[CHAPTER 9] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • CN Blue Min Hyuk as Richard Kim

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

Author PoV

Seorang pria dengan tux hitam pekat sedang memandang ke arah jendela yang menampakkan serentetan gedung-gedung yang menjulang tinggi. Di setiap sudut gedung pasti terdapat bunga sakura yang sedang bermekaran. Pria itu memiliki bola mata hitam besar, rambut hitam pendek dan tubuh tinggi yang maskulin.

Di tangannya tergenggam sebuah gelas wine lebar yang terisi sedikit cairan ungu pekat yang amat digandrunginya. Ia melangkah menuju sebuah laci putih besar dan mengambil bingkai foto di dalamnya. Ia mengamati foto tersebut sambil sesekali menyesap wine yang dipegangnya.

“Sudah lama kita tak berjumpa” Gumamnya lirih dengan menatap foto tersebut lekat-lekat. Tiba-tiba seorang pelayan masuk dan membungkuk di belakangnya. Ia menoleh sedikit dan kembali tenggelam dengan lamunannya.

“Makan malam sudah siap Tuan muda. Tuan dan Nyonya sudah menunggu di depan” Pria itu tersenyum singkat , ia meletakkan gelas wine nya kemudian mengitari meja apartemennya dan melepas jasnya.

“Baiklah. Lima menit lagi aku ke depan” Pelayan itu pergi dan manutup pintu kamar. Sedangkan pria itu masih saja menggenggam bingkai fotonya itu. Ia tersenyum sesaat sambil mendongak mengingat-ingat sesuatu.

“Apa kau bertambah cantik ? Noona, aku sangat merindukanmu” Kemudian ia menyentuhkan foto tersebut pada bibirnya dengan lembut dan sepenuh hati.

Pria itu beranjak dan meletakkan bingkai tersebut dengan hati-hati, ia pergi dan menutup pintu apartemennnya. Meninggalkan sebuah bingkai foto tersebut. Foto yang di dalamnya terpampang dua orang anak sedang tertawa bersama dengan background bianglala dibelakangnya. Tangan mereka berdua membentuk cheeze sign. Di sudut foto terdapat tulisan kecil dibawahnya.

*CHIYOON & RICHARD*

Aku tahu ini merupakan kesalahan terbesar dalam hidupku

“Chiyoon-ah? Kau sudah baikan kan ?” Ucap Sandy sembari menyentuhkan telapak tangannya pada dahi Chiyoon. Chiyoon hanya menggeleng sambil tersenyum. Sudah 2  hari berlalu semenjak ia tak masuk sekolah.

Sebenarnya Chiyoon baik-baik saja. Tidak sakit apapun. Hanya saja ia membutuhkan waktu untuk menenangkan pikirannya. Ia hampir saja pingsan untuk kedua kalinya saat mengetahui apa yang Donghae utarakan kemarin itu adalah suatu kebenaran.

Ibu menceritakan semuanya, tentang kecelakaan, tentang Chiyoon Donghae dan paman yang sekarat, tentang hilangnya penglihatan gadis itu, tentang nyawa paman yang tak sanggup ditolong akibat jantungnya rusak, tentang paman yang menyumbangkan matanya untuk Chiyoon, tentang Donghae yang tak terima ayahnya meninggal.

Semua itu hampir membuat gadis itu gila. Sampai sampai ia tak nafsu makan dan memilih menyendiri di kamar selama seharian penuh. Ia tak menyangka kronologi kejadiannya serumit itu. Yang ia tak habis pikir adalah, ternyata selama ini Donghae telah menganggapnya sebagai penyebab ayahnya meninggal. Meski sudah berkali-kali bibi Lee meyakinkan anaknya itu bahwa ayahnya tak ada harapan hidup dengan atau tanpa memiliki kornea mata sekalipun.

Chiyoon mengambil sebuah cermin dan menghadapkannya pada wajahnya. Ia mengamati kedua matanya sambil melamun.

Paman Lee, mengapa kau begitu baik terhadapku ? Aku tak memiliki apapun untuk membalas semua jasamu. Mata ini, aku berjanji akan selalu menjaganya.

Chiyoon menoleh ke arah belakang, tempat dimana Donghae selalu menyendiri. Ia menemukan Donghae, lelaki itu sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. Chiyoon menganggukkan kepalanya sesaat menandakan bahwa dirinya tak apa.

“Chiyoon-ah, jika kau mau kau tak usah ikut kami pergi mendaki” Ucap Naomy dengan tatapan sedih. Chiyoon tahu bahwa gadis itu pasti sedih jika ia batal ikut.

Chiyoon tertawa kecil, “Bagaimana aku tega tidak ikut bersama kedua sahabatku?. Tenanglah, aku tak apa apa” Naomy dan Sandy membulatkan mata mereka hingga mereka berteriak kegirangan.

“Chiyoon-ah, kemarin kami berhasil mengajak Hanseo, Tae Soo, Jinshim, dan juga Donghae. Ini semua ide Sandy. Salahkan dia ya jika kami salah. hhha”

Chiyoon kembali tercekat. “Pria itu?” Naomy menolehkan pandangannya pada Donghae, “Apa dia mau?”

Sandy dan naomy bukannya menjawab melainkan tertawa terbahak. “Ya!! Kau ini . Tentu saja dia mau. Jika kami yang meminta, maka semua orang tak akan berani menolak” Naomy menepuk dadanya. Bangga.

Tanpa sepengetahuan mereka, Tae Soo, Hanseo dan Jinshim berada di belakang mereka hendak mengagetkan para gadis.

“Semua ini ide gila Sandy. Tidak ada yang paling gila selain Sandy! Bagimana kalau kita berakhir seperti Park Yong Seok??” Ucap Jinshim kemudian menunjukkan ekspresi takutnya yang berlebihan.

Semuanya tertawa tak terkecuali Donghae yang duduk agak jauh dari mereka berkumpul. Park Yong Seok adalah pendaki legendaris dari Korsel yang meninggal tak jauh dari bidang yang disukainya. Ia hilang tertimbun longsor di pegunungan tertinggi di Nepal. Entah sampai sekarang apakah sudah ditemukan ataukah belum mayatnya. Beritanya sudah disiarkan di media manapun.

“Park Yong Seok kehilangan kendali di gunung yang benar-benar tinggi, dimana orang awam tak mampu mencapainya. Nah gunung yang akan kita daki besok adalah gunung yang bahkan ahjuma ahjuma saja bisa mencapai puncak!!!” Sandy berteriak di dekat telinga Jinshim dan diiringi dengan gelak tawa yang lain lagi. Konyol sekali ulah Sandy dan Jinshim ini.

“Sandy-aa. Gunung mana yang akan kita daki ? Bukankah sebelumnya kita tak pernah mendaki? Bagaimana Jika terjadi sesuatu? Apalagi ini musim salju!” Chiyoon bergidik ngeri membayangkan ia akan hilang di tengah pendakian yang sekitarnya tertutup benda pucat. Tentunya itu merupakan mimpi buruk untuknya.

“Hanya di pegunungan Deok Yu, tepatnya di puncak HyangJeok. Tidak tinggi kok. Hanya 1614 meter. Tenang saja, banyak orang yang sudah menghabiskan akhir pekan disana. Kupikir disana sangat ramai”

“Baiklah. Kita semua kan awam. Semoga saja diberi kemudahan. Benar kan Sweety?” Ucap Tae Soo dan disambut dengan pelukan hangat Sandy.

Mari kita lupakan kesalahan masa lalu kita. Dan membuka lembaran baru

“Oppa. Seungil Chukae Hamida!” Bisik Jessica di dekat telinga Donghae. Donghae tersenyum manis. Hari ini adalah ulang tahun Donghae yang ke-18. Jessica sengaja datang ke rumah Donghae dengan membawakan kue tart coklat bertabur lilin sebanyak 18 di atasnya.

“Thanks Sica. Bagimana kau bisa mengingat hari ulang tahunku?” Donghae berbinar menatap pendar cahaya lilin yang menerpa wajah tampannya.

“Aku menulis memo, Oppa. Di tanggal 14 oktober aku memesan kue dan lilin, dan di tanggal 15 oktober aku menemuimu untuk memberimu selamat. Oppa, ucapkanlah permohonan sebelum kau meniupnya”

Kemudian Donghae menutup matanya dan berkata lirih dalam hati

Semoga kami bisa kembali seperti dulu

FUHHH!!! Kamudian secara teratur lilin lilin tersebut padam. Jessica meletakkannya di meja dan bertepuk tangan girang.

“Chukaeyo, oppa. Tadi permohonan apa yang kau utarakan?” Jessica tersenyum jahil, Donghae terdiam menyimak perkataan Jessica.

“Kau memohon sesuatu untuk kita, oppa?” Mau tak mau Donghae mengangguk kemudian ia mengeluarkan sebuah pisau kecil untuk memotong kue tart coklat dari Jessica.

Donghae mengiris pinggiran kue tersebut, sedangkan Jessica mengamati gerak-gerik Donghae sembari menggumam.

“Oppa, tidak terasa, sudah 4 tahun kita bersama. Kita selalu melewati ulang tahun bersama, ulang tahun ku, ulang tahun oppa…” Jessica menunduk, ucapannya masih menggantung.

Tatapannya nanar ke mata Donghae. Donghae meletakkan pisaunya dan menoleh.

“Bagaimana aku bisa melupakan ini semua? Saat kelak, oppa bertunangan, oppa menikah dengan gadis itu” Jessica tersedu. Ia menangis lirih. Donghae masih terdiam. Mematung.

“Aku menyukaimu. Aku mencintaimu melebihi apa yang kau kira. Aku mencintaimu sampai aku tak mampu hidup jauh darimu” Donghae tersentak ia begitu kaget.

Ia sudah mengira sejak lama bahwa Jessica memiliki perasaan yang lebih untuknya. Seperti sebelum-sebelumnya, ia selalu siap di kala Jessica mengutarakan perasaannya lebih dulu karena sebenarnya ia sangat sayang pada gadis itu.

Donghae kembali menguasai keadaannya, “Aku, aku sangat senang mendengarnya. Terimakasih kau telah menyukaiku. Begitupun sebaliknya, aku sangat sayang padamu”

Jessica tersenyum senang, “Apa kau tahu impianku selama ini ?” Kemudian ia melingkarkan lengannya pada bahu Donghae. Kini ia dapat merasakan wangi parfum Donghae yang hanya beberapa inci darinya. Sedangkan Donghae hanya bisa mematung tanpa bisa mencegah ataupun berkata sepatah katapun.

“Aku ingin menjadi istrimu!” Ucapnya lirih, Kemudian Jessica mendekatkan wajahnya pada Donghae. Ia menyentuhkan bibirnya perlahan pada bibir Donghae. Penuh perasaan, penuh hasrat. Meski hanya berlangsung beberapa detik, ciuman ini seakan mampu melepas semua bebannya selama ini.

Bagi Jessica hal ini merupakan hal terhebat dalam hidupnya. Serasa ada ribuan cupid yang memanah tepat pada ulu hatinya. Kali ini ia benar-benar jatuh cinta pada Lee Donghae, bahkan sejak 4 tahun lalu perasaan tersebut muncul dan kini semakin bertumbuh subur seiring berjalannya waktu.

Jessica menundukkan wajahnya, ia terlihat malu.

“Maaf jika aku membuatmu terkejut. Oppa, bagimu mungkin ini aneh. Tapi , tapi ini merupakan ciuman pertamaku” Bisiknya lirih dengan intonasi lembut dan sedikit menekan pada akhir kalimat.

Donghae menghela nafasnya yang tak beraturan. Ia terhipnotis oleh pesona Jessica. Ah mengapa aku sangat lemah jika berada di hadapannya?

“Nde, tidak masalah” Donghae tersenyum. Ia pernah mencium Chiyoon diam-diam tanpa gadis itu sadari. Saat ia gemas menunjukkan perasaan yang ia rasakan pada Chiyoon selama 5 tahun belakangan.

Donghae membasahi kedua bibirnya. Dari tadi degup jantungnya berpacu lebih cepat akumulasi dari rasa gelisahnya.

BRAKKK!!!

Donghae mencari darimana asal suara tersebut. Sesuatu jatuh di dekat pagar rumahnya. Apa ada sesuatu?

Seseorang mengaduh dengan mengurut lututnya pelan. Ia mendongak dan sukses membuat Donghae sangat terkejut.

Gadis itu, sejak kapan ia berada di sini? Apa ia melihat kami…

“Chiyoon-ssi ? Apa yang sedang kau lakukan? Kau, kau mencariku?” Chiyoon masih menundukkan kepalanya, walaupun ia sudah tertangkap basah, ia tetap tak mau menunjukkan wajahnya.

“Chiyoon-ssi? Apa kau sudah lama berada di sini?” Ujar Jessica. Mau tak mau akhirnya Chiyoon mendongak dan tersenyum dipaksakan pada mereka berdua.

Donghae menghela nafas, kemudian menyediakan tangannya untuk membantu Chiyoon berdiri. Chiyoon mematung memandangi tangan yang berada di hadapannya.

Chiyoon’s_

Ya Tuhan, mengapa tanganku tiba-tiba gemetaran? Baiklah Chiyoon-ah rileks. Mereka sudah lama berpacaran, tentunya berciuman bukanlah hal yang asing baginya. Tapi, tapi mengapa justru membuatku gelisah? Ah sial.

Ada apa denganku? Tujuanku kemari adalah untuk meminta maaf dengannya. Namun mengapa tiba-tiba nyaliku menciut mendapati Jessica berada di sana. Bermesraan dengannya. Kutolehkan kepalaku memandang supir Jang yang dari tadi menungguku di dalam mobil sambil sesekali tertidur karena kelelahan. Baiklah, kau hanya perlu masuk dan meminta maaf, kemudian langsung pulang.

Bagaimana ini? Aku sama sekali tak beranjak dari tempatku. Ya, di belakang pagar, dengan kedua kaki menaiki badan pagar. Seperti orang tolol sedunia yang hanya bisa memandangi punggung keduanya yang sedang berbincang.

BRAKKKK!!!

Oh tidakk!! Kuharap mereka berdua menjadi tuli agar tak bisa mendengar suara aneh di belakang pagarnya. Tapi sepertinya sia-sia karena kudengar beberapa langkah kaki sudah menuju ke arahku. Tamatlah aku!

“Chiyoon-ssi ? Apa yang sedang kau lakukan? Kau, kau mencariku?” Baiklah, kurasa aku sudah ketahuan. Tiba-tiba perutku mulas karena sangat malu. Andaikan aku bisa menghilang, aku lebih memilih lenyap sekarang juga. Lututku tergores cukup keras.

Aku masih terdiam dan mengurut bekas luka di lututku sambil mengaduh ria.

“Chiyoon-ssi? Apa kau sudah lama berada di sini?” Kini giliran Jessica yang bersuara. Cih, terlihat sekali nada kesal keluar dari mulutnya. Baiklah, baiklah aku tertangkap basah. Aku mendongak menatap mereka berdua.

Sebuah tangan berada tepat di depan mukaku. Tangan Jessica? Jelas tak mungkin! Apakah…

“Cepat bangunlah. Aku tahu kau selalu ceroboh. Dasar bodoh!” DEG! Ucapannya,

Bagaikan kembali ke 5 tahun silam. Kata-kata itu selalu wajib ia ucapkan dikala ia sedang bersamaku. Seperti saat kami berdua dikurung di ruang kelas yang tak terpakai, ia mengataiku gadis bodoh juga.

Apakah, kau sudah tidak benci lagi padaku ?

Aku masih memandangi telapak tangannya yang tersedia di depan wajahku. Aku berinisiatif menyambutnya. Tangan kami bersentuhan. Bagai tersengat listrik, rasanya ada perasaan aneh yang menjalar di tanganku.

Kemudian aku berdiri dan mengibaskan dress bagian pinggulku.

“Thanks. Aku, aku ada perlu denganmu, Lee Donghae-ssi” Kemudian aku memandang Jessica. Wajahnya Nampak tak rela melepas Donghae untuk beberapa saat.

“Oppa, kurasa sekarang sudah waktunya aku untuk masuk kerja. Aku pulang dulu. Sampai jumpa” Jessica memandangi jam tangannya kemudian ia beranjak.

“Baiklah, aku akan mengantarmu” Ujar Donghae sambil merogoh sakunya. Jessica memandang wajahku, sedangkan aku hanya mematung. Kemudian ia mencegah Donghae. Aku sempat melirik kesal ke arah Donghae? Jika ia mengantar Jessica, maka akan dikemanakan diriku? Benar-benar menyebalkan. Chiyoon-ah tahaaaannnn!!!

“Tidak perlu. Aku langsung naik taksi saja. Terimakasih. Selamat malam” Jessica mencium pipi Donghae sesaat. Baiklah, baiklah mereka memang sepasang kekasih. Untuk itu aku tak perlu merasa terganggu.

Kami berdua memandang punggung Jessica sampai benar-benar gadis itu menghilang. Donghae menoleh menatapku.

“Duduklah” Tanpa berkata apapun kami berdua duduk berhadapan. Aku meremas kedua tanganku. Bingung ingin memulai darimana.

“Sudah lama kau tak kemari. Apa yang membuatmu..”

“Donghae-ssi, aku ingin meminta maaf” Ucapku menunduk. Donghae mematung sesaat,

“Seharusnya aku yang ke rumahmu untuk meminta maaf . Kesalahanku lebih banyak” Gumamnya.

“Tidak. Akulah yang selama ini membuatmu benci. Mata ini, aku berjanji akan selalu menjaganya Lee Donghae-ssi. Gomawo. Ini hadiah terindah dalam hidupku”

“Aku yakin paman Lee sedang tersenyum di surga saat ini”

Donghae tertawa sekilas. Aku melanjutkan perkataanku.

“Aku berharap, setelah ini tidak akan ada kebencian diantara kita” Syukurlah, kalimat inilah yang kunantikan untuk kuutarakan secepatnya. Aku benar-benar tak ingin memiliki musuh siapapun.

Aku tulus ingin berteman denganmu Donghae-ssi

“Chiyoon-ah “ Ujarnya, wajahnya terlihat befikir. “Nde?” Jawabku

Donghae meringis pelan, “Ah bahkan tak tahu memulainya darimana!” Rutuknya kesal sambil tersenyum kecut.

Suasana kembali Hening,

“Aku malu selama ini bersikap kekanak-kanak an kepadamu. Hanya saja aku belum bisa menerima kematian ayahku” Matanya terlihat merah. Menahan air mata.

“Kurasa, semua mimpiku adalah bentuk protes dari ayahku. Mimpiku, berkaitan dengan perlakuan burukku selama ini. Maafkan aku Chiyoon-ah” Aku tercekat.

Paman Lee, selama ini Donghae memimpikan paman Lee?

“Aku tahu. Kau sudah menderita selama ini Donghae-ssi. Kau tak perlu merasa bersalah. Jika aku di posisimu, mungkin saja aku melakukan hal yang sama” Aku berusaha menghiburnya.

Kudekatkan jemariku dan menyentuh jemarinya pelan. Bermaksud menguatkannya. Ia menoleh, memandang jemari kami yang terkait .Aku melanjutkan perkataanku.

“Aku bohong saat mengatakan ayahmu lebih menyayangiku ketimbang kau anaknya. Ia mendonorkan kornea nya untukku demi melihat pertumbuhanmu dari waktu ke waktu. Ia ingin selalu bisa melihatmu. Dengan mataku. Bagiku ini cukup logis sebagai wujud dari kasih sayangnya terhadapmu”

Aku menghela nafas, “Donghae-ssi, kau harus bangga memilki ayah hebat seperti paman Lee” Donghae menarik otot pipinya perlahan. Aku tahu ia tersenyum meskipun masih ada rasa sedih yang teramat sangat di hatinya.

Tiba-tiba kurasakan nyeri di lututku kembali menyerang. Kukira lukaku tak terlalu parah. Ah mengapa sangat sakit?

“Ada apa denganmu?” Ujarnya begitu melihat wajahku seperti menahan sakit.

“Anya. Tidak apa-apa” Aku menunduk dan menyentuhkan ke sekitar lututku yang mulai berdarah. Oh darah, aku paling benci melihat darah.

“Apa kau punya salep pereda nyeri? Dan, dan plester?” Ia beranjak cepat dari kursinya dan masuk ke dalam mengambil kotak P3k-nya.

Ia kembali, dan berjongkok di hadapanku. Aku terkaget.

“Biarkan aku sendiri” Aku meraih kotaknya, tapi ia mengambilnya kembali. Ia meraih kaki ku yang sakit. Ditiupnya pelan lukaku. Tanpa sadar aku mulai menyukai memandang gerak-geriknya.

Ia mengusap lukaku dengan sejenis larutan iodine, pelan. Hingga membuatku terbuai, kemudian mengolesinya dengan salep, dan membalutnya dengan plaster bening.

“Donghae-ssi. Selamat ulang tahun”

“Maaf ,aku tak bisa memberimu apapun sekarang” Aku berkata lirih. Ia mendongak, masih terdiam.

“Thanks” Ia tersenyum sekilas, kemudian kembali mengalihkan perhatiannya pada lukaku. Aku diam-diam memperhatikannya. Kemudian ia kembali bergumam,

“Kau mau memaafkanku saja sudah membuatku bersyukur” Aku terperangah. Ucapan Donghae sangat pelan sampai aku tidak tahan ingin menyuruhnya mengulangi perkataannya lagi. Hening lagi.

“Sudah” Aku tersentak karena ketahuan tengah memperhatikan wajahnya.

“Eh, oh. Gomapta. Terimakasih. Seharusnya aku yang melakukannya sendiri” Ucapku dengan memandang ke arah lain.

“Chiyoon-ah?” Gumamnya. Ekspresinya serius. Masih posisi di bawahku. Ia mendongak menatap kedua mataku intens. Kemudian lagi-lagi aku tersentak . Ia menyentuhkan telapak tangannya pada ubun-ubunku. Terasa sedikit menyenangkan.

Apa yang kau lakukan?

“Aku ada permintaan yang jika tidak kau penuhi maka aku akan sangat kesal padamu” Tatapannya tajam, aku mengerutkan alisku tak paham apa maksudnya.

“Bisa tidak mulai sekarang kau berhenti menjadi gadis yang ceroboh?” Ujarnya lirih.

“Lukamu ini, entah sudah berapa luka yang kau timbulkan selama ini. Bukankah kau seorang gadis? Kupikir setiap gadis selalu menjaga penampilannya”

DEG! DEG!! Tiba-tiba jantungku berdetak keras seiring dengan ucapan anehnya itu.

Oh ada apa denganku?

*

My Adorable Fiancce,

To Be Continued

*

Anyyong? Readers anyyong?

Makasih ya yang uda setia baca dan tinggalin komen di fict Madhit. Madhit seneng banget. Madhit ga bisa nyebutin kalian satu-satu , tapi yang jelas Madhit selalu tahu sapa-sapa aja yang ngasih koment di fict Madhit. Bagaimana nih part 9? Apa sedikit memberikan kalian kepuasan? .Liad deh cast nya uda ku ganti Richard. Plis comentnya ya😀