[CHAPTER12] MY ADORABLE FIANCEE

Author : Madhit

Genre : Romance

Length : Chaptered

Main Cast

  • Park Chiyoon as herself
  • Super Junior Lee Donghae as himself
  • Jessica Jung as herself
  • CN Blue Min Hyuk as Richard Kim

Disclaimer :

Cerita ini murni buatanku . Bisa dibilang FF pertama karena sebelumnya hanya menulis cerpen oneshot. Ohya, jika ada complain mengenai kesamaan karakter tokoh maupun alur cerita bisa langsung diberikan komentarnya. J

 

Author PoV

“Rich, apa yang kau lakukan?” Chiyoon menghampiri Richard, yang saat itu sedang membelakanginya. Richard telah sukses mengembalikan kertas itu ke dalam tempat asalnya, sehingga tak ada kecurigaan dari Chiyoon.

“Ternyata tulisanmu tidak berubah ya. Still so weird” Ucap Richard, sedangkan Chiyoon hanya bisa mendengus sambil tersenyum. Ia berniat ingin membalas pernyataan tak menyenangkan dari Richard.

“Rich, apakah kebiasaanmu masih sama? Kau, masih suka menggumam saat tidur?” Chiyoon tersenyum puas, sedangkan wajah Richard Nampak malu.

Bingo ! just look at your face, bisa kutebak kebiasaanmu masih tetap sama”  Richard tersipu lagi. Kali ini karena ia senang bahwa Chiyoon masih saja mengingat kebiasaannya setelah bertahun-tahun berpisah. Ini merupakan kebahagiaan tersendiri baginya.

“Nuna”

“Ya?”

“Rencanamu untuk kuliah di Jepang. Promise me that you will ?” Bisiknya Richard dengan wajah penuh harap. Ekspresi Chiyoon berubah seketika. Wajahnya Nampak berfikir sejenak. Ia mengedikkan bahunya ragu.

“Aku tidak tahu, Rich” Jawabnya lemah. Ia menoleh kearah lain. Richard mengikuti arah pandangan kakaknya.

But, why?” Chiyoon mendongak, matanya menerawang jauh.

“Kurasa ucapannya tadi adalah sungguhan. Kupikir aku bisa menghindarinya”

Mwo ? Siapa yang kau maksud , ya! nuna?” Richard mengambil tempat di sebelah Chiyoon. Memandangi nuna nya lekat-lekat.

“Siapa lagi, calon tunanganku, calon suamiku. Ash !” Chiyoon mengacak rambutnya sendiri kesal. Richard menoleh kearah lain, dan memikirkan sesuatu.

Lee Donghae ? Cih, apa dia bercanda ?

“Bahkan aku sama sekali tak pernah ikut campur urusannya dan Jessica” Wajah Chiyoon berubah murung.

Jessica? Nama seorang gadis yang ia tulis di jurnalnya..

Please tell me, what happened , nuna ?” Wajah Richard semakin penasaran. Terlebih ucapan Chiyoon yang hanya sepotong-sepotong, mau tak mau ia harus menggabungkannya agar bisa dimengerti.

“Lee Donghae. Ia juga akan belajar di Universitas yang sama denganku, Rich”

Richard terkejut, Bukankah ini aneh. Kemarin Yoojin berkata bahwa Donghae dan Chiyoon akan berpisah untuk menempuh pendidikannya di lain Negara. Sekarang Chiyoon mengatakan bahwa Lee Donghae juga akan kuliah di Jepang? Dan, di universitas yang sama? Richard sama sekali tidak menduganya.

Lee Donghae ternyata tekadmu besar juga.

 

~~~

Donghae menghembuskan nafas lega. Dikiranya Jessica tidak akan setuju dengan keputusannya . Bagaimanapun, ia harus menjaga Jessica untuk sementara waktu sampai kasusnya berakhir. Namun ada sesuatu yang daritadi mengganggu pikirannya.

“Kupikir kalian sangat cocok, dan kuharap kalian mau bekerja sama dengan baik. Bagaimanapun, ini adalah acara tahunan yang wajib dilakukan oleh setiap kelas”

“Aku , dan Chiyoon?” Donghae dan Chiyoon berpandangan. Keduanya bertatapan satu sama lain. Sama sama dengan mata membulat.

C’mon kalian terlihat cocok. Aku bersungguh-sungguh. Banyak yang meminta kalian untuk menjadi pasangan di drama musical tahun ini. Kumohon jangan menolaknya” Hwa Jung yang merupakan ketua siswa tahun ini memohon penuh harap pada Chiyoon dan Donghae. Keduanya Nampak ragu, namun kemudian menjawabnya.

 

“Ah, eh, aku, maksudku, aku ingin memikirkannya dulu. Kau tahu aku tidak bisa bernyanyi dan acting ” Ujar Chiyoon. Walaupun ia ragu apakah itu merupakan satu-satunya alasan utma untuknya. Ia menoleh pada Donghae berharap ia juga bisa menolaknya dengan tegas. Tapi harapannya sia-sia . Donghae hanya terdiam.

“Ah begitu kah?” Hwa Jung mendesah kecewa, ia Nampak berfikir.

“Tapi, kalian juga harus mempertimbangkan permintaan teman yang lain. Mereka banyak yang memilih kalian. Kumohon” Keduanya masih mematung.

“Jika kalian tak menjawab , berarti kuanggap bisa. Baiklah, masalah tokoh utama sudah clear. Selanjutnya aku tinggal mengarahkan bagian-bagian kalian” Hwa Jung beranjak, “Aku pergi dulu” Chiyoon dan Donghae berpandangan aneh.

Seenaknya saja memerintahkan orang !

“Donghae-ah , apa kau yakin kita bisa melakukannya? Sejujurnya ini ide yang bagus untuk ambil bagian dari drama musical ini. Tapi,” Chiyoon menghentikan ucapannya, menoleh kearah Donghae. Sedangkan Donghae menghela nafas,

“Ya. Meski aku tak yakin juga” Mata Donghae menatap Chiyoon, “Tapi, Hal yang terpenting yang benar-benar akan kita hadapi adalah ,,kurasa kita akan sering bertemu lebih dari biasanya”

 

Bagi Chiyoon ini merupakan pengalaman pertamanya akan terus berdekatan setelah 5 tahun saling menjauh. Ia tak yakin dirinya akan terbiasa dengan kehadiran Lee Donghae. Dan tak yakin ia bisa melupakan perasaan anehnya jika sering berdekatan dengannya. Perasaan aneh yang sampai sekarangpun ia belum mampu mendefinisikan perasaan apa itu.

“Apa kau keberatan ? Kau terlihat, begitu tertekan” Ucap Donghae, Chiyoon menggeleng ragu. Ia memberanikan diri menatap mata Donghae.

“Aku tak yakin bisa, sebelumnya aku tak pernah…”

“Percayalah, semua akan berjalan lancar” Potongnya. Ia tersenyum hangat, lalu meraih jemari Chiyoon. Digenggamnya sekilas, kemudian dilepaskannya begitu saja. Sentuhan pertama Donghae, sentuhan yang terasa begitu hangat.a

“Kita akan berlatih keras” , Sambungnya. Chiyoon masih memandang jemarinya, bekas genggaman tangan hangat Donghae.  Lalu keduanya saling mengangguk.

Entah mengapa, melihatnya tersenyum membuat rasa khawatirku hilang seketika

“GAwaaat!!!” Jinshim berteriak, memekakakan telinga seluruh isi kelas.

“Ya! Lee Donghae! Jessica, ia pingsan” Donghae tersentak , ia berpandangan sekilas pada Chiyoon.

“Dimana dia sekarang?”

“Kurasa, di ruang perawatan sekolah” Tanpa menunggu apa-apa lagi, Donghae langsung berlari keluar. Takut jika terjadi apa-apa pada Jessica. Seolah khawatir jika ia tak cepat datang, maka nyawa Jessica tak akan terselamatkan. Setidaknya itulah sikap yang ditunjukkan Lee Donghae di depan mata Chiyoon. Gadis itu membuntutinya dari belakang, sambil menata perasaannya. Ia berkali-kali meraba bagian dadanya, merasakan gemuruh detak jantungnya yang semakin cepat. Kemudian mendesah panjang dengan perasaan tak karuan.

Perasaan aneh ini, mengapa selalu muncul ?

                                               

                                                ~~~

Richard memandang kotak kecil beludru di genggamannya, sebuah cincin yan akan ia pakaikan pada jari manis gadis yang ia cintai. Pikirannya melayang di kejadian saat dirinya masih di Jepang. Percakapan antara dirinya dan ayahnya.

“Apa yang kau katakan?!! Dasar anak kurang ajar !”

“Ya, ayah aku memang mencintainya. Aku minta maaf “

“Tapi dia sepupumu !!! Meski tak ada ikatan darah !”

Richard hanya menunduk, tak ingin membuat ayahnya semakin shock. Ya, ia memang bukan anak kandung ayahnya. Ia merupakan seorang anak angkat yang beruntung karena diadopsi seorang pengusaha kaya raya.

“Perasaan ini tak akan berubah sampai kapanpun , yah! Aku sangat tersiksa merahasiakan ini darimu selama  bertahun-tahun. Kuharap kau mengerti”

Ayahnya memegang dadanya, tubuhnya sedikit terhuyung. Tak percaya pada ucapan tak masuk akal dari seseorang yang sudah lama ia anggap sebagai anak kandungnya. Ia menenangkannya sejenak, kemudian lekas berkata.

“Aku akan merestuimu jika ia juga menyukaimu. Jika Chiyoon tak ada perasaan apapun untukmu, maka berjanjilah pada ayah untuk melenyapkan perasaanmu selamanya!! Apa kau mengerti ?!”

Richard memejamkan matanya rapat-rapat . Kata ‘selamanya’ dari ayahnya terdengar amat menyakitkan baginya. Bagaimana ia bisa melenyapkan perasaan pada gadis yang sudah dicintainya hampir 10 tahun? Bahunya bergetar. Ia perlahan membuka matanya , tangannya sigap menyembunyikan kotak tersebut di belakang celananya karena dilihatnya Chiyoon mendekat sambil menatapnya lurus penuh tanya.

“Nuna” Gadis itu masih terdiam

“Aku menjemputmu. Kau suka?” Chiyoon mengangguk lemah, wajahnya terlihat sedih. Ia menunduk dalam, mencoba menetralkan hatinya. Tapi sepertinya sia-sia. Ia tak bisa menyembunyikan perasaan sedihnya saat melihat Donghae begitu mengkhawatirkan keadaan Jessica. Semua ini membuatnya kesal sekaligus sedih.

“Nuna, kau tak apa? Apa kau sakit?” Richard menyentuh dahi Chiyoon.

“Rich? Maukah kau membantuku? Saat ini aku sedang bingung” Ucap Chiyoon tanpa memandang wajah Richard, ia hanya terdiam. Richard mengangguk dan membimbingnya masuk ke dalam mobil. Ia menyalakan mesin mobilnya dan melesat pergi. Menembus kota Seoul dengan hiruk pikuk yang semakin memadat.

“Nuna? Apa yang kau pikirkan?” Richard Nampak khawatir, berkali-kali ia menatap wajah Chiyoon dan kembali mendesah panjang karena tak berhasil menemukan penyebabnya. Ia sama sekali tak bisa focus pada jalan di depannya.

“Akhir-akhir ini, aku memilki perasaan aneh terhadap seseorang, Rich” Chiyoon menghela nafas, matanya memandang diluar jendela sembari menggumam, “Di dekatnya aku bisa sangat merasa nyaman, merasa kesal, merasa sedih, bahkan aku pernah menangis semalaman karenanya. Semua ini membuatku bingung, Rich. Bahkan aku tak paham perasaan apa ini” Mata Richard menyipit, Chiyoon masih tertunduk lesu. Ia meremas jemarinya.

Richard terdiam, membiarkan Chiyoon melanjutkan kalimatnya.

“Aku merasa bahagia saat berada di dekatnya. Aku bahagia melihatnya tersenyum, aku bahagia melihatnya menatapku, aku, aku bahkan bisa merasa sedih melihatnya begitu memperhatikan kekasihnya. Ini sungguh lucu bukan?”

 

Dada Richard tiba-tiba bergemuruh. Ia tak bisa berkonsentrasi , ia membelokkan mobil ke area tepi jalan lalu mematikan mesinnya . Ditatapnya Chiyoon lurus. Wajahnya penuh harap, ia takut jika perkiraannya akan benar-benar terjadi.

“Nuna, apa kau jatuh cinta padanya?” Richard menyentuh pipi Chiyoon dengan punggung jarinya. Gadis itu menoleh, wajahnya menunjukkan semburat kekecewaan, namun dipaksakan tersenyum. Richard tak sanggup melihat nuna nya seperti ini.

“Tidak mungkin aku jatuh cinta padanya. Ini mustahil, Rich. Ia sendiri sudah punya kekasih. Mana bisa aku mencintainya” Gadis itu Nampak mendesah panjang. Richard masih memandanginya. Meski hatinya juga sakit, karena ternyata tak ada sedikitpun tempat untuknya , ia tak boleh menampakkan kesedihannya juga.

“Baiklah, kalau begitu, lain kali pastikan bahwa perasaan mu tersebut bukan cinta” Chiyoon menoleh, kemudian ia mengangguk mantap.

Kuharap begitu, nuna..

Ditatapnya kotak beludru itu dalam-dalam, sebuah kotak dengan cincin indah di dalamnya. Ia kemudian berpaling kearah dasbor , lalu diletakkannnya hati-hati tanpa sepengetahuan Chiyoon.

 

“Kau, ingin makan sesuatu? Bagaimana kalau kita minum?” Chiyoon mengerutkan alisnya, ide yang bagus. Richard menunjuk sebuah warung kaki lima tak jauh dari mobil mereka berhenti.

“Disana. Aku ingin ke sana , nuna”

~~~

Jessica menatap kalung yang digenggamnya penuh binar. Sebuah kalung yang ia anggap sebagai kalung keberuntungan, karena telah berjasa mempertemukannya dengan seorang Lee Donghae, malaikat penjaganya. Ia tersenyum sekilas.

Kejadian saat dirinya masih duduk di bangku kelas 2 SMP. Ia dengan sengaja menjatuhkan kalungnya di depan halaman sekolahnya. Kalung dengan liontin foto ayah dan ibunya. Ia sengaja membuangnya karena kesal karena mereka sering mengabaikannya. Lebih mementingkan pekerjaan daripada anaknya sendiri.

Aku benci ayah dan ibuuu !!Jessica membuang kalung tersebut dari lantai 2. Ia tak mengetahui bahwa kalungnya terbentur kepala seseorang di bawahnya.

Lee Donghae memegangi kepalanya dan menyentuh kalung tersebut. Ia mendongak ke atas. Memastikan bahwa ada seseorang disana. Wajahnya masih terdapat semburat kekesalan, akibat pertengkarannya dengan Chiyoon di sekolah.

“hey ! Apa ini kalungmu?” Ia mengacungkan kalung Jessica tepat di atas.

Jessica membulatkan matanya, kemudian buru-buru menundukkan badannya takut anak laki-laki itu melihatnya. Ia berikir sejenak, kemudian berteriak kencang.

“Buang saja barang rongsok itu !” Teriak Jessica, masih menyembunyikan badannya. Donghae memandangi benda tersebut dengan ekspresi bingung.

“Baiklah, aku akan menjualnya!” Ucap Donghae, kemudian berjalan santai. Jessica melotot, ia berlari ke lantai 1 hendak mengambil kembali kalung tersebut.

“Ya! Tunggu !!!”

Jessica tersenyum , ia tak menyangka pertemuan unik tersebut dapat menghantarkannya pada hubungan yang erat dengan Lee Donghae. Sejam yang lalu , ia dengar dari temannya bahwa Donghae lah yang menggendongnya saat ia pingsan. Ternyata tidak sia-sia ia ber-acting pingsan agar Donghae menyudahi percakapannya dengan Chiyoon. Ia senang, saat melihat Donghae tersenyum lebar dan datang untuk menjemputnya, dan tentunya mengabaikan Chiyoon demi dirinya.

Kali ini Ia hendak mengajak Donghae ke suatu tempat.

“Kau yakin ingin makan di sini?” Donghae mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat yang disebut orang sebagai warung kaki lima.

“Tentu saja. Aku lapar, Oppa aku ingin makan bulgogi”

“Tunggu sebentar” Donghae beranjak dan memesan pada seorang ahjuma di depannya. Tiba-tiba ia mematung, begitu melihat dua orang yang dikenalnya memasuki warung tenda yang sama. Keduanya terlihat akrab.

Kumohon, berhentilah ! Donghae menyentuh dadanya. Bergemuruh keras saat memandang wajah gadis itu. Akhir-akhir ini ia memang kerepotan menata perasaannya sendiri. Ia memberanikan diri untuk menyapanya duluan.

“Chiyoon-ssi?” Gadis yang dipanggil oleh Donghae hanya membelalakkan matanya. Seperti ada sengatan listrik beribu-ribu volt, ia tak berani membalas tatapan mata Donghae. Terlalu berbahaya jika Donghae mengetahui apa yang ia pikirkan.

Chiyoon menoleh sekilas pada Richard, ia Nampak kaget dengan seseorang yang ditemuinya. Sontak ia berbalik arah dengan setengah berlari, meninggalkan tatapan sayu dari orang yang baru saja ia bicarakan,  Lee Donghae.

“Nuna? Kau mau mengindarinya?” Bisik Richard. Chiyoon menunduk, ia mengatur nafasnya. Entah mengapa nyalinya begitu ciut saat melihat Donghae bersama Jessica. Tatapan mata itu, mana bisa Chiyoon mengelaknya. Tatapan mata yang seakan menuntutnya untuk larut dalam emosinya sendiri.

“Entahlah, Rich” Chiyoon menggeleng.

“Dengan begini hanya membuat pria itu salah paham” Chiyoon mematung. Ucapan Richard benar.

“Tidak. Jangan berbicara seperti itu, Rich. Aku hanya…”

Tanpa bicara apapun,  Richard menggenggam tangannya. Menguatkannya.

“Noona, semua akan baik-baik saja” Ucapan Richard mirip seperti sebuah bisikan yang menggelitik, Chiyoon hanya menganggukkan kepalanya. Menurut.

Keduanya berjalan kembali menuju warung kaki lima tersebut, mereka tak menghiraukan dua pasang mata yang tengah memperhatikan gerak-gerik mereka berdua. Chiyoon terlihat agak canggung.

Donghae berinisiatif memesankan lebih Sojunya.

“Ahjuma, tolong tambahkan 2 botol lagi” Setelah memesan, Donghae mempersilakan mereka untuk bergabung dengannya dan Jessica. Jessica berdeham saat berhadapan dengan Chiyoon.

“Hai Hyung? Bagaimana kabarmu?” Richard menyapa Donghae, meski agak canggung, sepertinya ia tak ingin terlihat tak menyukai Donghae di depan Chiyoon. Sapaan Richard disambut dengan anggukan dari Donghae.

“Baik”

Donghae agak sedikit rikuh dengan sapaan hangat dari Richard tadi yang tidak biasanya. Seingatnya dulu, Richard sama sekali tak menyukainya.

“Kulihat kalian tadi berbalik. Apa ada masalah?”

“Oh! ponsel nuna terjatuh. Ia kembali untuk mencarinya”

“Hai , lama tidak berjumpa, Chiyoon-ah” Suara Jessica terdengar sangat dingin.  “Tak kusangka, kau akan menjadi tunangan pacarku”, Chiyoon mendengus sekilas. Ia tahu ini perangkap. Ia mencoba menjawab pertanyaan Jessica tanpa dibuat-buat.

“Sama . Aku juga tak menyangka hal ini akan terjadi” Ucap Chiyoon se-rileks mungkin. Bahkan ia bisa tersenyum lebar membalas sapaan dingin Jessica.

“Benarkah ? apa kau senang? Kau terlihat menikmatinya, Chiyoon-ah! Bertunangan dengan Lee Donghae, bukankah ini yang selama ini kau inginkan?” Jessica mendengus. Semuanya terkejut, tak terkecuali Richard, yang mulai berpandangan negative terhadap Jessica. Ingin ia menutup telinga Chiyoon agar tidak termakan oleh ucapan wanita itu.

“Sica..” Donghae menegur ucapan Jessica. Ia menggeleng pelan.

“Kau salah orang jika menanyakan hal itu kepadaku, Jessica !” Chiyoon menatap tajam wajah khawatir Donghae. Seolah ingin menujukkan bahwa Donghae lah yang seharusnya ia tanyai. Chiyoon sama sekali tak menyangka bahwa Jessica akan secara terang-terangan menunjukkan rasa ketidaksukaannya.

“Baiklah, kupikir kalian hanya bertunangan. Bisa berakhir kapan saja. Dan aku akan memastikan hal itu” Donghae menatap Jessica nanar. Ia tak bisa berkata-kata.

“Dan aku tak sabar menantikannya !” Hardik Chiyoon. Tangannya gemetaran menahan emosi. Dadanya terasa sesak, seperti ada sebuah benda yang membuncah dan ingin dilepaskannya segera. Ia menghela nafas panjang.

“Apa kau sudah baikan, Jessica? Kau terlihat sangat sehat, untuk orang yang baru saja pingsan!” Tanya Chiyoon tak bermaksud menyindir karena dilihatnya keadaan Jessica sangat jauh dari kesan bahwa ia sakit. Jessica terlihat sedikit terkejut.

“Aku tak bisa membayangkan jika saja Donghae-oppa tidak menggendongku. Ia menungguku sepanjang hari” Jessica tersenyum hangat pada Donghae, berupaya untuk terlihat mesra di depan Chiyoon. Richard menatap wajah Chiyoon khawatir , kemudian ia menggenggam jemari nuna-nya itu.

“Chiyoon-ah, kurasa mulai besok kita harus sudah berlatih” Chiyoon memandang Donghae tertegun. Di situasi yang mirip seperti perang dunia ini, masih sempat-sempatnya ia berkata demikian. Chiyoon hendak mengajukan protes.

“Maaf nona, makananya sudah datang!” Chiyoon membuang jauh niatnya ,karena dilihatnya seorang wanita datang membawakan nampan berisi penuh makanan.

Saat makanan datang, Richard berinisiatif mengambil piring Chiyoon dan mematongkan seluruh daging untuk gadis itu. Ia juga mengganti gelas soju Chiyoon dengan segelas air mineral. Donghae mulai menyadari bahwa sikap Richard sudah berlebihan, tapi ia hanya bisa mengalihkan perhatiannya dengan minum soju.

“Dagingnya sudah kupotong kecil-kecil. Makanlah yang banyak, nuna”

“Gomawo, Rich” Jessica memandang Donghae yang disebelahnya, berharap memperoleh perlakuan yang sama seperti Chiyoon. Namun sepertinya harapannya sia-sia, Donghae terlalu asik dengan botol-botol soju miliknya.

“Sepertinya kalian amat dekat. Apa kalian sepasang kekasih?” Jessica menyadari kedekatan Richard dan Chiyoon. Donghae mulai terlihat tak tenang, berkali-kali ia menuangkan botol soju ke dalam gelasnya dan meminumnya sedikit frustasi.

Chiyoon dan Richard tak lekas memberikan jawaban, Donghae bersuara, “Mereka saudara sepupu” Gumamnya dingin, menakankan kata sepupu ke wajah Richard dengan kesal. Sejak Richard kecil, ia tak pernah sadar bahwa Chiyoon adalah kakak nya. Donghae kembali meneguk botol-botol sojunya .

“Oppa? Kau bisa mabuk. Pelan-pelan” Jessica menoleh pada Donghae yang mulai sedikit mabuk. Donghae menggeleng. Kemudian Jessica beralih kembali pada Richard

“Benar. Chiyoon adalah sepupuku. Tentu saja kami amat dekat” Jessica menyipitkan matanya. Dilihatnya, wajah keduanya tak memiliki kemiripan.

“Sedekat apa kalian?”

“Sangat sangat sangat dekat. Jika saja aku tak terlahir sebagai sepupunya, aku pasti akan menikahinya saat ini juga”

Tiba-tiba, Donghae menyemburkan soju di mulutnya, sedangkan Jessica mematung dengan wajah terkejut. Richard menatap wajah Chiyoon yang juga tak kalah terkejutnya dengan ucapannya barusan. Ia memandang Chiyoon serius.

“Saranghae , nuna” Richard mendekatkan wajahnya pada wajah Chiyoon , lalu mengecup bibir Chiyoon di depan mata Donghae dan Jessica.

Donghae tersenyum kecut, ia berpaling dari pemandangan di hadapannya. Ia ambruk karena mabuk berat. Untuk orang yang teler karena mabuk, Donghae sadar betul bahwa hatinya amat sakit. Ia memegangi dadanya, Kali ini ia tahu persis penyebabnya karena apa. Donghae merasa cemburu.

*

My Adorable Fiancee,

To be Continued

Annyong ??

How are you . Haduh lama gak posting. Gimana ? bingung gak? Aduh part ini sebenarnya nyambung ga sih? Koment yak. Di acc twitter ku juga oke. @mayka_dily