Memories 2

Author                                                  : Dewii Aprilya

Cast                                                       :

·         Marcus – Cho Kyuhyun

·         Andrew – Choi Siwon

·         Bryan – Kim Kibum

·         Angelina Kim

PART 1

——————————————————————————————————————————-

Juny 2009, Sorbonne University, Paris.

1.       First Meet

Marcus berjalan keluar dari perpustakaan sambil menenteng 2 buku tebal yang baru saja dipinjamnya. Namja tampan itu melepaskan kaca mata yang selalu dipakainya setiap kali membaca, bukan karena matanya minus, tapi dia selalu merasa bahwa wajahnya terlihat begitu tampan ketika mengenakan kaca mata selain itu para yeoja bule bermata biru yang memenuhi hampir seluruh sudut kampus bersejarah ini selalu menatapnya kagum. Langkahnya pelan sambil sesekali tersenyum menggoda setiap yeoja yang dilewatinya.

Tidak ada seorangpun di universitas tu yang mengetahui siapa marcus sebenarnya, yang mereka tahu hanyalah dia adalah namja tinggi, tampan, dan cukup pintar hingga bisa mempesona siapa saja yang melihatnya. Marcus dan Aiden, sahabat terbaiknya terkenal sebagai cassanova di kampus itu. Setiap yeoja dari berbagai Negara, suku, dan ukuran pernah di kencaninya, terkadang dia harus mendapat teguran dari rector universitas atas tindakannya, namun Dennis akan selalu siap menyelesaikan setiap masalah yang dibuat Pangerannya dan faktanya dia selalu bisa melakukannya dengan baik sekali.

Senja di musin gugur merupakan saat yang paling indah di kota Paris. Daun Maple telah berubah warna menjadi kuning kecoklatan dan berguguran di terpa angin sepoi-sepoi. Marcus berjalan santai menuju mobil Audy putih yang terparkir rapi di depan gadung universitasnya, langkahnya terhenti saat dilihatnya 2 orang lelaki bule terlihat begitu menikmati menggaggu seorang yeoja anggun yang terlihat sedikit takut dan lebih memilih berjalan cepat. Marcus menyipitkan matanya mencoba untuk tidak peduli, tapi nada bergetar yang keluar dari bibir mungil gadis itu membuatnya berubah pikiran.

Dengan langkah berat dia berjalan menghampiri gadis itu dan tampa babibu langsung menarik tangan yeoja tersebut meninggalkan kedua lelaki bule yang terlihat menahan emosinya.

“HEI YOU!! Berhenti!!” teriak salah seorang namja tinggi dengan rahang mengeras menahan amarah.

Marcus mempedulikan teriakan kedua bule tersebut dan lebih memilih melebarkan langkahny sambil terus menggemgam tangan yang sudah dingin dan gemetar milik yeoja itu. Kedua lelaki itu tidak tinggal diam, mereka benar-benar merasa terhina dengan perlakuan Marcus. Dengan penuh emosi si Pirang yang berbada tegap itu bermaksud menyerang Marc, namun dengan sigap sebuah tangan kekar menghentikanya dan dengan gagah melayangkan tinjunya ke rahang si Bule itu. Marc tersenyum simpul kemudian bergumam. “Kalian jangan mengusik ketenanganku, apa kau tidak tahu bahwa dimana mana terdapat mata-mata Hyungku. Jadi pergi sana sebelum aku turun tangan sendiri menghajar kalian berdua..” kata Marc, tatapannya beralih pada sesok namja tinggi yang ‘menyelamatkan’ dirinya. “Dan kau.. pulanglah sekarang juga, aku tidak butuh perlindungan siapapun.. katakan pada Andrew dan Bryan , aku baik-baik saja dan belum berminat untuk pulang..”

Mobil Marcus melaju dengan kecepatan tinggi membelah hiruk pikuk kota Paris. Seeskali diliriknya seorang yeoja asia dengan wajah oval, matanya berwarna cokelat, kulitnya juga putih bersih menambah kecantikannya dan rambutnya hitam pekat yang tertiup angin.

“Thank you..” akhirnya setelah lama diam, gadis itu berai bersuara. Sungguh, suara lembut itu terngiang-ngiang di telinga Marcus. Tidak ada nada suara manja seperti yang biasa di dengarnya dari semua yeoja di sekelilingnya.

Marcus menghentikan mobilnya di pinggir jalan kemudian beralih menatap wajah cantik itu. “Tanganmu lebam..” kata Marcus pelan. Dia mengeluarkan sebuah botol kecil berisi balsem dan mengusapkannya di tangan gadis itu.

“gomawo…” kata gadis itu lagi.

Marcus tersenyum simpul. “Bisakah kau mengucapka kata selain terima kasih?? Misalnya dimana kau tinggal??”

Avenue des Champs-Elyséesgumam gadis itu. Marcus mengangguk tanda mengerti kemudian menjalankan mobilnya menuju distrik real estate paling mahal di Kota itu. Marcus berhenti di depan sebuah café kemudian kembali menatap gadis itu.

“hey Gadis.. Kau tahu betapa panjangnya jalan ini kan?? Bisakah kau jelaskan detailnya di mana rumahmu??” Tanya Marcus. Yeoja itu keluar dari mobil Marcus kemudian memberikan hormat. “terima kasih atas tumpangannya..”

Dia melangkah pergi meninggalkan Marcus yang hanya bisa melongo.

“Hei!! Setidaknya beritahu namamu..” teriak Marcus.

Yeoja itu berbalik kemudian tersenyum hangat, senyum yang membuat jantung Marcus berdesir. “Angel…” Katanya dengan nada ringan, kemudian kembali melanjutkan perjalanannya menerobos kerumunan turis yang menenteng begitu banyak barang belajaan.

Marcus tersenyum penuh arti, dia kemudian menyalakan mesin mobilnya  menerobos malam. Ada yang menarik dari gadis bernama Angel itu, sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian seorang Marcus.

**********

2.       The Story is begin

Angel duduk dibahwa pohon Maple yang daunnya sudah mulai berguguran, tanda bahwa musim gugur telah datang. Sama seperti Marcus, dia juga anak dari seorang Raja yang juga sedang menempuh pendidikan di Sorbonne University, hanya saja ini adalah tahun pertamanya. Gadis itu terlalu asyik dengan bacaannya, hingga dia tidak menyadari seorang namja mendekatinya.

“Hei!!” sapa Marc. Angel menoleh dan lagsung tersenyum begitu melihat wajah Marcus, lelaki yang menolongnya semalam.

“Hei. Mr…”

“Marcus… Tapi kau boleh memanggilku Marc..” kata Marcus. Dia duduk di dekat Angel.

“Angelina…” Angel mengulurkan tangannya sebagai bentuk perkenalannya, Marcus menerimanya dan mereka akhirnya berkenalan secara resmi. “Dan terima kasih untuk semalam..”

“Oh ne… Lagipula sebenarnya aku hanya menggertak, karena yang meghajar mereka bukan aku..” jawab Marcus sambil menggaruk rambutnya yang samasekali tidak gatal.

 “Bagaimanapun… Terima kasih..” kata Angel.

“Berhenti berkata terima kasih…” bisik Marcus pelan. Angel tersenyum kemudian menatap Marcus.

“Marc…. Orang yang menolong kita itu… siapa??” Tanya Angel dengan nada suara dipelankan. Marcus tersenyum aneh.

“Apa itu penting??” jawab Marcus. Angel menoleh kesamping dan tatapanya bertemu dengan mata cokelat Marc, ada kilatan getir dalam tatapan itu, dan Angel tahu kegetiran apa itu… karena dia juga merasakannya..

“Aniyo!! Aku hanya penasaran..” kata Angel, kembali mencoba berkosentrasi pada bacaannya.

“Mereka suruhan Hyung dan Ayahku… Mereka selalu mengawasiku.” Gumam Marc. Marc bukanlah orang yang dengan mudah menceritakan kehidupannya pada orang lain, namun berbeda dengan gadis ini, gadis yang baru kemarin ditemuinya.

Angel hanya diam, dia tahu  Marc bukanlah orang biasa, tapi dia tidak berminat mengetahuinya lebih lanjut. “Apa kau takut aku bukan orang baik?” Tanya Marc.

“Kau orang baik, Marc. Dan aku tahu itu… Tak penting bagaimana keluargamu, yang penting adalah bagaimana kau menghadapinya..” gumam Angel. Gadis itu berdiri, kemudian mengulurkan tangannya pada Marcus.

“Kajja… Kita pergi ke suatu tempat..” kata Angel bersemangat.

“kemana??”

“Ayolah Marc… Kita di Paris. Tidakkah kau ingin berkeliling kota ini, sebagai orang biasa? Aku sering melakukannya, dan rasanya sungguh luar biasa!!”

“Apa maksudmu Orang biasa?? Apakah kau juga sama sepertiku? Terkekang oleh kekuasaan keluargmau??” Tanya Marcus dengan tatapan curiga. Angel mendesah.

“Ne.. Aku tahu apa yang kau rasakan. Tapi aku tidak sepertimu, yang selalu menonjolkan diri diamanpun kau berada… Siapapun yang melihatmu pasti bisa menebak bahwa kau berasal dari kalangan bukan orang biasa…” kata Angel dengan suaranya yang sudah terkesan galak.

“Jinjja?? Jadi kau sering melihatku di kampus ini??” Tanya Marcus lalu mengulurkan tangannya menerima ajakan Angel. Mereka berjala menyusuri jalanan setapak yang menguhungkan Taman Belakang dengan Perpusatakaan.

“Tentu saja… Aku kuliah sudah beberapa bulan. Aku sering melihatmu tebar pesona dengan teman-temanmu… Dari penampilanmu saja, kita sudah bisa menebak kau orang dari kalangan atas…” jelas Angel. “Dan satu lagi.. Kau juga punya seorang pengawal pribadi kan?? Oh Ayolah Marc.. masa kau membiarkan seseorang megekorimu terus.”

“Aku tidak tahu kau secerewet ini…” sela Marcus.

“Aku juga kaget!! Kau tahu Marc, ini kalimat terpanjang yang pernah kuucapkan selama aku kuliah disini..” kata Angel bersemangat.

“Jinjja?? Apakah ini tandanya aku orang yang beruntung..” Marcus memperlihatkan wajah mengejek, yang sontak membuat Angel tersenyum. Marc terdiam, senyum hanta itu menyihirnya… Sesuatu langsung bergemuruh di dadanya, seakan-akan benda itu ingin segera keluar dari dalam dadanya.

“Marc..Marc..” Marcus tersadar dan langsung berusaha menenangkan pikirannya.

“Ne..”

“Kau tunggu disini!! Aku akan segera kembali..” Tampa menunggu persetujuan, gadis itu langsung berlari meninggalkan Marcus yang masih bingung.

Marcus mengetuk-ngetukkan kakinya di salah satu tembok perpustakaan saat melihat seorang gadis berlari kearahnya. Rambut hitamnya bergoyang-goyang tertiup angin. “Kenapa lama sekali?” kata Marcus.

Angel tersenyum nyengir seraya menyodorkan sebuah bungkusan pada Marc. “Apa ini??”

“Ini baju untukmu.. Kita akan berkeliling sebagai orang biasa. Dan menurut pengalamanku, tidak ada orang biasa yang setiap inchi tubuhnya menggunakan Brand-Brand terkenal..” kata Agel menjelaskan sambil menunjuka setiap benda yang dikenakan Marc. Mulai dari kemejanya, celana, sepatu, jam tangan, bahkan parfumnya.

Marcus mendengus kesal, tapi untuk hari ini dia ingin mempercayakan hidupnya pada gadis cerewet ini.  Marcus menuju toilet laki-laki kemudian mengenakan setiap benda yang diberikan gadis itu. Mulai dari Kemeja kotak-kotak yang Marc yakin dibeli Angel di pinggir jalan, sebuah celana jeans, serta sepatu. Marcus yakin, dihari biasanya dia akan langsung membuang pakaian-pakaian murah ini.

Marcus keluar dan langsung mendapat pandangan selidik Angel, dia memandang Marcus dari ujung kepala sampai ujung rambu. “Tunggu sebentar…” Angel kemudian berjinjit dan langsung mengacak rambut Marcus yang membuat Namja itu langsung bergidik.

“YAK!! Kau tahu berapa lama aku harus duduk sampai rambutku menjadi seartistiik itu!! Untuk apa kau mengacaknya!!” teriak Marcus, tangannya mencoba memperbaiki rambutnya, tapi sepertinya sudah tidak bisa ditanggulangi lagi.

“Marc.. Kau terlihat lebih lucu dengan rambut berantakan…” kata Angel berkomentar. Kemudian mengeluarkan sebotol parfum dari tasnya, gadis itu langsung menyemprotkannya ke tubuh Marcus. “Parfummu terlalu berkelas untuk orang biasa..” . Marcus kembali mendengus kesal, belum pernah dia diperlakukan seperti ini oleh seorang gadis, tapi yang paling aneh dia sama sekali tidak keberatan.

“Baiklah Marc…!! Kita berangkat!!” katanya dengan penuh antusias. Angel menyelipkan tangannya di lengan Marcus kemudian melangkah dengan cepat, tidak susah bagi Marc untuk menyamai langkah cepat gadis ini, berhubung karena kakinya cukup panjang dibandingkan kaki Angel.

Tiba-tiba saja Angel menghentikan langkahnya, seolah ada hal penting yang dilupakan olehnya. “Chakkaman!!”

“Ada apa lagi??” Marcus mulai kesal dengan tindakan tidak terduga makhluk disampingnya itu.

“Aku lupa memberimu nama… Yo know, Nama Marcus terlalu keren untuk orang biasa.” Angel tampak berpikir keras, mencoba menemukan nama yang cocok untuk Marc.

“Kyuhyun… Namamu sekarang Kyuhyun..” katanya antusias.

“Kyuhyun?? Lalu kau, Angelina kupikir juga terlalu bagus untuk orang biasa..”

“Oh tenang… dari dulu aku sudah menemukan nama yang pas untukku. sekarang kita berdua sudah menjadi orang biasa.. namaku Kim So Hee..!!”.

*********

Angel dan Marcus berjalan menyusuri trotoar menuju stasiun. Marcus hanya meninggalkan mobil Ferrarinya karena kata gadis itu mereka tidak butuh sebuah mobil, karena kendaraan di Paris cukup memadai. Setelah sampai di stasiun mereka memulai perjalan dengan menggunakan Metro, sebuah alat transportasi kereta bawah tanah.

Angel berjalan dengan penuh semangat diikuti oleh Marcus yang  hanya melangkah enggan keluar dari stasiun. Kening Marcus berkerut saat melihat Angel menghampiri sekelompok turis asing yang berasal dari Inggris.

“Hello Sir… Apa kalian ingin menyewa bus pariwisata??” Tanya Angel dalam bahasa Inggris yang fasih. Marcus menatap Angel seolah meminta penjelasan, namun gadis itu tampaknya tidak peduli.

Salah seorang lelaki tua tersenyum ramah kepada mereka berdua. “Ya.. aku akan menyewa satu Bus Pariwisata karena kami sekeluarga akan berkeliling kota Paris” katanya diikuti oleh anggukan wanita tua disampingnya. Keluarga itu berjumlah 8 orang, menurut perkiraan Marcus, kedua orang tua itu akan berlibur bersama anak, menantu dan keempat cucunya.

“Apa kami boleh menumpang?? Kau tahu, aku dan suamiku baru pertama datang ke kota ini…” kata Angel dengan senyum yang dibuat-buat. Marcus langsung menarik tangannya menjauh dari keluarga itu kemudian berbisik.

“Apa maksudmu, gadis aneh??” tanyanya.

“Kau percaya padaku saja, Marc. Bisa kupastikan kau akan melihat keindaha kota ini dari sudut pandang berbeda. Dan satu lagi, jangan panggil aku gadis aneh..!!”

Angel kemudian menggandeng tangan Marcus dan menghampiri keluarga tersebut.  “Maafkan kami… Suamiku sedikit kampungan”. Kata Angel lugu dan sontak mendapat tatapan tajam dari Marc.

Beberapa anggota keluarga itu tersenyum melihat tingkah Angel, kemudian seorang lelaki yang lebih muda berbicara. “Tentu saja, lagipula bus itu pasti sangat luas jika kami hanya berdelapan. Oh iya, perkenalkan Namaku Ray Wilson dan ini istriku Anna… Itu Ayah dan Ibuku” katanya pada kedua orang tua tadi.

“Panggil aku Jack, dan isteriku, kau bisa memanggilnya Jenny..” kata Leltki tua tadi sambil menggandeng isterinya.

“Alex, aku kakak tertua. Da adikku Maria, Mia, dan yang bungsu Noah..” kata Seorang remaja lelaki yang ditafsir usianya memasuki awal dua puluhan, dia memperkenalkan ketiga adiknya yang juga tersenyum hangat kepada mereka berdua.

“Namaku Kim So Hee, dan ini suamiku Cho Kyuhyun… Kami dari Korea..” kata Angel sambilmenunduk memberikan hormat. Keluarga tersebut terlihat begitu antusias menyambut kedua orang yang katanya pasangan pengantin baru itu.

Marcus dan Angel serta keluarga Wilson naik keatas sebuah Bus pariwisata berwarna hijau yang telah disewa oleh keluarga Wilson. Suasana menjadi ramai, karena tampaknya Maria dan Mia sangat suka berbincang dengan Angel tentang Korea, atau tentang bintang Hallyu.

-o0o-

Hari itu Marc dan Angel berkeliling kota Paris dengan menggunakan Bus Pariwisata yang disewa keluarga Wilson. Bus tersebut melewati Opera de Paris Garnier, Museum Louvre, Notre Dame Cathedral, Arc de Triomphe, dan tentu saja menara Eiffel. Marcus tidak bisa menyembunyikan ekspreski kagum setiap kali mereka singgah di tempat itu. Dia sering mengunjungi tempat itu, tapi kali iniberbeda karena dia bisa melihat keindahan tempat itu dari sudut pandang berbeda.

Angel tidak kalah senangnya, sesekali dia dan keluarga Wilson berfoto bersama di tempat yang mereka singgahi. Marcus juga ikut nimbrung jika gadis itu sudah menunjukkan wajah memelasnya. Mereka beerdua menikmati kebersamaan itu, kebersamaan sebagai suami istri Cho Kyuhyun dan Kim So Hee.

Marc dan Angel memutuskan untuk turun dari Bus Pariwisata keluarga Wilson ketika berada di Medeleine. Medeleine adalah sebuah gereja yang didedikasikan untuk St Mria Magdalena. Setelah memisahkan diri dari keluarag Wilson, Angel melepaskan rangkulan tangannya di lengan Marcus dan berjalan duluan. Ada rasa kecewa di dada Marc saat gadis itu melepaskan tangannya, mungkin karena sedari tadi mereka terus berangkulan hingga keduanya sudah mulai terbiasa dengan posisi tersebut.

“Marc… Aniya, Kyuhyun.. Kajja…” kata Angel bersemangat lalu kembali menarik tangan Marcus menaiki sebuh bus menuju stasiun Charles de gaulle etiole. Setelah sampai, mereka berdua menaiki Metro nomor 2 arah Nation, lalu berhenti di Anvers. Keluar dari stasiun Anvers, Angel dan Marcus berjalan di trotoar menuju utara.

“Kita mau kemana??” Tanya Marcus.

“Kau tahu Marc, ini sudah yang kelima kalinya kau bertanya kita mau kemana?? Tidak bisakah kau percaya padaku.. Aku tidak berminat menculik lelaki simanja kau..” kata Angel. Marcus berhenti, matanya membelalak mendnegar kata manja dari mulut gadis itu.

“Manja? Kau tahu kan bahw…” belum sempat Marcus menyelesaikan perkataannya ketika Angel menarik tangannya masuk ke sebuah restoran bernuasa timur tengah. Angel terlihat berbincang dengan koki serta pelayan di restoran itu sementara Marc hanya menatapnya enggan, tak lama kemudian Angel kembali dengan sesuatu di tangannya.

“Apa itu??” Tanya Marc.

“Ini namanya kebab, cobalah…” Angel menyodorkannya pada Marcus. Lelaki itu tampak ragu, namun akhirnya menuruti gadis itu dan mencicipi makana tersebut. Harus diakui, Marcus menyukai makanan tersebut.

“lumayan..” gumamnya, kemudian merebut makanan tersebut dan berjalan mendahului Angel, gadis itu terkiki geli melihat tingkah Marcus.

Angel dan Marcus berjalan bersama dengan pedestarian lainnya, mereka memutuskan singgah disebuah taman yang sangat ramai  oleh turis asing. Marcus duduk di salah satu bangku dan melihat Angel terlihat begitu senang memberikan makanan pada burung merpati. Angel tersenyum, senyum yang selalu bisa menyihirnya. Gadis itu entah mengapa menyusup kedalam hatinya, membuat jantungnya bergetar.

Setelah lelah, Angel menghampiri Marcus dan duduk di dekatnya. “Marc, hari sudah sore.. ayo kita pulang”

Marc melirik gadis di sampingnya, dia tidak ingin hari ini berakhir. Seumur hidupnya, belum pernah dia merasakan indahnya dunia ini, kehadiran Angelina di hidupnya membuatnya menjadi semakin berwarna. “Tunggu sebentar, aku lelah…”

“Ayolah… Han Ahjumma pasti mencariku…” rengek Angel. Marcus mendengus kesal.

“Ne… kita pulang!!”

——————————————————————————————————————————–

World Hotel, Paris, Sekarang…

Angel terbaring lemah di tempat tidurnya, dia dan beberapa orang pengawalnya menginap di salah satu hotel berbintang lima di Paris. Ny Han, pengasuh Angel sudah sedari tadi berjalan mondar-mandir di tempat itu, kekahawatiran melanda hatinya saat melihat Angle terus saja mengigau.

“Kyuhyun… Kyuhyun…”lirih Angel, tubuhnya basah oleh peluh, disampingnya seorang Dokter berkewarganegaraan Perancis terlihat sibuk memeriksa kondisi gadis itu.

“Bagaimana keadaan Nona kami, Dokter?” Tanya salah seorang pengwal kepada dokter tersebut.

“Dia hanya demam biasa.. Tapi lebih dari itu, ada yang jauh lebih penting… Oh iya, kalian keluarga Angel??” Tanya Dokter Wilson.

Ny. Han mengajak DOkter Wilson untuk berbicara secara pribadi. “Aku pengasuhnya Dokter, cepat katakana bagaimananya??”

“Apakah kepalanya pernah dibedah?? Aku juga tidak yakin, tapi ada penyempitan di pembuluh darah otaknya,” kata Dokter Wilson dengan raut waja hserius. Ny. Han menyapu keringat dingin di dahinya, dia benar-benar takut akan kenyataan masa lalu gadis itu.

Ny. Han akhirnya kembali berbicara saat hatinya sudah mulai tenang. “Lalu apa yang harus kita lakukan??”

“Kita harus melakukan rontgen di kepalanya untuk memastikan diagnose  saya.. Saya sarankan segera bawa Nn. Angel ke rumah sakit.” Ny. Han hanya diam mendengar penjelasan dokter. Akhirnya setelah memberikan resep obat untuk Angel, Dokter Wilson meninggalkan kamar hotel tersebut.

Ny. Han segera menghubungi istana, setelah beberapa lama berbicara lewat telepon, Ny. Han dan dan pengawal pengawalnya langsung berbenah dan menyewa pesawat pribadi, untuk segera membawa Angel kembali ke North.

Selama lebih dari 10 jam di pesawat, Angel mulai tenang setelah diberi obat. Suhu tubuhnya sudah mulai turun tapi Angel masih belum siuman. Tiba di Pyoungyang, Angel segera dibawa ke Rumah sakit kerajaan.

-o0o-

“Bagaimana keadaan puteri saya, Dokter Song??” Tanya sang Ratu pada Dokter kerajaan.

“Maaf Yang Mulia, bisakah kita berbicara secara pribadi?” kata DOkter Song. Ratu hanya diam dan memberikan isyarat pada para pengawal serta Ny Han untuk keluar dari kamar Angel.

“Yang Mulia Ratu… Keadaan Tuan Puteri sedikit mengkhawatirkan. Dia mulai mengingat memorinya..” kata Dokter Song dengan nada pelan tapi cukup membuat wanita itu merasa kehilangan pijakan kakinya hingga dia hampir saja terjatuh kalau saja Dokter tua itu tidak menahan lengannya.

Ratu menepis tangan tua itu, kemudian mulai berbicara. “Apa maksudmu?? Kau dan dokter dari Selatan itu sudah menjamin bahwa keduanya tidak akan bisa mengingat kenangan satu sama lain, lalu kenapa sekarang dengan entengnya kau mengatakan bahwa anakku bisa mengingat semuanya??”

“Ini diluar dugaan kami Yang Mulia Ratu. Otak manusia itu tidak terduga, bisa saja kami memastikan bahwa dia tidak bisa mengingatnya, tapi kenyataannya tidak menutup kemungkinan kenangan itu akan kembali. Semuanya tergantung dari keinginan Tuan Puteri, dan tampaknya dia selalu berusaha mengingat kenangan yang hilang itu..” kata Dokter Song, berusaha memberikan penjelasan sedetail mungkin pada wanita di depannya.

“Lalu apa yang harus kita lakukan??” Tanya Ratu setelah beberapa saat berfikir.

“Sayangnya tidak ada, Yang Mulia.. kita hanya bisa berharap agar Puteri Angelina tidak mencoba menggali lebih dalam ingatannya..”

To Be Continued

———————————————————————————————————————————-