Tittle        :  Silence Serenade

Author     :  @adiezrindra

Length     : Ficlet

Genre       : Angst

Cast(s)     :  Sandara Park (2NE1), Dong Young Bae (Bigbang)

Disclaimer :

All publicy recognizable characters, settings, etc are property of their respective owners. The original characters and plot are the property of author of this story.
This story copyright (c) 2012 adiezrindra, all right reserved

Happy enjoying~!

__________________________________________________

Sandara Park masih duduk bangku panjang yang sama sejak satu jam yang lalu. Beberapa orang lalu lalang di depannya, beberapa tak mempedulikannya, beberapa hanya bertanya untuk sekedar dijawab oleh angin yang melintas. Wanita itu tak mengucapkan sepatah kata apapun. Tangannya masih menggenggam gelas plastik berisi mocca float yang hampir mencapai dasar.

Beberapa kali, diantara matanya yang terpaku pada dasar gelas, dia mencuri pandang pada sekeliling. Kafetaria YG yang mewah itu hanya terisi dengan dirinya, dan keheningan tak berujung. Tak ada lelaki yang ditunggunya, maupun seseorang yang mungkin menantinya. Hanya dia. Untuk kesekian kalinya, dia mendesah panjang, lelah.

Apa yang dia pikirkan? Menunggu? Bodoh sekali.

.

“Unnie, apa yang unnie harapkan dari dia, sih?” Chaerin bertanya jengkel padanya ketika dia bercerita tentang Youngbae yang terlalu pengecut untuk mencintainya.

“Molla, Chae…” dia lagi-lagi, hanya bisa menggelengkan kepala dan menerawang. Apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang bahkan terlalu pegecut untuk melupakan masa lalunya? Menjadikannya kekasihnya? Dia hanya akan menertawakan dirinya sendiri.

Chaerin menggenggam tangannya perlahan. Hangat. “Unnie, bahkan aku tak akan rela jika unnie kalian berpacaran. Dia… tidak mencintaimu seutuhnya, unnie. dia tak mau berjuang untukmu.”

Dara tahu, di balik kata-kata dinginnya, dongsaeng-nya itu hanya mengkhawatirkannya, keadaannya, dan cintanya yang masuk ke dalam fase tragis. Dia tersenyum getir, “Chae… aku tak tahu apa aku bisa melupakannya…”

Gadis berambut coklat keemasan itu mengulurkan kedua tangannya dan memeluknya erat, “Unnie, aku tahu move on itu sulit, tapi bukan berarti tidak mungkin.”

Mau tak mau, tangan Dara melingkar hingga balik punggung Chaerin, seraya kepalanya mendarat di pundak gadis itu. Air matanya perlahan jatuh, kebimbangan itu tak pernah terpupus, apalagi untuk sirna. “Gomawo, Baby Rin…”

.

Wanita itu menyesap minumanya perlahan, sebelum kemudian sikunya menumpu pada meja untuk menahan dagu mungilnya.

Mungkin tak seorang pun yang tahu di luar gedung YG entertainment, bahwa Youngbae pernah menjalin hubungan. Dia tak tahu siapa gadis yang pernah bersamanya, tak seorang pun yang tahu. Ah, mungkin selain Kwon Ji Yong. Wanita itu bermain api dengan seseorang, di balik bayangan Youngbae. Hingga akhirnya dia mengetahuinya, dia masih tak bisa memutuskan hubungannya. Terlalu mencintainya? Bodoh. Dia hanya terlalu pengecut untuk mengatakannya, hingga wanita itulah yang memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka.

Yang tersisa dari Youngbae kemudian hanyalah trauma. Ada ketakutan dalam dirinya untuk mempercayai cinta sekali lagi, dan hubungan romantisme. Sekali lagi, apa yang dia harapkan dari seseorang yang masih tak bisa melepaskan masa lalunya?

.

“Youngbae, na ddo saranghae.” Sandara mengucapkannya dengan lirih, dengan segala keberanian yang dia miliki. Semua kekuatannya, yang terkuras oleh segala promosi di Jepang, rasanya habis sudah bersamaan dengan ucapan yang baru saja tercetus dari bibirnya.

Youngbae terdiam sejenak, dengan mulut yang terperangah. “App… apa maksudmu, noona?”

Dara menatapnya dengan bingung, “Aa… aku… hanya membalas perasaanmu, Bae.”

Apakah dia salah? Apa yang salah? Youngbae mengucapkan kata yang sama dua bulan yang lalu, saat dia wanita itu masih di Jepang. Benar jika dia juga mencintainya, tapi entah kenapa dalam dirinya ada yang menahannya untuk mengembalikan ucapan Youngbae. Dia ingin mengatakannya di depan Youngbae, menatap langsung kedua manik matanya, dan voila~ happy ending.

Youngbae menggigit bibir bawahnya. Matanya hanya memandang lurus rerumputan, tanpa mampu membalas mata Dara. Takut jika tak mampu membalas tatapan berharap itu dengan tatapan yang sama. “Noona, aku… juga mencintaimu. Tapi aku masih tak berani untuk berhubungan… Mian, noona.”

Sekujur tubuh Dara seakan runtuh seketika. Skenario ini, tak pernah ada dalam bayangannya. Kata-kata Youngbae ini tak pernah terpikirkan dalam benaknya. Kali ini, apa yang harus dia…—

“Aku akan menunggumu.”

Kata-kata yang terucap yang kemudian bak listrik yang mengalir di sekujur tubuh Youngbae. Sandara park sendiri, tak mengerti kenapa dia mengucapkannya, mungkin beginilah hatinya yang berbicara. Kali ini, Youngbae memutar bola matanya, menatap wanita di hadapannya.

“Aku akan menunggumu sampai kamu siap, Bae…”

.

Ketika dia mengucapkan kata-kata itu, artinya dia memang merasakannya. Dia memang ingin menunggunya. Entahlah, katakan saja dia bodoh, tapi hatinya memang terkunci, tak akan bisa memandang pria lain selain Youngbae.

Such an idiot woman.

Dara menatap pintu masuk kafetaria, dan menghela nafas panjang. Mencintai dan dicintai. Dua hal yang bagi Sandara Park bak magnet yang memiliki kutub yang sama, tak akan pernah bersatu. Sesungguhnya, apa yang bisa diharapkan dari seseorang yang bahkan tak ingin membalasnya?

.

“Ji, sebenarnya apa yang salah denganku?!” Dara menangis sejadi-jadinya di hadapan Jiyong.

Sandara tak pernah mengatakan apapun pada kekasih sahabatnya itu, tapi mata Jiyong terlalu awas untuk sekedar mengetahui perasaan Sandara, maupun Youngbae. Jiyong tak pernah bertanya tentang bagaimana perasaan Youngbae untuk Dara, maupun Dara untuk Youngbae. Karena jawabannya adalah sama, cinta. Hanya ada satu tirai tipis diantara keduanya tanpa ada yang berani mengoyaknya.

Jiyong menghela nafas panjang seraya menyalakan rokoknya. Satu kepulan asap yang membumbung dalam studio, untuk menatap iba wanita di depannya. Satu anak sungai kecil di masing-masing pipi, bercampur dengan mascara hitam tipis yang tergambar abstrak karena usapan tangannya. How pity of her. “Tidak ada yang salah, noona.”

“Lalu?! Kenapa Youngbae— AH! apa aku kurang bersabar menunggunya? Apa aku kurang mencintainya?!” Dara memutar bola matanya liar, sebelum kemudian menatap Jiyong dengan pandangan menuntut, “Apa aku memang tidak pantas untuknya, Ji?”

Satu genggaman asap yang mengurai, dan Jiyong mematikan rokoknya. Lelaki itu mengambil duduk di samping Dara, di sofa yang sama, “Bukan kamu, noona. Tapi dia.” Hening untuk beberapa jenak sebelum Jiyong kemudian melanjutkan, “Dia yang tidak pantas untukmu.”

“Maksudmu?”

“You know what I mean, noona. Sudah berapa lama kamu menunggunya? Hampir setahun, kan? Sedangkan dia? Dia bahkan tak berani memperjuangkan kamu. Jika seseorang benar-benar mencintai kamu, maka dia akan memperjuangkan kamu. Bukankah seperti itu, noona?”

.

Sebenarnya dia sudah berpikir hal yang sama dengan Jiyong sejak lama. Dia tahu, dia pantas mendapatkan seseorang yang lebih baik dari Youngbae. Tapi entah kenapa, bagian terbesar dari hatinya, justru menahannya, mencekal langkahnya. Tak akan pernah ada yang menang dalam cinta, manusia selalu kalah melawannya.

Berharap lebih lama pada Youngbae seakan menaburkan garam pada luka yang menganga segar. Perih berkali lipat. Namun dia tak bisa berhenti. Apakah dia… masochist? Menunggu seseorang yang bahkan tak pantas? Bahkan bagi dirinya sendiri, apakah Youngbae cukup layak untuk ditunggu?

 .

“Aku seperti merendahkan harga diriku, Bom…” Dara menggigit bibir bawahnya, seraya tangannya meremas bantal sofa. “Apa aku salah mencintainya?”

Park Bom berpikir sejenak, sebelum dia menggenggam tangan Dara dan berkata lembut, “Ani, Dara-yah. Tidak ada yang salah dalam cinta.”

“Tapi selalu aku yang berusaha, Bommie. Hanya aku, sedangkan dia? Tak melakukan apapun. Aku pun punya harga diri. Rasanya mengejarnya sudah menjatuhkan harga diriku sendiri.”

Bom memeluknya erat. Dia mengerti, Sandara Park merasa lelah dan ingin berhenti. Tapi dia juga tahu, bahwa berhenti adalah seperti menancapkan tombak di jantungnya sendiri. Keduanya memberikan rasa sakit yang tak terkompensasi. Buah simalakama.

“Berhentilah, jika kamu ingin berhenti, Dara. Tapi jangan melakukannya jika kamu memang masih ingin mempertahankannya. Kamu yang mengerti sampai sejauh apa kamu harus melangkah.”

.

Sandara ingin berhenti. Dia tahu hal itu, tapi dia tak bisa. Tepatnya, dia tak akan bisa. Bagaimana mungkin dia menyerah untuk seseorang yang bahkan tak bisa sedetik pun menghilang dari otaknya. Bahkan di saat dia tak lagi punya waktu bagi dirinya sendiri?

Untuk seseorang yang tak pernah dipedulikan, Dara adalah wanita yang sudah menganastesikan rasa sakitnya. Untuk seseorang yang mungkin tak pernah menganggapnya ada, Dara telah selayaknya mendapat anugerah pekerja terbaik untuk kesetiaannya menunggu. Dan yang paling menyakitkan dari menanti Youngbae adalah…

lelaki itu tak pernah mencoba membalas penantiannya.

Such a fool.

“Noona? Lama menunggu?”

Sandara memutar bola matanya, dan menemukan lelaki dengan senyum bak matahari itu berjalan mendekatinya. Sesaat kemudian, dia sudah duduk di hadapannya. Seketika saja, Dara menyunggingkan senyum cerah, membalas lelaki itu.

Betapa bodohnya dia. Segala kekhawatiran, kekalutan, bahkan segala kebencian yang sengaja dia tumpuk untuk hari ini, sirna begitu saja, seakan tersapu oleh senyum menghangatkan itu. Betapa senyum itu adalah senjata pembunuh berbahaya untuknya.

Ingat, Dara. Hari ini kamu harus menyerah. Kamu harus berhenti mengharapkannya. Hari ini kamu harus mengatakannya, bahwa kamu sudah cukup lelah dengan segala omong kosong ini.

“Noona, kamu kenapa?” lelaki itu menepuk pundak Dara, menyadarkannya kembali pada kenyataan.

“Ah, gwenchana, Bae.” Dara tersenyum tipis. Kedua tangannya meremas gelas plastiknya hingga beberapa bagian tertekan oleh jemarinya. Pikirannya kalut, oleh percakapan yang dilakukannya sendiri dalam hati.

Katakan Dara… Katakan…

Aku lelah, Youngbae.

Boleh aku berhenti menunggumu?

Kenapa kamu tak pernah memperjuangkan aku? Apa yang salah denganku?

“Noona? Kamu sungguh tidak apa-apa? Noona sakit?” telapak tangan Youngbae menyentuh puncak kepala wanita itu, membuat gurat-gurat merah dengan cepat meluncur ke wajahnya. Dia menengadah, menatap Youngbae tepat di manik mata.

Youngbae, apa kamu benar mencintaiku?

“Gwenchana, Youngbae. Aku hanya lapar. Bisa belikan aku makanan?”

Youngbae tergelak kecil, “Arasseo, noona. Tunggu sebentar, aku beli dulu.” Lelaki itu bernjak dari kursinya dan meninggalkan Dara.

Sandara, lagi-lagi, hanya bisa menatap Youngbae dengan nanar.

Silence serenade. Nada yang bersenandung dalam keheningan. Berbagai ucapan yang seringkali terpikirkan hingga menguntai melodic, hanya akan selalu terdengar dalam hening, dalam pikirannya sendiri. Serenade dari hati itu, tak pernah mendengung nyata.

Mengapa? Mungkin karena hingga sejauh di titik nadir ini pun, dia masih tak mampu merelakan Youngbae. Ada kalanya ketika cinta membawa kita menuju fase yang tidak masuk akal. Tetap bertahan bersamanya walau terluka, hanya untuk bersamanya lebih lama.

Sangat sulit baginya, untuk berkata pada pikirannya untuk berhenti mencintai Youngbae, ketika hatinya bertingkah sebaliknya. Mungkin ucapan-ucapan yang dia persiapkan di depan kaca selama ini, akan dia lontarkan ketika dia benar-benar lelah. Ketika tak ada lagi asa yang tersisa. Kapan? Hanya dia yang tahu, karena cinta adalah misteri terbesar yang belum mampu terpecahkan. Sampai hari itu tiba, mungkin…

dia hanya akan duduk di tempat yang sama dan menantinya.

Such a silence serenade.

_______________________________________

fin.

Humm… kenapa angst lagiii?!? Oh don’t blame me, ini cuma ficlet dadakan yang tiba2 mampir di pikiran.

Dan saya bosan pake Skydragon, Daemin, ato pairing lain. dan Darayang jarang bangett yakk saya pakee. Entah kenapa, saya kalo bikin Darayang idenya jadi agak angst gini. hha..

mianhae…

~~

see you @ different story~ gomawoooo… (_ _)