LOVES ME, NOONA part 4 (last)

Title:  LOVES ME, NOONA

Author: Song Miin Ah

Main Cast : Kim Jonghyun, Park Hyunra

Support Cast : SHINee

Length : sequel

Genre : Romance

Rating : General

 

~~~~~~

Jonghyun POV

 

“Ku peringatkan kau. Jangan lakukan hal seperti itu lagi.” Aku menatap Sekyung setajam mungkin. Dia balas menatapku seolah tak tahu apa-apa, “Apa maksudmu, Jjong?”

“Hentikan semua ini. Aku sudah bersamamu. Mengikuti keinginanmu. Jangan ganggu dia lagi.”

“Dia? Siapa? Aku tidak mengerti?” ujar Sekyung sambil mengecilkan suaranya. Aku menoleh kesekeliling. Ternyata para tamu sedari tadi tengah memperhatikan kami.

“Kau telah membuatnya tenggelam tadi. Jangan pura-pura tidak tahu.” Ketusku. Sekyung langsung menarik tanganku menjauh dari kerumunan.

“Apa yang kau inginkan dariku? Katakan.” Ujarku.

“Kau bersamaku, tapi kau tidak mencintaiku!! Katakan kalau kau mencintaiku. Kau mencintaiku, Jonghyun. Bukan gadis kampung itu!” bentaknya padaku. Ujung matanya tampak berair. Aku tak tau itu air mata buaya atau bukan.

“Aku tidak bisa.”

“Jjong-ah! Kita sambung lagi hubungan kita…..” dia mulai meraih kedua tanganku.

“Kau tau kan kalau dulu hubungan kita hanya bohongan? Hubungan kita hanya tameng untuk melindungi Jessica Jung dari skandalnya. Hubungan kita bukan cinta atau apa. Hanya bohong. Sekarang skandal Jessica-noona sudah hilang. Hubungan kita juga tak punya alasan lagi untuk dipertahankan,” balasku sambil melepaskan kedua tangannya.

“Kau membuatku menyukaimu, Kim Jonghyun….” tangisnya.

Aku mengeluarkan saputanganku dan memberikannya padanya, “Tapi aku menyukainya. Aku menyukai Hyunra lebih dari rasa sukamu padaku. Aku tak punya alasan untuk mengganti sosoknya dengan dirimu. Maaf,”

Aku berbalik hendak meninggalkannya.

“Sekalipun dia menghianatimu dan mencintai Key? Dan bukan dirimu?” tanyanya. Kurasa memang itu air mata buaya. Aku tak melihat wajahnya, tapi kurasa dia sudah berhenti menangis.

Aku menghentikan langkahku, “Tidak apa-apa. Dia pasti akan menyukaiku. Karena sejak dulu dia adalah pengantinku.”

“Aku akan melakukannya, Jonghyun. Yang tadi bukanlah apa-apa. Aku akan menyakitinya sampai kau tak akan dapat melihatnya lagi.”

“Tidak apa-apa. Lakukanlah. Dia orang yang dicintai banyak orang. Akan banyak orang yang melindunginya. Lagipula, aku akan melindunginya.” Balasku sambil melempar senyum sesaat padanya lalu meninggalkannya.

~~~~

Aku berdiri didepan pintu apartementnya. Kudengar dari Taeya akhir-akhir ini dia tidak pulang ke Dorm mereka. Aku tidak mau masuk kedalam. Kurasa dia belum sembuh betul sejak kejadian kemarin.

Aku memandangi kotak sepatu yang sedari tadi aku pegang. Ini pengganti sepatumu yang waktu itu. Aku menaruhnya didepan pintu lalu bergegas pergi.

~~~~

Hyunra POV

Hhh… rasanya tubuhku lemas. Badanku terasa sangat panas. Ya. tentu saja. Aku sedang demam soalnya. 40 derajat celcius. Dan salju pertama sudah turun tadi malam. Jatuh di kolam renang dimalam akhir musim gugur memang sangat buruk. Tapi setidaknya aku tidak tenggelam.

Aku merapatkan syalku. Aku memakai 3 syal kalian tau. Hari ini dingin sekali. Aku memutar kenop pintu dan mendapati sebuah kotak berwarna hijau didepan pintu. Paket? Aku berjongkok mengambilnya. Ini sepatu. Ah ada pesannya,

 

Yang lama sudah rusak. Aku tidak dapat menemukan yang sama persis. Tapi ini yang terbaik menurutku. Terserah kalau kau mau pakai atau tidak. Tapi aku memberikan ini untukmu sebagai tanda maafku. Kau harus tau aku mencintaimu, Park Hyunra.

 

            Jonghyun-ah…. aku juga mencintaimu. Tapi ini tidak bisa dibiarkan. Aku harus tetap menjadi noonamu. Aku tidak mau ada yang berubah diantara kita. Aku bergegas melepas sepatuku dan memakai sepatu pemberian Jonghyun.

~~~~

Key POV

 

Dia terlampau bisu hari ini. Tadi di mobil dia hanya diam tanpa bicara 1 katapun. Tapi ada yang ganjal sedari tadi. Dia terus saja merapatkan matelnya dan menghela nafas panjang-panjang. Seakan-akan mengatur nafasnya agar selalu stabil. Hari ini akan ada acara musik tahunan besar. Acara  berlangsung selama 2 hari. Karena itu, semua yang ikut serta akan tidur di 1 gedung yang sama.

“Noona, gwencana?” tanyaku. Aku mulai punya firasat buruk.

Dia menggeleng, “Aku baik-baik saja.”

Tunggu. Kenapa wajahnya makin lama semakin merah? Merona? Bukan. Ini berbeda. Aku meraih dahinya. Astaga… panas sekali. Dia langsung menjauhkan dahinya dari tanganku.

“Kenapa kau tidak bilang?” tanyaku. “Aku baik-baik saja….” balasnya lemah. “Apanya yang baik-baik saja!! Kau mau menginap disini dengan keadaan seperti ini?!” bentakku. Dia hanya menatapku. Matanya semakin terlihat lemas, nafasnya juga semakin tersenggal-senggal. “Astaga….”

Aku langsung menggendongnya. “Aku baik-baik saja, Kibum-ah. Aku berat. Jangan gendong aku terus menerus.” Keluhnya. “Jangan mengeluh terus. Kau harus berterimakasih karena aku mau menggendongmu.” Balasku sambil memasuki ruangan istirahat khusus untuk SHINee.

Aku menidurkannya disebuah sofa. “Kau sudah minum obat?” tanyaku. Dia mengangguk. Aku duduk dipinggir sofa sambil merapatkan selimutnya. “Berbaring saja,” perintahku saat ia mulai duduk. “Aku pusing kalau berbaring.” Balasnya.

“Dinginkah?” tanyaku. Dia mengangguk.

Aku memeluknya sekali lagi, “Aku akan membuatmu hangat.”

“Kenapa kau baik sekali, Kibum-ah?” tanyanya.

Aku menatapnya sambil tersenyum, “Aku menyukaimu. Tentu saja aku akan berbuat baik padamu.”

“Bagaimana kalau aku menyakitimu? Aku benar-benar takut akan menyakitimu.”

“Sakitilah aku kalau kau mau. Aku akan tetap berbuat baik padamu.”

“Sekalipun kau benci padaku?” dia mulai menatapku semakin tajam. Apa maksudmu bertanya seperti itu?

“Aku tidak akan bisa benci padamu.” Balasku sambil membaringkan tubuhnya. “Aku sayang kamu. Terimakasih. Kau sangat baik, Kibum.” Katanya sebelum ia menutup kedua matanya. Hanya sayang kah? Perasaanku lebih dari ‘sayang’ noona…

Aku mencium keningnya. Rasanya panas sekali.

~~~~

Jonghyun POV

 

Key keluar dari kamar. Dia berhenti  sebentar ketika melihatku berdiri didepan pintu. “Jangan diganggu. Dia sedang sakit.” Katanya memperingatkanku. “Aku tau. Aku sudah dengar dan lihat tadi.” Balasku.

“Kau sudah tau penyebab dia terjatuh kemarin?” tanyanya.

“Aku tau.”

“Kalau begitu akan lebih baik kalau kau tidak dekati dia. Sekyung tidak akan tinggal diam, Jjong.”

“Bukankah akan lebih baik kalau aku bersamanya? Jadi aku dapat menjaganya setiap waktu.” Kataku sambil melewatinya masuk kedalam ruangan.

“Aku tidak akan memberikan dia padamu.” Balas Key sambil berlalu meninggalkan aku. Aku menghela nafas sepanjang mungkin dan menutup pintu ruangan. Yang tadi pastilah bukan candaan. Aku juga tidak akan menyerahkan Hyunra padamu, Key.

Aku menatap gadis itu dalam-dalam. Rasanya aku takut mendekatinya. Aku telah menyakitinya berkali-kali. Menyeretnya kedalam bencana yang akan merebut nyawanya. Dan… merebut sesuatu yang berharga untuknya.

“Mianhae. Jeongmal Mianhae…” aku terduduk tepat disebelah sofanya. Dia tidak merespon sama sekali. Tentu saja. Karena dia sedang tidur sekarang. Badannya panas sekali. Aku tetap meletakkan tanganku didahinya. Tuhan, alirkan saja panasnya ke badanku.

“Jjong-ah…… mianhae….” dia mengigau. Tanpa sadar aku tertawa sendiri. Hatiku senang bukan main ketika mendengar namaku lah yang ia panggil. Untunglah bukan Kibum. Itu tandanya Kibum belum bisa menggantikan aku kan?

“Noona… saranghaeyo.”

Aku pun ikut memejamkan mataku.

~~~~

Hyunra POV

 

Rasanya badanku basah, karena itulah aku membuka mataku.

“Jonghyun-ah? Kibum-ah?”

Mwo?! Kenapa mereka berdua tidur di pinggir sofa? Aku melengok keseluruh ruangan. Jinki? Minho? Taemin? Ada Taeya, Miinah dan Kara juga? lalu ini… aku melepas selimutku. Ini jaket Jonghyun. Apa mereka semua cemas padaku?

Aku turun dari sofa. Terimakasih sudah mencemaskanku. Aku senang sekali. Untunglah aku punya dongsaeng yang sangat baik seperti kalian. Aku meraih keningku. wah, aku sudah sembuh rupanya. Sekarang pukul setengah 6 pagi. Pukul 8, show akan dimulai lagi.

Aku menarik selimut menutupi mereka semua. Bagaimana bisa mereka kemarin tidur tidak pakai selimut sama sekali? Ah… selimutnya sudah habis kupakai. Kurasa.

“Hyunra….”

Aku menoleh kearah Kibum dan Jonghyun. Siapa yang memanggilku tadi? “Wae?” bisikku. “Saranghae…”

Aku tertawa pelan. Kibum-ah… bagaimana bisa kau katakan itu bahkan ketika kau tidur sekalipun? Aku berjongkok didepannya dan berbisik, “Nado, Kibum-ah. aku sayang kamu. Kamu dongsaeng yang sangat baik.”

“Hyunra, jadilah pengantinku…”

Mwo? Kali ini Jonghyun yang mengigau. Aku bergerak dan duduk didepannya. Wajahnya tetap sama. Kau sudah jadi namja, Jonghyun. Aku sudah memaafkanmu. Aku tau kau pasti tidak sengaja melakukan hal itu padaku. Aku tau kau mabuk saat itu. Maaf, aku hanya kesal denganmu akhir-akhir ini.

“Saranghae…”

Bibir kecilnya mulai mengucapkan kata itu lagi. Apakah kau benar-benar menyukaiku? “Nado saranghaeyo, Jonghyun. Tapi aku noona-mu. Aku tidak mau ada yang berubah diantara kita…” bisikku.

“Terimakasih. Hanya dengan seperti saat ini saja aku sudah bahagia. Kau mau tetap bersamaku selama ini. Kau tetap menyayangiku selama  ini.Terimakasih. aku benar-benar bangga padamu. Kau tampan dan sehat. Suaramu juga tetap seindah dulu. Ketika kita selalu bernyanyi bersama. Kau sangat berarti untukku, Jonghyun. Aku mencintaimu…” lanjutku. Aku benci menangis terus seperti ini. Tapi aku tidak sanggup menahannya.

Aku suka melihatnya yang tertidur. Entah kapan terakhir aku melihatnya tertidur seperti ini.

“Bahagialah, Jjong. Kau akan bahagia dengan Sekyung…”

~~~~

Jonghyun POV

Aku akan selalu bersamamu. Kau ingatkan janjiku? Tidak akan ada yang berubah diantara kita, Hyunra. Sekalipun kau mencintaiku. Bukan kah sejak dulu kita sudah saling mencintai. Kumohon jangan terus menganggapku sebagai dongsaeng kecilmu.

Aku tetap bertahan untuk tidak membuka mataku.

“Terimakasih. Hanya dengan seperti saat ini saja aku sudah bahagia. Kau mau tetap bersamaku selama ini. Kau tetap menyayangiku selama  ini.Terimakasih. aku benar-benar bangga padamu. Kau tampan dan sehat. Suaramu juga tetap seindah dulu. Ketika kita selalu bernyanyi bersama. Kau sangat berarti untukku, Jonghyun. Aku mencintaimu…”

Aku mendengar suaranya yang mulai bergetar. Jangan begitu, kau membuatku ingin menangis juga. “Bahagialah, Jjong. Kau akan bahagia dengan Sekyung…”

Aku merasakan bibirnya menyentuh kelopak mataku. Wajahnya basah. Aku bisa merasakannya. Kenapa noona? Kenapa harus Sekyung? Aku mencintaimu. Kenapa aku tidak bisa bahagia denganmu?

“Nah! Aku harus ganti baju dan membelikan kalian makanan dulu. Ok?”

Suaranya mulai terdegar menjauh. Beberapa detik kemudian aku mendengar suara kenop pintu tertutup. Aku pun membuka mataku.

~~~~

Hyunra POV

 

Aku membeli cukup banyak ayam. Hehe, Jinki dan Taemin pasti senang. Kalau Jonghyun… kurasa dia akan marah. Diakan tidak suka fast food. Tapi mau bagaimana lagi? Masa aku harus memasak? Aku tidak pandai memasak. Masa harus bangunkan Kibum? Mana tega aku.

Aku menyusuri jalan yang sudah mulai ramai dengan pejalan kaki. Kurasa mereka mau datang ke konser. Beberapa gadis datang membawa banner soalnya. Beberapa remaja laki-laki sudah mulai berlari dan menyebrang. Gawat, aku kebanyakan melamun. Aku ikut berlari menyebrangi zebra cross.

Tapi tunggu, kenapa silau sekali ketika aku menoleh?

~~~~

Jonghyun POV

 

“Dia bilang mau beli ayam tadi,” kata manager hyung beberapa menit yang lalu. Aku berlari  secepat yang aku bisa. Dia tidak bisa naik mobil, jadi dia pasti membeli ayam ditepat yang tidak jauh dari sini.

Apa ini? Kenapa rasanya jantungku nyeri sekali? Debarannya juga sangat cepat. Firasatku buruk sekali. Satu-satunya yang ada difikiranku adalah Hyunra. Sebentar lagi aku sampai tokonya.

Itu dia. Dia di sebrang jalan ini. Dia membawa sebuah kantong besar. Ada apa ini? Kenapa firasatku terus menerus tidak enak. Aku bergegas berlari kearahnya. Sepertinya lampu sudah berganti. Beberapa orang sudah menyebrang. Hyunra juga sudah melangkah kan kakinya menyebrangi jalan.

Tapi tunggu. Ada mobil. Melaju. Dan sangat cepat. Aku berlari kearahnya sambil meneriaki namanya. Tapi pandangannya sudah tertuju kearah mobil yang siap menerkamnya. Dia menjatuhkan semua kantong yang ia pegang. Aku meraihnya tubuhnya. Tapi ini terlalu keras. Mobil itu terlalu kencang. Setelah melayang beberapa detik, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi.

~~~~

Hyunra POV

 

Silau. Keras. Tapi ada seseorang disampingku. Aku membuka mataku perlahan. Tapi apa ini? Merah dan amis.Kepalaku sakit. Ada apa? Bukankah tadi aku ingin membelikan dongsaengku ayam?

Aku bangkit. Kurasa aku meniban sesuatu.

“PANGGIL AMBULANS!”

            Kudengar banyak orang berteriak seperti itu. Ambulans? Aku tidak butuh ambulans. Memangnya apa yang terjadi? Aku menatap nanar seseorang disampingku. Hidung dan kepalanya berdarah. Tunggu. Mata itu? Tubuh itu?

“Jjong-ah…”

Entah kenapa mulutku mengeluarkan nama itu. Jonghyun… omo… berdarah dan menutup matanya. “JONGHYUN!” aku meneriaki namanya. Dia tidak menjawabku sama sekali. Tuhan, tubuhku lemas. Sesuatu seperti sedang menarik nafasku. Aku tidak sanggup lagi melihat kejadian ini.

~~~~

2 minggu kemudian

~~~~

Hyunra POV

“Langit berdenting loceng berdenting. Burung merpati menari, saat ituah aku disana. Didepanmu dengan buket bunga daisy yang harum dan mekar. Aku menyukaimu, Park Hyunra. Tak ada 1 detikpun waktu lewat tanpa wajahmu disini. Aku akan bediri didepanmu ketika kita sama-sama siap. Menimangmu yang telah memakai gaun berenda. Aku mencintaimu, Park Hyunra. Tak ada 1 harapanku tanpa namamu disana. Ketika lonceng berdenting 2 kali, Kim Jonghyun akan melamar Park Hyunra sekali lagi…”

Aku membuka mataku. Ingatan itu telah membuatku membuka mataku. Rasanya… aku seperti melihat pemutar film.

“Syukurlah…”

Aku menoleh kearah suara tadi. Kibum disampingku sekarang, dan matanya berair. “Eonni…” suara ini juga. ada Taeya dan Miinah disini. Minho dan Taemin juga ada. Wajah mereka semua basah. Bahkan mata Kibum memerah dan sembab.

“Sejak kapan kalian menangis?” tawaku pelan. “Eonni! Kenapa kau tanya hal seperti itu?! Kami khawatir. Kau tidak bangun lama sekali…” tangis Taeya. “Tapi aku bangun, kan?” tawaku lagi. Aku masih hidup. Syukurlah aku masih hidup.

“Syukurlah kau mau bangun, noona…” tangis Key. Aku mengelus rambutnya, “Tidak mungkin aku tidak bangun. Aku masih punya hutang ayam dengan kalian kan?”

Aku berusaha turun dari kasur, tapi rasanya janggal sekali. “Kibum-ah… apa yang terjadi dengan kaki ku? Kenapa rasanya kaku sekali?” tanyaku. Key hanya menatapku nanar, “Kau lumpuh sementara, noona.”

Lumpuh? Aku lumpuh? Bagaimana ini? Aku cacat? Bagaimana kalau Jonghyun jijik melihatku? Bagaimana kalau ia tidak mau lagi bersamaku lagi? Tunggu. Jonghyun! Bagaimana keadaannya?

“Jonghyun…. dimana dia?” aku langsung memaksa turun dari kasur. Badanku terhyung seketika. Untunglah Kibum menangkapku, “Dia sudah sadar 6 hari yang lalu. Tapi lukanya berat. Jadi dia masih dirawat disini.”

“6 Hari? Berapa lama aku koma, Kibum-ah?”

“2 minggu.”

2 minggu? Aku seperti mati sesaat. Kibum berjongkok didepanku,  “Naiklah. Akan kuantar ke kamar Jonghyun.”

~~~~
Jonghyun POV

 

Aku membuka mataku. Cahayanya terlalu silau. Matahari terbenam rasanya begitu silau. Padahal ini musim salju. Aku berusaha duduk. Rasanya punggungku masih sakit.

“Kau sudah bangun?”

Aku menoleh. Dia… sedang duduk di kursi yang tak jauh dariku. Dia… masih hidup. Dia… tersenyum padaku saat ini. Aku mengucek mataku. Berusaha memastikan dia nyata atau tidak.

“Aku bukan hantu, Jonghyun-ah…”

“Hyunra?” aku berjalan mendekatinya.

“Ya! kau tidak boleh panggil aku Hyunra! Aku ini lebih tua darimu.” Jawabnya. Aku masih tidak percaya ini. Dia masih hidup. 2 minggu dia koma dan sekarang ada didepanku? Tanpa sadar aku sudah bersimpuh didepannya, “Syukurlah…”

“Jangan menangis.” katanya. Ia menghapus air mulai jatuh dipipiku.

“Aku tidak menangis.”

Dia tertawa pelan, “Jjong-ah…. sebaiknya kau lupakan aku.” Aku kaget dengan ucapanya itu. Apalagi kali ini? Apalagi alasannya?

“Kenapa memangnya?” tanyaku.

“Aku noona-mu. Akan selamanya begitu.”

“Kau berhutang padaku. Kau sudah berhutang nyawa padaku.”

“Tapi aku juga berhutang nyawa pada Kibum. Bukan hanya kau.”

“Aku tidak peduli.”

“Bahagialah Jonghyun. Tapi tidak denganku.”

“Kenapa?”

“Aku tidak pantas untukmu. Setelah ini, semakin tidak pantas untukmu.” Ia mulai menangis. “Apa maksudmu tidak pantas?” tanyaku. “Aku lumpuh, jjong… aku cacat. Aku hanya akan jadi aib untukmu.” Tangisnya semakin menjadi.

Lumpuh? Astaga. Apa yang kuperbuat? Aku bahkan tak sanggup melindunginya. “Aku tak tau harus bagaimana…”

“Aku akan menyembuhkanmu.” Kataku. Aku bersumpah akan membuat kaki ini berjalan lagi. “Jonghyun… lupakan aku…”

“Aku bilang, aku akan menyembuhkanmu. Walau harus menukar semuanya… aku akan menyembuhkannya lagi. Aku akan membuatnya dapat berlari lagi.”

“Bagaimana kalau memang tidak bisa? Kau akan malu, Jjong…”

Aku menatapnya tajam, “Apa maksudmu aku akan malu? Aku tidak pernah malu memilikimu. Asal ada kau, yang lain bukanlah sesuatu yang penting.”

“Aku menyukaimu… Tapi…”

Aku menghentikan ucapannya. Aku tidak mau ia berbicara lebih dari ini. Dia terlihat kaget dengan perlakuanku. “Aku sudah melakukannya. Aku sudah menciummu dengan segenap perasaanku. Bukan nafsu. Jadi kumohon jangan tolak aku lagi…”pintaku.

~~~~

Key POV

 

Aku tau ini akan terjadi. Sejak kejadia di kolam renang, aku tau Hyunra tak akan punya ruang kosong dihatinya untukku. Aku tak mau bertindak lebih dari ini. Kejadian 2 minggu yang lalu sudah menjadi bukti bahwa perasaanku tidaklah sebesar milik Jonghyun.

Aku juga sadar betapa berharganya Hyunra untukku. Asal dia tersenyum, kurasa cukup. Aku berusaha menahan air mataku. Tapi ini tidak mau berhenti. Aku berusaha tersenyum ketika melihat mereka berciuman dari balik celah pintu ini. Tapi aku tidak bisa.

“Tidak apa-apa. Oppa hebat,”

Aku menoleh kearah kanan. Yeoja itu menatapku penuh makna sambil menggenggam tanganku erat. “Ne. Aku baik-baik saja Miinah.” Balasku. Miinah tersenyum lagi. Begitu pula Taeya, Taemin dan Minho yang ada disebelahnya.

“Kau akan dapatkan seseorang yang bisa melihatmu, Key.”

“Ya, Hyung.” Jawabku sambil menggenggam tangan Onew-hyung seerat mungkin.  “Aku baik-baik saja. Tapi kali ini izinkan aku menangis, Hyung…” pintaku. Air mata ini terus saja mengalir. Aku ingin mengeluarkan semuanya hari ini. Aku ingin bebas dari Hyunra mulai saat ini.

“Menangis saja. Apa gunanya aku sebagai hyung-mu, kalau aku tidak bisa membuat keadaanmu membaik hari ini.” Onew-hyung langsung memelukku. Aku tidak tahan lagi. Aku harus mengeluarkan semuanya saat ini juga.

~~~~

2 tahun kemudian

~~~~

 

Hyunra POV

 

Aku tak tau mimpi apa ini? Aku memakai gaun renda seperti didalam puisi kami saat kami masih kecil. Aku menatap sekeliling. Semua berwarna putih dan menenangkan. Banyak bunga daisy bermekaran. Aku mendengar suara lonceng berdenting nyaring di telingaku.

Pintu itu terbuka. Menunjukkan siluet tubuh yang aku kenal dengan baik. Senyumnya begitu tampan. Aku selalu suka bibirnya yang tipis dan seksi. Dia mengangkat tinggi-tinggi buket bunganya dan menyodorkannya padaku,

“Will you marry me?”

“I do. Saranghaeyo, Kim Jonghyun.”

 

“Langit berdenting loceng berdenting. Burung merpati menari, saat itulah aku disana. Didepanmu dengan buket bunga daisy yang harum dan mekar. Aku menyukaimu, Park Hyunra. Tak ada 1 detikpun waktu lewat tanpa wajahmu disini.  Aku akan bediri didepanmu ketika kita sama-sama siap. Menimangmu yang telah memakai gaun berenda. Aku mencintaimu, Park Hyunra. Tak ada 1 harapanku tanpa namamu disana. Ketika lonceng berdenting 3 kali, Kim Jonghyun akan melamar Park Hyunra sekali lagi…”

“Lonceng berdenting ditelingaku. Aku sudah berdiri disini. Menunggumu dengan gaun berenda ditubuhku. Aku menyukaimu, Kim Jonghyun. Tak ada 1 malampun tanpa kau dimimpiku. Aku berdiri dihadapanmu ketika kita sama-sama siap. Wangi bunga daisy sudah menyeruak dikepalaku. Aku mencintaimu, Kim Jonghyun. Tak ada 1 haripun ingin kulewati tanpa dirimu. Ketika lonceng berdenting 3 kali, Park Hyunra akan menerima lamaran Kim Jonghyun sekali lagi…”

_end_