Main Cast :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

Hyeorin’s

Aku melempar berkas map ke atas meja dengan perasaan frustasi kemudian menghempaskan tubuhku di kursi dan menghela nafas. Bibirku terkatup tapi hatiku tidak berhenti merutuki apa yang baru saja terjadi di meja redaksi. Kritik dengan suara datar tapi begitu dalam dari pemilik kantor ini berhasil menohok tenggorokanku hingga aku tercekat.

“Slut!” aku mengumpat kesal sambil menggeram.

Masih dengan jelas kalimatnya yang terdengar datar namun syarat akan kesombongan dan sinis.

“Then tell me, what is that Hyeorin-ssi? Konsepmu itu ibarat makanan expired yang siap dibuang, bukan dikembalikan ke pabrik.” Kemudian dia tersenyum manis setelah melontarkan kalimat penuh penghinaan pada konsepku. Kalau dia bukan atasanku, tempatku menggantungkan biaya kartu kreditku tiap bulan, sudah pasti aku akan mengisolasi bibir tipisnya itu. bagaimana dia bisa bersikap sarkartis padaku setelah kami sempat jalan bersama ke klab?

Aku meraih rokok kemudian menyulutnya, dan menghisapnya dalam-dalam. Seketika ruanganku pekat dengan asap.

Drrttt…. drrrtttt…..

Ponselku bergetar, ada satu pesan masuk. Aku tidak berminat membukanya, siapapun itu. aku meraih tasku kemudian keluar ruangan. Aku butuh udara segar.

Eunmi’s

“Kau berkata seperti itu?”

Kyuhyun mengangguk dengan santainya sambil menyesap ice hazelnutnya, dengan ekspresi datar tapi aku yakin hatinya tidak sedatar ekspresinya.

“Konsepnya memang payah.” Jawab Kyu lagi, setengah mengeluh.

“It’s rude Kyu.” jawabku kemudian.

“It’s deserve for her, Mi-Chan. Anggap saja itu pelajaran.” dia masih saja berkeras. dasar namja bodoh.

“Kemudian kau menyesal?”

“Lil bit.” akhirnya dia mengaku.

“I got it.” Aku kemudian tertawa.

Wajahnya berubah memberenggut, “what you’ve got? You’re not a mind reader.”

“Kau pikir baru kemarin aku mengenalmu? Ayolah, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi Kyu.”

Dia menghela nafas kemudian mengalirlah cerita kekecewaannya pada malam dimana ia ke klabing dengan gadis itu. titik puncak rasa kecewa Kyu pada gadis itu adalah karena baru kali ini gadis itu menyajikan konsep yang sangat payah dan terlalu biasa padahal Kyu sangat berharap lebih. Dan Kyu menduga, lelaki di klab itulah yang mempengaruhi mungkin mood gadis itu. Atau malah mempengaruhi gadis itu untuk lebih baik melewati malam di klab-klab lain daripada berkonsentrasi pada pekerjaannya. dan dugaan Kyu menurutku benar-benar egois.

“Kenapa tidak ada yang bisa aku sembunyikan darimu?” ujarnya kemudian.

Aku tersenyum, “wajahmu saja yang terlanjur bodoh, membuatku bisa membaca segalanya.”

Kyu tertawa, “Yaa Mi-Chan, bagaimana dengan pria yang kau tolong itu?”

Aku mengangkat kedua bahuku, “molla. Aku tidak menjenguknya.”

“Kalau kau mau menemuinya, kau harus mengajakku.”

“Kenapa?”

“Karena sepertinya kau jatuh cinta dengannya. Dan aku harus tau, seperti apa pria itu.”

“Mwoya?! You’re not mind reader Kyu!” jawabku kesal, karena ketahuan olehnya.

Kyu tersenyum evil, menyebalkan. Membuatku ingin mendorongnya ke jurang.

“wajahmu saja yang terlanjur bodoh, membuatku bisa membaca segalanya.” Jawabnya.

“YAAA!!!!”

Kyu tertawa, dan aku yang kemudian membrenggut kesal.

**

Author’s

Eunmi dan Kyu berjalan di koridor rumah sakit menuju kamar tempat Donghae dirawat. Ditangannya Eunmi memeluk sebuket bungan lili yang sebenarnya bunga kesukaannya. Pintu kamar Donghae terbuka sedikit dan tampak pria itu sedang sibuk dengan ponselnya. Ia tampak kepayahan karena harus menggunakan tangan kirinya. Tiba-tiba langkah Kyu terhenti, tangannya memegang ponsel yang berdering. Setelah beberapa detik berbicara di telfon ia memandang Eunmi.

“Mi-Chan sepertinya aku harus pergi.” Ujar Kyu.

“Ah wae?” tanya Eunmi dengan wajah gusar.

“Ada rapat mendadak di kantor. Kau masuk saja, aku titip salam untuk malaikatmu itu.” ujar Kyu sambil mengacak pelan kepala Eunmi kemudian pergi.

“Kyu, Chaaka~ aiiisss…” kini Eunmi hanya mampu menghembuskan nafas sementara mengatur detak jantungnya yang mulai tidak beraturan. Kalau kemarin ia punya alasan kuat berada di kamar rawat Donghae karena ia menolong pria itu, lalu sekarang apa alasannya? Sekedar menengok terdengar begitu aneh? Kalau ada Kyu, paling tidak ada penetralisir rasa gugupnya. Eunmi menarik nafas, menahannya sebentar kemudian menghembuskan nafasnya kuat-kuat. Kemudian ia mendorong pelan pintu kamar Donghae. Tapi langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang gadis keluar dari kamar mandi Donghae dan menghampiri pria itu sambil tersenyum menggoda.

“Donghae-ya, apa kau perlu butuh sesuatu?” tanya gadis itu.

Donghae tersenyum lembut, “aku hanya butuh kau saat ini.”

Kemudian perempuan itu tersenyum malu-malu.

Eunmi mundur selangkah demi selangkah. Dadanya merasa sesak, ia kemudian tersenyum pahit.

Apa yang aku pikirkan? Aku pikir siapa aku sampai punya keberanian membawakannya bunga dan menengoknya? Ayolah Eunmi, bahkan mungkin dia lupa kau yang menolongnya. Kau bukan levelnya.. bathin Eunmi pilu.

Ia kemudian melangkah pergi dari rumah sakit.

Hyeorin’s

Aku tersenyum puas begitu production meeting selesai sore ini dengan hasil begitu memuaskan. Tidak ada tatapan sinis dan senyum evil dari Mr. Cho. Dia tersenyum tipis tapi aku tau dia puas dengan hasil presentasiku kali ini.

“Presentasimu bagus, itu yang aku harapkan.” Tiba-tiba saja dia sudah berjalan mensejajari langkahku. Aku tersenyum tipis.

“Kamsahamnida.” Jawabku.

“Pasti kau bekerja keras untuk ini.”

Surely! Aku bahkan melewatkan dua private party hanya demi senyum tipismu itu Mr.Cho. oh plis, kalau saja kartu kreditku tidak bergantung padamu aku pasti sudah mendorongmu dari lantai 12 kantor ini.

“Bagaimana kalau segelas kopi?”

Aku menoleh ke arahnya, dua alis terangkat dan bibir tersungging kemudian mengangguk.

Kini aku dan Tuan Cho sudah duduk berhadap-hadapan di sebuah meja coffee shop dengan dua kopi di masing-masing sisi meja. Hampir setengah jam duduk di berdua dan aku merasa obrolan kami cukup menarik. Walau di kantor kelihatannya dia galak, tapi faktanya saat ini dia sangat bersahabat dan lebih sering tersenyum. Aku pikir dia cukup, eum… manis? Tapi bermain dengan bosku sendiri? Bukankah itu bukan safe area. Kalau ternyata dia berekspektasi lebih dari sekedar permainan sementara aku belum berniat mengganti karirku menjadi ibu rumah tangga yang mengurusnya dan memiliki anak, maka pekerjaanku yang mungkin bisa saja terancam. Tapi pesonanya saat ini benar-benar, susah ditolak….

Tiba-tiba ponselku bergetar, ada satu pesan masuk.

Dari Gae In:

Where r y? Kau sudah tau Ikanmu kecelakaan dan masuk rumah sakit?

Aku mengkernyitkan keningku. Hae masuk rumah sakit? Kenapa tidak….

Tunggu. Aku mengecek ponselku, memang sedari kemarin Hae menelfonku tapi tidak aku indahkan. Aku mengecek satu pesan masuk yang baru aku sadari sejak kemarin. Semalaman aku sibuk memperbaiki konsep acaraku, aku mana peduli dengan ponsel. Dan benar saja, pesan itu dari Hae.

Aku harap kau sedang tidak berdansa di klab manapun

Selagi aku terkapar di rumah sakit

Seketika kekhawatiran menyergapku. Apa dia baik-baik saja? Ah, mungkin dia baik-baik saja buktinya dia masih bisa menghubungiku, tapi kenapa aku merasa—

“Hyeorin-ssi, apa ada masalah?” pertanyaan Kyuhyun menyadarkanku.

“Ah, hm… sedikit. Maaf Presedir sepertinya aku harus pergi.” Ujarku.

Kyuhyun mengangguk, “biar aku antar.”

Aku menggeleng cepat, “tidak terima kasih, aku akan merepotkanmu. Lagipula aku bisa naik taksi. Anyeong..”

Aku segera berlalu.

**

Eunmi’s

Aku menghampiri skutterku sambil merapatkan coat. Aku baru saja selesai dengan pekerjaanku, dan seperti biasa ini hampir tengah malam. Sejak dua hari lalu, karena melihat minat pelanggan yang cukup besar, coffee shop tempat aku bekerja buka lebih lama. Dari jam 8 pagi sampai jam 11 malam. Langkahku di parkiran terhenti ketika melihat seorang wanita berjalan terhuyung-huyung di trotoar tidak jauh dariku. Ia berjalan terseok-seok, mencoba menggapai tiang yang tidak jauh dari tempatnya berdiri. Aku tidak tega melihatnya. Dia sepertinya mabuk berat. Tiba-tiba segerombolan pria mendekati wanita itu dan menggodanya. Si wanita yang setengah mabuk itu mencoba melawan. Aku berjalan mendekati mereka dengan hati takut. Baiklah, aku tidak punya kemampuan apapun untuk menghadapi begundal itu, tapi melihat wanita tidak berdaya itu digoda aku tidak bisa membiarkannya.

“Yaaa!!” aku berteriak, membuat gerombolan itu langsung menatapku.

“Sepertinya kita mendapat ekstra makan malam.” Ujar salah satu dari mereka.

Aku menggenggam tali tasku kuat sambil menelan ludah, “ka.. kalian jauhi wanita itu.”

“Waeyo?”

“Atau aku akan berteriak.” Ujarku.

Salah satu dari mereka tersenyum sinis, “berteriaklah sayang.”

Aku memasukkan tanganku ke dalam tas dan menemukan sebuah, pistol?!

Aku langsung menodongkan benda itu ke mereka, “atau aku akan menembak kalian.”

“Igo Mwoya?!”

“Ii.. igo… pistol?! Yaa, Nona baik-baik, jangan gegabah.”

“Kajja.”

Akhirnya mereka pergi.

Aku menghela nafas kemudian memandang pistol mainan itu sambil tersenyum geli. Ini pasti mainan milik Youngjin, adik Haneul yang tadi diajaknya ke coffee shop. Ah anak itu, pasti menyembunyikan ini di tasku ketika ketahuan oleh Haneul dia memainkannya di dapur.

Aku kemudian mendekati wanita itu.

“Agasshi, gwechana?”

Dia menoleh ke arahku, wajahnya begitu cantik dan sepertinya aku pernah melihatnya. Entahlah dimana. Mungkin dia salah satu pelanggan coffee shop tempat aku bekerja. Tapi matanya sayu dan wajahnya merona merah.

“Agasshi kau mabuk berat, kau ingin pulang kemana?”

Dia menunjuk satu arah, aku menghembuskan nafas. Percuma menanyakan orang mabuk.

“Agasshi, apa kau bisa— agasshi… agasshi…” dia malah pingsan.

Hais!

Kenapa setiap aku pulang malam selalu saja menemukan hal-hal semacam ini?

Dengan susah payah aku menaruh tubuh wanita itu di ranjangku kemudian menghembuskan nafas lega. Badannya cukup berat. Aku melepaskan sepatu dan menutupi tubuhnya dengan selimut kemudian mematikan lampu kamarku. Sepanjang jalan menuju apartemen kecilku ini, dia meracau tidak jelas soal kebodohannya, patah hati, permainan cinta, ah hal-hal yang tidak aku mengerti. Tapi mungkin dia baru saja patah hati, aigoo… wanita secantik dia? Pria macam apa yang begitu bodoh membuat hatinya patah?

Aku menghempaskan tubuhku disofa, ah rasanya tubuhku lelah sekali…

**

Hyeorin’s

Aku membuka mataku pelan-pelan. Kepalaku rasanya habis dijatuhi sebuah lemari, sakit sekali. Yang aku sadari pertama kali adalah aku bukan di kamarku! Kamarku tidak sesempit ini. apa begundal semalam berhasil membawaku dan…..

Aku langsung melihat bagian tubuhku, tidak aku masih lengkap. Aku mengambil posisi duduk, memandangi kamar ini dengan mata menyipit, lagipula sepertinya ini kamar seorang yeoja. Apa yeoja yang sudah menolongku semalam? Ya, aku ingat ada seorang perempuan yang menolongku ketika begundal-begundal itu menggodaku dengan kurang ajar. Hais, ini semua gara-gara Lee Donghae!

“Kau sudah bangun?”

Aku langsung menoleh ke arah pintu kamar dan mendapati seorang gadis berdiri disana sambil tersenyum, “Em. Kau yang menolongku semalam?”

Dia masuk dan mendekatiku, “kau terlihat sangat parah semalam. Apa kau baik-baik saja?”

Aku mengangguk.

“Aku sudah membuatkan sarapan dan teh hangat untukmu. Apa kepalamu sakit?”

“Sedikit.”

“Ayo kita makan dulu.”

Aku mengangguk kemudian mengikutinya ke meja makan. Apartemen ini benar-benar parah, kecil, sesak dan… panas. Ini benar-benar jauh dari apartemenku.

Aku melihat makanan yang ada di meja, oke what is that?

“Kalau kau tidak menyukai makanannya, setidaknya kau harus minum teh itu. agar kepalamu tidak sakit lagi.” Gadis itu seolah bisa membaca pikiranku.

Aku tersenyum hambar, merasa tidak enak.

“Ehm, aku Hyeorin. Han Hyeorin.” Ujarku kemudian, mencoba menetralisir kecanggungan karena ulahku. Ulah tatapan mataku yang tidak bisa berbohong kalau tidak menyukai apa yang terhidang di meja.

Dia tersenyum, “aku Eunmi. Kim Eunmi.”

“Dan Eunmi-ssi, eum terima kasih karena sudah menolongku semalam.”

Dia mengangguk, “cheonmaneyo.”

“Apa aku semalam meracau tidak jelas?”

Dia tersenyum lebar kemudian mengangguk, “setiap orang mabuk pasti seperti itu.”

Aku menarik nafas, entah kenapa aku merasa begitu percaya dengan tatapan itu. tatapan mata Eunmi yang begitu jernih membuatku seolah bisa membagi cerita apa saja dengannya.

“Ini semua gara-gara seorang namja bodoh. Ah tidak, aku yang lebih bodoh.” Ujarku.

Aku meliriknya, dia menatapku penuh minat tapi tidak ada pertanyaan apapun yang keluar.

Aku tersenyum kemudian, “Eunmi-ssi, apa kau percaya karma?”

“Aku selalu percaya apapun yang kita lakukan pasti ada balasannya.”

“Aku tau. Hanya saja, aku tidak menyangka rasanya akan seperti ini.”

“Kau patah hati?”

“Mungkin. Aku juga tidak tau bagaimana rasanya patah hati.”

“Tentu. Wanita secantik kau pasti disukai banyak pria.”

Aku memandangnya, dia berkata dengan begitu tenang tanpa ada nada sinis di dalamnya.

Membuat aku makin percaya, bahwa dia adalah tempat yang pas untuk berbagi cerita. Tidak seperti Gae In. Aku tau, Gae In sahabatku, sahabat hura-huraku. Di saat-saat seperti ini, di saat-saat aku butuh tempat untuk bersandar, aku selalu mengandalkan Gae In, dan akhirnya berakhir di klab tanpa ada cerita yang ku bagi padanya. Tapi gadis ini, entah bagaimana membuatku yakin.

“Hal seperti ini akan berlalu seiring waktu.” Ujarnya lagi.

Aku mengangguk, “aku tau. Mungkin aku hanya perlu waktu.”

“Dan belajar.”

Aku langsung menatapnya, menatapnya dengan tatapan penuh pertanyaan.

Dia tersenyum, “karena dari setiap rasa sakit, kita harus belajar menjadi pribadi yang lebih bijak dalam menjalani hidup.”

Pribadi yang lebih bijak dalam menjalani hidup? Bijak? Tau apa aku soal bijak?

Mendadak aku merasa begitu rapuh dan bodoh di depan Eunmi. Aku bisa melihat bahkan tanpa harus bertanya padanya soal hidupnya. Dari apa yang disekitarku saja, aku tau dia bukan gadis yang hidupnya serba mapan.

“Arraseoyo. Apa kau tinggal sendiri disini?” tanyaku lagi.

Dia mengangguk.

“Kita sama.”

“Jinjja? Tapi, dimana orangtuamu?”

“Mereka di luar negri, orangtuamu?”

Dia tampak diam sejenak, “sejak aku lahir aku tidak mengenal siapa orangtuaku.”

Aku menelan ludah. Stupid Hyeorin!

“Maaf aku—”

“Gwenchanayo Hyeorin-ssi.”

Dan lagi, dia gadis yang tegar, tidak tidak hanya tegar tapi juga kuat dan sangat berani. Aku tau itu.

“Aku berhutang budi padamu Eunmi.” Ujarku kemudian.

Dia tersenyum teduh kemudian menggeleng pelan, “aku tidak merasa melakukan apapun Hyeorin-ssi, kau tidak perlu sungkan.”

“Kalau semalam tidak ada kau, mungkin aku sudah berakhir di tangan begundal brengsek itu.”

Dia hanya tersenyum.

“Eunmi-ssi, aku akan membalasnya. Dan bisakah mulai hari ini kita berteman?”

Dengan dua alis terangkat dia mengangguk dan tersenyum. Membuatku ikut tersenyum.

**

Stop ask, just play!

Author’s

The most safe place is near the dangerous adalah sebuah kalimat klise se-klise klisenya untuk Hyeorin. Beberapa hari lalu ia memutuskan tidak menjaga jarak dengan Donghae tapi toh kenyataannya dia malah terjerembab dalam jurang yang sama. Akhirnya Hyeorin memutuskan untuk tidak berdekatan dengan ‘dangerous zone’ yang ia sebut sebagai Lee Donghae. Apapun alasannya. Cukup sekali ia merasa harga dirinya berantakan, tidak untuk yang kedua kali. Maka malam ini, Hyeorin menghabiskan malamnya di sebuah resto seorang diri sambil menegak bergelas-gelas martini, sendirian pula. Dari lantai 18 resto tempatnya duduk, ia bisa melihat pemandangan Seoul yang mulai sepi. Sudah tidak banyak kendaraan lalu-lalang, terang saja ini hampir tengah malam. Hyeorin hendak menuangkan martini ke gelasnya lagi tapi sebuah tangan menahannya. Hyeorin mendongakkan kepalanya dan mendapati Kyuhyun tengah berdiri disana.

“Sebaiknya kau tidak mabuk terus-menerus.” Ujarnya sambil meraih botol martini itu dan menaruhnya ke sisi lain meja.

Hyeorin menghembuskan nafas, “aku hanya sedang ingin minum.”

Kyuhyun kemudian duduk di sebelah Hyeorin, “sepertinya itu memang hobimu.”

Hyeorin tertawa, “tidak juga. aku hanya sedang banyak pikiran, jadi ingin minum. Begitu saja. Bagaimana kau bisa sampai ada disini?”

“Aku baru saja selesai bertemu dengan rekan bisnis disini, dan melihatmu.”

“Kau pasti bekerja sangat keras, bahkan hingga malam seperti ini masih saja berkutat dengan pekerjaan. Lebih baik kau segera menikah.”

Kyuhyun menghela nafas, dia tau gadis di depannya ini setengah mabuk dan mulai meracau tidak jelas. Kenyataannya toh memang seperti itu, Hyeorin memang sudah mulai dikuasai oleh efek martini yang beberapa menit lalu habis ditegaknya.

“Kyuhyun-ssi, apa kau siap dengan sebuah komitmen?”

“Hm?” kyuhyun memandang dalam ke arah Hyeorin, walau ia tau benar wanita mabuk ini sedang meracau tapi pertanyaannya membuat Kyuhyun mulai menatap serius gadis ini.

“Kau tau, bagiku komitmen itu artinya penjara. Dan aku belum mau menjadi tahanan, jadi aku lebih suka bermain-main.” Kini telunjuk Hyeorin menari-nari di atas gelas martininya.

Kyuhyun mendengus, “sudahlah Hyeorin-ssi, sebaiknya kita pulang.”

“Kyuhyun-ssi, apa kau ingin mecoba satu permainan denganku?”

“Ne?”

“Ayo kita bermain seolah-olah kita sepasang kekasih.”

Kyuhyun memicingkan matanya dengan dahi berkerut. Percuma mengiyakan orang yang sedang mabuk, besok pagi setelah dia sadar Hyeorin bahkan tidak ingat sudah mengatakan apa pada Kyuhyun, tapi pada kenyataannya..

“Baik. Kenapa tidak?”

Hyeorin tersenyum dengan mata sayu, “jadi kita sepasang kekasih sekarang? Aaaaaah chukaeee.” Kemudian gadis itu ambruk di pelukan Kyuhyun.

**

Eunmi’s

“Aku pikir kau yang lebih mabuk darinya.” Jawabku siang itu ketika bertemu dengan Kyu di coffee shop tempat aku bekerja. Dia baru saja menceritakan kronologis bagaimana akhirnya dia dan gadis yang ia sukai di kantor itu bisa menjadi sepasang kekasih. Dasar Pabo kyu! Bagaimana bisa dia menganggap serius kata-kata orang mabuk??

“Yaa Mi-Chan, aku kan bilang aku juga hanya mencoba bermain.” Jawabnya membela diri

“Lantas, kau sudah mengkonfirmasi ulang hubungan kalian?”

“Memangnya hubungan kami ini paket ponsel yang baru didaftarkan.”

“Lalu apa yang kalian lakukan ketika tadi bertemu di kantor?”

“Kami belum bertemu.” Dia menghela nafas, “aku bahkan belum ke kantor karena masih ada pekerjaan di luar kantor.”

“Apa dia menghubungimu?”

Kyu menggeleng.

“Great! Aku rasa yang sebenarnya mabuk adalah kau.”

“Mi-Chan, berhentilah berkata seperti itu!”

“Yaa Kyuhyun, aku berani bertaruh kalau kau sebenarnya jauh lebih serius dari apa yang kau katakan soal hubungan kalian.”

Dia terdiam, dan aku yakin aku benar. Aku mengenalnya lama sekali dan sudah sangat hapal dengan sifatnya ini. dia itu tipe pria setia dan aku hampir yakin dia sangat serius dengan jawabannya mengiyakan ajakan wanita itu untuk menjadi sepasang kekasih walau ada embel-embel ‘permainan’.

“Bicaralah dengannya.” Ujarku kemudian.

“Ne?”

Aku menghela nafas, “katakan yang sebenarnya padanya itu akan jauh lebih baik. Daripada kau memendam sendiri dan pura-pura menikmati permainan konyol ini.”

“Shireo.”

“Ne?”

“Aku akan mencobanya dulu. Entahlah, aku rasa aku juga butuh menilai dirinya.”

Aku mengangkat dua alisku kemudian tersenyum. Rasanya aku mulai merasa dia sudah tumbuh dewasa. Setidaknya dia tidak lagi menggunakan asas ‘cinta buta dibawah payung setia’ yang biasa dia terapkan.

“Kenapa kau tersenyum seperti itu?”

“Ani. Kau tau, aku lebih menyukai kau yang agak sombong seperti itu.”

“Jinjja? Apa aku terlihat keren.”

“Ani, ani. Biasa saja. Jangan terlalu percaya diri.”

Kyu tersenyum, “lalu bagaimana dengan malaikatmu itu? apa dia sudah lebih baik?”

Aku terdiam, tidak menjawab. Lebih tepatnya tidak punya jawaban. Akukan tidak jadi menemui tuan Lee karena Kyuhyun yang waktu itu mendadak pergi. Aku pikir sekarang dia sudah pulang ke rumah. Lukanya tidak begitu parah.

“Yaa, Mi-Chan wae? Jangan bilang waktu itu kau tidak jadi menjenguknya?”

“Aku—”

Kyuhyun mengangkat kedua alisnya, menunggu jawabanku dibalik wajahnya yang mengejek itu. aku tau, dia pasti sudah tau kalau aku tidak jadi menjenguk Tuan Lee.

“Jangan bilang kau tidak punya keberanian?”

Aku menelan ludah, sudah aku bilang Kyuhyun sudah bisa menebak.

“Kita ganti topik pembicaraan.”

“Mi-Chan…” dia mulai memanggilku dengan suara aneh.

Aku meliriknya dengan muka sebal.

“Mi-Chaaaaaaaan…..”

“Stop it!”

“Eunmi-Chaaaaaaaaaaaaaaaaaan…..” dia makin gencar menggodaku.

“Berhenti membuat suara aneh seperti itu!”

Sedetik kemudian Kyu tertawa, melihat wajah sebalku. Aku hanya mampu menghela nafas. Dia benar-benar menyebalkan.

*CONTINUED*