Title : Alive

Author : @violetkecil

Rating : PG 17

Genre : Romance, Fantasy

Length : Chaptered

Cast : Lee Taemin (SHINee), Kwon Ahra (OC), Park Jungsoo

Note : Already posted on http://fanfictionschools.wordpress.com

 –oooOooo–

Previous Chapter: Prolog * Chapter 1 * Chapter 2

 –oooOooo–

Chapter 3. Fallen


DAN… Taemin ingin berteriak pada Ahra. Dia ingin gadis itu menjauh darinya. Taemin merasa pertahanan yang sedari tadi dia bangun mulai goyah.

Run, run away from me

Me, a fool, how can I fallen for you?

“Selamat makan,” ucap Ahra. Ucapan yang menarik Taemin dari kegoyahan. Tangannya

yang mengepal keras di bawah meja makan perlahan mulai melemas. Dia melihat Ahra sedang menatapnya—menunggu.

Ne,” sahut Taemin dan menyuapkan makanan ke mulut. Tidak terasa apa-apa untuk Taemin.

Ahra masih menatap Taemin, “Waeyo?” protes Taemin.

Aniyo. Kau ternyata sama saja. Aku pikir kau tidak makan makanan seperti ini.”

Taemin tersedak mendengar kata-kata Ahra yang hampir tepat sasaran. Ahra langsung mengambilkan segelas air dan menyodorkannya pada Taemin.

Gwencanayo?” tanya Ahra.

Ne,” sahut Taemin tercekat. Taemin kemudian menatap Ahra dengan penuh rasa ingin tahu. Pertanyaan-pertanyaan mengenai alasan Ahra berkata demikian  sudah siap terlontar tapi ponsel Ahra yang tiba-tiba berdering menahannya.

Ahra merogoh saku baju dan mengambil ponsel yang berdering tidak sabaran itu. Dia menatap kesal ketika melihat siapa yang menelepon.

Jungsoo Oppa,” gumam Ahra.

Ahra mengabaikan dering ponsel dan lebih memilih melanjutkan makan. Tapi, seperti yang Ahra kenal selama ini, Jungsoo bukan tipe orang yang menyerah hanya karena teleponnya tidak diangkat satu kali. Dia terus menelepon Ahra.

Taemin menghentikan makan dan menatap Ahra heran, “Kenapa tidak kau angkat?”

“Malas,” sahut Ahra singkat.

“Tapi kau tidak malas mendengar ponsel yang terus berdering seperti itu?”

Ahra menatap Taemin. Orang ini sangat suka memutar balikan kata, gerutu Ahra dalam hati. Dengan malas dia mengambil ponsel dan menekan icon answer. Belum sempat dia mengucapkan sepatah kata, telinganya sudah diberondong dengan pertanyaan-pertanyaan.

“Dimana kau? Pergi ke villa sendirian? Kenapa tidak memberitahu aku? Aku akan meminta supir Jung untuk menjemputmu malam ini juga.”

Ahra meringis mendengar semua pertanyaan Jungsoo. Andai mereka masih bersama, tentu Ahra akan sangat bahagia mendengar kata-kata penuh nada khawatir seperti itu. Tapi nyatanya sekarang hanya membuat Ahra tersakiti dan menyadarkan Ahra bahwa tidak ada harapan sedikit pun untuk memilki Jungsoo lagi.

“Ra-yaPlease… Aku mohon jangan membuatku khawatir.”

Ahra masih terdiam—belum mau menjawab apapun. Dia melihat Taemin yang sekarang tampak menatapnya khawatir. Pelan, Ahra beranjak dari kursi dan menjauh menuju sebuah jendela besar yang tidak jauh dari ruang makan.

Oppa…” Ahra berusaha mengeluarkan suaranya. Dia berusaha menyembunyikan nada getir dan tangisnya yang tertahan.

Ne? Apakah kau baik-baik ya? Aku benar-benar mengkhawatirkanmu.”

“Apa hak Oppa mengkhawatirkanku? Oppa bahkan tidak lagi peduli dengan, perasaanku. Aku penasaran bagaimana bisa Oppa masih mengingatku sementara dalam pikiran Oppa lebih banyak diisi dengan orang itu,” sahut Ahra sinis.

“Ra-ya,” panggil Jungsoo frustasi. Dia sudah mengira pasti akan mendapatkan respon seperti itu.

“Berhenti memanggilku Ra-ya. Oppa bukan siapa-siapa lagi, hanya seorang kakak laki-laki yang pernah sangat aku cintai tapi meninggalkanku demi wanita lain. Dan aku bukan siapa-siapa untuk Oppa. Aku hanya gadis kecil yang selalu menangis jika terluka. Gadis kecil yang selalu berusaha Oppa lindungi tapi akhirnya juga Oppa sakiti. Berhenti mempedulikanku. Aku membencimu. Sangat. Lebih dari aku pernah mencintaimu.”

Klik. Ahra memutus sambungan telepon sebelum Jungsoo sempat merespon kata-katanya. Bohong. Aku masih mencintaimu dan rasa cintaku tidak selemah itu hingga sanggup membuatku membencimu, gumam Ahra perih. Lagi. Air mata jatuh tanpa bisa dia cegah. Ahra buru-buru menegakkan kepala dan menghapus air mata yang terus saja keluar tanpa permisi.

Ahra baboya,” runtuknya dalam hati. Ahra masih terus berusaha menahan tangis ketika dia mendapati tangan lembut Taemin mengelus pundaknya lembut.

“Menangislah jika itu bisa membuatmu merasa lebih baik. Tidak harus menahan tangis hanya untuk berusaha kuat,” bisik Taemin lembut di telinga Ahra.

Ahra membalikkan badan dan Taemin tersenyum menenangkan. Ahra perlu tempat yang hangat untuk meluapkan semua tangis—rasa luka. Dan Taemin merengkuh Ahra pelan ke dalam pelukannya. Ahra menyerah. Dia memang belum mengenal orang yang memeluknya sekarang tapi dia merasakan pelukan hangat itu begitu nyaman. Ahra memeluk Taemin erat dan menumpahkan semua tangisnya. Dia masih terus menangis dengan tangan Taemin yang tidak berhenti mengelus rambutnya lembut.

–oooOooo–

Sinar matahari pagi yang hangat menerobos masuk melalui jendela kamar—membangunkan Ahra. Dia membuka mata pelan dan partikel-partikel cahaya langsung menyapa. Ahra memegang kepalanya yang mendadak terasa sangat berat. Dia masih mengingat hal bodoh yang dia lakukan semalam—menangis dalam pelukan Taemin. Ahra beranjak dari tempat tidur dan berjalan pelan menuruni tangga menuju dapur.

“Selamat pagi!”

Ahra mengucek matanya. Kabur. Ahra yakin dia sudah tersadar sepenuhnya dari tidur dan penglihatannya sedang tidak bermasalah. Tapi pagi ini, Ahra membuka mata dan menemukan Taemin sedang membuat segelas minuman di dapur masih dengan baju yang sama yang digunakan pria itu semalam. Taemin tersenyum geli melihat keterkejutan Ahra.

“Kau tertidur setelah menangis cukup lama dan aku membaringkanmu ke tempat tidur. Tapi tenang saja. Aku tidak melakukan hal-hal yang tidak sepantasnya.”

Ahra menarik nafas lega.

“Kau terus berbicara dalam tidur dan aku tidak tega meninggalkanmu sendirian. Dan pagi ini aku meminjam dapurmu. Minumlah. Aku membuatkan coklat hangat untukmu,” lanjut Taemin dan menyodorkan segelas coklat hangat itu kepada Ahra.

Ahra duduk di kursi dekat dapur dan menyesap pelan coklat hangat yang dibuat Taemin. Hangat. “Taemin-ssi gamsahamnida,” ucap Ahra. Ini pertama kalinya Ahra menyebutkan nama Taemin. Nama itu terucap dan ada sesuatu yang hangat menyusupi perasaan Ahra .

Ne. Taemin-ssi? Kedengarannya terlalu formal,” ucap Taemin.

“Lalu aku harus memanggilmu apa?” tanya Ahra masih dengan tangan memegang gelas.

Em, kau harus memanggilku Oppa.”

“Kenapa?”

“Karena aku lebih tua darimu,” sahut Taemin dan duduk di depan Ahra. “Aku 18 tahun dan sepertinya kau tidak lebih tua dariku,” lanjutnya.

“Aku juga 18 tahun,” protes Ahra tidak mau kalah.

“Dalam beberepa hal aku jauh lebih tua—atau dewasa darimu. Jadi kau harus memanggilku Oppa. Setuju?”

Ne, arraseo,” sahut Ahra malas. Biasanya dia tidak semudah itu meng’iya’kan tapi saat ini Ahra sedang malas berdebat—lebih tepatnya tidak ada kekuatan.

“Apa rencanamu hari ini?” tanya Taemin.

“Bermalas-malasan,” sahut Ahra dan ia terkejut ketika Taemin tiba-tiba menarik kedua tangannya dan memintanya untuk berdiri.

“Bersihkan dirimu dan bersiap-siaplah.”

“Kemana?” tanya Ahra heran.

“Aku ingin mengajakmu memancing,” jawab Taemin sambil tersenyum jahil pada Ahra.

Mwo?—“ Ahra sudah ingin melontarkan protes tapi Taemin meletakkan jarinya di depan bibir Ahra. Ahra terdiam—lebih tepatnya terpaku. Paduan senyum dan sentuhan lembut jari Taemin di bibirnya mengunci otak Ahra untuk berpikir. Ahra lagi-lagi tejebak dalam pesona Taemin. Dia menyadari itu tapi dia tidak tahu pasti seperti apa perasaannya.

–oooOooo–

Yak Taemin-ssi, kau mengajakku memancing tapi tidak ada peralatan memancing yang kau bawa?” protes Ahra ketika mereka sampai di pinggiran hutan—dengan sungai kecil jernih yang mengalir.

Oppa,” koreksi Taemin.

Ne, Oppa. Taemin Oppa.”

“Apa? Aku tidak mendengarnya.”

“Taemin Oppa,” sahut Ahra. Entah mengapa ada perasaan hangat yang lagi-lagi menyusupinya ketika menyebutkan nama Taemin.

Taemin tersenyum senang mendengarnya, “Apakah aku tadi mengatakan ingin memancing ikan?”

Eem, ani…”

“Ahra-ya, aku mengajakmu ke sini untuk memancing emosimu.”

Mwo? Wae? Maksudnya?”

“Memancing emosimu agar lebih tenang,” sahut Taemin sambil duduk di antara batuan di pinggir sungai. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu tapi aku hanya ingin menenangkanmu,” lanjut Taemin sambil melemparkan batuan kecil ke sungai yang tadinya beriak tenang.

“Ketika suatu kenyataan menghantammu keras, ketenangan yang tadinya kau miliki seketika bisa saja hilang. Kita tidak pernah tahu akan seperti apa hari esok tapi setidaknya kita selalu punya harapan untuk esok yang lebih baik. Jadi tidak baik jika terus terkurung dalam masa lalu.”

Ahra terdiam dan mencerna kata-kata yang baru saja dilontarkan Taemin. ada banyak hal yang sebenarnya ingin dia ceritakan tapi Ahra tidak mampu—tidak sanggup. Ahra masih terdiam dan hanya memandang air sungai yang mulai beriak tenang.

Hya Oppa, eodi ganeungeoya? Mau kemana?” tanya Ahra ketika Taemin berdiri dan berjalan meninggalkannya sendirian.

“Berjalan-jalan. Daritadi aku jadi patung.”

Mianhae. Oppa! Chamkkanman. Aku ikut,” teriak Ahra pada Taemin yang mulai berjalan menjauh. Ahra setengah berlari mengejar Taemin dan tidak memperhatikan jalan di depannya. Dan hasilnya adalah kakinya tersandung batu dan membuatnya hampir terjatuh jika Taemin tidak menahannya.

Hya Ahra-ya!!! Kenapa kau selalu tidak hati-hati,”

MianhaeAwww… Sakit.”

Omoo… Kakimu terkilir. Apakah ini sakit?” tanya Taemin sambil memegang kaki Ahra yang terkilir.

Ne. Aww…”

“Bisa jalan sendiri?” tanya Taemin lagi sambil menatap Ahra khawatir.

Ahra mengangguk dan mencoba melangkahkan kakinya tapi yang ada kemudian dia meringis menahan sakit.

“Naiklah,” tawar Taemin—meminta Ahra untuk naik ke punggungnya agar ia bisa menggendong Ahra. “Gaja!! Kakimu sakit seperti itu bagaimana bisa jalan, kau mau kita di sini sampai kau bisa berjalan sendiri?”

Ne, ne…”

Aigoo… Kau ringan sekali,” canda Taemin.

Oppa.”

Ne?”

Gamsahamnida.”

Hmm…”

Ahra merasakan punggung Taemin yang kokoh, dingin tapi hangat. Terasa sangat nyaman menaruh semua beban tubuhnya di punggung pria itu. Ahra menyandarkan kepalanya di punggung Taemin—membuatnya dapat dengan jelas mencium aroma lembut tubuh Taemin.

“Kau tertidur?”

Aniyo Oppa.”

“Kita sudah di depan villamu.”

Jinjjayo? Oppa, aku tu—“ kata-kata Ahra terpotong. Seorang pria yang sudah sangat Ahra kenal berdiri di depan pintu dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. “OpOppa?”

–to be continued–

NO SILENT READER. NO PLAGIATOR.

Please, leave your comments after read my fanfiction. It’s not easy to wrote this story dear^^ and your comments really give me strength. Okay? And,  don’t forget to visit my personal blog http://evilkyugirl.wordpress.com