Author: Rahina Dyah Adani a.k.a rahinalollidela

Genre: Fantasy, Romance, Friendship, Adventure

Casts:

– Park Bom

– Choi Seunghyun (TOP)

– Choi Siwon

– Lee Hyuk Jae a.k.a Eunhyuk

– Lee Donghae

– Jessica Jung

 

Park Bom’s POV

Cih, dasar playboy. Kualihkan pandanganku dari Siwon-pacarku yang sedang bercanda tawa dengan Jessica Jung- dan kembali menatap ke Kim Saem yang sedang memberikan pengarahan tentang acara liburan musim panas sekolah yang beberapa menit lagi akan resmi kami ikuti. Sesekali kulirik sejoli sialan yang sedari tadi bercanda tawa dan bahkan tak tahu kalau ada aku. Mereka memang tidak ada hubungan apa-apa, tapi seorang Choi Siwon tak akan cukup dengan memiliki seorang pacar. Bila aku pacarnya, maka Jessica Jung adalah wanita yang selalu bercanda dengannya, Im Yoona adalah wanita yang selalu belajar dengannya, Choi Sooyoung adalah wanita yang selalu ada di club bersamanya, Kim Hyoyeon adalah wanita yang secara rutin menjadi pasangannya di pesta dansa, dan Hwang Tiffany adalah wanita yang selalu menemaninya ke gym. Lalu apa guna pacar? Tentu saja alih-alih agar Siwon dikira laku. Siwon memang begitu. Sangat menyebalkan. Sedang aku? Aku terlalu menghargai hubungan ini. Kurasa aku memang harus mulai bermain imbang.

 

“Park Bom-ssi!” Lee Hyuk Jae duduk di sampingku tiba-tiba. Aku hanya menatapnya gusar.

“Lee Hyuk Jae, mau apa kau?” tanyaku dengan begitu dingin. Kicauan Kim Saem tak lagi kudengarkan. Lee Hyuk Jae hanya tersenyum, nyengir lebih tepatnya. Mukanya saja sudah mesum seperti itu, bagaimana kelakuannya?

“Hei, Park Bom-ssi, jangan panggil aku Lee Hyuk Jae. Panggil aku Eunhyuk! Mengerti?” ucapnya. Aku hanya berdecak pelan sambil beralih ke Kim Saem lagi.

“Di bus nanti aku denganmu, ya?” pinta Lee Hyuk Jae, bukan, Eunhyuk. Laki-laki ini memang tak kenal takut.

“Hei, monyet gila, aku sudah punya pacar,” kukerlingkan sejenak mataku ke arah Siwon, dan Jessica tentunya. Eunhyuk menyipitkan matanya seolah tak percaya.

“Jangan berlagak bodoh, atau kau memang bodoh? Jelas-jelas di bus nanti dia akan duduk dengan si putri es,” ucap Eunhyuk. Sialan, bukannya menghibur malah memanas-manasi.

“Terserah sajalah,” akhirnya aku mengalah dan beralih ke Kim Saem.

 

Semua sudah berkumpul di halaman menunggu giliran masuk ke bus. Siwon dan Jessica sudah masuk duluan. Pasti mereka duduk bersama. Yah, dan aku dengan Eunhyuk yang mungkin malah akan menjerumuskanku dengan pikiran-pikiran mesumnya.

“Park Bom!” akhirnya namaku dipanggil juga. Aku buru-buru berdiri dan merapikan pakaianku, lalu segera berjalan ke bus. Aku asal masuk ke bus tanpa memilih. Lagi pula aku tidak tahu di mana Siwon dan Jessica berada. Kalau aku tahu, mungkin aku akan memilih untuk tidak satu bus dengan mereka. Kulangkahkan kakiku ke dalam bus. Sial, aku satu bus dengan Siwon dan Jessica yang sedang bercanda tawa saat ini. Panas? Aku langsung memilih tempat duduk yang kosong di belakang sendiri. Setelah benar-benar duduk langsung saja kukeluarkan iPad dan kupasang earphone. Masa bodoh dengan apa yang terjadi di luar sana.

 

Tiba-tiba ada yang memegang pundakku ketika lagu BIGBANG – EGO sedang diputar. Kuangkat daguku dan kulihat seorang Lee Donghae tersenyum ke arahku. Dia adalah idola setiap wanita di SMA ini. Dia tampan, pintar, tapi tidak mau buru-buru memiliki pacar. Kalaupun punya, dia akan setia. Dan… ya, menurutku dia memang tampan, tapi aku sedang tidak dalam mood yang baik.

“Apa?” tanyaku dengan dingin.

“Boleh aku duduk di sampingmu?” samar-samar kudengar suaranya seiring lagu EGO berganti menjadi FEELING. Bagus juga dia mau duduk di sampingku, tapi apa gunanya kalau nanti dia akan diam dan aku tak terhibur. Aku benar-benar terlalu bad mood pagi ini. Tiba-tiba teringat Eunhyuk yang sedari tadi belum muncul di sampingku.

“Mana Lee Hyuk Jae?” tanyaku sembari menengok ke depan. Sialan, Eunhyuk bersama Im Yoona rupanya. Kutatap sebentar Lee Donghae dengan pandangan kesal.

“Terserah kau sajalah,” kini kukembalikan posisiku seperti semula sementara Lee Donghae langsung duduk di sampingku. Semoga dia bisa menghiburku, kalau tidak, yah.., setidaknya dia tidak cerewet.

 

Waktu berjalan belum lama. Kusandarkan kepalaku ke jendela yang berembun karena hujan. Lagu BIGBANG – CAFE sedang berputar. Suasananya memang terasa begitu tenang bila kita keluar dari peradaban walau hanya sebentar. Setidaknya aku tidak perlu peduli dengan Siwon siala dan si putri es. Tiba-tiba semua khayalan akan bau hujan dan daun-daun hijau itu menghilang ketika sebuah tangan memegang lembut pundakku. Lee Donghae.

“Apa?” tanggapku tanpa menolehkan kepala. Rasanya terlalu berat untuk mengangkat kepala. Aku tak mendengar apa-apa. Hanya sebuah rangkulan hangat di pundak yang kurasa. Tu… tunggu. Rangkulan hangat? Si… siapa? Kutolehkan kepalaku. Siwon? Mau apa dia kemari?

“Apa?” tanggapku lagi dengan begitu dingin.

“Boleh aku duduk di sini?” Siwon tampak memelas menunjukkan wajah dan senyum manisnya. Tidak, enak saja. Duduk bersama Lee Donghae jauh lebih tenang daripada dengannya.

“Tapi ini sudah menjadi tempat duduk Lee Donghae, Siwon. Kau tidak boleh sembarangan menyuruh orang lain pergi,” ucapku sambil menatapnya begitu dingin namun tajam.

“Sejak kapan kau menjadi bagian dari fans Lee Donghae?” kutolehkan kepalaku ke arah Lee Donghae yag dengan asik menonton perbincangan kami. Kutolehkan lagi kepalaku kembali menghadap Siwon.

“Baru saja. Prosesnya berlangsung saat kau bersama Jessica Jung,” jawabku. Siwon menatapku kesal. Berdecak pelan, lalu pergi.

“Maaf, aku tadi melibatkan namamu,” ucapku pada Lee Donghae yang kembali duduk di sampingku. Ku sandarkan lagi kepalaku ke jendela. Rasanya begitu melegakan bisa melawan seorang Choi Siwon tanpa harus merasa bahwa dia terlalu berharga. Tapi terlalu sakit rasanya untuk mengungkit-ungkit bagaimana kelakuannya. Mengingatnya saja aku sudah hampir menangis. Tidak, sekarang ini kurasakan air mata mengalir menyusuri kulit pipiku.

“Kau tidak apa-apa?” tanya Donghae. Aku hanya diam dan terus menatap ke jendela. Tiba-tiba kurasakan tangannya menarik kepalaku untuk bersandar di bahunya.

“Menangislah sekarang, tapi jangan menangis lagi nanti. Aku akan ada untukmu mulai sekarang,” ucapnya. Tenang sekali rasanya bila ada seseorang di sisi kita.

“Kau bercanda?” tanyaku.

“Tidak. Aku akan ada untukmu mulai sekarang. Benar-benar ada untukmu.”

 

Tak terasa waktu berlalu cukup lama. Aku tertidur di bahu Donghae dan setiap kali terbangun sejenak, selalu kurasakan tangan Donghae merangkul bahuku. Donghae tertidur begitu pulas. Kutatap wajahnya. Benar-benar wajah seorang malaikat. Bahkan tidur pun dia masih tersenyum. Sepertinya kami sudah mau sampai, ingin kubangunkan Donghae. Tapi aku merasa tak enak. Tapi bagaimanapun juga aku harus membangunkannya.

“Lee Donghae, Donghae,” bisikku di telinganya. Donghae mulai membuka matanya perlahan, dan sekarang matanya benar-benar terbuka. Kutorehkan seulas senyum hanya untuk menyambut bangunnya.

“Sejak kapan kau bangun?” tanya Donghae.

“Baru saja. Sepertinya kita sudah mau sampai. Bersiap-siaplah,” ucapku. Donghae melirik ke arah rangkulannya di bahuku.

“Lalu aku harus melepas rangkulan ini? Bisa merangkulmu itu terlalu langka,” godanya. Aku terkekeh sebentar.

“Apa-apaan?” tanggapku. Kami berdua terkekeh. Donghae langsung melepas rangkulannya. Anehnya, tiba-tiba langsung terasa dingin ketika lengannya tak lagi merangkulku.

 

Kami sudah sampai di pondok. Aku sudah berada di kamarku merapikan barang-barang. Aku agak kehilangan akal waktu tahu kalau kamarku diapit oleh kamar Donghae dan Siwon. Agak mengesalkan kalau harus terlibat dalam keadaan seperti ini.

 

Donghae POV

Aku sudah di kamarku. Malas sekali rasanya untuk merapikan barang-barang bila waktu ini bisa dipakai untuk mengingat bagaimana aku merangkul Park Bom. Ya, aku mencintainya. Aku mencintainya sejak pertama kali melihatnya di sekolah ini. Sejak meninggalkan Neverland, ini kali pertamaku jatuh cinta. Anehnya, aku mencium aura seorang dewi setiap kali aku bersamanya. Dewi yang konon katanya tidak lagi tinggal di Neverland dan tinggal di dunia manusia. Aku lupa siapa nama dewi itu, tapi aku pernah bertemu dan mencium aura yang sama ketika masih kecil. Tapi aku tidak terlalu ingat. Lalu kenapa aku belum bisa mendapatkannya? Bukankah aku terkenal di sekolah? Cih, kalau itu bisa kugunakan, aku mungkin berani melamarnya. Tapi Park Bom itu berbeda. Bukan ketenaran ataupun harta yang dia cari.

 

Tok-tok!

Ada tamu. Segera kulangkahkan kakiku ke pintu kamar yang terbuat dari kayu mahoni. Segera kubuka pintu kamarku.

“Park Bom?” rupanya Park Bom. Aura itu lagi. Menyempurnakan kecantikannya yang bahkan sudah cukup cantik tanpa memiliki aura apapun.

“Kau punya ramyeon instan? Aku kelaparan,” ucapnya dengan puppy eyes yang begitu luar biasa memikat.

“Masuklah. Kita makan sama-sama,” ajakku. Benar-benar wanita yang polos, atau dia memang pemberani? Tanpa pikir panjang wanita ini langsung masuk ke kamarku. Di setiap kamar di sediakan kompor gas kecil. Letaknya di atas meja kecil dan kursinya tiga melingkari. Mungkin karena sekolah tidak mau menyediakan makanan.

“Kau tidak bawa remyeon? Aneh sekali,” ucapku sembari mengambil sebungkus ramyeon instan.

“Aku lupa. Seharusnya aku membawa.”

 

Tok-tok!

Ada tamu lagi. Sialan. Aku sedang bersama Park Bom dan ada yang mengganggu? Haish!

“Choi Siwon?!”

 

-to be continued-

 

RCL, okay?! ^^