Title: Blue Crystal

Author: Zola Kharisa

Cast: Park Hyo-Ra (OC), Cho Kyuhyun, Other Cast

Genre: Romance, Fantasy, AU

Rating: PG-16

Length: Oneshoot

Ini FF pertama yang aku kirim kesini. Kunjungi juga blog pribadiku di http://zolakharisa.wordpress.com. FF ini juga udah pernah dipublish di readfanfiction.wordpress.com. Oke, selamat membaca:D

*****

AUTHOR’S POV

“Bagaimana bisa gadis itu? Yang benar saja.”

“Penampilannya sangatlah biasa. Apa benar dia orangnya?”

“Aku harap semuanya hanya rumor semata.”

“April Mop sudah lewat! Dan ini benar-benar tidak lucu.”

“Siapa sih gadis yang berani seperti itu? Ah, itu kah orangnya? Oh, Tuhan.”

“Menggunakan cara apa sih gadis itu? Cantik tidak. Sedikit manis sih… tapi, bagaimana pun dipikirkan, itu sangatlah tetap tidak masuk akal.”

“Dia gadis bermarga Park bukan? Bukankah keluarganya adalah salah satu pemilik perusahaan terbesar di Korea? Oh, aku tahu sekarang. Pasti ia menggunakan koneksi keluarganya untuk mendapatkan itu.”

Gadis itu membuka mata dari tidurnya yang tidak nyaman. Sekelebat mimpi buruk itu kembali menghantuinya. Ia beranjak dari tidurnya dan mendudukkan tubuhnya seraya menyenderkan punggungnya pada dashboard tempat tidur.

“Siapa? Kenapa?” gadis itu bergumam tidak jelas. Ia mencoba menormalkan detak jantungnya yang sedari tadi terasa berdetak dengan tidak normal. Berdetak terlalu cepat.

“Itu hanya mimpi buruk Park Hyo-Ra. Kau tidak perlu memikirkannya.” Gadis yang bernama Park Hyo-Ra itu memejamkan matanya perlahan. Mencoba menenangkan dirinya sendiri dari pikiran-pikiran buruk mengenai mimpi itu.

Bagaimana kalau…

Gadis itu kembali membuka matanya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya—berharap bisa mengusir kemungkinan hal buruk yang mengganggu pikirannya. Kemungkinan tentang mimpi itu.

Gadis itu melirik jam dinding yang berada di kamarnya. “Aigoo, sudah jam 6 pagi? Aish, aku bisa terlambat!”

Dengan satu gerakan cepat, gadis itu beranjak dari tempat tidurnya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi.

***

PARK HYO-RA’S POV

            Aku merasakan orang-orang disekelilingku sedang melayangkan tatapannya padaku. Padahal baru saja tidak lebih dari lima menit yang lalu aku sampai di kampus. Aku berjalan terus sampai tiba di koridor dan perasaan tidak nyaman itu kembali menghampiriku. Ada apa sebenarnya?

Aku terus berjalan tanpa sedikit pun mengacuhkan orang-orang disekelilingku. Kini pandanganku terfokus pada sekumpulan orang-orang yang tengah berkerumun. Dengan sesegera mungkin, aku menghampiri kerumunan itu.

“Permisi, ada ap—“ ucapanku terhenti begitu saja ketika pandanganku tertuju pada apa yang sedang orang-orang itu ributkan. Sebuah papan panjang berwarna putih, mading kampus. Tapi bukan papan-panjang-putih itu yang menyita perhatianku, namun lebih kepada beberapa lembar foto yang dipasang pada papan-panjang-putih itu. Foto-foto yang dicetak dengan jelas dengan salah satu objek yang terdapat dalam foto itu adalah… aku.

Bagaimana mungkin?

Aku bisa melihat foto-fotoku tengah bersama seorang namja yang amat aku kenal. Lee Donghae. Dan difoto itu—entah siapa yang memasangnya—terlihat dengan jelas ketika Donghae Oppa dan aku tertawa bersama. Bahkan ada pula ketika Donghae Oppa menolongku ketika aku hampir terjatuh akibat tersandung dan dengan pintarnya fotografer-yang-aku-tidak-tahu-siapa-namanya itu membuatnya terlihat seolah-olah Donghae Oppa tengah memelukku.

Dan yang aku sangat tahu pasti sekarang, orang-orang di kampus terlebih para yeoja tidak ada yang tidak mengenal sosok seorang Lee Donghae. Siapa yang tidak mengenalnya? Tampan, baik hati, dan salah satu mahasiswa terbaik di jurusan musik. Dan bagaimana jadinya jika ia ketahuan pergi bersama seorang gadis berpenampilan sangat biasa dan tidak populer sepertiku?

Apalagi dalam foto-foto itu, sang fotografer dengan handalnya mengambil scene dimana orang-orang akan berpikir yang tidak-tidak tentang kami—ralat, aku.

“Bagaimana bisa gadis itu? Yang benar saja.”

Deg.

“Hei, gadis itu mirip sekali dengan gadis yang berada difoto.”

Deg.

“Penampilannya sangatlah biasa. Apa benar dia orangnya?”

Sekelebat potongan-potongan dalam mimpi burukku kembali menyeruak dalam pikiranku. Aku masih tidak bergerak dari tempatku berdiri. Pandanganku seakan-akan benar-benar terlihat kosong. Aku bisa merasakan orang-orang tengah melayangkan fokus matanya terhadapku. Terlebih pada para yeoja yang tergabung dalam Donghae Fans Club yang tentu saja bukan Donghae Oppa yang membuatnya.

“Bisa kau jelaskan apa ini?” seorang yeoja berwajah cantik namun terlihat mengintimidasi itu menghampiriku sambil menunjukkan selembar foto tepat di depan wajahku.

“Itu—“

“Bagaimana bisa kau pergi bersama Donghae-ssi? Sedangkan aku yang jauh lebih cantik darimu saja bahkan tidak pernah pergi bersamanya.” Sela yeoja itu sambil menatapku sinis sedangkan aku hanya bisa menundukkan kepala. Pabo.

April Mop sudah lewat! Dan ini benar-benar tidak lucu.” Seorang yeoja lagi dengan rambut sebahunya menghampiriku dan menatapku tak kalah sinis.

Aku menghela nafas panjang. “Kalian salah paham. Donghae Oppa adalah sepupuku.”

Dalam sekejap, mereka langsung membulatkan matanya. “Jangan bercanda! Marga Donghae adalah Lee, sedangkan kau adalah Park!” yeoja berambut sebahu itu kini semakin mendekat ke arahku. Aku merasa ada yang sedikit ganjil, tapi apa?

Aku menghela nafas lagi. “Donghae Oppa memang sepupuku. Lebih tepatnya ia adalah keponakan dari Eommaku, Eomma tiriku.”

Kali ini mereka menghilangkan ‘sedikit’ tatapan sinisnya. Walaupun masih dengan berkacak pinggang.

“Jika kau berbohong, maka kami tidak akan menjamin kau akan bebas untuk kedua kalinya. Camkan itu!” seorang yeoja lagi dengan rambut panjang berwarna hitamnya menatapku tajam lalu dengan cepat melewatiku dengan kasar.

“Benar apa kata Hae-Ra, ingat itu!” ujar yeoja berambut sebahu itu lagi dengan nada memperingatkan. Seketika itu juga ia dan gerombolannya pergi menjauh dari tempatku berdiri. Kerumunan orang yang juga ‘menonton gratis’ itu pun lama kelamaan mulai pergi kembali pada kegiatan masing-masing.

Aku menghela nafas lega. “Setidaknya… aku tidak berbohong.”

***

            “Akhirnya…” aku bergumam pelan. Ini adalah kelas terakhirku sebelum esok kampus akan diliburkan untuk menyambut awal musim dingin. Entah mengapa perasaan lega bercampur dengan bahagia menghinggapi diriku. Padahal justru selama ini aku sangat membenci musim dingin. Bukan, bukan karena aku tidak suka dengan efek dingin yang ditimbulkan. Tapi karena…

“Kau belum pulang Hyo-Ra~ah?” aku menoleh ke samping dan mendapati Hye-Ri, salah satu teman yang paling dekat denganku sekaligus yang selalu mendukungku jika aku merasa sedang down.

Ani, aku mau ke perpustakaan sebentar Hye-Ri~ah. Kau sendiri?” ujarku seraya merapatkan mantel yang aku gunakan ketika udara dingin berhembus.

“Oh, aku sedang menunggu Jungsoo Oppa Hyo-Ra~ah. Dia berjanji akan menjemputku sore ini.” Hye-Ri tersenyum simpul, menunjukkan kalau ia terlihat senang.

Aku mengangguk-anggukkan kepala. “Baik lah. Kalau begitu, aku duluan ya Hye-Ri~ah. Sudah sore, aku takut perpustakaan sekolah tutup.” Ujarku seraya melambaikan tanganku dan berjalan menjauh tanpa menunggu jawaban Hye-Ri.

***

“Jangan lama-lama ya. Sebentar lagi perpustakaan akan ditutup.” Ucap seorang Ahjussi ramah di dalam perpustakaan itu memberi tahuku. Aku pun menganggukkan kepala tanda mengiyakan.

Sebenarnya, aku pergi ke perpustakaan untuk meminjam beberapa buku matematika yang aku butuhkan untuk membantuku menyelesaikan tugas yang diberikan Choi Seonsaengnim untuk latihan selama liburan musim dingin.

“Satu… dua… apa ini?” mataku tidak sengaja menangkap sebuah buku tua yang berada di antara deretan buku-buku matematika yang sama sekali kondisinya jauh berbeda dengan buku tua itu. Dengan sedikit ragu dan penasaran, aku pun mengambil buku tua itu dari rak.

Aku mengamati perlahan buku tua yang bersampul warna biru itu. Mataku mulai meneliti setiap lekuk buku tua itu. Tidak ada yang spesial, hanya saja buku ini tidak memiliki judul atau pun nama penulis disana.

“Buku apa ini?” aku mengernyit heran. Dengan sedikit pertimbangan, aku pun mulai membuka perlahan halaman pertama dalam buku itu.

Kosong? Aku pun mulai membuka lagi halaman selanjutnya, berharap bisa mendapatkan jawaban. Namun sepertinya harapanku sia-sia, karena ketika aku membuka halaman demi halaman selanjutnya, yang terlihat masihlah tetap sama, kosong.

Agassi, sudahkah anda selesai? Perpustakaan akan kami tutup.” Aku tersentak dari lamunanku sesaat dan menoleh pada Ahjussi yang tadi kutemui.

“Oh, ya, sudah.” Ucapku tergagap sambil tersenyum tipis.

“Baik lah. Serahkan saja kartu perpustakaanmu, kau bisa mengatakan dan mengembalikan apa yang kau pinjam nanti ketika liburan awal musim dingin telah selesai. Lebih baik sekarang kau pulang Agassi, hari sudah mau menjelang petang.” Ahjussi itu memperingatiku dengan ramah dan aku menganggukkan kepala seraya menghampirinya dan memberikan kartu perpustakaanku itu.

Gamsahamnida, Ahjussi.

***

            Malam ini aku merasa ada perasaan dingin sekaligus hangat yang menyelimuti diriku. Kulirik jam beker yang tepat berada di atas meja samping tempat tidurku.

“Sudah jam 12 malam tapi aku belum juga mengantuk?” gumamku sambil mengerutkan keningku heran. Tidak biasanya aku belum tidur selarut ini. Biasanya, pukul 10 malam pun aku sudah akan terlelap. Tapi ini?

Pikiranku juga tidak bisa fokus. Sedari tadi, aku selalu melirik pada buku tua—yang pada akhirnya kubawa pulang juga itu. Entah ada perasaan apa yang membuatku tertarik dengan buku tua itu. Sesuatu yang seakan menarikku agar buku itu selalu ada dalam jarak pandanganku.

Apa yang sebenarnya terjadi padamu Park Hyo-Ra?

Aku mengusap pelan wajahku dengan kedua tangan. Dengan sedikit ragu, aku pun mengambil perlahan buku tua yang sedari tadi hanya kupandangi itu.

Aku membuka perlahan halaman pertama pada buku itu. Tidak terlalu banyak berharap, walaupun tidak sedikit juga aku berharap.

Ba… bagaimana bisa?!

Aku meneguk paksa salivaku sendiri. Rasanya kerongkonganku terasa kering seketika. Mataku sukses membulat sempurna dan jari-jariku terasa bergetar perlahan.

Marcus Cho.

Sebuah nama. Tentu saja. Tidak ada yang mungkin berpikir kalau itu adalah sebuah kalimat lelucon atau sebuah mantera kan? Kecuali mungkin untuk beberapa orang yang mungkin ‘sedikit’ kehilangan kesadarannya.

Tapi…

Bukan itu yang menjadi masalahnya sekarang. Pertanyaannya adalah… sejak kapan nama itu tertulis disana? Bukankah jelas-jelas saat di perpustakaan tadi aku melihat halaman pertama itu tanpa ada tulisan sedikit pun? Mengapa sekarang… tiba-tiba muncul sebuah tulisan? Ani, tulisan itu bukan seperti hasil cetakan komputer. Lebih tepatnya seperti tulisan tangan seseorang.

Dengan rasa penasaran yang semakin menjadi, aku pun mulai mencoba membuka perlahan halaman selanjutnya.

Untuk seorang yang telah membaca buku ini. Tidak, lebih tepatnya telah menemukan buku ini.

Kau tidak boleh berpikir macam-macam mengapa buku ini terlihat berbeda dengan buku-buku yang biasa kau baca. Dan jangan pernah mencoba mencari tahu, karena aku sendiri yang akan memberitahumu.

Aku mengernyit heran. Dia? Akan memberitahuku? Bagaimana caranya?

Dan kau juga tidak perlu berpikir macam-macam tentang bagaimana caranya agar aku memberitahumu. Semuanya sudah berjalan sesuai takdir. Kau dan aku.

Takdir? Dia dan aku? Memangnya siapa orang ini?

Aku pun mulai membuka halaman selanjutnya.

Marcus Cho. Namaku adalah Marcus Cho. Sebelum kau berpikir yang macam-macam lagi mengapa aku menulis buku ini dengan Bahasa Korea, lebih baik kau membaca dulu halaman ini sampai habis. Kali ini aku akan menceritakan tentang diriku. Terserah kau akan merasa bosan atau malah penasaran tentangku lebih lanjut. Yang pasti adalah pertanyaan-pertanyaanmu tentangku mungkin akan terjawab di halaman ini.

            Cho Kyuhyun. Namaku Korea-ku adalah Cho Kyuhyun. Dulu aku lahir dan dibesarkan hingga umurku 17 tahun di Korea. Dan kuharap kau tidak menyelaku dulu dengan pikiran-pikiranmu itu dulu. Sudah kubilang bukan di awal bahwa kau harus membaca dahulu halaman ini sampai habis? Kurasa kau terlalu pintar untuk tidak membuatku mengulang kalimat dengan arti yang sama untuk ketiga kalinya.

            Aku memiliki seorang kakak perempuan bernama Korea, Cho Ahra. Juga seorang ibu bernama Korea, Kim Hanna dan seorang ayah bernama Korea, Cho Yeonghwan. Dan kurasa kau tidak perlu tahu nama asing mereka semua. Setidaknya itu sudah cukup menjawab salah satu pertanyaanmu tentang keluargaku.

            Diumurku yang berusia 17 tahun, aku mendapati hal yang sulit untuk kujelaskan. Oh, ya, aku lupa mengatakan satu hal ini. Aku kelahiran tahun 1988. Jadi kau tidak perlu berpikir yang tidak-tidak bahwa aku masih berusia 17 tahun, ingat, aku lahir 1988 dan kuyakin di duniamu yang kini sudah berada di tahun 2012 tahu berapa umurku sekarang. Jadi, kali ini biarkan aku menceritakan tentang masa laluku. 6 tahun yang lalu.

            Aku bukan tipe yang bisa bercerita panjang dan lebar. Aku lebih suka hal yang singkat namun padat serta jelas. Jadi, untuk kali ini, biarkan aku bercerita langsung pada intinya. Terserah kau mau percaya atau tidak. Tapi sepertinya kalau kau tidak percaya, aku akan memaksamu untuk percaya padaku. Kau sebut sebagai paksaan? Terserah maumu.

Aku ini seorang… vampire.

            Tapi kau tidak perlu takut. Aku bukan tipe penghisap darah yang akan membuat manusia yang terhisap darahnya olehku itu akan mati. Tidak. Tidak seperti cerita-cerita fiksi yang pernah kau dengar itu. Memang, memang aku menghisap darah. Dan cerita-cerita fiksi yang pernah kau baca itu sebagian juga ada benarnya, aku memang menghisap darah manusia. Tapi mereka tidak akan mati. Hanya saja, untuk beberapa waktu tubuh mereka akan terasa benar-benar lemah dan kulit mereka akan tiba-tiba putih memucat. Tapi tenang saja, itu tidak akan berlangsung lama dan mereka akan bisa kembali pulih dan melakukan aktivitas mereka seperti biasa. Tentu tanpa bisa mengingat apa yang menjadi sumber penyebab mereka seperti itu.

            Untuk masalah Bahasa Korea, bukankah sudah kubilang kalau aku pernah tinggal di Korea sampai umurku 17 tahun? Tentu saja buku ini kutulis dengan Bahasa Korea. Dan keharusan yang harus kupenuhi adalah orang yang menemukan buku ini harus seorang manusia. Orang Korea dan tentu saja… seorang wanita.

Aku meneguk salivaku paksa sekali lagi. Apa ini benar? Apa aku harus percaya pada hal ini?

Dan tiba-tiba saja, sebuah dorongan halus dalam tubuhku membuatku dengan refleks membuka halaman selanjutnya.

Dan bukankah sudah kubilang aku akan memberitahumu secara langsung bukan? Kita akan bertemu. Pertemuan pertama kita akan aku buat secara khusus.

            Oh iya, buku ini tidak akan salah memilih seseorang yang akan menjadi tokoh utama di dalamnya. Kuharap kau siap Nona Park Hyo-Ra dan aku akan membuatmu nyaman dalam cerita ini. Tidak. Cerita antara takdirmu dan aku.

Aku membaca kalimat terakhir itu dengan seluruh kesadaran yang aku punya sebelum akhirnya aku merasa mataku terasa berat dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

AUTHOR’S POV

Sebuah alunan piano terdengar dengan nyaring dan merdu ke telinga gadis itu. Membuat ia terbangun dan menggeliat kecil sebelum akhirnya mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menfokuskan penglihatan atas tidurnya yang terasa cukup lama itu.

Ia beranjak perlahan dari tempat tidurnya dan menyenderkan punggungnya pada dashboard tempat tidur. Mengusap perlahan wajahnya dengan kedua tangannya sebelum akhirnya ia melemparkan pandangannya ke sekeliling kamar.

“Ini…” ia mengusap lagi wajahnya dengan kedua tangannya. Berharap apa yang ia lihat adalah sebuah halusinasi.

“Ini… tidak benar bukan? Dimana ini? Apa aku sedang bermimpi?” gumam gadis itu sambil memperhatikan sekali lagi sekeliling ruangan yang tampak tidak seperti kamarnya. Ia bisa melihat ruangan itu berukuran sangat luas untuk ukuran sebuah kamar dengan sebuah jendela besar yang menghadap ke balkon. Ruangan itu juga terdiri dari 2 sofa di sudut ruangannya dan sebuah meja rias tepat berada di samping tempat tidurnya. Tempat tidur yang ia duduki saat ini juga terkesan lembut dengan bahan sutra sebagai spreinya. Di dalam kamar itu juga terdapat lemari berwarna coklat pastel dan tepat di depan tempat tidur gadis itu terdapat sebuah meja dengan TV LCD di atasnya dan beberapa speaker dan DVD player yang menurut gadis itu pasti harganya tidaklah murah. Lalu juga, terdapat 2 buah pintu di dalam ruangan itu yang diyakini oleh gadis itu, Park Hyo-Ra, adalah kamar mandi dan pintu keluar.

            “Pintu keluar?”

Dengan segera mungkin, gadis itu keluar dari dalam ruangan yang sama sekali tidak diketahuinya tempat apa itu. Ia terus berkutat pada pikirannya sendiri. Berbagai pertanyaan dan pernyataan saling berlompatan dalam pikiran Hyo-Ra.

“Dimana aku? Ottohke?”

Hyo-Ra keluar dari dalam ruangan itu dengan sebuah pakaian yang membuat pikirannya semakin bertambah bingung. Sebuah dress selutut berwarna putih gading dengan aksen pita yang melingkar dengan manis di bagian pinggangnya. Setaunya, ia tidak pernah memakai pakaian itu apalagi saat ia akan tertidur.

Gadis itu terus berjalan bahkan hampir setengah berlari. Cemas dan takut melingkupi tubuhnya. Ia ingin sekali berlari lebih cepat lagi melewati koridor panjang bangunan yang terlihat seperti rumah mewah itu ketika ia tahu sepatu yang kini dikenakannya adalah sebuah high heels yang kalau perkiraannya tidak salah, tinggi haknya adalah 8 cm. Kerutan di keningnya semakin jelas menyadari sejak kapan ia memakan high heels.

“Lebih baik aku melepas sepatu menyebalkan ini.”

Gadis itu mulai berhenti sejenak lalu dengan cepat melepaskan sepatu high heels itu. Membuat kini ia harus berlari dengan keadaan kaki telanjang.

Gadis itu kembali berlari lagi melewati koridor yang menurutnya terlalu panjang itu. Sampai akhirnya ia matanya menemukan secercah cahaya di ujung koridor itu dan berharap itu adalah jalan keluar.

Dengan wajah berseri-seri dan penuh harap, Hyo-Ra terus berlari sampai akhirnya ia mendapati kenyataan bahwa secercah cahaya itu adalah sebuah pintu besar bercat putih dengan sebuah papan berbentuk persegi panjang terbuat dari perak yang terlihat berkilauan diterpa cahaya bulan. Membuat gadis itu menghela nafas dan kehilangan sedikit perasaan optimisnya.

Ia hendak membuka pintu itu ketika dilihatnya papan-panjang-yang-terbuat-dari-perak itu berukirkan sebuah tulisan. Ia mengamati seksama papan-panjang-yang-terbuat-dari-perak itu untuk membaca ukiran tulisan yang terdapat disana.

Gadis itu, Park Hyo-Ra, tersentak ketika ia sudah berhasil membaca ukiran apa yang tertulis disana.

“Ma… Marcus Cho?”

Seketika itu juga pintu besar bercat putih itu terbuka perlahan. Membuat Hyo-Ra memicingkan matanya ketika cahaya yang dipancarkan dalam ruangan itu cukup menyilaukan kedua bola matanya.

Lagi-lagi, sebuah alunan piano terdengar dari dalam ruangan itu. Hyo-Ra masih bergeming di tempatnya sebelum ketika alunan piano itu perlahan membuat tubuh Hyo-Ra bergerak dan pelan-pelan memasuki ruangan bercat putih itu.

Hyo-Ra mengamati sekeliling ruangan itu. Matanya dapat menangkap kalau ruangan itu cukup luas untuk sekedar sebagai ruang keluarga atau ruang tamu.

Hyo-Ra masih mengamati seksama ruangan itu sebelum ketika pandangannya berhenti pada sebuah piano berwarna hitam yang terdapat di sudut ruangan itu. Entah dorongan darimana, Hyo-Ra berjalan perlahan mendekati piano itu. Tidak ada lagi suara alunan piano yang menurut Hyo-Ra terdengar sangat indah di telinganya. Ia berjalan perlahan semakin dekat dengan piano itu. Berharap sebuah alunan nada kembali terdengar di telinganya. Membuat Hyo-Ra merasa kalau suara alunan piano itu seakan-akan menjadi candu baru baginya.

“Apa ada seseorang?” ujar Hyo-Ra diiringi langkahnya yang semakin mendekat pada piano berwarna hitam itu. Tiba-tiba langkahnya terhenti ketika alunan nada dari piano itu kembali terdengar. Ia merasakan alunan piano itu membuat seluruh organ tubuhnya seakan kaku dan ia tidak bisa bergerak. Seolah-olah, alunan nada piano itu adalah remot dan Hyo-Ra adalah mainan yang bisa berhenti sekaligus bergerak sesuai kehendak remot itu.

“Jadi kau yang bernama Park Hyo-Ra?”

Sebuah suara bass yang pasti milik seorang namja membuat Hyo-Ra menolehkan kepalanya ke belakang piano itu. Tentu dengan tubuh yang masih tidak bisa bergerak.

“Kenapa tubuhku tidak bisa bergerak?” Hyo-Ra berujar kesal tanpa menanggapi pertanyaan namja yang sama sekali belum menampakkan batang hidungnya karena terhalang oleh piano hitam itu.

“Kau mau tubuhmu kembali bisa bergerak seperti semula?” ujar namja itu lagi. Kali ini ia beranjak dari tempatnya dan perlahan mulai mendekati tubuh Hyo-Ra.

Kerutan kesal yang sangat jelas pada kening Hyo-Ra tadi seakan lenyap begitu saja. Mulutnya terkatup sempurna dan matanya tampak tak berkedip memperhatikan seorang namja yang tengah berjalan kearahnya.

Kedua bola mata coklat Hyo-Ra seolah tersihir melihat namja di hadapannya yang menurutnya terlalu sempurna di matanya. Rahang yang tegas, hidung yang mancung, bibir tebal yang terlihat err… seksi, kulit putih pucat, dan dua buah bola mata yang menurutnya terlalu indah dan terlalu khayal untuk dijadikan kenyataan. Bagaimana bisa ia memiliki dua buah bola mata seindah itu? Berwarna biru dan sebening kristal. Kedua bola matanya… mengapa seakan membuatku terjerat dan sulit mengucapkan sesuatu?

Namja itu kini sudah berdiri tepat di hadapan Hyo-Ra dan menyunggingkan senyum tipis miliknya. Membuat kedua bola mata coklat Hyo-Ra tampak tak berkedip untuk kesekian kalinya sebelum akhirnya ia tersadar ketika namja itu tertawa ringan. Membuat jantung Hyo-Ra berdetak dengan tidak normal.

“Aku tahu aku tampan, kau tidak perlu memandangiku seperti itu terus.”

Dalam sekejap, kekaguman dalam diri Hyo-Ra terhadap namja itu sedikit sirna. Ternyata namja itu memiliki kepercayaan diri yang tinggi sekali.

“Jadi kau yang bernama Park Hyo-Ra?” namja itu menyentuh dagu Hyo-Ra dengan jari-jarinya perlahan dan sedikit mendongakkan wajah Hyo-Ra untuk mensejajarkan pandangannya. Membuat Hyo-Ra merasakan sedikit seperti sengatan aliran listrik di dalam tubuhnya ketika namja itu menyentuh dagunya.

“N-ne.” Ujar Hyo-Ra dengan suara teramat pelan, mencoba mengontrol jantungnya yang masih belum bisa berdetak secara normal.

“Aku yakin kau sudah tahu siapa aku bukan?” namja itu menyunggingkan sebuah senyum. Tidak. Lebih tepat sebuah seringai yang membuat tubuh Hyo-Ra seperti membeku untuk beberapa detik.

“Kau… kau yang bernama Marcus Cho?” tanya Hyo-Ra ketika ia sudah merasa jantungnya tidak lagi mengalami ‘kecepatan’ di luar biasanya.

Namja itu tersenyum kecil lalu memperhatikan seksama wajah Hyo-Ra. Membuat gadis itu sedikit merasa tidak nyaman ketika namja itu—Marcus Cho menatapnya.

Namja itu lagi-lagi mengeluarkan seringainya ketika melihat sedikit rona merah yang menjalari pipi putih Hyo-Ra. Membuatnya mencondongkan tubuhnya untuk lebih dekat pada gadis itu.

“A-apa yang mau kau lakukan?” ujar Hyo-Ra sedikit panik ketika tubuh namja itu sekarang tidak lebih dari 30 cm di depannya. Ia juga baru menyadari kalau tubuhnya masih tidak bisa bergerak, membuat ia semakin panik dengan keadaannya.

“Be… berhenti! Kembalikan tubuhku seperti semula! Aniyo, buat tubuhku kembali bisa bergerak. Jebal.” Mohon Hyo-Ra sambil mencoba menggerakkan kedua tangannya. Namun hasilnya nihil, ia sama sekali tidak bisa menggerakkan tangannya.

Untuk sejenak, Marcus Cho berhenti dari ‘kegiatan’ mencondongkan tubuhnya pada gadis itu. Ia tersenyum kecil sebelum akhirnya mencondongkan lagi tubuhnya. Tidak merespon sedikit pun pada permohonan Hyo-Ra tadi atau pun pada wajah panik gadis itu. Ia semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hyo-Ra hingga menyisakan hanya sedikit jarak beberapa sentimeter antara wajahnya dengan wajah Hyo-Ra. Membuat gadis itu merasakan pipinya memanas dan yakin kalau sekarang telah merona merah. Oh Tuhan, kumohon selamatkan aku.

Namja itu—Marcus Cho, tersenyum simpul. Membuat Hyo-Ra kehilangan kesadarannya untuk sejenak dan menatap intens kedua bola mata biru kristal itu yang seolah-olah menyihirnya untuk beberapa saat.

Bahkan ketika sesuatu yang lembut menyentuh bibir mungil gadis itu. Hyo-Ra masih terpana untuk sepersekian detik sebelum akhirnya tersadar ketika Marcus Cho memejamkan matanya dan bibirnya mulai bergerak perlahan pada bibir gadis itu.

Hyo-Ra merasa jantungnya berdegup dengan cepat lebih dari sekedar tidak normal. Ia ingin sekali memejamkan matanya dan mengikuti alur ciuman namja itu. Tapi mengingat kondisinya sekarang dan teringat namja asing itu menciumnya, ia mengurungkan niatnya. Merasa Hyo-Ra tidak membalas ciumannya, Marcus Cho pun melepas perlahan tautan bibirnya. Ia menyeringai sebelum akhirnya memajukan kepalanya dan membisikkan sesuatu tepat di telinga gadis itu.

“Kau tahu? Bibirmu sangat manis. Dan… kau juga harus tahu kalau sejak tadi tubuhmu sudah bisa bergerak.” Bisik Marcus Cho terdengar halus di telinga Hyo-Ra. Hyo-Ra memejamkan mata sejenak ketika merasakan hembusan nafas namja itu menyapu permukaan kulit lehernya.

“Dan seharusnya kau ingat juga kalau aku adalah seorang vampire.” Marcus Cho mengecup singkat leher jenjang Hyo-Ra sebelum akhirnya kembali berbisik, “Dan kau tidak perlu memanggilku Marcus. Panggil saja aku Kyuhyun. Dan tunggu sebentar sampai semua ini berlanjut, kau akan menjadi milikku.”

***

PARK HYO-RA’S POV

“Dan kau tidak perlu memanggilku Marcus. Panggil saja aku Kyuhyun. Dan tunggu sebentar sampai semua ini berlanjut, kau akan menjadi milikku.”

Ucapan terakhirnya itu kembali terngiang di dalam pikiranku. Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri kalau semua ini hanya mimpi. Tapi sepertinya hal itu sia-sia, karena setiap aku mencoba meyakinkan diriku kalau itu hanya mimpi, sebagian diriku yang lain seakan bilang kalau ini semua bukanlah mimpi. Tapi, apa aku harus mempercayai hal ini? Mempercayai bahwa vampire itu benar-benar ada di muka bumi ini?

“Minumlah.” Ujar namja itu, Cho Kyuhyun, sambil menyodorkan secangkir… sepertinya itu teh, kepadaku. Aku hanya melirik sekilas cangkir yang berisi teh itu tanpa berminat meminumnya lalu kembali memfokuskan mataku pada namja itu.

“Bisakah kau jelaskan apa ini semua?” tanyaku sambil mengetuk-ngetukkan jariku di atas meja pantry. Iya, kami sekarang sedang berada di pantry di dalam rumah namja itu. Dan harus kuakui sekaligus baru kusadari kalau rumah namja ini benar-benar mewah dan sangat disayangkan bila hanya diisi oleh satu makhluk seperti dia. Desain interiornya benar-benar harus kuakui (sekali lagi) kalau dia memiliki selera yang sangat bagus. Pantry ini juga salah satunya.

Ia terlihat menganggukkan kepalanya. “Setidaknya karena aku sudah berjanji akan memberitahumu.” Ia menghembuskan nafas perlahan. “Apa kau tahu dimana sekarang ini?” aku menggeleng cepat. Memang, sedari tadi aku sama sekali tidak mengetahui tempat apa ini. Apakah masih di Korea, masih di belahan bumi ini, atau malah berada di dunia… aish, membayangkannya saja sudah membuatku bergidik.

“Tenang saja, tempat ini masih berada di dunia nyata. Tapi tidak di Korea. Ini di… London.”

Aku membulatkan mata ketika baru saja mendengar penuturannya. Aish, bagaimana bisa sekarang aku berada di… London?

“Bagaimana bisa?” tanyaku sarkatis.

“Tentu saja bisa. Kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa?” ia mengeluarkan seringainya membuatku menelan salivaku paksa.

“Oke… apa aku akan mati?” pertanyaan polos itu meluncur dengan mulus begitu saja dari mulutku. Membuat dia terdiam selama beberapa detik sebelum akhirnya tertawa terpingkal-pingkal.

“Yaa! Aku berbicara serius denganmu Tuan Cho Kyuhyun!” ujarku setengah berteriak namun tidak digubris sama sekali olehnya. Ia malah semakin tertawa, dan… tertawa.

“Aish! Kau benar-benar menyebalkan!” aku mengurucutkan bibirku kesal, kulihat ia mulai meredakan tawanya walaupun sekarang masih dengan tersenyum-senyum tidak jelas.

“Baik, baik. Kau tidak akan mati, tenang saja. Karena aku tidak akan pernah membiarkanmu mati apapun yang terjadi.” Ujarnya dengan sorot mata bersungguh-sungguh. Aku menaikkan alisku tidak mengerti.

“Bisakah kau jelaskan maksudnya? Maksud semua ini secara rinci? Dan aku… bagaimana bisa aku tidak akan pernah mati? Bukankah semua manusia suatu hari nanti akan mengalami kematian?” tanyaku secara beruntun. Ia terdiam sejenak dan aku menunggunya untuk berbicara lanjut.

“Baiklah. Aku akan menjelaskannya sekarang juga,” Ia menghela nafas perlahan, mata biru yang baru kusadari berwarna safir itu perlahan berubah gelap.

“Aku adalah salah satu keturunan seorang Vampir Yunani bernama Vry. Vry sendiri adalah generasi vampir pertama yang hidup saat itu. Dan aku, adalah generasi ke-113 yang hidup di saat ini setelah Appa-ku.

Appa adalah seorang vampir yang juga keturunan Vry, dimana ia tinggal di dunia manusia dan menjalani hari-harinya layaknya seorang manusia. Termasuk jatuh cinta dengan manusia yang sekarang menjadi Eomma-ku. Ketika Eomma melahirkan anak pertamanya, Ahra Noona, ia merasa sangat kesakitan dan menderita. Karena pada dunia vampir, janin yang terdapat di dalam kandungan seseorang—apalagi orang itu adalah manusia, tentu akan mengalami pertumbuhan pesat. Ahra Noona lahir dalam keadaan sehat setelah mendekam selama kurang lebih 5 bulan di dalam perut Eomma. Waktu yang sebentar bukan? Tentu saja saat itu Eomma merasakan kebahagian yang amat sangat karena bisa melahirkan Ahra Noona dengan selamat.

“Oh, iya, Eomma juga sudah mengatahui kalau ternyata Appa adalah seorang vampir. Entah cara apa yang dilakukan Appa waktu itu hingga bisa meyakinkan Eomma yang saat itu notabane-nya masih terdaftar sebagai seorang mahasiswa. Apa menggunakan cara yang sama sepertiku?” Kyuhyun mengerlingkan matanya kepadaku yang langsung kubalas dengan cibiran. Entah lenyap kemana sikapku saat pertama kali bertemu dengan Kyuhyun. Mungkin karena sifat Kyuhyun yang cukup menyebalkan membuat ketampanan di wajahnya itu tertupi? Entahlah.

“Lanjutkan saja ceritamu Cho Kyuhyun-ssi.”

“Baiklah. Sampai dimana kita tadi? Oh, ya, ketika Eomma melahirkanku, ia juga merasakan hal yang sama seperti ketika mengandung Ahra Noona. Sakit yang menjalari seluruh tubuhnya ketika aku, selama 5 bulan penuh itu berada di dalam kandungan Eomma. Sayangnya, aku dan Ahra Noona memiliki tubuh separuh manusia dan separuh vampir. Membuat Appa merasa bersalah pada Eomma karena tidak bisa membuat anak-anaknya terlahir secara normal seperti manusia lainnya. Karena setiap bulan, yang kami butuhkan adalah satu gelas penuh darah segar seorang manusia dan Eomma pasti akan menatap kami iba. Itu juga kami lakukan agar bisa menyeimbangkan tubuh yang separuh vampir dan separuh manusia ini.

“Dan tentang buku itu, aku yang menulisnya dengan menggunakan mantera yang diajarkan Appa untuk membuat sebuah benda mati seolah-olah hidup dan memiliki perasaan. Itu membuat buku tua itu bisa memilih siapa yang pantas untuk mengisi cerita di dalamnya. Dan seperti yang kau lihat, buku itu telah memilih kau, Park Hyo-Ra-ssi. Sebagai tokoh di dalam cerita itu denganku. Buku itu juga tidak sembarang memilih, ia akan menampakkan wujudnya di tempat-tempat yang tidak terduga. Dan kalau memang pilihannya tepat, manusia yang terpilih itu tidak akan bisa terlepas oleh daya tarik antara buku itu dengan pemiliknya saat itu juga.” Jelas Kyuhyun membuatku tertegun. Jadi… ini semua benar?

“Aku tahu kau pasti akan sulit untuk mempercayai apa yang baru saja kau dengar. Dan kuyakin kau juga perlu bukti.” Kyuhyun tersenyum tipis lalu turun dari kursinya yang berada di seberang mejaku. Ia berjalan memutar dan aku tahu pasti kalau sekarang ia sedang berjalan ke arahku.

Waeyo?” tanyaku ketika ia kini sudah tepat berada di depanku.

“Kau perlu bukti dan aku akan memperlihatkannya.” Ia menyeringai kecil. Aku merasakan atmosfir di sekitarku berubah menjadi dingin seketika. Ia mencengkram kedua lenganku dan mencondongkan tubuhnya agar lebih mendekat ke arahku. Wajahnya menjadi lebih serius dan perlahan kusadari warna matanya berubah… menjadi merah pekat.

Ia membuka mulutnya perlahan. Seakan-akan ia ingin memakanku saat itu juga. Dan barulah kusadari kalau ia tengah menunjukkan 2 giginya yang berubah menjadi runcing, seperti taring. Kuperhatikan juga bentuk telinganya yang tiba-tiba menjadi sedikit lebih panjang dengan bagian atas yang terlihat lebih lancip.

Dan satu hal yang perlu ku garis bawahi adalah hawa dingin dan nafsu yang melingkupi tubuhnya membuat seluruh tubuhku seakan membeku. Takut dan cemas menghampiriku secara bersamaan ketika tiba-tiba saja ia berbisik tepat di telingaku.

“Aku tidak akan membunuhmu. Asal kan kau mau mengikuti syaratku,” ia kembali mensejajarkan wajahku dengan wajahnya yang menurutku terlalu tampan untuk ukuran seorang vampir.

“S-syarat?”

Ia mengangguk. “Tinggal lah disini sampai bulan purnama tiba. Lebih tepatnya 3 minggu lagi. Setelah itu aku akan membebaskanmu, dan tentu setelah kau menjadi milikku.” Ujarnya seraya tersenyum tipis. Membuatku menatap wajahnya tidak mengerti. Menjadi miliknya? Sampai 3 minggu lagi? Lalu bagaimana dengan sekolahku?

“Apa itu harus?” ujarku meyakinkan.

“Kalau kau belum ingin merasakan kematian. Kusarankan hal itu padamu.” Jawabnya dan perlahan-lahan perubahan yang kulihat pada tubuhnya itu kembali seperti semula. Dan sekarang aku bisa kembali melihat kedua matanya yang berwarna biru safir itu seakan tersenyum padaku.

Ia menyeringai kecil sebelum hendak berjalan meninggalkanku. Mwo? Meninggalkanku?

“Tentu selama kau tinggal disini tidak ada yang gratis Nona Park Hyo-Ra. Setiap pagi kau harus membuatkan sarapan untukku, membersihkan kamarku, dan… melakukan semua hal yang berkaitan dengan bersih-bersih. Dan satu lagi, kamarmu berada di lantai 2 di seberang kamarku. Agar kau bisa lebih mudah membangunkanku setiap paginya. Dan, oh, ya kau juga harus membuatkan coffee untukku setiap harinya.” Ujarnya tanpa memberikan sedikit pun kesempatanku untuk menyelanya.

Mwoya?! Apa-apaan itu Kyuhyun-ssi?!” ujarku tidak terima namun ia hanya terkekeh pelan.

“Kau masih mau hidup kan? Lakukan saja apa yang kukatakan. Dan, oh, ya untuk masalah pakaian dan seluruh peralatan khusus wanita, semuanya sudah disiapkan di kamar lantai 2 yang pintunya berwarna biru itu.” Ujarnya seraya menunjuk kamar di lantai 2 yang pintunya terlihat dengan jelas dari pantry.

Aku menghela nafas. Setidaknya semua hal itu biasa kulakukan di rumah. Dan tentu saja aku tidak melakukannya untuk orang lain, tapi untuk diriku sendiri. Namun sepertinya hal itu akan berubah mulai hari ini sampai 3 minggu ke depan. Aish!

“Apa ada lagi?” tanyaku pasrah. Ia terlihat tersenyum menang. Aish, bagaimana bisa ada vampir seperti dia di dunia ini?

“Satu lagi, setiap kali aku memanggilmu, kau harus datang ke kamarku tidak lebih dari 2 menit. Dan seandainya lebih dari itu, kau akan mendapatkan hukuman.” Ujarnya sambil mengembangkan senyum iblisnya.

Mwo? Hukuman? Aish, memang apa hukumannya, hah?!” ujarku kesal terhadapnya. Aish, dia benar-benar bertindak semena-mena.

Aku tersentak ketika melihat ia sudah berdiri tepat di hadapan wajahku kurang dari satu detik. Padahal tadi ia berada pada radius beberapa meter dari tempatku. Apa ini… salah satu kelebihan vampir?

“A-apa?” ucapku tergagap.

Ia kembali menyeringai. “Kau mau tahu hukumannya? Tentu saja hukumannya yang menguntungkanku.” Aku mendapati firasat tidak enak ketika ia mulai memperhatikan mataku, hidungku, dan berhenti di bibirku. Lalu turun ke leherku kemudian memperhatikan tubuhku dari atas hingga bawah.

“Kalau kau telat sebentar, aku hanya akan menginginkan ini.” Ujarnya seraya menunjuk mata, hidung, dan pipiku.

“Kalau kau benar-benar telat, aku menginginkan ini.” Ujarnya seraya menunjuk bibirku. Aku membulatkan mataku besar-besar.

“Kalau kau benar-benar sangat telat, aku menginginkan semuanya.” Ujarnya seraya tersenyum evil. Aku membulatkan mata dan hendak mengomel padanya ketika tiba-tiba ia sudah tidak berada di hadapanku lagi. Cish, dasar licik.

“Yaa! Dasar namja mesum! Awas kau Cho Kyuhyun!!!” teriakku kesal dan kudengar ia tertawa keras. Aish, apa jadinya aku tinggal berdua dengan vampir aneh seperti dia?

***

            “Bagaimana?”

Ia mengusap perlahan bibirnya dengan sapu tangan. “Tidak buruk.” Ujarnya sambil menatap ke arahku. “Kurasa kau cocok menjadi seorang Ibu. Haha.”

Aku memelotitanya ketika mendengar ucapannya. “Aish, tidak usah mengejek. Lebih baik sekarang kau selesaikan sarapanmu. Aku ingin membereskan kamarmu itu dulu.” Aku baru saja hendak beranjak ketika ia menahan lenganku.

“Temani aku makan. Aku tidak suka makan sendirian.”

“Bukankah selama ini kau terbiasa makan sendirian? Buktinya tidak ada seorang pun di rumah ini selain kau.” Ujarku lalu kembali duduk di seberangnya.

“Itu karena terpaksa. Appa dan Eomma sedang berada di Korea sedangkan Ahra Noona, tengah berada di Amerika.” Ujarnya lalu menyeruput coffee-nya. “Coffee mu berbeda dengan yang biasa aku minum. Tapi aku sedikit lebih suka rasa coffee ini.”

Aku tersenyum tipis, setidaknya dia mau memuji apa yang kumasakkan.

“Oh, ya, kau tidak perlu memanggilku secara formal. Panggil saja aku Kyuhyun, oke?” ucapnya dan aku menganggukkan kepala.

“Ternyata seorang vampir bisa memakan masakan manusia.”

“Tentu saja. Bukankah sudah kubilang kalau aku juga separuh manusia?”

“Baiklah. Cepat selesaikan makanmu Kyuhyun-ah, aku ingin cepat-cepat membereskan pekerjaan yang kau berikan itu.” Aku menatapnya datar dan ia tersenyum kecil.

“Aku akan makan dengan cepat, Nyonya Cho.” Ia menyeringai lalu mempercepat gerakan makannya.

Aku terdiam sejenak sebelum akhirnya tersadar atas apa yang namja itu katakan.

“Yaa! Siapa yang kau sebut Nyonya Cho itu Cho Kyuhyun?!!!”

***

Tidak terasa sudah 2 minggu aku tinggal di rumah vampir bernama Cho Kyuhyun itu. Tak luput juga namja menyebalkan itu membuatku kesal. Ia sangat suka menggodaku dan menjahiliku. Aish, bagaimana bisa ada vampir seperti dia?

Dan lagi… aku tidak menyangka kalau dia ternyata hobi bermain game. Aku bahkan sering dibuatnya kesal setiap ia menggerutu dan berteriak-teriak tidak jelas setiap ia memenangkan permainan atau pun kalah dalam permainan yang tengah dimainkannya itu. Terkadang juga aku merasa dia memiliki dua kepribadian. Sedikit kekanakan dan terlalu kekanakan.

Tapi 2 hari terakhir ini aku jarang melihatnya di rumah. Aku juga tidak tahu apa yang dilakukannya. 2 hari ini setiap sore ia akan pamit keluar rumah dan baru akan kembali ketika hari sudah malam. Dan yang menyebalkannya adalah ketika aku ingin—sekali saja—berjalan-jalan ke luar rumah, ia selalu tidak pernah mengizinkannya. Alasannya, karena takut aku akan menghilang, tersesat, dan sebagainya. Aish, apa dia pikir aku ini anak kecil?

Aku baru saja keluar dari kamar mandi ketika namja yang baru saja dipikirkan olehku itu memanggilku. Tidak. Tidak dengan cara berteriak seperti dulu yang selalu ia lakukan. Entah apa yang terjadi, tapi kali ini kami bisa saling berkomunikasi lewat telepati. Aku bisa mendengarnya tengah berteriak-teriak di dalam pikiranku. Beberapa hari yang lalu, saat aku bertanya mengapa hal ini bisa terjadi, ia mengatakan kalau aku semakin dekat dengan sosokku yang sebenarnya. Membuatku bertanya-tanya apa yang dimaksudkannya, tapi selalu saja senyum tipis yang ia lontarkan padaku setiap aku bertanya hal itu. Atau paling tidak ia akan berkata, “Kau akan tahu nanti.” Aish, dia terlalu menyimpan banyak rahasia terhadapku.

Yaa! Cepat ke kamarku sekarang Hyo-Ra~ya! Ppali!!!

Yaa! Tunggu sebentar, aku sedang mengganti bajuku Kyuhyun-ah!

Aku tidak peduli! Kalau sampai beberapa detik lagi kau belum sampai di kamarku, aku tidak menjamin kau akan selamat dari hukumanku Hyo-Ra~ya!

Aish! Baik-baik aku kesana sekarang!

Selalu saja namja itu memaksaku mengikuti keinginannya. Tapi, apa boleh buat. Semenjak insiden-ciuman-pertama-itu aku selalu menghindari sebisa mungkin kontak fisik dengannya. Dan tentu saja selama 2 minggu ini aku belum pernah terkena hukumannya, karena setiap ia memanggilku, aku sedang dalam keadaan senggang. Entah itu ketika aku sedang bersantai atau pun yang lainnya.

Secepat mungkin aku berlari ke arah kamarnya yang berada di seberang kamarku itu.

“Yaa! Untuk apa kau memanggilku, hah?!” ujarku ketika sudah berada di dalam kamarnya. Kulihat ia berdiri di sudut kamar.

“I-itu…” ujarnya tergagap seraya menunjuk ke lantai. Aku mengikuti arah tunjuknya itu.

Dan betapa terkejutnya aku ketika mendapati ada seekor tikus kecil berwarna putih di lantai kamarnya. Kulihat wajah Kyuhyun yang terlihat ketakutan. Omona, seorang vampir takut terhadap tikus kecil seperti itu? Yang sekali injak pun mungkin akan mati?

“Kau takut dengan ini?” tanyaku meremehkan. Ia tidak menjawab malah memberikanku death glare-nya.

“Tidak perlu banyak bicara. Lebih baik kau segera singkirkan makhluk itu!” Ujarnya seraya bicara dengan angkuh. Aish, apa namja ini tidak bisa jujur sedikit?

“Baiklah.” Aku pun mulai mendekati perlahan tikus itu dan langsung menangkapnya dengan kedua tanganku ketika tikus itu sepertinya tidak menyadari kehadiranku.

Hap! Dapat!

“Kau takut dengan makhluk tak berdosa seperti ini?” aku mendekati Kyuhyun perlahan seraya memasang senyum evil yang selama ini secara tidak langsung diajarkan oleh Kyuhyun. Haha.

“Yaa! Mau apa kau?!”

“Memperkenalkanmu dengan ini. Bukankah dia lucu, Kyuhyun-ah?”

“Lucu? Yaa! Jauhkan makhluk itu dariku sekarang juga!” ia memberikanku tatapan ‘awas kau’ membuatku akhirnya menyerah untuk membalas menggodanya lebih lanjut.

Aku pun membuka jendela yang berada di kamar itu dan berjalan perlahan menuju ke balkon.

“Sepertinya Tuan Vampir itu tidak menyukaimu. Sabar ya, setidaknya kau terbebas darinya.” Gumamku sambil melepaskan tikus itu pada atap di samping balkon.

“Cish, bisa-bisanya kau berbicara sendiri seperti itu Nona Park Hyo-Ra.” Ujarnya seraya duduk di sofa yang berada di dalam kamar itu ketika aku sudah memasuki kembali kamarnya.

“Seharusnya kau mengucapkan terima kasih padaku.” Aku menatapnya datar lalu hendak berjalan keluar ketika dengan cepat namja itu sudah berada tepat di depanku. Aish, lagi-lagi!

“Yaa! Kau selalu mengagetkanku!” ia tidak menjawab malah mulai memperhatikan tubuhku dari atas hingga bawah.

“Apa kau berniat menggodaku?” aku membulatkan mata dan langsung menjitak kepalanya kasar.

“Aish, appo…” rintihnya.

“Apa maksudmu aku mau menggodamu, hah?!”

Ia menyeringai kecil. “Lihatlah! Kau hanya menggunakan lingerie dibalut dengan cardigan tipis seperti itu. Aish, rambutmu juga basah. Apa ada kata lain selain kau tidak berniat menggodaku?”

Aku menatap sinis ke arahnya. “Ini karena kau memanggilku dengan terburu-buru Kyuhyun-ah! Bagaimana sempat aku untuk memilih-milih baju ketika kau memanggilku dalam keadaan baru keluar dari kamar mandi?”

Ia tertawa ringan lalu dengan perlahan mulai berjalan mengitari tubuhku. Membuatku kesal, risih, dan cemas yang bercampur menjadi satu. Mau apa lagi namja ini?

Setelah mengitari tubuhku untuk beberapa kali, akhirnya ia kembali berhenti tepat di hadapanku. “Kuperhatikan kau cukup…” ia mendekatkan bibirnya ke telingaku. “Cantik.”

Bagai tersengat listrik, aku mundur selangkah. Sebuah perasaan itu tiba-tiba kembali menyeruak ke dalam diriku. Memori-memori masa lalu saling berlomba di dalam ingatanku. Tanganku bergetar perlahan. Fokus mataku sekejap hilang. Aku mengatupkan bibirku rapat-rapat. Mencoba bernafas dengan baik ketika kurasakan tiba-tiba oksigen disekelilingku menipis. Tubuhku terasa lemah dan itu membuatku seperti terlihat rapuh.

Kyuhyun yang menyadari keanehan yang terjadi padaku langsung menyentuhkan salah satu tangannya di pundakku.

Neo… gwenchana?

Aku tersenyum getir. Kenapa? Kenapa satu kata itu dapat membuat efek seperti ini terhadapku?

“Hyo-Ra-ah, gwenchana? Yaa! Jangan membuatku mencemaskanmu.” Ia mengguncang-guncang perlahan bahuku. Namun aku masih bergeming.

“Yaa! Aish, sepertinya tidak ada cara lain…” aku meliriknya sekilas ketika ia mulai memejamkan matanya. Apa? Apa yang tengah dilakukannya? Jangan bilang…

Ia tersenyum samar setelah beberapa saat memejamkan mata dengan fokus dan terdiam. “Kau begini karena namja itu?”

Aku mengerutkan keningku heran. Namja? Jangan bilang kalau apa… yang kutakutkan benar?

“Ma… maksudmu?”

“Kau tidak bisa berbohong padaku sekarang. Mianhae, karena aku telah dengan lancang membaca pikiranmu. Tapi sepertinya ini hanya satu-satunya cara mengetahui apa yang terjadi padamu sesaat tadi.” Ujarnya lalu menarik pergelangan tanganku kuat. Membuat aku sedikit meringis sakit.

Ia berhenti secara mendadak, membuatku yang mengikutinya dari belakang sambil menunduk itu sukses membentur punggungnya.

Appo…” aku mengusap perlahan kepalaku. Ia hanya diam tanpa berniat meminta maaf. Benar-benar vampir paling menyebalkan yang pernah kutemui seumur hidupku. Tunggu… memang aku pernah bertemu sebelumnya dengan vampir selain dia?

Ia kembali menarik tanganku kasar dan mendudukkanku pada sebuah kursi di depan meja rias. Membuatku dapat melihat pantulan diriku sendiri pada cermin panjang yang bertengger dengan manis di atas meja itu. Sedangkan aku juga bisa melihat namja tinggi itu berdiri tepat di belakangku.

“Lihat!” ia memegang atas kepalaku dengan tangan kanannya dan daguku dengan tangan kirinya.

“Kau pikir kau jelek? Lihat wajahmu baik-baik! Kau hanya kurang memolesnya dan tidak pernah mencoba untuk mengubahnya!” ia dengan paksa melepas ikat rambut yang kugunakan (hampir setiap hari) yang selalu kugunakan untuk mengkuncir kuda rambut panjangku.

“Lihat! Bahkan hanya dengan menggerai rambutmu seperti itu pun kau sudah terlihat cantik Park Hyo-Ra.” Ujarnya sambil menatapku tajam.

“Dan…” ia melepas paksa cardigan yang aku gunakan. Membuatku refleks meronta-ronta tapi dengan ajaibnya ia sudah bisa melepas cardigan-ku itu tanpa kesulitan sedikit pun. Apa kali ini ia juga menggunakan kekuatannya sebagai vampir?

Ia memegang kedua bahuku lalu membungkukkan tubuhnya dan mensejajarkan tubuhku yang tengah duduk dengannya.

“Kau memiliki wajah yang cantik Park Hyo-Ra. Kau pikir namja bernama Lee Donghae itu pantas mengatakan hal buruk itu kepadamu? Coba saja jika kau mulai menggerai rambutmu dan berpenampilan lebih baik. Aku yakin namja itu akan bertekuk lutut padamu.” Ujarnya yang menurutku terdengar berlebihan. Tapi anehnya… hal itu malah membuat perasaanku lebih tenang dari sebelumnya.

Lee Donghae, dulu aku memang pernah memiliki perasaan terhadapnya. Walaupun kami sepupu, saat itu aku berpikir kalau ia tidak memiliki ikatan darah terhadapku. Dan saat itu pula aku berpikir bahwa sepertinya… tidak masalah. Aku mulai memiliki perasaan terhadapnya sekitar 6 bulan yang lalu, saat Eomma tiriku memperkenalkanku dengannya. Dan saat itu pula hubungan ‘kekerabatan’ku dengannya perlahan mulai dekat.

Sampai suatu hari ia mengajakku berjalan-jalan di mall. Awalnya aku berpikir ia memiliki perasaan yang sama terhadapku. Tapi ternyata aku salah, namja itu membawaku ke mall untuk membantuku memilih kado yang tepat untuk… yeojachingu-nya. Dan yang paling menyesakkan untukku selama ini adalah, aku sama sekali tidak mengetahuinya kalau ia memiliki yeojachingu. Dan perkataan yang masih terngiang di dalam diriku selama ini adalah…

Aku tersenyum tipis. “Kurasa Yoona Eonni akan suka hadiah darimu, Oppa.”

Ia membalas senyumku. “Makanya, cepat-cepatlah mencari namjachingu Hyo-Ra~ah. Kau ini… belajarlah sedikit dari yeojachinguku, ini.” Ia menunjukkan sebuah foto dari ponselnya. Seorang yeoja yang terlihat sangat cantik.

“Jadi, maksudmu Oppa? Apa aku tidak cantik?”

“Tentu saja. Kau belajarlah yang banyak darinya. Nanti akan aku perkenalkan.” Ujar Donghae Oppa seraya tersenyum simpul tanpa memperhatikan bahwa ucapannya tadi membuat hatiku seakan hancur, untuk sepersekian detik yang terasa lamanya.

“A-aku…”

“Aku mengetahuinya. Mianhae, kalau lagi-lagi aku lancang membaca pikiranmu. Tapi, mulai sekarang bersikaplah untuk lebih percaya pada dirimu sendiri. Semua gadis di dunia ini pasti akan menjadi lebih cantik jika mau melakukan perubahan pada diri mereka masing-masing. Termasuk kau. Dan aku yakin yeoja-yeoja yang pernah mengintimidasimu itu juga akan merasa iri jika melihatmu seperti ini.”

“Ba-bagaimana kau bisa—“

“Aku sudah minta maaf bukan tadi karena lagi-lagi membaca pikiranmu? Tenang saja. Aku hanya membaca pikiranmu yang sepertinya harus kuketahui.” Ia mengembangkan sebuah senyum. Yang untuk pertama kalinya membuat sebuah perasaan hangat menjalari hatiku. Kenapa?

“A-apa kau juga akan bertekuk lutut jika aku… melakukan apa yang kau katakan tadi?” mwoya? Apa yang baru saja kau katakan Park Hyo-Ra?!

“A-aku… lu… lupakan!” aku yakin wajahku sudah bersemu merah. Namun ia malah tersenyum lembut (lagi) untuk kedua kalinya.

Ia menyampirkan sebagian rambutku ke belakang telingaku sebelum berbisik, “Tanpa kau melakukannya pun, aku sudah cukup puas. Setidaknya, aku bisa membuatmu cantik kapan saja. Benar bukan?” lagi-lagi, perasaan hangat itu kembali menjalari hatiku bahkan sampai ke pipiku.

Perlahan, ia menyampirkan lagi cardigan yang kugunakan tadi.

“Lebih baik sekarang kau kembali ke kamar. Hari sudah semakin larut, Ra~ya.”

***

            Sudah genap 20 hari aku tinggal bersama namja bernama Cho Kyuhyun itu. Dan besok, tepat 3 minggu aku tinggal di rumah ini. Sesuai perjanjian, besok aku juga akan bebas dengan segala hal yang berkaitan dengannya. Tapi, mengapa aku merasa sedikit… tidak rela?

“AAAAAAKKKKHHH~”

Aku tersentak dari lamunanku ketika mendengar sebuah jeritan yang memekakkan telinga. Tidak. Itu tidak terdengar seperti sebuah jeritan namja itu. Tapi ini lebih terdengar seperti… jeritan yeoja.

Dengan cepat, aku beranjak dari sofa yang kududuki dan bergegas mencari asal suara itu.

Entah mengapa sedari tadi firasatku sangatlah tidak menyenangkan. Apa? Apa yang sebenarnya terjadi?

Dan juga… hari ini pun aku sama sekali belum bertemu namja itu.

Biasanya aku akan menemukannya tengah tertidur pulas dengan sebuah ‘lautan buatan’ di atas bantalnya. Tapi, pagi hari ini tidak. Aku tidak menemukannya di dalam kamarnya. Kupikir ia sedang berjalan-jalan di luar atau semacamnya. Tunggu, tapi ini terlalu aneh. Biasanya setiap ia akan pergi, ia akan selalu menyempatkan waktunya untuk pamit terlebih dahulu padaku. Aku merasa hawa dingin semakin menusuk. Tidak, mengapa semakin dipikirkan ini semakin aneh? Tidak biasanya ia seperti ini.

Aku terus berjalan bahkan sampai setengah berlari untuk mengecek setiap ruangan yang ada di dalam rumah ini. Dan baru kusadari kalau rumah ini terlalu besar dan terlalu banyak ruangan-ruangan yang isinya tidak jauh-jauh dari sofa, televisi, lemari, dan lainnya.

Aku juga baru menyadari kalau rumah ini terlalu banyak koridor panjang yang di sepanjang dindingnya terdapat banyak lukisan. Tentu saja satu di antara lukisan-lukisan itu terdapat gambar wajah namja itu.

“AAAAAAKKKKHHH~”

Aku semakin bergidik ngeri mendengar jeritan atau lebih tepatnya jeritan rintihan seorang yeoja itu. Dan… asal suaranya itu…

Aku berlari kearah suara jeritan itu. Satu. Tinggal satu tempat lagi yang belum kudatangi.

Satu-satunya tempat di lantai 3 rumah ini.

Langkah kakiku terus menggiringku ke tempat yang seharusnya sedari awal kudatangi. Tapi… tapi siapa yeoja yang menjerit itu?

Perasaan takut, cemas, dan khawatir menumpuk menjadi satu di dalam pikiranku. Apa ini…

Di ujung sana, aku bisa melihat sebuah pintu kayu bercat dark brown. Tidak salah lagi, aku yakin itu satu-satunya tempat dimana ‘mungkin’ yeoja-yang-aku-tidak-tahu-siapa itu menjerit.

Tap. Tap. Tap.

Aku berjalan mengendap-endap ketika hampir tiba di depan pintu itu. Aku menarik nafas lalu menghembuskannya perlahan. Siapa? Siapa yang kira-kira berada di dalam?

Dengan segenap keberanian yang kupunya, aku pun mulai memegang kenop pintu dan membukanya perlahan.

“Siap—“

Aku tersentak kaget mendapati pemandangan di depanku.

“Kyu… Kyuhyun?”

Andai saja aku tahu ini bukan kondisi yang tepat, mungkin saat ini aku sudah akan memuntahkan isi perutku melihat hal ini. Bagaimana tidak?

“Kyu… Kyuhyun… hentikan!” aku mengeraskan suaraku, membuat namja itu menolehkan kepalanya kepadaku.

Aku bisa dengan jelas melihat matanya yang berkilat-kilat merah, tapi kali ini aku benar-benar tidak bisa melihat sosok Cho Kyuhyun disana. Bibirnya penuh dengan bekas darah. Ia mendekap seorang yeoja yang bisa kulihat tengah merintih menahan kesakitan pada lehernya. Tanpa menghiraukanku, Kyuhyun kembali menggigit leher putih yeoja itu. Dapat kulihat mata yeoja itu sembab, tubuhnya gemetar. Dan aku yakin ia kini tengah mencoba untuk bernafas dengan normal. Walaupun aku tahu, ia tidak bisa melakukan itu. Kyuhyun terlalu mendekapnya erat, dan dengan paksa tangan kiri Kyuhyun mencengkram leher yeoja itu.

Tidak. Ini bukan seperti Cho Kyuhyun.

“Kyu! Lepaskan yeoja itu! Apa kau tidak melihat ia tengah merintih kesakitan?! Jebal Kyu… lepaskan yeoja itu!” Ujarku seraya memberanikan diri mendekat pada Kyuhyun. Dan entah kekuatan darimana, aku mencoba melepaskan cengkraman tangan Kyuhyun pada yeoja itu. Kyuhyun memandangku tak suka. Tidak. Dia bukan Cho Kyuhyun!

Dengan sigap, Kyuhyun menghempaskan tanganku kasar yang mencoba melepaskan cengkramannya pada yeoja itu. Dan dengan lemahnya, tubuhku terhempas begitu saja ke lantai. Tidak. Ia terlalu kuat untuk kuhadapi sendiri.

Aku bisa melihat mata merah Kyuhyun seakan-akan melihatku dengan tatapan yang haus darah. Dengan cepat ia menghempaskan tubuh yeoja yang berada di dalam dekapannya itu dengan kasar. Membuat tubuh yang terlihat sangat lemah itu jatuh tersungkur ke lantai begitu saja. Aku bisa melihat, ia meringis kesakitan sambil memegangi lehernya. Terlihat begitu kesakitan. Tiba-tiba saja sebuah pemikiran buruk menghampiriku.

Apa aku akan bernasib sama dengan yeoja itu?

“Kyu… be… berhenti mendekat! Kumohon Kyu, jangan lakukan ini!” aku terus mencoba mundur dengan keadaan tubuh yang terduduk di lantai. Kyuhyun menghampiriku secara perlahan. Bercak-bercak darah yang terdapat di kemeja putihnya membuatku bergidik ngeri. Aku juga bisa melihat 2 taring Kyuhyun yang terlihat lancip dan matanya yang menatapku seakan mangsanya untuk yang kedua. Atau mungkin lebih dari yang kedua.

Tepat berada di depanku, ia menarik tanganku kasar. Membuatku refleks berdiri. Ia menatap kedua manik mataku tajam, sebelum matanya beralih pada leher jenjangku.

“Ti-tidak Kyu! Jangan!” ia mendekap tubuhku erat. Membuatku sulit bernafas dengan normal. Jantungku berpacu dengan sangat cepat. Tidak. Aku masih belum ingin mati!

Kini aku bisa merasakan hembusan nafasnya di leherku sebelum dengan pasrah, aku merasa ia menyapu sekilas leherku dengan bibirnya. Entahlah, otakku sekarang seperti tidak bisa berfungsi. Aku memukul-mukul dadanya dengan kedua tanganku, namun seperti yang bisa kulihat, itu sama sekali tidak mempan untuknya.

Aku merasakan kedua taringnya menyentuh permukaan leherku. Dan air mata yang sudah tidak dapat kubendung lagi itu, akhirnya meleleh bersamaan dengan kedua taringnya yang mulai menekan permukaan leherku semakin dalam.

~oOo~

CHO KYUHYUN’S POV

Aku selalu sulit melawan hasrat yang sudah bergejolak di dalam tubuhku semenjak gadis itu, Park Hyo-Ra, datang dalam kehidupanku.

Setiap kali aku berada di dekatnya, separuh jiwa vampirku selalu menginginkan darah segar gadis itu. Tapi separuh jiwaku yang lain—manusia, menginginkanku agar aku tidak sampai melukai sedikit pun gadis itu. Dan aku bertekad hingga saat ini, aku akan melakukan hal yang seharusnya kulakukan, tidak melukai gadis itu.

Sayangnya, aku selalu lupa akan satu hal. Dan ini selalu yang aku lupakan. Satu hari menjelang bulan purnama, hasratku untuk meminum darah seorang manusia sangatlah besar. Dan untuk itu, aku selalu pergi di malam hari sebelum bulan purnama untuk memburu satu orang manusia, dan tentu saja, meminum darahnya.

Hari ini, aku berhasil mendapatkan seorang yeoja yang dengan mudahnya, membiarkanku untuk membawa yeoja itu ke rumahku. Ia bilang akan menyerahkan seluruh tubuhnya asal aku mau bersamanya dan apa dia juga tidak tahu kalau aku sama sekali tidak berminat dengannya? Aish, apa setiap yeoja akan selalu terpesona olehku?

Tapi kali ini sepertinya berbeda. Sangatlah berbeda. Aku tidak bisa mengontrol hasratku sendiri dan membiarkanku meneguk darah yeoja itu dua kali lipat lebih banyak daripada biasanya. Dan aku juga tidak menghiraukan rintihan yeoja itu sampai pada akhirnya, gadis itu berada di dekatku.

Dan kali ini lagi, hasratku memuncak. Aku sudah tidak bisa mengontrol emosiku. Kuhempaskan tubuh yeoja itu—yang sedari tadi tidak kuketahui namanya—dan mulai berjalan mendekati gadis itu, Park Hyo-Ra. Sampai di depannya, kurengkuh tubuh gadis itu. Mendekatkan wajahku pada leher jenjangnya tanpa menghiraukan sedikit pun perlawanannya. Aku sudah akan menekan dalam gigitanku pada leher gadis itu ketika kurasakan sesuatu yang hangat, membasahi kemeja putihku.

Tunggu… ia… menangis? Tidak. Ia mulai… terisak. Dan suara isakkannya seakan membuat seluruh organ tubuhku berhenti bekerja.

“Kyu… ja… jangan…” lirihnya terdengar, membuat hatiku seperti disayat.

Dan disaat itu pula, aku merasakan tubuhku terasa sangat rapuh. Aku melepas bibirku yang sedari tadi menyentuh kulit lehernya—tanpa sedikit pun menggigitnya, kurasa.

Dan pada saat itu juga, aku merasakan tubuhku ambruk pada tubuh gadis itu, Park Hyo-Ra, sebelum rasanya mataku terasa sangat berat dan semuanya berubah menjadi gelap.

***

Aku menggeliat kecil ketika kurasakan sesuatu yang basah menyentuh dahiku. Membuatku mengerjap-ngerjapkan mataku sebelum akhirnya mulai membuka mata perlahan.

Pemandangan pertama yang kudapati adalah seorang gadis dengan rambut panjang bergelombangnya tergerai indah seraya mengenakan sebuah dress berwarna biru safir tengah menatapku sambil tersenyum tipis. Memperlihatkan kecantikannya yang terlalu memanjakan mata.

“Akhirnya kau sadar Kyu. Kemarin kau pingsan dengan suhu tubuhmu yang sangat tinggi. Untung aku sedikit lebih kuat, sehingga aku bisa memapahmu untuk berbaring di ranjang.” Ujarnya sambil mengambil mangkuk yang tadi berada di atas meja.

“Duduklah, kau belum makan sejak kemarin.” Aku hanya tersenyum kecil lalu mencoba beranjak dari tidurku, dan setelah itu menyenderkan punggungku di dashboard tempat tidur.

“Kau tidak akan membiarkanku makan sendirian kan?” ujarku dan ia tertawa pelan, menunjukkan tawa cerahnya yang jarang sekali aku lihat beberapa hari terakhir ini. Dan juga yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya.

“Kau terlalu manja, Kyu,” Ia pun mulai menyuapiku sesendok bubur berwarna putih dan aku menerimanya. Kami hanya terdiam sedari tadi sampai satu sendok buburku yang terakhir telah melewati mulutku.

Aku tersenyum kecil. “Bagaimana dengan keadaan yeoja itu?”

“Ia sudah baik-baik saja. Seperti yang kau bilang dulu, ia tidak akan mati. Hanya sekarang tubuhnya terlihat kaku dan pucat.”

Aku mengangguk. “Lalu mengapa kau memakai pakaian seperti itu?”

Ia menatap pakaiannya sendiri. “Mungkin karena hari ini genap aku 3 minggu berada di rumahmu Kyu. Seperti janjimu, kau akan membeskanku bukan?”

Aku sedikit terhenyak. “Sudah berapa lama aku tertidur?”

“Satu hari penuh, dari kemarin malam… hingga malam ini.”

“Aku pasti benar-benar tertidur sangat nyenyak.” Gumamku dan ia mengangguk-anggukkan kepala bersemangat.

“Bedanya kali ini kau tidak membuat ‘lautan buatan’ di bantalmu, Kyu.” Ujarnya dan aku terkekeh pelan sebelum pandanganku beralih pada leher jenjangnya. Disana… aku bisa melihat ada bekas gigitan. Apa karena… ah, aku ingat.

Mianhae.

Waeyo?” ia tersenyum. Cukup. Kenapa ia harus tersenyum seperti itu? Kurasa ia cukup pintar untuk mengerti maksudku.

Aku menghela nafas. “Ada bekas luka gigitan di lehermu. Aku benar-benar minta maaf. Kemarin aku benar-benar tidak bi—“ ia menempelkan jari telunjuknya padaku seraya menggeleng.

“Itu bukan salahmu. Aku yakin saat itu kau tidak sengaja melakukannya. Aku yakin bukan keinginanmu melakukan itu kan?” aku mengangguk dan ia tersenyum.

“Tapi biarkan aku menebus sedikit kesalahanku itu,” Aku mendekatkan wajahku ke lehernya dan mengecup perlahan bekas gigitanku itu. Bisa kurasakan tubuhnya menegang.

“Peganglah,” aku menarik tangannya perlahan dan menyentuhkannya pada bagian leher yang terkena bekas gigitanku itu.

Ia terkejut. “Ke-kenapa lukanya bisa menghilang?” ia menatapku seakan meminta jawaban.

“Pada bulan purnama, kekuatan seorang vampir akan meningkat tiga kali lipat lebih kuat. Dan tentu saja, menyembuhkan bekas luka yang ditimbulkan oleh vampir itu sendiri adalah salah satu hal yang mudah dilakukan bagi seorang vampir. Itu juga hal yang biasa kulakukan untuk menutupi bekas luka setiap aku menghisap darah manusia.” Ujarku dan ia menganggukkan kepalanya.

“Lalu… apa yang spesial dengan hari pada saat bulan purnama?”

“Kami, bangsa vampir, selalu memiliki ritual sendiri. Dimana setiap vampir namja atau yeoja yang berumur genap 1000 tahun harus memiliki seorang pengikat. Dan pengikat itu harus seorang manusia, agar keturunan yang didapatkan oleh vampir lebih banyak. Soalnya, jika pengikat itu sesama vampir, untuk mendapatkan keturunannya cukup sulit dan butuh jangka waktu yang cukup lama.”

“Jadi, maksudmu?”

“Aku ingin kau menjadi pengikatku, Ra~ya.” Ujarku yang entah sejak kapan sudah memanggil gadis itu dengan sebutan ‘Ra~ya’.

“Pengikatmu? Maksudmu?” tepat saat itu, sinar bulan purnama perlahan masuk melalui jendela kaca besar yang berada di ruangan ini. Menerpa wajah kami berdua. Membuatku bisa melihat siluet Hyo-Ra.

“Menikahlah denganku.”

“Kyu…”

“Aku serius Ra~ya. Bukankah buku itu sudah memilihmu? Kini tinggal aku yang menentukan pilihan kan? Dan kuharap kau mau Ra~ya.” Aku menarik perlahan pinggang Hyo-Ra untuk mempersempit jarak di antara kami.

Saranghae… jeongmal saranghae.” Aku menatap tepat pada kedua manik mata Hyo-Ra, memperlihatkan kalau aku sungguh-sungguh atas pernyataanku.

Ia menunduk perlahan sebelum akhirnya suaranya yang pelan, hampir berbisik itu terdengar. “Nado… saranghaeyo, Kyu.

Dan untuk pertama kalinya seumur hidupku, perasaan bahagia sekaligus lega menyelimuti seluruh tubuhku. Mataku seolah-olah memancarkan binar-binar. Dan hatiku seakan ingin melompat dari tempatnya.

Aku mengangkat dagu Hyo-Ra perlahan sebelum akhirnya menyentuhkan bibirku pada bibir mungilnya. Hanya menyentuhkan awalnya sampai bibirku bergerak perlahan, melumatnya dengan hati-hati. Tanganku yang bebas meraih tengkuk Hyo-Ra untuk memperdalam ciuman kami.

Setelah menciumnya cukup lama, aku melepaskan tautan antara bibirku dengannya. Menatap kedua bola mata coklatnya perlahan seraya tersenyum lembut sebelum akhirnya aku tersadar,

Ia akan kembali. Kembali pada kehidupannya.

***

AUTHOR’S POV

Gadis itu berjalan menyusuri jalan setapak yang lengang. Menikmati semilir angin musim semi yang menerpa wajahnya. Membuat beberapa helai rambut panjang bergelombangnya itu sedikit berantakan akibat angin yang berhembus.

Gadis itu telah kembali pada kehidupannya semula, menikmati masa-masa kuliahnya yang sempat terlewati olehnya untuk beberapa waktu.

Park Hyo-Ra, ia meringis ketika tidak sengaja menabrak seseorang di depannya.

Mianhae… aku tidak sengaja.” Ujar Hyo-Ra lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat dengan jelas siapa yang telah ditabraknya dan betapa terkejutnya ketika ia mengetahui siapa orang yang telah ditabraknya.

“Donghae Oppa?

Donghae terpana untuk sepersekian detik memandangi wajah Hyo-Ra yang menurutnya terlihat sangat berbeda. Cantik, untuk mendeskripsikannya.

Oppa sedang apa disini?” tanya Hyo-Ra ketika mereka berdua sudah duduk di salah satu bangku di taman.

“Ah? Oppa sedang merasa sedih saja Hyo-Ra~ah.”

“Sedih? Karena Yoona Eonni?

Donghae mengangguk lemah. “Kemarin… ia memutuskan hubungannya denganku.”

Hyo-Ra terkejut untuk beberapa detik sebelum akhirnya menatap iba Donghae.

Waeyo?

“Entahlah, ia tidak memberikan alasan yang jelas,”

“Aku turut sedih mendengarnya, Oppa.

Donghae tertawa ringan. “Haha. Sepertinya dongsaeng-ku satu ini sudah merubah penampilannya.”

Hyo-Ra hanya tersenyum tipis tanpa sedikit pun berminat menanggapi ucapan Donghae.

“Permisi, Agassi, bisakah anda menjaga jarak dengan calon tunangan seseorang?” sebuah suara mengejutkan Hyo-Ra dan Donghae. Mereka menoleh secara bersamaan ke arah suara itu.

Donghae mengerutkan kening heran. “Calon tunangan? Siapa? Anda siapa?”

“Aku? Kau bisa tanyakan pada gadis di sampingmu.” Hyo-Ra masih terkejut dengan siapa orang yang berada di depannya saat ini. Matanya tampak tak berkedip memandangi seseorang yang amat dirindukannya. Tidak. Ia tidak mungkin salah mengenali suara itu. Walaupun sekarang orang itu tengah menggunakan topi dan kacamata hitamnya.

“Kyuhyun?” Ujar Hyo-Ra pelan.

“Nah, seperti yang sudah anda dengar dari gadis di samping anda. Maaf kalau saya lancang,  tapi bolehkah saya membawa gadis ini pergi?” Ujar seorang itu—Kyuhyun dengan nada yang dibuat-buat, sedangkan Donghae hanya diam menatap keduanya bingung.

“Kuartikan diam itu sebagai iya.” Dengan cepat Kyuhyun menarik tangan gadis di hadapannya yang tidak mendapatkan sedikit pun perlawanan Hyo-Ra.

***

“Kau… mau apa?” ujar Hyo-Ra pelan, pasrah ketika Kyuhyun membawanya ke rumahnya sendiri. Ia sedikit heran mengapa Kyuhyun bisa tahu kalau di rumahnya sedang tidak orang.

“Aku kembali Ra~ya.” Kyuhyun semakin menyudutkan Hyo-Ra ke dinding. Membuat gadis itu hanya menghela nafas pasrah.

“Aku butuh penjelasanmu, Kyu.” Hyo-Ra akhirnya mendongakkan kepalanya menatap kedua manik mata Kyuhyun yang baru disadarinya kini berubah menjadi coklat.

“Matamu…”

Kyuhyun menyeringai kecil. “Kau mau melihat mata biru kristalku?” ia semakin memajukan tubuhnya pada Hyo-Ra, mempersempit jarak di antara keduanya.

Jantung Hyo-Ra berdegup dengan cepat ketika Kyuhyun menyentuhkan bibirnya pada bibir mungilnya. Sentuhan yang amat dirindukannya. Ia memejamkan mata menikmati ciuman itu.

“Kenapa? Kenapa setelah kau menciumku di malam bulan purnama itu, aku kembali ke rumahku? Kau tahu? Aku hampir gila karena memikirkan itu Kyu! Aku hampir gila karena berpikir bahwa semua itu hanyalah mimpi atau benar-benar terjadi, aku hampir gila hanya karena memikirkanmu Kyu! Dan kenapa kau baru kembali setelah 10 hari lamanya aku menunggu?!” Hyo-Ra memukul dada Kyuhyun kuat seraya air matanya mengalir begitu saja membasahi pipinya. Ia… meluapkan semua emosi yang selama ini dibendungnya.

“Itu karena… cerita di dalam buku itu belum selesai Ra~ya. Dan lanjutan cerita itu adalah ketika aku bertemu denganmu kembali di Korea. Entah mengapa, buku itu ingin mempunyai cerita yang tidak selalu berakhir dengan begitu saja. Buku itu ingin agar ada selingan untuk beberapa saat dimana kedua tokohnya semakin memperkuat karakternya satu sama lain.” Ujar Kyuhyun membuat Hyo-Ra meredakan tangisnya.

“Jadi, kau…”

Kyuhyun tersenyum lembut. “Aku kesini untuk memberikan ini Ra~ya,” Kyuhyun merogoh sesuatu dibalik jas hitamnya. Mengeluarkan sebuah kotak beludru berwarna biru di depan gadis itu.

“Izinkan aku…” Kyuhyun meraih jari manis Hyo-Ra lalu menyematkan cincin dengan sebuah batu kristal kecil berwarna biru di atasnya.

“Kyu…” Hyo-Ra tidak dapat menahan lagi air matanya untuk ke luar. Kali ini, ia menangis bahagia.

Would you marry me?” tanya Kyuhyun perlahan diikuti anggukkan Hyo-Ra.

Yes.”

***

EPILOG

“Hei, benarkah itu Park Hyo-Ra? Aigoo, cantik sekali.”

“Oh, Tuhan. Siapa namja yang bersamanya itu? Aish, harus kuakui mereka terlihat sangat serasi.”

“Aaaa, aku ingin seperti mereka!”

Omona, namja di sebelahnya tampan sekali!”

“Pantas saat itu Donghae-ssi mau berjalan dengan Hyo-Ra. Ternyata dengan berat hati, aku harus mengakui kalau Hyo-Ra terlihat sangat cantik.”

“Sudah lama tidak melihat Hyo-Ra, ternyata ia kembali dengan perubahan sebesar itu.”

“Kuharap mereka berdua putus.”

Semua yeoja yang tengah asyik memuji-muji itu langsung mendelik kesal pada yeoja berambut sebahu.

“Yaa! Chae-Ri, berhenti untuk iri pada Hyo-Ra. Aku tahu saat itu kau sangat menyukai Donghae Oppa, sampai-sampai menaruh foto-foto mereka di mading kampus. Padahal kau sudah tahu kan kalau Donghae Oppa saat itu berpacaran dengan Yoona Eonni?” seorang yeoja berambut panjang—Han Hye-Ra, berujar dengan keras. Membuat orang-orang disekeliling mereka menoleh, tak terkecuali Hyo-Ra dan Kyuhyun.

“A-aku…” Chae-Ri tersentak ketika seseorang menepuk perlahan pundaknya dari belakang.

“Pantas saat itu aku merasa ada yang ganjil. Ternyata itu kau.” Ujar Hyo-Ra yang sudah berada tepat di belakang yeoja itu. “Pantas saat itu kau mengetahui namaku sedangkan yang kutahu, pada foto-foto itu tidak tulisan nama atau pun keterangan lainnya.”

Chae-Ri menunduk, mencoba menahan perasaan gelisah dan ketakutannya.

Hyo-Ra tertawa ringan. “Lain kali jangan lakukan hal yang sama ya.” Ujar Hyo-Ra lalu membisikkan sesuatu di telinga yeoja itu. “Kau tahu? Donghae Oppa dan Yoona Eonni sudah memutuskan hubungan mereka. Kalau kau memang menyukai Donghae Oppa, sekaranglah saatnya. Dekati lah dia dan jadilah penyembuh rasa sakit yang tengah dirasakan hatinya.” Hyo-Ra tersenyum simpul ketika mendapati tubuh Chae-Ri yang terkejut.

“Kesempatan belum tentu datang 2 kali!” seru Hyo-Ra sambil berjalan menjauh dari kerumunan itu.

Aigoo, kau lihat tadi? Hyo-Ra-ssi ternyata orang yang sangat baik!”

Omona, ada yang tahu siapa namja di sebelahnya tadi? Aish, rasanya aku hampir pingsan ketika melihatnya!”

“Bukankah namja itu yang bernama Cho Kyuhyun?”

Semua mata langsung mendelik pada asal suara itu, Chae-Ri.

“Bagaimana kau tahu?!” seru para yeoja itu.

Chae-Ri menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “Kemarin saat aku pergi ke toko buku, aku tidak sengaja melihat wajahnya di salah satu sampul buku disana.”

~oOo~

            “Kyu…” Hyo-Ra memanggil pelan namja yang tengah memejamkan mata di pangkuannya sedangkan namja itu hanya bergumam pelan menanggapi.

“Kudengar kau menerbitkan tulisan di dalam buku tua itu ya? Memang benar-benar ada tulisan di dalam buku tua itu?” tanya Hyo-Ra penasaran. Kyuhyun membuka matanya perlahan.

“Tentu. Bukankah sudah kubilang kalau buku tua itu benar-benar akan menuliskan cerita kita disana.” Ujar Kyuhyun lalu kembali memejamkan matanya.

Hyo-Ra mendengus pelan. “Sampai sekarang, aku masih tidak menyangka hal itu benar-benar ada di muka bumi ini.”

“Apa yang selama ini terjadi padamu itu tidak cukup membuatmu percaya dengan ini semua?” ujar Kyuhyun yang kini sudah beranjak dari pangkuan Hyona.

“Hmm… ini semua memang benar-benar nyata, tapi… ah, sudahlah. Oh, ya, apa nama judul buku tua itu? Kau menyamarkan nama kita kan?” Hyo-Ra menatap wajah Kyuhyun yang kini mulai mengeluarkan seringainya.

Blue Crystal.” Ujar Kyuhyun membuat Hyo-Ra mengernyit.

Blue Crystal… Blue… tunggu, jangan bilang judul itu terinspirasi dari bola matamu itu?”

Kyuhyun menyeringai. “Tepat sekali.”

Hyo-Ra mencibir. “Lalu kau menyamarkan nama kita berdua kan?” gadis itu mulai berharap-harap cemas.

“Tentu saja tidak. Untuk apa? Dan, oh, ya aku juga menggunakan foto kita berdua di cover belakang buku itu. Jadi—“

“Yaa! Cho Kyuhyun yang benar saja! Menggunakan foto kita berdua?!” sela Hyo-Ra sambil memberikan death glare-nya pada Kyuhyun.

Waeyo? Biarkan semua orang Seoul tahu kalau kau dan aku itu adalah sepasang kekasih. Dan oh, ya, katanya buku itu juga best seller jadi…”

“BEST SELLER?! YAA! CHO KYUHYUN KAU BENAR-BENAR MENYEBALKAN!!!”

-The End-

Bagaimana readers? Jeongmal mianhae ya kalau kepanjangan hehe