Memories

Author                                                  : Dewii Aprilya

Cast

  • Marcus – Cho Kyuhyun
  • Andrew – Choi Siwon
  • Bryan – Kim Kibum
  • Angelina Kim

————————————————————————————————————————————

‘Meskipun menyakitkan… aku tidak ingin melupakannya’

————————————————————————————————————————————–

Semburat jingga menghias langit malam kota Paris, bayangan hitam sesosok namja tinggi berdiri di dek kapal dengan kedua tangannya tersimpan dengan rapi didalam kedua saku celananya. Sang Pangeran hanya diam, berharap bahwa ketika dia memejamkan matanya maka cahaya jingga sang mentari dapat membawa pergi beban yang menghimpitnya. Dia sadar betul seberapa besar tanggung jawab yang sekarang berada di pundaknya, tanggung jawab terhadap semua Rakyat South.

Dia tidak sekuat Andrew, yang selalu bisa mempertanggung jawabkan setiap perbuatannya dengan menjadi Putera Mahkota yang dicintai rakyat, dia juga tidak sekuat Bryan yang selalu bisa membanggakan Ayahanda mereka dengan segudang perstasi. Dia hanyalah si Bungsu Pangeran Marcus yang selalu membuat Raja dan ratu pusing dengan segala tindakan nakalnya. Marcus tidak pernah meminta pada sang dewa agar dia dilahirkan dari keluarga Kerajaan, tapi kenyataannya takdir membebankan kepercayaan itu padaya.

Dan sekarang disinilah Dia, berdiri disebuah kapal yang jauh dari tanah kelahirannya dan mencoba kabur dari kejaran para pengawal kerajaan atas perintah Raja dan Ratu. Seseorang melangkah dengan perlahan mendekatinya.

“Yang Mulia… Ini waktunya kita pulang ke Seoul..” gumam Dennis, Pengawal pribadi nya yang hanya berbeda beberapa tahun darinya. Marcus menghormati Dennis seperti dia menghormati kedua Hyungnya, Andrew dan Bryan.

“Tidak usah seformal itu Hyung… Disini hanya ada kau dan aku.” jawab Marcus dengan senyum hangatnya. Dennis mengangguk kemudian mengangkat kepalanya menatap langsung pangeran nakal ini. Sudah 8 Tahun dia mendampingin Marcus dan menyelesaikan segala masalah yang dibuatnya, termasuk kaburdari istana.

Marcus masih bergeming di tempatnya, Dennis berdiri di sampingnya dan menatap lurus laut yang mulai berwarna agak gelap. “Ini sudah setahun lebih Pangeran kabur dari istana… semua keluarga kerajaan beserta rakyat  sudah sangat rindu pada pangeran..” gumam Dennis. Marcus tersenyum mencibir kemudia berkata.

“Bukankah selama ini kau melaporkan pada Andrew dan Bryan setiap kegiatanku” jawab Marcus. Dennis ikut tersenyum.

“Pangeran pasti menyadari bahwa Putera Mahkota dan Pangeran Bryan hanya mengkhawatirkan keadaan Pangeran.” Jawan Dennis.

“Untuk apa mereka khawatir. Bukankah ada Dennis Park disampingku, namja pintar, cerdas, tampan, bahkan jago bela diri yang selalu mengekoriku..”

“Yang Mulia pangeran terlalu mengujiku..”

“arasso.. Katakan pada kedua Hyungku bahwa aku akan pulang minggu depan, dunia ini terasa begitu membosankan sekarang..” jawab Marcus. Dennis tersenyum senang lalu menunduk dan melangkah pergi.

Dennis menghentikan langkahnya saat mendengar perkataan yang keluar dari bibir Pangeran Marcus. “Aku selalu merasa ada yang hilang Hyung… seberapa keraspun aku mencoba mencari bagian yang hilang itu tapi aku selalu gagal. Aku berkeliling dunia berharap bahwa hatiku akan sedikit tenang, tapi selalu gagal dan malah membuatnya semakin resah..” Dennis mendengar helaan nafas pangerannya. “Kau mendampingiku selama hampir 8 tahun, apakah kau tahu bagian yang hilang itu, Hyung”

Raut wajah Dennis seketika memucat, tangannya gemetar jika mengingat suatu peristiwa yang dialami Pangerannya beberapa tahun silam, sebuah peristiwa yang selalu berusaha dirahasiakan oleh keluarga kerajaan, dan karena kejadian itulah Putera Mahkota Andrew dan Pangeran Bryan selalu menghkhawatirkan dongsaeng mereka. Dia menhembuskan nafas pelan kemudian menajwab pertayaan pangerannya. “Mianhe Pangeran, saya tidak tahu..” katanya berbohong. Kemudian melangkah meninggalkan pangera Marcus.

Marcus menghela nafas panjang, mencoba mengurangi sebuah rasa sakit yang entah mengapa tiba-tiba saja menjalar di ulu hatinya. Ada yang hilang, dia tahu itu. tapi faktanya dia tidak menyadari dimana letak bagian yang hilang itu, bahkan hatinya juga tidak mampu menjawab setiap rasa sakit yang dirasakannya setiap kali dia termenung sendiri.

—————————————————————————————————————————————-

 

Andrew terdiam setelah menerima telpon dari Dennis. Dia menghela nafas panjang, sebersit kekhawatiran langsung menjalar di kepalanya, takut akan kenyataan masa lalu yang siap menghantam adik kesayangannya, Pangeran Marcus. Bryan masuk dan langsung duduk dihadapan Hyungnya dengan menggigit sepotoong apel.

“Hyungnim, kenapa kau memanggilku??” Tanya Bryan.

“Dennis baru saja menghubungiku, katanya Marcus akan pulang minggu depan.” Kata Andrew. Bryan tersenyum senang.

“Bukankah ini berita bagus, Hyung??” Tanya Bryan lalu menggigit kembali apel di tangannya.

“Aku tahu, tapi ada yang lebih pentin dari kepulangan Marcus.. Sepertinya Marcus mulai mengingat kejadian 2 tahun lalu..” kata Andrew dengan nada khawatir. Bryan terkejut dan langsung menjatuhkan apel yang dipegngnya.

“Bagaimana bisa?? Dokter kerajaan sudah memastikan pada Ayahanda bahwa Marc tidak akan mengingat kejadian itu…” kata Bryan.

“Ini bukan hanya tentang Ingatannya, Bryan. Tapi ini masalah hatinya… Otaknya mungkin bisa melupakan kenangannya, tapi bagaimana dengan hatinya. Ini bukanlah hal yang bisa diatur oleh manusia..” kata Andrew. Namja itu menghela nafasa panjang.

“Bagaimana dengan Puteri Angelina??” Tanya Bryan hati-hati.

“Kudengan dia akan segera menyelenggarakan pertunangannya. Aku tidak ingin kejadian 2 tahun lalu terulang kembali… ini sangat berat untuk Marc dan Angel” ucapnya dengan nada tegang.

“Aku tahu Hyungnim…. Aku masih ingat bagaimana penderitaan Marcus saat itu. Aku bahkan merasa kehilangan sosok iblis kita. Melupakan semuanya memang jalan yang terbaik..”

“tapi sampai kapan kita bisa menyembunyikan semuanya dari Marc. Suatu saat nanti dia akan mengingatnya, sebesar apapun usaha Ayahanda untuk menghapus memori Marc…” gumam Andrew.  Bryan mengangguk menyetujui.

“Tidak ada yang bisa kita lakukan, hyung. North dan South tidak akan pernah bisa disatukan. Marcus tidak mungkin menikahi Puteri dari North, itu akan membawa banyak bencana untuk kerajaan, seberapa dalampun cinta mereka” kata Bryan.

———————————————————————————————————————————–

 

Angelina mentap kosong hamparan sungai Han yang ada di depannya, entah apa yang diharapkannya muncul dari sungai tersebut . Dibelakangnya 5 orang pengawal berpakaian musim dingin mengawasinya denga seksama. Bagaimana tidak, seorang Puteri Kerajaan North sedang berada di pusat peradaban musuh besar kerajaan mereka, South. Gadis itu tidak lagi peduli tentang hubunga politik kedua Negara tersebut karena dia sendiri sibuk dengan pikirannya, bagaimana bisa dia begitu nyaman di tempat itu seolah-olah dia selalu berkunjung ke tempat itu, padahal ini yang pertama kali baginya berkunjung ke Seoul.

“Tua Puteri, Waktunya pulang..” gumam seorang wanita tua yang dari dulu menjadi pengasuhnya. Angel mengangguk kemudian beranjak meninggalkan tempat itu diikuti oleh pengawalnya.

Angel mengeratkan coatnya serta memperbaiki posisi syal yang dipakainya. Gadis itu memasuki mobil sedan dengan begitu anggun. Ditatapnya ponselnya dengan wallpaper fotonya bersama Adiknya yang kelak akan menggantikan Ayahnya menjadi Raja North.

“Ahjumma… Aku ingin mengunjungi guruku di Universitas Sorbonne di Perancis..” kata gadis itu pelan. Sesungguhnya mengunjungi gurunya di Paris hanyalah kamuflase, dia sungguh ingin lari dari kenyataan bahwa dia harus bertunangan dengan namja yang bahkan tidak pernah dikenalnya. Selain itu dia ingin menjawab sebuah pertanyaan yang sejak dulu mengganjal di dalam kepalanya, kenapa dia tidak bisa mengingat apapun tentang Universitas Sorbonne, padahal yang di tahu bahwa dia menghabiskan 3 tahunnya untuk kuliah di tempat itu.

Wanita tua yang dipanggil Ahjumma itu sedikit tersentak mendengar pernyataan sang Puteri, mendadak keringat dingin membasahi dahinya, bagaimana jika kenyataan 2 tahun lalu kembali menyeruak di kepala sang Puteri.

“Tapi Tuan Puteri, Yang Mulia Ratu sudah memerintahkan kita untuk kembali ke North. Kita harus mempersipakan pertunangan tua Puteri dengan Putera Perdana Menteri Lee..” kata Pengasuhnya tampa mengurangi rasa hormatnya.

Angel tersenyum sinis. “Bukankah semuanya telah diatur oleh Kerajaan?? Aku samasekali tidak pernah diberikan pilihan dan hanya menjalani apa yang diperintahka oleh Ayahanda”

“Yang Mulia”

“Sudahlah… sekarang juga pesankan tiket untuk ke Paris. Kalau bisa malam ini agar besok aku bisa tiba di sana, arasso??” kata Angel dengan nada tinggi. Pengasuhnya mengangguk kemudian segera melaksanakan perintah sang Puteri.

**********

 

Andrew berjalan memasuki ruang kerja Raja, dengan langkah pelan dia berdiri dihadapan raja kemudian member hormat. Andrew duduk di sofa berhadapan dengan Ayahandanya.

“Andrew, bagaimana keadaan adikmu??” Tanya namja tua itu.

“Marc sehat Abouji… Rencananya minggu depan dia akan pulang ke Seoul..” jawan Andrew tampa mengurangi rasa hormatnya.  Raja menghela nafas panjang….

“kau tahu Andrew.. aku takut jika suatu saat nanti Marc akan membenciku, karena aku telah menghapus memori yang mungkin paling indah di hidupnya…” kata suara berat itu, terdengar helaan nafas berat yang keluar dari hidungnya. “Ini adalah kesalahanku. Dia menjalani operasi menyakitkan itu dan kehilangan memorinya karena dia mempunyai Ayah seorang Raja…”

“Abouji..”

“Aku merasa bahwa waktuku sudah dekat dan sebentar lagi aku akan menemui Tuhan.. Apa yang akan kukatakan kelak?? Haruskah aku berkata bahwa aku adalah seorag Ayah yang dengan teganya mencuci otak puteranya sendiri?”

“Abouji tahu bahwa itu tidak benar… Puteri Angelina dan Marc memang harus menjalani operasi untuk menghilangkan sebagian ingatan mereka, tapi itu sepenuhnya bukan kesalahan Abouji.  …” jelas Andrew. Namja berlesung pipit itu lalu bergumam. “Seluruh dunia tahu, bahwa North dan South selamanya tidak akan pernah bisa bersatu.. Kebencian sudaah tertanam begitu dalam di hati masyarakat dan pemerintahannya, memaksakan pernikahan Marc dan Puteri Angelina sama saja kita mencoba memicu terjadi peperangan di dunia Negara besar ini..”

“Andrew.. Kelak kau akan menggantikanku sebagai pemimpin negeri ini. Kau harus ingat satu hal, kita tidak boleh putus asa. Seperti yang selalu dikatakan Kakekmu, North da South bersaudara.. kelak aka nada masa dimana kita bisa hidup berdampingan tampa disertai rasa takut akan dikhianati…” kata Raja, Namja tua itu memegang bahu puteranya seolah memberinya semangat untuk terus memperjuangkan perdamaian.

“Sebagai seorang Raja, aku ingin meminta satu hal padamu, Nak..” kata sang Raja.

“Apa itu Abouji..”

“kelak jika nanti kau menjadi Raja, jaga keluarga kita dan Rakyat South.. Hanya itu yang perlu kau lakukan, arachi?” Tanyanya.

Andrew mengangguk lalu berkata dengan nada tegas. “Aracchi, Abouji..”

**********

Marcus berjalan menyusuri trotoar yang ada di depan Universitas Sorbonne sore itu, setelah hampir seminngu berkeliling kota Paris, akhirnya dia bisa dengan leluasa berkeliling tempatnya pernah menuntut ilmu itu. Dia beruntung karean Dennis sedang pergi menemui Bryan yang juga datang ke Paris yang tujuannya sudah bisa ditebak-mencari adiknya yang sudah 3 tahun tidak dilihatnya-.

Namja tinggi itu melangkahkan kakinya memasuki gerban besar yang sangat bersejarah tersebut, sebuah senyuman terukir mains di sudt bibirnya saat sebuaha ingatan melintas di kepalanya, setidaknya ada hal yang bisa diingatnya dari tempat itu, terlalu sedikit malah jika dibandingkan dengan lamanya rentang waktu yang dilewatinya di Paris.

Setiap mata yang memandangnya akan takjub melihat kesempurnaan lelaki ini, tubuh tinggi dengan body atletis, wajah tampan, ditambah dengan setelan mahal yang terlihat begitu elegan di badannya.

Deg…deg…deg

Marcus menghentikan langkahnya ketiak secara tiba-tiba jantungnya berdeta cepat, dia menyentuh dadanya kemudian termenung menikmati debaran jantungnya yang berdetak begitu cepat. Marcus memejamkan matanya seolah merindukan debaran hangat ini. Mendadak semuanya menjadi berjalan begitu lambat saat mataya menangkap sesosok yeoja yang beridiri tidak jauh darinya. Yeoja itu membentakan kedua tangannya seolah menikmati suara langkah kaki para mahasiswa.

Sebuah perasaan aneh langsung menyusup ke dalam sendi hatinya. Perasaan rindu yang membuatnya seolah ingin berlari dan memeluk gadis itu, dan disaat bersamaan rasa sakit menjalar ke ulu hatinya. Marcus yakin bahwa dia tidak mengenal yeoja itu, tapi mengapa hatinya seolah berkata sebaliknya. Semuanya menjadi begitu aneh saat gadis itu berbalik dan tatapa mereka bertemu. Dunia seolah beepusat pada kedua orang yang hanya berpisah beberapa meter itu.

Tataapan keduanya terkunci seolah di dunia ini hanya ada mereka berdua. Baik Marc ataupun Angel tidak lagi mempedulikan suara langkah kaki para mahasisawa yang berjalan cepat diantara mereka berdua. Keduanya sibuk menata sebuah perasaan rindu sekaligus rasa sakit yang melanda hatinya. Entah sejak kapan sebuah cairan bening mengalir dari mata bulat Angel sebagai ungkapan betapa besar dorongan dari dalam dirinya untuk berlari dan memeluk lelaki asing itu, tapi akalnya seolah melarangnya karena faktanya Angel tidak mengenal namja tinggi itu.

Marcus membisu, mencoba menggali kembali memori dalam kapalanya tentang gadis yang tiba-tiba membuat jantungnya berdetak cepat. Hal yang sama juga dilakukan Angel, gadis itu menyentuh kepalanya yang mulai terasa sakit saat sekelabat memori yang masih buram berputar seperti roll film di kepalnya. Marcus berjalan mempersempit jarak diantara mereka berdua, langkahnya dipercepat saat melihat Angel menahan sakit sambil memegang kepalanya. Tiba-tiba saja rasa takut kembali menghimpit dadanya, Marc takut jika dia tidak bisa melihat gadis itu untuk kedua kalinya.

Marcus menghentikan langkahnya saat tangannya ditarik oleh seseorang. Marc berbalik dan mendapati Bryan menatapnya tajam. “Kita Pulang!! Kau sudah terlalu lam bermain-main dengan hidupmu…”.

“Chakkaman Hyung. Aku harus menolong yeoja itu… Dia sepertinya kesakitan..” kata Marcus dengan nada memohon mencoba meyakinkan Hyungnya.

“Andweii.. kau lihat?? Seseorang sudah menolongnya dan membawanya pergi. Kau juga harus pulang ke Seoul sekarang juag..” kata Bryan. Marc melepaskan tangannya dan berbalik menatap kepergian Angel yang sudah jatuh pingsan, untung saja seorang lelaki berjas beserta seorang wanita tua tampak menggendongnya dan membawanya pergi. Marcus meraba dadanya, jantungnya masih berdetak cepat.

Marcus memutuskan untuk menuruti perkataan Hyungnya, tidak ada gunanya berdebat dengan Bryan. Meskipun begitu, dia akhirnya menyadari satuhal. Ada sebuah rahasia yang disembunyikan darinya, sebuah rahasia yang berhubungan dengan ‘bagiannya yang hilang’ dan namja itu sudah memutuskan untuk mencari tahu semuanya.

TBC

—————————————————————————————————————————————-

Annyeong Haseyo!!! #Bow

Author muncul lagi dengan FF terbaru yang sedikit nyasar entah kemana*LOL*.
Meskipin begitu, ini merupakan hasil kerja kerasku dengan harapan bahwa readers akan menyukai karya saya ini,,,
Oh iya, Author bakalan lanjutin FF ini kalau ternyata responnya bagus, tapi kalau sepi dn komentarnya hanya segelintir saja, mungkin nggak bakalan saya lanjutin…

Karena itu, kalau readers suka, please komentnya biar saya tahu bagaiamana respon pembaca..!!

Kamsahamnida!!

Ps: Mian kalau agak sedikit maksa… (~_^)