[CHAPTER11] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • CN Blue Min Hyuk as Richard Kim

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

Author PoV__

“Rich? Mengapa kau baru muncul sekarang ? Kami sangat merindukanmu” Yoojin mempersilakan Richard duduk di ruang tamu. Gadis itu masih tidak percaya bahwa seseorang yang dikiranya tidak akan ditemuinya lagi itu sekarang berada di hadapannya. Pelayan rumah membawakan dua gelas orange jus untuk tamu dan juga nonanya.

“Tidak, aku hanya menunggu waktu yang pas untuk kemari, and this is the right time I guess” Richard menyeruput range Jus nya , kemudian berbicara lagi,

“Noona, Kupikir kau akan sekolah di Jerman?” ia  menyilangkan kaki kirinya di atas kaki kanannya dan menatap Yoojin lekat-lekat.

“Benar. Tapi ini masih tahap test. Aku harus mengikuti serangkaian test untuk masuk di sana, dan minggu depan adalah pengumumannya. Ohya, apakah semua siswa di Jepang sudah kelulusan? Ah Cepat sekali !”

Well, that it is. Kudengar Chiyoon-noona akan melanjutkan ke Universitas Tokyo. Minggu lalu bibi park menghubungiku untuk menitipkan noona selama di Jepang, kebetulan aku memiliki sebuah apartemen yang cukup besar di sana”

“Ah benarkah? Terdengar sangat menyenangkan, syukurlah kalau begitu. Aku tak perlu mengkhawatirkan adikku lagi selama di sana” Keduanya tersenyum. Mata Richard tak lepas dari curtain pembatas ke ruang tengah, seperti sedang mencari sesuatu. Namun sepertinya sesuatu yang diharapkan tak kunjung muncul, ia mendesah panjang.

“Apakah Chiyoon-noona sedang pergi?”

“Ohh!! Aku sampai lupa memberitahumu. Ia sedang mendaki bersama teman-temannya di Muju. Kudengar ia juga bersama Donghae” Richard mematung, ia nampak berfikir sejanak dengan mengelus-elus dahinya. Setahunya, dari dulu noona nya itu tak terlalu akrab dengan dengan Donghae. Namun mengapa sekarang mereka mendaki bersama.

“Tidak. Tidak seperti pikiranmu. Yang mendaki itu orang banyak. Hanya saja, Donghae ikut di rombongan mereka. Kenapa?” Kemudian Richard menggeleng cepat.

They look so close” Gumam Richard, wajahnya menunduk.

“Iya, mereka sangat dekat. Bahkan mereka akan bertunangan minggu depan. Bukankah ini sungguh mendebarkan? Ah aku tak percaya ini ! Aku sungguh bahagia”

Untuk kedua kalinya Richard terkejut, tiba-tiba jantungnya berdebar cepat. Tampak jelas ada perasaan kecewa yang terpancar dari kedua matanya.

Sepertinya banyak hal telah terjadi selama aku di Jepang…

“Ya, Richard kau bertambah 100 kalai lebih tampan. Apakah kau sudah memiliki pacar sekarang ?” Mata Richard menerawang jauh. Meski sekarang ia sedang tertawa, tidak ada yang tahu bahwa hatinya terasa amat sakit.

Chiyoon PoV__

Keesokan harinya,

Satu jam yang lalu kami sudah sampai di kawasan resort, seperti biasa sangat ramai seperti kemarin. Entah apa yang terjadi padaku, yang jelas ada rasa tak senang saat melihat Donghae menerima panggilan telepon dari Jessica . Bahkan dadaku sakit mendengar suaranya yang sabar menjawab setiap pertanyaan gadis itu. Dari pancaran matanya terlihat kasih sayang yang begitu mendalam pada Jessica.

Tuhan, apa yang terjadi padaku? Jangan sampai..

Aku meninggalkannya sendirian dan memilih bergabung dengan yang lain. Kulirik ponselku, berharap adanya kejaiban agar ia hidup seketika. Sepertinya tidak adanya sinyal diatas membuat ponsel ini bekerja lebih keras, sehingga membuat batrenya cepat habis. Ah, seharusnya tadi kumatikan saja ini.

“Aahh aku senang sekali hari ini. Kapan-kapan kita harus merencanakan pendakian di lain waktu. Benar tidak?” Sandy tertawa .

Donghae menghampiri kami, sedangkan aku menoleh kearah lain.

“Teman-teman maaf aku tidak bisa ikut dengan kalian. Aku sudah menyuruh supirku untuk menjemputku karena aku ada sedikit urusan” Donghae berkata dengan ekspresi menyesalnya.

“Ah tidak apa-apa. Pergilah duluan” Semuanya Nampak mempersilakan Donghae duluan. Pria itu kemudian menatapku dan menghampiriku,

Tunggu, mau apa dia

“Chiyoon-ah ikutlah bersamaku. Bukankah rumah kita berdekatan?” Ia menarik tanganku, aku sedikit menolak, namun ia terus membawaku ke mobilnya yang sudah terparkir sejak tadi. Aku menatapnya heran.

“Tungg..” Pinggulku terasa sakit akibat sedikit terlempar di kursi mobilnya. AKu menatapnya kesal.

BRUKK!! Pintu mobil telah tertutup,

“BYEEE!!! Hati-hati yaa” Semuanya melambai, mobil Donghae mulai berjalan.

“Aku duluan teman-teman”

Apa ia hendak berkata sesuatu? Mengapa sikapnya sungguh menyebalkan? Ia menarik tanganku , padahal aku menolak. Kulirik ia yang sedang duduk terdiam di sebelahku, matanya menatap ke luar jendela.

“Donghae-ah? Ada apa denganmu? Mengapa sikapmu sungguh…”

“Chiyoon-ah” ia memotong kalimatku cepat, aku mendengus kesal. Wajahnya terlihat frustasi. Ia tidak langsung mengungkapkan apa maunya, namun lebih memilih untuk bungkam lebih lama. Kutunggu ucapan berikutnya, namun tak kunjung ada.

Apa maunya?

“Apa kau ingin mengatakan sesuatu?” Aku memancingnya dengan pertanyaan. Sikapnya sungguh aneh sejak turun tadi. Ia lebih banyak diam dan terus seperti orang yang kebanyakan pikiran. Dan aku sendiri tak tahu apa yang dikhawatirkannya. Pasti berkaitan dengan Jessica, karena ekspresinya saat menelpon tadi terlihat berbeda dengan sebelumnya.

“Sudah kuputuskan. Setelah kelulusan, aku akan mengikutimu ke Universitas Tokyo”

Well, mengapa aku selalu terkejut di setiap ucapannya? Ini diluar dugaanku, sungguh

“Apa? Apa kau bercanda?” Kataku lirih. Di lain situasi, mungkin saja aku akan senang ia mengatakan itu padaku, tapi sekarang aku butuh alasan yang jelas mengapa ia sampai memiliki rencana tak masuk akal seperti itu.

“Tidak. Aku sama sekali tidak bercanda. Bagaimana bisa aku membiarkanmu tinggal bersama Richard di situasi setelah kita bertunangan?” Suaranya terdengar sedikit meninggi, matanya menatapku tajam. Ia masih tak ingin memandang wajahku.

“Kau, mempedulikannya Donghae-ah?”

“Bagaimana mungkin aku tidak mempedulikanmu, hah??” DEG!!

Aku menatapnya dalam, kemudian membuang nafasku kesal, “Bukankah kau bilang pertunangan kita tak berarti apapun untukmu?”

Aku menarik nafas lebih panjang, “Sejak kau berkata hal itu, kupikir aku bebas melakukan apapun yang kuinginkan”, Kutatap matanya tajam, “Saat itu juga, kau berkata pertunangan ini hanyalah sebuah ikatan, kau tahu, gara-gara ucapanmu, aku berkali-kali meyakinkan diriku bahwa ini hanyalah sandiwara , hanya sebuah kebohongan besar. Sebuah pengharapan besar bagiku, tapi sesuatu yang tak berarti apapun bagimu” Mataku mulai memanas.

Ucapanku melirih, “Lee Donghae-ssi, bagimana bisa setelah semuanya terucap sekarang berkata bahwa kau mempedulikanku?”

Nafasku naik turun, apa ini masalah baginya? Bukankah pertunangan ini tak ada arti apapun untuknya? Aku hanya ingin membukakan matanya, bahwa ucapannya mengenai ‘pertunangan sementara’ ini sudah terpatri dalam ingatanku. Sama artinya dengan , bahwa aku sama sekali tak boleh mengaharapkannya untuk benar-benar menjadi tunanganku. Dan sekarang, ia mencoba berkilah dari ucapannya sendiri ?

“Chiyoon-ah maafkan aku. Aku tak tahu ucapanku tempo hari sangat melukaimu”

“Baiklah , jika ini bukan masalah kepedulian, setidaknya aku tak ingin ada orang salah paham terhadapmu. Selain itu aku tidak ingin ada orang yang beranggapan negative tentang hubungan kita. Sudah kuputuskan, Kau, aku, kita akan melanjutkan di Universitas yang sama. Bukan karena aku peduli, tapi aku hanya ingin menjaga nama baik kita dan orang tua kita. Keputusan ini, tidak ada seorangpun yang bisa mengubahnya. Untuk masalah Jessica, aku akan menemuinya dan menjelaskan padanya”

Aku membisu, aku masih tak percaya apa yang ia utarakan. Sepanjang sisa perjalanan kami lebih memilih untuk diam, hingga akhirnya mobilnya berhenti di pelataran rumahku. Ia turun dan berputar membukakan pintu mobil hendak menurunkan bawaanku.

“Kau tak usah repot-repot Donghae-ah” Jemarinya menyentuh punggung tanganku, kami berpandangan sesaat. Saat itu juga waktu terasa berhenti, yang ada hanya tatapan lembutnya padaku dan jemarinya yang menggenggam tanganku.

Aku tersentak dan langsung melepaskannya kasar. Perasaan aneh ni muncul lagi, aku belum paham perasaan apa ini. Bahkan di tengah kekesalanku akibat perkataannya tadi, aku menyunggingkan senyum tertahan saat melihatnya salah tingkah.

“Aku tidak melakukan apapun. Sekarang masuklah” Ucapannya terbata, ia memegangi tengkuknya dan hendak berpamitan.

“Chiyoon-ah !!” Yoojin menghampiriku, disebelahnya terdapat seorang pria yang tersenyum padaku. Pria itu kuterka sebagai teman lelaki Yoojin. Aku menyunggingkan senyum padanya dan membungkuk sedikit.

“Onni, maafkan aku. Di atas tidak ada sinyal. Kuharap kau tidak memarahiku karena tidak telepon, kau pasti khawatir” Aku menunduk dalam. Aku melirik keareh pria disebelah Yoojin, pandangannya tak lepas dari wajahku. Aku tersenyum padanya lagi, kali ini agak canggung.

“Ya! Sudah lupakan! Aku ingin memberitahumu sesuatu. Ini kejutan” Yoojin merangkulku dan mengajakku ke dalam, tapi kemudian ia berbalik menyadari masih ada seseorang yang berdiri di sebelahku. Donghae mulai beranjak.

“Maaf, noona, aku pamit dulu. Ibu sudah menungguku sejak tadi” Donghae membungkuk dan tersenyum hangat pada Yoojin, kemudian bergantian menatapku.

“Chiyoon-ah, aku pulang dulu” Pamitnya, aku mengangguk kecil,

“Ooh, terimakasih telah mengantarkan Chiyoon. Hati-hati di jalan, Donghae-ah” Ucap Yoojin sembari melambai kearahnya. Donghae berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Yoojin membantuku membawa tasku sambil menggiringku masuk ke dalam.

“Chiyoon-ah gara-gara tidak ada sinyal, kau tidak bisa mengangkat teleponku. Kau tahu padahal Richard datang”

“Richard? Adik sepupu kita yang gemuk itu ?” Aku terkejut, teringat pada pria yang berdiri menyambutku tadi, pria yang tadi sama sekali bertolak belakang dengan apa yang kuucapkan. Memang Nampak familiar di ingatanku. Tapi,

“Apakah, eehh yang tadi itu Richard ,onni ?” Yoojin mengangguk cepat.

 

Author PoV

Donghae tak bisa berkonsentrasi di dalam mobil. Ingatannya melayang di kejadian tadi. Tatapan seorang pria yang menyambut Chiyoon tadi cukup menjelaskan bahwa ia benar-benar bocah yang dulu amat membencinya.

“Chiyoon-ah gara-gara tidak ada sinyal, kau tidak bisa mengangkat teleponku. Kau tahu padahal Richard datang”

“Richard? Adik sepupu kita yang gemuk itu ?”

Donghae masih tak percaya. Bagaimana bisa Richard datang di tengah-tengah hubungannya dan Chiyoon yang mulai berkembang. Setidaknya, kali ini Chiyoon telah menganggap Donghae sebagai seorang pria , selain Junso tentunya.

Untuk apa ia kemari ? Sungguh mengesalkan !

Donghae menyentakkan kepalan tangannya pada kursi di sebelahnya,

“Tuan, kau tidak apa-apa?”

~~~

“Dasar ! mengapa kau bersikap seolah orang asing didepanku?” Richard memeluk Chiyoon hangat. Sedangkan gadis itu justru menepuk keras punggung Richard karena kesal. Richard hanya tertawa, Ia menarik nafas dalam, mengingat kembali wangi tubuh kakak yang sudah lama ia rindukan.

“Aku sedih karena kau tak mengenaliku , noona” Alis Chiyoon berkerut, Ia melepas pelukannya.

“Tentu saja aku tak mengenalimu. Kau masih ingat dirimu yang dulu? Kau itu sangat gemuk, tahu? Bahkan bekal makan siangku pun selalu kurelakan dimakan olehmu. Selain gemuk, kau juga rakus, dan sangat bandel” Mereka tertawa bersama. Andaikan Chiyoon mengetahui bahwa ia melakukannya demi untuk menarik perhatiannya. Agar Chiyoon hanya memperhatikannya saja, dan tidak yang lain.

“Demi Tuhan, apakah aku seburuk itu?” Chiyoon hanya melengos.

“Tunggu dulu. Sejak kapan Kau,… memanggilku nuna?”

”Ya! Noona, Tentu saja aku harus memanggilmu begitu. Kau kan kakakku. Baiklah, kuakui selama ini aku amat nakal. I’m sorry my pretty noona” Richard merangkul kepala Chiyoon dan dihimpitkan ke dada bidangnya walaupun gadis itu meronta, hal ini seperti kebiasaanya sejak kecil dulu. Sedangkan di atas tangga, Yoojin memperhatikan keakraban adiknya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Darimana kau mendapatkan jurus gombal seperti itu, Rich? Ash, kau memanggilku nuna tapi kau sama sekali tidak menghormatiku sebagai kakakmu” Chiyoon berkata sambil menuju ke kamarnya , dan Richard membuntutinya di belakang.

Richard mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Kamar ini masih sama sejak dulu. Kamar dengan desain warna pink dan putih. Bertebaran boneka sapi dimana-mana. Boneka sapi, sofa berbentuk badan sapi, karpet, tempat tisu, sampai peralatan tulis juga bergambar sapi. Ia teringat kerap kali menghabiskan waktunya mengerjakan PR sekolah di kamar ini bersama Chiyoon.

“Nuna, yang jelas kau harus ingat. Usia kita hanya terpaut 2 bulan. Itupun aku yang lebih duluan lahir” Ia memandang Chiyoon yang sibuk memberesi barang-barang pendakiannya kemarin. Chiyoon menoleh, wajahnya cemberut.

Mwo? Dasar bocah nakal” Chiyoon yang tak tahan terus diejek melayangkan sebuah bantal dan melemparkannya dengan sangat kuat ke arah Richard yang langsung terjengkang. Ia masih saja tertawa sambil mengejek.

Chiyoon tertawa lalu mengangkat tangannya dan bersiap mengacak rambut Richard, namun Richard malah justru menghindar duluan. Lelaki itu tertawa terbahak sambil berlari. Jadilah mereka kejar-kejaran di dalam kamar.

“Baiklah aku menyerah. Sekarang , acaklah rambutku sesuka hatimu!” Chiyoon tersenyum lebar, kemudian menunaikan tugasanya dengan senang hati. Ia mengacak rambut rapih Richard sambil tertawa puas. Richard yang tak terima juga membalas perlakuan nuna-nya hingga mereka jatuh terguling di sofa.

Mereka terjatuh dengan posisi yang sungguh diluar dugaan. Chiyoon berada di bawah dan Richard di atasnya. Namun bukannya berhenti, mereka justru melanjutkan perkelahian konyol ini hingga akhirnya mereka kelelahan sendiri.

Richard berdiri dan merapikan bajunya. Sedangkan Chiyoon menuju ke kamar mandi. Richard meraih sesuatu dari atas meja, sebuah pulpen dengan hiasan mungil berbentuk sapi diatasnya. Ia terkekeh sejenak .

“Ck, binatang jelek seperti ini, mengapa kau sangat menyukainya sih?”

“Ya! Jangan sentuh sembarangan barangku, Rich. Awas saja jika ada yang hilang” Chiyoon berteriak dari dalam kamar mandi.

“Tenanglah, aku tak selera dengan benda aneh ini” Ia menaruh kembali posisi pulpen ke tempatnya yang semula. Kemudian pandangannya beralih kearah benda berbentuk buku , semacam jurnal. Dengan tulisan Chiyoon di sudut atasnya.

My Journal

Ia menyipitkan matanya, sepertinya terdapat sesuatu yang mengganjal di dalamnya. Sebuah kertas yang terselip di sela-sela buku jurnalnya. Ia iseng membukanya.

“Apa ini?” Matanya membulat.

Mungkin ini akan terlihat aneh, tapi inilah yang sekarang kurasakan. Aku merasa kesal setiap kali ia berdekatan dengan Jessica.

Richard menelan ludah. Setahunya, dari dulu Chiyoon menyukai Junso.

Apakah Jessica itu kekasih Junso ?

Tanpa sepengetahuan Richard, Chiyoon keluar dari kamar mandi dan terkejut karena Richard sedang memegang Jurnal hariannya.

“Rich, sedang apa kau?”

 

To be Continued

*

Annyong ? mmakcih stiil wait my fict ya dear J. Buat yang penasaran darimana aku kepikiran bikin fict bertema perjodoan. Sebenarnya ide terlintas dari kisah teman email Madhit. Park Chiyoon. Thankyou darl. Meski dia ga paham bahasa Indonesia. Next time aku pengen bikin yang versi englishnya special buat dia , hhha J

At least, coment nya cyiiint cyinnt??