ada dipinggir jalan menimbulkan suara benturan sangat keras. Eunmi ternganga, ngeri melihat kejadian di depannya. Jatungnya terasa berdetak begitu keras. Tidak lama beberapa orang berkumpul. Eunmi ikut mendekat. Matanya kembali membulat begitu melihat siapa yang mengemudikan mobil itu dan terluka cukup parah.

“Dia setengah mabuk.” Suara satu orang

“Astaga, dia tidak sadarkan diri.” Sahut yang lain.

“Tuan Lee?! Ambulans cepat panggilkan ambulans.” Teriak Eunmi.

“Nona, apa kau mengenal pria ini?”

Eunmi memandang orang yang bertanya padanya itu sejenak kemudian mengangguk pelan.

Eunmi’s

Aku menghembuskan nafasku lega, lega karena Tuan Lee sudah membaik. Ia mengalami beberapa luka memar dan patah di lengan kanannya. Aku memandang dari sebelah ranjang melihat Tuan Lee yang matanya masih terpejam. Aku tau ini bukan sebuah kebetulan, tidak pernah ada hal yang kebetulan di dunia ini, semuanya sudah diatur dan aku berharap apapun aturan yang Tuhan buat, semoga manis untukku. Perlahan aku melihatnya mengerjapkan matanya dan pelan-pelan membuka matanya. Jantungku langsung berdetak cepat dan tenggorokanku terasa sangat kering.

“Aku dimana?” dia bertanya dengan suara setengah parau.

“Kau… di rumah sakit Tuan Lee.” Jawabku, pelan dan canggung.

“Ah kepalaku.” Keluhnya, “apa yang terjadi?”

“Kecelakaan. Kau menabrak pohon dan jadi seperti ini.”

Dia kemudian memejamkan matanya sejenak, “aku memang agak mabuk. Dan siapa kau? Apa kau yang menolongku?”

Aku menggeleng pelan sambil tersenyum, berusaha bersikap sebiasa mungkin meski jantungku berdegup tidak karuan, “banyak yang menolongmu.”

Dia tersenyum, membekukan sel-sel otakku, membuatku mematung. Kenapa aku sangat memujanya bahkan kami belum berkenalan secara resmi.

“Tapi kau yang tetap tinggal. Berarti kau yang menolongku. Gomawo.” Ujarnya.

Aku tersenyum, “cheonmaneyo. Kalau begitu, aku permisi dulu, kau harus banyak istirahat.”

Aku bertaruh bahkan dia lupa siapa aku. Aku mendesah, padahal aku berharap dia mengenalku. Ah sudahlah Eunmi, dia mungkin bertemu ratusan wanita dengan mata yang indah setiap harinya.

“Sekali lagi terima kasih.”

Sekali lagi, apa kau tidak mengingatku?

Aku mengangguk kemudian beranjak keluar dari ruang rawatnya.

*CONTINUED*