Tittle        :  Love Game  (Part 2 – End)

Author     :  @adiezrindra

Length     : Twoshots

Genre       : Comedy, romance

Cast(s)     :  Kwon Ji Yong (G-Dragon), Lee Chae Rin (CL), Ji Ho (Zico Block B)

Author’s note :

Annyeooongg~!! uwooo~ lama yaa ending-nyaa.. haha.
Mianhae, saya sudah bilang sebelumnya saya

Disclaimer :

Plot and image is belong to me, while characters is not mine. Skydragon is always real. Choi Seung Hyun is my surreal husband. ^^
Please comments and like.
Don’t steal and re-posting without confirm & hotlink. Plagiarize is BIG NO NO~! :D

Happy enjoying~!

__________________________________________________

“Cerita atau aku akan menciummu.”

.

“Mwoa?!” kedua mata kucing Chae Rin membola, seiring dengan keterkejutan yang menerkamnya tiba-tiba.

Ji Ho semakin mendekat hingga nyaris tak berjarak. Salah satu bibirnya terangkat tipis, membentuk seringai kecil seakan menikmati Chae Rin yang kini menutup sepasang matanya erat-erat, “Silakan pilih, Kitty~”

Cut cut!! Chae, kamu harus melakukan sesuatu sebelum Ji Ho benar-benar melakukan hal gila! Berpikir cepat, Chae! C’mon~!!

Kedua tangan Chae Rin seolah bergerak refleks, mendorong Ji Ho menjauh darinya, “Stop, Ji!!” Gadis itu kemudian membuka kelopak matanya, melihat Ji Ho yang terjengkang di lantai. “Gimme a minute, aku akan cerita, oke?”

……

.

Dua sosok itu duduk berhadapan di salah satu sudut kafe terdekat kampus. Manik-manik mata itu saling menatap, menelusuri jawaban atas keingintahuan mereka. Seraya menyesap minumannya yang mengepul, Chae Rin memulai percakapannya dengan malas, “Oke, sekarang jelaskan maksudmu dengan aku orang yang kamu cari.”

Ji Yong menyilangkan kaki seraya menyandarkan tubuhnya di punggung kursi. Matanya menatap Chae Rin serius, “Aku butuh bantuanmu, Chaerin-ssi.”

“Untuk?”

“Permainan.”

Dahi Chae Rin mengernyit, bingung. “Maksudmu?”

Kali ini lelaki itu menyondongkan tubuhnya, mencoba memupus jarak yang dihasilkan oleh meja bundar diantara mereka. Suaranya melirih, seakan apa yang dikatakannya sama pentingnya dengan misi rahasia agen intelijen, “Bagaimana kalau kita pura-pura pacaran?”

Seketika saja, mata kucing Chae Rin terbelalak, dan tubuhnya hampir terjengkang ke belakang, jika dia tak mampu menjaga keseimbangannya. “Mwoaa?! Kamu gila?! Shirreo!”

Yang benar saja? Mereka baru saja saling bertegur sapa setengah jam yang lalu, dan lelaki di hadapannya ini sudah berani mengajaknya pura-pura pacaran. Gadis macam apa dia ini di dalam pikiran lelaki itu, hingga menawarinya—

“Jebal, Chaerin-ssi… Aku benar-benar muak dengan surat-surat di lokerku.” Ji Yong memohon dengan suara termanisnya, kedua tangan yang dikatupkan, dan mata membulat yang –biasanya— berhasil membuat seluruh wanita di dunia ini bertekuk lutut.

Oke, hati Chae Rin cukup tergoyahkan sekarang. Hampir saja dia mengiyakan, sebelum pikirannya kembali membawanya ke dalam akal yang sehat. No, Chae Rin! No! Pikir, Chae Rin. Kamu masih punya tugas akhir, tugas kampus, dan masih mengurusi the Most Wanted Man ini? Kuatkan hati dan jangan terpengaruh.

Dengan nada terdingin yang dia mampu, dia membalasnya tak acuh, “Shirreo.”

Ji Yong terdiam sejenak. Baru kali ini ada wanita yang resisten dengan kharismanya. Seringai khasnya terangkat sejenak, sebelum kemudian ekspresinya kembali memelas, menyadari jika gadis itu berbeda dan permainan akan menjadi lebih menarik. “Oke, Kalau begitu aku ganti aturannya. Aku akan berpura-pura mencari perhatianmu dan kamu akan berpura-pura mengabaikanku. Otte?”

Mengabaikan? Mencari perhatian? Pura-pura mendekatinya, begitu? Artinya dia tidak perlu berbohong akan statusnya. Toh selama ini dia memang menghindari Kwon Ji Yong maupun teman-temannya. “Humm… Itu lebih baik. Sampai kapan kita akan bermain?”

Seringai yang tadinya hanya nampak sekilas, kini nyata terbentuk radial di bibirnya. Yeah, Kwon Ji Yong memang selalu mendapat apa yang dia inginkan. Dia menjawab ringan, “Sampai… tidak ada surat-surat di lokerku.”

Omoo… baru saja dia lihat surat-surat itu membludak keluar dari lokernya. Mana mungkin surat-surat itu bisa habis? Impossible!

“Heee… Ji Yong-ssi, aku tahu surat-surat di lokermu begitu banyak. Malas ah. Aku tidak mau.” Chae Rin mengangkat kedua tangannya, menyerah. Yang benar saja, berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk memusnahkan harapan setiap gadis di seluruh penjuru kampus. Kwon Ji Yong adalah salah satu mahasiswa yang benar-benar terkenal hingga ke seluruh penjuru fakultas. Ini sama halnya dengan menunggu siput untuk berlari menuju garis finish.

“Oh, no~! Chae Rin-ssi, kamu harus membantuku, please…”

“MA-LAS. Pasti permainan ini akan sangat lama.”

“Okay, berapa uang yang kamu butuhkan?” Kwon Ji Yong melancarkan tawaran terakhirnya, meski Chae Rin di matanya tidak terlihat seperti gadis yang membutuhkan materi.

Chae Rin benar-benar geleng-geleng kepala sekarang. Oh Tuhan, dia benar-benar ingin pergi dari sini. Normalnya, dia masih menjadi anak baik jika berurusan dengan hal merepotkan macam ini. Tapi, setelah memaksanya untuk ikut game gilanya, dia menyodorkan tawaran uang? Dia pikir, gadis itu seharga tumpukan won?!

Melihat perubahan mimik Chae Rin yang terhenyak, Ji Yong menyadari ada yang salah dengan ucapannya. Dia melanjutkan, “Look, aku minta maaf dengan ucapanku baru saja. Aku bukan menganggapmu— you know— tapi mungkin ada sesuatu yang bisa aku lakukan untuk membuatmu menyetujui permainan ini. Jebal, Chae Rin-ssi. I need your help…”

Chae Rin melihat ekspresi memelas lelaki itu, dan menghela nafas panjang. Mungkin tidak ada salahnya untuk membantunya. Humm… Apa sebaiknya yang harus Ji Yong lakukan untuknya sebagai bayaran? Lamborghini? Keluaran terbaru Adidas? Fendifurs? Ah no~! Dia harus membuat lelaki itu lebih susah payah. Humm… memijatnya tiap dia lelah? Atau…

“Humm… kalau begitu, aku mau strawberry cake dan espresso coffee dikirim setiap jam 11 malam.”

“Hanya itu?” Ji Yong menatapnya tak percaya.

“Nee.” Chae Rin tersenyum mantap.

“Kamu murah sekali, Chae Rin-ssi. Aku pikir kamu akan minta barang-barang branded.”

Bibir gadis itu mengerucut, “Shut up, Ji Yong-ssi atau aku tidak mau membantumu. Lagipula barang branded itu hal yang mudah bagimu. Aku tidak mau mempermudahmu.”

“Maksudmu?”

Chae Rin hanya mengangkat bahu dan membuang muka.

“Nee nee. Arasseo. So, is it deal?”

“Nee. Ah ya, kamu cukup panggil aku Chae Rin.” Gadis itu kembali menyesap minumannya. “Ah, Ji Yong, kamu melakukan ini bukan karena menyukaiku atau membuat cemburu seseorang, kan?”

“Hah? Menyukaimu? Percaya diri sekali kamu, agasshi,” balasnya tergelak.  “Aku tidak menyukaimu, tidak menyukai seseorang, dan tidak akan menyukaimu, Chae Rin.”

Kkeuutt.

Entahlah, ada rasa teremas seketika di dada Chae Rin, yang bahkan dia sendiri tak tahu kenapa. Dia hanya tersenyum tipis. “Jeongmal? Bagaimana kalau nantinya kamu menyukaiku?”

Ji Yong menghabiskan minumannya dan menatapnya dengan senyum yang hampir tak terlihat, “Aku tidak percaya cinta.”

……

.

“Jadi, hanya permainan?”

Chae Rin menghempaskan tubuhnya di sofa dan menjawab setiap pertanyaan tajam Ji Ho dengan malas, “Nee. Jadi, berhentilah menggodaku dengan masalah itu.”

Ji Ho merebahkan tubuhnya di sofa dan berbantalkan kaki Chae Rin. “Apa kamu menyukainya, Chae?”

“Entahlah, Ji. Meski aku menyukainya, itu tidak akan merubah apapun, kan?”

“Chae…” panggilnya seraya memainkan rambut gadis itu yang menggantung, menyibakkannya ke belakang telinga. Lelaki itu lalu menatapnya serius, “Bagaimana jika kamu denganku saja, Lee Chae Rin?”

Beberapa galur merah mulai menjalar, sebelum kemudian gadis itu membuang muka. “Kamu gay, Ji. I know you.”

Ji Ho beranjak dari kaki Chae Rin dan duduk di sampingnya. Lelaki itu menatap Chae Rin tepat di manik mata, mencoba menyelami gadis itu melalui dua bola kecil itu. “Bagaimana jika aku bukan gay? Will you be my girl?

.

***

.

Ji Yong POV

Bentley-ku berhenti di depan apartemen yang sama yang aku kunjungi setiap harinya dalam satu bulan ini. Aku turun dari mobil dengan malas. Seraya menyandarkan tubuhku di pintu mobil, aku menyalakan rokok mint dan menatap jendela tanpa cahaya, dari apartemen sederhana itu.

Hey, Chae Rin belum pulang? Jam berapa ini? Aigoo, this girl

Aku mengeluarkan ponsel dan menekan nomor Chae Rin dengan cepat.

“The number you are calling—”

Dengan cepat tanganku menyentuh tombol virtual merah dan menghubunginya sekali lagi. Hingga beberapa saat kemudian, aku harus menyerah dengan suara operator tanpa nada sambung.

Aiissh! Kenapa tidak tersambung?! Masih mati?!

Kemana anak bodoh? Masih di tempat Ji Ho? Bagaimana kalau ternyata Ji Ho orang jahat, lalu terjadi apa-apa padamu, babo?!

Aigooo… Ji, kenapa kamu memikirkan anak bodoh itu?! Stop it!

Tapi, bagaimana jika pikiranku benar? Bagaimana bila Ji Ho memanfaatkannya? Bagaimana jika— aigooo… aku harus berhenti berpikir yang macam-macam.

Aku melirik kotak cake dan segelas espresso hangat di dasbor mobil, dan menghela nafas panjang.

Chae Rin, kenapa kamu begitu membingungkan?

……

Ting tong tong tooongg!!!

Aku berdiri di depan apartemennya tidak sabar. Bagaimana tidak, aku sudah menghabiskan waktuku bermain di klub malam, dan masih harus mengantarkan cake dan espresso bodoh ini. Aaiissh! Akhirnya aku tahu kenapa dia bilang membelikan sesuatu yang mahal menjadi lebih mudah untukku daripada hanya sekedar camilan seperti ini. Tentu saja, siapa yang mau bersusah payah mengantarkan makanan tengah malam begini, heh! Lagipula kenapa dia harus menyuruhku tengah malam, sih?! Merepotkan saja!

Chae Rin keluar rumahnya dengan celana training dan jaket tebal, seraya menggosok-gosokkan kedua tangannya. Angin musim gugur di malam hari memang tidak pernah bersahabat bagi tubuh mungil sepertinya.

“Sudah lama?” tanyanya sambil menarik pagar. Matanya kemudian menelisik tubuhku dari rambut hingga ujung sepatu. “Kamu dari mana? Pakaianmu lengkap sekali.”

Aku menyodorkan bungkusan yang sejak tadi aku bawa padanya dengan ekspresi sebal. Tentu saja sudah lama! 10 menit, hellloooo~! Kamu membuat Kwon Ji Yong menunggu 10 menit, Chae Rin!

“Klub malam.”

“Uuukkh… kamu bau alkohol.” Tangannya bergerak menutup hidungnya rapat-rapat. Bibir tipisnya kemudian menyunggingkan senyum kecil, berkata padaku seraya berbalik masuk, “Masuklah dulu, aku akan membuatkan minuman untukmu.”

Aku mengikutinya masuk. Apartemen itu tidak terlalu besar, namun cukup nyaman untuk ditinggali seorang diri. Tak beberapa lama kemudian, dia kembali seraya menyodorkan minuman hangat dan sepotong strawberry cake yang aku bawa. “Minumlah sebelum kamu pulang. Udara hari ini dingin sekali.”

Gadis itu kemudian memotong kecil cake-nya sendiri dan memakannya seolah dia baru pertama kalinya memakan makanan itu. “Cake-nya tidak kamu makan? Enak lho… Gomawoyo, Ji…”

Cake itu sebenarnya cukup menggoda jika perutku tidak mual karena alkohol. Euhh… harusnya aku tidak meminum apapun sebelum ke sini.

“Seleraku hilang setelah seseorang melemparku dengan cake ini tadi pagi,” sindirku seraya menyesap teh yang dia sajikan padaku.

Mata kucingnya terbelalak sejenak, dua tangannya menangkup menutupi bibir tipisnya, “Omoo… jeongmal mianhae, Ji…”

Aigooo… kenapa gadis ini jadi terlihat lucu? Melihatnya panik, rasanya aku semakin tergelitik menyindirnya. Haha!

“Kamu tahu, Chae. Rasanya punggungku sakit sekali. Tadi pagi seseorang membantingku keras. Astaga… gadis macam apa itu, ya?”

Chae Rin sekarang makin gelagapan. Pipi yang sedari tadi merona karena espresso hangat itu, sekarang semakin dipenuhi semburat kemerahan. Kemudian dia menggembungkan kedua pipinya sebal. “Yaa! Mianhae… itu refleks pertahanan diriku, Ji…”

“Itu kamu?”

“Yaahh!!!”

“Haha… Tapi kan tidak perlu membanting segala. Sakit!”

Matanya memutar, sebelum akhirnya menatapku jengkel, “Bukannya kemarin kamu bilang, aku boleh melakukan apa-apa untuk aktingku? Jadi bukan salahku jika kamu kesakitan sekarang.”

“Oh begitu? Bagaimana kalau aku besok menciummu?”

“Heh! Awas kalau kamu melakukannya!!” dia melayangkan kepalan tinjunya ke udara sambil menyipit padaku.

Aku tertawa kecil dan melanjutkan, “Kan aku boleh melakukan apa saja untuk aktingku.”

“Uuukh… Mianhae…” bibirnya sekali lagi mengerucut. Dia berdiri dari sofanya dan duduk di belakangku. “Bagian mana yang sakit?”

Eh? Mau apa dia?

“Hei heii! Mau apa kamu?!”

“Iiisshh… orang ini!” umpatnya jengkel, tangannya meneka punggungku kuat dengan kuku panjangnya.

“Hei! Appoo!!”

“Makanya diam dan menurutlah~! Mana yang sakit?”

“Di sini,” aku menunjuk bagian punggungku. Dia tak berkata apapun, namun dapat kurasakan tangannya memijatku pelan. Aku menyeringai pelan tanpa disadarinya.

Lumayanlah, hitung-hitung aku memang lelah dari klub.

“Ji, mianhae…” ucapnya seraya terus menekan titik-titik di punggungku.

“Hmm… Gwenchana. Lagipula dengan begitu akting kita akan semakin dipercaya kan?”

“Hey, apa suratmu sudah berkurang?”

“Molla. Lihat saja besok.” Hening sejenak, sebelum aku kemudian bertanya usil, “Hey, besok enaknya aku melakukan apa, Chae?”

Matanya menyipit, “Jangan melakukan yang aneh-aneh!”

Aku berbalik, hingga kini aku bisa menatap ekspresi lucunya lebih dekat. “Waeee?”

“Aku malu, Ji…”

“Bagaimana kalau aku berdiri di depan gedung utama, mengangkat papan besar dengan tulisan ‘I’m falling in love with you’ tinggi-tinggi, dan teriak, ‘LEE CHAE RIN~! SARANGHAEEE…!’ Otte?” tanyaku usil seraya memperagakan pa yang akan kulakukan.

Apa jadinya kalau aku besok melakukan hal itu?

Dua manik matanya kini melebar, pipinya bersemu merah. Tangannya meninju perutku keras dan berseru, “Yaa!! Awas kalau kamu berani!”

“Lee Chae Rin~! SARANGHAEEE~!” aku memperagakan sekali lagi dengan lebih menjiwai. Kedua tanganku bahkan kubentuk hati di atas kepalaku.

“YAAA!!!”

……

Aku tersenyum kecil mengingatnya. Entahlah, rasanya aku tak pernah bisa sesantai itu berbicara, selega itu tertawa selain di depan Young Bae maupun Dara. Di kampus, Kwon Ji Yong harus menjaga peran good boy, seakan aku adalah robot yang akan selalu tersenyum. Walau aku tahu, sebenarnya aku tak perlu melakukannya. Dan ketika klub malam mengenalku sebagai G-Dragon, seorang worst boy ever, aku hanya ingin melepaskan sisi gelap yang selalu tertutupi. I know, I’m not a good boy, but nice.

‘Cemburu pun tak apa, namanya juga cinta.’

Ucapan Dara menggaung tanpa henti dalam benakku. Cemburu? Cinta? Rasanya aku hampir tak bisa mengenal arti dari kata itu. Tidak, bukan karena trauma seperti halnya orang lain yang membuatku nyaris tak pernah mengakuinya. Namun, dengan begitu mudahnya setiap wanita menyerahkan tubuhnya padaku, seakan cinta tak pernah ada maknanya, bagaimana mungkin aku masih bisa mempercayainya?

No, no. aku tidak mencintai siapapun. Tidak juga Chae Rin.

Hey babo! berhentilah berlari dalam kepalaku, Chae!

Akhirnya aku membuka pintu mobil, mengambil bungkusan yang selalu aku berikan untuk gadis itu, dan meletakkannya di depan pintu apartemen Chae Rin. Kemudian, aku kembali dan membuang punting rokoknya tepat di kakiku, menginjaknya hingga tak berbentuk. “Night, Hunchae,” salamku lirih sebelum melajukan mobil menjauh.

.

***

.

Normal POV

Chae Rin memilah-milah foto yang baru saja tercetak seraya berjalan menuju ruangan klub bersama Ji Ho di sampingnya. Keduanya nampak serius dengan lembaran-lembaran abadi di tangan mereka. Beberapa foto diantaranya terlalu kabur, dan yang lainnya memilki komposisi yang tidak sesuai.

“Yang ini bagus, Chae…” Ji Ho menunjukkan salah satu foto di tangannya. Foto sepasang merpati yang saling mematuk kecil. Indah, menakjubkan. Seakan dunia hanya tercipta untuk pasangan kecil itu.

“Nee. Aku juga suka dengan yang itu.” Chae melirik sejenak mengamati foto itu, sebelum kemudian dia menekuri kembali foto-foto di tangannya. “Bagaimana dengan yang ini?”

“Humm… aku pikir kontrasnya kurang dan terkesan gelap. Mungkin sedikit brightness dan kontras akan membuatnya lebih baik. Nanti aku perbaiki lagi.”

Chae Rin mengangguk mengerti.

“Chae, bagaimana dengan ini?” Ji Ho menyodorkan satu foto di tangannya. Foto itu hanya menampakkan Chae Rin dengan bibirnya yang mengerucut cemberut. Lucu, menggemaskan, polos.

“Ji Hoooo… seriuuusss…” gadis itu seketika cemberut, sama seperti foto dirinya sendiri.

“Haha… nee nee,” sekali lagi Ji Ho mengusap kepala Chae Rin seakan anak kecil.

.

Ji Yong tak bisa menahan emosi yang meluap dalam dirinya sendiri. Dia sendiri masih saja tak mengerti kenapa dia harus begitu emosi pada dua orang yang melenggang menjauhinya itu. Bukankah dia sendiri yang mengatakan bahwa hal-hal seperti itu bukan masalah untuknya? Akting seperti yang selalu dimainkannya di kampus?

Dia mungkin bisa membuat semua orang percaya dengan dalihnya, kecuali dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia membuat dirinya sendiri percaya ketika dia pun merasakan rasa terbakar di dadanya yang tak mampu berkompromi.

Lelaki itu mempercepat langkahnya mendekati mereka, menyergap lengan atas Chae Rin, membuatnya terkejut bukan main, “Yaa!” Belum cukup dengan itu, Ji Yong kini menyeretnya masuk menuju satu ruangan kosong terdekat dengan mereka. Dia menutup pintunya dan menyudutkan Chae Rin antara pintu dan tubuhnya. Kedua tangannya diletakkan kokoh di antara tubuh gadis itu.

“Yaa! Appoo!!” Chae Rin mengusap tangannya sendiri, sebelum kemudian menatap Ji Yong dengan marah. “Wae?”

“Kamu menyukainya?” Ji Yong menatapnya dingin dengan nada suara yang mampu membekukan seluruh ruangan.

“Mwoa??”

“Jawab aku, Chae. Kamu menyukainya?” nada suaranya meningkat, setengah berteriak. Matanya menusuk kian tajam, seakan mampu menembus hingga otak.

“Ini bukan urusanmu, Ji.”

“Ini urusanku.”

Chaerin mendengus keras, sebeum kemudian dia membalas tatapan Ji Yong dengan ketajaman yang sama. “Hah! Sejak kapan? Seingatku kita tidak ada hubungan apa-apa. Dan ingat, Ji Yong, semua yang kita lakukan selama ini adalah permainan yang kamu ciptakan. Dan seingatku, aku tidak harus mengatakan kepadamu tentang perasaanku.” Dia mendorong tubuh lelaki itu menjauh hingga telapak tangannya terlepas dari pintu, “Aku tegaskan sekali lagi, ini bukan urusanmu, Kwon Ji Yong-ssi!”

Gadis itu membuka kasar pintu yang sejak tadi disandarinya, menatap marah Ji Yong, dan meninggalkannya bersama pintu yang tertutup keras.

BLAMM!

.

***

.

Chae Rin POV

From : Babo😡

Chae Rin, jeongmal mianhae…

.

From : Babo😡

Chae… Jeongmal mianhae. Jawab teleponku, ppallii!!!

.

From : Babo😡

Chae Rin, aku kan sudah minta maaf. Kamu ini!

.

From : Babo😡

jawab teleponku, Lee Chae Rin!

.

Aku membaca semua pesan ponselku dengan malas. Rasanya hampir semua pesannya dari orang aneh itu. Tanganku menggeser kursor layar hingga ke bawah, dan yang kulihat masih dengan pesan orang yang sama. Sebelum membaca yang lainnya, yang masih berjubel di kotak pesannya, sekali lagi nada deringnya berbunyi. Okaayy… still, The Most Wanted Man.

Aiiishh… apa sih maunya?

Memangnya dengan aku mengikuti permainan bodohnya itu, lalu otomatis dia berhak mengatur hidupku begitu?! Enak sekali!

Lagipula, untuk apa Ji Yong marah padaku? Apa urusannya denganku? Bukankah aku bebas bergaul dengan siapa saja? Bukankah ini semua hanya permainan? Bukankah— iiissh… dasar orang aneh!

Apa dia menyukaiku? Mungkinkah??

Astaga… berpikir apa aku ini?! Tidak mungkin, Chae Rin. Tidak mungkin! Kan dia sendiri yang mengatakan bila dia tidak akan menyukaiku. Dia tidak percaya cinta. Chae Rin babo-ya~! Untuk apa kamu berharap dia menyukaimu?!

Lalu… kenapa dia marah…

.

……

“Yaaa!!! Kwon Ji Yong!” hardikku seketika ketika dia masih di depan pintu apartemenku. Aku memasang ekspresi paling sebal yang aku bisa, seraya kedua tanganku terlipat di dadaku dan menatapnya marah.

“Nee? Wae?” dahinya berkerut bingung.

Sikap polos bak malaikat inilah yang aku benci darinya hari ini. Catat, Lee Chae Rin!

“Apa maksudmu teriak di depan gedung tadi siang?! Pakai bawa-bawa papan itu segala! Kenapa kamu melakukan rencana bodoh itu, Ji?!!!”

Look, dia kini bahkan hanya menggaruk kepalanya, yang bahkan aku yakin tidak gatal. “Oh itu… kan terserah aku mau melakukan akting apa, Chae. Lagipula aku sudah bilang padamu kan sebelumnya…”

“Oh yeah. Kamu sudah bilang,” jawabku sarkatis, sebelum melanjutkan, “TAPI TIDAK PERLU DILAKUKAN JUGA, KWON JI YONG~!!”

“Nee nee nee.” Lelaki itu menyodorkan bungkusan ajaib itu padaku. “Nih cake-mu hari ini. Jangan marah terus, nanti matamu semakin sipit karena keriput.”

Aku menerima bungkusan itu dan berbalik masuk ke dalam apartemen. Aku yakin, lelaki itu sudah mengikuti di belakangku.

“Chae-ah…”

“Hmm?”

“Yang bersamamu tadi siapa?”

Aku menyerahkan gelas berisi coklat hangat padanya seraya menyesap espresso-ku. Kenapa dia bertanya? Jangan-jangan… Ah, ani Chae Rin. Apapun pikiran bodohmu, lupakan sekarang juga!

“Teman klub.”

“Dekat sekali.”

“Tentu saja. Wae, Ji? Cemburu?” tanyaku dengan tawa lebar memancingnya. Apakah dia akan berkata iya? Atau…

“Ha ha ha. Lucu sekali, Lee Chae Rin,” jawabnya sarkatis. “Aku hanya bertanya, babo! Mana mungkin aku cemburu hanya gara-gara kamu. Lagipula aku sudah bilang kan, aku tidak percaya yang namanya cinta. Apalagi jika cinta itu kamu. Impossible!”

Walau aku sudah tahu jawabannya, walau aku tidak mengharapkan jawabannya, tapi tetap saja. Sakit itu masih ada sampai rasanya menembus hingga memberikan lubang curam di dada kiriku.

Smile, Chae Rin… smile…

“Nee nee. Arasseo, Ji,” jawabku kemudian seraya menyesap minumanku sekali lagi. “Habiskan minumannya, Ji.”

……

.

See, dia sendiri yang bilang dia tak akan percaya pada hal-hal seperti ini. Tapi kenapa…? Geez… aku benar-benar tidak mengerti pikiran seorang Kwon Ji Yong.

.

***

.

Ji Yong POV

Lautan manusia di dance floor masih bergerak hampir selaras dengan musik yang dimainkan oleh Kush. Young Bae dan Dara masih saling bercumbu di sudut ruangan, begitu pula dengan Seung Hyun dan tunangannya, Eun Kyo. Dae Sung, dan Seung Ri sepertinya masih memburu gadis-gadis untuk bertekuk lutut di hadapan mereka. Dan aku? Aku masih duduk dengan martini di tanganku.

Berkali-kali Teddy dan Kush menawariku untuk mengambil posisi di depan disc jockey, yang akhirnya kutolak dengan alasan malas. Beberapa wanita tiba-tiba memelukku dari belakang, atau sekedar duduk di sampingku, hanya untuk kutanggapi dengan dingin, hingga mereka memutuskan untuk pergi mencari lelaki lain.

Entahlah, rasanya pikiranku tak ubahnya dengan kaset yang terus berputar tanpa henti, mengulang kejadian tadi siang. Untuk apa aku harus semarah itu? Untuk apa aku membawa Chae Rin pergi?

“Kamu menyukainya?”

Untuk apa aku bertanya seperti itu?

Kenapa aku melakukan permainan ini? Untuk menghindari kejaran wanita-wanita liar itu.

Kenapa aku memilih Chae Rin? Karena dia tidak pernah tertarik padaku.

Kenapa aku bisa tahu dia tertarik padaku? Karena aku memperhatikannya, dan dia bahkan tak pernah melirikku. Sedangkan yang lain, bahkan aku tak perlu susah-susah mencari perhatian, mereka sudah mengejarku bak orang sakit jiwa.

Kenapa aku memperhatikannya? Karena dia terlihat polos saat diam, terlihat menggemaskan ketika tersenyum. Dan dia seakan untouchable, elegan, berkelas. Lihat saja, jika dia sama saja seperti orang lain, dia mungkin akan langsung menyetujui ketika aku mengajaknya pura-pura pacaran. Tapi nyatanya toh tidak. Dia bahkan lebih memilih espresso dibandingkan jaket Balmain yang bisa aku bawakan hanya dengan menjentikkan jari.

“Hah! Sejak kapan? Seingatku kita tidak ada hubungan apa-apa. Dan ingat, Ji Yong, semua yang kita lakukan selama ini adalah permainan yang kamu ciptakan. Dan seingatku, aku tidak harus mengatakan kepadamu tentang perasaanku.”

Yeah, pada akhirnya aku bukan siapa-siapa. Aku hanya seorang game partner.

Setelah berulang kali menulis pesan dan menelepon tanpa ada jawaban dari Chae Rin, sudah bisa kupastikan, gadis itu marah besar padaku. Astaga, apa yang kamu lakukan Kwon Ji Yong?!

Aku menenggak habis martini dalam satu kali teguk, dan mengambil kunci mobil yang kugeletakkan di meja.

“Mau kemana, Ji?” tanya Young Bae ketika melihatku berdiri.

“Pulang.”

“Hari ini kamu tidak ke tempat Chae Rin, Ji?” kali ini Dara yang mengambil suara, membuatku tak ayal menoleh padanya. Seingatku aku tak pernah bercerita apapun pada mereka. Kenapa mereka bisa tahu?!

“Bagaimana kalian bisa—”

“Spying~” jawabnya melodik, sebelum aku menyelesaikan pertanyaanku.

Astaga, harusnya aku tahu, teman macam apa mereka ini!! ><

“Aiisshh… kalian ini!”

.

***

.

Normal POV

Chae Rin terbangun dan menyentuh kepalanya yang seakan berputar. Segala rangkaian kejadian beberapa hari ini mengoyakkan ketenangannya, dan otaknya masih tak berhasil mencerna setiap komponennya.

Oh God, I need a breath…

Gadis itu turun dari ranjangnya, memakai jaket dengan tudung berbulunya. Kakinya melangkah keluuar dari apartemennya. Dia merentangkan kedua tangannya dan menghirup udara hingga memenuhi ruang paru-parunya.

“Euh…”

Dahinya mengernyit seketika. Euh? Itu bukan suaranya, lalu itu suara… siapa?

Bola matanya mengedar ke seluruh penjuru, dan menemukan… Kwon Ji Yong. Lelaki itu tidur dalam keadaan duduk dengan punggung dan kepala yang bersandar di dinding apartemennya. Salah satu kakinya terjulur luirus, sementara yang lain tertekuk untuk menumpu tangan kanannya. Chae Rin berjongkok di samping Ji Yong dan menepuk pundaknya pelan, “Yah! Ireona~!”

Tak bergeming. Lelaki itu bahkan seakan tak terusik.

“Yaahh!”

Aiissh… Chae Rin mengerucutkan bibirnya sebal. Ada-ada saja lelaki itu, sudah merepotkannya hingga ke titik nadir, sekarang bahkan beraninya dia tidur di depan apartemennya.

“Lee Chae Rin…”

Huh? Apa yang ada di mimpinya hingga lelaki itu menyebut namanya?

“Chae, mian…”

Kkeuutt. Jantung Chae Rin seakan terlontar berkilometer ketika dia mendengar namanya disebut, dan kini rasanya amarahnya melumer tak bersisa saat kata maaf itu terlepas dari bibirnya, keluar langsung dari alam bawah sadarnya.

Kepala Ji Yong bergerak perlahan semakin ke samping, seakan menatap langsung Chae Rin dalam jarak yang teramat dekat. Sejenak gadis itu melompat kecil karena terkejut, hingga dia menyadari kedua mata itu masih terlelap damai. Dia terdiam, mengamati tekstur wajah tanpa cela di depannya.

Wajah oval, mata almond yang tertutup, pipi yang sedikit chubby, dan bibir yang biasanya selalu terpulas oleh senyum palsu bak anak kecil itu, kini hanya mengulas lengkung kecil. Ekspresi damai yang jarang diperlihatkannya. Oh Tuhan, betapa sempurnanya…

.

Kedua pelupuk mata Ji Yong tiba-tiba terbuka, mempertemukannya dengan dua manik mata Chae Rin yang membola. Seketika saja, jantung gadis itu seakan sudah menghilang dari rongga dadanya. Belum cukup dengan itu, kini tangan kiri Ji Yong yang sedari tadi menjulur lemah di lantai, melingkar di pinggang kecilnya, menariknya untuk lebih dekat dengan dirinya.

“Chae Rin…”

Belum selesai gadis itu bereaksi dengan segala yang berlalu begitu cepat, kini tangan kanan Ji Yong menyentuh dagunya, dan mendekatkannya hingga kedua puncak kepala itu bersentuhan pelan, dalam jarak yang hampir musnah itu, lelaki itu berbisik pelan, “I love you…”

Kedua bibir itu… bersentuhan. Ringan. Penuh posesi.

.

“Chae…”

Pikiran Chae Rin seketika kembali terkumpul. Ji Yong masih tertidur lelap di hadapannya, dan astaga… apa yang baru saja dia pikirkan?!

Oh my God! Oh my God! I really need breath!

Dia berdiri dan menarik nafas hingga klimaks, sebelum akhirnya dihembuskan perlahan. Kedua pipinya bersembur kemerahan, malu sendiri dengan imajinasinya.

Apa yang aku pikirkan?! Lee Chae Rin babo! Babo! Berciuman? Habis menonton drama dari mana aku ini?! Kamu marah. Kamu harusnya marah, Chae Rin~!

Bola mata Chae Rin berputar sejenak sebelum akhirnya kembali melihat Ji Yong. Dia menghela nafas lelah. Betapa hidupnya tenang sebelum mengenalnya, dan betapa jantungnya tak pernah berpacu ringan ketika akhirnya lelaki itu datang.

Kakinya menendang tubuh Ji Yong tak sabar, “Yaa!! Kwon Ji Yong-ssi!! Ireonaa~!! Ppalli!!”

“Euh…” Perlahan kedua mata Ji Yong terbuka. “Chae…?”

“Ireona, ppallii! Sebelum kamu aku buang ke tempat sampah sekarang!”

Ji Yong dengan cepat berdiri di hadapan Chae Rin. Namun belum sempat bibirnya berucap sesuatu, Chae Rin berbalik masuk menuju  apartemennya. Gadis itu baru saja akan menutup pintunya, ketika tangan Ji Yong menghalanginya, masuk melalui celahnya, “Lee Chae Rin! Dengarkan aku!”

“Shireo!”

“Yaa! Buka pintunya!”

“Shireo!”

“Yaa!” satu hentakan dari tangan Ji Yong dan pintu itu seketika terbuka lebar. Chae Rin berdiri di hadapannya tanpa menatapnya. “Dengarkan aku, Chae!”

Chae Rin berbalik masuk, tak menghiraukannya. Ji Yong membuntutinya di belakang, menuju dapur kecilnya. “Lee Chae Rin, aku menunggumu sejak tadi malam. Kamu tidak mengangkat teleponku, jadi aku pikir… kamu tidak di apartemen. Dan aku… menunggumu. Chae. I know, aku terlalu kasar kemarin. Aku… hanya tidak suka kamu dekat dengan Ji Ho.”

Chae Rin tak mengatakan apapun. Seakan tak mendengar apapun, dia mulai menyalakan coffee maker-nya.

“Mulai sekarang jangan dekat-dekat Ji Ho, key.”

Gadis itu menghela nafas pelan, dan menatap Ji Yong dingin, seakan sekilas pandangannya saja mampu membekukan tubuh lelaki itu, “Ji, sudah kubilang, kamu tidak punya hak apapun atas diriku, dan apapun yang aku lakukan. Akhiri permainan bodoh ini.”

“Tapi—”

Okay, aku anggap permainan ini berakhir. You know the door, right?”

Ji Yong berjalan melewati bar dapur, dan menarik lengan Chae Rin, memaksanya untuk menatapnya, “Lihat aku, Lee Chae Rin!”

Chae Rin hanya ingin permainan ini berakhir, dan menjauh dari lelaki itu. Tidakkah dia mengerti? Betapa dia lelah dengan permainan bodoh ini, dengan sikap seakan Ji Yong adalah pemiliknya. Memang dia mencintainya, tapi bukan berarti dia harus menyerahkan kebebasannya untuk seseorang yang bahkan tak berminat padanya.

Lelaki itu hanya ingin bermain-main dengannya. No feeling, just play around.

“Kamu pikir kamu siapa, Kwon Ji Yong?!”

“Aku? Orang yang terkena karma atas perkataanku sendiri. Aku menyukaimu, Lee Chae Rin.”

Tak pelak, jantung Chae Rin sekali lagi terlontar, dan mungkin kali ini tak kembali. “Hah!” Dia memutar bola matanya sebelum akhirnya kembali menatap Ji Yong tajam, “Permainan ini berakhir. Tidak mengertikah kamu?! Cukup dengan ucapan-ucapan omong kosongmu!”

Wajah Ji Yong mengeras, seakan menekan emosi dalam tubuhnya. Bagaimana dia harus membuktikannya pada gadis itu, jika hidupnya tak pernah lagi sama. Ada rasa yang bercampur ketika memikirkan gadis itu.

Lee Chae Rin, why you don’t believe me?

“Ya, Chae Rin. Permainan ini berakhir. Kukatakan sekali lagi, it’s game over. Sekarang, aku akan mengatakannya sekali lagi padamu. Aku menyukaimu. Johae. Saranghae.

“Dan ini bukan permainan.”

Chae Rin terhenyak. Tidak mungkin. Seorang Kwon Ji Yong, menyatakan… padanya?

“Ha ha ha,” tawanya sarkatis. Kemudian kedua tangannya menyusuri resleting jaket Ji Yong yang terbuka dan menutupnya hingga leher seraya melanjutkan,“Sekarang kamu sedang menjadi G-dragon? Lebih baik berhentilah bermain-main dengan perasaan orang lain. Pulanglah.”

Berhentilah meragukanku, Hunchae.” Tangan kanan Ji Yong menyentuh dagunya, dan mendekatkannya hingga kedua puncak kepala itu bersentuhan pelan, dalam jarak yang hampir musnah itu, lelaki itu berbisik pelan, I love you…”

Waktu seakan melambat ketika kedua bibir itu, bersentuhan ringan. Chae Rin bisa merasakan perasaan yang meruah, tak lagi terkatakan oleh rangkaian kalimat bertele. Lelaki itu menginginkannya.

Bagi Ji Yong, mungkin kecupan ringan seperti ini adalah hal yang terlampau biasa, namun menjadi hal yang gila, ketika dia melakukannya bersama game partner-nya, yang bahkan dia tak tahu apakah Chae Rin akan membalas perasaannya. Entahlah, dia tidak berani arti dari ekspresi Chae Rin yang bahkan hanya terdiam, terhenyak.

Tangan gadis itu kemudian melingkari leher Ji Yong, membalasnya dengan kecupannya. Tangan lelaki itu merengkuh punggung Chae Rin, menariknya lebih dekat, dalam sentuhan yang lebih dalam.

Ada banyak hal yang bahkan tak bisa dijelaskan dalam kata. Namun keduanya mengerti, bahwa masing-masing dari mereka menginginkan satu sama lain.

Ji Yong menyentuh kedua lengan Chae Rin dan mendorongnya pelan. “Sekarang, kamu percaya?”

Chae Rin terdiam. Bernarkah seorang Kwon Ji Yong menciumnya? Benarkah…? Ini tidak mungkin. Ini sama persis seperti bayangannya. Ataukah memang segala yang berlangsung masih hanya imajinasinya?

Tak percaya, tangan Chae Rin mengayun keras, memukul lengan Ji Yong hingga lelaki itu mengaduh, “YAA!! Lee Chae Rin! Appooo!”

Senyum gadis itu terulas dari telinga hingga telinga. Ternyata bukan mimpi.

.

***

.

Ji Ho POV

“Jadi, menurutmu lebih baik kita pakai foto ini untuk kompetisi internasional kali ini?”

Aku mengangguk mantap ketika Chae Rin memainkan satu foto di tangannya. “Nee, kitty. Kita pasti menang dengan foto itu.”

Dia menghela nafas sebal dan meletakkan foto itu di meja, “You know, Ji. Aku tidak suka foto itu. Kamu memperalatku!”

“Haha… tidak sepenuhnya, Chae. Kamu menyetujui game kecil kita,” ucapku seraya mengacak-acak rambutnya. Kurasakan kedua sudut bibirku terangkat ketika melihatnya menggembungkan pipinya.

Pintu ruangan klub tiba-tiba terbuka, dan The Most Wanted Man, begitu gadis di sampingku ini menyebutnya, masuk seraya mengeluarkan seringai anak kecilnya yang terkenal itu. “Hunchae, sudah selesai?”

Hunchae?

Dahiku mengernyit bingung, sebelum kemudian sudut mataku menangkap senyum lebar Chae Rin. Hum… sepertinya ada yang belum aku tahu di sini…

“Nee. Ayo pulang,” balasnya ceria. Dia lalu mengalihkan pandangannya padaku dan berkata sambil menampilkan tawa kecilnya hingga membentuk dua croissant di mata kucingnya, “Ji Ho, aku setuju denganmu. Foto itu, harus kuakui, sangat bagus. Jadi, aku bisa pulang sekarang kan? Annyeong Ji.”

Ji Yong mengulurkan tangannya pada Chae Rin yang tak perlu waktu lama untuk disambut oleh tangan mungil gadis itu. Tawa kecil itu kian lebar ketika dua manik mata itu bertemu dan Ji Yong mengecup puncak kepalanya. Sesaat kemudian, mereka berjalan menjauh dariku dan ruangan.

Chae Rin, sesaat sebelum mencapai pintu, mengulurkan tangannya ke belakang pinggang Ji Yong, dan membentuk huruf ‘V’ dari jari telunjuk dan tengahnya, ditujukan padaku.

Aku tersenyum selebar-lebarnya kemudian. Begitu pula dengan Chae Rin, walau aku tak bisa melihat ekspresi wajahnya secara langsung.

Mission accomplished.

.

……

“Tidak ada yang tahu bila aku gay. Dan… bagaimana jika aku bukan gay? Will you be my girl?”

Aku menunggu jawaban Chae Rin, tapi sepertinya gadis itu terlalu dalam menghilang dalam kehenyakan. Bagaimana aku harus menggambarkannya? Dia tetap menggemaskan dalam bola matanya yang membola, tapi masih saja menyakitkan. Aku tahu, pada akhirnya, dia tidak akan menjawab pertanyaanku.

Aku tersenyum pahit untuk beberapa nano detik yang tidak mungkin disadarinya, sebelum kemudian…

CKREEKK!!!

Sebuah kamera SLR yang sudah aku atur dengan remote di tanganku mengabadikan peristiwa kecil itu.

Chae Rin tak lagi bisa menutup keterkejutannya sekarang. Dia mendorongku keras dan mengomel dengan nafas memburu, “Yaa!! Apa-apaan kamu ini?! Kamera?! What the—”

Aku menyeringai nakal, cara terbaik untuk menyembunyikan senyum getirku. “Hehe… mian Chae. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak mengabadikan ekspresimu. Itu lucu sekali!”

“Itu tidak lucu, Ji!” gadis itu, seperti biasa, mengerucutkan bibirnya dan membalikkan badannya memunggungiku. Hey, itu bukan cara marah yang keren, Chae!

Tanganku menarik salah satu bahunya untuk kembali menatapku, “A’right, Chae. Serius, kamu menyukai Ji Yong, kan?”

Dia mengangguk pelan.

“I have a lil’ game. Mau bergabung denganku?”

“Oh no. another game? Permainan apalagi ini, Ji?”

Aku mengulum senyum dan berkata, “You’ll love it. Bagaimana kalau… membuat Kwon Ji Yong cemburu?

……

.

Aku mengambil foto yang akan kami ikut sertakan dalam lomba. Fotoku dengan Chae dalam jarak yang hampir tiada. Dengan ekspresi terhenyaknya, dan mimik berharapku, dan terbalut dalam siluet hitam yang terpantul dari jendela rumahku.

Stupid confession, Ji Ho.

Yeah, mungkin sebelumnya memang aku gay, tapi gadis itu merubahku. Bagaimana kalau dia tahu aku bukan gay? Bagaimana kalau dia tahu, pernyataan itu… adalah yang sebenarnya?

Game over.

Kali ini permainan benar-benar berakhir. Permainan Chae Rin dengan Ji Yong, permainanku dengan Chae Rin, dan permainanku sendiri dengan perasaanku.

Sesaat kemudian rokok yang baru saja aku nyalakan sudah berhasil membuat kepulan asap putih dan memenuhi ruangan klub, sebelum akhirnya keluar menuju celah jendela. Mataku menyusuri lalu lalang manusia dari balik kaca jendela, dan menyeringai puas.

Humm… setelah ini, game apalagi yang aku mainkan?

_________________________________________________

– fin –

1st written : June 1, 2012
1st published : July 09, 2012