MY DEAR LITTLE DOLL (3)

Main Cast : Cho Kyuhyun (SUJU), Song Miinah (You), AJ (U-Kiss)

Support Cast : Elison Kim (U-Kiss), Super Junior Oppadeul.

Lenght : chaptered

Genre : Romance, Friendship PG-13

Author : Song Miin Ah

 

~~~~

Miinah POV

 

“MAKNAE!!!”

Aku langsung memasukkan kepalaku kedalam selimut dan menutup telingaku kencang-kencang. Dia sudah berteriak 30 kali dan belum selesai sampai saat ini.

“MAKNAE!!!! KAU HARUS BANGUN!!!”

Aku menyembulkan sedikit wajahku, “Jinyoon-eonni…. berhentilah berteriak…”

“Kau harus bangun, Maknae!!!” teriak Jinyoon-eonni ke 32 kalinya. Kali ini ia mulai menarik-narik selimutku. “Eonni…. 10 menit lagi, ok? Aku benar-benar lelah.” Balasku sambil berusaha merebut kembali ‘hak’ ku. Dia menggeleng dan menarik selimutku kencang. Sukses membuatku jatuh dari kasur, “Tidak. Cepat mandi dan berkemas.”

Aku hanya menarik nafasku. Aigoo… arwahku belum terkumpul penuh.

 

~~~~~

Kyuhyun POV

Harusnya aku lebih sopan padanya. Setelah melihat debutnya seminggu lalu, aku terus memikirkannya. Mau tak mau, aku memang harus mengakui kemampuan bernyanyinya. Tapi… rasanya akan merendahkan diriku kalau aku memujinya.

“Kyuhyunnie, mereka sudah datang! Ayo kita ke aula latihan!” seru Ryeowook-hyung sembari menarik tanganku. Mereka baru akan diperkenalkan pada kami hari ini. Karena SNSD begitu sibuk, perkenalan S-Project baru bisa dilakukan hari ini.

“Annyeong Hasesyo!” Mereka membungkuk berbarengan.

“Mohon bantuannya, senior!” lanjut mereka.

Aku melihat kearah Miinah. Kenapa wajahnya berubah menjadi tanpa emosi lagi? Kenapa wajahnya jadi menyebalkan lagi? Kurasa lebih baik aku tak usah memujinya.

“Aku sudah melihat debutmu. Kalian tampil sangat baik. Jangan sungkan, kalian termasuk kedalam keluarga SM sekarang.” Ujar Dana-noona sembari memeluk satu persatu dari mereka.

“Kau punya suara dan wajah yang cantik, Miinah-ya.” ujarnya ketika ia selesai memeluk Miinah. “Khamsahamnida, Dana-sshi.” Balasnya sambil membungkuk sekali.

Satu persatu dari Super Junior mulai menyalami mereka, dimulai oleh Jungsoo-hyung tentunya. “Hwaiting!” seru Ryeowook-hyung setelah selasai memeluk Miinah.

“Selamat berjuang, Taeya-ya.” ujarku sembari melepaskan pelukanku pada Taeya. Taeya mengangguk mantap, “Ne, Oppa.” Kini giliran Miinah. Aku hanya terdiam didepannya. Astaga… kenapa gugup begini sih?

“Kau tak perlu memelukku. Hanya perlu bilang berjuanglah.” Ujarnya ketika menyadari  keanehanku.  “Benarkah?” balasku. Dia hanya menatapku, membuatku semakin gugup. Ok, hanya sekali ini. Aku meraih kepalanya dan membenamkannya di dadaku, “Akan terlihat aneh kalau hanya kau yang tidak aku peluk.”

 

~~~~~~

Miinah POV

 

Kenapa dia diam saja? Apa maunya sebenarnya?

“Kau tak perlu memelukku. Hanya perlu bilang berjuanglah.” Ujarku padanya. Kurasa ia merasa sungkan memelukku. Aku tidak peduli. Toh, tak ada untung dan ruginya. “Benarkah?” balasnya sambil menggaruk-garuk rambut belakangnya.

Aku hanya menghela nafasku panjang. Aigo, Ahjusshi ini. Semakin lama kau disini, semakin terlihat aneh tau!

Tiba-tiba saja dia memelukku, “Akan terlihat aneh kalau hanya kau yang tidak aku peluk.”

“Tidak aneh kok. Akan lebih aneh kalau kau memelukku lama dan kencang seperti ini, Ahjusshi.” Balasku. Dia cepat-cepat langsung melepaskan tangannya, “Ya! Kau…” gerutunya.

Aku hanya menyeringai, “Wae?”

 

~~~~~~

Kyuhyun POV

 

Aku akan membunuhnya!!!!!!

“Kyuhyunnie, waeyo?” tanya Donghae-hyung sambil memberikan air mineral padaku. “Wajahmu merah begitu. Kau kelelahan?” lanjutnya. Aku menggeleng, “Tidak hyung. Hanya sedikit panas disini.”

“Jinja? Bukankah hari ini dingin sekali? Salju turun lebat loh, Kyu.” Tanya Donghae. Aish, aku lupa hal itu. Kemana kemampuan mengarang alasan yang dulu selalu aku banggakan itu? YA!! Ini semua karena anak manekin itu!!!!!

“Kyu… wajahmu tambah merah loh…”

“Hyung!! Bagaimana menurutmu tentang  S-Project?” tanyaku.

Donghae-hyung menekuk keningnya, “Mereka bagus. Cantik-cantik dan multi talenta. Wae?”

“Secara terperinci per member?” lanjutku.

“Eunyoung itu sangat dewasa dan figur leader yang baik. Jinyoon memiliki suara yang berkarakter. Kara memiliki bakat nge-rap yang sangat baik. Dia juga memiliki talenta menjadi seorang songwritter. Taeya… aku tak terlalu tau karena dia tidak mengalami trainee. Tapi dia cantik seperti boneka belanda ya? Cara dia menari juga luar biasa. Lalu terakhir Miinah… dia seperti manekin kan? Suaranya begitu jernih dan kuat tetapi tetap lembut. Kurasa dia gadis luar biasa.”

Salah besar aku bertanya pada Donghae-hyung. “Hyung.. bukankah wajah tanpa emosi Miinah sangat menyebalkan?” hasutku.

Donghae-hyung menggeleng, “Tidak kok. Dia jadi terlihat tenang dan manis. Kurasa akan menyenangkan kalau aku memiliki adik seperti Miinah.”

Astaga. Donghae-hyung sudah tertipu topeng muslihat gadis manekin itu.

 

~~~~~

AJ POV

Chart musik di Music Bank sangat mengagetkan. 2 minggu White Sky dan S-Project debut, mereka langsung mencapai peringkat 6 dan 7. SMEntertaiment memang luar biasa dalam merekrut trainee baru. Sehingga… ‘produk’ yang mereka keluarkan juga luar biasa.

“Jaesop! Apa yang kau lakukan?” tanya Soohyun-hyung mengagetkanku.

“Ani, hyung. Aku akan ke gedung Music Bank hari ini.”

“Untuk?”

“Eli memintaku menemaninya hari ini. Tak apakan? Toh, hari ini kita free.” Balasku. Dia mengangguk, “Hanya kau dan Eli?”

“Kiseop, Hoon, dan Kevin ingin ikut juga.” terangku.

“Baiklah. Nanti siang aku dan Dongho akan menyusul. Jadi kalian harus tetap disana sampai siang ya?” ujar Soohyun-hyung. Aku hanya mengangguk tanda mengerti.

 

~~~~~

Miinah POV

 

Ini dingin. Hari ini dingin. Bahkan didalam studio siaran ini pun terasa dingin. “Miinah-ya gwenchana?” tanya Taeya-eonni. Aku mengangguk, “Its ok.”

“Kulitmu pucat. Apa kau kelelahan?” tanya Taeya-eonni lagi. Kali ini wajahnya benar-benar khawatir. “Ini sudah biasa. Aku tidak tahan dingin. Kalau dingin, kulitku akan memucat.” Balasku berusaha meyakinkannya.

Dia mengangguk dan menyelimutiku dengan mantel, “Pakai ini sampai kita perform nanti ya?”

“Ne.” Balasku.

Aku memilih untuk berjalan-jalan sebelum manggung. Masih ada banyak waktu sebelum aku tampil. Tunggu…. itu kan Ahjusshi. Kenapa dia berjongkok disitu? Di depan pintu Pantry?

“Ahjusshi… apa yang kau lakukan?” tanyaku. Dia menoleh keatas lalu menunduk cepat, “Tidak ada hubungannya denganmu.”

“Ahjusshi, kenapa kau berjongkok disitu? Terlihat seperti orang bodoh, kau tau?” seruku. Dengan cepat dia berdiri, “YA! Kau ini…. memangnya kau tidak pernah berjongkok seperti aku? Pertama kali kita bertemu, cara berjongkokmu lebih menyedihkan daripada ini tau!”

Aigo. Dia marah. Wajahnya merah begitu…

“Ada asap dikepalamu, Ahjusshi…”

“Berhenti panggil Ahjusshi! Aku ini masih 24 tahun!” bentaknya.

 

~~~~~~~~

Kyuhyun POV

“Berhenti panggil Ahjusshi! Aku ini masih 24 tahun!” bentakku. Dia tidak terlihat takut, kaget, atau apapun. Dia hanya memandangku dan tertawa. Tertawa! Dia malah tertawa!

“Wajahmu merah seperti babi, Ahjusshi!” tawanya.

Cantik. Dia cantik sekali ketika tertawa. Eye-smilenya begitu cantik hingga aku lupa dengan amarahku. Bagaimana ini?

“Wah… sampai panas begini. Hati-hati, kau bisa jadi babi betulan!”

Wajahku semakin memanas ketika kedua tangannya ada di pipiku. Ada apa ini? Jantungku memompa sangat cepat sekarang. Antara amarah dan berdebar bersatu, membuatku sedikit pusing.

“Ini…” dia menyodorkan permen di tangan kanannya. “Ini obat pereda amarah. Ah salah! Obat pencegah ‘berubah menjadi babi’.” Jelasnya.

Aku mengambil permen itu, “Ini permen! Bukan obat!”

“Obat! Itu obat untukmu Ahjusshi. Sudah ya? Aku pergi dulu.” Balasnya sambil berlalu.

 

~~~~~~

Miinah POV

 

SELESAI!! Jadwal hari ini selesai! Akhirnya! Ini menyenangkan. Akhirnya aku bisa tidur lagi. “Maknae! Jangan melompat-lompat seperti itu.” Tegur Eunyoung-eonni. Aku bahagia, eonni. Akhirnya aku bisa bersantai!

EITS, celaka! Heels-nya patah.

 

~~~~~

 

AJ POV

Aku menangkap gadis itu. Kurasa heels nya patah karena dia melompat-lompat tadi, “Gwenchana?”

“It’s hurts…” dia merintih pelan. Aku membantunya duduk dikursi, “Miinah-sshi, Gwenchana?”

“Miinah! Sudah kubilang jangan melompat-lompatkan? Sakitkah?” tanya seorang gadis yang berlari menghampiri kami berdua. Dia membungkuk berkali-kali, “AJ-sshi… khamsahamnida! Khamsahamnida! Terimakasih telah menolong Miinah kami.”

“Tidak apa-apa.” Balasku.

Aku melepaskan kedua sepatu Miinah. Astaga, kakinya lecet hingga berdarah begini. “Sakit kah?” tanyaku. Heelsnya memang lumayan tinggi sih. Dia hanya meringis kesakitan. “Maaf, bisakah kau luruskan kakimu?” pintaku. Aku tau ini tidak sopan. Apalagi dia memakai rok. Tapi kalau tidak cepat ditangani… bisa gawat.

Dia mengangguk dan membiarkan aku meluruskan kakinya. Aku mengambil botol air dan mencuci kakinya. Dia menggigit bibir bawahnya menahan perih.

 

~~~~~

Miinah POV

 

Dia melepaskan sepatuku. Dia tak perlu melakukannya. Aku merasa sangat tidak sopan padanya. “Sakitkah?” tanyanya. Aku hanya menahan sakitnya. Ini perih. Tapi pasti tak akan lama.

“Maaf, bisakah kau luruskan kakimu?” pintanya. Dengan sedikit ragu, aku membiarkan kakiku diluruskan olehnya. Ini pertama kalinya ada laki-laki yang memegang kakiku. Rasanya aku gugup sekali.

Dengan hati-hati dia mencuci luka di kakiku. Ini perih. Tapi aku tidak boleh ketahuan menahan sakit. Bagaimanapun, ini kesalahanku.

“Akan sakit sebentar. Tenang saja, hanya sebentar.” Ujarnya menenangkanku. Kurasa ia tahu akan kesakitanku. Laki-laki ini… semakin kulihat wajahnya, semakin aku merasa pernah melihatnya. Dimana ya?

“Selesai. Tapi kita harus ke rumah sakit agar lukamu tidak berbekas. Kau bawa mobil? Hari ini aku tidak bawa mobil.” tanyanya. Aku menggeleng, “Eunyoung-eonni yang bawa.”

“Eunyoung-sshi, boleh aku pinjam mobilmu?” tanyanya. Eunyoung-eonni buru-buru mengeluarkan kunci mobil dan memberikannya pada laki-laki itu, “Silahkan. Tolong antar Miinah kami, AJ-sshi. Saya harus ke kantor SM sekarang. Saya mohon.”

“Eonni… kau tak ikut?” tanyaku.

“Mianhae, Miinah-ya. aku harus ke kantor. Annyeong!” balasnya sambil berlalu meninggalkanku. Aku hanya menghela nafas panjang-panjang.

“Kau bisa berdiri?” tanyanya. Aku mengangguk dan berdiri. Aigo aigo… ini sakit sekali. Aku kembali goyah. Laki-laki itu kembali menangkapku, “Jangan dipaksakan.”

Dia mendudukkan ku kembali kekursi. Lalu dia berjongkok membelakangiku, “Naiklah. Kugendong sampai mobil.”

“Gendong?”

“Ne. Aku tau ini agak memalukan…. tapi kau tidak boleh berjalan. Apa harus kugendong didepan?” tanyanya. Aku menggeleng, “Bukan. Bukan itu. Aku berat. Apa tidak apa-apa?”

Dia tertawa, “Jinja? Kau berat? Aku tidak percaya. Sudahlah, naik saja.”

Dengan ragu aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Dia mulai mengangkatku. Wajahku memanas sekarang. Ini pertama kalinya aku sedekat ini dengan anak laki-laki. Entah kenapa aku berdebar.

Tiba-tiba saja dia tertawa. Ini benar-benar mengagetkanku.

“Kau ringan sekali, Miinah-sshi. Kau harus lebih banyak makan mulai saat ini.” Tawanya. Dia tertawa begitu lepas seperti anak kecil. Bau rambutnya juga tercium olehku. Ada apa ini? Kenapa wajahku panas?

“Kau tau?” tanyanya.

“Wae?”

“Aku benar-benar beruntung bisa menggendong gadis cantik seperti mu.” Tawanya lagi. Melihat wajahnya yang mulai memerah, membuatku semakin berdebar.

tbc~

Iklan