Title : Alive

Author : @violetkecil
Rating : PG 17
Genre : Romance, Fantasy
Length : Chaptered
Cast : Lee Taemin (SHINee), Kwon Ahra (OC), Park Jungsoo
Note : Already posted on http://fanfictionschools.wordpress.com

 –oooOooo–

Previous Chapter: Prolog * Chapter 1 * Chapter 2 * Chapter 3

 –oooOooo–

Chapter 4. Fight

Perasaan itu masih sama. Rindu itu masih terlalu kuat mengakar. Aku pikir aku akan membencimu—melupakanmu. Tapi, sekeras apapun aku berusaha, hasilnya adalah kau tetap ada. Sekarang setelah semua yang terjadi pada kita, aku harus mengartikan pandangan matamu sebagai apa?

Salahkah aku yang masih mengharapkanmu menjadi milikku? Aku egois dan ini terlalu menyakitkan. Aku rindu—aku terluka.

 –oooOooo–


Op,Oppa?”

“Kenapa dengan kakimu hingga tidak bisa jalan sendiri?” tanya Jungsoo dengan tatapan menyelidik.

“Kakinya terkilir.” Taemin menjawab pertanyaan Jungsoo dan membantu Ahra berdiri. Ahra tidak tahu mengapa tapi yang pasti lidahnya terlalu kelu untuk menjawab pertanyaan Jungsoo.

Ahra menopang tubuhnya pada pegangan tangan Taemin tapi kemudian Jungsoo meraih tangan Ahra dan membantunya tetap berdiri. Ahra ingin menolak tangan itu tapitidak bisa. Sebagian dari dirinya yang jujur dan tidak tersinkronasi dengan keinginannya sangat merindukan genggaman tangan itu.

“Terima kasih sudah menjaga Ahra,” ucap Jungsoo pada Taemin.

Ne. saya permisi dulu,” pamit Taemin.

Jungsoo memapah Ahra perlahan menaiki anak tangga. Mereka belum berbicara sepatah kata pun. Ahra tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang, “Oppa, gamsahamnida!” teriak Ahra pada Taemin yang kemudian hanya dibalas segaris senyuman.

Kemudian… Hening. Itulah satu-satunya kata yang bisa menggambarkan keadaan antara Ahra dan Jungsoo. Ahra bersandar di sofa runag tengah dan memejamkan matanya. Menahan rasa sakit. Bukan sakit karena kaki yang terkilir tapi sakit karena ternyata dia masih mencintai Jungsoo dan pria itu ada di dekatnya saat ini.

Jungsoo berjalan menghampiri Ahra dengan membawa semangkuk es di tangan kiri dan handuk kecil di tangan lainnya. Ahra masih memejamkan matanya—mencoba untuk tidak peduli. Jungsoo mengerti bagaimana perasaan Ahra dan dia memilih diam sambil mengusap kaki Ahra yang terkilir dan tanpak memar dengan handuk yang sudah dingin.

Ahra bisa merasakan sentuhan tangan Jungsoo—hangat dan masih sangat dia rindukan. Banyak kata yang tersangkut di lidahnya tapi Ahra tidak tahu harus memulai pembicaraan darimana.

Mianhae. Jeongmal mianhae…” ucap Jungsoo lembut.

Ahra membuka matanya dan dia terjebak dalam pandangan mata Jungsoo. Kenapa aku tidak bisa mengabaikanmu sedikit saja, batin Ahra frustasi.

Ne,” sahut Ahra dingin. Baboya! runtuk Ahra dalam hati. Pikiran dan perasaannya sedang tidak mau bekerja sama. Dia sangat merindukan Jungsoo tapi dia juga tidak bisa melupakan rasa sakit hatinya.

Mianhae Ra-ya,” ucap Jungso lagi dan meraih tangan Ahra lembut. Ahra menatap Jungsoo sedih.

“Tidak perlu meminta maaf untuk kesalahan yang tidak pernah Oppa perbuat.”

“Maaf aku tidak bisa menjagamu. Kenapa kau tidak memberitahuku jika ingin ke sini?”

“Aku bukan gadis kecilmu lagi Oppa. Aku berhak menentukan apa yang ingin aku lakukan. Sendiri.” Ahra berusaha menekankan kata ‘sendiri’. Ya, dia memang ingin sendiri—tanpa Jungsoo yang kehadirannnya hanya membuat Ahra terluka.

“Ra-ya. Oppa salah dan Oppa meminta maaf. Please… jangan bersikap seperti ini.”

Oppa mau aku bersikap apa? Bersikap manis seperti dulu? Harus berapa kali aku katakan bahwa aku bukan lagi gadis kecilmu itu. Aku bukan Ra-ya pernah kau beri harapan akan cinta. Oppa tahu seberapa dalam Oppa menyakitiku?”

Jungsoo mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut Ahra—hal yang bisa dia lakukan untuk menenangkan Ahra, tapi kali ini Ahra menepis tangan itu.

“Berhenti mengasihaniku!” pinta Ahra.

“Ra-ya. Jangan menghukumku seperti ini. Aku mencin—“

“Lalu apa namanya jika aku terluka karena mu? Itu hukuman untukku karena terlalu mencintaimu. Dulu. Dan aku tidak perlu kata-kata cinta darimu. Berika saja cintamu pada wanita itu. Go Miho-mu itu kan yang kau cintai?”

“Ra…”

“Berhenti Oppa!!!” Ahra berteriak frustasi dan menutup kedua telinganya. Air matanya mendesak keluar. Hal yang sangat Ahra benci. Lagi-lagi dia terlihat lemah dan rapuh di depan Jungsoo.

Jungsoo mendekati Ahra. Tidak peduli seberapa besar Ahra menolak dan meronta dalam pelukannya, Jungsoo tetap memeluk Ahra erat. Dia tahu seperti apa hati gadis itu. Jungsoo memeluk Ahra dan mengelus rambutnya lembut. Ahra masih menangis dan mulai melemah.

Oppa, aku…”

“Sudahlah. Aku tahu seperrti apa maksudmu. Mianhae.”

–ooOoo–

Adakah kata yang bisa mendefinisikan perasaanku? batin Ahra.

Ahra menuruni tangga menuju lantai bawah dengan perlahan. Dia memilih mengurung diri di kamar setelah Jungsoo mencoba menenangkannya. Hari mulai beranjak sore dan Ahra merasa perutnya sangat perih. Dia ingat dari tadi pagi dia belum memakan apapun, hanya segelas coklat yang dibuatkan Taemin. Ahra berjalan menuju dapur dan membuka tempat persediaan makanan instan. Hanya ada ramen dan mau tidak mau Ahra harus memakan itu.

Semangkuk ramen tersaji di meja dapur dengan asap kecil yang mengepul keluar ketika tutupnya dibuka, Ahra memainkan sumpit dan tanpa sadar matanya menatap sosok yang sedang terbaring lelah di ruang tengah. Park Jungsoo—yang Ahra pikir sudah kembali ke Seoul ternyata masih bertahan di villa itu menunggu Ahra.

Desahan berat dan perih, itulah yang bisa Ahra keluarkan. Dia sudah lelah mengeluarkan semua kata-kata amarahnya pada Jungsoo. Toh, pria itu tetap tidak bergeming dan tetap berusaha menenangkan Ahra. Sebenarnya dia ingin sekali saja Jungsoo mengeluarkan emosinya—rasa ketidaksukaan lagi pada Ahra. Buat apa? Hanya agar Ahra menyadari Jungsoo tidak mungkin dia miliki lagi. Nyatanya adalah Jungsoo selalu bersikap seperti yang Ahra kenal selama ini. sosok angel yang selalu bisa merebut hati Ahra.

Ah, Baboya! Kenapa tidak kau tinggalkan aku sendiri saja? Biarkan aku menderita sendiri dan kau tidak harus mengambil tanggung jawab untuk menjagaku lagi!” gerutu Ahra dalam hati.

Cukup bagi Ahra untuk mengeluarkan semua kekesalannya pada Jungsoo. Dia terluka tapi dia tidak bisa menepis kehadiran Jungsoo. Jauh di dalam hatinya, dia sangat membutuhkan pria itu. Membutuhkan kehadiran Jungsoo untuk menopangnya tetap bertahan hidup di saat orang tuanya tidak peduli sama sekali dengan kehidupannya.

Ahra menyuapkan ramen sedikit demi sedikit ke mulutnya. Hambar. Bahkan semuanya tidak terasa apa-apa di lidah Ahra. Hanya hatinya yang merasa—terluka. Ahra melemparkan pandangannya lagi pada Jungsoo. Pria itu masih terlelap tidur. Sangat pulas—seakan melepaskan semua beban yang ditopang.

Oppa, mianhae… kenapa semuanya menjadi sesulit ini untuk aku terima? Apakah kau juga terluka karena aku? Masihkah ada namaku dalam hati Oppa? Lalu apa nama perasaan itu sekarang? Pasti bukan cinta,” gumam Ahra sambil berlutut di lantai di sisi sofa yang direbahi Jungsoo.

Ahra menundukan kepalanya dalam dan lagi—air mata itu mendesak keluar tanpa pernah permisi. Jungsoo mendengar dengan jelas ucapan Ahra dan membuka matanya. Ahra tepat di depan wajahnya dan menangis. Jungsoo mengulurkan tangan dan mengusap pelan pipi Ahra yang basah karena air mata.

Uljima. Berhentilah menangis,” pinta Jungsoo.

“Tapi Oppa…”

“Aku tahu. Aku melukaimu dan aku mohon jangan seperti ini. Aku menjadi orang paling jahat yang selalu membuatmu menangis.”

“Bukan seperti itu Oppa, Aku… maaf… aku tadi terbawa emosi dan…”

“Sudahlah. Aku mengerti. Sekarang berhentilah menangis. Apa yang harus aku lakukan untuk menghilangkan jejak luka itu?”

Oppa, kembalilah padaku,” sahut Ahra sambil menatap Jungsoo dengan pandangan sedih.

“Aku, aku tidak—“

“Aku tahu Oppa tidak akan bisa. Posisiku di hati Oppa sudah terganti dengan wanita itu bukan?” potong Ahra.

“Tidak seperti itu Ra-ya,” sahut Jungsoo. Ada siratan luka dalam nada suaranya.

“Lalu apa?” tuntut Ahra.

“Ra-ya.” Jungsoo mengubah posisisnya menjadi duduk dan menggenggam kedua tangan Ahra. Dia meminta gadis itu untuk menatapnya. “Kau tidak pernah hilang dari hatiku. Ahra yang aku sayangi. Walaupun dulu aku membuatmu menjadi milikku dan sekarang keadaannya berbeda, perasaanku masih sama tapi bukan ssebagai seorang kekasih. Aku tidak menyesali keputusanku pernah menjadikanmu kekasih dan kemudian memutuskanmu, yang aku sesali adalah aku membuatmu terluka dan menangis karena aku.”

“Ra-ya, tatap mata Oppa,” pinta Jungsoo ketika Ahra kembali menundukan wajahnya.

“Kau dan dia memiliki ruang yang berbeda di hatiku. Aku menyayangi kalian berdua. Aku egois. aku juga terluka ketika memutuskan ini semua,” lanjut Jungsoo.

“Kenapa Oppa melakukannya?”

“Karena aku akhirnya menyadari hanya bisa mencintaimu—menyayangimu sebagai seorang adik.”

“Kenapa setelah kita cukup lama bersama dan aku sudah sangat mencintai Oppa?”

“Aku akui itulah hal bodoh yang aku lakukan. Karena aku bertemu wanita itu dan dia membukakan mataku. Cinta dan rasa sayangku untukmu berbeda.”

“Dia—wanita itu?”

“Jangan salahkan dia. Dia tidak pernah merebut aku darimu. Aku masih milikmu sebagai seorang kakak dan dia tidak pernah mempersalahkan itu.”

Ah, aku tidak mengerti. Terlalu sulit untuk aku terima Oppa,” ucap Ahra frustasi.

Mianhae.”

Jungsoo terdiam. Ahra tertunduk menahan sakit hatinya sendiri. “Andai aku bisa membencimu semudah aku mencintaimu,” gumam Ahra.

“Jangan lakukan itu,” ucap Jungso pelan dan memandang Ahra. Jungsoo sadar sedalam apa dia sudah menyakiti gadis yang sangat dia sayangi itu. Jungsoo mendadak jadi orang paling egois di dunia. Dia menyayangi Ahra tapi memilih mencintai dan bersama dengan wanita lain. Namun Jungsoo tidak mau melepaskan keduanya.

Ah, supir Jung sepertinya sudah datang. Berkemaslah. Kita kembali ke Seoul malam ini,” ucap Jungsoo pada Ahra ketika terdengar sebuah mobil berhenti di depan villa.

“Lusa aku akan mengenalkanmu langsung dengan wanita itu,” lanjut Jungsoo.

“Aku tidak mau,” tolak Ahra tegas tapi kemudian Jungsoo memaksa Ahra ikut pulang ke Seoul dengannya dengan ancaman halus yang sangat Ahra benci.

–ooOoo–

“Aku tidak suka melihat wajah cemberutmu. Ayo masuklah,” pinta Jungsoo sambil membukakan pintu mobil untuk Ahra.

“Aku tidak mau!”

“Haruskah aku menelepon ayahmu sekarang?”

Hya!! Jangan!” teriak Ahra kesal.

Ahra masih tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Dialihkan pandangannya dari Jungsoo dan hasilnya adalah Ahra menemukan sosok Taemin sedang duduk di tangga villa. Ahra tersenyum dan melambaikan tangan pada Taemin. Taemin yang sejak tadi memperhatikan Ahra hanya membalas dengan senyuman yang selalu sukses membuat Ahra terjebak.

Ahra sudah ingin membuka mulut untuk menyapa Taemin ketika Jungsoo memaksanya masuk ke dalam mobil.

“Cepatlah. Aku tidak ingin kita terlalu malam tiba di Seoul. Dan… Ra-ya, jangan memberikan senyummu kepada orang asing. Aku tidak menyukainya,” ucap Jungsoo dingin.

–to be continued–

NO SILENT READER. NO PLAGIATOR.

Please, leave your comments after read my fanfiction. It’s not easy to wrote this story dear^^ and your comments really give me strength. Okay? And,  don’t forget to visit my personal blog http://evilkyugirl.wordpress.com