Tittle : Last Rainbow , Yoseob Please Don’t Go

Author : Yoora Park (YooParkie~~~~)

Length : One Shoot

Genre : Love Story

Cast :Yoseob ‘beast’

Suzy ‘miss a’

 

Kupandangi batu nisan yang sudah ditancapkan tersebut. Tak ada yang menemani. Hanya batu nisan yang menemani dan hujan yang menyertai. Ya tuhan… kenapa disaat seperti ini kau mengambilnya? Kumohon…jangan nampakkan pelangi itu lagi padaku….

 

 

”suzy-ah , ayo ke seoul tower!!” ajak yoseob padaku.

“aniyo…aku tak mau….” balasku  judes sambil mengembungkan pipi.

“ayoolah!! Kau harus keluar dari ini segera!! Jika tidak, aku tak akan mau kemanapun!” sebalku padanya sambil menunjuk ranjang pasien padanya.

Ya. Aku adalah seorang suster disini. Karna orang tuanya sibuk , mereka memintaku untuk menjaganya secara khusus. Ya. Mereka tau kalau aku pacarnya , makanya mereka sengaja meminta untuk merawatku disini. Lagipula tempatku bekerja ini cukup terkenal di seoul.

Yoseob masih berbaring di kasurnya. Dengan infus yang tertancap di di dekat pergelangan tangannya. Ia saat ini sedang menonton acara televisi ‘Strong Heart’ sekarang. Ia mengagumi lee seung gi. Lucu bukan?? Entahlah.

Pacarku ini menderita leukimia. Aku tak tau stadium berapa. Tapi aku selalu berdo’a kalau itu stadium awal. Karna jika aku bertanya kepada ayahnya , ibunya , ataupun yoseob sendiri , mereka tak mau menjawab. Katanya tidak parah. Jika dijawab. Ia takut nanti kalau itu menjadi stdium akhir. Ada ada saja.

Kurapikan poni rambutnya yang berserakan dikeningnya. Membelai kepalanya yang kecil itu. Ia sangat lucu. Bahkan saja  aku tak percaya kalau ia penderita leukimia. Ia begitu bersemangat hidup.

“suzy-aah , apa kau tidak malu punya kekasih sepertiku?? Aku berpenyakitan begini mana bisa menjagamu??”. Tanya yoseob saat aku sedang membelai rambutnya. Terang saja aku langsung menjitak kepalanya atas pertanyaan tersebut.

“kenapa kau bertanya seperti itu??? Kau tau selama hidupku tak pernah ada kata penyesalan dalam diriku! Bahkan sampai sekarang saat aku memilikimu!”.

Yoseob yang mendengar itu kaget dan langsung terduduk dari tempat ia berbaring. Ia memasang wajah tak percaya. Aegyo nya keluar lagi.

“benarkah??tapi selama 8 bulan kita berpacaran kenapa kau tidak pernah menciumku?? Padahal aku selalu banyak dapat kesempatan , tetapi kenapa kau pura-pura menghindar?? Di tambah lagi suster lain yang sengaja datang disaat-saat ‘keemasan’ ku!!”.

Aku memandanginya lembut.

“saat-saat keemasan? Apa maksudmu?? Haruskah aku menciummu sekarang??”. Godaku pada yoseob .

Terang saja. Yoseob langsung memerah wajahnya. Ia menundukkan kepalanya.

“ka..kal…kalau memang iya…sekarang saja….”

Aku hampir tertawa melihat tingkahnya. Aigooooo!!.

 

“hummm..baiklah!! tapi jangan di bibir!!”.

“yaa suzy-ah!!” rengek yoseob.

“aniyo!! Sekarang jam kerjaku!! Aku tak ingin berbuat aneh!” balasku dengan judes.

Tiba-tiba ia menarik tanganku keras hingga aku berdiri tepat didepan wajahnya dimana ia duduk. Ia langsung mencium keningku dengan lembut. Begitu hangat. Ia melepakan ciumannya dan langsung membelai rambutku.

“chagi..lanjutkanlah pekerjaanmu…semangatlah!! dan jangan sampai kelelahan…” katanya dengan senyum lembutnya.

Aku memegang tangannya. Seakan tak ingin melepasnya.

“aku ke tempat dokter dulu yoseob—ah…. tapi berjanjilah..jangan berikan tangan ini pada orang lain..tangan ini hanya milikku….”.

Ia membalasnya dengan senyuman.

”kau rakus sekali, suzy. Tapi  kalau aku tak sengaja menyentuh tangan suster lain??” tanyanya bercanda.

Aku lantas melepas tanganku.

“YOSEOB-AH!!”.

Ia langsung tertawa. Dan kembali menggenggam tanganku.

“ya , aku berjanji…tangan ini hanya milikmu sampai ajal kita telah sampai…”.

 

 

 

“suzy , bagaimana kau bisa mengenal pasien bernama yoseob itu?? Ia begitu tampan…” tanya suster sulli sambil merapikan kasur pasien yang sudah pulang.

“ia pacarku sewaktu kuliah…saat aku bekerja disini.. dua bulan kemudian ia masuk rumah sakit ini karena leukimia…” jawabku sampai pada saat di kata ‘leukimia’, air wajahku berubah murung.

“suzy.. maaf jika kalimatku ini sedikit kasar… kau tau leukimia cukup susah diobati… lebih baik sekarang kau lebih banyak menjaganya….” saran sulli padaku.

“aku tau sulli…tapi ia tak mau aku berlama-lama disana…ia ingin aku tetap menjaga profesiku…”.

“suzy-ah…jangan sedih begitu….” rengek sulli padaku. Ia sadar kalau aku mengeluarkan air mata sekarang. Aku langsung memeluk sulli…

“unni….kenapa ia begitu tegar???aku selalu iba melihatnya…..hiks…hiks…unni…aku capek memasang wajah tak tau apa-apa padanya…padahal aku tau kalau sekarang leukimia-nya sudah stadium akhir….”

 

 

 

“suzy-ah , kau dimana sekarang”  tanya yoseob dari sebrang telpon.

“aku sedang menuju ke kamarmu…aku didekat kantin rumah sakit..”

“suzy-ah!! Kebetulan!! Sekarang sedang hujan. Bisakah kau membawa minuman hangat kepadaku??” tanya yoseob.

“umm baiklah…tapi ini tak gratis!! Kau harus membayar-nya nanti!!” candaku padanya. Yoseob hanya terkekeh dari sebrang.

“baiklah chagi…aku akan membayar mahal!”.

“baiklah..tunggu sebentar..”

Aku mematikan telpon tersebut. Dan segera membeli minuman teh jahe hangat. Setelah kubeli, segera aku ke lantai 9. Tempat ia dirawat.

Tok..tok…tok…. kuketuk pintu ruangan tersebut.

“silakan masuk…” jawab yoseob dari dalam.

 

“yoseob-ah , ini minumanmu…..”.kusodorkan pelan minuman itu ke mulutnya. Dan ia melanjutkan minumnya sendiri. Aku berjalan menuju jendela. Membuka tirai yang menutupi ruangan. Benar , sekarang sudah mau masuk musim hujan.

“aahh hangat sekali…..hey..apa sekarang sudah mau masuk musim hujan??”

“sepertinya begitu….kenapa yoseob-ah??”.

“yaah syukurlah…aku ingin sekali melihat pelangi…kau tau…aku sangat bosan disini…aku sudah lama tidak melihat pelangi….”keluhnya sambil menatap pemandangan diluar jendela lekat-lekat. Ia duduk di kursi dekat  jendela dengan serius.

Aku menatapnya serius. Ya. Ia memang sangat ingin melihat pelangi yang bagi orang biasa itu merupakan pemandangan ‘tak ajaib’. Ia menginginkannya.

“yoseob-ah ,aku dipindah kerjakan untuk terus menjagamu….jadi aku akan menemanimu melihat pelangi nantinya…” kataku padanya sambil tersenyum lembut.

“benarkah chagi?? Akhirnya aku tidak bosan lagi disini….” jawabnya dengan senyum hambar. Aku tau ia sedang memaksakan diri tersenyum dengan wajahnya yang sepucat salju.

Aku memeluknya dari belakang. Aku tau ia sedang sakit hatinya sekarang. Ia juga pasti tau karna ia telah sampai distadium akhir. Mana mungkin ia bisa melihat pelangi??.

Aku menangis dipunggungnya yang dingin. Rambutnya begitu wangi…aku tidak ingin aroma ini menghilang selamanya…

“yoseob-ah….jangan begitu….” tangisku di punggungnya.

Yoseob diam saja. Lalu ia berdiri dan memelukku. Begitu kuat pelukannya.

“jangan memasang wajah seakan tak tau lagi suzy…padahal kau juga sudah tau kalau aku sudah mencapai stadium akhir….jangan berpura-pura….nanti hatiku semakin sakit…..suzy…tetaplah disini…..aku takut sendiri disini…aku semakin kedinginan….” tangis yoseob. Air matanya jatuh mengenai baju susterku. Aku tenggelam dalam pelukannya. Aku menangis semakin kuat.

“yoseob-ah….berjuanglah….dan aku akan selalu menjaga dan mendo’akanmu…….ku mohon jangan menangis…tetaplah tersenyum seperti dulu yoseob…senyum yang hangat mengalahkan angin musim gugur…”.

Kami masih saling berpelukan. Sampai ia akhirnya pingsan dipelukanku………

 

 

 

 

2 bulan kemudian…

 

Yoseob selalu berada disampingku. Aku selalu menemaninya. Duduk didepan jendela menunggu hujan dengan pelangi sabagai penantian. Kami selalu makan bersama , bercanda bersama,nonton bersama……

“yoseob-ah , aku membawakan gitar…gitarmu yang kemarin senarnya sudah banyak yang lepas…” sodorku gitar padanya.

Ia tersenyum cerah begitu melihat gitar. Walaupun kutau paras wajahnya semakin pucat dan kurus. Pipi nya yang menggemaskannya itupun sudah hampir tak terlihat.. walaupun masih ada….

“gomawo chagi~~~ sini aku beri satu kissseu dulu~~” rayunya padaku.

“iisshh….tapi dipipi saja!”.

“baiklah~~~”. Ia mencium pipiku. Yang seharusnya ini hangat tapi sentuhan bibirnya begitu dingin…

“yoseob-ah…nyanyikan lagu untukku…”.

Ia kebingungan. Dan ia kembali tersenyum sambil memegang gitarnya.

“baiklah…aku akan memainkan lagu beast- on rainy days…” katanya dengan tersenyum.

“kajja”. Ajakku pada yoseob agar menyanyikannya di kursi dekat jendela.

Kami duduk bersebelahan. Dan ia-pun mulai memainkan gitarnya.

“sesangi euduwojigo…joyonghi biga naerimyeon..yeojonhi geudero…oneuldo eogimeobsi nan…beoseonajil motane….neoui saenggak aneseo….ije kkeuchiraneun geol aljiman..miryeoniran geol aljiman…geukkajit jajonsime neol japji motaetdeon naega..jogeum aswiul ppuninikka biga oneun naren nareul chajawa…bameul saewo goerophida..iga geuchyeogamyeon neodo ttaraseo…seoseohi jogeumssik geuchyogagetji….”.

Yoseob masih bernyanyi dengan suara emasnya…kami saling berpandangan…bernyanyi bersama….sedangkan yoseob memandangiku sambil sesekali melihat ke gitarnya…

Suara nyanyian yoseob begitu ajaib. Segala kegundahan hatiku seakan tak terguncang lagi. Mungkin langit juga kagum dengan suaranya. Sampai akhirnya hujan berhenti…ia menghentikan nyanyiannya dan meletakkan gitarnya kembali ke bangku lain.

Langit mulai cerah kembali…kota seoul kembali terang…dan semburat cahaya warna warni melengkung mulai terlihat dilangit…PELANGI!!.

Aku segera ke beranda kamar dan memanggil yoseob.

“YOSEOB-AH!! ITU PELANGINYA!!” teriakku padanya dengan senang sambil menunjuk langit. Yoseob langsung kaget.

”JINJJA???”.

ia pun langsung berlari keberanda.

Sangat indah pelangi tersebut…kulihat mata yoseob..jauh lebih cerah daripada langit kota seoul….ia menatap pelangi tersebut dengan takjub , bahagia…..namja yang tepat berdiri disampingku ini benar-benar bahagia….

“suzy-ah…sangat cantik ya….”.

“iya…pelanginya sangat cantik…”

“bukan pelanginya..tapi kau! Melihat aku bahagia , sepertinya kau juga bahagia…gomawo…”.

Aku tersenyum lembut padanya.

“arasseo…”.

Yoseob kembali menggenggam tangannya padaku. Dan menghadapkan badannya padaku.

“suzy-ah…naneun saranghaeyo…”.

“ne…aku lebih mencintaimu….”.

Ia terkekeh mendengarnya. Lalu menghapus air mataku yang mengalir dipipiku. Ya. Aku menangis terharu melihatnya.

“ingatlah suzy…..aku selalu ada….aku mati bukan berarti aku tak ada…aku masih tetap ada…di hatimu…di ingatanmu…..”.

“yoseob-ah…jangan berkata seperti itu…..kau belum mati…kau masih hidup…..bukankah kau takut sendiri…..aku disini akan menemanimu…..jangan tinggalkan aku sendiri disini……nanti kau sendirian disana…..” aku menangis semakin kuat….air mataku sudah penuh…..susah bagiku untuk melihat nya dengan jelas…..

“tidak….aku tidak sendiri……” jawabnya dengan senyum lembut.

Ia menyentuh wajahku. Ia dekatkan wajahnya padaku….aku tak berani menatap wajahnya…..ia mencium bibirku lembut. Penuh arti…aku tau ini ciuman ini ciuman perpisahan….ciuman pertama dan terakhirnya…begitu juga untukku…..

Begitu ia melepaskan ciumannya , aku menarik punggungnya agar ciuman ini tak lepas…ciuman terakhir ini…

“cukup suzy…aku sudah tak ada….jangan munculkan aku lagi di alam mimpimu…..bukan karna pelangi aku meninggalkanmu…tapi disaat pelangi datanglah aku harus meninggalkanmu…..jangan buat aku sedih suzy-ah……” katanya sambil mengusap air mataku yang kembali meruah dari pelupuk mata.

ia kembali memelukku…mencium keningku lama…..

“pulanglah suzy…kau sudah kurus sekarang……makanlah….dan akulah yang bergantian menjagamu sekarang…dari atas sana….naneun saranghae suzy-ah…..berjanjilah agar tak menangis lagi…berjanjilah….” katanya dengan senyum paling lembut yang pernah kulihat. Kini wajahnya tidak pucat dan tidak kurus…kini ia seperti sehat dulu…..tapi tidak untuk diduniaku…tapi didunianya sendiri…dunia yang tidak akan membuatnya kesepian lagi….tidak seperti dirumah sakit dulu….

“kurasa surga lebih baik daripada rumah sakit , yoseob….tapi bolehkah aku tetap mencintaimu??”

Ia menggenggam tanganku “andwae…kau tidak boleh mencintai orang yang sudah tidak  ada….cukup aku sajalah yang mencintai orang hidup…kau cukup kenang aku selalu di hati dan pikiranmu….maka itu merupakan bukti kau tetap mencintaiku….” katanya sambil perlahan melepas genggaman tangannya padaku…

Bayangan namja yang serba putih bernama yoseob itu mulai menghilang tertiup angin hangat….

“jaga dirimu dan carilah namja lain yang akan menjagamu….suzy….bye….”.

Aku menangis kembali dengan keras. Bayangan itu benar-benar menghilang bagaikan debu….

ANDWAE!! JANGAN PERGI!!!

 

 

 

“suzy-ah, bangunlah…kau bemimpi buruk??? tangisanmu membuat bayi kita terbangun…”.

Seorang namja membangunkanku dari mimpi burukku.

“kau…????”.

“apa kau hilang ingatan??? Ini aku ??? YANG YOSEOB!! “katanya sambil menggoyangkan pundakku.

Oh ya , aku baru ingat kalau ada orang yang menyumbangkan sum-sum tulangnya kepada yoseob dan ia benar-benar sembuh total……astaga….

“kau bermimpi apa chagi sampai bayi kita terbangun??” tanyanya lembut sambil membelai rambutku.

“aku bermimpi kalau dulu seandainya tidak ada yang mau mendonorkan sum-sum tulang belakang  kepadamu….lalu…” aku mulai menangis kembali. Yoseob memelukku.

“sudahlah…lagipula sekarang aku sudah sembuh total bukan??” jawabnya dengan tatapan mata menggemaskannya.

“humm..iya…tapi apa maksudmu bayi kita terbangun???ia bahkan belum lahir oppa!!!!”.

Yoseob terkekeh. Lalu memeluk perutku.

“yoseob-junior….lihat ammamu marah-marah seperti ahjumma….setelah kau keluar…aku akan terus bersamamu agar amma-mu cemburu!”

Aku mengacak rambut yoseob dengan keras hingga ia meringis.

“YAAA !! YANG YOSEOB!! NAPPEUN NAMJA!!!!”

 

 

+END+

 

 

Mian , author ga tega yoseob mati T^T , komeng ya yang baca~~~~eh , komen J author berpikir pengen buat sekuel…tapi liat reaksi pembaca dulu supaya sekuel-nya nanti ga sia-sia J

Kritik dan saran silahkan diisi dikolom bawah J

 

 

 

OJA GREENE