[CHAPTER10] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • CN Blue Min Hyuk as Richard Kim

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

 

Chiyoon PoV__

Hari ini Yoojin mengomeliku sepanjang hari begitu mengetahui aku dan teman-teman berencana hendak mendaki ke puncak Hyangjeok. Ia mengingatkan bahwa di musim salju bukan situasi yang cocok untuk melakukan pendakian ke puncak. Karena selain udaranya yang sangat dingin, jalur pendakian juga pasti tidak stabil.

“Jangan macam-macam dengan alam Chiyoon-ah. Kalian bisa bermain di tempat lain dan tak perlu melakukan pendakian. Jika terjadi sesuatu yang buruk padamu bagaimana?” Ok well ucapan Yoojin mirip seperti petuah orang tua. Demi Tuhan, apa ia tak pernah menjadi anak muda?

Yoojin melemparkan tubuhnya di ranjang , masih dengan i-pad di genggamannya.

“Onni, ini pengalaman baru untukku. Lagipula aku bersama dengan teman-temanku” Kugerai rambutku di depan cermin meja hiasku. Ah rambutku sudah mulai panjang.

“Sandy bilang banyak kakek dan nenek yang bahkan bisa mencapai puncak. Itu membuktikan bahwa pendakiannya lancar dan aman. Kumohon ijinkanlah aku. ya?”

“Tidak tahu. Bagimana aku bisa tahu kau akan aman-aman saja?”

“Baiklah, aku akan menelfonmu setiap 30 menit. Bagimana?” Kulihat Yoojin beranjak, i-pad yang daritadi ia genggam ia letakkan di atas meja dan mulai menghampiriku.

“Dengar Chiyoon-ah. Tak masalah dimana kau akan pergi. Yang terpenting adalah kau bisa menjaga dirimu sendiri dan selamat sampai tujuanmu” Aku tersenyum melihat wajah Yoojin yang terlihat khawatir.

Well, kakakku ini memang sangat berlebihan khawatirnya padaku. Aku merangkulnya dalam, “Onni, Terimakasih kau telah mengkhwatirkanku. Baik, baik aku bisa menjaga diriku sendiri. Seperti kataku tadi, aku akan melaporkan setiap aktivitasku padamu. Oke?” Aku memandang wajahnya. Kemudian ia tersenyum dan beranjak hendak keluar dari kamarku.

“Baiklah, janjimu kupegang. Ohya, aku ke depan dulu ya. Temanku mencariku” Ia menutup pintu kamarku.

“Baiklah” Aku berbalik dan menuju lemari pakaian. Mencari-cari tas ransel yang sanggup diisi barang-barang bawaanku nantinya.

“Ah, tidak . Tasku tidak terlalu besar. Uh, coba kulihat apakah muat” Aku mengambil beberapa baju tebal untuk ganti, obat-obatan, makanan instan, dan alat penghangat seperti penutup telinga dan tak lupa masker.

Kujejalkan barang-barang penting tersebut, kemudian aku baru teringat kalau nantinya kami akan bermalam disana.

“Ya ampun, kantung tidur dan selimut. Baiklah dimana kalian??” Aku membongkar kembali lemariku dan mengeluarkan barang yang kucari. Kemudian merapikan tas ranselku kembali.

“Sempurna!” Aku menepuk tanganku. Baiklah, persiapan sudah matang.

Author PoV__

Aku sudah tak sabar menghabiskan waktu dengan memandang matahari terbenam bersamamu, noona…

“Jadi kapan kau akan ke korea Rich?” Tanya seorang pria berkebangsaan Prancis . Pria yang dipanggil ‘Rich’ itu hanya menyunggingkan sebuah senyum misteriusnya.

“Besok siang” Ucap Richard sambil memegang dahinya

“Kau, tidak memberitahukannya lebih dulu? Mungkin saja ia sedang tak ada di rumah” Richard berdiri dari duduknya. Ia memilih berdiri di dekat pagar yang langsung berhadapan dengan laut yang sangat luas. Anginnya sedikit berhembus menerpa wajah tampannya.

“Aku ingin membuat kejutan untuknya” Gumamnya. Matanya masih menerawang jauh. Kini ia menyentuh pinggiran pagar. Apartemen Keyta memang berada di pinggiran pantai dengan menyuguhkan panorama pantai yang sunggguh menakjubkan.

“Ah kau bisa saja. Baiklah, panggil aku jika kau memerlukan sesuatu. Rich, lihatlah Chloe sudah menunggumu” Pria bule itu lantas beranjak dari apartemennya. Ia memberikan kode pada gadis bule yang baru datang itu, maksudnya agar segera menemui Richard.

Ketika Keyta tak berada di sampingnya, Richard mulai menggumam,

“Noona, kau masih ingat padaku bukan?” Matanya melengkung, tersenyum. Gadis bule itu memperhatikan Richard dari belakang, ia mendekatkan tubuhnya dan memeluk punggung Richard. Richard kebingungan, ia menoleh.

“Chloe? Sejak kapan kau disini?” Chloe melepas pelukannya, kemudian ia menempelkan bibirnya pada bibir Richard. Dalam. Membuai pria itu sampai beberapa menit lamanya. Richard melepaskannya sedikit kasar, bahkan lidah gadis itupun belum sempat memasuki rongga mulut Richard seperti biasanya.

“Sayang, kau terlihat gelisah? Mau kuambilkan sesuatu?” Chloe mengerutkan keningnya. Tak biasanya Richard menolak ciuman panasanya. Richard tertawa, dan berkata pelan.

“Kurasa sebotol cola, cocok untuk menemani sore kita kali ini” Chloe tersenyum, menyentuh bibir Richard dengan jemarinya kemudian beranjak setelah sebelumnya tersenyum nakal pada pria itu.

“Berjanjilah padaku Rich, selepas ini kita akan berenang bersama” Richard tidak menanggapinya, ia lebih memilih mengedikkan bahunya pelan.

Sepeninggal Chloe, Richard mengeluarkan sebuah sapu tangan dari sakunya. Ia mengibaskannaya sesaat dan mengusapkannya kasar pada bibirnya. Agak lama. Seperti ingin mengenyahkan sisa-sisa ciuman yang berasal dari bibir Chloe. Ia berjanji dalam hati, ini adalah ciuman Chloe yang terakhir.

_________

Keesokan harinya,..

“Dimana anak itu? Mengapa jam segini belum juga muncul?” Ujar Tae-soo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya , dari tadi ialah yang paling cerewet.

Hari ini adalah hari yang telah direncanakan untuk melakukan pendakian. Mereka berkumpul di rumah Chiyoon jam 5 pagi. Dengan barang-barang yang beragam tentunya. Beberapa tas carier besar dan juga pakaian tebal. Tapi sampai jam 5 lebih 5 menit, Donghae masih juga belum datang. Sudah berkali-kali dihubungi tapi tetap tidak diangkat.

“Ah bagaimana ini? Bagaimana jika kita tak dapat kereta?” Naomy cemberut. Tidak hanya Naomy yang berkeluh kesah, Sandy Nampak seribu kali lebih frustasi. Takut jika rencana ini akan batal sia-sia. Sebuah ide muncul dari kepala Chiyoon,

“Bagaimana jika kalian duluan saja ke stasiun. Berhubung kita berkumpul di sini, maka biar aku yang menunggunya. Bukankah kereta berangkat 25 menit lagi? Kami bisa naik taksi nanti” Semuanya menyimak perkataan Chiyoon, dan mengangguk sepakat.

“Benar tidak apa-apa? ” Ucap Hanseo mengkhawatirkan Chiyoon.

“Iya. Jika sudah sampai jangan lupa carikan kami tempat duduk. Mengerti ?”

“Baiklah, Chiyoon-ah . Kami berangkat duluan. Jika Donghae datang, pukul saja kepalanya” Teriak Jinshim sambil tertawa.

Mereka semua berpamitan pada Chiyoon dan pergi dengan menggunakan mobil Jeep Naomy. Sepuluh menit kemudian, Donghae datang denga tergesa.

Dasar, tidak tepat waktu.

“Maaf. Aku terlambat” Nafasnya terdengar naik turun. Matanya dari tadi mengawasi Chiyoon. Karena tak terdengar respon dari gadis itu, ia pun mencoba menjelaskan.

“Tadi pagi keluarga Junso datang dan menginap. Maka dari itu aku bangun agak terlambat” Ucap Donghae seperti sengaja menekankan kalimat tersebut.

Chiyoon terlihat melamun sesaat, terlihat sekali ekspresi kerinduan yang terpancar dari sinar matanya. Ia tersadar dan memandang Donghae lekat

“Baiklah , sebaiknya kita berangkat sekarang. Yang lain sudah menunggu kita di stasiun” Ujar Chiyoon . Gadis itu menopang tas carier nya di punggungnya, agak keberatan sedikit, kemudian ia berjalan mendahului Donghae. Sedangkan Donghae hanya bisa mengawasi gadis itu dari belakang dalam diam. Donghae berusaha berfikir sesuatu,

Apa terjadi sesuatu padanya? Mengapa ia terlihat..

Ia menggelengkan kepalanya sekilas, kemudian beranjak jalan di belakang Chiyoon.

Lima menit kemudian mereka berdua sampai di stasiun. Tae soo dkk menyambut Chiyoon dan Donghae dengan suka cita. Bahkan terjadi insiden saling berpelukan, sehingga membuat mereka menjadi pusat perhatian di stasiun. Mereka bahkan melupakan bahwa sebelumnya Chiyoon dan Donghae tak pernah akur.

“Donghae-ah ? Kau tak mengajak Jessica?” Tanya Tae Soo saat semuanya sudah berada di dalam kereta menuju kota Muju. Hanya kereta ekonomi, dengan harga tiket yang juga tak terlalu mahal.

“Ibu dan adiknya sedang ke Seoul. Aku tak ingin merusak kebahagiaannya” Donghae mengalihkan perhatiannya pada pemandangan luar kereta. Sedangkan Tae Soo kembali sibuk dengan bir penghangat di tangannya.

Semuanya terdiam, terhanyut, menikmati pemandangan asing yang baru mereka jumpai. Menakjubkan, mengesankan. Itu yang bisa mereka rasakan.

Di luar jendela, terdapat pemandangan yang sangat menarik. Sebuah pedesaan tenang yang jarang ditemui di Seoul. Banyak berjejer pohon-pohon cemara yang memucat tertutup oleh tumpukan salju, rumah-rumah tradisional hampir seperempatnya tenggelam oleh salju, dan juga rel-rel kereta yang Nampak membelah jalan menuju ke sebuah pegunungan apik di depan mata. Sebuah pegunungan yang curam dengan berhias pepohonan yang rimbun.

“Aigo, tempat ini sungguh indah. Kurasa 10 menit lagi kita turun” Ujar Tae-Soo dengan sesekali kepalanya melongok ke luar jendela. “Tepat, kita sudah sampai di stasiun” Sandy yang dari tadi tertidur, kini mulai terbangun.

“Ah, segar sekali !! Dimana kita?” Sandy meregangkan kedua tangannya dan kepalanya. Perjalanan kereta memang memakan waktu sekitar 3 jam perjalanan.

Naomy menyunggingkan senyum haru begitu melihat pemandangan di depannya. Kawasan resort yang sangat luas dengan begitu banyak orang yang berkumpul disana. Bagaikan pasar pagi, karena sangat ramai. Kebanyakan dari pengunjung disitu menghabiskan waktunya untuk bermain ski. Ski di Muju kabarnya memiliki banyak level, dari yang level sedang sampai yang level amat menantang.

“Ah!!! Sweeety, aku mencintaimu!!” Teriak Sandy kegirangan kemudian ia memeluk Tae-Soo. Tae Soo juga membalas pelukan Sandy. Naomy tidak ingin ketinggalan, ia merangkul punggung Hanseo dari belakang sedangkan yang dipeluk hanya tertawa.

“Ya!! Kalian sungguh keterlaluan!” Teriak Jinshim memandang gusar kea rah pasangan yang berpelukan. “Kalau begitu aku akan memeluk Chiyoon saja!”

Chiyoon tertawa mendengar gurauan Jinshim, sedangkan Jinshim mulai beraksi dengan jurus gombalnya. Donghae hanya bisa mendengus sambil tertawa sinis mendapati tingkah konyol semua temannya. Ia kemudian berjalan santai sambil menatap dalam kearah puncak gunung di depannya.

“ Baiklah, apa kita butuh waktu untuk istirahat? Kudengar disini ada beberapa hotel yang murah” Ujar Tae-soo. Ia secara tidak langsung mengetuai perjalanan kali ini.

“Sama sekali tidak capek, kok. Tapi, hm… aku tak yakin bisa bertahan di cuaca yang sangat dingin. Apalagi kita berada di puncak. Brrrr” Naomy mendekap tubuhnya sendiri sambil menggigil. Matanya berbinar begitu ia mendongak ke atas.

“YA! Teman-teman . sepertinya ide yang bagus jika kita naik gunung dengan cable car” Naomy menunjuk sebuah benda yang mirip dengan kereta gantung tengah melintas di atas mereka, benda tersebut sepertinya menuju kea rah puncak gunung.

Sandy melotot memandang Naomy, “Dasar bodoh! Kita hendak mendaki!! Bukan berwisata!!” Semuanya tertawa begitu mendengar ucapan Sandy.

Semuanya sepakat, setelah berdo’a bersama mereka menuju ke jalur utama pendakian. Bagaikan satu rombongan, mereka mendaki bersamaan. Kebanyakan dari mereka adalah siswa sekolah dan juga mahasiswa.

_______

Yoojin kegirangan begitu mengetahui bahwa Junso hendak mengunjungi rumah nanti malam, terlebih saat Chiyoon mengirimnya gambar pegunungan salju yang berhasil ia daki dan kegembiraannya semakin lengkap. Ia sampai tidak menyadari bahwa pelayan rumah dari tadi berdiri di dekatnya karena ingin menyampaikan sesuatu padanya.

“Nona, ada tamu. Katanya tamu dari Jepang” Yoojin menghentikan tawanya.

“Dari Jepang? Siapa?” Yoojin Nampak berfikir, “Apakah teman Chiyoon? Ah tapi Chiyoon sedang mendaki. Ehm, Baiklah, suruh saja ia masuk. Aku akan menemuinya” Pelayan rumah itu kemudian keluar lagi dan menemui si tamu, sedangkan Yoojin bersiap dengan membenahi sedikit penampilannya.

Yoojin keluar, ia penasaran sekali siapakah tamu yang pelayan rumahnya maksud. Begitu tubuhnya muncul di ruang tamu, Ia melihat sosok seorang pria dengan tubuh tinggi, rambut hitam cepak, ia memakai sepatu kets hitam, dan memakai wintercoat nya yang melebihi lututnya. Pria itu memebelakangi Yoojin.

“Annyonghaseyo! Aku Yoojin. Ada yang bisa kubantu tuan?” Pria itu menoleh, dan tersenyum begitu memandang wajah Yoojin. Yoojin memperhatikan pria tersebut. Seperti pernah melihatnya, batin Yoojin.

“Maaf, apa aku mengenalmu?” Yoojin bertanya dengan sopan, namun masih dengan wajah bingungnya karena pria dihadapannya ini hanya terdiam sambil tersenyum dan menggumamkan sebuah kata,

“Noona!” Gumamnya. Yoojin mengernyitkan alisnya, memandang sosok pria yang didepannya itu lebih seksama, lebih intens. Mengingat-ingat senyumnya, bentuk mukanya, dan juga lesung pipinya yang khas. Yoojin bertanya dalam hati.

Apa dia…

“Richard???” yoojin memandang pria itu dengan tatapan tak percaya. Tanpa menunggu komando, Yoojin memeluknya hangat. Pelukan seorang kakak yang telah lama tak berjumpa dengan adiknya. Sedangkan Richard hanya bisa mengangguk-anggukkan kepalnya gembira.

________

“AAAAAAAAAARGHHH!!!!!! Akkkuuuuuu benciiiiiii padamuuuuuu Dong Sun !!!” Naomy mengepalkan kedua telapak tangannya pada sudut bibirnya sembari berteriak di puncak gunung yang baru saja ia daki. Ia berteriak sambil meneteskan air mata, sedangkan Hanseo berada di belakang gadis itu sambil menepuk-nepuk bahu kekasihnya pelan.

“Sudahlah, jangan menangis ! Walaupun aku sedikit terpaksa berpacaran denganmu, tapi aku juga tak rela kau menangisi pria lain” Hanseo berkata lirih. Dalam lubuk hatinya ia benci Naomy menangisi mantan kekasihnya tersebut.

“Kau tidak perlu terlalu jujur, ya!! Chagia mataku kelilipan bego !!” Naomy menampakkan ekspresi cemberutnya. Sepertinya Hnaseo luluh, ia kemudian menarik naomy dan meniup-niup mata Naomy yang kelilipan.

“Apa sudah lebih baik?” Tanya Hanseo, Naomy menggeleng.

Sedangkan di tempat yang tidak jauh dari Naomy, Chiyoon sibuk dengan ponselnya. Ia menggoyang-goyangkan ponselnya ke udara agar mendapatkan sinyal yang lebih banyak. Tapi sepertinya usahanya sia-sia. Hal tersebut membuat Donghae tertarik.

“Apa yang kau lakukan?” Donghae mengambil tempat duduk di sebelah Chiyoon duduk. Mereka duduk di tumpukan salju yang berhadapan langsung dengan pemandangan kota dari atas. Terlihat sungguh menakjubkan.

“Aku ingin mengirim gambar ini ke Yoojin, tapi sepertinya sinyalnya tidak cukup kuat” Chiyoon menghela nafas dan akhirnya menyerah. Ia menekuk kedua lututnya dan mendekapnya erat , akumulasi dari rasa kedinginannya sejak tadi.

Donghae terlihat merogoh sakunya. Ia mengeluarkan ponselnya dan ditatapnya layar tersebut lekat-lekat. Kemudian ia mengumpat perlahan. Chiyoon memandangnya.

“Ah sial, punyaku juga tidak bisa”

“Sepertinya Yoojin menelponku tadi, ah semoga bukan hal yang penting” Gadis itu mendesah. Ia mendongak menatap langit karena kabut mulai berdatangan, dan rintikan tipis kabut tersebut sudah menerpa wajahnya hingga membuatnya semakin kedinginan. “Ah kenapa sangat dingin sih ?” Ia menggenggam kedua tangannya dan memasukkannya kedalam jaket tebalnya. Donghae mengawasi gerak-gerik gadis disebelahnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Setelah lulus, apakah kau jadi melanjutkan studi ke jepang??” Tanya Donghae. Chiyoon memandangnya, ia terdiam beberapa saat.

“Universitas Tokyo. Disanalah aku akan mengejar impianku” Mata Chiyoon menerawang.

“Apa kau yakin? Mengapa harus di Jepang ? Mengapa tidak di Korea??” Suara Donghae terdengar meninggi. Ia menyadari perbuatannya berlebihan, kemudian kembali terdiam.

“Richard. Aku sudah berjanji padanya untuk melanjutkan study ku disana. Kupikir ini ide yang bagus, mengingat Universitas Tokyo itu sangat unggulan” Donghae tersentak. Ia menoleh kearah lain dengan pandangan frustasi.

Bocah tengik itu, aku tidak percaya ini..

“Sepertinya hubungan kalian akan berlanjut. Kuucapkan selamat padamu” Pria itu kini tersenyum getir, ia menggenggam sebongkah salju dan melemparkannya jauh.

Alis Chiyoon terangkat sebelah, kemudian ia tersenyum singkat “Tentu saja. Aku sudah sangat merindukannya. Aku tak bisa membayangkan seperti apa nantinya jika aku tinggal bersamanya”

“Apa?” Suara Donghae lagi-lagi meninggi, bahkan ekspresinya jelas sekali menunjukkan antara kaget, kesal, dan kecewa.

 

Chiyoon’s PoV_

Apa ada yang salah dengan ucapanku? Mengapa ia sangat kaget?

Aku mengambil inisiatif untuk mengalihkan arah pembicaraan ini.

“Ibulah yang merencanakannya. Ohya, bagaimana kabar Jessica? Apakah kasus ayahnya ada kemajuan?” Matanya menghujam mataku. Ah, tatapan itu..

“Hanya tinggal menunggu sidang terakhir, dan itu minggu depan” Aku sedikit tersentak. Minggu depan adalah hari yang telah ditetapkan keluargaku dan juga donghae untuk melangsungkan pertunangan.

“Kurasa ia tak akan hadir di pertunangan kita” Gumamanya seperti dapat membaca pikiranku. Sebenarnya agak aneh mendengar imbuhan ‘kita’ dalam kalimat Donghae. Terkesan seperti sungguhan, pertunangan yang abadi, yang akan berlanjut ke jenjang berikutnya. Padahal…

“Chiyoon-ah?”

“Kuharap kau tak cerita apapun pada Jessica yang mungkin akan membuat ia salah faham padamu. Aku sudah berjanji untuk merahasiakannya pada siapapun” Ucapnya datar. Terlihat sekali ia ingin menjaga perasaan Jessica. Agar gadis itu merasa aman karena rahasia keluarganya hanya diketahui oleh Donghae seorang.

“Kau jangan khawatir” Ucapku singkat

Donghae beranjak, meninggalkanku terduduk sendirian. Tiba-tiba hatiku terasa hampa, melihat punggungnya yang pergi menjauhiku perlahan. Ada rasa sesak di dada ini. Belakangan ini aku bahagia melihatnya dekat denganku, tersenyum padaku. Bagaikan potongan puzzle yang bertahun-tahun kucari untuk kusatukan dengan potongan yang lain. Melihatnya ada di sampingku, merasa hidupku lebih … lengkap.

Oh Tuhan, Apa yang terjadi padaku….

*

My Adorable Fiancee,

To Be Continued

*

Annyong ? cerita akhir masih jauh dari angan-angan, Madhit harap juga berakhir dengan hepi ending. Kalian setujuuuuddd ??? Buat yang ngasih saran juga makasyong banget. Saranmu, bagaikan udara segar bagi Madhit. Seneng deh dikasi masukan, jadi bisa introspeksi diri. At least, komentarnya yah yah ??