Title : Me VS Stranger-Chapter 1

Author : Lee Dahae

Length : Continue

Genre : Romance, Comedy

Cast :

  • Lee Donghae
  • Park Shinhye (OC)/ You

Disclaimer :

Ini adalah ff pertama dan murni hasil pemikiran author. Jika ada kemiripan dalam segi cerita atau pun yang lain tolong komen ya. Selamat membaca J

CHAPTER 1

Shinhye POV

“Tuan, berhenti di sini.”

Taksi tepat berhenti di sebuah rumah besar dengan taman yang luas. Setelah membayar taksi, aku beranjak turun. Ada kerinduan yang sangat mendalam saat memandangi rumah ini. Berbagai memori muncul di kepalaku. Aku yang bermain sepeda di taman, aku yang bermain petak umpet di sekitar rumah. Ah, rasanya kejadian itu sudah lama sekali. Perlahan aku melangkah menuju rumah itu sambil menyeret koperku.

Dari dulu impianku adalah menjadi seorang penulis. Kebetulan aku mendapatkan beasiswa jurusan jurnalistik ke Inggris. Tentu saja aku tidak ingin melewatkannya. Tapi ayahku tidak merestui. Ayahku ingin agar aku menjadi penerus perusahaannya. Tapi aku tetap ingin memperjuangkan impianku. Akhirnya empat tahun lalu, setelah lulus SMA aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Aku bertekad akan pulang lagi ketika aku sudah sukses. Kini aku sudah lulus kuliah dan di Inggris tulisanku cukup diminati banyak orang.

Fiuh. Kuhembuskan napas perlahan sebelum memencet bel. Entah mengapa aku merasa gugup sekali. Takut jika orang yang membukakan pintu rumah ini tidak menerima kehadiranku.

Ting Tong.

Satu detik, dua detik, … lima belas detik, dan CEKLEK. Pintu terbuka.

Muncul seorang lelaki tampan, tinggi sedang, dengan rambut agak kecokelatan. Umurnya mungkin tiga atau empat tahun di atasku.

“Maaf, ada keperluan apa?” tanyanya.

“Ehm. A-apakah tuan Park Myung So ada?”tanyaku gugup.

“Anda siapa?” tanya lelaki itu lagi.

“A-aku. Park Shinhye,”jawabku. Entah hanya perasaanku saja, tetapi sepertinya lelaki itu agak terkejut mendengar namaku.

Donghae POV

Aku baru saja pulang dari rumah sakit saat bel rumah berbunyi. Kudapati seorang gadis cantik berdiri di hadapanku. Rasanya wajah itu tidak asing.

“A-Aku Park Shinhye.”

Aku tersentak. Jadi inikah Park Shinhye? Anak perempuan yang selalu dicari Tuan Park? Pantas saja wajahnya tidak asing. Aku pernah melihat fotonya di ruang kerja Tuan Park. Tapi kenapa dia baru datang sekarang?

“Park Shinhye? Putri Tuan Park?”tanyaku.

“N-ne…”jawabnya.

Aku menatap gadis itu. Perasaanku jadi kacau. Tahukah ia jika ayahnya sekarang terbaring di rumah sakit?

“Waeyo? Dimana ayahku?”

“Kau… kemana saja selama ini? Kenapa meninggalkan ayahmu?” Pertanyaan itu tiba-tiba terlontar dari mulutku.

“Aku… aku tidak benar-benar  meninggalkan ayahku. Aku hanya ingin mengejar impianku. Memangnya ayahku dimana? Apakah dia sehat?”tanya gadis itu polos.

Cih. Bisa-bisanya dia bertanya dengan wajah sepolos itu. “Anak macam apa kau ini? Bahkan sekarang pun kau tidak tahu keadaan ayahmu?”

“Maaf, Tuan. Kau tidak berhak mengataiku seperti itu. Sekarang tolong jawab dimana ayahku?”Ia tampak kesal.

Sungguh aku merasa kesal pada gadis itu. Dia yang sudah membuat ayahnya koma dan kini ia kembali dengan wajah tanpa dosa.

“Nona, tidakkah kau tahu? Ayahmu sekarang sedang terbaring di rumah sakit. Sudah seminggu ini dia tidak sadarkan diri.”

Shinhye tersentak.

“B-benarkah? Ba-bagaimana… “ Shinhye kehabisan kata-kata. Dia benar-benar shock.

“T-tuan, bisakah kau membawaku ke tempat ayahku? Aku mohon…” pintanya dengan wajah memelas.

Aku berpikir sejenak. Sebenarnya aku malas sekali untuk mengantarnya. Tapi mungkin saja Tuan Park akan sadar jika gadis ini datang.

“Baiklah,” kataku akhirnya.

Shinhye POV

Di rumah sakit.

Kubuka pintu kamar itu dengan perlahan. Di tempat tidur terlihat seorang lelaki paruh baya terbaring lemah dengan selang menancap di tubuhnya. Rasanya aku masih tidak percaya itu adalah Appa. Appa yang dulu kukenal tidaklah sekurus dan selemah ini. Tapi mau dilihat bagaimanapun, itu adalah Appa.

“A-appa…”ucapku lirih. Kugenggam erat tangannya. “Bangunlah. Aku sudah di sini.”

Tidak ada reaksi apapun. Air mataku mulai mengalir. Aku tidak tahan lagi bila melihat ayahku seperti ini. Aku pun keluar kamar.

Di luar, aku terduduk lemas di kursi tunggu. Menangis sejadi-jadinya. Itulah yang kulakukan sekarang. Tiap orang yang lewat memandangku. Mungkin mereka iba , atau mungkin saja mereka risih dengan isakan tangisku. Sudahlah. Aku tak peduli.

“Apakah kau merasa bersalah sekarang?” tanya seseorang. Aku mendongak. Ternyata lelaki tadi.

“Ne? Apa maksudmu?”ucapku dengan suara serak.

“Tuan Park sakit karena ulahmu. Tentu saja sekarang kau merasa bersalah,”katanya dengan nada ketus.

Cih. Ada apa dengan lelaki ini? Baru bertemu sudah membuatku kesal.

What? Jadi kau pikir ini semua salahku?” kataku sedikit emosi.

“Empat tahun belakangan, Tuan Park selalu memikirkanmu. Bahkan ia tidak memikirkan dirinya sendiri. Puncaknya seminggu lalu ia mengalami kecelakaan saat berusaha mencarimu dan tidak sadarkan diri sampai sekarang. Menurutmu ini bukan salahmu?”

Aku tertegun mendengarnya. Jadi seperti itukah? Kalau aku mendengar ceritanya sepertinya memang ini semua salahku. Tapi tetap saja aku tidak terima dengan sikapnya.

“Tuan, aku akui ini semua salahku. Tapi tetap saja kau tidak berhak mengataiku. Memangnya kau siapa hah?”

“Aku…”kalimatnya terputus.

“Lee Donghae-ssi, annyeonghaseo,”sapa seseorang.

Donghae POV

“Aku…”aku belum sempat menyelesaikan kalimatku karena tiba-tiba seseorang menyapaku.

“Lee Donghae-ssi, annyeonghaseyo.”

Aku langsung membungkukkan badan begitu melihatnya. Ternyata yang memanggilku adalah Tuan Kim, pengacara Tuan Park Myung So.

“Ah, Tuan Kim. Annyeonghaseyo.”

“Donghae-ssi, bagaimana kabar Tuan Park?”tanya Tuan Kim.

“Masih belum sadar. Tapi sudah lebih stabil,”jawabku.

Tuan Kim sudah akan masuk ke kamar tetapi langkahnya terhenti begitu melihat Park Shinhye.

“Tunggu. Apakah kau Park Shinhye?”tanya Tuan Kim pada gadis itu.

“Ah, ne,”jawab Shinhye.

“Syukurlah kau sudah kembali. Aku Kim Jung Hoon, pengacara Tuan Park Myung So. Baiklah, selagi kalian berdua ada di sini, ada yang ingin aku bicarakan,”kata Tuan Kim.

“Maaf, tapi maksudmu kami berdua?”tanyaku sambil menunjuk diriku dan Shinhye.

“Tentu saja. Bisakah kita bicara di tempat lain?”

Shinhye POV

Kini aku dan lelaki menyebalkan itu duduk bersampingan di kafetaria rumah sakit. Di hadapan kami ada Tuan Kim, pengacara Appa. Tadi ia mengajak kami untuk berbicara. Sepertinya ada hal yang sangat penting.

“Baiklah, Park Shinhye-ssi dan Lee Donghae-ssi. Aku akan langsung memberitahukan informasi ini kepada kalian,”kata Tuan Kim.

”Jadi, beberapa bulan yang lalu sebelum Tuan Park koma, ia sudah menuliskan surat wasiat.” Tuan Kim merogoh tasnya dan mengeluarkan sebuah kertas.

“Di dalam surat ini, dikatakan bahwa jika Tuan Park tidak ada maka rumah, seluruh harta dan saham perusahaan akan dibagikan kepada Park Shinhye dan Lee Donghae, dengan catatan kalian harus terlebih dahulu meningkatkan keuntungan perusahaan dalam waktu lima bulan. Jika dalam lima bulan  satu dari kalian dapat meningkatkan laba perusahaan maka dialah yang berhak mendapatkan warisan ini.”

Aku mulai mengerti arah pembicaraan ini. Tapi apa aku tidak salah dengar? Lelaki ini juga mendapatkan warisan ayahku?

“Maaf, jadi maksudnya ayahku ingin kami bersaing untuk mendapatkan harta warisan?”tanyaku bingung.

“Benar sekali,”jawab Tuan Kim.

“Lalu apa yang terjadi bila salah satu dari kami berhasil? Bagaimana jika ayahku sadar sebelum salah satu dari kami menang?”

“Kalau itu, tergantung kesepakatan kalian sendiri. Apakah kalian ingin berbagi harta atau ingin mengambil semuanya. Lalu jika Tuan Park sadar, maka kompetisi akan dihentikan.”

Aku tidak percaya dengan pendengaranku. Jadi aku harus bersaing dengan lelaki ini? Tapi bagaimana mungkin dia bisa mendapatkan warisan Appa?

Aku melirik lelaki di sampingku. Ia tampak sama bingungnya denganku. Siapa sebenarnya lelaki ini? Kenapa dia bisa mendapatkan warisan Appa?

“Tuan Kim, ada satu pertanyaan lagi. Bagaimana bisa dia mendapatkan warisan ayahku?”tanyaku sambil menunjuk lelaki itu. Aku bisa merasakan dia menatapku.

“Begini. Walaupun Lee Donghae tidak mempunyai hubungan darah dengan Tuan Park, tetapi Tuan Park sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Selama empat tahun ini, Lee Donghae-lah yang menemani Tuan Park dan merawatnya,”jelas Tuan Kim.

Oh, jadi rupanya begitu. Lelaki yang bukan siapa-siapa ini sengaja menggantikan posisiku, lalu mencoba untuk mendapatkan warisan Appa? Huh. Lihat saja. Aku tidak akan menyerahkan warisan itu padanya. Sebenarnya aku sendiri tidak terlalu tertarik pada kekayaan. Tapi aku tidak ingin warisan ayahku jatuh ke tangan orang yang salah. Bisa saja lelaki ini sengaja bersikap baik pada Appa karena dia mengincar harta. Itu sering terjadi di drama televisi.

“Baiklah Tuan Kim. Aku menerima tantangan Appa. Aku akan berusaha meningkatkan laba perusahaan selama tiga bulan,”ucapku sepenuh hati. Aku dapat kembali merasakan lelaki itu menatapku.

Donghae POV

Kepalaku masih dipenuhi berbagai pertanyaan. Kenapa Tuan Park mencantumkan namaku di surat wasiat? Aku rasa kebaikanku pada Tuan Park tidak melebihi kebaikannya padaku. Aku sendiri merasa tidak pantas mendapatkan warisan itu.

”Baiklah Tuan Kim. Aku menerima tantangan Appa. Aku akan berusaha meningkatkan laba perusahaan selama tiga bulan,”kata gadis itu tiba-tiba.

Aku menatap gadis itu. Kaget dengan perkataannya yang tiba-tiba.

“Aku rasa orang asing hanyalah orang asing. Kita tidak tahu apakah orang asing itu benar-benar tulus atau tidak. Bukankah lebih baik warisan jatuh ke tangan keluarga sendiri?”ucap Shinhye lagi.

Aish. Gadis ini benar-benar. Jadi dia berpikir kalau aku peduli pada Tuan Park hanya karena harta saja?

“Park Shinhye-ssi. Jadi maksudmu aku hanya mengincar harta saja?”tanyaku sedikit emosi.

“Aku tidak bilang seperti itu. Memangnya kapan aku bilang seperti itu?”sanggahnya.

Gadis ini menjadi semakin menyebalkan. Bukannya dia sendiri yang gila harta? Kenapa dia langsung tidak terima begitu namaku disebut di dalam surat wasiat? Kemana saja dia selama ini saat ayahnya sakit? Aku sungguh tidak terima dengan sikapnya yang semena-mena itu.

“Tuan Kim. Aku juga menerima tantangan Tuan Park. Aku rasa belum tentu keluarga sendiri bisa mengurus perusahaan dengan baik. Apalagi jika orang itu tidak punya pengalaman sama sekali dalam mengelola perusahaan,”kataku tidak mau kalah. Shinhye menatapku tajam.

“Ah, ne. Karena kalian sama-sama menyanggupi, mulai besok kalian dapat langsung berkompetisi. Besok aku juga akan membicarakan hal ini dengan Wakil Direktur Jung. Baiklah kalau begitu. Sampai jumpa besok. Aku permisi dulu,” pamit Tuan Kim.

Aku memperhatikan Tuan Kim sampai ia hilang di balik pintu. Kemudian Shinhye beranjak pergi. Tidak lupa sebelum pergi ia menatapku dengan tatapan menjengkelkan.

Shin Hye POV

Ting Tong.

Berkali-kali aku memencet bel rumah tapi tidak ada satupun yang membukakan. Apakah sekarang di rumahku sudah tidak ada pembantu lagi? Aish. Apakah aku harus menunggu di luar sampai lumutan? Udara di luar dingin sekali lagi. Aku menyesal tadi buru-buru pulang ke rumah.

Tak lama kemudian, muncul sebuah mobil Audi A6 berwarna putih masuk ke halaman. Itu adalah mobil yang kutumpangi saat ke rumah sakit. Mobilnya si Lee Dong Jae atau Lee Dong Gae? Entah siapa namanya. Aku berdengus begitu melihat si pemilik mobil turun. Ia berjalan melewatiku. Ia merogoh saku celananya dan mengeluarkan kunci rumah.

Oh, harusnya aku menyadarinya dari tadi. Ia juga tinggal di rumah ini. Ia masuk ke dalam rumah. Ia hanya diam ketika aku mengikutinya masuk. Tapi tunggu. Sepertinya ada sesuatu yang terlupakan. Ah, koperku! Aku baru ingat kalau tadi sebelum ke rumah sakit aku meninggalkan koperku di luar! Tapi tadi tidak ada. Aigoo, bagaimana ini? Aku jadi panik sendiri.

“Kopermu ada di di kamarmu. Sebelum ke rumah sakit aku membawanya masuk,”kata lelaki itu seakan bisa membaca pikiranku.

“Oh, benarkah?”kataku lega. Aku hendak mengucapkan terima kasih. Namun kuurungkan niatku. Bisa-bisa lelaki ini jadi besar kepala.

Aku langsung naik ke kamarku. Kamarku ada di lantai dua. Begitu kubuka pintu kamar, aku terperangah. Ternyata tidak ada yang berubah. Semua letak benda masih seperti sebelum aku meninggalkan rumah. Tempat tidur yang berkelambu, dinding dengan cat warna krem, buku-buku di meja belajar, bahkan baju-baju di lemari pun tidak ada yang berubah.

Kupandangi foto yang terpajang di meja. Ada fotoku dan Appa saat aku baru lulus SMA. Aku ingat saat itu Appa senang sekali karena aku lulus dengan nilai terbaik. Tapi aku yakin beberapa hari kemudian Appa tidak tersenyum lagi. Karena selang beberapa hari setelah kelulusan, aku meninggalkan rumah. Appa, maafkan aku. Kalau saja waktu bisa diputar, tentu aku akan berusaha menjadi anak yang baik bagimu. Air mataku mulai menetes lagi. Ah, Park Shinhye. Jangan menangis. Pasti Appa juga tidak ingin melihatku menangis. Aku merasa lelah hingga akhirnya tertidur.

Saat aku bangun tercium aroma masakan yang sangat harum. Terdengar suara orang sedang memasak di dapur. Aku pun turun. Di dapur terlihat lelaki menyebalkan itu sedang memasak.

“Kau memasak?”tanyaku basa-basi.

“Menurutmu? Apa aku terlihat seperti sedang mencukur rambut?” jawabnya tanpa memandangku. Ia sibuk mengaduk penggorengan.

“Cih. Aku juga tahu. Aku kan hanya basa-basi.” Aku duduk di kursi makan. Diam-diam aku memperhatikannya memasak. Kalau dilihat dari caranya memasak, sepertinya dia sudah biasa. Hebat juga dia. Ia menoleh ke arahku.

“Kenapa lihat-lihat? Jangan harap aku akan memberikan masakan ini kepadamu,”katanya ketus.

“Yah, kau kira aku sudi makan masakanmu? Jangan pikir masakanmu lebih enak daripada masakanku,” balasku tidak kalah ketus.

Ia tidak membalas perkataanku. Huh, lihat saja masakanku pasti lebih enak darimu. Kemudian suasana menjadi hening. Aku mencari bahan omongan. Lalu sebuah pertanyaan muncul di benakku.

“Lee Donghae, aku kan sudah kembali. Kenapa kau tidak pergi saja dari rumah ini? Akulah yang akan mengurus Appa.”

Ia berhenti mengaduk kemudian menatapku tajam. Aku jadi salah tingkah dipandangi seperti itu.

“Aku… tidak percaya padamu. Aku merasa kau hanya akan menyusahkan Tuan Park saja. Jadi aku tidak akan pergi dari rumah ini.” Setelah bicara seperti itu ia kembali meneruskan masaknya.

Tunggu. Apa yang dia bilang barusan? Dia tidak percaya padaku? Cih. Dia pikir dia itu siapa?

“Yah, Lee Donghae! Kau pikir kau itu siapa, hah?! Yang anak kandung Appa itu adalah aku! Kau tidak bisa…” Belum sempat selesai bicara tiba-tiba kakiku merasa geli. Sesuatu yang berbulu menyentuh kakiku. Aku melongok ke bawah.

“KYAAA. MAKHLUK APA ITUUUU??? GET IT OUT!! QUICKLY!!” Aku langsung melompat ke atas kursi.

“Waeyo?” tanya lelaki itu penasaran. Ia memeriksa kolong meja.

“Bada-ah. Kenapa kau main di kolong meja? Ayo sini main sama hyung.” Ia menggendong makhluk itu. Aku hanya menatapnya ngeri.

“YAAH, LEE BONG HAE! CEPAT SINGKIRKAN MONSTER ITU DARI HADAPANKUUUU!” pekikku.

“Yah, kau bilang Bada apa tadi?? Monster??  Asal kau tahu saja Bada itu anjing terimut sedunia, arra?? Lagi pula namaku Lee Donghae! Jangan ubah namaku sembarangan!” Ia tidak terima.

“Ah, terserahlah. Yang penting cepat bawa makhluk itu pergii!!”

Donghae membawa makhluk itu pergi. Tak lama kemudian ia kembali.

“Kau taruh dimana dia?”

“Tenang saja. Aku sudah menaruh Bada di kandangnya. Dia tidak akan mengganggumu,”katanya.

Aku menghela nafas lega. “Lee Donghae, siapa yang membolehkanmu membawa anjing ke rumah ini?”

“Ayahmu.” Donghae menjawab sambil memakan masakannya.

“Mwo?? Appa mengizinkanmu? Apa Appa lupa kalau aku tidak suka binatang?” Aku menatapnya tidak percaya.

“Mana kutahu. Yang jelas waktu aku minta izin untuk membawa Bada ke rumah, ayahmu membolehkannya. Bahkan kadang-kadang ayahmu bermain dengan Bada.”

Really?? Oh. How poor he is. He must be lonely all this time so he played with that monster.” Aku membayangkan ayahku berlari-lari sambil melempar freesbee ke anjing itu.

“Park Shinhye, berhentilah memanggil Bada monster. Dia bisa sedih bila mendengarmu,” kata Donghae. Ia melirikku kesal.

“Memangnya aku peduli?” balasku ketus. Ia tidak membalas perkataanku. Ia hanya memandangku sinis sambil terus melanjutkan makannya. Aku memandangnya yang sedang asyik makan. Kelihatannya enak. Kemudian perutku berbunyi. Suaranya cukup keras hingga Donghae kembali memandangku.

“Kau lapar?”tanya Donghae. Aku mengangguk sambil berharap ia akan menawarkan makanannya. Ia memandang makanannya kemudian memandangku.

“Masak sendiri sana! Katanya masakanmu lebih enak,”katanya ketus sambil meneruskan makannya.

Arrggh. Lelaki ini sangat menyebalkaaaannn.

To Be Continued

Gimana? Berantakan ya ceritanya? Hehe. Maaf ya karena author masih baru bikin ff jadi harap maklum…

Oh iya, bagi yang udah baca tolong kasih pendapat dan saran ya untuk kelanjutan ff ini. Terima kasih buat admin yang udah publish ff ini dan buat chingu yang udah baca ff ini. J