The main casts :

Han Hyeorin

Kim Eunmi

Lee Donghae

Cho Kyuhyun

 

Stop ask why, just do your best!

Author’s

“Satu Ice Americano dan…. kau?” mata Donghae menyipit memandang Eunmi di depannya yang sedang mengetikkan minuman yang baru saja dia pesan.

Eunmi tersenyum canggung, “anyeonghaseyo.” sapanya kikuk.

“Kau yang menolongku kemarin kan? Ternyata kau bekerja disini?” tanya Donghae lagi.

Eunmi tersenyum, sekali lagi senyum canggung karena ia bingung harus seperti apa. Detak jantungnya yang kelewatan mengontrol kinerja otaknya sehingga ia tidak bisa berbuat apa-apa di depan pria yang dianggapnya seperti malaikat itu. atau mungkin yang mulai ia puja.

“Iya tuan. Bagaimana keadaan anda?” tanya Eunmi.

Donghae mengangguk, “aku sudah lebih baik. Sepertinya aku belum mengucapkan terima kasih padamu.”

“Sudah tuan Lee, anda sudah mengucapkan terima kasih ketika di rumah sakit.”

“Benarkah? Tapi belum dengan tindakan.”

“Hm?” kedua alis Eunmi terangkat, bingung.

“Bagaimana kalau makan malam?”

“Ne?”

Donghae tersenyum, “aku tunggu nanti malam jam 8.”

“Tapi tuan Lee, maaf pekerjaanku baru selesai pukul 11.”

“Kau menolakku?”

Eunmi menggeleng, “maaf, bukan begitu maksudku. Tapi pekerjaanku—”

“Baik, aku tunggu kau setelah selesai pekerjaanmu.”

“Ne?”

Jadi, Eunmi kembali bingung harus merespon seperti apa ajakan Donghae padanya. Ia hanya bisa mematung melihat senyuman Donghae.

 

Hyeorin’s

Aku memutar-mutar ponselku sambil berjalan mondar-mandir di ruang tengah apartemenku. Aku hampir gila mengingat bahwa ketika mabuk kemarin aku sepertinya mengajak Kyuhyun yang notabene adalah atasanku itu berpacaran dan menyebutnya sebagai sebuah permainan?! Oh Hyeorin, kau benar-benar akan dikejar hutang dari tunggakan kartu kreditmu! Bagaimana aku bisa bermain-main dengan atasanku? Dan dua hari ini aku belum bertemu dengannya, dia ada pekerjaan di luar kantor yang sepertinya sangat mendesak. Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang? Menelfonnya dan menanyakan bagaimana hubungan kami? Atau aku pura-pura lupa? Tidak! Itu bodoh! Usiaku cukup matang untuk memberikan penjelasan, bukan lari dan pura-pura lupa seperti the real player. Baiklah, aku akan melakukannya jika itu bukan seorang Cho Kyuhyun! Aku membuka flap ponselku kemudian mencari nama Kyuhyun, aku menahan nafas sejenak. Baik, yang pertama harus aku katakan adalah, malam itu aku mabuk dan aku akan minta maaf dengannya.

“Yeoboseyo chagi.” Seketika aku mematung. Aku memandang sejenak layar ponselku, kemudian kembali menempelkannya di telingaku. Tidak, aku tidak salah menelfon orang. Aku memang sedang menelfon Kyuhyun, bosku. Tapi kenapa—

“Yeoboseyo, chagiya? Apa kau baik-baik saja?”

“Oh, ne, ah ya. Aku baik, aku baik-baik saja.”

“Ada apa menelfonku? Apa sesuatu terjadi?”

Aku menggeleng, “ani. Tidak, tidak terjadi apa-apa. Aku.. aku hanya ingin bertanya, eum…”

“Eum….” dia menirukan aku menggumam. Kenapa tiba-tiba aku merasa sulit bernafas, suaranya begitu menghipnotisku.

“Kau sedang dimana?”

“Aku masih dijalan, apa kau sudah makan?”

“Oh belum. Belum, aku belum makan.”

“Kalau begitu aku akan ke apartemenmu, kita makan bersama. Bagaimana?”

“Baiklah.” APAAAA???!!!! HYEORIN WHAT IS THAT, HAAA????????

Aku merutuki sendiri jawabanku. Niatku menelfonnya adalah menjelaskan kebodohanku malam itu, lantas kenapa sekarang aku malah mengiyakan ajakan makan malamnya? Hyeorin, otakmu benar-benar dalam kinerja yang buruk!

“Lima belas menit lagi aku kesana. Oke?”

“Baik. Aku tunggu.”

“Baik kalau begitu. Anyeong.”

“Ne, anyeong.”

Klik. Telfon terputus.

Aku masih terpaku di tempatku berdiri. Seharusnya aku langsung menjelaskannya, tapi begitu dia menyebutkan kata ‘chagi’ di awal, seluruh kata-kata yang siap aku luncurkan mendadak aku telan lagi. Suaranya dan cara dia memanggil begitu… tidak! Ini hanya permainan. Baiklah tuan Cho, aku kira kau sudah menyetujui permainan malam itu. dan aku harus terima konsekuensi kalau ternyata Kyuhyun menerima tantanganku bermain game. It’s just a game, forget about who Cho Kyuhyun is! Game is game.

 

Eunmi’s

Aku tidak pernah tau sebelumnya kalau senyuman milik tuan Lee memberi efek yang dahsyat bagi persendian tubuhku. Setiap dia bercerita atau menanyakan sesuatu padaku, kemudian tersenyum rasanya syaraf penyangga jantungku hendak lepas dari tempatnya.

“Jadi bagaimana wanita secantik dirimu bisa bekerja sebagai cashier?” tanyanya.

Aku tersenyum, mencoba mentralisir rasa gugupku. Aku tidak boleh terlihat bodoh di depannya, “aku melakukan apapun asal itu baik Tuan Lee.”

“Tuan Lee? Berhenti memanggilku seperti itu Eunmi-ya. Aku terdengar seperti ahjussi-mu.”

Aku tertawa kecil.

“Panggil aku Donghae, atau oppa. Tidak masalah.”

“Op.. Oppa?”

Dia mengangguk mantap, “kalau kau terlalu canggung dengan panggilan itu, panggil saja Donghae. Bagaimana?”

Aku mengangguk, “Donghae-ssi, apa lukamu benar-benar sudah sembuh?”

Dia mengangguk mantap, “semuanya sudah normal kembali. Hanya saja jika dingin, lenganku agak sedikit terasa ngilu. Mungkin ini efek lanjutan.”

“Apa kau sudah memeriksakannya?”

“Sudah. Dokter bilang aku butuh fisioterapi. Tapi aku tidak punya banyak waktu untuk itu.”

Aku mengangguk, “kau memang terlihat sangat sibuk.”

Dia tersenyum, “apa hobimu Eunmi-ya?”

Aku diam sejenak, berfikir, “banyak. Jalan-jalan, mendengarkan oranglain bercerita, makan dan banyak lagi. Bagaimana denganmu?”

“Aku? Aku suka membaca dan olahraga. Kau suka mendengarkan oranglain bercerita?”

Aku mengangguk, “kita bisa mendapatkan pengalaman baru dari cerita oranglain.”

“Benarkah? Aku pikir mendengarkan cerita oranglain itu membosankan?”

Aku menggeleng, “tidak juga. kalau kau cukup berkonsentrasi, maka kau akan mendapatkan banyak pelajaran dari banyak cerita oranglain.”

Dia tersenyum, entah senyum untuk apa sulit aku artikan.

“Berarti kalau aku ada masalah, kau bersedia mendengarkannya?”

“Ne? Aku?” apa aku tidak salah dengar?

Dia mengangguk.

Aku tersenyum, “tentu saja.”

“Kau menarik Eunmi-ya.”

Seketika itu aku membeku. Kalimatnya, pujian atau basa-basi??

**

They live and work extremely hard for one reason : LOVE!

Author’s

Entah mengapa Hyeorin begitu antusias sore itu ketika tidak sengaja bertemu dengan Eunmi di sebuah departemen store. Dengan langkah cepat dan meninggalkan troli-nya, Hyeorin berjalan menghampiri Eunmi yang tampak sedang memegang keranjang merah supermarket itu dan sedang memilih bahan makanan.

“Eunmi-ssi?” Hyeorin menyentuh bahu gadis itu pelan.

Eunmi menoleh dan tersenyum lebar, “Hye-Hyeorin-ssi?”

Hyeorin mengangguk antusias, “Great to see you again!”

Sekali lagi Eunmi tersenyum, ia merasa Hyeorin adalah gadis yang bisa cepat akrab dengan siapapun dan dari planet manapun. Buktinya sekarang Eunmi bahkan tidak merasa canggung berhadapan dengannya. Tatapan mata Hyeorin yang terlihat antusias membawa atmosfer kedekatan. Sementara Hyeorin melihat Eunmi seperti melihat sahabat baiknya.

“Ne Hyeorin-ssi, pasti sedang berbelanja?”

Hyeorin mengangguk, “well, actually aku sedang ingin memasak. Apa kau mau mencoba masakanku?” disimpulkan oleh Eunmi, itu adalah sebuah ajakan makan malam.

“Masak?” tanya Eunmi, sambil mengangkat kedua alisnya.

Hyeorin mengkenyitkan keningnya sambil tersenyum, “jangan katakan kalau kau ragu aku bisa memasak?”

Eunmi hanya memberikan senyum innocent-nya.

Hyeorin menghembuskan nafas, “kajja. Aku akan tunjukkan padamu kalau aku lebih pintar memasak daripada menghancurkan dapur.”

 

Hyeorin’s

Aku menaruh sup kimchi, pajeon, bulgogi dan salad sebagai dessert di meja dan berhasil membuat wajah Eunmi termangu memandang meja. Aku tersenyum puas, dia pasti kaget melihatku bisa masak sebanyak ini sekaligus enak.

“Eunmi-ya, ayo kita makan.” Ujarku, menyadarkan.

“Hyeorin-ssi, bagaimana caranya menghabiskan makanan sebanyak ini?” tanyanya, kini menatapku dengan sepasang matanya yang jernih itu.

“Tentu saja dengan memasukkannya ke mulutmu.” Jawabku ringan.

Dia masih tampak akan protes tapi kemudian dia meraih potongan pajeon dan mulai memakannya. Aku memandangnya, menunggu responnya.

“How?” tanyaku kemudian.

Dia tersenyum sambil mengangguk, “mashita!”

Aku tersenyum puas melihatnya. Entahlah, bertemu dengannya secara tidak sengaja di supermarket seperti menemukan seorang teman lama atau adik? Dari awal bertemu dengannya, aku sudah menyukainya. Dia seperti membawa ketenangan, seperti seorang sahabat yang sangat jujur, atau aku yang terlalu cepat memberikan penilaian padanya? Tapi melihat matanya yang jernih dan penuh binar kejujuran itu, aku yakin siapapun pasti berfikiran sama denganku. Dan aku yakin banyak pria jatuh cinta padanya.

“Eunmi-ya, makanlah yang banyak. Kau tampak kurus.” Ujarku.

“Kau juga.” dia mulai protes lagi. Kemudian dia memicingkan matanya, “kau…. diet??”

Aku menghela nafas kemudian mengangguk.

Dia kemudian mengangguk-angguk. “arraseo. Tapi kau kan yang masak sendiri bulgogi ini, kau tidak ingin memakannya?”

Aku mencoba tersenyum, sebenarnya aku ingin mencobanya. Tapi jujur saja aku tidak mau menyesal nantinya dengan bentuk badanku.

“Oh ayolah Hyeorin-ssi, hanya sekali saja.” Matanya itu tiba-tiba saja membesar.

Aku menggeleng pelan, “aku….”

“Takut menyesal? hanya sekali ini saja.” Dia memandangku dengan dua alis terangkat

Aku menghembuskan nafas, dengan ragu aku mengambil sepotong kecil bulgogi dan akhirnya kami berdua menghabiskan seisi meja makan minus peralatan makan.

 

Eunmi’s

Aku dan Hyeorin terduduk lemas di sofa karena kekenyangan. Dia memasak banyak sekali, dan karena sayang membuangnya akhirnya kami menghabiskan semua yang ia masak. Masakannya memang enak, aku agak terkejut melihatnya bisa memasak. Dia benar-benar sosok wanita sempurna. Cantik, pekerja keras plus pintar memasak. Pasti sangat beruntung pria yang berhasil memilikinya.

“Eunmi-ya, kau harus bertanggungjawab kalau aku sampai berat badanku naik.”

Aku tersenyum, aku tau aku sudah menggagalkan dietnya. “Jangan terlalu keras pada dirimu sendiri Hyeorin-ssi. Dulu, kata ibu panti asuhanku kita harus bisa menikmati hidup, salah satunya dengan makan.”

Dia menghembuskan nafas, “aku jadi menyesal memasak begitu banyak makanan.”

Aku tertawa kemudian melihat jam ditanganku. Hampir pukul 9 malam. Sepertinya aku sudah harus pulang, baru aku akan beranjak ponselku bergetar. Ada satu panggilan masuk.

Kyu

“Yeoboseyo.” Jawabku.

“Yaa, Mi-Chan, eodiga? Seharian kau tidak diapartemenmu?”

“Ani, wae?”

“Eodiga? Bukannya hari ini kau libur? Aku ingin bertemu.”

“Eo? Emm… aku di rumah temanku.”

“Aku akan menjemputmu. Cepatkan sebutkan alamatnya, aku sudah di jalan.”

“Kita bertemu saja di tempat biasa, bagaimana?”

“Waaaeeeeee?” kini suaranya terdengar merajuk.

“Aku juga sudah akan pulang. Arraseo?”

“Ah ye, palli. Anyeoong.”

Kemudian sambungan terputus. Aku kemudian menoleh ke arah Hyeorin.

“Kau mau pulang sekarang?”

Aku mengangguk, “ne. Terima kasih banyak untuk makan malam yang sangat banyak.”

“Cheonma. Terima kasih juga kau sudah mau mencobanya. Kajja.”

“Kajja?” aku mengangkat kedua alisku bingung.

Dia mengangguk, “ne, aku akan mengantarmu pulang.”

“Ah ani. Itu tidak perlu Hyeorin-ssi, lagipula aku harus ke suatu tempat.”

“Bertemu dengan kekasihmu?” kini dia tersenyum.

Aku menggeleng, “bukan. Temanku.”

“Kalau begitu aku akan mengantarmu kesana.”

“Hyeorin-ssi, sungguh kau tidak perlu—”

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku dia sudah menarik tanganku. Memaksaku diantar olehnya.

 

Author’s

“Kau naik apa? Cepat sekali?” tanya Kyu ketika melihat Eunmi sudah sampai di depannya bahkan ketika dia belum sempat mencari tempat duduk untuk keduanya.

Eunmi tersenyum, “diantar temanku. Igo.” Dia menunjuk satu arah, tempat untuk duduk.

Keduanya kemudian duduk di satu meja di dekat jendela cafe, berhadap-hadapan.

“Jadi?” tanya Eunmi dengan kedua alis terangkat.

Kyu menghembuskan nafas, “sepertinya aku terjebak dalam permainanku sendiri.”

Eunmi mengangkat kedua alisnya, tidak berkata satu apapun. Seperti biasa dia menunggu Kyuhyun menyelesaikan ceritanya.

Kyuhyun kemudian tersenyum, “kami benar-benar seperti sepasang kekasih dan itu menggelikan. Kau tau, kami makan bersama dan dia sangat, eum… manja.”

Eunmi manggut-manggut, “such a good player.”

“Both of us!”

“No doubt. Hanya.. Kyu, jangan sampai kau—”

“Arraseo. Kau tidak perlu khawatir. Aku tau ini hanya game dan justru disinilah menariknya. Aku akan membuatnya terperangkap dalam permainannya.”

“Membuatnya jatuh cinta sungguhan denganmu?”

“Sounds great right?”

Eunmi tersenyum sambil mengangguk, “semoga berhasil.”

“Yaaa..” kini Kyu malah mengeluh.

“Wae? Aku mendoakanmu.”

“Tapi nada suaramu ragu.”

Eunmi menggeleng, “ani. Aku benar-benar bersungguh-sungguh. Yaaa, pabo Kyu kau itu sudah lama tidak seperti ini. jadi aku ikut senang.” Eunmi Tersenyum tulus.

Kyuhyun memandang sahabatnya itu, dari dulu dia selalu bertanya dalam hati apakah gadis itu pernah menyukainya barang sekali? Mengingat persahabatan mereka sudah lama dan mereka sangat dekat. Tapi hingga hari ini, Eunmi tidak pernah menunjukkan gelagat menyayangi lebih dari sahabat.

“Mi-Chan, apa kau tidak takut aku akan lebih sibuk dengan dia?” tanya Kyu.

“Kenapa? Dulu kau juga punya pacar tapi kita tetap baik-baik saja.”

“Kau tau, gadis ini berbeda. Dan lagi, aku sudah cukup dewasa untuk bermain-main. Jadi mungkin aku ingin menjadikan dia yang terakhir.”

“Jika kau yakin, kenapa aku harus takut?”

“Kau tidak menyukaiku samasekali?”

Eunmi memandang Kyuhyun dalam, kemudian gadis itu tertawa membuat ekspresi Kyuhyun seketika berubah menjadi kesal memandang Eunmi.

“Kau… barusan kau bertanya apa? Yaaa, pabo jangan bercanda. Aku sudah tau kau luar-dalam. Mana mungkin aku bisa jatuh cinta denganmu??” tanya Eunmi kini sudah menghentikkan tawanya melihat perubahan ekspresi Kyu.

“Bagaimana kau tidak pernah menyukaiku? Apa aku tidak tampan?”

Eunmi menggeleng, “ani. Kau tampan, hanya kau tau… em.. bagaimana yaa menjelaskannya? Aku….”

“Sudah, tidak perlu dipaksa. Kau sepertinya benar-benar tidak pernah jatuh cinta padaku.” Sela Kyuhyun dengan wajah sebal yang membuat Eunmi tertawa lagi.

Walau berekspresi kesal, Eunmi tau Kyuhyun tidak benar-benar marah padanya. Dan walaupun Eunmi malam ini benar-benar menyebalkan, Kyuhyun tau ia tidak mungkin bisa benar-benar marah dengan Eunmi. Ia menyayangi gadis itu, lebih dari yang gadis itu tau…

**

We own our life, if it’s game, we play, if it’s love we…… chase!

Author’s

Berminggu-minggu setelah hari itu, Kyuhyun dan Eunmi hampir tidak pernah bertemu untuk sekedar berbagi cerita. Kyuhyun makin sibuk dengan anak perusahaan dan Hyeori-nya sedangkan Eunmi seperti biasa berkutat dengan pekerjaannya di coffee shop. Keduanya masih sering berkomunikasi hanya lewat telfon. Hanya kadang menanyai kabar satu sama lain, berbasa-basi seperti biasa. Tapi akhir-akhir ini, Kyuhyun memang jauh lebih menikmati dunia permainannya bersama Hyeorin. Entah karena laki-laki itu mulai terobsesi membuat Hyeorin jatuh cinta atau memang menikmati permainan itu.

“Satu Ice Americano dan satu hot espresso.” Suara yang sudah sangat Eunmi hapal, membuat gadis itu tersenyum kemudian menekan tombol di layar sentuh.

Ia tau pasti siapa pemilik suara merdu itu, suara yang mampu membuatnya lupa bernafas untuk beberapa detik.

“Ada yang lain tuan Lee?” tanya Eunmi, mencoba mengontrol getaran didadanya.

Donghae tersenyum teduh, senyum yang menjadi favorite Eunmi hampir dua bulan terakhir ini. yang membuatnya rela membiarkan matanya kering karena tidak berkedip, demi melihat senyum itu.

“Oh iya, dua cheesecake dan satu teman ngobrol.” Jawabnya membuat Eunmi mendongak kaget melihatnya.

“Hm?”

Sekali lagi Donghae tersenyum, “ini sudah jam makan siangmu kan?”

Eunmi dan Donghae duduk berhadapan di pojok coffee shop dengan dua cheesecake, satu ice americano untuk Eunmi dan hot espresso untuk Donghae.

“Jadii….?” tanya Eunmi.

Donghae tersenyum, “kau pernah bilang mau mendengarkan masalahku bukan?”

Eunmi mengangguk sambil tersenyum, “ne, ada yang bisa aku bantu tuan… eum maksudku Donghae-ssi?”

Donghae mengangguk, “akhir pekan ini akan ada pesta yang diadakan oleh temanku.”

Eunmi mendengarkan dengan seksama.

“Acaranya di pantai dan….. sepertinya aku butuh teman.”

“Dan masalahnya?”

“Masalahnya, apakah wanita yang aku ajak ini akan mau menemaniku.”

“Dia pasti mau Donghae-ssi. Tidak akan ada wanita yang akan menolakmu.”

“Benarkah? Tapi sepertinya dia akan mencari alasan untuk menolakku.”

“Menolakmu? Kenapa dia harus menolakmu? Apa kau pernah melukainya?”

Donghae menggeleng, “sepertinya tidak. Tapi entahlah aku tidak yakin.”

“Donghae-ssi yang perlu kau lakukan sekarang adalah mengajaknya. Aku yakin dia pasti mau.”

Donghae menaikkan dua alisnya memandang Eunmi membuat Eunmi memandangnya dengan tatapan bingung, berpikir bahwa baru saja ia salah bicara.

“Ke.. kenapa kau memandangku seperti itu?” tanya Eunmi salah tingkah.

Donghae tersenyum, “aku anggap itu sebuah jawaban.”

“Ap… apa? Mak… maksudmu?” kini Eunmi sudah tidak bisa lagi mengontrol kecanggungannya karena Donghae mulai bertingkah aneh padanya.

“Aku mengajakmu menemaniku ke pesta temanku, dan kau sudah mengiyakannya.”

“Tapi aku—”

“Sabtu sore aku akan menjemputmu.”

“Donghae-ssi aku—”

“Eunmi-ya, apa aku pernah melukai hatimu?” kini Donghae malah menatap Eunmi dengan tatapan sangat serius.

Eunmi menggeleng dengan wajah bingung.

Donghae tersenyum puas, “jadi kau tidak punya alasan menolakku.”

Eunmi memandang ke arah Donghae dengan tatapan ragu. Sesungguhnya ia senang, tapi ia merasa canggung dan tidak tau harus berkata apa. Terang saja, dia tidak mungkin bisa menolak Donghae.

 

Hyeorin’s

“Donghae-mu itu sepertinya sudah menemukan tambatan hati yang baru, aku melihatnya dengan seorang perempuan tadi di coffee shop. Kau sudah benar-benar melepaskannya??”

Kalimat Gae In tadi siang masih betah berlama-lama tinggal dipikiranku, entah kenapa mendengar rumor yang seharusnya tidak aku indahkan itu malah membuat moodku jadi kacau. Apa aku memang masih begitu mengharapkan pria brengsek itu? aku memandang keluar jendela ruanganku, melihat suasana Seoul yang mulai diramaikan oleh lampu-lampu jalan. Hari memang sudah menjelang malam dan rasanya aku enggan pulang. Kyuhyun sedang sibuk dengan pekerjaannya, ah ya dia. Hampir satu bulan kami menjalani hubungan yang entah aku sebut apa. Lebih dari sekedar bos dan anak buahnya atau teman, tapi tidak dibilang pacaran karena toh kami tidak pernah menyepakati komitmen apapun. Tapi beberapa kali berada disisinya, aku merasa nyaman. Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sepertinya mengenali diriku sendiri akhir-akhir ini bukan fase yang mudah. Jadi, harus kemana aku malam ini? yang jelas tidak ke klab malam, semenjak terakhir mabuk karena Donghae aku sudah tidak pernah lagi kesana meski Gae In mengajakku ratusan kali. Aku tidak mau mabuk dan bertingkah bodoh. Cukup Eunmi yang waktu itu jadi saksi kebodohanku. Eunmi! Kenapa aku tidak ke rumahnya saja??

Aku kemudian meraih ponselku dan menghubunginya.

“Eunmi-ya, eodiga? Ani, apa aku boleh ke rumahmu? Ani, aku hanya ingin mengobrol. Jinjja? Ah, ne. Aku akan segera kesana.” Kemudian telefon terputus.

Tidak ada yang berubah dari apartemen Eunmi yang mungil. Gadis itu sedang menyiapkan makan malam ketika aku datang, mungkin dia sengaja memasak beberapa makanan untuk menyambutku.

“Aku tidak bisa memasak yang istimewa.” Ujarnya sambil menaruh panci sup kimchi di depan kami. Aku tersenyum.

“Tidak masalah. Lagipula aku ke sini mau mengobrol, bukan menagih makanan.”

Dia tertawa, “ayo makan.”

Aku mengangguk.

“Apa ada yang ingin kau ceritakan Hyeorin-ssi?” tanyanya kemudian. Menginterupsi kegiatan makanku. Sepertinya Eunmi adalah mind reader atau semacam cenayang yang bisa membaca pikiranku. Atau dia pernah belajar soal ekspresi?

Aku menaruh sumpitku kemudian memandangnya sejenak, “apa kau seorang cenayang?”

Dia mengangkat kedua alisnya kemudian menggeleng, “ani. Waeyo?”

“Kau seperti tau segalanya.” Jawabku.

Dia tersenyum, “jadi benar-benar ada yang ingin kau ceritakan padaku?”

Aku menghela nafas kemudia menopang daguku diatas kedua tangan yang ditautkan, “entahlah aku kadang bingung dengan diriku sendiri.”

Eunmi memandangku dengan tatapan seperti biasa, penuh ketertarikan.

“Kau ingat bagaimana rasanya pertama kali jatuh cinta?” tanyaku.

Dia mengangguk, “begitu menyenangkan.”

Aku tersenyum, “dan lebih menyenangkan ketika aku mendapatkannya. Tapi… kemudian aku ditinggalkan. Tidak, diduakan.”

Aku menarik nafas kemudian menghembuskannya, “parahnya, saat ini aku sadar kalau ternyata aku….. belum bisa melepaskannya. Tidakkah itu menggelikan?”

“Cinta memang kadang menggelikan.”

“Kau benar. Awalnya aku pikir dia akan lewat begitu saja seperti pria lain dalam hidupku, tapi ternyata tidak. Aku terlalu mudah jatuh lagi padanya, dan menjadi terluka ketika dia dekat dengan wanita manapun padahal dia bukan milikku lagi.”

“Kau sangat mencintainya?”

“Mungkin. Tapi saat ini aku tidak berusaha mengejarnya.”

“Kau tidak ingin mengorbankan harga dirimu?”

Aku langsung menatapnya, “mwo?”

Dia tersenyum teduh, “kau mencintainya Hyeorin-ssi tapi kau terlalu gengsi untuk terluka lagi. Kau hanya takut kecewa lagi.”

Aku diam sejenak, gadis ini benar-benar cenayang! Bagaimana dia bisa membuatku sekarang menyadarinya?! How this girl know this unspokken feelings?!

“Jadi apa yang harus aku lakukan?” tanyaku kemudian.

“Tentu saja mencobanya lagi. Kalau kau mencintainya, kau harus mengejarnya.”

“Dan terluka lagi?”

“Kau belum tau hasil akhirnya kan?”

“Entahlah, aku hanya belum siap. Lagipula…. aku ah, entahlah tapi sepertinya aku sedang dalam sebuah hubungan.”

“Maksudmu?”

Aku menghela nafas, mencoba mencari bahasa yang benar agar Eunmi mengerti apa yang aku lakukan dengan bosku dikantor. Kebodohan yang sepertinya membuatku terperangkap sendiri dalam permainanku.

“Baiklah, ini semacam hubungan tanpa status.” Jawabku kemudian.

“Apa kau mencintai kekasihmu yang sekarang?”

“Aku tidak yakin.”

“Kenapa hidupku sulit sekali?” dia menghembuskan nafas, membuatku tersenyum.

“Kalau kau tidak mencintainya, sebaiknya kau akhiri hubungan kalian dan kejar pria yang kau cintai. Toh akhirnya hidup kita harus bahagia.” Jelasnya lagi.

“Kau benar.”

“Yakinkan dirimu sekali lagi.”

“Aaaaaah pria itu benar-benar membuatku gila!”

“Kau tidak gila, hanya terlalu mencintainya.”

**

Author’s

aku tidak tau seperti apa seleramu, tapi aku harap kau mau mencobanyaa

sampai jumpa akhir pekan Eunmi.

Donghae

 

Eunmi menerima kotak berwarna gold berhias pita maroon sambil tersenyum. Bahkan sebelum melihat isinya apa, ia sudah sangat senang. Tentu saja senang membaca siapa pengirimnya sudah cukup membuat Eunmi berbunga-bunga sore itu di coffee shop. Ia memutuskan tidak membuka kotak itu sampai pulang ke rumah nanti malam karena sekarang ia masih harus bekerja. Eunmi menaruh kotak itu di locker kemudian kembali ke belakang kasir untuk kembali mulai bekerja.

 

“Aku ingin mengenalkanmu dengan seseorang.” Ujar Kyuhyun ketika sore itu baru saja selesai pulang jam kantor dan dia bersama Hyeorin sedang menikmati sore bersama di pinggir sungai Han. Moment yang akhir-akhir ini sering mereka lakukan bersama sebagai sepasang ‘kekasih’.

“Nugu?” tanya Hyeorin sambil membenarkan rambutnya yang tertiup angin.

“Sahabatku. Aku pikir kau akan cocok dengannya. Dia wanita yang menyenangkan.” Jawab Kyuhyun sambil memandang Hyeorin dan tersenyum.

Hyeorin seperti terhipnotis sejenak melihat senyum kekasihnya itu kemudian mengangguk.

“Sepertinya dia wanita yang spesial untukmu.” Ujar Hyeorin kemudian.

Kyuhyun kembali tersenyum, tapi kali ini ia memandang lurus ke depan, “dia memang wanita yang spesial. Siapapun yang mengenalnya pasti akan berpikiran sama denganku.”

Hyeorin jadi penasaran, se-spesial apa gadis itu sampai Kyuhyun yang ia kenal memiliki selera tinggi bisa menganggap gadis itu begitu spesial. Jika selera Kyuhyun tidak tinggi, tidak mungkin ia memilih Hyeorin sebagai kekasih bahkan hanya untuk sekedar main-main kan.

“Sejak kapan kau bersahabat dengannya?”

Kyuhyun tampak berpikir sejenak, “sepertinya sudah sangat lama. Entahlah aku lupa.”

Hyeorin menangkap binar penuh…. entahlah mungkin cinta di tatapan mata Kyu ketika membicarakan gadis itu.

“Kau tidak sedang terjebak dalam friendzone-kan?” tanya Hyeorin.

Kyuhyun menengok ke arah Hyeorin kemudian tertawa, “jangan bercanda. Aku dan dia sudah lama saling mengenal, mana mungkin kami saling mencintai.”

“Jinjja? Tapi kadang aku ragu dengan persahabatan dua orang lawan jenis. You know Jarang sekali ada yang benar-benar murni.”

Kyuhyun memandang Hyeorin, setengah berpikir.

“Salah satu dari keduanya atau mungkin keduanya malah saling mencintai. Tapi terlalu naive untuk saling mengakui.” Lanjutnya.

“Sepertinya tidak, karena aku sudah memilikimu.” Ujar Kyuhyun kemudian dengan gerakan cepat mencium bibir Hyeorin sekilas. Membuat tubuh Hyeorin kaku seketika. Dalam hati ia merutuki dirinya sendiri. Itu hanya ciuman biasa, hanya sepersekian detik tapi kenapa efeknya membuat tubuhnya kaku seperti patung lilin? Apalagi setelah itu Kyuhyun justru malah tersenyum innocent kepadanya.

*CONTINUE*