Kakak, Terima Kasih

Author: Chenhye -@Isna_jung14

Title: Kakak, Terima Kasih

Length: Ficlet -2.832 words

Cast: Yong Junhyung B2ST, Yong Eunri OC

Other Cast: Noorin OC

Rating: G

Genre: Love, Family, Friendship

 

Oke, ini ff pertama saya yang ber-genre Family. Yeah, cerita tentang kakak dan adik gitu .-. FF ini terinspirasi dari iklan tv Indonesia. Iklan biskuat macan gitu deh. Yang ada macan tutulnya itu lo😀

FF ini juga pernah dipublish di blog pribadi saya

sidesofchenhye.wordpress.com

Oh iya, untuk poster *nunjuk-nunjuk ke atas* readers pasti tahu siapa cewek itu. Yap, bener itu anggota Dal Shabet😀 Sorry banget pake foto Ah Young eonnie. Soalnya aku gak ketemu foto yang pas buat gambarin ff ini. Ya, jadi izin deh sama Ah Young eonnie buat jadi Eunri OC di ff saya :Dv

Ya, udah deh. Happy reading dan jangan lupa comment. Oke? ^^

Kakak, Terima Kasih

Dug.. Dug.. Dug..

Eunri memukul bola basket yang memantul ke atas dengan telapak tangan kanannya. Sembari berlari-lari kecil di sekitar lapangan basket yang terletak di belakang rumahnya, gadis itu terus melakukan dribbling berkali-kali.

Sesekali gadis itu menghapus tetesan keringat yang membasahi sudut-sudut wajahnya dengan tangannya yang bebas. “Huft~” Eunri tiba-tiba menghela nafas panjang, gadis itu mulai merasa lelah bermain dengan bola basket itu.

Dengan gesit, Eunri mencoba memasukan bola basket itu ke ring yang berjarak 2 meter dari posisinya berdiri. Perlahan senyum kecil terukir di bibirnya yang tipis begitu melihat bola itu tepat masuk ke ring.

“Baru masuk sekali sudah bangga.” ucap seorang lelaki. Eunri sontak menolehkan kepalanya ke samping dengan wajah kesal. “Memangnya tidak boleh?”

“Tidak.” Lelaki itu menggeleng sembari melipat kedua lengan tanganya di atas dada dan tersenyum penuh keangkuhan. “Ppali, latihan lagi. Katanya mau ikut lomba basket, 1 jam latihan saja baru masuk satu kali.” tambah lelaki itu lagi.

Eunri menatap wajah kakaknya dengan tajam. “Bagaimana aku mau pintar bermain basket kalau gurunya saja hanya berdiri di pinggir lapangan, memerintah muridnya tanpa memberikan praktek sedikitpun.” ucap Eunri sembari melakukan dribbling dengan penuh kesal. Perkataannya itu jelas ditunjukan kepada kakak laki-lakinya yang bernama Yong Junhyung itu.

Yong Junhyung tersenyum kecil menanggapi ucapan adiknya itu, lalu, “Kau akan terpesona melihat kakakmu yang tampan ini kalau bermain basket. Aku hanya khawatir kau akan bingung karena terlalu takjub melihat kegesitanku bermain basket nanti.”

Eunri berdecak kesal melihat kebiasaan kakaknya yang suka menyombongkan diri. “Kalau begitu, cepat praktekan!” perintah Eunri sembari melempar bola basket ke arah Junhyung. Dengan santai, Junhyung meraih bola basket itu.

Junhyung berlari-lari kecil sembari memantul-mantulkan bola ke dasar lapangan, sementara Eunri berjalan ke tepi lapangan. “Jangan salahkan aku kalau kau terpesona, ya.” gumam Junhyung mulai bersiap-siap mengambil posisi untuk memasukan bola ke ring.

Eunri mendesah kesal mendengar gumaman Junhyung dan memilih memperhatikan lelaki itu bermain basket. Mata Eunri terbelalak melihat kaki dan tubuh Junhyung yang begitu gesit bermain basket. Bahkan tangannya terlihat sangat bebas bermain-main dengan bola oranye itu.

Entah sudah berapa kali, Eunri melihat bola oranye itu selalu menembus ring yang cukup tinggi itu. Eunri tidak bisa mengelak, kakaknya itu sangat mahir bermain basket. Setiap shooting selalu masuk, three point-nya terlihat sangat sempurna, lay up pun benar-benar lay up terkeren yang pernah Eunri lihat.

Sedangkan dirinya? Eunri yang jelas-jelas adik kandung Junhyung sama sekali payah bermain basket. Shooting saja masih berantakan, three point selalu memantul, lay up selalu lepas dari ring. Yeah, bakat kakaknya memang bukan diwarisi dirinya.

Namun, yang mencengangkan adalah Eunri bergabung dalam tim basket populer di SMA-nya. Bagaimana tidak? Junhyung yang hanya lebih tua 2 tahun darinya adalah kapten basket lelaki di sekolah yang sama dengannya. Tentu saja, kakaknya yang angkuh itu sangat populer.

Eunri tidak tahu pasti, kenapa dirinya yang sama sekali tidak mahir bermain basket ini bisa bergabung dalam tim basket wanita di sekolahnya. Apa karena kakaknya yang mahir itu jadi orang-orang memilihnya untuk ikut bergabung di tim wanita? Astaga, itu benar-benar konyol.

Tetapi, apa yang bisa dilakukannya. Walaupun ia sudah mengelak tidak bisa bermain basket, orang-orang tetap menyuruhnya bergabung dalam tim basket wanita. Dan sekarang, dengan sangat terpaksa Eunri meminta kakaknya yang angkuh itu untuk mengajarinya bermain basket dengan teknik dan cara yang benar.

Bagaimana tidak? Minggu depan akan ada kompetisi basket. Tentu saja, tidak mungkin Eunri berpura-pura bisa bermain basket di tengah lapangan. Yang ada tim basketnya akan kalah telak karena ada seorang anggota yang tidak bisa bermain basket.

“Yong Eunri! Hey, adik tuli!”

Teriakan Junhyung sontak membuat lamunan Eunri buyar. Dengan wajah kesal Eunri menatap kakaknya yang berdiri sembari memeluk bola basket di samping pinggangnya, lalu menyahut, “Aku tidak tuli!”

“Beginilah efek-efek orang terpesona. Kau mungkin orang yang sudah ke-10 juta kali terpesona dengan permainan basketku adikku yang manis.” Junhyung tersenyum bangga.

“Heh, simpan saja gombal murahanmu itu kakakku yang angkuh.” jawab Eunri sembari menjulurkan lidahnya.

Ppali, praktekan semua yang telah kutunjukan padamu tadi!” perintah Junhyung sembari melemparkan bola basket ke arah Eunri. Dengan agak kebingungan, Eunri mencoba meraih bola basket itu.

“Kau harus rajin berlatih. Segalanya akan terasa mudah kalau kau terbiasa. Begitu juga dengan bermain basket, bermain basket akan terasa mudah kalau kau terbiasa melakukannya. Kuncinya, kau harus banyak latihan.” Junhyung berjalan mendekati Eunri.

“Aku yakin kau bisa, Eunri. Jadi, jangan kecewakan orang-orang yang telah mempercayaimu bergabung dalam tim basket.” ucap Junhyung sembari mengacak-acak rambut Eunri dengan gemas.

Gomawo, oppa.” Eunri tersenyum senang. Seangkuh-angkuh kakaknya, lelaki itu masih memiliki perhatian yang luar biasa padanya.

“Aku janji akan bekerja keras. Untuk tim basket, orang-orang yang mempercayaiku, dan untuk Junhyung oppa!” Eunri mengepalkan tangannya di atas dada dengan yakin.

Junhyung tertawa melihat tingkah Eunri. Dengan gemas Junhyung menjitak pelan kepala Eunri. “Adikku yang jelek ini manis sekali!”

“YA! Junhyung oppa!

~||~||~

Hari demi hari berlalu, setiap hari Eunri terus bermain basket di lapangan basket belakang rumahnya. Setiap ada waktu luang, gadis itu selalu berusaha melatih kemampuan bermain basketnya. Kadang, Junhyung ikut mengawasi dan bermain basket bersama Eunri. Namun, lelaki itu kadang juga memiliki kesibukan sendiri dan membiarkan Eunri latihan sendiri.

Yeah, meskipun di bagian kaki dan lutut Eunri tertempel handsaplast karena jatuh dan lecet ketika latihan, luka itu sama sekali tidak membuat Eunri menyerah bermain basket. Eunri bertekad ingin tampil maksimal ketika kompetisi basket nanti dan memenangkan kompetisi basket itu.

Eunri ingin membuktikan bahwa ia bisa bermain basket dan tidak ingin mengecewakan Junhyung yang telah mengajarinya bermain basket seminggu ini. Dan tentu saja, semua orang yang telah mempercayainya bergabung dengan tim basket walaupun kemampuan bermain basketnya sangat payah.

Eunri akan berusaha memberikan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Gadis itu tidak ingin semua usahanya selama ini sia-sia. Ia juga ingin menunjukan pada Junhyung kalau semua yang telah diajarkan kakaknya selama seminggu ini akan membuahkan hasil saat dirinya bermain di kompetisi basket nanti.

Eunri akan memenangkan kompetisi basket itu bersama tim basketnya.

~||~||~

“Yong Eunri! Yong Eunri!”

“Ya! kompetisinya belum dimulai!” Eunri memukul pelan lengan Junhyung yang sejak tadi terus meneriakan namanya. Padahal, jelas-jelas Eunri tepat berdiri di sampingnya sedang mempersiapkan perlengkapannya, karena 10 menit lagi kompetisi basket akan dimulai.

Wae-yo?” Junhyung memandang Eunri yang tampak terdiam dengan tatapan mata menerawang. “Gugup? Tidak percaya diri?”

Eunri mengangguk.

Junhyung tersenyum, “Itu wajar. Tetapi, kau harus bisa mengendalikan rasa kegugupanmu ketika bermain nanti. Ingat, konsentrasi pada permainan seperti yang sudah kuajarkan.” Junhyung mengingatkan dengan semangat.

“Ah, satu lagi, kubur dalam-dalam rasa tidak percaya dirimu itu. Kau harus yakin kau bisa. Jangan pedulikan dengan apa pun di sekitarmu yang membuatmu tidak percaya diri. Kau hanya perlu mempedulikan dirimu, tim basketmu, dan permainan di lapangan. Arraseo?

Eunri menangguk patuh. Berusaha menyerap dengan benar nasihat kakaknya.

“Apa oppa pernah merasakan rasa gugup dan tidak percaya diri sepertiku saat pertama kali kompetisi basket?” tanya Eunri.

“He? Tentu saja tidak. Aku ini tidak pernah merasa gugup saat mengikuti kompetisi-kompetisi seperti ini. Apalagi tidak percaya diri, tanpa orang katakan pun aku tahu diriku ini sangatlah keren, tentu saja itu membuatku percaya diri. Kompetisi seperti ini? Dengan sekali shooting pun aku yakin aku akan langsung menjadi juara pertama di kompetisi ini.” ucap Junhyung dengan penuh gaya dan keangkuhan.

Eunri mendengus kesal mendengar penyakit angkuh kakaknya yang kambuh.

“Eunri, kompetisi akan segara dimulai. Lee songsaengnim meminta kita berkumpul.” teriak seorang gadis berambut cepak pada Eunri.

Ne, aku akan segera ke sana.” jawab Eunri sembari tersenyum pada gadis itu.

Oppa~” Eunri memandang Junhyung dengan tatapan khawatir.

Junhyung balas memandang adiknya dengan senyuman hangat yang terlukis di bibirnya. Lalu meraih tangan gadis itu dan menggengamnya, berusaha memberi kekuatan. “Aku tahu kau bisa, Eunri. Yakinkanlah dirimu bahwa kau bisa.”

Oppa akan berdiri di sana mendukungmu bersama eomma dan appa. So, jangan khawatir. Kami selalu memberikan kekuatan untukmu.” ucap Junhyung sembari menolehkan kepalanya ke belakang, menatap sepasang kekasih paruh baya yang sedang tersenyum memandang Eunri dan dirinya.

Hwaiting, adikku Yong Eunri yang manis.” Junhyung tersenyum ke arah Eunri, lalu mengelus lembut rambut adiknya yang dikucir satu.

Gomawo, kakakku Yong Junhyung yang paling tampan dan angkuh sedunia. Aku akan berusaha dengan keras!” ucap Eunri dengan senyuman manis.

~||~||~

Suara hiruk-piruk supporter menggema memenuhi stadion yang terletak di tengah kota Seoul sejak 1 jam yang lalu. Banner-banner dengan tulisan tim basket idola mereka berkibar di mana-mana. Seruan terompet yang riuh beradu dengan teriakan para supporter yang begitu bersemangat.

Dan di tengah lapangan itulah, pusat dari sebab suara hiruk-piruk itu. 2 tim basket wanita sedang memperebutkan bola oranye itu agar masuk ke dalam ring lawan. Hentakan kaki yang terdengar beriringan, suara bola yang memantul di dasar lantai, dan bola yang memantul dari papan dan tepi ring membuat suasana stadion itu semakin terasa panas.

Di antara gadis-gadis yang sedang bermain basket dengan semangat itu. Tampak Eunri sedang men-dribbling bola dengan fokus. Tangannya yang gesit tampak memainkan bola oranye itu, lalu melemparkannya ke anggota sesama timnya, dan kembali melemparkan bola itu kepadanya.

“Yong Eunri! Ayo, masukan bolanya!” seru Junhyung sembari beranjak berdiri dari dudukannya agar bisa melihat adiknya yang bersiap shooting.

Suara supporter ikut terdengar riuh begitu melihat Eunri yang bersiap shooting. “Yong Eunri! Yong Eunri! Yong Eunri!”

Eunri tampak berkonsentrasi dan dengan sigap melemparkan bola basket ke dalam ring, dan.. masuk!

“Horeeeeeeeee!!!” seruan itu terdengar sangat riuh dari sebelumnya tepat saat bola basket itu meluncur bebas dari dalam ring.

Eunri tersenyum senang sembari sekilas melirik Junhyung yang berloncat-loncat riang di antara banyaknya penonton.

Final!” Wasit berseru sembari meniup peluitnya dan menggerakan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.

Seketika permainan di lapangan terhenti sejenak dan suara suppoerter pun menghening secara otomatis.

“60 untuk tim Eunri dan 60 juga untuk tim Noorin.” ucap sang wasit.

Eunri menghela nafas panjang mendengar ucapan sang wasit. Kegugupan dan keraguan kembali menyelimuti dirinya. Ini akan menjadi babak penentuan nasib dari tim basketnya.

“Kau pasti bisa!!!” seru Junhyung di tengah heningnya stadion.

Eunri menatap sosok kakaknya yang tampak berdiri memberikan semangat untuknya. Sungguh, ini pertama kalinya Eunri melihat kakaknya yang angkuh itu berteriak di tengah heningnya stadion. Junhyung bukanlah tipe lelaki yang suka mencari perhatian di depan umum.

Namun, gadis itu segera tersenyum tipis membalas ucapan kakaknya. Ya, semangat kakaknya memang selalu bisa membuat dirinya lebih merasa tenang.

Okay, ready?” Wasit berdiri sembari memegang bola oranye itu setinggi yang dimampu tangannya di antara Eunri dan Noorin yang telah bersiap memperbutkan bola itu.

GO!” Wasit melempar bola, dengan sigap Eunri berusaha meraih bola itu, namun kalah cepat dengan Noorin yang lebih dahulu meraihnya.

Suasana stadion terdengar semakin riuh, suara teriakan, dan terompet menggema di mana-mana. Kedua tim basket itu bergerak pantang menyerah berusaha merebut bola basket itu agar masuk ke dalam ring lawan.

Hap!

Eunri berhasil merebut bola basket dari tangan lawan ke tangannya.

“Eunri! Ppali, lakukan shooting!” teriak Junhyung yang sejak tadi terus memperhatikan Eunri bermain.

Eunri melakukan dribbling di tempat, menghirup oksigen perlahan, berusaha mempertahankan bola di tangannya, dan berkonsentrasi agar bola di tangannya ini tepat lolos masuk ke ring lawan.

“Yong Eunri! Yong Eunri! Yong Eunri!” seruan itu tak henti-hentinya membakar suasana stadion.

Tap.. tap.. tap..

Eunri melangkahkan kakinya perlahan, berusaha tetap mempertahankan bola di tangannya tanpa bisa diraih tim lawan, dengan langkah gesit Eunri segera melambungkan tubuhnya, dan mendorong bola oranye itu ke ring lawan, dan..

Tiba-tiba suasana stadion menghening, suara-suara teriakan dan terompet terasa seperti lenyap seketika. Banner-banner yang tadinya berkibar di mana-mana tampak terdiam di tempat. Dan permainan di lapangan berhenti seketika, semua terdiam seperti patung memandang bola oranye itu memantul-mantul sendiri di dasar lapangan.

“Aku.. berhasil.” gumam Eunri dengan mata terpaku menatap bola oranye yang telah lolos masuk ke dalam ring. Namun, gumamannya itu dapat didengar seluruh penghuni ruangan yang hening itu.

“Eunri jjang!!!” Seketika seruan bersahut-sahutan, bersorak riuh memuji Eunri yang berhasil meraih juara untuk tim basketnya. Suara terompet kembali terdengar riuh dari sebelumnya. Banner-banner kini bertebaran dengan hebohnya di mana-mana.

Semua anggota tim basket Eunri segera berlari mendekati gadis itu. Memeluk Eunri dengan erat karena berhasil menyelamatkan tim mereka dari kekalahan. Eunri tak bisa berhenti tersenyum melihat teman-temannya memeluk bahkan memujinya. Gadis itu benar-benar merasa sangat senang karena timnya berhasil memenangkan juara di kompetisi ini. Rasanya semua usahanya ini terasa tak sia-sia.

Sang wasit segera berjalan menghampiri Eunri dan tim basketnya yang sedang merayakan kemengangan mereka di tengah lapangan. Sontak semua anggota tim basketnya berjalan mundur, memberikan sebuah jalan agar sang wasit dapat mengalungkan medali emas di atas nampan itu ke leher Eunri.

“Selamat atas kemenangan tim basketmu. Kalian telah berusaha keras dan bermain dengan sangat mengagumkan. Semoga di tahun depan aku bisa melihat kalian semua bermain di tingkat internasional.” ucap sang wasit sembari menepuk pundak Eunri.

“Medali emas ini kupersembahkan untukmu dan tim basketmu sebagai tanda kemenangan dan kerja keras kalian.” Sang wasit meraih medali emas yang tergeletak di nampan yang digenggam seorang wanita di sampingnya dan mengalungkannya ke leher Eunri.

Eunri tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Rasanya ia ingin menangis melihat sang wasit mengalungkan medali emas itu ke lehernya. “Kamsahamnida, ini semua berkat usaha semua teman-teman tim basket kita. Saya benar-benar mengucapkan banyak terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung saya dan tim basket kami.” ucap Eunri sembari membungkukan tubuhnya ke segela arah secara bergantian.

Suara riuh segera menyambut kemenangan tim basket Eunri begitu medali emas itu jatuh ke leher gadis itu. Semua orang yang ada di stadion itu ikut bahagia merayakan kemenangan tim basket Eunri. Konfeti-konfeti yang tidak tahu berasal dari mana telah berguguran dari atas menyelimuti suasana lapangan basket yang telah dipenuhi tangis haru dan bahagia.

“Junhyung oppa.” Eunri teringat dengan kakaknya. Ya, lelaki itulah guru dibalik semua ini. Lelaki itulah yang membantu dan menyemangatinya hingga dirinya bisa bermain basket sehebat ini.

Gadis itu menolehkan kepalanya sembari mengedarkan pandangannya ke segela arah, mencoba mencari sosok kakaknya. Namun, Eunri sama sekali tidak melihat sosok Junhyung di antara banyaknya penonton.

Eomma, appa.” seru Eunri begitu melihat sosok kedua orang tuanya yang telah berdiri di tepi lapangan basket. Dengan senyum bahagia, Eunri segera berlari menghampiri eomma dan appa-nya.

“Selamat, ya atas kemenangan tim basketmu. Eomma dan appa sangat bangga melihatmu. Kau sudah berkerja keras, sayang.” kata eomma begitu tubuh Eunri memeluk erat tubuhnya. “Appa sangat bangga padamu.” ucap appa sembari mengelus rambut Eunri dengan lembut.

Eunri masih memeluk tubuh eomma-nya dengan erat. Kehangatan yang mengalir di seluruh organ tubuhnya membuat Eunri tak ingin melepaskannya. Tanpa disadari Eunri pun, air mata haru, bahagia, dan bangga telah membasahi pipi sekaligus pundak eomma-nya.

“Kau tidak manis lagi kalau menangis.”

Eunri tersentak begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan segera gadis itu membuka matanya yang tertutup dan agak basah karena menangis. “Oppa..

Junhyung tersenyum manis sembari melipat kedua lengan tangannya di depan dada begitu mendengar Eunri memanggilnya. Mata hangatnya fokus memandang Yong Eunri. “Kau tidak ingin memelukku?”

“Ayo, temui kakakmu. Ia benar-benar seperti orang gila menyemangatimu. Bahkan terus mengomel mengomentari permainan di lapangan. Telinga eomma sampai penat mendengar suaranya yang seperti kicauan burung.” pinta sang eomma. Eunri tersenyum, lalu melepaskan pelukannya perlahan. Gadis itu segera berlari menghampiri Junhyung.

“Junhyung oppa..” desah Eunri begitu tubuhnya telah mendekap di dalam pelukan Junhyung. Junhyung tersenyum sembari mengelus rambut adiknya dengan hangat. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

“Aku sangat sangat sangat bahagia. Sampai rasanya aku tidak tahu harus berpikir apa dan melakukan apa.” jawab Eunri.

“Kau bermain dengan sangat sempurna. Aku benar-benar bangga melihatmu, bahkan aku sempat berpikir kau akan menyayingi kehebatanku bermain basket.” ucap Junhyung. “Benarkah?” tanya Eunri sembari tersenyum hangat. Wajahnya masih terbenam di dada Junhyung.

Kedua kakak beradik itu masih berpelukan. Membiarkan atmospir kehangatan mengalir di organ tubuh mereka.

Eunri perlahan menarik tubuhnya dari pelukan Junhyung. Junhyung membiarkan adiknya melepaskan pelukannya. “Oppa, kau tahu?” tanya Eunri sembari menatap mata Junhyung dengan hangat.

Junhyung tampak tersenyum, meminta adiknya melanjutkan ucapannya.

“Semua ini karena kau. Aku bisa bermain basket sehebat ini karenamu. Karena kau yang dengan setia selalu mengajariku. Dan berkatmu juga, aku bisa memenangkan kompetisi basket ini. Dan.. aku tidak bisa mengelak, aku sangat terpesona melihatmu bermain basket waktu itu. Kuakui, kau sangat keren.” ucap Eunri.

“Ya, aku tahu.” tanggap Junhyung sembari memandang adiknya dengan senyuman geli. “Ini pertama kalinya kau memuji diriku.”

Eunri tertawa mendengar ucapan kakaknya.

Gadis itu lalu menggenggam medali emas yang tergantung di lehernya. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih padamu. Rasanya dengan mengucapkan terima kasih saja itu tidak cukup.”

Eunri tersenyum lalu perlahan melepaskan medali emas itu dari lehernya. Gadis itu dapat melihat raut wajah kakaknya yang berubah mengkerut. Dengan hati bahagia, Eunri mengalungkan medali emas itu ke leher Junhyung.

Sebelum Junhyung ingin meminta penjelasan, Eunri lebih dahulu membuka mulutnya.

“Medali emas itu juga pantas dipersembahkan untuk seorang pahlawan yang telah berjasa mengajari seorang gadis payah yang tidak pandai bermain basket sepertiku. Dan medali itu juga pantas dikalungkan untuk seorang supporter yang begitu semangat menyemangati seorang adik payah yang bermain basket di lapangan basket itu.”

Seulas senyum lebar segera terukir di bibir Junhyung begitu mendengar ucapan Eunri. “Medali itu pantas ada di lehermu, oppa.” ucap Eunri lagi.

Dengan segera, Eunri kembali memeluk tubuh kakaknya. “Oppa, terima kasih. Terima kasih karena selalu menjadi kakak yang baik untukku. Kau benar-benar seperti separuh jiwaku, tanpamu aku seperti seorang burung kecil yang kehilangan sebelah sayapnya. Kakak, aku mohon tetaplah menjadi sebelah sayapku.”

Junhyung mengelus rambut adiknya dengan penuh kelembutan. “I will, my little cute sister.

“Kakak, terima kasih. Kau adalah kakak paling sempurna yang pernah aku miliki di dunia ini.”

Junhyung mengeratkan pelukannya, lelaki itu berjanji akan menjadi sebelah sayap untuk Eunri. Sayap yang akan selalu melindungi, menyemangati, dan selalu ada untuk Eunri. Separuh jiwa dan sebelah sayap untuk adiknya yang manis.

The End

Kakak, Terima Kasih

Author: Chenhye -@Isna_jung14

Title: Kakak, Terima Kasih

Length: Ficlet -2.832 words

Cast: Yong Junhyung B2ST, Yong Eunri OC

Other Cast: Noorin OC

Rating: G

Genre: Love, Family, Friendship

Oke, ini ff pertama saya yang ber-genre Family. Yeah, cerita tentang kakak dan adik gitu .-. FF ini terinspirasi dari iklan tv Indonesia. Iklan biskuat macan gitu deh. Yang ada macan tutulnya itu lo😀

FF ini juga pernah dipublish di blog pribadi saya sidesofchenhye.wordpress.com

Oh iya, untuk poster *nunjuk-nunjuk ke atas* readers pasti tahu siapa cewek itu. Yap, bener itu anggota Dal Shabet😀 Sorry banget pake foto Ah Young eonnie. Soalnya aku gak ketemu foto yang pas buat gambarin ff ini. Ya, jadi izin deh sama Ah Young eonnie buat jadi Eunri OC di ff saya :Dv

Ya, udah deh. Happy reading dan jangan lupa comment. Oke? ^^

Kakak, Terima Kasih

Dug.. Dug.. Dug..

Eunri memukul bola basket yang memantul ke atas dengan telapak tangan kanannya. Sembari berlari-lari kecil di sekitar lapangan basket yang terletak di belakang rumahnya, gadis itu terus melakukan dribbling berkali-kali.

Sesekali gadis itu menghapus tetesan keringat yang membasahi sudut-sudut wajahnya dengan tangannya yang bebas. “Huft~” Eunri tiba-tiba menghela nafas panjang, gadis itu mulai merasa lelah bermain dengan bola basket itu.

Dengan gesit, Eunri mencoba memasukan bola basket itu ke ring yang berjarak 2 meter dari posisinya berdiri. Perlahan senyum kecil terukir di bibirnya yang tipis begitu melihat bola itu tepat masuk ke ring.

“Baru masuk sekali sudah bangga.” ucap seorang lelaki. Eunri sontak menolehkan kepalanya ke samping dengan wajah kesal. “Memangnya tidak boleh?”

“Tidak.” Lelaki itu menggeleng sembari melipat kedua lengan tanganya di atas dada dan tersenyum penuh keangkuhan. “Ppali, latihan lagi. Katanya mau ikut lomba basket, 1 jam latihan saja baru masuk satu kali.” tambah lelaki itu lagi.

Eunri menatap wajah kakaknya dengan tajam. “Bagaimana aku mau pintar bermain basket kalau gurunya saja hanya berdiri di pinggir lapangan, memerintah muridnya tanpa memberikan praktek sedikitpun.” ucap Eunri sembari melakukan dribbling dengan penuh kesal. Perkataannya itu jelas ditunjukan kepada kakak laki-lakinya yang bernama Yong Junhyung itu.

Yong Junhyung tersenyum kecil menanggapi ucapan adiknya itu, lalu, “Kau akan terpesona melihat kakakmu yang tampan ini kalau bermain basket. Aku hanya khawatir kau akan bingung karena terlalu takjub melihat kegesitanku bermain basket nanti.”

Eunri berdecak kesal melihat kebiasaan kakaknya yang suka menyombongkan diri. “Kalau begitu, cepat praktekan!” perintah Eunri sembari melempar bola basket ke arah Junhyung. Dengan santai, Junhyung meraih bola basket itu.

Junhyung berlari-lari kecil sembari memantul-mantulkan bola ke dasar lapangan, sementara Eunri berjalan ke tepi lapangan. “Jangan salahkan aku kalau kau terpesona, ya.” gumam Junhyung mulai bersiap-siap mengambil posisi untuk memasukan bola ke ring.

Eunri mendesah kesal mendengar gumaman Junhyung dan memilih memperhatikan lelaki itu bermain basket. Mata Eunri terbelalak melihat kaki dan tubuh Junhyung yang begitu gesit bermain basket. Bahkan tangannya terlihat sangat bebas bermain-main dengan bola oranye itu.

Entah sudah berapa kali, Eunri melihat bola oranye itu selalu menembus ring yang cukup tinggi itu. Eunri tidak bisa mengelak, kakaknya itu sangat mahir bermain basket. Setiap shooting selalu masuk, three point-nya terlihat sangat sempurna, lay up pun benar-benar lay up terkeren yang pernah Eunri lihat.

Sedangkan dirinya? Eunri yang jelas-jelas adik kandung Junhyung sama sekali payah bermain basket. Shooting saja masih berantakan, three point selalu memantul, lay up selalu lepas dari ring. Yeah, bakat kakaknya memang bukan diwarisi dirinya.

Namun, yang mencengangkan adalah Eunri bergabung dalam tim basket populer di SMA-nya. Bagaimana tidak? Junhyung yang hanya lebih tua 2 tahun darinya adalah kapten basket lelaki di sekolah yang sama dengannya. Tentu saja, kakaknya yang angkuh itu sangat populer.

Eunri tidak tahu pasti, kenapa dirinya yang sama sekali tidak mahir bermain basket ini bisa bergabung dalam tim basket wanita di sekolahnya. Apa karena kakaknya yang mahir itu jadi orang-orang memilihnya untuk ikut bergabung di tim wanita? Astaga, itu benar-benar konyol.

Tetapi, apa yang bisa dilakukannya. Walaupun ia sudah mengelak tidak bisa bermain basket, orang-orang tetap menyuruhnya bergabung dalam tim basket wanita. Dan sekarang, dengan sangat terpaksa Eunri meminta kakaknya yang angkuh itu untuk mengajarinya bermain basket dengan teknik dan cara yang benar.

Bagaimana tidak? Minggu depan akan ada kompetisi basket. Tentu saja, tidak mungkin Eunri berpura-pura bisa bermain basket di tengah lapangan. Yang ada tim basketnya akan kalah telak karena ada seorang anggota yang tidak bisa bermain basket.

“Yong Eunri! Hey, adik tuli!”

Teriakan Junhyung sontak membuat lamunan Eunri buyar. Dengan wajah kesal Eunri menatap kakaknya yang berdiri sembari memeluk bola basket di samping pinggangnya, lalu menyahut, “Aku tidak tuli!”

“Beginilah efek-efek orang terpesona. Kau mungkin orang yang sudah ke-10 juta kali terpesona dengan permainan basketku adikku yang manis.” Junhyung tersenyum bangga.

“Heh, simpan saja gombal murahanmu itu kakakku yang angkuh.” jawab Eunri sembari menjulurkan lidahnya.

Ppali, praktekan semua yang telah kutunjukan padamu tadi!” perintah Junhyung sembari melemparkan bola basket ke arah Eunri. Dengan agak kebingungan, Eunri mencoba meraih bola basket itu.

“Kau harus rajin berlatih. Segalanya akan terasa mudah kalau kau terbiasa. Begitu juga dengan bermain basket, bermain basket akan terasa mudah kalau kau terbiasa melakukannya. Kuncinya, kau harus banyak latihan.” Junhyung berjalan mendekati Eunri.

“Aku yakin kau bisa, Eunri. Jadi, jangan kecewakan orang-orang yang telah mempercayaimu bergabung dalam tim basket.” ucap Junhyung sembari mengacak-acak rambut Eunri dengan gemas.

Gomawo, oppa.” Eunri tersenyum senang. Seangkuh-angkuh kakaknya, lelaki itu masih memiliki perhatian yang luar biasa padanya.

“Aku janji akan bekerja keras. Untuk tim basket, orang-orang yang mempercayaiku, dan untuk Junhyung oppa!” Eunri mengepalkan tangannya di atas dada dengan yakin.

Junhyung tertawa melihat tingkah Eunri. Dengan gemas Junhyung menjitak pelan kepala Eunri. “Adikku yang jelek ini manis sekali!”

“YA! Junhyung oppa!

~||~||~

Hari demi hari berlalu, setiap hari Eunri terus bermain basket di lapangan basket belakang rumahnya. Setiap ada waktu luang, gadis itu selalu berusaha melatih kemampuan bermain basketnya. Kadang, Junhyung ikut mengawasi dan bermain basket bersama Eunri. Namun, lelaki itu kadang juga memiliki kesibukan sendiri dan membiarkan Eunri latihan sendiri.

Yeah, meskipun di bagian kaki dan lutut Eunri tertempel handsaplast karena jatuh dan lecet ketika latihan, luka itu sama sekali tidak membuat Eunri menyerah bermain basket. Eunri bertekad ingin tampil maksimal ketika kompetisi basket nanti dan memenangkan kompetisi basket itu.

Eunri ingin membuktikan bahwa ia bisa bermain basket dan tidak ingin mengecewakan Junhyung yang telah mengajarinya bermain basket seminggu ini. Dan tentu saja, semua orang yang telah mempercayainya bergabung dengan tim basket walaupun kemampuan bermain basketnya sangat payah.

Eunri akan berusaha memberikan yang terbaik yang bisa dilakukannya. Gadis itu tidak ingin semua usahanya selama ini sia-sia. Ia juga ingin menunjukan pada Junhyung kalau semua yang telah diajarkan kakaknya selama seminggu ini akan membuahkan hasil saat dirinya bermain di kompetisi basket nanti.

Eunri akan memenangkan kompetisi basket itu bersama tim basketnya.

~||~||~

“Yong Eunri! Yong Eunri!”

“Ya! kompetisinya belum dimulai!” Eunri memukul pelan lengan Junhyung yang sejak tadi terus meneriakan namanya. Padahal, jelas-jelas Eunri tepat berdiri di sampingnya sedang mempersiapkan perlengkapannya, karena 10 menit lagi kompetisi basket akan dimulai.

Wae-yo?” Junhyung memandang Eunri yang tampak terdiam dengan tatapan mata menerawang. “Gugup? Tidak percaya diri?”

Eunri mengangguk.

Junhyung tersenyum, “Itu wajar. Tetapi, kau harus bisa mengendalikan rasa kegugupanmu ketika bermain nanti. Ingat, konsentrasi pada permainan seperti yang sudah kuajarkan.” Junhyung mengingatkan dengan semangat.

“Ah, satu lagi, kubur dalam-dalam rasa tidak percaya dirimu itu. Kau harus yakin kau bisa. Jangan pedulikan dengan apa pun di sekitarmu yang membuatmu tidak percaya diri. Kau hanya perlu mempedulikan dirimu, tim basketmu, dan permainan di lapangan. Arraseo?

Eunri menangguk patuh. Berusaha menyerap dengan benar nasihat kakaknya.

“Apa oppa pernah merasakan rasa gugup dan tidak percaya diri sepertiku saat pertama kali kompetisi basket?” tanya Eunri.

“He? Tentu saja tidak. Aku ini tidak pernah merasa gugup saat mengikuti kompetisi-kompetisi seperti ini. Apalagi tidak percaya diri, tanpa orang katakan pun aku tahu diriku ini sangatlah keren, tentu saja itu membuatku percaya diri. Kompetisi seperti ini? Dengan sekali shooting pun aku yakin aku akan langsung menjadi juara pertama di kompetisi ini.” ucap Junhyung dengan penuh gaya dan keangkuhan.

Eunri mendengus kesal mendengar penyakit angkuh kakaknya yang kambuh.

“Eunri, kompetisi akan segara dimulai. Lee songsaengnim meminta kita berkumpul.” teriak seorang gadis berambut cepak pada Eunri.

Ne, aku akan segera ke sana.” jawab Eunri sembari tersenyum pada gadis itu.

Oppa~” Eunri memandang Junhyung dengan tatapan khawatir.

Junhyung balas memandang adiknya dengan senyuman hangat yang terlukis di bibirnya. Lalu meraih tangan gadis itu dan menggengamnya, berusaha memberi kekuatan. “Aku tahu kau bisa, Eunri. Yakinkanlah dirimu bahwa kau bisa.”

Oppa akan berdiri di sana mendukungmu bersama eomma dan appa. So, jangan khawatir. Kami selalu memberikan kekuatan untukmu.” ucap Junhyung sembari menolehkan kepalanya ke belakang, menatap sepasang kekasih paruh baya yang sedang tersenyum memandang Eunri dan dirinya.

Hwaiting, adikku Yong Eunri yang manis.” Junhyung tersenyum ke arah Eunri, lalu mengelus lembut rambut adiknya yang dikucir satu.

Gomawo, kakakku Yong Junhyung yang paling tampan dan angkuh sedunia. Aku akan berusaha dengan keras!” ucap Eunri dengan senyuman manis.

~||~||~

Suara hiruk-piruk supporter menggema memenuhi stadion yang terletak di tengah kota Seoul sejak 1 jam yang lalu. Banner-banner dengan tulisan tim basket idola mereka berkibar di mana-mana. Seruan terompet yang riuh beradu dengan teriakan para supporter yang begitu bersemangat.

Dan di tengah lapangan itulah, pusat dari sebab suara hiruk-piruk itu. 2 tim basket wanita sedang memperebutkan bola oranye itu agar masuk ke dalam ring lawan. Hentakan kaki yang terdengar beriringan, suara bola yang memantul di dasar lantai, dan bola yang memantul dari papan dan tepi ring membuat suasana stadion itu semakin terasa panas.

Di antara gadis-gadis yang sedang bermain basket dengan semangat itu. Tampak Eunri sedang men-dribbling bola dengan fokus. Tangannya yang gesit tampak memainkan bola oranye itu, lalu melemparkannya ke anggota sesama timnya, dan kembali melemparkan bola itu kepadanya.

“Yong Eunri! Ayo, masukan bolanya!” seru Junhyung sembari beranjak berdiri dari dudukannya agar bisa melihat adiknya yang bersiap shooting.

Suara supporter ikut terdengar riuh begitu melihat Eunri yang bersiap shooting. “Yong Eunri! Yong Eunri! Yong Eunri!”

Eunri tampak berkonsentrasi dan dengan sigap melemparkan bola basket ke dalam ring, dan.. masuk!

“Horeeeeeeeee!!!” seruan itu terdengar sangat riuh dari sebelumnya tepat saat bola basket itu meluncur bebas dari dalam ring.

Eunri tersenyum senang sembari sekilas melirik Junhyung yang berloncat-loncat riang di antara banyaknya penonton.

Final!” Wasit berseru sembari meniup peluitnya dan menggerakan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri.

Seketika permainan di lapangan terhenti sejenak dan suara suppoerter pun menghening secara otomatis.

“60 untuk tim Eunri dan 60 juga untuk tim Noorin.” ucap sang wasit.

Eunri menghela nafas panjang mendengar ucapan sang wasit. Kegugupan dan keraguan kembali menyelimuti dirinya. Ini akan menjadi babak penentuan nasib dari tim basketnya.

“Kau pasti bisa!!!” seru Junhyung di tengah heningnya stadion.

Eunri menatap sosok kakaknya yang tampak berdiri memberikan semangat untuknya. Sungguh, ini pertama kalinya Eunri melihat kakaknya yang angkuh itu berteriak di tengah heningnya stadion. Junhyung bukanlah tipe lelaki yang suka mencari perhatian di depan umum.

Namun, gadis itu segera tersenyum tipis membalas ucapan kakaknya. Ya, semangat kakaknya memang selalu bisa membuat dirinya lebih merasa tenang.

Okay, ready?” Wasit berdiri sembari memegang bola oranye itu setinggi yang dimampu tangannya di antara Eunri dan Noorin yang telah bersiap memperbutkan bola itu.

GO!” Wasit melempar bola, dengan sigap Eunri berusaha meraih bola itu, namun kalah cepat dengan Noorin yang lebih dahulu meraihnya.

Suasana stadion terdengar semakin riuh, suara teriakan, dan terompet menggema di mana-mana. Kedua tim basket itu bergerak pantang menyerah berusaha merebut bola basket itu agar masuk ke dalam ring lawan.

Hap!

Eunri berhasil merebut bola basket dari tangan lawan ke tangannya.

“Eunri! Ppali, lakukan shooting!” teriak Junhyung yang sejak tadi terus memperhatikan Eunri bermain.

Eunri melakukan dribbling di tempat, menghirup oksigen perlahan, berusaha mempertahankan bola di tangannya, dan berkonsentrasi agar bola di tangannya ini tepat lolos masuk ke ring lawan.

“Yong Eunri! Yong Eunri! Yong Eunri!” seruan itu tak henti-hentinya membakar suasana stadion.

Tap.. tap.. tap..

Eunri melangkahkan kakinya perlahan, berusaha tetap mempertahankan bola di tangannya tanpa bisa diraih tim lawan, dengan langkah gesit Eunri segera melambungkan tubuhnya, dan mendorong bola oranye itu ke ring lawan, dan..

Tiba-tiba suasana stadion menghening, suara-suara teriakan dan terompet terasa seperti lenyap seketika. Banner-banner yang tadinya berkibar di mana-mana tampak terdiam di tempat. Dan permainan di lapangan berhenti seketika, semua terdiam seperti patung memandang bola oranye itu memantul-mantul sendiri di dasar lapangan.

“Aku.. berhasil.” gumam Eunri dengan mata terpaku menatap bola oranye yang telah lolos masuk ke dalam ring. Namun, gumamannya itu dapat didengar seluruh penghuni ruangan yang hening itu.

“Eunri jjang!!!” Seketika seruan bersahut-sahutan, bersorak riuh memuji Eunri yang berhasil meraih juara untuk tim basketnya. Suara terompet kembali terdengar riuh dari sebelumnya. Banner-banner kini bertebaran dengan hebohnya di mana-mana.

Semua anggota tim basket Eunri segera berlari mendekati gadis itu. Memeluk Eunri dengan erat karena berhasil menyelamatkan tim mereka dari kekalahan. Eunri tak bisa berhenti tersenyum melihat teman-temannya memeluk bahkan memujinya. Gadis itu benar-benar merasa sangat senang karena timnya berhasil memenangkan juara di kompetisi ini. Rasanya semua usahanya ini terasa tak sia-sia.

Sang wasit segera berjalan menghampiri Eunri dan tim basketnya yang sedang merayakan kemengangan mereka di tengah lapangan. Sontak semua anggota tim basketnya berjalan mundur, memberikan sebuah jalan agar sang wasit dapat mengalungkan medali emas di atas nampan itu ke leher Eunri.

“Selamat atas kemenangan tim basketmu. Kalian telah berusaha keras dan bermain dengan sangat mengagumkan. Semoga di tahun depan aku bisa melihat kalian semua bermain di tingkat internasional.” ucap sang wasit sembari menepuk pundak Eunri.

“Medali emas ini kupersembahkan untukmu dan tim basketmu sebagai tanda kemenangan dan kerja keras kalian.” Sang wasit meraih medali emas yang tergeletak di nampan yang digenggam seorang wanita di sampingnya dan mengalungkannya ke leher Eunri.

Eunri tak bisa menyembunyikan senyum bahagianya. Rasanya ia ingin menangis melihat sang wasit mengalungkan medali emas itu ke lehernya. “Kamsahamnida, ini semua berkat usaha semua teman-teman tim basket kita. Saya benar-benar mengucapkan banyak terima kasih untuk semua orang yang telah mendukung saya dan tim basket kami.” ucap Eunri sembari membungkukan tubuhnya ke segela arah secara bergantian.

Suara riuh segera menyambut kemenangan tim basket Eunri begitu medali emas itu jatuh ke leher gadis itu. Semua orang yang ada di stadion itu ikut bahagia merayakan kemenangan tim basket Eunri. Konfeti-konfeti yang tidak tahu berasal dari mana telah berguguran dari atas menyelimuti suasana lapangan basket yang telah dipenuhi tangis haru dan bahagia.

“Junhyung oppa.” Eunri teringat dengan kakaknya. Ya, lelaki itulah guru dibalik semua ini. Lelaki itulah yang membantu dan menyemangatinya hingga dirinya bisa bermain basket sehebat ini.

Gadis itu menolehkan kepalanya sembari mengedarkan pandangannya ke segela arah, mencoba mencari sosok kakaknya. Namun, Eunri sama sekali tidak melihat sosok Junhyung di antara banyaknya penonton.

Eomma, appa.” seru Eunri begitu melihat sosok kedua orang tuanya yang telah berdiri di tepi lapangan basket. Dengan senyum bahagia, Eunri segera berlari menghampiri eomma dan appa-nya.

“Selamat, ya atas kemenangan tim basketmu. Eomma dan appa sangat bangga melihatmu. Kau sudah berkerja keras, sayang.” kata eomma begitu tubuh Eunri memeluk erat tubuhnya. “Appa sangat bangga padamu.” ucap appa sembari mengelus rambut Eunri dengan lembut.

Eunri masih memeluk tubuh eomma-nya dengan erat. Kehangatan yang mengalir di seluruh organ tubuhnya membuat Eunri tak ingin melepaskannya. Tanpa disadari Eunri pun, air mata haru, bahagia, dan bangga telah membasahi pipi sekaligus pundak eomma-nya.

“Kau tidak manis lagi kalau menangis.”

Eunri tersentak begitu mendengar suara yang sangat familiar di telinganya. Dengan segera gadis itu membuka matanya yang tertutup dan agak basah karena menangis. “Oppa..

Junhyung tersenyum manis sembari melipat kedua lengan tangannya di depan dada begitu mendengar Eunri memanggilnya. Mata hangatnya fokus memandang Yong Eunri. “Kau tidak ingin memelukku?”

“Ayo, temui kakakmu. Ia benar-benar seperti orang gila menyemangatimu. Bahkan terus mengomel mengomentari permainan di lapangan. Telinga eomma sampai penat mendengar suaranya yang seperti kicauan burung.” pinta sang eomma. Eunri tersenyum, lalu melepaskan pelukannya perlahan. Gadis itu segera berlari menghampiri Junhyung.

“Junhyung oppa..” desah Eunri begitu tubuhnya telah mendekap di dalam pelukan Junhyung. Junhyung tersenyum sembari mengelus rambut adiknya dengan hangat. “Bagaimana perasaanmu?” tanyanya.

“Aku sangat sangat sangat bahagia. Sampai rasanya aku tidak tahu harus berpikir apa dan melakukan apa.” jawab Eunri.

“Kau bermain dengan sangat sempurna. Aku benar-benar bangga melihatmu, bahkan aku sempat berpikir kau akan menyayingi kehebatanku bermain basket.” ucap Junhyung. “Benarkah?” tanya Eunri sembari tersenyum hangat. Wajahnya masih terbenam di dada Junhyung.

Kedua kakak beradik itu masih berpelukan. Membiarkan atmospir kehangatan mengalir di organ tubuh mereka.

Eunri perlahan menarik tubuhnya dari pelukan Junhyung. Junhyung membiarkan adiknya melepaskan pelukannya. “Oppa, kau tahu?” tanya Eunri sembari menatap mata Junhyung dengan hangat.

Junhyung tampak tersenyum, meminta adiknya melanjutkan ucapannya.

“Semua ini karena kau. Aku bisa bermain basket sehebat ini karenamu. Karena kau yang dengan setia selalu mengajariku. Dan berkatmu juga, aku bisa memenangkan kompetisi basket ini. Dan.. aku tidak bisa mengelak, aku sangat terpesona melihatmu bermain basket waktu itu. Kuakui, kau sangat keren.” ucap Eunri.

“Ya, aku tahu.” tanggap Junhyung sembari memandang adiknya dengan senyuman geli. “Ini pertama kalinya kau memuji diriku.”

Eunri tertawa mendengar ucapan kakaknya.

Gadis itu lalu menggenggam medali emas yang tergantung di lehernya. “Aku tidak tahu bagaimana cara mengucapkan terima kasih padamu. Rasanya dengan mengucapkan terima kasih saja itu tidak cukup.”

Eunri tersenyum lalu perlahan melepaskan medali emas itu dari lehernya. Gadis itu dapat melihat raut wajah kakaknya yang berubah mengkerut. Dengan hati bahagia, Eunri mengalungkan medali emas itu ke leher Junhyung.

Sebelum Junhyung ingin meminta penjelasan, Eunri lebih dahulu membuka mulutnya.

“Medali emas itu juga pantas dipersembahkan untuk seorang pahlawan yang telah berjasa mengajari seorang gadis payah yang tidak pandai bermain basket sepertiku. Dan medali itu juga pantas dikalungkan untuk seorang supporter yang begitu semangat menyemangati seorang adik payah yang bermain basket di lapangan basket itu.”

Seulas senyum lebar segera terukir di bibir Junhyung begitu mendengar ucapan Eunri. “Medali itu pantas ada di lehermu, oppa.” ucap Eunri lagi.

Dengan segera, Eunri kembali memeluk tubuh kakaknya. “Oppa, terima kasih. Terima kasih karena selalu menjadi kakak yang baik untukku. Kau benar-benar seperti separuh jiwaku, tanpamu aku seperti seorang burung kecil yang kehilangan sebelah sayapnya. Kakak, aku mohon tetaplah menjadi sebelah sayapku.”

Junhyung mengelus rambut adiknya dengan penuh kelembutan. “I will, my little cute sister.

“Kakak, terima kasih. Kau adalah kakak paling sempurna yang pernah aku miliki di dunia ini.”

Junhyung mengeratkan pelukannya, lelaki itu berjanji akan menjadi sebelah sayap untuk Eunri. Sayap yang akan selalu melindungi, menyemangati, dan selalu ada untuk Eunri. Separuh jiwa dan sebelah sayap untuk adiknya yang manis.

The End